Chapter Twelve
Komisaris Masuk Klinik
— Sabrina —
Tiga minggu setelah Lumio memenangkan tender, aku melihat Mas Aris panik untuk kedua kalinya.
Yang pertama di ruang genset, waktu dia tahu harus ikut syuting. Itu panik yang lucu.
Yang kedua ini tidak lucu.
Jam tujuh lewat lima pagi, aku masuk ke parkiran basement dan melihatnya berjongkok di samping motor Pak Darmo. Kemeja abu-abunya sudah disetrika, tapi lengannya kotor kena debu lantai. Buku cokelat tergeletak di aspal, terbuka, tidak dipedulikan.
Dia tidak pernah membiarkan buku cokelat itu menyentuh lantai.
”Mas?”
Dia menoleh. Wajahnya pucat.
”Komisaris, Mbak,” katanya. “Dia nggak mau makan.”
Aku berjongkok di sebelahnya. Komisaris berbaring di atas kardus bekas di bawah motor, bukan di atas jok seperti biasa. Dia meringkuk, matanya setengah terbuka, napasnya pendek-pendek. Wadah makanan di depannya penuh, tidak tersentuh.
”Dari kapan?”
”Dari kemarin sore, Mbak. Pak Darmo bilang dari kemarin dia nggak naik ke jok. Tidur di bawah terus. Tadi saya kasih makanan basah, yang paling dia suka. Dia cium doang, terus merem.”
Komisaris membuka satu mata ke arahku. Lalu menutupnya lagi. Tidak ada wibawa komisaris di sana. Hanya kucing gendut yang lelah.
”Perutnya juga, Mbak.” Mas Aris menunjuk dengan tangan yang sedikit gemetar. “Perutnya makin gede. Saya kira dia gendut karena kebanyakan makan. Saya sudah kurangi makannya dari minggu lalu. Tapi perutnya tetap gede.” Suaranya pecah sedikit di akhir. “Mungkin saya salah kasih makan, Mbak. Mungkin selama ini saya salah.”
Aku menatapnya.
Laki-laki yang menggendong anak asma menembus gerimis tanpa ragu. Yang menghitung oksigen di lift macet. Yang menunggu lima menit di ruang genset demi konsentrasiku. Sekarang berjongkok di parkiran basement dengan mata merah, takut dia sudah menyakiti kucing yang dia sayangi.
Aku meletakkan tanganku di bahunya. Aku tidak memikirkan apakah itu senjata. Aku cuma meletakkannya.
”Mas,” kataku. “Kita bawa ke dokter.”
Klinik hewan terdekat ada di Jalan Casablanca, di seberang jalan raya. Parkirannya penuh, jadi aku parkir di minimarket seberang, dan kami harus menyeberang jalan enam lajur di jam berangkat kerja.
Mas Aris memeluk Komisaris yang dibungkus jaket inventaris. Jaket yang lain, bukan yang di kursiku. Tim GA ternyata punya banyak.
Kami berdiri di pinggir jalan. Mobil, motor, dan bus Transjakarta lewat tanpa henti. Lampu penyeberangan rusak. Tentu saja rusak.
”Mbak pegang tangan saya,” kata Mas Aris. “Jalannya ramai.”
Aku menatapnya.
Itu kalimat yang ingin kudengar sejak hari pertama. Dalam berbagai versi. Pegang tanganku. Sini, biar aku lindungi. Jangan lepas. Aku sudah menyusun skenario di kepalaku tentang cara terbaik membuatnya mengatakan kalimat itu. Dua bulan aku menyusunnya.
Dan dia mengatakannya di pinggir Jalan Casablanca jam tujuh pagi, sambil memeluk kucing sakit, dengan wajah serius seorang petugas keamanan jalan raya.
Aku meraih tangannya.
Tangannya besar dan kasar. Telapaknya kapalan di beberapa tempat, bekas obeng dan kunci pas dan galon sembilan belas liter. Jari-jarinya melingkupi seluruh tanganku, hangat dan kokoh, seperti pegangan tangga yang dipasang dengan benar.
Dia menggenggam erat. Lalu dia melangkah.
Kami menyeberang. Satu lajur. Dua lajur. Sebuah motor menyalip dekat sekali, dan dia menarikku ke belakang tubuhnya dengan satu gerakan. Tiga lajur. Empat. Di median jalan, kami berhenti menunggu celah.
Lalu seorang nenek berkebaya dan berkain batik berhenti di sebelah kami di median. Tubuhnya kecil dan bungkuk, tangannya memegang tas belanja dari plastik anyaman. Dia menatap lajur di depannya dengan mata ragu.
Mas Aris menoleh ke nenek itu.
”Mari, Nek,” katanya. “Bareng saya.”
Dia mengulurkan tangan kirinya, yang sedang memeluk Komisaris, sedikit ke samping. Nenek itu menggenggam lengan bajunya.
Jadi kami menyeberang lajur kelima dan keenam seperti itu. Mas Aris di tengah, memeluk kucing dengan satu tangan, menggandengku dengan tangan lain, dan seorang nenek berkebaya bergantung di lengan bajunya.
Seorang sopir angkot berhenti dan membunyikan klakson. Bukan marah. Dua kali, pendek-pendek, seperti memberi semangat.
Di seberang, nenek itu melepas lengan baju Mas Aris dan menepuk pipinya dengan tangan yang keriput.
”Anak baik,” katanya. Lalu dia menoleh padaku. Matanya yang kecil menyipit, menatapku dari atas sampai bawah. “Pacarnya, Neng?”
Aku membuka mulut.
”Bukan, Nek,” jawab Mas Aris lebih cepat. “Rekan kantor.”
Nenek itu menatap tangan kami, yang masih bergandengan, karena Mas Aris lupa melepasnya.
”Oh,” kata nenek itu. “Rekan kantor.”
Lalu dia tertawa, tawa nenek-nenek yang punya pengalaman delapan puluh tahun dan tidak punya kesabaran untuk kebodohan anak muda, dan dia berjalan pergi sambil menggeleng.
Mas Aris menatap tangan kami. Seolah baru sadar.
Dia melepasnya. Pelan, tidak terburu-buru, tapi melepasnya.
”Maaf, Mbak. Lupa.”
”Nggak apa-apa,” kataku.
Tanganku dingin lagi di udara pagi. Aku memasukkannya ke saku blazer dan menggenggam sapu tangan bernoda oli yang belum kucuci.
Dokter hewannya seorang perempuan muda dengan rambut dikuncir dan jas putih bergambar tapak kaki kucing. Namanya drh. Laras. Dia meletakkan Komisaris di meja periksa, meraba perutnya pelan-pelan, menempelkan stetoskop, lalu tersenyum.
”Nama kucingnya siapa?”
”Komisaris, Dok,” jawab Mas Aris.
Drh. Laras berhenti tersenyum sebentar. “Komisaris?”
”Iya, Dok. Soalnya gendut, jarang gerak, terus semua orang hormat sama dia.”
Drh. Laras menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergetar.
”Oke,” katanya setelah menenangkan diri. “Bapak sudah berapa lama merawat Komisaris?”
”Dua tahun, Dok.”
”Dan selama dua tahun ini, Bapak pikir Komisaris jantan?”
Mas Aris berkedip. “Memangnya bukan, Dok?”
Drh. Laras menatapnya. Lalu menatapku. Lalu kembali ke Mas Aris, dan dia berkata dengan suara sangat lembut, seperti dokter yang mengabarkan berita besar ke keluarga pasien.
”Pak, Komisaris itu betina. Dan dia hamil. Kira-kira enam minggu. Tiga minggu lagi melahirkan, mungkin empat atau lima anak.”
Ruang periksa hening.
Aku menatap Mas Aris.
Mas Aris menatap Komisaris.
Komisaris menatap langit-langit dengan wajah kucing yang tidak peduli pada kekacauan yang dia timbulkan.
”Hamil,” ulang Mas Aris pelan.
”Hamil.”
”Komisaris.”
”Komisaris.”
”Tapi namanya Komisaris, Dok.”
”Nama nggak menentukan jenis kelamin, Pak.”
Mas Aris diam lama. Lalu dia duduk di kursi plastik di samping meja periksa, perlahan, seperti orang yang baru diberi tahu dia akan jadi ayah. Dia menatap lantai. Lalu dia menatap Komisaris. Lalu dia mengulurkan tangan dan mengusap kepala kucing gendut itu dengan sangat, sangat pelan.
”Maaf, ya,” bisiknya ke kucing itu. “Dua tahun saya panggil kamu Komisaris. Terus saya kurangi makan kamu. Padahal kamu lagi hamil. Maaf.”
Komisaris membuka mata dan menjilat jarinya.
Aku harus berbalik ke arah poster Vaksin Itu Penting! di dinding supaya tidak ada yang melihat wajahku. Aku tidak tahu apakah aku sedang menahan tawa atau menahan sesuatu yang lain.
”Dia lemas karena kurang nutrisi, Pak,” kata drh. Laras sambil menulis resep. “Bukan karena Bapak jahat. Bapak nggak tahu. Mulai sekarang makannya ditambah, kasih makanan khusus kucing hamil, dan siapkan tempat yang tenang buat dia melahirkan. Kardus, handuk bersih, jauh dari keramaian.”
”Iya, Dok.” Mas Aris sudah mengeluarkan buku cokelat dan menulis semuanya dengan cepat. Makanan kucing hamil. Kardus. Handuk. Tempat tenang. Tulisannya sedikit berantakan, tidak serapi biasanya.
”Data pemilik, ya, Pak,” kata drh. Laras sambil membuka kartu pasien. “Nama pemilik?”
”Aris, Dok.”
”Nomor HP?”
Mas Aris menyebutkan nomornya.
”Ada kontak darurat? Kalau Bapak nggak bisa dihubungi waktu dia melahirkan?”
Mas Aris diam. Dia menoleh padaku. Seperti refleks.
”Sabrina,” kataku sebelum aku sempat berpikir. Lalu aku menyebutkan nomorku.
Drh. Laras menulis di kartu itu. Lalu dia memutar kartu pasien supaya kami bisa memeriksa ejaannya.
Nama Pasien: Komisaris (betina)
Pemilik: Aris & Sabrina
Ada tanda & di antara nama kami. Tulisan tangan, tinta biru.
Aku menatap tanda & itu. Mas Aris menatap tanda & itu.
”Betul, Pak? Bu?”
”Betul, Dok,” jawab Mas Aris. Dia tidak terdengar keberatan. Dia terdengar seperti orang yang memeriksa ejaan.
Aku tidak menjawab. Aku sedang sibuk memotret kartu itu diam-diam dengan HP, dari balik tas.
Di meja kasir, Mas Aris membuka dompetnya. Dompet kulit cokelat yang sudah mengelupas di pinggirnya.
Aku sudah menyodorkan kartu debitku ke kasir sebelum dia selesai menghitung uang.
”Mbak, jangan.”
”Udah.”
”Mbak, ini kucing saya.”
”Kontak daruratnya aku. Berarti kucingku juga.”
”Itu bukan logika, Mbak.”
”Itu logika keluarga, Mas. Di keluarga, yang ada uang yang bayar duluan.”
Dia membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya. Dia tidak punya argumen untuk logika keluarga. Itu bahasa yang dia mengerti.
Struk keluar dari mesin. Mas Aris mengambilnya sebelum aku sempat, melipatnya rapi, dan menyelipkannya ke dalam buku cokelat. Lalu dia menulis sesuatu di halaman yang sama.
”Nulis apa?”
”Utang, Mbak.”
”Mas, aku nggak minta diganti.”
”Saya tahu, Mbak.” Dia menutup bukunya. “Tapi saya catat.”
Ini kedua kalinya dia menulis utang di buku itu, setelah malam IGD. Aku penasaran halaman itu sekarang berisi apa. Aku penasaran kenapa dia tidak pernah mencoretnya.
HP Mas Aris berdering di ruang tunggu. Pak Darmo. Mas Aris mengangkatnya dengan satu tangan, karena tangan lainnya memeluk Komisaris, dan entah bagaimana jempolnya menekan tombol speaker.
”RIS! GIMANA SI GENDUT? PARAH? SAYA NGGAK BISA KERJA DARI TADI, MOTOR SAYA KOSONG!”
Tiga pemilik hewan di ruang tunggu menoleh. Seekor anjing pomeranian menggonggong.
”Nggak parah, Pak,” kata Mas Aris. “Komisaris hamil.”
Hening di seberang. Lama.
”Hamil,” ulang Pak Darmo. “Komisaris.”
”Iya, Pak. Betina, ternyata.”
Hening lagi. Lalu suara Pak Darmo pecah jadi sesuatu antara tawa dan erangan.
”Ya Allah, Ris. Dua tahun. Dua tahun saya kira dia jagain motor saya kayak satpam. Ternyata dia ibu-ibu lagi ngidam nyari tempat anget!”
Seorang ibu yang memangku kelinci di kursi seberang tertawa sampai kelincinya melompat turun.
”Terus nanti melahirkannya di mana, Ris? Jangan di jok motor saya. Itu jok baru, kredit.”
”Di gudang GA, Pak. Saya siapin kardus.”
”Kardus yang bagus, ya. Pakai handuk. Jangan handuk toilet eksekutif, nanti Pak Leo marah.” Pak Darmo menghela napas panjang. “Hamil. Si gendut hamil. Saya mau jadi apa ini, Ris? Pakde?”
”Kakek, Pak,” kata Mas Aris serius. “Kalau saya kakek, Bapak juga kakek.”
Ibu dengan kelinci tertawa lagi. Aku menutup wajah dengan tas.
Kami menyeberang lagi ke parkiran minimarket. Kali ini lampu penyeberangan sudah menyala. Hijau. Aman.
Mas Aris tidak mengulurkan tangan. Lampunya hijau. Tidak ada alasan.
Aku berjalan di sebelahnya dan menyesali setiap teknisi lalu lintas di Jakarta Selatan yang memperbaiki lampu itu dengan begitu cepat.
Di mobil, Komisaris tidur di pangkuan Mas Aris, di atas jaket inventaris. Perutnya yang besar naik turun pelan. Mas Aris mengusap kepalanya terus-menerus dengan ibu jari, gerakan kecil yang sabar.
”Mas,” kataku sambil menyetir.
”Iya, Mbak?”
”Tiga minggu lagi, Mas jadi kakek.”
Dia menatap Komisaris di pangkuannya. Lalu dia tertawa pelan, untuk pertama kalinya sejak parkiran tadi.
”Iya, ya, Mbak. Saya jadi kakek.”
Aku tidak tahan. Senjata itu sudah di ujung lidah sejak di klinik, sejak tanda & di kartu pasien. Aku tidak bisa tidak menembakkannya.
”Terus neneknya siapa?”
Aku melirik ke samping, siap melihat dia bingung atau menjawab dengan sesuatu soal Bu Darsih.
Dia berpikir sebentar. Serius. Lalu dia menoleh padaku.
”Mbak mau?”
Aku menginjak rem.
Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat mobil di belakang kami membunyikan klakson panjang. Komisaris membuka satu mata dengan kesal.
”Apa?”
”Mbak mau ikut ngurus, maksud saya,” kata Mas Aris, polos sekali, seperti orang menjelaskan jadwal piket. “Kan Mbak kontak darurat. Kalau Mbak mau, nanti pas anaknya lahir Mbak bisa bantu jaga. Saya nggak ngerti soal kucing melahirkan.”
Aku menatap jalan di depan. Lampu merah. Untung lampu merah.
Jantungku sedang berlari di jalan tol lagi. Lebih cepat dari waktu di lift. Lebih cepat dari waktu di ruang genset. Laki-laki ini baru saja menembakkan senjata paling mematikan yang pernah diarahkan padaku, dan dia bahkan tidak tahu dia memegang senjata.
”Mbak?”
”Mau,” kataku ke kaca depan. Suaraku keluar kecil sekali.
”Alhamdulillah.” Dia tersenyum lega dan kembali mengusap kepala Komisaris. “Makasih, Mbak. Saya jadi tenang.”
Lampu masih merah.
Aku tidak tahu apa yang merasukiku. Mungkin tanda & di kartu pasien. Mungkin kalimat Mbak mau?
Aku meraih tangan kanannya, yang dari tadi mengusap kepala Komisaris. Aku menariknya, dan aku menempelkan telapak tangannya ke dadaku. Di tengah, di atas tulang dada, di bawah kalung tipis.
”Rasain, Mas,” kataku. “Gara-gara kamu.”
Dia diam. Telapak tangannya hangat dan kasar dan tidak bergerak sama sekali.
Satu detik. Dua.
”Cepat, Mbak,” katanya pelan. Serius. “Seratus dua puluh, kira-kira. Mbak tadi minum kopi berapa gelas?”
”Satu.”
”Oh.” Dia berpikir. Tangannya masih di sana. Dia belum menariknya. “Kalau gitu Mbak kaget, ya, tadi ngerem mendadak. Tarik napas, Mbak. Hitung galon.”
Klakson panjang dari belakang. Lampu sudah hijau dari tadi.
Dia menarik tangannya. Pelan. Dan sepanjang sisa perjalanan, dia menggenggam tangan itu dengan tangannya yang lain di atas punggung Komisaris, seperti orang memegang sesuatu yang baru saja tersengat listrik.
Aku menyetir sisa perjalanan ke kantor tanpa berani menoleh ke kiri. Di pangkuannya, kucing gendut yang ternyata betina dan ternyata hamil itu mendengkur pelan, dan aku bersumpah, di kaca spion, aku melihat dia sedang tersenyum mengejekku.
Aris 9 – Sabrina ½.
Kali ini, aku bahkan tidak keberatan dia menang.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik reading
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris