Chapter Four
Empat Puluh Menit di Lift
— Sabrina —
19.08
Lembur adalah satu-satunya waktu kantor terlihat jujur.
Lampu separuh mati. Kursi-kursi kosong menghadap ke arah yang berantakan, seperti ditinggal pemiliknya di tengah percakapan. Bau kopi sore yang sudah dingin bercampur bau karpet. Di lantai tujuh hanya tersisa aku dan suara AC.
Aku menekan save untuk ketiga kalinya pada dokumen presentasi yang besok pagi harus dibawa ke klien, lalu menutup laptop. Mataku perih. Tanganku otomatis membuka laci dan menemukan obat tetes mata yang segelnya belum kubuka.
Aku menatap botol kecil itu.
Lalu aku memasukkannya kembali ke laci tanpa membukanya. Rasanya seperti membuka sesuatu yang belum waktunya dibuka.
Aku mengambil tas dan berjalan ke lift.
19.10
Gedung ini punya dua lift penumpang, A dan B, plus satu lift barang yang selalu dipakai orang pindahan. Lift A sedang menunjukkan angka 12 dan sepertinya enggan turun. Lift B terbuka dengan bunyi ting yang ramah.
Aku melangkah masuk dan menekan tombol L.
Pintu hampir menutup ketika sebuah tangan menahannya.
”Maaf, Mbak.”
Mas Aris.
Dia masuk dengan napas sedikit terengah, seperti habis berlari dari tangga darurat. Kemejanya masih rapi, tapi lengannya sudah digulung sampai siku. Buku cokelat di saku. Dia berdiri di sisi kanan lift, menjaga jarak sopan satu lengan dariku, dan menekan tombol L walaupun tombolnya sudah menyala.
”Mas Aris belum pulang?” tanyaku.
”Belum, Mbak. Tadi dari ruang GA. Lihat lampu lantai tujuh masih nyala, terus lihat Mbak jalan ke lift.”
”Terus?”
”Lift B lagi agak bermasalah, Mbak. Saya catat jangan dipakai sendirian kalau malam.” Dia mengangkat buku cokelatnya sedikit, seperti menunjukkan surat tugas. “Jadi saya ikut.”
Pintu menutup. Lift mulai turun.
Aku menatap pantulan kami berdua di dinding stainless lift. Aku dengan blazer hitam dan rambut yang mulai kusut setelah seharian. Dia dengan kemeja abu-abu dan wajah tenang seperti biasa.
Dia ikut karena lift. Bukan karena aku.
Tapi dia ikut.
19.11
Lantai tujuh. Enam.
Di antara enam dan lima, lift batuk.
Bunyinya kecil, seperti tenggorokan orang tua yang serak. Lalu lift berguncang sekali, keras, dan berhenti.
Lampu mati.
Aku tidak berteriak. Aku tidak pernah berteriak. Aku cuma menarik napas tajam, dan tanganku entah kenapa sudah mencengkeram sesuatu di sebelahku.
Lengan kemejanya.
Lampu darurat menyala. Kuning redup, dari satu titik di pojok atas. Cukup untuk melihat wajahnya yang menoleh padaku, dan cukup untuk melihat tanganku yang masih mencengkeram lengannya.
”Mbak nggak apa-apa?”
”Nggak apa-apa,” kataku. Tanganku tidak melepas.
”Lift macet, Mbak. Normal. Jangan panik.”
”Aku nggak panik.”
”Iya, Mbak.” Dia menatap tanganku di lengannya. Lalu dia tidak bilang apa-apa soal itu. Dia hanya membiarkannya. “Saya tekan tombol darurat dulu, ya.”
Dia mengulurkan tangan yang bebas dan menekan tombol bergambar lonceng. Bunyi kring panjang. Lalu suara serak dari speaker kecil di panel.
”Pos keamanan. Lift B, ya? Ada berapa orang?”
”Dua, Pak,” jawab Mas Aris. “Saya Aris, GA Lumio. Sama Mbak Sabrina.”
”Oke, Mas Aris. Teknisi lagi dipanggil. Kira-kira tiga puluh sampai empat puluh menit. Lift A juga macet, ada satu orang. Listrik panel lagi trip.”
”Siap, Pak.”
Suara itu mati. Aku menatap pintu lift yang tertutup rapat.
Empat puluh menit.
Berdua.
Di ruang satu kali satu setengah meter.
Panik di dadaku perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang sangat kukenal. Sesuatu yang biasanya muncul tepat sebelum aku memenangkan sesuatu.
Ini kesempatan.
19.14
Aku melepas cengkeramanku dari lengannya dengan pelan, seolah baru sadar. Lalu aku bersandar ke dinding lift, menghadapnya.
Cahaya kuning dari atas jatuh di wajahnya dan membuat bayangan di bawah alisnya. Dia terlihat lebih dewasa dalam cahaya seperti ini. Lebih tegas. Seperti tokoh di film yang hanya muncul di adegan penting.
Aku memasang senyum miring paling berbahaya yang kumiliki. Senyum yang biasanya kusimpan untuk malam terakhir di bulan ketiga.
”Mas,” kataku pelan. “Kalau kita kejebak di sini selamanya, Mas mau ngapain sama aku?”
Mas Aris menatapku dengan wajah serius.
”Saya hitung oksigen dulu, Mbak.”
”Apa?”
”Oksigen, Mbak.” Dia mendongak, melihat ke celah ventilasi di langit-langit lift. Bibirnya bergerak tanpa suara, menghitung. “Lift ini kira-kira dua kubik. Ada ventilasi di atas, jadi udaranya tetap masuk walaupun pelan. Kalau kita napas biasa, aman. Kalau kita panik, napasnya jadi cepat, oksigennya lebih boros. Jadi kita jangan panik, ya, Mbak.”
Aku menatapnya.
Dia menatapku balik, menunggu persetujuanku soal rencana oksigen.
”Oke,” kataku pelan. “Kita jangan panik.”
”Iya, Mbak. Bagus.”
Dia mengangguk puas.
Aku memejamkan mata dan membenturkan bagian belakang kepalaku ke dinding lift. Pelan. Sangat pelan. Supaya dia tidak mengira aku pingsan dan mulai melakukan napas buatan.
Sebentar.
Sebentar.
Aku membuka mata.
Napas buatan.
Tidak. Tidak, Sabrina. Itu terlalu jauh, bahkan untukmu.
Jadi aku melakukan hal lain yang juga terlalu jauh.
Aku bangkit dari dinding. Dua langkah, cuma itu yang dibutuhkan lift sekecil ini. Aku menekan punggungnya ke dinding stainless, kedua telapak tanganku di dadanya. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat jakunnya bergerak.
”Panas, ya, Mas,” bisikku. Jariku menemukan kancing teratas kemejanya. Membukanya. Lalu kancing kedua. “Aku bukain.”
Dia menunduk, menatap jariku yang sekarang berada di kancing ketiga.
”Jangan yang ketiga, Mbak,” katanya pelan. “Nanti buku saya jatuh.”
Aku berhenti.
”Lagian,” lanjutnya, dengan nada guru yang sabar, “kalau baju dibuka, oksigennya nggak nambah, Mbak. Malah napasnya jadi cepat. Boros.”
Dia mengancingkan kembali dua kancing itu sendiri. Rapi. Dari bawah ke atas.
Aku mundur ke dinding seberang, menatap langit-langit lift, dan bertanya-tanya apa dosaku di kehidupan sebelumnya.
19.17
Speaker di panel berbunyi lagi. Kali ini bukan suara pos keamanan.
”HALO? HALO? SIAPA PUN? INI LEO! LEO SANTOSO! CREATIVE DIRECTOR LUMIO AGENCY!”
Mas Aris dan aku saling pandang.
”Pak Leo?” kata Mas Aris ke arah speaker.
”ARIS? ITU KAMU, ARIS?”
”Iya, Pak.”
”ARIS! ARIS, SAYA DI LIFT A! SAYA KEJEBAK! GELAP, ARIS! GELAP!”
Rupanya interkom kedua lift tersambung ke jalur yang sama. Pos keamanan pasti lupa memisahkannya. Atau sengaja, karena tidak tahan mendengar Pak Leo sendirian.
”Pak, tenang dulu, Pak,” kata Mas Aris dengan suara yang sama persis seperti suaranya waktu menenangkanku soal oksigen. “Teknisinya lagi datang.”
”SAYA NGGAK BISA TENANG! SAYA PUNYA KLAUSTROFOBIA, ARIS! SAYA PERNAH KEKUNCI DI LEMARI WAKTU KECIL! SAYA NGGAK BISA NAPAS!”
”Bapak bisa napas, Pak. Bapak lagi teriak. Kalau teriak, berarti napasnya ada.”
Hening sebentar di seberang. Lalu, dengan suara lebih kecil: “Oh. Iya, ya.”
Aku membekap mulut sendiri supaya tidak tertawa.
”Pak,” lanjut Mas Aris, “sekarang Bapak duduk dulu di lantai liftnya. Punggung nempel ke dinding.”
”Lantainya kotor, Aris. Saya pakai celana linen.”
”Linen bisa dicuci, Pak. Klaustrofobia nggak bisa.”
Bunyi gesekan. Pak Leo pasti sedang duduk.
”Sekarang Bapak hitung, Pak. Pelan-pelan. Tarik napas, hitung empat. Tahan, hitung empat. Buang, hitung empat.”
”Hitung apa?”
Mas Aris berpikir sebentar.
”Galon, Pak. Hitung galon. Satu galon, dua galon, tiga galon, empat galon. Tarik napas.”
Dan selama lima menit berikutnya, aku mendengarkan creative director paling ditakuti di Lumio Agency menghitung galon dengan suara gemetar di lift sebelah. Satu galon. Dua galon. Tiga galon. Empat galon. Buang napas. Satu galon. Dua galon.
Sementara itu, Mas Aris duduk di lantai lift kami. Punggung menempel ke dinding. Dia menghitung bersama Pak Leo, suaranya rendah dan sabar, seperti bapak yang meninabobokan anaknya.
Tanpa sadar aku sudah ikut duduk. Bahuku menempel ke bahunya.
Aku ikut menghitung galon.
19.26
Pak Leo tertidur.
Kami tahu karena dia mulai mendengkur di speaker. Dengkurannya keras dan berirama, seperti mesin fotokopi yang sedang mencetak banyak halaman.
”Klaustrofobia Pak Leo itu sembuh kalau capek,” bisik Mas Aris. “Waktu dulu ke dokter gigi juga begitu. Nangis setengah jam, terus tidur.”
Aku tertawa pelan, menunduk, sampai rambutku jatuh menutupi wajah. Rasanya sudah lama sekali aku tidak tertawa sesering ini dalam dua minggu. Bukan tawa sopan. Bukan tawa strategis. Tawa yang muncul begitu saja dan aku tidak bisa mengontrolnya.
Lalu lampu darurat berkedip.
Sekali. Dua kali. Mati.
Gelap total.
Tawaku hilang. Napasku tertahan.
Aku tidak takut gelap. Aku tidak takut lift. Tapi ada sesuatu tentang ruang sempit yang gelap, dan sunyi, dan pintu yang tertutup rapat, yang membuat dadaku menyempit. Kenangan lama yang tidak mau kupanggil. Suara dari balik pintu. Isak tangis yang ditahan.
Aku menggenggam lututku sendiri.
”Mbak.”
Suaranya di sebelahku. Dekat sekali.
”Mbak, ini.”
Sesuatu ditekan ke tanganku. Benda kecil, persegi, sampulnya agak kasar seperti karton. Buku cokelat.
”Mbak pegang ini, ya,” katanya pelan. “Biar tangannya ada kerjaan. Kalau tangan ada kerjaan, kepala nggak mikir yang aneh-aneh.”
Aku menggenggam buku itu dengan dua tangan. Sampulnya hangat, karena seharian berada di saku kemejanya, menempel di dadanya.
”Tapi jangan dibuka, ya, Mbak,” lanjutnya. “Isinya permintaan orang-orang. Itu privasi mereka.”
”Iya,” bisikku. “Nggak kubuka.”
Aku tidak membukanya. Aku cuma memeluknya ke dada dalam gelap, seperti anak kecil memeluk boneka.
Lampu darurat menyala lagi setelah sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh menit. Kuning redup, kembali dari pojok atas.
Aku tidak mengembalikan bukunya. Dia tidak memintanya.
19.31
”Mas Aris,” kataku. Suaraku masih sedikit serak. “Boleh aku nanya?”
”Boleh, Mbak.”
”Mas pernah pacaran?”
”Belum, Mbak.”
Aku menoleh. Dia menjawab seperti menjawab pertanyaan soal cuaca. Tidak malu, tidak defensif.
”Naksir orang?”
”Belum, Mbak.”
”Sama sekali?”
”Sama sekali.”
”Kok bisa? Mas umur berapa?”
”Dua puluh tujuh, Mbak.”
”Dua puluh tujuh tahun, dan belum pernah naksir siapa pun?” Aku setengah tertawa, setengah tidak percaya. “Mas, itu nggak mungkin. Waktu SMA? Kuliah? Mantan teman sekelas? Mbak-mbak kantin?”
Dia diam sebentar. Bukan diam karena malu. Diam karena berpikir sungguh-sungguh.
”Waktu SMA saya kerja, Mbak,” katanya akhirnya. “Pagi sekolah, sore bantu Bapak di kebun, malam benerin barang tetangga. Nggak kuliah. Habis lulus langsung ke Jakarta, kerja di bengkel, terus di gedung, terus di Lumio.” Dia mengangkat bahu. “Mungkin nggak sempat, Mbak.”
”Nggak sempat naksir?”
”Mungkin.”
”Itu nggak masuk akal. Naksir itu bukan sesuatu yang harus disempatkan. Dia datang sendiri.”
”Oh, gitu ya, Mbak?” Dia tampak tertarik, seperti baru mendengar informasi baru tentang cara kerja mesin cuci. “Saya kira harus disempatkan.”
Aku menatapnya. Lalu aku menyerah dan tertawa lagi, pelan, lewat hidung.
”Terus, gimana Mas tahu kalau Mas naksir orang? Kalau suatu hari kejadian?”
Dia diam lebih lama kali ini.
”Ibu saya pernah bilang,” katanya, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. Lebih hati-hati. Seperti orang yang memegang barang pecah belah. “Waktu saya SMA. Saya tanya, Bu, gimana caranya tahu kita suka sama orang? Terus Ibu bilang…”
Dia berhenti.
”Bilang apa?”
”Ibu bilang, ‘Kalau suatu hari ada orang yang pengin kamu tolong duluan sebelum yang lain, nah, itu, Ris.’”
Lift sunyi.
Bahkan dengkuran Pak Leo di speaker terdengar jauh.
Aku mengulang kalimat itu di kepalaku. Yang pengin kamu tolong duluan sebelum yang lain.
”Dan belum pernah ada?” tanyaku.
”Belum, Mbak. Semua orang saya antrekan sama rata.” Dia tersenyum kecil, sedikit malu. “Kata Ibu, mungkin saya rusak. Kayak kompas yang jarumnya muter terus, nggak nunjuk ke utara.”
Aku tidak menjawab.
Aku memeluk buku cokelat di dadaku lebih erat, dan aku memikirkan sesuatu yang tidak ingin kupikirkan.
Seumur hidup aku tidak pernah ingin menolong siapa pun duluan. Aku hanya ingin pergi duluan.
Mungkin bukan cuma dia yang kompasnya rusak.
19.35
”Mbak sendiri?”
Aku menoleh. “Apa?”
”Mbak sendiri gimana tahunya? Kalau suka sama orang.” Dia bertanya dengan wajah polos, wajah murid yang bertanya ke guru. “Mbak kan pasti sudah sering.”
Pasti sudah sering. Kalimat itu harusnya terdengar seperti sindiran. Dari mulut orang lain, pasti sindiran. Dari mulut dia, itu cuma statistik.
”Aku nggak pakai perasaan, Mas,” kataku, setengah bercanda. “Aku pakai aturan.”
”Aturan?”
”Tiga.” Aku mengangkat tiga jari dalam cahaya kuning. “Satu, jangan lebih dari tiga bulan. Dua, aku yang pergi duluan. Tiga, jangan pernah nangis karena cowok.”
Mas Aris memandangi tiga jariku lama sekali, seperti memandangi tabel tarif listrik.
”Tiga bulan itu kayak kontrak ya, Mbak?” tanyanya. “Kayak kontrak sewa genset?”
Aku tertawa. “Kurang lebih.”
”Bisa diperpanjang?”
”Nggak pernah.”
”Kenapa, Mbak?”
Tawaku berhenti di tengah jalan.
Tidak ada yang pernah bertanya kenapa. Nadia pernah memutar bola mata. Kevin pernah menghela napas. Rendi pernah menangis di parkiran mal. Tapi tidak ada yang pernah bertanya kenapa dengan suara sepolos itu, seolah jawabanku penting untuk dicatat di buku cokelat.
”Soalnya kalau lebih dari tiga bulan,” kataku pelan, “orang mulai berharap. Dan orang yang berharap itu gampang patah.”
Mas Aris mengangguk pelan. Dia tidak menghakimi, tidak menasihati. Dia cuma menyimpan jawabanku, seperti menyimpan sebungkus roti di laci darurat.
”Mbak baik, ya,” katanya akhirnya.
”Hah?”
”Mbak pergi biar orangnya nggak patah. Itu baik, Mbak.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Seumur hidup, tidak ada yang pernah menyebut aturanku baik. Aku sendiri tidak pernah menyebutnya begitu.
Aku menunduk ke buku cokelat di pelukanku dan pura-pura sangat tertarik pada sudut sampulnya yang lecek.
19.40
Lift berguncang lagi.
Sekali, keras, lalu turun beberapa senti dengan bunyi besi berdecit. Aku terpental ke samping, dan dalam satu detik yang kacau, aku sudah tidak lagi duduk di sebelahnya. Aku sudah setengah berada di pelukannya. Satu tangannya menahan bahuku, satu lagi menahan kepalaku supaya tidak terbentur dinding.
Wajahku di dadanya. Wangi sabun batang. Detak jantungnya di bawah pipiku.
Detak jantungnya normal.
Tenang, teratur, seperti jam dinding.
Sementara detak jantungku sendiri sedang berlari di jalan tol.
”Mbak nggak apa-apa?” Suaranya bergema di dadanya, bergetar di pipiku.
”Nggak apa-apa,” kataku ke kemejanya.
”Kepalanya kebentur?”
”Nggak.”
”Syukurlah.”
Dia membantuku duduk tegak lagi, pelan-pelan, memastikan aku sudah stabil sebelum melepaskan tangannya. Lalu dia kembali bersandar ke dinding, menjaga jarak sopan satu lengan, seolah barusan tidak terjadi apa-apa.
Bagi dia, memang tidak terjadi apa-apa.
Aku duduk memeluk lutut dan menatap lantai lift dengan wajah yang aku yakin sedang merah. Untung lampunya kuning. Kuning menyamarkan merah.
”Itu teknisinya lagi narik kabel dari atas, Mbak,” jelasnya. “Sebentar lagi.”
”Oke,” kataku.
Aku tidak berani menatapnya.
19.52
Pintu lift terbuka di lantai lima, dengan lantai lift sekitar tiga puluh senti lebih rendah dari lantai gedung. Dua teknisi berseragam biru menunduk dari atas dan mengulurkan tangan.
”Mbak dulu,” kata Mas Aris.
Aku meraih tangan teknisi dan memanjat keluar. Mas Aris naik sendiri dengan satu lompatan ringan.
Dari arah lift A di sebelah, pintu juga terbuka. Pak Leo keluar dengan celana linen yang kusut, rambut berantakan, dan wajah yang masih bengkak karena tidur. Begitu melihat Mas Aris, dia berlari dan memeluknya erat-erat.
”ARIS! Kamu menyelamatkan nyawa saya!”
”Galon, Pak. Galon yang menyelamatkan.”
”Besok kamu naik gaji!”
”Nggak usah, Pak. Besok Bapak ganti celana aja.”
Pak Leo tertawa sambil menangis, menepuk-nepuk punggung Mas Aris. Para teknisi tertawa. Pak Darmo, yang entah sejak kapan ada di sana, tertawa sambil memegang senter.
Aku berdiri sedikit menjauh.
Aku menyadari sesuatu, dan kesadaran itu membuatku berhenti bernapas sebentar.
Selama dua puluh menit terakhir di lift itu, aku tidak menggoda Mas Aris sama sekali.
Tidak satu kalimat pun. Tidak satu tatapan lima detik pun. Tidak satu senyum miring pun.
Aku lupa.
Aku, Sabrina Maharani, lupa menggoda laki-laki yang terjebak berdua denganku di ruang tertutup selama empat puluh menit.
Mas Aris akhirnya terlepas dari pelukan Pak Leo dan menoleh padaku.
”Mbak,” katanya. Dia mengulurkan tangan.
Aku menatap tangannya. Jantungku melompat.
”Bukunya, Mbak.”
Oh.
Aku menunduk. Buku cokelat masih di pelukanku, kugenggam erat sampai sampulnya sedikit lecek.
Aku mengembalikannya. Dia menerimanya, merapikan sampul yang lecek dengan ibu jari, lalu memasukkannya ke saku kemeja. Kembali ke tempatnya. Kembali ke dadanya.
”Makasih udah dijaga, Mbak,” katanya. “Hati-hati di jalan pulang. Besok saya lapor teknisi biar lift B diperbaiki total.”
Lalu dia berbalik dan membantu Pak Leo berjalan ke tangga, karena Pak Leo menolak naik lift lagi seumur hidupnya.
Aku berdiri di lorong lantai lima.
Tanganku masih terasa hangat bekas sampul buku itu.
Dan di kepalaku, satu kalimat berulang terus, seperti lagu yang tidak mau berhenti:
Kalau suatu hari ada orang yang pengin kamu tolong duluan sebelum yang lain.
Aku penasaran siapa orang itu nanti.
Lalu sisi diriku yang belum pernah kalah mengangkat dagu dan menjawab sendiri, tanpa kuminta.
Siapa lagi? Tentu saja aku.
Itu tantangan. Cuma tantangan. Aku menyebutnya begitu sepanjang jalan pulang, berkali-kali, sampai kata itu terdengar aneh di telingaku sendiri.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift reading
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris