Chapter Twenty Nine
Kereta Malam ke Surabaya
— Aris —
Pak Hendarto membalas jam empat lewat lima belas pagi.
Aku tahu karena aku belum tidur. Aku sedang duduk di pinggir kasur, menatap buku tolong yang halaman depannya cuma berisi satu nama, waktu HP-ku bergetar.
Pak Hendarto (Rasa Nusa): Sabtu. Jam sepuluh. Pabrik Rungkut, gudang utama. Saya taruh nama kamu di daftar tamu.
Satu menit kemudian, pesan kedua.
Saya bangun jam tiga tiap pagi. Kebiasaan shift malam. Tiga puluh tahun belum hilang.
Lalu pesan ketiga.
Bawa mi.
Aku menatap tiga pesan itu lama. Lalu aku membalas.
Siap, Pak. Terima kasih, Pak.
Hari ini Kamis. Sabtu jam sepuluh. Aku punya satu hari untuk menyelesaikan antrean, dan satu malam untuk sampai ke Surabaya.
Jumat pagi jam tujuh, aku mengetuk pintu ruangan Pak Leo.
Pak Leo sudah di kursi pijatnya, dengan kopi dan wajah yang menunjukkan dia juga tidak tidur nyenyak. Dia menatapku masuk dengan buku tolong di tangan.
”Pak,” kataku. “Saya mau minta cuti. Dua hari. Jumat malam sampai Minggu.”
Pak Leo meletakkan cangkirnya.
”Cuti,” ulangnya.
”Iya, Pak. Saya belum pernah cuti selain Lebaran. Sisa cuti saya empat belas hari.”
”Ke mana?”
Aku diam sebentar. Aku belum pernah berbohong ke Pak Leo. Aku tidak mau mulai sekarang.
”Surabaya, Pak.”
Pak Leo menatapku. Lalu dia menatap jendela. Lalu dia menatapku lagi, dan matanya mulai berkaca-kaca. Pak Leo menangis untuk semua hal. Tender, lift, kursi pijat. Tapi kali ini dia tidak menangis keras. Dia cuma mengambil tisu dari kotak di mejanya dan menekannya ke ujung mata, pelan.
”Naik apa?”
”Kereta malam, Pak. Dari Pasar Senen. Jam sepuluh.”
”Kereta malam,” kata Pak Leo. “Bukan pesawat?”
”Pesawat mahal, Pak. Lagian, kereta sampai jam tujuh pagi. Cukup.”
Pak Leo mengangguk pelan. Lalu dia membuka laci mejanya, mengambil sesuatu, dan menyodorkannya padaku.
Amplop putih. Tebal.
”Pak, saya nggak…”
”Bukan buat tiket,” kata Pak Leo. “Itu bonus. Bonus Mas Mi Instan. Rasa Nusa bayar royalti tambahan karena iklannya viral. Harusnya saya kasih bulan depan. Saya kasih sekarang.”
Aku menatap amplop itu.
”Jangan beli bunga,” kata Pak Leo. “Bunga layu di kereta. Saya dulu bawa bunga ke Bandung, sampai sana tinggal batang.”
”Terus beli apa, Pak?”
Pak Leo tersenyum. Matanya masih basah.
”Nggak tahu, Aris. Kamu yang tahu. Kamu yang tahu dia minum kopi pakai gula berapa.”
Jumat siang, aku menyelesaikan antrean.
Semua yang tertulis di buku tolong untuk minggu ini. Galon lantai tujuh dan delapan, untuk tiga hari ke depan, kuangkat semuanya sekaligus dan kutaruh di pantry masing-masing. Toples biskuit Mbak Tari, kubuka dan kututup lagi dengan setengah putaran saja, supaya dia bisa membukanya sendiri. Lampu toilet perempuan, kuganti. Proyektor ruang meeting besar, kuganti lampunya, kutes tiga kali.
Lalu aku menulis di papan tulis putih di depan ruang GA, dengan spidol hitam, huruf besar-besar:
GA LIBUR SABTU–MINGGU.
KALAU DARURAT: PAK DARMO (POS LOBI).
KALAU KUCING: PAK DARMO JUGA.
KALAU PRINTER KREATIF MAKAN KERTAS: SABAR.
Pak Darmo membaca papan tulis itu dari belakangku. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma menepuk bahuku tiga kali, keras, seperti di IGD.
”Naik kereta jam berapa?”
”Jam sepuluh, Pak.”
”Saya antar ke Senen. Pakai motor.”
”Bapak jaga malam.”
”Komandan regu sudah saya kasih tahu. Saya tukar sif sama Ujang.” Pak Darmo menatapku dengan mata yang serius. “Ris. Saya utang sama kamu. Dimas. Ingat? Saya belum pernah bayar.”
”Nggak ada utang, Pak.”
”Ada. Malam ini saya bayar.”
Jam setengah sepuluh malam, Stasiun Pasar Senen penuh.
Orang-orang dengan koper, kardus, karung beras, tas belanja dari plastik anyaman. Anak-anak tidur di pangkuan ibunya di kursi ruang tunggu. Pedagang asongan menawarkan air mineral dan kacang rebus. Pengumuman dari speaker yang serak, nama-nama kereta dan jurusan.
Pak Darmo berdiri di sebelahku di depan gerbang peron, dengan helm masih di kepala.
”Bawa apa aja?” tanyanya.
Aku membuka tas selempang. Pak Darmo melongok ke dalam.
Buku tolong. Dompet. Charger HP. Sebotol air. Satu kemeja abu-abu cadangan, disetrika, dilipat rapi. Satu kemeja kotak-kotak biru, yang kupakai ke Bogor.
Dan sebungkus mi instan.
Rasa Nusa Rendang Pedas Level 5. Bungkus merah menyala, gambar cabai yang tampak marah. Sudut kanan atasnya sedikit penyok, karena sudah empat bulan tersimpan di laci darurat gudang GA.
Pak Darmo menatap bungkus mi itu.
”Itu yang dulu dia kasih?”
”Iya, Pak. Hari kelima. Sampel klien. Waktu belum dijual di mana-mana.”
”Kamu nggak makan?”
”Nggak, Pak. Saya simpan. Buat kalau ada yang lembur.” Aku menatap bungkus itu. “Tapi nggak pernah ada yang lembur yang perlu mi itu. Semua yang lembur dapat roti, dapat kopi, dapat mi biasa. Yang ini saya nggak pernah kasih ke siapa-siapa.”
Pak Darmo diam lama.
”Bapakmu bawa cabai,” katanya akhirnya. “Ibumu cerita ke saya. Waktu kamu ngobrol di telepon, waktu dia nanya kamu udah makan, saya ikut dengar.”
Aku tertawa. Lewat hidung.
”Bapak saya bawa cabai sekeresek, Pak. Saya cuma bawa mi yang gambarnya cabai.”
”Cukup,” kata Pak Darmo. “Itu cukup, Ris.”
Pengumuman di speaker. Keretaku masuk peron empat.
Pak Darmo tidak memelukku. Dia cuma melepas helmnya, merapikan kerah seragamnya sendiri, yang lagi-lagi rapi, dan menyalamiku dengan dua tangan.
”Jangan lupa matiin lampu,” katanya.
Itu kalimatku. Kalimat yang kuucapkan ke Mbak Sabrina setiap malam. Aku tidak tahu Pak Darmo tahu.
”Iya, Pak.”
Kereta ekonomi malam jurusan Surabaya Pasar Turi. Kursi tegak, berhadap-hadapan, dua-dua. Lampu putih yang terlalu terang. AC yang terlalu dingin di gerbong delapan.
Di depanku duduk sepasang kakek dan nenek. Umurnya mungkin tujuh puluhan. Si kakek memakai peci hitam dan kemeja batik. Si nenek memakai kerudung krem dan memeluk tas kain berisi rantang. Mereka mau ke Surabaya, menjenguk cucu yang baru lahir.
Kereta berangkat jam sepuluh lewat lima. Lampu-lampu Jakarta lewat di jendela, makin jarang, makin gelap.
Lima belas menit kemudian, HP-ku bergetar. Grup WhatsApp Lumio Ceria. Grup yang biasanya cuma berisi foto makanan, stiker, dan ucapan ulang tahun.
Mbak Tari: GALON LANTAI 7 SUDAH HABIS
Mbak Tari: Bukannya Aris sudah naruh 3 galon tadi siang??
Mbak Tari: Ternyata tim media habisin 2 galon dalam 6 jam karena lembur bikin konten Rasa Nusa
Mbak Tari: SIAPA YANG GANTI
Reza: Jangan lihat saya
Pak Leo: SAYA.
Pak Leo: SAYA YANG GANTI.
Pak Leo: DEMI CINTA.
Mbak Tari: Pak??
Pak Leo: [foto]
Foto Pak Leo Santoso, creative director Lumio Agency, di loading dock belakang gedung jam sepuluh malam, dengan kemeja ungu dan celana linen, memeluk galon sembilan belas liter di dada dengan wajah kesakitan.
Pak Leo: Ini berat sekali
Pak Leo: Bagaimana Aris melakukan ini tiap hari
Pak Leo: Saya menghormati dia lebih dari sebelumnya
Pak Leo: Tolong jangan bilang ke Aris, biar dia fokus
Nadia: Pak, Aris ada di grup ini
Pak Leo: …
Pak Leo: Aris, jangan baca
Aku menatap HP dan tertawa sampai si kakek di depanku menoleh dengan wajah penasaran.
Lalu satu pesan lagi masuk. Bukan di grup. Pesan pribadi.
Nadia: Ris. Gue nggak tahu lo mau ngomong apa ke dia. Tapi apa pun itu, jangan pakai kalimat “antri, ya”.
Saya: Iya, Mbak.
Nadia: Dan jangan bilang “sembilan belas liter”.
Saya: Iya, Mbak.
Nadia: Dan Ris.
Saya: Iya, Mbak?
Nadia: Makasih. Udah nyusul.
Jam dua belas malam, gerbong delapan sudah sunyi.
Si kakek tertidur dengan kepala di bahu si nenek. Si nenek belum tidur. Dia menatap jendela gelap, sesekali menatapku.
Aku membuka buku tolong. Aku membuka halaman kosong di belakang, setelah daftar utang dan daftar hal kecil.
Aku menulis di atasnya:
Pelajaran 10.
Lalu aku menatap halaman itu.
Mbak Sabrina tidak pernah memberitahuku pelajaran sepuluh. Dia bilang tidak ada. Dia bilang aku salah hitung. Tapi dia juga bilang, berkali-kali, sejak di rooftop, bahwa pelajaran sepuluh yang paling susah.
Aku sudah berpikir tiga malam tentang apa isinya. Pelajaran satu sampai sembilan, semuanya sudah kupelajari. Tatapan, hal kecil, pujian, taruh di atas, sentuhan, mendengarkan, kejutan, kencan, mundur.
Apa lagi yang tersisa?
Aku menatap halaman kosong itu lama. Kereta bergoyang pelan. Rel berbunyi tek-tek, tek-tek.
”Nak.”
Aku mendongak. Si nenek sedang menatapku, sambil tetap membiarkan suaminya tidur di bahunya.
”Nulis apa, Nak? Dari tadi serius.”
”Pelajaran, Nek.”
”Pelajaran apa?”
Aku ragu. Lalu, karena jam dua belas malam di kereta ekonomi ke Surabaya terasa seperti tempat di mana orang boleh jujur ke orang asing, aku menjawab.
”Pelajaran cara bilang suka ke orang, Nek.”
Si nenek tidak tertawa. Dia mengangguk pelan, seperti mendengar jawaban yang sangat wajar.
”Nak mau ke Surabaya buat bilang?”
”Iya, Nek.”
”Orangnya di sana?”
”Iya, Nek. Dia pergi duluan. Saya nyusul.”
Si nenek tersenyum. Keriput di sekitar matanya berlipat-lipat.
”Kakek dulu juga begitu,” katanya, sambil mengusap tangan suaminya yang tertidur. “Nenek pergi ke Malang, kerja di pabrik rokok. Kakek nyusul naik truk sayur. Dua hari.”
”Terus kakek bilang apa, Nek?”
Si nenek berpikir. Matanya menerawang ke jendela, ke sesuatu yang sudah terjadi lima puluh tahun lalu.
”Kakek nggak pintar ngomong,” katanya. “Dia cuma berdiri di depan pabrik, bawa pisang sesisir, terus bilang satu kalimat.”
”Kalimat apa, Nek?”
”Saya nggak mau nunggu lagi.”
Si nenek tersenyum padaku.
”Itu saja, Nak. Pelajaran paling susah itu bukan soal caranya. Itu soal berani bilang. Semua yang lain cuma hiasan.”
Aku menatap halaman kosong di bawah tulisan Pelajaran 10.
Lalu aku menulis.
Satu kata.
Bilang.
Aku menggarisbawahinya dua kali.
Di bawahnya, aku menulis apa yang mau kubilang. Aku menulis, mencoret, menulis lagi. Kalimat-kalimat panjang yang terdengar seperti iklan. Kalimat-kalimat pendek yang terdengar seperti laporan GA. Kalimat dari Pak Leo, dari Pak Darmo, dari si kakek yang membawa pisang sesisir.
Aku mencoret semuanya.
Jam tiga pagi, kereta berhenti lama di Stasiun Semarang Tawang. Si nenek sudah tertidur, kepalanya bersandar ke kepala suaminya. Lampu gerbong diredupkan.
Di halaman itu, di bawah coretan-coretan, tinggal dua kata yang tidak kucoret.
Dua kata yang Ibu bilang padaku waktu aku SMA, waktu aku bertanya bagaimana caranya tahu kita suka sama orang.
Dua kata yang tidak pernah kuucapkan ke siapa pun, karena selama sebelas buku, semua orang selalu antre.
Aku menatap dua kata itu sampai kereta bergerak lagi.
Aku tidak menulisnya di sini. Aku tidak mau menulisnya. Aku mau mengatakannya.
Kereta tiba di Stasiun Pasar Turi jam enam lewat empat puluh pagi.
Aku membantu si kakek dan si nenek menurunkan rantang dan tas dari rak atas. Aku mengantar mereka sampai ke pintu keluar, sampai cucu mereka, laki-laki muda dengan motor bebek, datang menjemput.
Si nenek menepuk pipiku dengan tangan yang keriput.
”Bilang, ya, Nak,” katanya.
”Iya, Nek.”
”Jangan nunggu.”
”Iya, Nek.”
Aku memesan ojek online ke Rungkut. Pengemudinya bapak-bapak dengan jaket hijau yang bertanya aku mau kerja di pabrik apa.
”Mi instan, Pak,” jawabku.
”Rasa Nusa? Wah, itu yang iklannya Mas Mi Instan, ya? Yang viral itu?” Dia menoleh ke belakang sebentar dan menatapku. Lalu menatap lebih lama. Lalu helmnya hampir jatuh. “Lho. Lho, Mas…”
”Jalan, Pak,” kataku sopan. “Saya buru-buru.”
Ojek melaju di jalanan Surabaya yang mulai panas jam tujuh pagi. Angin kencang. Matahari terang.
Buku tolong ada di saku kemeja kotak-kotak biru, di dadaku, di tempatnya setiap hari. Dan di tanganku, kugenggam supaya tidak tertinggal di mana pun, sebungkus mi instan berwarna merah dengan gambar cabai yang marah.
Jam sepuluh. Gudang utama.
Aku tidak menunggu lagi.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya reading
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris