Chapter Twenty
Ajari Aku
— Sabrina —
Pintu rooftop gedung kami terbuat dari besi abu-abu dengan cat yang mengelupas dan tulisan KHUSUS TEKNISI yang sudah pudar. Engselnya berderit seperti nenek-nenek bangun tidur.
Jam enam kurang lima, Mas Aris membukanya dengan kunci dari gantungan besar di pinggangnya. Gantungan kunci GA. Puluhan kunci yang bergemerincing setiap dia melangkah, seperti lonceng sapi.
”Silakan, Mbak. Hati-hati, ada pipa.”
Aku melangkah keluar.
Angin sore langsung menyambut. Kencang, sejuk, membawa bau hujan yang belum turun dan asap knalpot yang naik dari jalanan dua puluh dua lantai di bawah.
Lalu aku melihat langitnya.
Aku sudah dua tahun bekerja di gedung ini. Aku tidak pernah tahu bahwa dari atas sini, matahari terbenam di antara gedung-gedung Kuningan seperti bola oranye besar yang pelan-pelan tenggelam ke dalam kolam kaca. Langitnya berlapis. Biru tua di atas, ungu di tengah, oranye dan merah muda di bawah. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, seperti seseorang sedang menyalakan lilin di ruangan yang sangat besar.
”Bagus, ya, Mbak,” katanya di sebelahku.
”Mas sering ke sini?”
”Tiap Jumat sore, Mbak. Cek tangki air. Kadang saya duduk sebentar habis itu.” Dia menunjuk ke pojok rooftop, ke dekat tangki air biru yang besar. Ada dua kursi plastik di sana. Satu biru, satu merah. “Itu kursi rusak dari lantai tiga belas. Saya benerin, terus saya taruh sini.”
Dua kursi.
Aku tidak bertanya kenapa dua. Aku tidak berani bertanya.
Kami duduk. Dia di kursi biru, aku di kursi merah. Di antara kami ada kotak kayu bekas yang dijadikan meja. Dia mengeluarkan sesuatu dari tas selempang: termos kecil warna hijau dan dua gelas plastik.
”Kopi tubruk, Mbak,” katanya sambil menuang. “Dari warung terpal biru depan rumah sakit. Saya mampir tadi pagi.”
Kopi tubruk dari warung terpal biru. Tempat kami duduk jam dua pagi setelah malam IGD.
Aku menerima gelas itu. Hangat. Ampasnya mengendap di dasar.
Aku meminumnya, dan aku memutuskan untuk tidak berharap. Aku sudah memutuskannya semalam, jam tiga pagi, sambil menatap langit-langit. Aku sudah memutuskannya lagi pagi ini di depan cermin, sambil memakai lipstik nude yang bukan senjata. Aku sudah memutuskannya sepanjang hari, setiap kali mataku melirik jam dinding kantor.
Jangan berharap. Mungkin dia mau bertanya soal Komisaris.
Tapi dia membawa kopi tubruk dari warung terpal biru. Dan ada dua kursi.
Dia tidak langsung bicara.
Dia minum kopinya pelan. Dia menatap matahari yang sekarang tinggal separuh. Tangannya memutar-mutar gelas plastik, persis seperti di warung terpal biru, waktu dia bilang itu baik banget, Mbak.
Aku menunggu.
Aku tidak pernah menunggu. Aku Sabrina Maharani. Laki-laki yang menungguku. Tapi sore itu, di kursi plastik merah di atas gedung dua puluh dua lantai, aku menunggu, dan aku tidak bilang apa-apa, dan rasanya seperti menahan napas di bawah air.
”Mbak,” katanya akhirnya.
”Iya?”
”Saya mau minta tolong.”
Jantungku berhenti sebentar. Lalu jalan lagi, lebih cepat.
Dia tidak pernah minta tolong. Dalam tiga bulan lebih, dia tidak pernah sekali pun minta tolong padaku. Atau pada siapa pun. Dia yang menolong. Dia yang memegang buku cokelat. Dia yang menulis nama orang lain di antrean.
”Tolong apa, Mas?”
Dia menarik napas. Dia meletakkan gelas kopinya di kotak kayu. Dia menatap tangannya sendiri, yang sekarang terlipat di pangkuan.
”Mbak,” katanya. “Kata semua orang, Mbak paling ahli soal… soal begitu. Soal laki-laki dan perempuan. Mbak Tari bilang. Pak Darmo bilang. Mbak Ayu juga bilang, katanya Mbak kasih saran yang bagus soal Mas Kevin.”
Aku tidak bergerak.
”Jadi saya mau minta tolong,” lanjutnya, dan suaranya sedikit lebih pelan. “Ajari saya pedekate, Mbak.”
Angin berhenti.
Tidak, angin tidak berhenti. Angin terus bertiup, rambutku terus berantakan, lampu-lampu kota terus menyala. Tapi bagiku, untuk satu detik yang panjang, semuanya berhenti.
”Pedekate,” ulangku.
”Iya, Mbak.” Dia mengangkat wajah dan menatapku. Wajahnya serius, polos, sedikit malu. Wajah murid yang bertanya ke guru. “Ada yang saya suka.”
Dan begitulah caranya.
Begitulah caranya sesuatu runtuh. Bukan dengan bunyi keras. Bukan dengan pecahan kaca atau gedung yang roboh. Tapi dengan empat kata yang diucapkan pelan, di atas rooftop, sambil matahari tenggelam ke kolam kaca.
Ada yang saya suka.
Bukan aku. Tidak mungkin aku. Kalau aku, dia tidak akan minta diajari. Dia tidak akan minta tolong padaku untuk mendekati aku. Itu tidak masuk akal. Bahkan untuk Mas Aris, yang menjawab godaan dengan standar hemat energi, itu tidak masuk akal.
Ada orang lain.
Selama ini, selama aku berdiri di pinggir dunianya dan melempar batu ke sumurnya, ada orang lain yang berhasil membuat jarum kompasnya berhenti berputar.
”Mbak?”
Aku sadar aku belum menjawab. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku diam.
”Mbak nggak apa-apa? Mbak pucat lagi.”
”Nggak apa-apa,” kataku. Suaraku keluar dengan nada yang sangat normal. Itu yang paling menakutkan. Betapa normalnya. Sepuluh tahun latihan membuat suaraku tidak bergetar, dan hari ini latihan itu bekerja lebih baik dari kapan pun. “Angin. Dingin.”
Dia langsung membuka tas selempang. Aku tahu apa yang akan dia keluarkan sebelum dia mengeluarkannya.
Jaket inventaris. Yang kucuci dan kusetrika dengan lipatan lengan yang mencong. Dia membawanya ke rooftop.
Dia memberikannya padaku. Aku memakainya. Lipatan lengan yang mencong itu masih ada. Dia tidak membetulkannya.
”Makasih,” kataku.
”Sama-sama, Mbak.”
Aku menarik zipper sampai ke dagu. Wangi jeruk nipis dari sabun cuci piring, sudah bercampur wangi sabun batangnya lagi.
”Siapa?” tanyaku.
Pertanyaan itu keluar sendiri. Aku tidak berniat menanyakannya. Aku tidak mau tahu. Tapi mulutku bergerak lebih dulu.
Dia menggeleng pelan.
”Belum boleh, Mbak.”
”Kenapa?”
”Saya belum yakin.” Dia menatap ke arah matahari yang sekarang tinggal garis tipis oranye. “Saya baru sekali ini begini, Mbak. Nggak tahu ini beneran atau cuma… cuma bingung. Kalau saya bilang namanya sekarang, terus ternyata saya salah, nanti kasihan orangnya.”
Kasihan orangnya. Tentu saja. Bahkan untuk perasaannya sendiri, dia memikirkan orang lain lebih dulu.
”Kalau sudah yakin,” lanjutnya, “Mbak orang pertama yang tahu. Janji.”
Aku tertawa. Tawa kecil. Tawa yang rapi.
Mbak orang pertama yang tahu. Aku akan jadi orang pertama yang mendengar nama perempuan yang dia pilih. Sebuah kehormatan. Sebuah nomor antrean. Nomor satu, kali ini.
”Oke,” kataku. “Nggak usah sebut nama. Tapi kasih aku sedikit gambaran. Biar aku tahu harus ngajarin apa. Tiap perempuan beda.”
Dia berpikir lama.
”Orangnya di Lumio, Mbak.”
Aku mengangguk. Di Lumio. Itu mempersempit menjadi empat puluh perempuan.
”Orangnya sering ke ruang GA.”
Ayu. Ayu yang datang di hari pertamanya dengan daftar empat masalah. Ayu yang sejak itu datang setiap hari untuk bertanya soal wifi, kursi, printer, dan jalan ke warteg. Ayu yang menitip salam lewat dia.
”Terus,” katanya, lebih pelan, “kalau dia ketawa, beda.”
”Beda gimana?”
Dia berpikir. Tangannya memutar gelas plastik lagi.
”Nggak kayak di iklan, Mbak,” katanya. “Berantakan. Kayak dia nggak bisa nahan.”
Ayu. Ayu yang tertawa dengan seluruh wajahnya. Yang tersedak teh di Puncak waktu Mas Aris bilang mau kondangan. Yang tawanya selalu keluar seperti kucing bersin, tiba-tiba, tidak rapi, tidak bisa ditahan.
Aku tahu Ayu suka Kevin. Seluruh grup Korban Senyum Sabrina tahu. Tapi Mas Aris yang menyampaikan salam itu, dan Mas Aris tidak mengerti arti salam. Tentu saja dia tidak mengerti. Dia menyampaikannya kata per kata, dari buku catatan, seperti menyampaikan pesan soal galon.
Dia tidak tahu Ayu sudah memilih orang lain.
Dan aku harus mengajarinya cara mendekati perempuan yang sudah memilih orang lain.
Aku menatap lampu-lampu kota yang sekarang sudah menyala semua. Ribuan titik kuning dan putih, sampai ke cakrawala. Ribuan jendela, ribuan kamar, ribuan orang yang mungkin sedang makan mi instan di jam yang dunia lupa.
Dan satu perempuan di atas rooftop, memakai jaket inventaris, yang sebentar lagi akan mengatakan sesuatu yang tidak pernah dia sangka akan dia katakan.
”Oke, Mas,” kataku. “Aku ajarin.”
Dia menatapku. Wajahnya berubah lega, seperti orang yang baru saja diberi tahu kucingnya tidak sakit.
”Beneran, Mbak?”
”Beneran. Tapi ada syaratnya.”
”Apa, Mbak?”
Aku berpikir cepat. Aku butuh sesuatu. Apa pun. Sesuatu yang membuat ini bukan sekadar aku menyerahkan hatiku di atas piring dan membaginya ke tujuh orang seperti rendang.
”Ada sepuluh pelajaran,” kataku. Aku mengarangnya di tempat. Aku tidak tahu dari mana angka sepuluh. “Kurikulum. Kayak sekolah. Satu pelajaran seminggu, kadang dua.”
Dia mengangguk serius. Dia sudah mengeluarkan buku cokelat.
”Bayarannya,” lanjutku, “tiap selesai satu pelajaran, Mas harus makan satu makanan yang selama ini Mas bilang buat tamu.”
Dia berhenti menulis. Dia menatapku.
”Kenapa, Mbak?”
”Karena,” kataku, dan suaraku hampir pecah di sini, hampir, tapi tidak, “karena kalau Mas mau pedekate sama orang, Mas harus belajar dulu bahwa Mas juga boleh menerima. Nggak cuma ngasih. Perempuan nggak mau sama laki-laki yang nggak pernah mau dikasih apa-apa. Itu pelajaran nol.”
Dia diam lama. Pulpen di tangannya tidak bergerak.
Lalu dia menulis. Pelan, hati-hati, dengan tulisan yang lebih rapi dari biasanya.
Aku bisa membacanya dari kursiku.
Mbak Sabrina — ngajarin saya pedekate. 10 pelajaran.
Pelajaran 0: boleh menerima. (Bayaran: makan yang “buat tamu”.)
Dia tidak memberi tanda centang. Dia tidak memberi tanda bintang. Dia cuma menatap tulisan itu, lalu menutup buku cokelatnya.
”Makasih, Mbak,” katanya. “Saya nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi.”
Itu yang paling menyakitkan. Lebih dari ada yang saya suka. Lebih dari belum boleh, Mbak.
Untuk pertama kalinya, namaku ada di buku cokelatnya bukan sebagai orang yang ditolong.
Aku jadi penolongnya.
Dan yang kutolong adalah dia, mendekati orang lain.
Kami turun dari rooftop jam tujuh lewat sepuluh. Dia mengunci pintu besi yang berderit. Dia mengantarku sampai ke mobil di basement. Dia mengetuk jendela mobilku dua kali setelah aku duduk, seperti sopir angkot menepuk pintu.
”Hati-hati, Mbak. Jangan lupa matikan lampu.”
Aku menyetir pulang.
Aku tidak menyalakan radio. Aku tidak menelepon Nadia. Aku menyetir di jalanan Kuningan dan Setiabudi yang macet, dengan jaket inventaris yang lupa kukembalikan lagi, dan aku tidak memikirkan apa-apa. Kepalaku kosong, seperti ruang meeting besar waktu listrik padam.
Di apartemen, aku menyalakan lampu. Lampunya menyala. Tidak ada yang rusak.
Aku duduk di lantai kamar mandi, bersandar ke bak mandi, dengan jaket inventaris masih di badan.
Rak di atas wastafel. Senjata Nomor Satu berdiri di sana, tutupnya rapat, di sebelah lipstik nude yang kubeli kemarin.
Aku menatap dua lipstik itu lama.
Mataku panas. Tenggorokanku perih. Ada sesuatu yang besar dan basah sedang naik dari dadaku ke mataku, pelan, seperti air pasang.
Aturan ketiga. Jangan pernah menangis karena cowok.
Aku memegangnya seperti memegang pegangan tangga di lift yang berguncang. Erat. Sampai buku-buku jariku putih.
Aku tidak menangis.
Aku mengambil HP dan mengirim pesan suara ke Nadia. Suaraku keluar datar, tenang, tidak bergetar. Sepuluh tahun latihan.
”Nad. Dia minta diajarin pedekate. Ada cewek yang dia suka. Bukan aku.” Jeda. “Dan aku bilang iya.”
Dua puluh tiga menit kemudian, bel pintu apartemenku berbunyi.
Nadia berdiri di depan pintu dengan piyama, trench coat, sandal hotel, dan sekotak martabak manis setengah keju setengah cokelat. Rambutnya berantakan. Wajahnya bukan wajah jaksa. Bukan wajah sahabat yang sarkas.
Wajah orang yang lari dari tempat tidur.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia masuk, menutup pintu, meletakkan martabak di meja, dan memelukku. Lama. Dengan jaket inventaris di antara kami.
Aku tidak menangis.
Tapi aku membiarkan Nadia memelukku sampai martabaknya dingin.
Jam satu pagi, Nadia tertidur di sofaku dengan mulut terbuka dan potongan martabak terakhir di tangan.
Aku duduk di kasur dan membuka aplikasi catatan di HP. Catatan baru. Halaman kosong.
Aku mengetik judulnya.
Kurikulum Pedekate. 10 Pelajaran.
Lalu aku menatap judul itu lama sekali.
Aku Sabrina Maharani. Aku belum pernah kalah. Aku tahu semua senjata, semua teknik, semua cara membuat laki-laki menoleh, menunggu, dan jatuh.
Besok, aku akan mengajarkan semua itu pada laki-laki yang kucintai.
Supaya dia bisa memakainya untuk memenangkan perempuan lain.
Aku mulai mengetik pelajaran pertama.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku reading
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris