Chapter Two
Aris 5 – Sabrina 0
— Sabrina —
PROYEK M.A.
Catatan pribadi. Dilarang dibaca Nadia.
Hari ke-2. Senjata: Kedinginan.
Teori: semua laki-laki punya naluri melindungi. Perempuan yang kedinginan adalah undangan yang paling klasik dan paling sopan.
Persiapan: aku memakai blus tanpa lengan. Kardigan kutinggal di mobil dengan sengaja. AC ruang meeting kecil memang selalu lima belas derajat, karena Pak Leo percaya ide-ide besar lahir di suhu kulkas.
Aku melaporkan AC ke Mas Aris lewat Mbak Tari. Dia datang jam sepuluh pagi dengan tangga lipat dan obeng.
Aku duduk sendirian di ruang meeting dengan lengan terlipat di dada. Begitu dia masuk, aku mengusap-usap lengan dan menggigil kecil, cukup halus untuk tidak kelihatan dibuat-buat. Lalu aku melangkah ke dekatnya, berdiri di samping tangga, dan berkata dengan suara paling lirih yang kumiliki:
”Mas, aku kedinginan…”
Dia menatapku dari anak tangga ketiga. Lalu dia menatap lenganku. Lalu dia menatap AC.
”Iya, Mbak. Lima belas derajat terlalu rendah buat ruangan sekecil ini.”
Dia naik ke anak tangga kelima, membuka panel, memencet tombol yang tidak kukenal, dan menutup panel. Remote di meja berbunyi bip dua kali. Angka di layarnya berubah menjadi 26.
”Dua puluh enam, Mbak. Standar hemat energi. Kalau masih dingin, kabari saya.”
Lalu dia mengeluarkan buku cokelat dan menulis sesuatu. Aku sempat membaca dari samping: cek freon R. Meeting Kecil.
Dia turun, melipat tangga, dan pergi.
Ruangannya jadi hangat. Hangat sekali. Aku berkeringat di blus tanpa lengan sementara Mas Aris menganggap misinya sukses.
Hasil: kalah.
Aris 1 – Sabrina 0.
Catatan tambahan: tangannya waktu memegang obeng ada bekas luka kecil di punggung jari. Tidak penting. Kenapa aku menulis ini.
Hari ke-4. Senjata: Tatapan Lima Detik.
Ini senjata andalanku. Teknik ini kupelajari dari pengalaman, bukan dari buku. Lima detik adalah titik di mana tatapan berubah dari kebetulan menjadi pernyataan. Dua detik itu sopan. Tiga detik itu penasaran. Lima detik itu, aku tahu kamu lihat aku, dan aku mau kamu tahu aku tahu.
Belum pernah ada laki-laki yang bertahan sampai detik keenam tanpa salah tingkah.
Lokasi: lorong lantai tujuh, dekat mesin fotokopi. Mas Aris sedang mengganti toner.
Aku berhenti di ujung lorong. Aku menatapnya. Dia mengangkat kepala karena merasa ada yang memperhatikan. Mata kami bertemu.
Satu. Dua. Tiga.
Aku memberinya senyum miring di detik ketiga. Tidak lebar. Hanya ujung bibir kiri yang terangkat, mata sedikit menyipit.
Empat.
Mas Aris mengernyit. Dia tampak khawatir.
Lima.
”Mbak Sabrina kelilipan?”
Aku berkedip. Seluruh momen pecah seperti gelas jatuh.
”Apa?”
”Matanya, Mbak. Dari tadi melotot terus nggak kedip. Kalau kelilipan, jangan dikucek, nanti iritasi.” Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah botol kecil. Obat tetes mata. Merek yang dijual di minimarket. “Ini, Mbak. Masih baru, segelnya belum dibuka. Saya selalu bawa soalnya debu di gudang banyak.”
Aku menatap obat tetes mata itu. Dia menyodorkannya dengan wajah tulus, wajah orang yang benar-benar ingin mataku baik-baik saja.
Aku menerimanya. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.
”Makasih, Mas.”
”Sama-sama, Mbak. Dua tetes aja, ya. Kalau perih lebih dari setengah jam, ke klinik di lantai dua.”
Dia kembali ke mesin fotokopi.
Obat tetes mata itu sekarang ada di laci mejaku. Segelnya masih belum kubuka. Aku tidak tahu kenapa aku menyimpannya.
Hasil: kalah telak.
Aris 2 – Sabrina 0.
Hari ke-5. Laporan dari pihak ketiga.
Nadia membaca catatan ini dari balik bahuku waktu aku ke toilet. Aku lupa mengunci layar.
Komentar Nadia, kucatat apa adanya sebagai bukti kejahatan:
”Sab, lo nulis ‘tangannya ada bekas luka kecil’ di catatan strategi perang.”
”Itu data intelijen.”
”Itu kalimat pembuka novel romance.”
Aku memblokir Nadia di grup makan siang selama dua jam sebagai hukuman.
Hari ke-6. Senjata: Chat Jam Sebelas Malam.
Teori: pesan larut malam adalah wilayah intim. Siang hari punya urusan kantor. Malam hari punya urusan hati. Laki-laki yang membalas chat jam sebelas malam sedang membuka pintu.
Aku tidak punya nomor Mas Aris. Aku harus minta ke Mbak Tari dengan alasan “kalau AC rusak lagi pas lembur”. Mbak Tari memberikannya dengan senyum yang terlalu lebar dan alis yang naik turun. Besok seluruh lantai tujuh mungkin akan tahu. Risiko yang bisa diterima.
Foto profil WhatsApp-nya adalah seekor kucing gendut berwarna oranye yang sedang tidur di atas jok motor. Namanya di kontak: Aris GA Lumio. Statusnya: Bekerja dengan ikhlas.
Jam 23.04, aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi. Akhirnya kukirim dua kata yang sudah teruji di medan perang:
Belum tidur?
Centang dua. Abu-abu. Lalu biru.
Mas Aris sedang mengetik…
Aku memeluk bantal. Aku tidak tahu kenapa aku memeluk bantal. Aku belum pernah memeluk bantal karena chat siapa pun.
Balasannya masuk jam 23.06:
Belum, Mbak. Ada yang rusak?
Aku menatap layar. Lalu aku mengetik:
Nggak ada yang rusak. Cuma pengin ngobrol aja.
Dua menit. Tiga menit. Sedang mengetik. Berhenti. Sedang mengetik lagi.
Oh, iya, Mbak. Ngobrol apa?
Ini kemajuan. Aku duduk tegak di kasur.
Apa aja. Mas lagi ngapain?
Lagi nyetrika kemeja buat besok, Mbak.
Jam segini?
Iya, Mbak. Siang nggak sempat. Tadi juga habis jahit tali jam tangan, putus lagi.
Kenapa nggak beli tali baru?
Masih bisa dijahit, Mbak.
Aku tersenyum ke layar. Aku tidak tahu kenapa aku tersenyum ke layar.
Mas, aku boleh nanya?
Boleh, Mbak.
Mas suka cewek kayak gimana?
Aku menunggu. Ini dia. Ini pertanyaan yang biasanya membuat laki-laki gugup, atau sok misterius, atau langsung menulis paragraf panjang yang anehnya mendeskripsikan diriku.
Balasannya masuk jam 23.21:
Maaf Mbak, saya ketiduran tadi pas mau bales. Besok pagi saya ke meja Mbak, ya. Kalau ada yang rusak tolong difoto dulu. Selamat malam, Mbak. Jangan lupa matikan lampu.
Aku mematikan lampu.
Aku tidak bisa tidur sampai jam satu.
Hasil: kalah. Tapi aku dapat nomornya. Itu harusnya dihitung setengah poin.
Aris 3 – Sabrina 0. (Nadia menolak memberi setengah poin.)
Hari ke-7. Senjata: Handuk. (Eksperimen. Tidak masuk skor resmi.)
Teori: kalau kode halus tidak mempan, gunakan kode yang tidak mungkin disalahpahami.
Jam 23.12, aku keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk putih terlilit di dada. Aku duduk di pinggir kasur dan mengetik sebelum otakku sempat melarang.
Aku baru selesai mandi. Masih pakai handuk. Mau tebak warnanya?
Centang dua. Biru. Mas Aris sedang mengetik…
Aku menggigit bibir. Laki-laki mana pun di Jakarta Selatan sudah membalas dengan tiga emoji api dan satu tebakan yang sengaja salah.
Nggak usah ditebak, Mbak. Cepat pakai baju. Rambutnya dikeringin dulu sebelum tidur, nanti masuk angin.
AC kamar Mbak jangan di bawah 25, ya.
Sama jangan lupa matikan lampu.
Aku jatuh telentang ke kasur dengan handuk masih terlilit dan rambut basah membasahi seprai. Lalu aku bangun, mengeringkan rambut, memakai piyama, dan mengecek AC. Dua puluh dua.
Aku menaikkannya ke dua puluh lima.
Aku membenci betapa patuhnya aku.
Hasil: tidak dihitung. Nadia bilang menyebut handuk di hari ketujuh itu pelanggaran Konvensi Jenewa. Aku bilang ini perang. Nadia bilang justru itu.
Hari ke-9. Senjata: Makan Berdua.
Teori: makan berdua adalah kencan yang menyamar. Laki-laki yang setuju makan berdua sudah setengah jatuh.
Aku menghampirinya di lorong jam sebelas lima puluh lima. Waktunya kupilih dengan presisi: lima menit sebelum istirahat, ketika perut sudah lapar dan pertahanan sudah lemah.
”Mas Aris, temenin aku makan, yuk? Nggak enak makan sendiri.”
Aku menekankan kata sendiri. Wajahku kubuat sedikit sedih, sedikit kesepian. Perempuan cantik yang makan sendiri adalah tragedi yang tidak boleh dibiarkan.
Mas Aris tampak tersentuh. Benar-benar tersentuh. Matanya melembut.
”Iya, Mbak. Makan sendiri memang nggak enak,” katanya. “Saya juga dulu waktu pertama ke Jakarta sering makan sendiri. Sedih, Mbak.”
Aku hampir bersorak.
”Mbak tunggu di warteg Bu Darsih, ya. Saya ajak yang lain.”
”Yang lain?”
Dia sudah pergi.
Dua puluh menit kemudian, aku duduk di meja panjang warteg Bu Darsih bersama Mas Aris, Pak Darmo dari lobi, dua orang OB, satu teknisi gedung yang aku tidak tahu namanya, Mas Ujang dari parkir, dan seorang kurir paket yang kebetulan lewat dan diajak Pak Darmo.
Delapan orang.
”Biar Mbak nggak kesepian,” kata Mas Aris sambil menuangkan teh tawar ke gelasku. Senyumnya lebar dan bangga, senyum orang yang berhasil menyelesaikan masalah dengan sangat baik.
Pak Darmo bercerita tentang motornya. Mas Ujang bercerita tentang motornya. Kurir paket bercerita tentang motornya. Aku belajar lebih banyak tentang karburator dalam empat puluh menit daripada seumur hidup.
Dan anehnya, yang paling menyebalkan dari semua itu, aku tertawa.
Bukan tawa yang kubuat-buat. Bukan tawa manis yang kukeluarkan untuk klien atau untuk laki-laki yang sedang kugoda. Aku tertawa sungguhan, sampai harus menutup mulut, waktu Pak Darmo bercerita bagaimana dia pernah mengejar maling helm sambil memakai sandal jepit sebelah.
Di ujung meja, Mas Aris tertawa juga. Tawanya pelan. Bahunya bergetar, matanya hilang jadi garis. Dia menyendokkan tempe ke piring Pak Darmo karena tempe Pak Darmo habis, lalu menyendokkan sayur ke piring kurir paket karena sayur kurir itu sedikit.
