Chapter Thirty Five
Ciuman Pertama
— Sabrina —
Senin pagi setelah Lebaran, jam tujuh lewat lima, galon lantai tujuh habis.
Aku sedang di pantry, menuang air panas untuk teh, waktu pintu tangga darurat terbuka dan dia masuk dengan galon di bahu kanan. Galon penuh. Sembilan belas liter. Dipanggul seperti memanggul anak kecil yang ketiduran.
Dia menurunkan galon, membuka segelnya, membalik, memasangnya ke dispenser. Glug.
Lalu dia berdiri di sebelahku. Cukup dekat sampai aku bisa mencium wangi sabun batang. Dia menatap galon. Lalu dia menatapku.
Lalu, dengan wajah paling serius yang pernah kulihat, dengan telinga yang mulai memerah, dia berkata:
”Galonnya berat, ya, Mbak. Kayak perasaanku.”
Aku menatapnya.
Di belakangku, Nadia, yang baru masuk ke pantry untuk mengambil kopi, berhenti di ambang pintu.
Mbak Tari, yang sedang mengunyah biskuit kelapa di meja pantry, berhenti mengunyah.
Tiga orang dari tim media yang mengantre dengan tumbler kosong berhenti bergerak.
Aku memutar badan menghadapnya. Aku memasang wajah serius. Wajah orang yang menerima pertanyaan teknis dan ingin menjawabnya dengan benar.
”Berat, Mas,” kataku. “Sembilan belas liter.”
Satu detik hening.
Lalu Nadia menyemburkan kopinya ke lantai.
Mbak Tari tersedak biskuit. Tim media bertepuk tangan, seperti di hari pertama, waktu dia memasang galon dalam satu gerakan halus.
Dia menatapku dengan mata membesar. Lalu dia tertawa. Lewat hidung. Bahunya bergetar, matanya hilang jadi garis.
”Itu jawabanku,” katanya.
”Sekarang punyaku.”
”Curang.”
”Kamu yang nyontek pertama.”
Dia tertawa lagi. Lalu, di depan Nadia, Mbak Tari, dan tiga orang tim media, dia mengulurkan tangan dan merapikan kerah kemejaku. Kerahku tidak terlipat. Dia cuma butuh alasan.
Pelajaran lima.
”Nanti sore,” katanya pelan, hanya untukku. “Rooftop. Jam enam. Aku yang bawa kunci.”
”Pelajaran berapa?”
Dia berpikir sebentar.
”Bukan pelajaran,” katanya. “Bukan latihan. Kencan.”
Hari itu adalah hari terpanjang dalam hidupku.
Lebih panjang dari hari pitching. Lebih panjang dari empat puluh menit di lift. Lebih panjang dari tujuh minggu di Surabaya.
Aku melihat jam dinding kantor setiap sepuluh menit. Jam dinding yang dulu mati di ruang meeting, yang baterainya dia ganti diam-diam waktu malam hujan dan jaket inventaris.
Jam sepuluh, aku melewati ruang GA. Pintunya tertutup. Ada tulisan tangan di kertas yang ditempel: Sedang persiapan. Jangan dibuka. Termasuk Mbak Tari.
Jam dua belas, di warteg Bu Darsih, dia tidak ada. Bu Darsih menatapku dengan mata berbinar dan menolak memberitahuku apa-apa, tapi dia menambahkan dua telur balado ke piringku tanpa kuminta.
”Gratis, Neng,” katanya. “Ibu lagi senang banget.”
Jam tiga, Pak Darmo melintas di lorong lantai tujuh, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan karena posnya di lobi. Dia membawa gulungan kabel lampu hias. Waktu melihatku, dia menyembunyikan gulungan kabel itu di balik punggung, dan dia bersiul, dan dia berjalan terlalu cepat ke arah tangga darurat.
Kerahnya rapi.
Jam lima, Nadia menggeser kursinya ke mejaku.
”Lo pakai apa nanti?” tanyanya.
”Ini.” Aku menunjuk kemeja putih dan celana bahan hitamku.
Nadia menatapku dengan pandangan yang biasanya dia berikan ke brief klien yang kacau.
Lalu dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sesuatu. Tas kertas dari toko di Senayan.
”Gue beli kemarin,” katanya. “Pas lo masih di Kuningan.”
Aku membukanya. Dress merah. Bukan merah marun seperti punya Mama. Merah terang. Merah bungkus Rasa Nusa. Potongannya sederhana, selutut, tanpa punggung terbuka, tanpa leher persegi. Bukan senjata.
”Nad…”
”Bukan buat godain dia,” kata Nadia. “Dia udah kegoda. Dari lama. Ini buat lo.”
Aku menatap dress itu. Lalu aku menatap Nadia.
”Kenapa merah?”
”Soalnya terakhir kali lo pakai merah, dia bilang lo mau kondangan.” Nadia tersenyum, sarkas dan lembut sekaligus. “Gue mau lihat dia bilang apa kali ini.”
Jam enam kurang lima, aku berdiri di depan pintu besi rooftop dengan dress merah, sepatu kets putih, dan rambut terurai.
Di bibirku, Senjata Nomor Satu.
Bukan senjata. Cuma merah.
Pintunya sudah terbuka. Engselnya tidak berderit lagi. Dia pasti sudah memberinya pelumas.
Aku melangkah keluar.
Rooftop itu tidak seperti biasanya.
Lampu-lampu kecil warna kuning dibentangkan di atas, dari tiang antena ke pipa tangki air ke tiang antena lagi, membentuk atap cahaya di atas kepala. Lampu hias yang kulihat di balik punggung Pak Darmo.
Kursi plastik merah dan biru masih ada. Tapi di antaranya, kotak kayu bekas yang dijadikan meja sekarang ditutup taplak kotak-kotak biru. Di atasnya ada piring, gelas, dan rantang dari Bu Darsih.
Dan di samping meja, di atas lantai beton, ada kompor portabel. Kompor yang dulu dipakai di pos satpam palsu, di villa di Puncak, di adegan pembuka iklan yang membuat seluruh Indonesia menangis jam tujuh pagi.
Di atas kompor itu, panci kecil.
Dia berdiri di sebelah kompor dengan kemeja kotak-kotak biru. Lengannya digulung sampai siku. Buku cokelat di saku.
Matahari terbenam di belakangnya, di antara gedung-gedung Kuningan. Oranye, merah muda, ungu.
Dia menatapku.
Dia menatapku dari ujung rambut sampai sepatu kets putih. Dia tidak bilang apa-apa. Satu detik. Dua. Tiga. Empat.
Lima.
Dia tidak berkedip.
Aku yang berkedip.
”Kamu nggak bilang kondangan,” kataku.
”Nggak,” katanya pelan.
”Terus bilang apa?”
Dia diam. Lalu dia berjalan ke arahku. Pelan. Berhenti satu jengkal di depanku.
”Merahnya,” katanya. “Bajunya. Bibirnya.”
”Kenapa?”
Dia menatap bibirku. Lalu menatap mataku.
”Dulu kamu pakai merah, aku nggak lihat,” katanya. “Terus kamu berhenti pakai, aku baru lihat. Terus aku kangen.” Dia menarik napas. “Tapi sekarang aku tahu. Pakai yang mana pun, aku tetap kalah.”
Aku tidak bisa bicara.
Laki-laki yang empat bulan menjawab senjataku dengan standar hemat energi. Yang memberiku obat tetes mata untuk tatapan lima detik. Yang membawa tujuh orang ke makan siang berdua.
Dia baru saja mengalahkanku dengan satu kalimat, tanpa senjata.
Dia memasak mi.
Bungkus merah menyala, gambar cabai yang marah, sudutnya penyok. Rasa Nusa Rendang Pedas Level 5. Bungkus yang kuberikan di hari kelima, yang dia simpan empat bulan di laci darurat, yang dia bawa naik kereta ekonomi ke Surabaya, yang dia berikan padaku di gudang penyimpanan, yang kubawa pulang dan kusimpan di meja samping tempat tidur selama tujuh minggu.
Tadi pagi, aku memberikannya kembali padanya. Dia tidak bilang mau dipakai untuk apa.
Sekarang dia menuangnya ke panci kecil di atas kompor portabel. Dia mengaduknya. Dia memecahkan telur di atasnya. Gerakannya tidak kaku. Tangannya tidak gemetar. Dia melakukannya persis seperti yang dia lakukan di pos satpam palsu, di depan kamera, di depan Pak Darmo.
Dia menuang mi itu ke mangkuk keramik. Mangkuk dari properti syuting, yang dulu dilabeli ADEGAN 1 — POS.
Dia memberikannya padaku.
”Makan dulu,” katanya. “Jangan nunggu pagi.”
Aku menerima mangkuk itu. Hangat. Uapnya naik ke wajahku, wangi rendang dan cabai dan santan.
”Pagi masih lama,” kataku.
Dia tersenyum.
Kami makan di kursi plastik merah dan biru, satu mangkuk dibagi dua, dengan dua sendok, di bawah atap lampu kuning. Rendang Bu Darsih di rantang kami biarkan tertutup. Mi itu terlalu pedas. Level 5 benar-benar level lima. Aku menangis karena cabai dan dia memberiku teh manis dari termos hijau, dan aku tertawa sambil menangis, dan dia tertawa juga, dan matahari tenggelam sepenuhnya ke kolam kaca di antara gedung-gedung, dan lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.
Mi pertama yang kumasak di hari kelima, tanpa tahu apa-apa.
Mi terakhir di antara kami yang tidak pernah diantrekan.
Waktu mangkuk itu kosong, aku mengeluarkan sesuatu dari tas.
Serbet kertas dari warteg Bu Darsih. Aku mengambilnya tadi siang, waktu Bu Darsih memberiku dua telur balado gratis. Aku menulis di atasnya dengan pulpen, sambil makan, sambil Bu Darsih mengintip dari balik etalase.
Aku membukanya di atas meja kotak-kotak biru.
”Apa ini?” tanyanya.
”Tiga aturan.”
Dia menatapku. Wajahnya berubah sedikit. Khawatir.
”Aturan baru,” kataku cepat. “Yang lama udah patah semua. Satu di hari ke-90. Tiga di tol bandara. Dua di gudang mi instan.” Aku menunjuk serbet itu. “Jadi aku bikin yang baru.”
Dia membacanya. Pelan. Hati-hati. Seperti membaca daftar belanja yang sangat penting.
Satu: nggak ada batas hari.
Dua: kalau aku pergi, kamu nyusul. Kalau kamu pergi, aku nyusul. Nggak ada yang duluan. Atau dua-duanya duluan. (Lihat: logika keluarga.)
Tiga: boleh nangis. Karena cowok. Kalau cowoknya kamu.
Dia menatap serbet itu lama.
Lalu dia mengeluarkan buku cokelat dari saku. Dia membuka halaman SOP Pacaran. Dia menyelipkan serbet itu di antara halamannya, dengan hati-hati, di belakang Bab IV.
”Lampiran B,” katanya.
Lampu kota menyala semua. Ribuan titik kuning dan putih, sampai ke cakrawala. Di atas kepala kami, lampu hias kuning berkedip pelan, tertiup angin.
Dia berdiri. Dia menatapku.
”Sabrina.”
”Hm?”
”SOP. Bab IV.” Dia menggaruk tengkuk. Telinganya merah. Sangat merah. “Aku mau usul poin 4.2.”
Aku berdiri juga. Jarak kami satu jengkal.
”Usul apa?”
Dia menarik napas. Dia menatap mataku. Mata cokelat tua dengan cincin kayu. Lima detik. Dia tidak berkedip. Aku juga tidak.
”Boleh aku cium kamu?”
Aku menatapnya.
Laki-laki yang membuat SOP untuk pacaran. Yang membiarkan Bab IV kosong karena tidak mau salah. Yang membeku empat puluh detik di Stasiun Pasar Turi karena satu ciuman di pipi. Yang meminta izin.
Seumur hidup, aku yang mencium duluan. Aku yang memutuskan kapan, di mana, dan berapa lama. Aku yang menghitung detik, memilih sudut, mengatur cahaya. Ciuman itu senjata. Ciuman itu strategi. Ciuman itu langkah pertama menuju hari ke-90.
Dan dia bertanya boleh.
”Boleh,” kataku.
Dia mengangkat tangan. Pelan. Dia menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Pelajaran lima. Jari-jarinya yang kapalan menyentuh pipiku, hangat, sedikit gemetar.
Lalu dia menunduk.
Dan dia menciumku.
Pelan. Hati-hati. Seperti memasang engsel pintu kamar Mama, seperti memegang anak kucing yang baru lahir. Bibirnya hangat dan sedikit pedas karena cabai Level 5, dan dia menciumku seolah takut aku retak.
Dua detik. Lalu dia mundur satu jengkal. Matanya mencari mataku.
”Gitu?” bisiknya. “Benar?”
Aku menatapnya. Laki-laki yang masih bertanya apakah dia melakukannya dengan benar.
Aku mencengkeram kerah kemejanya dengan dua tangan.
”Belum,” kataku.
Dan aku menariknya turun.
Aku tidak menghitung detik.
Itu yang pertama kusadari. Bukan lampu kota. Bukan angin. Bukan kursi plastik merah yang terguling di belakangku, entah kena kaki siapa.
Ciuman kedua tidak hati-hati. Ciuman kedua adalah empat bulan yang tumpah sekaligus. Galon dan lift dan hujan dan IGD dan gudang dan tangga darurat dan bianglala yang tidak dihitung. Tangannya pindah dari pipiku ke tengkukku, jari-jarinya masuk ke rambutku, dan lengannya yang lain melingkar di pinggangku dan menarikku sampai tidak ada jarak lagi, sampai aku berjinjit di atas sepatu ketsku sendiri.
Dia tidak bertanya boleh lagi. Dia sudah tahu jawabannya.
Tanganku melepas kerahnya dan turun, rata, ke dadanya. Ke saku kemeja. Ke buku cokelat di dalamnya. Dan di bawah buku itu, jantungnya, berlari seperti motor yang businya baru dikeringkan, menabrak telapak tanganku berkali-kali seperti ingin keluar.
Aku tidak tahu berapa lama. Lima detik. Tiga puluh. Seratus. Untuk pertama kalinya seumur hidup, aku dicium tanpa tahu berapa lama, tanpa tahu kapan berakhir, tanpa rencana untuk pergi duluan.
Aku memejamkan mata dan membiarkan semuanya.
Waktu kami akhirnya berhenti, karena paru-paru manusia memang punya batas, dia tidak mundur jauh. Dahinya menempel di dahiku. Ujung hidung kami bersentuhan. Napasnya berantakan. Napasku berantakan.
”Bianglala,” katanya, terengah. “Yang itu nggak dihitung, kan?”
”Nggak.”
”Yang ini?”
”Ini dihitung,” kataku. Tanganku masih di dadanya. “Semuanya dihitung.”
”Lipstikmu,” bisiknya.
”Kenapa?”
”Pindah.”
Aku membuka mata. Di bibirnya, merah. Senjata Nomor Satu, sekarang di wajah laki-laki yang kebal senjata.
Aku tertawa. Lewat hidung. Paling berantakan.
Dia ikut tertawa. Dahinya masih menempel di dahiku, dan tawa kami bergetar di antara wajah kami, dan lampu-lampu hias di atas kepala berkedip-kedip seperti ikut tertawa.
”Jantungmu,” kataku. Tanganku masih di sana, di atas buku cokelat di saku kemejanya.
”Iya,” katanya. “Kayak motor yang businya baru dikeringin.”
”Itu metafora?”
”Itu kata Pak Darmo.”
Jam sembilan malam, kami turun dari rooftop.
Dia mengunci pintu besi yang tidak berderit lagi. Dia menggandeng tanganku di tangga darurat, dua puluh dua lantai, karena dia bilang lift B masih trauma, padahal lift B sudah diperbaiki total tiga bulan lalu.
Di lantai tujuh, lorong sepi. Lampu separuh mati.
Di meja tujuh belas, di bawah lampu meja, ada sesuatu yang tidak ada tadi sore.
Sebuah post-it kuning. Tulisan tangan Nadia.
Dia bilang apa soal bajunya?
Aku mengambil pulpen dan menulis di bawahnya.
Pakai yang mana pun, dia tetap kalah.
Tapi dia yang menang.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama reading
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris