Chapter Seventeen

Mas Mi Instan

— Sabrina —

Iklan Rasa Nusa Jam Berapa Pun tayang hari Senin, jam tujuh malam, di sela sinetron paling populer di televisi nasional.

Selasa pagi, dunia berubah.


Selasa, 07.12.

Nadia mengirim tautan TikTok ke grup Tim Tender. Videonya cuma potongan lima belas detik pertama iklan. Pos satpam, lampu kuning, tangan yang menuang mi ke mangkuk keramik. Lalu close-up. Senyum kecil, mata hilang jadi garis.

Makan dulu, Pak. Jangan nunggu pagi. Pagi masih lama.

Caption-nya: siapa mas satpam ini kenapa aku nangis jam 7 pagi 😭😭😭

Ditonton 1,2 juta kali. Dalam dua belas jam.

Selasa, 09.40.

Tiga juta.

Seseorang membuat versi dengan musik sedih. Seseorang lain membuat versi dengan musik K-pop. Seseorang membuat kompilasi close-up wajahnya dengan efek lambat dan tulisan POV: kamu satpam yang dimasakin mi sama dia.

Di kolom komentar:

masnya model siapa?? agensi mana??
AKU MAU JADI SATPAMNYA
rahangnya... rahangnya pak
”pagi masih lama” kenapa ini bikin aku inget bapakku
aku beli rasa nusa 5 bungkus barusan, bukan karena lapar

Selasa, 11.15.

Seseorang menemukan identitasnya.

Bukan dari Lumio. Dari Pak Darmo, yang dengan polos mengunggah foto behind the scene ke Facebook-nya dengan tulisan Bersama sahabat saya Aris Nugraha di lokasi syuting iklan Rasa Nusa. Bangga!! Foto itu dibagikan ulang dua puluh ribu kali dalam satu jam.

Akun Instagram Mas Aris, yang selama tiga tahun cuma punya empat puluh dua pengikut dan isinya foto Komisaris, foto kebun cabai Bapak, dan satu foto galon dengan caption Hari ini angkat 14 galon, alhamdulillah, sekarang punya delapan puluh ribu pengikut.

Foto galon itu dapat dua puluh ribu like.

Seseorang berkomentar: kak aku juga mau diangkat.

Aku mematikan layar HP.


Rabu.

Julukan itu muncul dari antah-berantah, seperti semua julukan di internet. Seseorang menulisnya di kolom komentar, dan dalam satu hari, seluruh Indonesia memakainya.

Mas Mi Instan.

Rasa Nusa melaporkan penjualan naik empat puluh persen dalam dua hari. Pak Hendarto menelepon Pak Leo dan, menurut Pak Leo, mengucapkan tiga kalimat berturut-turut. Itu rekor dunia.

Pak Leo menangis lagi di ruangannya. Kursi pijatnya berbunyi krek dengan bahagia.

Dan di lobi gedung kami di Kuningan, jam sepuluh pagi, mulai muncul perempuan-perempuan.


Pertama, tiga mahasiswi dari kampus di Jalan Sudirman yang berdiri di depan pintu kaca dengan HP terangkat, berharap bisa memotret Mas Mi Instan lewat.

Kedua, rombongan ibu-ibu arisan dari Tebet yang membawa rantang dan bertanya ke Pak Darmo apakah “nak Aris” sudah makan.

Ketiga, dan ini yang paling berbahaya, perempuan-perempuan dari gedung kami sendiri.

Gedung kami punya dua puluh dua lantai. Lumio cuma menempati lantai tujuh dan delapan. Sisanya kantor asuransi, startup, konsultan pajak, firma hukum, dan satu kantor agency talent di lantai dua belas. Semuanya punya karyawan perempuan. Semuanya punya HP. Semuanya menonton iklan itu.

Dan tiba-tiba, semuanya punya barang yang rusak.


”Ris,” kata Mbak Tari jam satu siang. Dia berdiri di depan ruang GA dengan buku catatan sendiri, bukan buku cokelat, buku tulis bergaris tiga puluh delapan lembar yang dia beli di koperasi. “Kamu harus lihat ini.”

Dia membuka buku itu.

Daftar. Tulisan tangan Mbak Tari yang bulat-bulat. Dua halaman penuh.

Lt. 11 (asuransi) — Mbak Dinda — AC kedinginan
Lt. 11 (asuransi) — Mbak Vira — AC kedinginan juga
Lt. 9 (startup) — Mbak Celine — mata kelilipan, minta obat tetes
Lt. 15 (konsultan pajak) — Mbak Nia — kursi bunyi, minta dicek “pakai sentuhan profesional”
Lt. 12 (agency talent) — Mbak Clarissa — lift macet?? (lift tidak macet)
Lt. 9 (startup) — Mbak Gita — “makan sendirian nggak enak”, minta ditemenin

Dan seterusnya. Dua puluh tiga nama. Dalam satu hari.

”Mereka telepon ke resepsionis gedung,” kata Mbak Tari. “Resepsionis gedung telepon saya. Saya bingung, Ris. Kamu kan GA-nya Lumio, bukan GA-nya gedung. Tapi mereka maunya kamu. Katanya teknisi gedung kurang… kurang…” Dia mencari kata. “Kurang Rasa Nusa.”

Mas Aris menatap daftar itu dengan wajah bingung yang tulus. Wajah yang sama yang dia pakai waktu drh. Laras bilang Komisaris betina.

”Banyak sekali yang rusak, ya, Mbak,” katanya pelan. “Hari ini.”

”Iya, Ris.”

”AC-nya kedinginan semua.”

”Iya, Ris.”

”Mata mereka kelilipan semua.”

”Iya, Ris.”

Dia berpikir lama. Lalu dia mengangguk dengan wajah serius.

”Mungkin musim pancaroba, Mbak,” katanya. “Debunya banyak. AC-nya juga belum diservis. Saya cek satu-satu.”

Mbak Tari menatapnya. Lalu dia menatapku, yang kebetulan sedang lewat dengan dua gelas kopi untuk tim. Lalu dia menatap Mas Aris lagi.

”Ya Allah,” katanya ke langit-langit. “Ya Allah, Ris.”

Aku berjalan pergi sebelum ada yang melihat wajahku.

Kedinginan. Kelilipan. Sentuhan profesional. Makan sendirian nggak enak.

Itu senjataku.

Semuanya. Satu per satu. Persis. Seolah ada yang mencuri catatan Proyek M.A. dari HP-ku dan membagikannya ke seluruh gedung.


Kamis.

Aku tidak berniat menonton. Tapi ruang meeting kecil di lantai tujuh punya dinding kaca, dan dari sana terlihat lorong menuju lift. Dan aku kebetulan sedang di ruang meeting kecil selama dua jam, mengerjakan laporan pasca-kampanye yang seharusnya bisa kukerjakan di mejaku.

Jadi aku melihat semuanya.

Jam sepuluh, Mbak Dinda dari lantai sebelas. Rambut panjang, dress biru, sepatu hak tinggi. Dia menunggu Mas Aris di depan lift dan mengusap-usap lengannya.

Aku tidak bisa mendengar, tapi aku bisa membaca gerak bibirnya. Mas, aku kedinginan.

Mas Aris mengangguk serius. Dia mengeluarkan buku cokelat. Dia menulis. Lalu dia bicara, dan aku membaca gerak bibirnya juga. Iya, Mbak. Nanti saya setel ke dua puluh enam. Standar hemat energi.

Mbak Dinda berdiri di depan lift dengan senyum yang membeku setengah jalan.

Aku menunduk ke laptop dan pura-pura mengetik.

Jam sebelas, Mbak Celine dari lantai sembilan. Dia berdiri di ujung lorong dan menatap Mas Aris. Aku menghitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.

Mas Aris merogoh saku celananya dan mengeluarkan obat tetes mata.

Mbak Celine menerimanya dengan wajah yang kukenal. Wajah yang dulu kupakai di lorong yang sama, dekat mesin fotokopi yang sama.

Jam satu siang, Mbak Gita. Makan sendirian nggak enak.

Aku tidak perlu melihat untuk tahu apa yang terjadi. Dua puluh menit kemudian, dari jendela ruang meeting, aku melihat rombongan delapan orang berjalan ke arah tangga darurat, menuju warteg Bu Darsih. Mas Aris, Pak Darmo, Mas Ujang, dua OB, kurir paket, dan Mbak Gita yang berjalan paling belakang dengan wajah orang yang tersesat di pesta yang salah.

Aku menutup laptop.

Aku duduk di ruang meeting kecil dengan dinding kaca, dan untuk pertama kalinya, aku melihat diriku sendiri dari luar.

Ini yang dilihat Nadia selama tiga bulan. Ini yang dilihat Mbak Tari, Bu Darsih, Pak Darmo, seluruh lantai tujuh. Seorang perempuan cantik yang memasang senjata dengan sempurna, dan seorang laki-laki yang menjawab semuanya dengan buku cokelat dan standar hemat energi.

Lucu. Sangat lucu. Aku bisa mengerti kenapa Nadia tersedak kopi berkali-kali.

Tapi dari dalam ruangan berdinding kaca ini, rasanya tidak lucu sama sekali.

Karena aku baru sadar sesuatu.

Selama tiga bulan, aku pikir aku spesial. Aku pikir aku satu-satunya yang menggoda Mas Aris, satu-satunya yang gagal, satu-satunya yang diantrekan. Aku pikir kegagalanku adalah cerita khusus antara aku dan dia.

Ternyata bukan.

Ternyata aku cuma yang pertama. Dari dua puluh tiga. Dan dia menjawab dua puluh tiga orang itu persis seperti dia menjawabku. AC dua puluh enam derajat. Obat tetes mata. Rombongan delapan orang ke warteg.

Bukan karena aku tidak menarik. Karena dia memang begitu. Ke semua orang.

Aku nomor satu dari dua puluh tiga di antrean yang tidak pernah berhenti.


Jumat.

Mbak Clarissa dari lantai dua belas tidak menunggu di lift. Dia datang langsung ke lantai tujuh.

Dia talent di agensi lantai dua belas. Selebgram dengan tiga ratus ribu pengikut, wajah yang pernah muncul di iklan skincare, rambut cokelat madu yang di-blow, dan bibir yang dipoles warna nude mengilap. Dia cantik. Dia sangat cantik. Dan dia tahu dia cantik, dengan cara yang sama persis seperti aku tahu aku cantik.

Dia berjalan menyusuri lorong lantai tujuh dengan langkah yang kukenal. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, dan pinggul tidak berlebihan. Elegan dan tidak murahan.

Dia berhenti di depan ruang GA.

”Mas Aris?” suaranya manis, sedikit serak. “Aku Clarissa. Lantai dua belas. Aku mau minta tolong, tapi bukan soal barang rusak.”

Mas Aris mendongak dari meja gudang, tempat dia sedang membongkar proyektor yang lampunya habis.

”Iya, Mbak?”

”Agensiku mau ngontrak kamu,” kata Clarissa. “Jadi talent. Iklan, endorsement, brand ambassador. Kamu viral banget, Mas. Kamu bisa dapat ratusan juta sebulan. Lebih.”

Dari mejaku, yang jaraknya delapan meter dari ruang GA, aku bisa mendengar setiap kata. Lorong lantai tujuh selalu sunyi di jam sebelas pagi.

”Terus,” lanjut Clarissa, lebih pelan, lebih manis, “aku juga mau ajak kamu makan malam. Berdua. Bukan urusan kerja.” Dia memiringkan kepala sedikit, memberi sudut terbaik wajahnya. “Kayaknya kamu orangnya asyik buat diajak ngobrol.”

Di meja sebelah, Nadia berhenti mengetik. Di seberang lorong, Mbak Tari berhenti mengunyah biskuit.

Aku tidak berhenti apa-apa. Aku tidak bisa bergerak.

Mas Aris meletakkan obeng. Dia menatap Clarissa dengan wajah serius yang biasa.

”Makasih, Mbak,” katanya. “Tapi saya sudah kerja. Di sini.”

”Kamu bisa kerja sambil jadi talent.”

”Nggak bisa, Mbak. Kalau saya jadi talent, nanti galonnya siapa yang angkat?”

Clarissa tertawa, mengira dia bercanda.

Dia tidak bercanda. Aku tahu dia tidak bercanda.

”Oke, oke,” kata Clarissa, masih tersenyum. “Kalau makan malamnya?”

Mas Aris berpikir. Lalu dia membuka buku cokelat.

”Bisa, Mbak,” katanya sambil menulis. “Tapi nunggu giliran, ya.”

Aku memejamkan mata.

”Giliran?” ulang Clarissa. Tawa di suaranya mulai hilang.

”Iya, Mbak. Minggu ini sudah ada yang minta ditemenin makan. Mbak Gita lantai sembilan, Mbak Nia lantai lima belas, Pak Darmo, sama Komisaris. Komisaris itu kucing, Mbak, lagi menyusui. Nanti saya kabari kalau sudah giliran Mbak. Biasanya makannya di warteg Bu Darsih, rame-rame.”

Hening panjang.

Lalu Clarissa tertawa lagi. Tapi tawanya sekarang berbeda. Tawa rapi, tawa iklan, tawa yang dia pakai untuk menutupi sesuatu.

Aku tahu tawa itu. Aku memakainya di bawah kanopi lobi seminggu lalu.

”Oke, Mas,” katanya. “Kabari aja.”

Dia berjalan kembali menyusuri lorong. Langkahnya masih elegan. Masih tidak murahan. Tapi bahunya sedikit turun.

Waktu dia lewat di depan mejaku, matanya bertemu mataku sebentar.

Dia mengenaliku. Dari iklan skincare yang pernah kami tangani dua tahun lalu, mungkin. Atau mungkin dari sesuatu yang lain. Dari cara aku duduk dan menatap ke arah ruang GA. Dia tersenyum padaku. Senyum kecil, sedikit miring.

Senyum sesama prajurit di medan perang yang sama, yang sama-sama baru kalah.


Jam lima sore, aku berpapasan dengannya di tangga darurat antara lantai tujuh dan delapan.

Dia turun membawa kardus berisi botol-botol obat tetes mata kosong. Aku naik membawa laporan pasca-kampanye yang tidak kubaca. Tangga darurat sempit dan sepi. Lampunya kuning, lampu yang dulu kedip karena tikus menggigit kabelnya.

”Mbak,” katanya, menepi untuk memberiku jalan.

Aku tidak lewat.

Aku tidak berpikir. Itu kebiasaan baru yang mulai kubenci. Tanganku sudah mencengkeram kerah kemejanya, dua kepalan kecil di kain abu-abu yang disetrika tajam, dan aku menariknya turun satu anak tangga. Kardus di tangannya miring. Botol-botol kosong berderak.

Wajahnya sejengkal dari wajahku. Matanya membesar sedikit. Dia tidak bergerak.

Aku tidak menciumnya.

Aku menunduk dan menempelkan bibirku ke kerahnya. Sisi kiri, dekat leher. Lama. Sampai merahnya pindah.

Lalu aku melepas kerahnya.

”Biar semua orang di gedung ini tahu,” kataku. Suaraku tidak setenang yang kurencanakan. “Kamu udah ada yang…”

Aku berhenti.

Udah ada yang punya. Aku tidak berhak menyelesaikan kalimat itu. Tidak ada yang punya dia. Dia bahkan tidak tahu ada yang ingin memilikinya.

Dia menunduk, mencoba melihat kerahnya sendiri, dan tentu saja tidak bisa.

”Ada apa di kerah saya, Mbak?”

”Noda,” kataku. Aku melewatinya, naik ke lantai delapan, dan tidak menoleh. “Rendam semalam. Pakai sabun batang.”

Di belakangku, dia berdiri di tangga lama sekali. Lalu satu botol obat tetes mata jatuh dari kardusnya dan menggelinding ke bawah, tok, tok, tok, sampai lantai enam.


Malam itu aku pulang jam tujuh, lebih awal dari biasanya.

Apartemenku sunyi. Lampunya menyala. Tidak ada yang rusak.

Aku duduk di sofa dan membuka Instagram. Akun Mas Aris sekarang punya seratus dua puluh ribu pengikut. Dia belum mengunggah apa pun sejak iklan tayang. Unggahan terakhirnya masih foto Komisaris dan empat anaknya di kardus, tiga minggu lalu, dengan caption Alhamdulillah, Komisaris sudah jadi ibu. Saya jadi kakek.

Foto itu sekarang punya empat puluh ribu komentar.

Aku menggulir ke bawah. Ada satu komentar dari akun bernama @ayulestari.ayu: Magang paling lucu!! 🐱🧡

Ada satu komentar dari akun @kevinkopi: Selamat Mas, salam buat Direktur.

Ada satu komentar dari akun @darmo.satpam.kuningan: Kakek Darmo bangga.

Aku tidak menemukan komentarku sendiri. Aku tidak pernah berkomentar. Aku tidak pernah memberi like. Aku tidak pernah mengikuti akunnya. Aku selalu membuka akunnya lewat pencarian, setiap malam, diam-diam, seperti orang yang membuka kulkas tengah malam padahal tidak lapar.

Aku menatap tombol Follow yang biru.

Kalau kutekan, aku jadi pengikut nomor seratus dua puluh ribu sekian. Satu angka di antara ribuan perempuan yang menulis AKU MAU JADI SATPAMNYA.

Satu nama di antrean yang tidak pernah berhenti.

Aku tidak menekannya.

Aku menutup Instagram dan menatap langit-langit. Di dompet di atas meja, ada surat dari Ibu, tiga sobekan kertas dari buku cokelat, dan cetakan kartu pasien Komisaris dengan tanda & di tengahnya.

Aku pikir itu bukti. Bukti bahwa aku berbeda. Bahwa aku bukan sekadar nomor.

Malam ini, aku tidak yakin lagi itu bukti apa.

Mungkin cuma bukti bahwa Mas Aris orang baik. Dan orang baik, seperti yang selalu kutahu sejak hari pertama, baik ke semua orang.