Dia tidak menyendokkan apa pun ke piringku. Aku memperhatikan. Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikan.
Bu Darsih lewat di belakangku dan berbisik, “Sabar, Neng Geulis. Sabar.”
Hasil: kalah. Kenyang. Bingung.
Aris 4 – Sabrina 0.
Hari ke-10. Senjata: Kaitan. (Eksperimen kedua. Juga tidak masuk skor.)
Lokasi: pantry, jam empat sore, sepi. Mas Aris sedang mengganti filter dispenser.
Aku berdiri membelakanginya. Rambutku kusibak ke satu bahu, memperlihatkan punggung blus sutra yang tipis.
”Mas,” bisikku tanpa menoleh. “Kaitan braku lepas. Bisa tolong benerin? Tanganku nggak nyampe.”
Hening. Lama.
Lalu langkah kaki. Menjauh.
Aku menoleh. Dia sudah berdiri di ambang pintu pantry, wajahnya serius dan tenang seperti biasa.
”Bisa, Mbak,” katanya. “Saya panggilkan Mbak Tari.”
Lima menit kemudian Mbak Tari datang membawa peniti dan senyum yang tidak bisa berhenti. Kaitanku sebenarnya tidak lepas. Mbak Tari tahu. Mbak Tari mengaitkannya ulang dengan sangat pelan sambil bersenandung lagu dangdut.
Hasil: tidak dihitung. Malunya dihitung dua kali.
Hari ke-12. Senjata: Kerah Kemeja.
Teori: sentuhan kecil yang punya alasan. Merapikan kerah adalah gerakan yang sangat intim tapi bisa disangkal. Oh, kerahmu terlipat, kok. Wajah harus dekat, tangan harus pelan, dan mata jangan menatap mata. Mata menatap leher. Biarkan dia yang gugup sendiri.
Pagi itu Mas Aris datang ke meja Nadia untuk memasang lampu meja baru. Kerah kemejanya memang terlipat ke dalam di sisi kiri. Ini anugerah dari Tuhan. Aku tidak perlu berbohong.
”Mas,” kataku sambil berdiri. “Kerahnya.”
”Kenapa, Mbak?”
”Sini. Diam dulu.”
Aku melangkah ke depannya. Dia diam karena aku memintanya diam. Dia memang selalu melakukan apa yang diminta.
Dia lebih tinggi dariku, bahkan dengan heels, jadi aku harus sedikit mendongak. Aku mengangkat kedua tangan, menyentuh kerah kemejanya. Kain abu-abu itu kaku karena kanji dan setrika. Aku membuka lipatan yang terselip di dalam, menariknya keluar, lalu merapikannya dengan dua jari, pelan, dari belakang leher sampai ke depan.
Seharusnya aku menatap lehernya. Itu tekniknya.
Tapi aku tidak sengaja menatap matanya.
Dari jarak sedekat ini, matanya cokelat tua, bukan hitam. Ada lingkaran lebih terang di sekitar pupilnya, seperti cincin kayu. Bulu matanya lurus dan pendek. Dan dia menatapku dengan tatapan yang tenang sekali, tidak gugup sama sekali, seperti orang yang sedang menunggu dokter selesai memeriksa.
Sesuatu di dadaku tersandung.
Hanya sebentar. Satu langkah yang salah. Seperti menuruni tangga dan mengira masih ada satu anak tangga lagi padahal sudah lantai.
Aku menurunkan tangan.
”Udah,” kataku. Suaraku keluar lebih kecil dari yang kurencanakan.
”Makasih, Mbak.” Dia meraba kerahnya, memastikan. Lalu dia tersenyum. “Nanti sekalian saya cek kerah Pak Darmo. Beliau suka asal pakai seragam.”
Dia kembali memasang lampu meja Nadia. Kabel, steker, saklar. Lampu menyala. Nadia berterima kasih. Mas Aris mencoret sesuatu di buku cokelatnya dan pergi.
Aku duduk di kursi terbaik di lantai tujuh dan meletakkan tangan di dada.
Debar.
Bukan. Itu bukan debar. Itu kopi. Aku minum americano dua gelas pagi ini. Itu kafein. Itu reaksi kimia. Itu sangat ilmiah dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan mata cokelat tua dengan cincin kayu di sekitar pupilnya.
Hasil: kalah.
Aris 5 – Sabrina 0.
Hari ke-12, malam. Evaluasi.
Lima senjata. Lima kekalahan. Nol reaksi.
Bukan reaksi menolak. Menolak itu masih reaksi. Menolak artinya dia sadar sedang digoda, lalu memilih tidak tergoda. Aku pernah ditolak, dua kali, dan dua-duanya justru berakhir dengan mereka mengejarku lagi sebulan kemudian.
Mas Aris tidak menolak. Mas Aris tidak sadar.
Setiap senjataku jatuh ke dalam dirinya seperti batu yang dilempar ke sumur tanpa dasar. Tidak ada bunyi plung. Tidak ada gema. Batunya hilang, dan dia tetap menimba air untuk orang lain.
Aku menatap catatan ini lama sekali, lalu mengetik satu kalimat yang belum pernah kutulis seumur hidupku:
Senjataku nggak mempan.
Hari ke-13. Laporan dari pihak ketiga, bagian dua.
Nadia menemukanku di pantry jam tujuh pagi, sedang menatap galon.
”Sab.”
”Hm.”
”Udah dua belas hari.”
”Aku tahu.”
”Taruhan kita seminggu.”
”Aku tahu, Nadia.”
Dia bersandar di meja pantry, menyesap kopinya, dan menatapku dengan tatapan yang terlalu lama untuk ukuran sahabat.
”Lo tahu yang aneh apa?” katanya. “Dua-duanya kalah. Lo bilang dia jatuh dalam seminggu, dia nggak jatuh. Gue bilang lo bosen dalam seminggu, lo nggak bosen. Lo malah makin rajin. Lo dateng jam tujuh pagi buat ngelihatin galon.”
”Aku haus.”
”Dispenser di lantai delapan lebih deket dari parkiran.”
Aku diam.
”Jadi gini,” kata Nadia, meletakkan cangkir. “Taruhan pertama batal. Kita bikin taruhan baru.”
”Apa?”
”Lo nyerah sebelum tiga bulan. Kayak biasa. Hari ke-90, lo bakal pergi kayak lo pergi dari Kevin, dari Yosua, dari Rendi, dari semua. Lo bakal bilang ‘makasih udah jadi tiga bulan yang menyenangkan’, terus cari mainan baru.”
”Dia bahkan belum jadi mainan.”
”Makanya. Gue penasaran lo bakal ngapain kalau mainannya nggak mau dimainin.”
Aku menatap Nadia. Nadia menatapku.
”Sushi,” kataku.
”Sushi, plus lo yang traktir dessert.”
”Deal.”
Kami berjabat tangan di depan dispenser. Galon di atasnya bergelembung, glug, seperti ikut menyaksikan.
Pintu tangga darurat terbuka. Mas Aris masuk membawa kotak perkakas dan, entah dari mana, seekor kucing oranye gendut di pelukannya. Kucing yang sama dengan foto profil WhatsApp-nya.
”Pagi, Mbak Nadia. Pagi, Mbak Sabrina,” katanya. “Maaf, ini Komisaris ikut naik. Tadi di parkiran kehujanan, saya nggak tega.”
Kucing itu menatapku dengan mata kuning yang malas. Lalu dia menguap lebar, memperlihatkan gigi-gigi kecil, dan memejamkan mata lagi di dada Mas Aris seolah dada itu kasur paling nyaman di dunia.
Aku menatap kucing itu.
Aku iri pada kucing.
Ini sudah terlalu jauh.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0 reading
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris