Chapter Ten

Korban Senyum Sabrina

— Sabrina —

Notifikasi itu masuk jam sepuluh lewat dua puluh malam, waktu aku sedang merendam kaki di baskom air hangat.

Dua hari jadi asisten GA. Dua hari pakai sepatu kets dan kaos inventaris. Telapak kakiku protes seperti karyawan yang tidak dibayar lembur.

HP berbunyi. Aku melirik layar.

Galih menambahkan Anda ke “Korban Senyum Sabrina 😔”

Aku membaca nama grup itu tiga kali.

Lalu aku menggulir ke atas.


[Tiga hari yang lalu]

Galih membuat grup “Korban Senyum Sabrina 😔”
Galih menambahkan Kevin, Rendi, Yosua

Galih: Selamat malam bapak-bapak sekalian
Galih: Maaf mengganggu. Perkenalkan saya Galih
Galih: Mantan Sabrina periode Maret–Mei dua tahun lalu
Galih: Grup ini saya buat setelah melihat story IG Kevin semalam yang berbunyi “hari ke-91” dengan foto cangkir kosong
Galih: Saya mengerti perasaan itu, Kevin. Saya pernah ada di sana
Galih: 😔

Rendi: YA ALLAH
Rendi: GUE PIKIR GUE DOANG
Rendi: Rendi, Agustus–Oktober tahun lalu. Masih nyimpen kartu kaktusnya

Yosua: Yosua. Januari–April tahun ini.
Yosua: Koreksi: Januari 3 sampai April 3. Tepat 90 hari. Saya dokter gigi, saya menghitung.
Yosua: Kartu kaktus juga.

Kevin: Waduh
Kevin: Saya kira saya spesial dapet kartu kaktus 😅

Galih: Kita semua dapat kartu kaktus, Kevin
Galih: Kaktus saya masih hidup sampai sekarang btw
Galih: Dia lebih setia dari Sabrina

Rendi: 😭😭😭


Aku mengeluarkan kaki dari baskom. Aku tidak sadar sejak kapan aku berdiri.

Kartu kaktus. Aku sudah memberikan kartu kaktus ke… aku menghitung. Banyak. Aku membelinya satu pak isi dua puluh di toko alat tulis di Blok M, empat tahun lalu, karena kaktus adalah tanaman yang tidak butuh perhatian. Simbol yang sempurna.

Ternyata mereka menyimpannya.

Aku duduk di lantai dan terus menggulir.


[Dua hari yang lalu]

Yosua: Saya sudah memikirkan ini secara sistematis.
Yosua: Sabrina punya pola yang sangat konsisten. 90 hari. Selalu dia yang pergi. Tidak pernah ada drama. Tidak pernah ada air mata (dari pihak dia).
Yosua: Dalam istilah kedokteran gigi, Sabrina itu email gigi. Lapisan terkeras di tubuh manusia. Tidak bisa diregenerasi, tapi juga hampir tidak bisa rusak.

Rendi: bro gue nggak ngerti tapi gue terharu

Kevin: Ada yang mau saya ceritakan
Kevin: Tapi saya ragu

Galih: Ceritakan, Kevin. Ini ruang aman

Kevin: Kemarin malam Sabrina mampir ke kafe saya. Beli kopi buat tim lembur
Kevin: Terus saya lihat story Mbak Tari, HR kantornya Sabrina
Kevin: [foto]

Itu foto ruang meeting. Foto yang sama dengan yang Nadia perbesar di apartemennya. Aku di pojok kiri dengan jaket inventaris. Mas Aris di pojok kanan di atas kursi. Dan aku tersenyum ke arah pojok kanan.

Kevin: Lihat mukanya Sabrina

Galih: …
Galih: Saya sudah 2 tahun tidak melihat Sabrina, tapi saya ingat mukanya
Galih: Itu bukan muka yang dia pakai ke saya

Rendi: ITU MUKA APA
Rendi: SABRINA SENYUM KAYAK GITU?? SAMA SIAPA?? COWOK DI ATAS KURSI??

Yosua: Itu muka orang yang tidak sedang menghitung hari.

Aku menutup mulut dengan tangan.


[Kemarin]

Kevin: Update. Saya sudah tanya-tanya
Kevin: Namanya Mas Aris. Staf GA di Lumio. General Affairs
Kevin: Yang benerin AC, galon, printer, dll
Kevin: Dan kata Ayu, dia belum pernah pacaran seumur hidup

Galih: Ayu siapa?

Kevin: Anak magang di timnya Sabrina
Kevin: Dia ke kafe tadi sore ambil notebook yang ketinggalan

Rendi: notebook ketinggalan 👀👀👀

Yosua: Kevin, kamu tidak perlu menjelaskan kenapa kamu bertanya-tanya ke anak magang. Kami mengerti.

Kevin: Bukan gitu
Kevin: Dia cuma ngobrol. Lama. Sambil makan kue. Dua kue

Galih: Kevin. Fokus. Kita bahas ini nanti

Kevin: Oke maaf
Kevin: Intinya, kata Ayu, Sabrina udah 3 minggu ngejar Mas Aris
Kevin: Dan Mas Aris nggak sadar sama sekali
Kevin: Contoh: Sabrina bilang “aku kedinginan, peluk aku dong”, dia dikasih jaket kantor yang belakangnya tulisan PROPERTY OF LUMIO

Ada jeda di riwayat chat. Tujuh menit tanpa pesan. Aku bisa membayangkan empat laki-laki di empat tempat berbeda, menatap layar dengan mulut terbuka.

Rendi: GUE NANGIS
Rendi: GUE NANGIS BENERAN DI GYM
Rendi: ORANG SEBELAH NANYA GUE KENAPA

Galih: Saya harus duduk dulu

Yosua: Biar saya rangkum.
Yosua: Selama bertahun-tahun, Sabrina adalah predator puncak dalam ekosistem kencan Jakarta Selatan. Belum pernah kalah.
Yosua: Sekarang muncul satu spesies yang kebal terhadap racunnya. Bukan karena dia kuat. Karena dia tidak punya reseptor untuk racun itu.
Yosua: Ini fenomena biologis yang langka.

Galih: Bapak-bapak
Galih: Saya punya usul

Galih: Kita dukung Mas Aris

Kevin: Dukung gimana?

Galih: Dukung secara moral
Galih: Kita semua pernah jadi kartu kaktus
Galih: Kalau ada satu laki-laki di dunia ini yang bisa bikin Sabrina berhenti ngitung hari, laki-laki itu harus kita jaga

Rendi: SETUJU
Rendi: MAS ARIS ADALAH HARAPAN TERAKHIR UMAT

Yosua: Setuju, dengan catatan: kita tidak boleh menghubunginya langsung. Ekosistemnya harus dibiarkan berkembang secara alami.

Kevin: Setuju juga
Kevin: Mas Arisnya kelihatan orang baik. Kasihan kalau diganggu

Galih mengubah nama grup menjadi “Korban Senyum Sabrina 😔 (Tim Mas Aris)”


[Hari ini, 18.40]

Kevin: UPDATE BESAR
Kevin: Ayu cerita lagi tadi
Kevin: Sabrina 2 hari ini jadi ASISTEN GA
Kevin: Pakai kaos GA, pakai sandal jepit Mas Aris, ikut angkat galon (gagal)

Rendi: WHAT
Rendi: Sabrina?? Sandal jepit??
Rendi: Sabrina yang nolak jalan ke Indomaret karena aspalnya panas??

Kevin: Dan katanya Mas Aris bilang ke HR-nya
Kevin: “Antri, ya. Sekarang saya lagi sama Mbak Sabrina.”

Galih: …

Yosua: Saya ulangi pelan-pelan.
Yosua: Dia menyuruh orang lain antri. Karena sedang bersama Sabrina.

Rendi: INI KEMAJUAN
Rendi: INI KEMAJUAN BESAR BAPAK-BAPAK

Yosua: Atau, lebih mungkin, Sabrina sedang menjadi asistennya hari itu, sehingga secara prosedural dia berada di urutan pertama tugas.

Rendi: Yos kamu tuh ya
Rendi: Biarin gue seneng dulu sebentar

Galih: Saya mau kirim stiker semangat ke Mas Aris tapi kita sudah sepakat tidak menghubungi
Galih: Jadi saya kirim ke sini saja
Galih: [stiker kucing mengangkat bendera merah putih]


[Hari ini, 22.18]

Galih: Bapak-bapak, saya mau nambahin satu anggota
Galih: Teman saya punya bengkel, namanya Sabar Jaya Motor
Galih: Dia juga pernah… ya pokoknya pernah
Galih: Tunggu saya cari kontaknya

Galih menambahkan Sabrina

Galih: Selamat datang Sabar 🙏


Itu pesan terakhir di grup.

Aku menatap layar. Lalu aku melihat jam. 22.20. Dua menit sejak aku ditambahkan. Tidak ada yang sadar.

Kontak Sabar Jaya Motor dan Sabrina bersebelahan di HP Galih. Tentu saja. Galih menyimpanku sebagai Sabrina, bukan Sabrina 🔥 atau Sabrina ❤️ seperti mantan-mantanku yang lain. Galih memang selalu yang paling sopan. Dia juga yang paling sering salah pencet.

Aku punya dua pilihan.

Pilihan pertama: keluar diam-diam. Pura-pura tidak pernah membaca. Aturan dua: aku yang pergi duluan.

Pilihan kedua…

Aku mengetik.

Sabrina: Halo.

Satu detik. Dua detik.

Tiga titik muncul di bawah nama Galih. Hilang. Muncul. Hilang.

Galih: [stiker kucing menangis di pojok ruangan]
Galih: MAAF
Galih: MAAF SABRINA
Galih: SALAH PENCET
Galih: MAKSUD SAYA SABAR JAYA MOTOR
Galih: KONTAKNYA SEBELAHAN

Rendi: YA ALLAH
Rendi: SAB KAMI BISA JELASKAN

Kevin: Sab… 😅

Yosua: Saya sudah memperkirakan ini akan terjadi. Galih selalu terlalu cepat menekan tombol.

Galih: Yos tolong jangan sekarang

Sabrina: Aku udah baca semuanya.

Hening. Tidak ada tiga titik. Tidak ada stiker. Empat laki-laki membeku di empat tempat berbeda, seperti aktor Korea di layar televisi Nadia.

Aku menatap riwayat chat itu. Semua kalimatnya. Kartu kaktus. Email gigi. Muka orang yang tidak sedang menghitung hari. Harapan terakhir umat.

Seharusnya aku marah. Empat mantan membuat grup tentang aku, menganalisis wajahku dari story HR, dan menjadikan laki-laki yang sedang kukejar sebagai maskot perjuangan mereka.

Tapi aku tidak marah.

Aku duduk di lantai apartemen dengan kaki basah dan baskom air yang mulai dingin, dan aku merasakan sesuatu yang aneh. Seperti melihat diri sendiri dari luar. Dari mata orang-orang yang pernah kutinggalkan dengan kartu kaktus dan senyum sopan.

Mereka tidak membenciku. Mereka bahkan tidak marah.

Mereka cuma ingin aku berhenti menghitung hari.


Rendi: Sab?
Rendi: Kamu marah?

Sabrina: Nggak.

Rendi: Beneran?

Sabrina: Beneran.

Kevin: Sab, maaf soal ini. Kami nggak bermaksud jahat. Kami cuma… ya. Kamu tahu lah

Sabrina: Aku tahu, Kev.

Galih: Sabrina, saya mau minta maaf secara resmi
Galih: Dan saya mau bilang kaktusnya masih hidup
Galih: Saya siram tiap Minggu

Aku tertawa. Lewat hidung, sendirian, di lantai apartemen. Tawaku berantakan.

Sabrina: Makasih udah dirawat, Lih.

Galih: 😭

Yosua: Sabrina, boleh saya bertanya satu hal secara ilmiah?

Sabrina: Tanya aja.

Yosua: Apakah hipotesis kami benar? Apakah Mas Aris kebal?

Aku menatap pertanyaan itu.

Aku mengetik. Iya, dia kebal. Hapus.

Aku mengetik lagi. Aku cuma penasaran. Hapus.

Aku mengetik lagi. Aku nggak tahu. Aku menatap tiga kata itu lama, lalu menghapusnya juga.

Akhirnya aku mengirim sesuatu yang lain.

Sabrina: Satu permintaan.

Rendi: Apa aja Sab

Sabrina: Jangan pernah hubungi dia. Jangan kirim apa-apa. Jangan datang ke kantor. Jangan bikin dia bingung.
Sabrina: Dia orang baik. Biarin dia tetap kayak gitu.

Hening lagi. Kali ini lebih lama.

Kevin: Janji, Sab

Galih: Janji

Rendi: Janji 🤝

Yosua: Janji. Itu memang sudah keputusan grup sejak awal.
Yosua: Tapi Sabrina, izinkan saya mencatat satu observasi terakhir.

Sabrina: Apa?

Yosua: Selama dua tahun saya mengenalmu, termasuk tiga bulan kita bersama, kamu tidak pernah sekali pun meminta seseorang dilindungi.
Yosua: Kamu selalu yang melindungi diri sendiri.

Aku menatap pesan itu.

Yosua: Satu-satunya cara predator puncak bisa kalah adalah kalau dia jatuh duluan.
Yosua: Selamat malam.


Aku tidak keluar dari grup.

Aku membisukan notifikasinya. Aku menaruh HP di lantai, layar menghadap ke bawah. Aku mengangkat baskom air yang sudah dingin dan membuangnya ke wastafel.

Lalu aku berdiri di tengah apartemen yang rapi dan sunyi, dan aku menatap sepasang sandal jepit hitam bertali biru di dekat pintu. Tiga nomor kebesaran. Belum kukembalikan. Seperti jaket itu.

Jatuh duluan.

Aku tidak jatuh. Aku Sabrina Maharani. Aku email gigi. Lapisan terkeras di tubuh manusia.

Aku mematikan lampu.

Di dalam gelap, HP di lantai menyala sebentar. Satu notifikasi lolos, meskipun grupnya sudah dibisukan. Notifikasi dari kontak lain.

Aris GA Lumio: Mbak, besok sepatu kets lagi ya. Ada pindahan lemari di lantai 8. Selamat malam, Mbak. Jangan lupa matikan lampu.

Lampunya sudah mati.

Aku mengetik balasan dengan jempol yang tiba-tiba berani di dalam gelap.

Udah, Mas. Btw, aku tidurnya nggak pakai baju tidur.

Centang dua. Biru.

Mas Aris sedang mengetik…

Berhenti.

Mas Aris sedang mengetik…

Berhenti lagi. Lima menit. Laki-laki yang membalas ada yang rusak? dalam tiga detik, sekarang butuh lima menit.

Aris GA Lumio: Selimutnya yang tebal, Mbak.

Satu menit kemudian:

Aris GA Lumio: Selamat malam.

Tanpa Mbak. Tanpa jangan lupa matikan lampu.

Aku berdiri di gelap dan tersenyum seperti orang bodoh, dan untuk pertama kalinya aku tidak repot-repot menyangkal bahwa senyum itu untuk dia.