Chapter Fifteen
Motor Kevin
— Aris —
Sejak Ibu bertanya di telepon, ada satu hal di buku tolong yang tidak bisa kutulis.
Aku sudah mencoba. Tiga malam berturut-turut, setelah menyetrika kemeja, aku membuka buku cokelat dan memegang pulpen di atas halaman kosong. Biasanya mudah. Nama — masalah — tanda centang kalau sudah. Semua yang ada di dunia bisa ditulis dengan cara itu. Lampu kedip. Galon habis. Kucing hamil.
Tapi pertanyaan Ibu tidak punya nama dan tidak punya masalah. Dia cuma duduk di kepalaku seperti Komisaris di jok motor Pak Darmo. Diam, berat, dan tidak mau pindah.
Kamu mau nolong dia duluan, Ris?
Aku tidak tahu caranya menulis itu.
Jadi aku menulis yang lain.
Meja 17 — cek AC. (Sudah dicek kemarin. Tidak ada masalah.)
Meja 17 — cek lampu. (Sudah dicek dua hari lalu. Tidak ada masalah.)
Meja 17 — cek kursi. (Kursinya bagus. Kursi terbaik di lantai tujuh. Aku sendiri yang memperbaikinya.)
Aku membaca daftar itu dan baru sadar, minggu ini aku lewat di depan meja tujuh belas sebelas kali. Tidak ada yang memanggilku. Tidak ada yang rusak.
Aku mengambil pulpen dan menulis di bawahnya, kecil-kecil:
Kenapa?
Lalu aku menutup buku itu cepat-cepat, karena aku tidak punya jawabannya, dan buku tolong tidak boleh berisi pertanyaan yang tidak bisa dicentang.
Ada hal lain yang juga tidak bisa kutulis.
Bulan lalu, di gudang, dia duduk di pangkuanku. Aku bilang kakiku kesemutan. Itu bohong pertama yang kuucapkan dalam sebelas buku. Kakiku tidak kesemutan. Yang kesemutan sesuatu yang lain, di dada, dan aku tidak tahu nama sparepart-nya. Aku naik ke lantai tiga belas dan membasuh muka di wastafel toilet tujuh kali.
Malam itu juga, dia bilang dia tidur tanpa baju tidur. Aku butuh lima menit untuk membalas. Aku menulis dua belas balasan dan menghapus sebelas. Yang tersisa cuma soal selimut.
Di lampu merah Casablanca, dia menempelkan tanganku ke dadanya. Jantungnya cepat. Aku bilang seratus dua puluh. Aku tidak bilang punyaku juga.
Minggu ini, di atas tangga, dia mencari HP di dadaku pakai telapak tangan, dan aku hampir menjatuhkan panel lampu ke kepalanya.
Aku tidak mengerti. Aku makan teratur. Tidurku cukup. Tensiku normal, kata dokter klinik lantai dua. Aku bahkan minta Pak Darmo menebak apakah aku kena tipes.
Pak Darmo tertawa sampai batuk, lalu bilang ini bukan tipes. Ini jauh lebih susah sembuhnya.
Kamis malam, jam sembilan lewat sepuluh, hujan.
Hujan jenis yang membuat Kuningan berubah jadi kolam. Aku baru selesai memindahkan properti syuting ke gudang lantai delapan: tiga kardus mangkuk keramik, dua kompor portabel, dan sebuah gerobak mi yang dipinjam dari pedagang di Benhil. Aku turun lewat tangga darurat ke lobi, mau mengecek pompa air di basement sebelum pulang.
Pak Darmo melambai dari pos. “Ris! Itu, di depan, ada yang mogok. Kasihan, dari tadi nyelah nggak nyala-nyala.”
Aku melihat ke luar pintu kaca.
Di bawah kanopi lobi, seorang laki-laki berjongkok di samping motor matik warna krem. Celemek cokelat masih terikat di pinggangnya. Rambutnya basah kuyup. Dia menekan tombol starter berkali-kali. Motornya cuma batuk-batuk seperti lift B di malam itu.
Aku mengenali celemeknya. Kafe seberang jalan. Tempat tim tender membeli kopi tiap malam.
Aku keluar.
”Mas,” kataku. “Mogok?”
Laki-laki itu mendongak. Dia menatapku, dan matanya membesar sedikit. Seperti orang yang melihat seseorang yang dia kenal dari foto, tapi belum pernah bertemu langsung.
”Oh,” katanya. Lalu dia berdiri cepat-cepat. “I-iya, Mas. Mogok. Saya mau pulang, tapi nggak mau nyala. Kayaknya kemasukan air.”
”Boleh saya lihat?”
”Nggak usah, Mas, nanti Mas basah…”
Aku sudah berjongkok.
Busi. Hampir selalu busi kalau motor matik mogok habis hujan. Aku membuka penutup samping dengan tangan, melepas tutup busi, dan benar saja, ujungnya basah dan kotor. Aku mengeringkannya dengan lap dari saku belakang, membersihkan kerak di ujungnya dengan kuku jempol, lalu memasangnya lagi.
”Coba, Mas.”
Dia menekan starter. Motornya batuk sekali. Dua kali. Lalu menyala, mendengung pelan dan stabil.
Dia menatap motornya. Lalu menatapku.
”Tiga puluh detik,” katanya pelan, seperti tidak percaya. “Saya dari tadi setengah jam.”
”Businya basah, Mas. Kalau habis hujan, motornya dipanasin dulu lima menit sebelum jalan.”
”Iya, Mas. Makasih, Mas.” Dia mengulurkan tangan. “Kevin.”
”Aris.”
Tangannya dingin dan basah. Dia menggenggam tanganku lebih lama dari biasanya, dan dia menatapku dengan wajah yang aneh. Bukan wajah orang yang berterima kasih. Wajah orang yang sedang membandingkan sesuatu di kepalanya.
”Mas Aris,” katanya. “GA Lumio, ya?”
”Iya, Mas. Kok tahu?”
”Oh.” Dia melepas tanganku cepat-cepat. “Itu… tulisan di kemeja Mas.”
Aku menunduk ke kemejaku. Tidak ada tulisan apa-apa di kemejaku. Logo Lumio cuma ada di jaket inventaris, dan jaketnya sedang tidak kupakai.
Tapi Mas Kevin sudah menatap ke arah lain, menggosok-gosok lengannya yang basah. Dia menggigil.
”Mas Kevin kedinginan,” kataku.
”Nggak apa-apa, Mas. Dekat kok rumahnya.”
”Hujan masih deras, Mas. Nanti masuk angin.”
Aku masuk ke lobi, membuka laci di meja Pak Darmo tempat aku menyimpan cadangan, dan mengeluarkan satu jaket inventaris. Abu-abu tua, bahan parasut, tulisan putih di punggung. Aku memberikannya ke Mas Kevin.
”Pakai ini, Mas. Jaket kantor. Masih bersih.”
Mas Kevin menatap jaket itu. Wajahnya berubah lagi. Kali ini aku tidak bisa membaca artinya sama sekali. Seperti orang yang mau tertawa dan mau menangis di waktu yang sama.
”Property of Lumio,” dia membaca tulisan di punggungnya, pelan.
”Iya, Mas. Nanti dibalikin kapan-kapan aja. Titip ke Pak Darmo.”
Dia memakai jaket itu. Lalu dia menatapku lama sekali.
”Mas Aris,” katanya. “Mas selalu begini, ya? Ke semua orang?”
Aku tidak mengerti pertanyaannya. “Begini gimana, Mas?”
”Nolong. Kasih jaket. Benerin busi orang yang nggak dikenal, malam-malam, hujan-hujan.”
”Mas Kevin kan bukan orang yang nggak dikenal,” kataku. “Mas yang bikin kopi buat tim tender tiap malam. Kopinya enak, Mas. Mbak Sabrina selalu pesan oat latte gula setengah.”
Mas Kevin diam.
Lalu dia tertawa. Tawa yang pendek, pelan, seperti orang yang baru saja memahami lelucon yang sangat panjang.
”Ya Tuhan,” katanya ke langit-langit kanopi. “Pantes.”
”Pantes apa, Mas?”
”Nggak, Mas. Nggak apa-apa.” Dia menggeleng, masih tersenyum aneh. “Makasih, Mas Aris. Beneran makasih.”
Aku hampir lupa satu hal.
”Oh, Mas Kevin. Tunggu.”
Aku membuka buku tolong. Di halaman tadi pagi, ada satu baris yang belum dicoret, karena aku tidak tahu harus menemui Mas Kevin di mana. Ternyata semesta mengirimnya ke depan lobi, dengan motor mogok.
Mbak Ayu — titip salam buat Mas Kevin (kafe seberang).
”Ada titipan, Mas,” kataku. “Dari Mbak Ayu. Anak magang di tim Mbak Sabrina.”
Mas Kevin berhenti bergerak. Tangannya yang sedang menarik zipper jaket membeku di tengah dada.
”Ayu?”
”Iya, Mas. Tadi pagi Mbak Ayu ke ruang GA, minta tolong saya sampaikan sesuatu ke Mas. Dia bilang dia malu ke kafe sendiri. Saya catat.” Aku membaca dari buku, kata per kata, supaya tidak salah. “‘Salam.’”
Aku menutup buku.
Mas Kevin menunggu.
”Itu aja, Mas,” kataku.
”Itu aja?”
”Iya, Mas. ‘Salam.’ Mbak Ayu bilangnya cuma itu. Terus dia lari.”
Mas Kevin menatapku. Lalu dia menutup wajahnya dengan dua tangan.
Aku khawatir sebentar. Kukira dia sakit. Lalu aku melihat bahunya berguncang, dan telinganya, yang tidak tertutup tangan, berubah merah. Merah sekali. Lebih merah dari bungkus Rasa Nusa Rendang Pedas Level 5.
”Mas Kevin nggak apa-apa?”
”Nggak apa-apa,” katanya dari balik tangan. “Nggak apa-apa. Salam balik, Mas. Bilang ke Ayu. Salam balik.”
”Salam balik,” ulangku sambil menulis. “Itu aja, Mas?”
Dia menurunkan tangan. Wajahnya masih merah. Dia berpikir sebentar, lalu berkata pelan:
”Sama… bilang kuenya ada yang baru. Rasa pandan. Kalau dia mau coba.”
Aku menulis. Mas Kevin — salam balik buat Mbak Ayu. + kue pandan baru, kalau mau coba.
Aku mendongak. “Sudah saya catat, Mas. Besok saya sampaikan.”
”Mas Aris,” katanya. Dia menatapku dengan mata yang sedikit basah, entah karena hujan atau karena hal lain. “Mas tuh… Mas tuh beneran nggak sadar, ya?”
”Sadar apa, Mas?”
Dia membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Lalu dia menggeleng sambil tersenyum, seperti orang yang memutuskan menyimpan sebuah rahasia.
”Nggak, Mas. Udah janji.”
”Janji sama siapa?”
”Sama… teman-teman.” Dia menaiki motornya. “Makasih jaketnya, Mas. Makasih businya. Makasih salamnya.”
Mas Kevin sedang memanaskan motor, lima menit seperti yang kusarankan, waktu sebuah mobil hatchback putih berhenti di depan lobi.
Aku mengenali mobil itu. Wangi pengharum vanilla bean. Pernah membawa anak asma ke IGD dan kucing hamil ke klinik hewan.
Pintu sopir terbuka. Mbak Sabrina turun dengan payung transparan.
Dia baru kembali dari meeting dengan tim produksi di Senopati. Aku tahu karena tadi siang dia minta tolong aku mencetak rundown syuting. Rambutnya diikat ke belakang, blazer hitam, sepatu kets. Dia memakai sepatu kets sekarang, setiap hari. Sejak hari dia jadi asistenku.
Dia berjalan ke kanopi lobi, menutup payungnya, dan mendongak.
Lalu dia berhenti.
Dia menatap Mas Kevin di atas motor matik krem.
Dia menatap jaket abu-abu yang dipakai Mas Kevin.
Mas Kevin berbalik sedikit untuk memeriksa lampu belakang motornya, dan punggung jaket itu menghadap Mbak Sabrina. Tulisan putih di bawah lampu kanopi.
PROPERTY OF LUMIO
Wajah Mbak Sabrina berubah.
Aku tidak tahu cara menjelaskannya. Aku tidak pandai membaca wajah. Tapi aku pandai membaca barang yang rusak, dan wajah Mbak Sabrina waktu itu terlihat seperti blus sutra ivory yang baru kena semburan tinta printer kreatif. Diam. Kaget. Lalu sesuatu di dalamnya pelan-pelan menyebar dan tidak bisa dibersihkan.
”Sab,” kata Mas Kevin. Dia melihat Mbak Sabrina, lalu buru-buru menatapku, lalu kembali ke Mbak Sabrina. Wajahnya panik. “Sab, ini… motorku mogok… Mas Aris…”
”Aku tahu,” kata Mbak Sabrina. Suaranya tenang. Terlalu tenang. “Pulang, Kev. Hati-hati. Udah dipanasin lima menit?”
”Udah.”
”Ya udah.”
Mas Kevin menatapnya sebentar lagi. Lalu dia menatapku, dengan wajah yang terlihat seperti minta maaf, walaupun aku tidak tahu dia minta maaf untuk apa. Lalu dia menarik gas dan pergi menembus hujan.
Mbak Sabrina berdiri di bawah kanopi. Dia tidak masuk.
”Mbak,” kataku. “Mbak kenal Mas Kevin?”
”Kenal.”
”Orangnya baik, ya, Mbak.”
”Baik.”
”Motornya kemasukan air, Mbak. Businya basah. Kasihan, dia kedinginan, jadi saya kasih jaket.”
”Aku tahu,” katanya. “Aku lihat.”
Dia masih tidak masuk. Dia menatap jalanan basah di depan lobi, ke arah Mas Kevin menghilang.
”Mas,” katanya pelan. “Jaket yang aku pakai waktu itu. Itu jaket yang sama?”
Aku berpikir. “Bukan, Mbak. Itu jaket saya sendiri. Yang ini cadangan di laci Pak Darmo.”
”Tapi sama.”
”Iya, Mbak. Sama. Semua jaket inventaris sama.”
Dia tertawa. Tapi tawanya tidak lewat hidung. Tawanya pendek dan tidak berantakan. Tawa yang rapi, seperti tawa di iklan. Tawa yang dia pakai di bulan pertama, sebelum lift.
Aku tidak suka tawa itu. Aku tidak tahu kenapa.
”Mbak mau naik?” tanyaku. “Saya mau cek pompa air dulu, habis itu saya bisa…”
”Mas,” potongnya. “Besok pagi, aku mau minta tolong. AC di mejaku.”
”AC-nya rusak lagi, Mbak?”
”Iya.”
Aku membuka buku tolong. Aku menatap halaman hari ini. Masih ada empat baris yang belum dicoret, dan di bagian atas ada tanda bintang. Gerobak mi pinjaman — kembalikan ke Benhil besok pagi jam 6 (janji ke pedagangnya).
”Bisa, Mbak,” kataku sambil menulis. “Antri, ya. Besok pagi saya harus balikin gerobak dulu, sudah janji. Habis itu…”
Aku mendongak.
Mbak Sabrina sedang menatapku.
Bukan tatapan lima detik yang dulu. Bukan tatapan lembut di kursi tunggu IGD. Matanya terlihat seperti mata orang yang baru saja diberi tahu bahwa sesuatu yang dia kira miliknya ternyata cuma pinjaman.
”Iya,” katanya. “Antri.”
Dia membuka payungnya lagi. Dia berjalan kembali ke mobilnya. Dia tidak masuk ke gedung, padahal tadi kukira dia mau naik ke lantai tujuh.
”Mbak,” panggilku. “Mbak nggak naik?”
”Nggak jadi, Mas,” katanya tanpa menoleh. “Tiba-tiba capek.”
Pintu mobil menutup. Lampu belakang mobil putih itu menyala merah di tengah hujan, lalu menjauh, lalu hilang di tikungan.
Aku berdiri di bawah kanopi lobi lama sekali.
Pak Darmo keluar dari pos dan berdiri di sebelahku. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma menyalakan rokok kreteknya, mengisapnya sekali, dan menatap ke arah yang sama.
”Pak,” kataku.
”Hm.”
”Tadi saya salah, ya?”
Pak Darmo mengembuskan asap. “Salah apa?”
”Saya nggak tahu, Pak. Tapi muka Mbak Sabrina tadi kayak…” Aku mencari kata. “Kayak lampu yang tiba-tiba putus.”
Pak Darmo diam lama. Lalu dia menepuk bahuku sekali, pelan, bukan keras seperti biasanya.
”Ris,” katanya. “Kamu tahu bedanya motor yang mogok sama motor yang businya basah?”
”Tahu, Pak. Yang businya basah, dikeringin, nyala lagi. Yang mogok, bisa macem-macem.”
”Nah.” Pak Darmo membuang abu rokoknya. “Kadang hati orang juga begitu. Kadang cuma basah. Kadang mogok. Kalau kamu nggak buka tutupnya, kamu nggak bakal tahu yang mana.”
Dia masuk lagi ke pos.
Aku berdiri sendirian di bawah kanopi.
Aku membuka buku tolong. Aku menulis di baris paling bawah halaman hari ini:
Mbak Sabrina — mukanya tadi kayak kena tumpahan tinta. Tidak tahu kenapa. Cek besok pagi.
Lalu aku menatap baris itu, dan baris di atasnya, AC meja 17, antri, setelah gerobak, dan aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan dalam sebelas buku tolong.
Aku ingin mencoret urutannya.
Aku ingin menaruh nama Mbak Sabrina di atas gerobak mi.
Aku tidak melakukannya. Aku sudah janji ke pedagang di Benhil. Janji itu ditulis duluan. Itu aturannya. Itu adil.
Tapi malam itu, di kamar kos tiga kali tiga meter, aku menyetrika kemeja untuk besok dan tidak bisa berhenti memikirkan lampu belakang mobil putih yang menghilang di tikungan.
Dan buku tolong itu, yang biasanya kututup dengan rapi setiap malam, malam itu kubiarkan terbuka di halaman yang sama. Seolah-olah kalau aku menatapnya cukup lama, salah satu barisnya akan memberitahuku harus memperbaiki apa.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin reading
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris