Chapter Twenty Three

Simulasi Kencan

— Sabrina —

Pelajaran enam soal mendengarkan. Dia lulus dalam lima menit, karena ternyata dia sudah melakukannya setiap hari selama empat bulan, dan aku yang tidak pernah sadar.

Pelajaran tujuh soal kejutan kecil. Teorinya: bukan barang mahal, tapi sesuatu yang menunjukkan dia ingat. Aku menyuruhnya berlatih dengan memberi kejutan pada siapa saja.

Dua hari kemudian, dia muncul di parkiran basement jam tujuh pagi dengan kardus kecil berlubang-lubang di tangan.

”Mbak,” katanya. “Magang sudah bisa makan sendiri. Drh. Laras bilang sudah boleh pisah dari Komisaris.” Dia mengulurkan kardus itu. “Kata Mbak, apartemen Mbak sepi.”

Aku tidak pernah bilang apartemenku sepi. Aku cuma bilang, sekali, di warung terpal biru jam dua pagi, bahwa di apartemenku tidak pernah ada yang rusak.

Dia mendengar itu sebagai sepi.

Aku membuka kardusnya. Anak kucing oranye kecil, yang paling kecil, yang dulu selalu ketinggalan rebutan susu, menatapku dengan mata kuning yang besar. Lalu dia menguap, memperlihatkan gigi-gigi kecil, persis seperti ibunya.

”Kalau Mbak nggak mau, nggak apa-apa,” katanya cepat. “Saya…”

”Mau,” kataku.

Aku sudah memeluk kardus itu sebelum dia selesai bicara.

Sekarang apartemenku tidak sepi. Ada anak kucing oranye bernama Magang yang menggigit tali sepatu, mencakar sofa, dan tidur di atas jaket inventaris yang lagi-lagi lupa kukembalikan.

Pelajaran tujuh: lulus.

Pelajaran delapan: kencan pertama.

Aku bilang padanya, pelajaran delapan harus dilatih penuh. Satu hari, dari pagi sampai malam. Dia yang merencanakan semuanya, dengan semua yang sudah dia pelajari. Aku cuma ikut, dan menilai.

Dia mencatat itu di buku cokelat. Lalu dia bertanya satu hal.

”Mbak, boleh saya pilih tempatnya sendiri? Bukan restoran rooftop?”

”Boleh.”

”Walaupun jauh?”

”Walaupun jauh.”

Dia mengangguk. Dia tidak bilang apa-apa lagi. Tapi aku melihat dia menulis sesuatu yang panjang di buku cokelat, dan dia menggarisbawahinya dua kali.


Sabtu, jam enam pagi, dia menungguku di Stasiun Tebet.

Aku belum pernah naik KRL.

Aku Sabrina Maharani. Aku lahir di Pondok Indah, sekolah di sekolah internasional, kuliah naik mobil, kerja naik mobil. Aku tahu KRL ada, seperti aku dulu tahu orang GA ada. Mereka ada, mereka penting, tapi mereka tidak pernah masuk radar.

Dia berdiri di depan gerbang tiket dengan kemeja kotak-kotak biru, bukan kemeja abu-abu GA, dan celana jins. Tas selempang di bahu. Buku cokelat tetap di saku kemeja.

Aku belum pernah melihatnya tanpa seragam di siang hari. Di IGD dia pakai kaos, tapi itu malam, dan dia basah. Ini berbeda. Kemeja kotak-kotak biru itu disetrika sama tajamnya dengan kemeja GA, dan lengannya digulung sampai siku dengan lipatan yang rapi.

Dia terlihat seperti laki-laki yang mau menjemput seseorang.

”Pagi, Mbak,” katanya. Lalu dia menyodorkan sesuatu.

Gelas kertas. Hangat. Aku membuka tutupnya.

Oat latte. Gula setengah.

”Dari kafe Mas Kevin,” katanya. “Saya minta dibuka jam lima tadi. Mas Kevin baik, mau.”

Aku menatap kopi itu. Pelajaran dua: ingat hal kecil. Kevin, jam lima pagi, membuka kafe untuk membuatkan kopi mantan pacarnya, untuk dibawa oleh laki-laki yang sedang dia dukung di grup WhatsApp.

Aku tertawa. Lewat hidung.

”Kenapa, Mbak?”

”Nggak,” kataku. “Kopinya pas.”


Kereta ke Bogor penuh. Kami berdiri. Dia berdiri di belakangku, satu tangan memegang pegangan di atas, satu lagi di tiang dekat kepalaku. Bukan memelukku. Membuat ruang. Setiap kali kereta berguncang dan orang-orang terdorong, punggungnya yang menahan, bukan punggungku.

Di Stasiun Pasar Minggu, seorang ibu hamil naik. Mas Aris melihatnya, lalu menatapku sebentar, seperti minta izin, lalu bergeser dan memanggil anak muda yang duduk di kursi prioritas sambil main HP. Dengan sopan. Anak muda itu berdiri. Ibu itu duduk.

Lalu Mas Aris kembali ke belakangku, dan kembali membuat ruang.

Dia menatapku dulu. Sebelum menolong ibu itu. Seperti minta izin, karena hari ini dia sedang bersamaku.

Pelajaran empat.

Aku menatap jendela kereta supaya dia tidak melihat wajahku.


Kebun Raya Bogor jam delapan pagi masih berkabut.

Kami berjalan di bawah pohon-pohon raksasa yang batangnya lebih besar dari mobilku, akarnya mencuat dari tanah seperti punggung ular. Udaranya dingin dan basah dan wangi daun. Ada keluarga yang piknik di rumput, anak-anak yang mengejar burung, kakek dan nenek yang berjalan bergandengan pelan-pelan.

”Saya sering ke sini, Mbak,” katanya. “Dulu, waktu pertama kali ke Jakarta. Waktu masih sendirian.”

”Kenapa ke sini?”

”Pohonnya mirip di kampung.” Dia menatap ke atas, ke dahan-dahan yang menutupi langit. “Di Jakarta nggak ada yang setinggi ini. Kalau di sini, saya merasa nggak terlalu jauh dari rumah.”

Aku menatapnya. Laki-laki dua puluh tujuh tahun yang dulu naik kereta sendirian ke Bogor setiap Minggu supaya merasa dekat dengan rumah.

Dia memilih tempat ini untuk latihan kencan pertama.

Dia membawaku ke tempat yang membuatnya merasa tidak terlalu jauh dari rumah.

Kami duduk di bangku di bawah pohon kenari raksasa. Dia mengeluarkan termos hijau dan dua gelas plastik. Lalu dia mengeluarkan kotak makan kecil. Isinya rengginang. Rengginang dari Ibu, yang dikirim untukku, yang tidak pernah kugoreng.

”Saya goreng semalam, Mbak,” katanya. “Minyaknya yang banyak, kata Ibu.”

Aku mengambil satu. Renyah. Gurih. Sedikit gosong di pinggirnya.

”Gosong,” kataku.

”Kerak, Mbak.”

Aku tertawa sampai rengginangnya jatuh ke rumput, dan seekor burung gereja langsung menyambarnya.


Siangnya kami makan soto kuning di warung dekat Pasar Bogor. Kuahnya kuning dari kunyit, isinya babat dan kikil, dan dia bilang ini soto paling enak yang pernah dia makan setelah soto Ibu.

Dia makan babat. Dia bilang babat itu makanan tamu.

Lalu, waktu aku sedang makan, dia tiba-tiba berhenti dan menatapku.

”Mbak,” katanya. “Pelajaran tiga.”

”Hm?”

”Pujian yang spesifik.” Dia menunjuk mangkukku dengan sendoknya. “Mbak makan babatnya duluan, terus kikilnya disisain buat terakhir. Kayak orang yang nyimpen yang paling enak buat paling akhir.”

Aku menatap mangkukku. Babatnya habis. Kikilnya masih utuh.

Aku tidak pernah sadar aku melakukan itu.

”Itu bukan pujian,” kataku.

”Bukan, ya, Mbak?” Dia berpikir. “Oh. Iya. Maksud saya: itu lucu. Saya suka lihatnya.”

Aku menunduk ke mangkuk soto dan menghabiskan kikil itu terlalu cepat, sampai tersedak, dan dia menyodorkan teh tawar hangat tanpa bilang apa-apa.


Malam turun di Bogor jam enam sore, dan pasar malam di lapangan dekat stasiun mulai menyala.

Lampu-lampu warna-warni digantung di tali, dari tiang ke tiang. Ada komidi putar dengan kuda-kudaan yang catnya mengelupas. Ada bianglala setinggi rumah tiga lantai yang berdecit setiap kali berputar. Ada penjual arum manis, kerak telor, sosis bakar, dan permainan lempar gelang dengan hadiah boneka-boneka yang bulunya kusam.

Bau minyak goreng dan gula terbakar. Suara dangdut dari speaker yang pecah.

Aku belum pernah ke pasar malam.

Dia membelikanku sosis bakar dengan saus sambal dan mayones. Aku memakannya sambil berjalan, hal yang tidak pernah kulakukan seumur hidup, karena Mama selalu bilang perempuan tidak makan sambil berjalan.

Dia berhenti tiba-tiba.

”Mbak.”

”Hm?”

”Diam dulu.”

Aku diam.

Dia mengangkat tangan. Pelan. Dan dengan ibu jarinya, dia mengusap sudut bibirku.

Saus sambal. Sedikit. Di sudut kiri bibir, dekat tempat senyum miringku biasanya muncul.

Ibu jarinya kasar. Kapalan. Hangat.

Lalu dia menarik tangannya, menatap saus di ibu jarinya, dan, setelah ragu sebentar, mengelapnya ke celana jins.

”Pelajaran lima, Mbak,” katanya pelan. “Sentuhan kecil yang punya alasan.”

Aku tidak bisa menjawab.

Lampu-lampu warna-warni berkedip di atas kami. Merah, kuning, hijau, biru. Dangdut dari speaker pecah berganti lagu. Seorang anak kecil berlari melewati kami dengan balon berbentuk ikan.

Dan aku berdiri di tengah pasar malam di Bogor dengan sosis bakar di tangan, dan aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan di restoran rooftop paling mahal di SCBD, di kafe Kyoto yang diceritakan Bastian, di semua kencan sempurna yang pernah kujalani.

Aku bahagia.

Sederhana. Tidak ada kata lain. Aku bahagia.


Kami naik bianglala.

Keranjangnya kecil, berkarat di beberapa bagian, dan berdecit setiap kali naik. Kami duduk berhadapan. Lututku menyentuh lututnya, karena keranjangnya terlalu sempit untuk menghindarinya.

Bianglala berputar. Pelan. Naik.

Dari atas, pasar malam terlihat seperti kotak perhiasan yang tumpah. Lampu-lampu kecil di mana-mana. Di kejauhan, lampu-lampu kota Bogor, dan lebih jauh lagi, gelap gunung Salak.

Keranjang kami berhenti di puncak. Operator di bawah sedang menaikkan penumpang baru.

Kami tergantung di udara, di keranjang yang berayun pelan, sunyi, jauh dari suara dangdut.

”Mbak,” katanya.

”Hm?”

”Saya mau tanya.”

”Tanya.”

”Pelajaran sepuluh itu apa?”

Aku menatapnya. Wajahnya diterangi lampu warna-warni dari bawah. Merah, kuning, biru, bergantian.

”Belum,” kataku. “Itu yang terakhir. Yang paling susah.”

”Saya mau tahu, Mbak.”

”Kenapa buru-buru?”

Dia diam. Dia menatap ke bawah, ke pasar malam yang seperti kotak perhiasan.

”Soalnya,” katanya pelan, “saya takut kalau kelamaan, saya keburu bilang sebelum lulus.”

Aku tidak mengerti kalimat itu. Atau aku mengerti, tapi aku menolak mengerti, karena kalau aku mengerti, aku harus berharap, dan aku sudah berhenti berharap.

Keburu bilang. Ke dia. Ke perempuan itu. Ke Ayu, atau siapa pun dia.

Dia takut keburu bilang ke perempuan lain sebelum aku selesai mengajarinya.

”Sabar,” kataku. Suaraku keluar normal. “Pelajaran sembilan dulu.”

”Iya, Mbak.”

Bianglala berputar lagi.

Tidak dengan halus. Operator di bawah menarik tuas terlalu keras, dan keranjang kami tersentak, berayun kencang ke depan.

Aku terlempar dari kursiku.

Aku tidak tahu bagaimana fisikanya bekerja. Yang kutahu, satu detik kemudian tanganku mencengkeram kemeja kotak-kotak birunya, lututku membentur lututnya, dan bibirku menabrak bibirnya.

Bukan ciuman. Tabrakan. Satu detik. Kurang.

Tapi bibirnya hangat, rasanya seperti sosis bakar dan saus sambal, dan dia tidak menarik diri.

Keranjang berhenti berayun.

Aku mundur. Pelan. Tanganku masih mencengkeram kemejanya. Wajahnya sejengkal dari wajahku, diterangi lampu warna-warni dari bawah. Merah. Kuning. Biru.

Dia tidak berkedip. Dia tidak bernapas.

”Maaf,” bisikku.

”Maaf, Mbak,” bisiknya, di saat yang sama.

Keranjang turun pelan. Dangdut dari speaker mulai terdengar lagi.

”Itu…” Dia menelan ludah. “Itu pelajaran berapa, Mbak?”

Aku melepas kemejanya. Aku duduk kembali di kursiku dan menatap pasar malam di bawah, kotak perhiasan yang tumpah, dan memaksa suaraku keluar normal.

”Bukan pelajaran,” kataku. “Kecelakaan. Nggak dihitung.”

”Iya, Mbak,” katanya pelan. “Nggak dihitung.”

Di bawah, dia membeli dua arum manis. Dia menghabiskan miliknya dalam tiga gigitan, seperti orang yang butuh sesuatu untuk dikerjakan mulutnya.


Kereta terakhir dari Bogor ke Jakarta jam sembilan malam, dan kali ini tidak penuh. Kami dapat tempat duduk.

Aku tidak ingat kapan aku tertidur. Aku cuma ingat bunyi kereta yang berirama, lampu-lampu stasiun yang lewat di jendela, dan bahunya di sebelahku.

Waktu aku bangun, kepalaku ada di bahunya.

Bukan bersandar. Tertumpu sepenuhnya, seperti bantal. Dan dia tidak bergerak. Dia duduk tegak, kaku seperti tiang, supaya bahunya tetap di posisi yang sama. Tangannya di pangkuan, mengepal di atas lutut, seperti orang yang menahan diri untuk tidak bergerak sedikit pun.

Aku tidak langsung mengangkat kepala.

Aku memejamkan mata lagi. Pura-pura masih tidur. Lima detik. Sepuluh. Dua puluh.

Wangi sabun batang. Detak jantungnya terdengar dari dekat bahunya, lewat kemeja kotak-kotak biru.

Jantungnya tidak berdetak seperti jam dinding lagi.

Jantungnya berlari.

Aku membuka mata. Aku mengangkat kepala pelan-pelan, pura-pura baru bangun.

”Maaf,” gumamku. “Ketiduran.”

”Nggak apa-apa, Mbak.” Suaranya sedikit serak. Dia menggerakkan bahunya pelan, sedikit, seperti bahunya kaku setelah lama tidak bergerak. “Sudah sampai Manggarai. Dua stasiun lagi.”

Aku tidak bertanya berapa lama aku tidur di bahunya. Aku tidak bertanya kenapa jantungnya berlari.

Aku tidak boleh bertanya.


Di Stasiun Tebet, jam sepuluh lewat dua puluh malam, dia mengantarku sampai ke mobil di parkiran stasiun.

Lampu jalan kuning. Jalanan sepi. Dia berdiri di samping pintu mobilku, tas selempang di bahu, kemeja kotak-kotak biru yang sekarang kusut di bagian bahu, tempat kepalaku tadi bersandar.

”Mbak,” katanya.

”Hm?”

”Makasih.”

”Buat apa?”

”Latihannya.”

Satu kata itu masuk ke dadaku seperti angin dingin di rooftop.

Latihannya.

Hari ini. Kopi oat latte jam lima pagi. KRL, ibu hamil, pohon kenari, rengginang gosong. Soto kuning dan kikil yang disimpan untuk terakhir. Saus sambal di sudut bibir. Bianglala. Bahunya yang kaku seperti tiang selama empat stasiun.

Latihan.

”Saya lulus nggak, Mbak?” tanyanya. Wajahnya serius. Penuh harap. Wajah murid.

Aku tersenyum.

Senyum yang paling susah yang pernah kupasang seumur hidup. Lebih susah dari senyum di depan Kevin di hari ke-90. Lebih susah dari senyum di depan Bastian di restoran rooftop. Lebih susah dari semua senyum iklan.

”Lulus,” kataku. “Nilai sempurna.”

Dia tersenyum lega. Matanya hilang jadi garis.

”Alhamdulillah,” katanya. Lalu, setelah ragu sebentar: “Nanti, Mbak, kalau sudah beneran… saya mau ajak dia ke tempat yang sama. Kebun Raya, soto kuning, pasar malam. Menurut Mbak dia bakal suka?”

Aku masuk ke mobil sebelum dia bisa melihat wajahku.

”Dia bakal suka,” kataku dari balik kaca, setelah menurunkannya sedikit. “Siapa pun dia, dia bakal suka.”

”Makasih, Mbak. Hati-hati. Jangan lupa matikan lampu.”

Dia mengetuk atap mobilku dua kali.

Aku menyetir pulang.


Di apartemen, Magang menungguku di depan pintu. Dia mengeong keras, protes ditinggal seharian, lalu menggigit tali sepatu ketsku.

Aku duduk di lantai. Aku mengangkat Magang ke pangkuan. Dia menggeliat, lalu tenang, lalu mendengkur pelan, persis seperti ibunya di pangkuan Mas Aris di mobil, hari kami pulang dari klinik hewan.

Di saku celanaku, ada tiket KRL Bogor-Tebet yang sudah dipakai. Di dompetku, ada tiket bianglala dari kertas tipis warna merah muda, robek di ujung.

Hari terindah dalam hidupku. Dengan ciuman pertama yang tidak boleh dihitung.

Dan dia bilang terima kasih untuk latihannya.

Aku memeluk Magang ke dada. Mataku panas. Tenggorokanku perih. Air pasang itu naik lagi, lebih tinggi dari malam di lantai kamar mandi, lebih tinggi dari pelukan Nadia dengan martabak yang dingin.

Aturan ketiga.

Aku memegangnya. Erat. Seperti memegang pegangan di KRL yang berguncang.

Aku tidak menangis.

Tapi Magang menjilat daguku. Seolah dia tahu ada sesuatu di sana yang hampir jatuh.