Chapter Thirty Six
Antrean yang Nggak Pernah Habis
— Sabrina —
Aku masih punya buku biru muda itu.
Buku catatan seharga delapan ribu lima ratus rupiah, yang dia berikan di parkiran basement jam tujuh kurang sepuluh pagi, di hari aku jadi asisten GA. Stiker harganya masih menempel di pojok kanan bawah sampul. Halaman pertamanya masih berisi catatan observasi untuk tender. 07.05 — Sopir truk galon sarapan nasi uduk bungkus sambil berdiri.
Dulu aku cuma memakai lima halaman. Sisanya kosong selama berbulan-bulan.
Sekarang, buku itu hampir penuh.
Senin, 07.02.
1. Ayu — presentasi pertama sebagai karyawan tetap, jam 10. Bantu latihan.
Ayu menungguku di ruang meeting kecil dengan notebook kucing baru. Yang lama sudah penuh, pensiun di laci mejanya. Yang baru warnanya biru tua dengan gambar kucing oranye kecil di sampulnya.
”Mbak,” katanya, gugup. “Kalau saya lupa slide ketiga gimana?”
”Kamu nggak bakal lupa.”
”Kalau listriknya mati?”
”Jalan ke tengah ruangan yang paling terang,” kataku. “Terus ngomong aja.”
Ayu menatapku. Lalu dia menulis kalimat itu di halaman kedua notebook barunya, dan menggarisbawahinya dua kali.
Aku melirik halaman pertama. Ada tulisan tangan yang bukan milik Ayu, miring dan rapi. Tulisan barista.
Untuk Ayu, yang ninggalin notebook di meja kasir dan nggak pernah ninggalin aku. — K.
Aku tidak bilang apa-apa. Aku cuma tersenyum, dan Ayu menutup notebook-nya cepat-cepat dengan wajah merah sampai telinga.
07.40.
2. Pak Darmo — kerah.
Aku menulis baris itu setiap pagi selama tiga minggu, dan setiap pagi aku mencentangnya tanpa melakukan apa-apa.
Kerah Pak Darmo sudah rapi. Setiap hari. Sejak pagi aku pergi ke Surabaya.
”Ris yang benerin, Pak?” tanyaku di lobi.
”Bukan.” Pak Darmo menegakkan badan dengan bangga. “Dimas. Tiap pagi sebelum Bapak berangkat. Katanya kemarin dia lihat video Mas Mi Instan, terus nanya kenapa kerah Bapak di video itu kelipat. Bapak bilang itu gaya. Dia bilang itu nggak rapi.”
”Dimas sekarang umur berapa, Pak?”
”Delapan, Mbak. Asmanya jarang kambuh. Dokter bilang paru-parunya makin kuat.” Pak Darmo tersenyum, kumisnya bergerak. “Dia bilang mau jadi GA kalau sudah besar. Kayak Om Aris.”
Seorang anak laki-laki kecil muncul dari balik pos, dengan seragam SD merah putih dan tas punggung bergambar mobil balap. Dia melihatku dan melambai.
”Tante Sabrina! Komisaris udah makan belum?”
”Belum, Dimas. Nanti sama Om Aris.”
Dimas mengangguk serius, persis seperti seseorang yang kukenal, lalu berlari ke parkiran untuk memeriksa sendiri.
09.15.
Pak Hendarto datang tanpa pemberitahuan.
Tentu saja. Dia selalu datang tanpa pemberitahuan. Dia ingin melihat dapur kami.
Kali ini dia membawa brief baru. Jam Berapa Pun, Musim Kedua. Kampanye setahun lagi, anggaran dua kali lipat. Lantai delapan aman sampai dua tahun ke depan. Pak Leo pingsan sebentar di kursi pijatnya, lalu bangun dan menangis.
Di ruang meeting besar, setelah membahas angka, Pak Hendarto melepas kacamatanya dan menatapku.
”Bu Sabrina. Saya punya satu permintaan khusus untuk musim kedua.”
”Silakan, Pak.”
”Saya mau kalian berdua jadi wajah kampanye.” Dia menunjuk ke arah pintu, ke lorong, ke ujung lantai tujuh tempat ruang GA berada. “Anda dan orang GA Anda. Pasangan yang bertemu di jam yang dunia lupa. Video empat juta views di gudang Rungkut itu sudah jadi kampanye gratis terbaik yang pernah kami punya.”
Seluruh ruangan menoleh padaku.
Aku membuka mulut untuk menjawab.
Pintu ruang meeting terbuka. Dia masuk dengan kabel HDMI cadangan, karena proyektor utama berkedip lagi.
Pak Hendarto menoleh padanya. “Mas Aris. Kebetulan. Saya baru tawarkan Anda dan Bu Sabrina jadi wajah kampanye musim kedua.”
Dia berhenti di ambang pintu. Dia menatap Pak Hendarto. Lalu dia menatapku. Lalu dia menatap Pak Hendarto lagi, dan dia menjawab dengan sopan, dengan wajah serius, seperti di hari pertama.
”Maaf, Pak. Nggak bisa.”
”Kenapa?”
”Nanti galonnya siapa yang angkat, Pak?”
Ruang meeting meledak dalam tawa.
Pak Hendarto tidak tertawa. Dia cuma menatap Mas Aris lama. Lalu dia memakai kacamatanya lagi, dan dia mengangguk sekali, kecil.
”Jawaban yang benar,” katanya.
Aku menulis di buku biru muda, di bawah meja:
3. Pak Hendarto — tawaran ditolak. Alasan: galon.
Aku mencentangnya.
11.30.
4. Clarissa (lt. 12) — titip kue.
Clarissa datang ke lantai tujuh dengan kotak kue dari toko di Senopati. Rambut cokelat madu, bibir nude mengilap, langkah yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
Dia tidak berhenti di depan ruang GA. Dia berhenti di depan mejaku.
”Buat kamu,” katanya, meletakkan kotak kue. “Ucapan selamat.”
Aku menatap kotak itu. Lalu aku menatapnya.
”Selamat buat apa?”
”Gudang Rungkut.” Dia tersenyum. Senyum kecil, sedikit miring. Senyum sesama prajurit. “Kamu yang paling lama bertahan di antrean. Kamu pantas menang.”
”Aku nggak menang,” kataku. “Aku cuma berhenti main.”
Clarissa menatapku lama. Lalu dia tertawa, kali ini bukan tawa iklan. Tawa yang sedikit berantakan.
”Itu yang nggak bisa gue lakuin,” katanya. “Berhenti main.”
Dia berbalik dan berjalan pergi. Di ujung lorong, dia berhenti dan menoleh.
”Btw,” katanya. “Gue sekarang ikut kelas tembikar. Ada tante-tante lucu di sana, namanya Tante Lidya. Katanya dia mamanya orang yang pacaran sama Mas Mi Instan.”
Aku membeku.
”Mangkuknya miring semua,” kata Clarissa. “Tapi dia bangga banget.”
12.15.
5. Bu Darsih — angkat galon warteg (bantu Ris).
Warteg Bu Darsih jam dua belas lewat lima belas penuh. Meja panjang. Pak Darmo, Mas Ujang, dua OB, tiga kurir paket, Mbak Gita dari lantai sembilan dengan pacar kurirnya, dan seekor kucing hitam kecil bernama Manajer yang sekarang tinggal di warteg dan menjadi maskot tidak resmi.
Aku memegang galon kosong. Dia memanggul galon penuh. Bersama, kami memasangnya ke dispenser warteg. Glug.
Meja panjang bertepuk tangan.
Bu Darsih menyendokkan sayur bening dan tempe ke piring Mas Aris, seperti biasa. Lalu dia menyendokkan telur balado ke piringku, seperti biasa.
Lalu dia menyendokkan satu potong rendang ke piring Mas Aris.
”Bu, saya nggak pesan…”
”Bukan tamu,” kata Bu Darsih tegas. “Makan.”
Dia makan. Dia tidak membaginya. Aku menghitung.
14.00.
6. Mbak Tari — toples.
Mbak Tari menunggu di depan ruang HR dengan toples biskuit kelapa yang tutupnya terlalu kencang. Dia selalu menutupnya terlalu kencang. Aku mulai curiga dia sengaja.
Mas Aris sedang di depan ruang HR, berdiri di atas tangga, mengganti lampu yang kedip. Aku berdiri di bawah tangga, memegangi kakinya supaya tidak goyah. SOP, Bab IV, poin 4.7: pihak kedua boleh memegangi tangga.
”Ris,” kata Mbak Tari. “Toplesnya.”
”Bisa, Mbak,” katanya dari atas tangga, sambil memutar bohlam.
Lalu Ayu muncul dari belokan lorong. “Mas Aris, maaf, proyektor ruang meeting kecil mati, saya presentasi sepuluh menit lagi!”
Lalu Reza dari tim strategi. “Ris, AC di meja saya netes.”
Lalu salah satu OB. “Mas, wastafel pantry mampet.”
Lalu aku. Karena aku juga punya sesuatu.
”Mas,” kataku dari bawah tangga. “Tali sepatu ketsku lepas. Magang gigit tadi pagi.”
Dia berhenti memutar bohlam.
Dia menunduk dari atas tangga. Dia menatap Mbak Tari dengan toplesnya, Ayu dengan wajah paniknya, Reza, OB, dan aku dengan tali sepatu yang lepas.
Dia mengeluarkan buku cokelat dari saku dengan satu tangan. Dia membukanya. Dia menulis. Cepat. Berurutan.
Lalu dia mengumumkan, dengan suara yang tenang, rendah, sopan, suara yang sama yang dia pakai di hari pertama di depan dispenser:
”Bisa semua. Antri, ya.”
Mbak Tari mengangguk. Ayu mengangguk. Reza mengangguk.
Dia menatapku. Matanya hilang jadi garis.
”Kecuali Sabrina.”
Lorong lantai tujuh sunyi selama satu detik.
Lalu Mbak Tari menjatuhkan toples biskuitnya. Ayu menutup mulut dengan notebook kucing. Reza bersiul.
Dia turun dari tangga. Dia berlutut di depanku, di tengah lorong lantai tujuh, di depan HR dan tim strategi dan anak magang yang sekarang karyawan tetap. Dia mengikat tali sepatu ketsku. Simpul pita. Rapi. Dua kali, supaya tidak lepas lagi.
Lalu dia berdiri, mengambil toples Mbak Tari yang jatuh, membukanya dengan satu putaran, dan memberikannya kembali.
”Satu,” katanya. “Tari, dua.”
Mbak Tari menatapnya. Lalu menatapku. Lalu dia menggigit biskuit kelapa dengan wajah orang yang baru saja menonton episode terakhir sinetron favoritnya.
”Ya Allah, Ris,” katanya ke langit-langit.
Aku menulis di buku biru muda:
7. Tali sepatu. Dikerjakan pertama.
Aku tidak mencentangnya. Aku menggambar bintang kecil di sebelahnya. Bukan bintang darurat.
Bintang yang lain.
17.45.
Parkiran basement. Matahari sore masuk lewat celah ventilasi dan jatuh miring di atas jok motor Pak Darmo.
Komisaris tidur di sana. Seperti biasa. Gendut, oranye, penuh wibawa. Dua anaknya yang tersisa di gedung, Direktur dan Staf, bergelung di kardus di bawah motor.
Aku duduk di bangku kayu di dekat pos, menunggu dia selesai mengunci gudang GA. Kakiku pegal. Hari ini aku membantu mengangkat empat galon, memegangi dua tangga, dan menghitung baut untuk lemari baru di lantai delapan.
Komisaris membuka satu mata ke arahku.
Lalu dia turun dari jok motor. Pelan. Penuh wibawa. Dia berjalan ke arahku, menatapku sebentar dengan mata kuning yang malas, lalu melompat ke pangkuanku.
Dia berputar satu kali. Dua kali. Lalu dia berbaring, bergelung seperti roti, dan mendengkur.
Aku tidak bergerak. Aku tidak berani bergerak.
Pintu tangga darurat terbuka. Dia keluar dengan gantungan kunci yang bergemerincing seperti lonceng sapi, dan buku cokelat di saku kemeja.
Dia berhenti melihat kami.
Dia menatap Komisaris di pangkuanku. Lama.
”Komisaris belum pernah tidur di pangkuan siapa-siapa,” katanya pelan. “Cuma jok motor Pak Darmo. Sama dadaku, waktu dia kehujanan.”
Dia duduk di sebelahku di bangku kayu. Dia mengulurkan tangan dan mengusap kepala kucing gendut itu dengan ibu jari, gerakan kecil yang sabar.
”Nah,” katanya. “Dia juga milih kamu duluan.”
Aku tertawa. Lewat hidung. Komisaris membuka satu mata dengan kesal, lalu menutupnya lagi.
Kami duduk di bangku kayu di parkiran basement, dengan kucing di pangkuanku dan matahari sore di kaki kami, dan tidak ada yang bicara lama.
Di saku blazer-ku, buku biru muda hampir penuh. Di saku kemejanya, buku cokelat yang kesebelas, juga hampir penuh.
Dua antrean. Dua buku. Satu nama di nomor satu di masing-masing.
Malam itu, di apartemenku yang tidak sepi lagi, aku membuka halaman terakhir buku biru muda.
Magang tidur di atas jaket inventaris di kursi. Lampu menyala. Tidak ada yang rusak.
Di halaman terakhir, aku menulis satu baris.
Antrean ini nggak pernah habis.
Lalu, di bawahnya:
Aku nggak mau dia habis.
Aku menutup buku itu, menaruhnya di rak di sebelah Senjata Nomor Satu, dan mematikan lampu.
Jam sembilan tepat, HP-ku bergetar.
Aris: Jangan lupa matiin lampu.
Aku: Udah.
Aris: Aku tahu. Aku lihat dari tadi lampu kamarmu nyala, terus mati.
Aku duduk tegak di kasur.
Aku: Kamu di mana??
Aris: Di bawah. Parkiran. Mau balikin sapu tangan putih yang ada huruf S-nya. Ketinggalan di ruang genset waktu pitching. Ketemu di laci gudang. Udah aku cuci. Nodanya oli nggak hilang semua, maaf.
Aku berlari ke jendela.
Di bawah, di parkiran apartemen lantai dasar, di bawah lampu jalan kuning, seorang laki-laki dengan kemeja kotak-kotak biru berdiri di samping motor bebek tua. Dia mendongak ke lantai dua belas. Dia melambai dengan sapu tangan putih.
Aku tidak berpikir.
Aku memakai sandal jepit hitam bertali biru. Tiga nomor kebesaran. Yang sudah kukembalikan dengan wangi jeruk nipis, lalu dia berikan lagi minggu lalu, karena katanya di apartemenku harus ada sandal cadangan.
Aku turun.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis reading
- 37 Epilog: Property of Aris