Chapter Nineteen
Senjata Diletakkan
— Sabrina —
Ada satu hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun padaku: bagaimana caranya mendekati laki-laki tanpa senjata.
Aku tahu cara membuat laki-laki menoleh. Aku tahu cara membuat mereka gugup, cara membuat mereka menunggu pesanku, cara membuat mereka membatalkan rapat direksi. Itu keterampilan. Aku melatihnya sejak SMA, seperti atlet melatih otot.
Tapi bagaimana caranya mendekati seseorang dengan jujur? Bagaimana caranya bilang aku suka kamu tanpa senyum miring, tanpa jeda yang diperhitungkan, tanpa sudut wajah terbaik?
Aku tidak tahu.
Jadi aku mulai dari hal yang paling sederhana.
Aku mengembalikan barang-barangnya.
Senin pagi, jam tujuh kurang sepuluh, aku menunggu di parkiran basement.
Di tanganku ada kantong kertas. Isinya jaket inventaris abu-abu bertuliskan PROPERTY OF LUMIO, sudah dicuci, dikeringkan, dan disetrika. Aku menyetrikanya sendiri semalam, untuk pertama kalinya dalam hidupku menyetrika sesuatu yang bukan blus sutra. Lipatan lengannya tidak setajam lipatan kemejanya. Tapi aku sudah mencoba.
Di sebelah jaket itu, sepasang sandal jepit hitam bertali biru. Tiga nomor kebesaran. Kucuci pakai sabun cuci piring sampai karetnya wangi jeruk nipis.
Komisaris menatapku dari atas jok motor Pak Darmo. Empat anaknya bergelung di kardus di bawah motor. Direktur, Manajer, Staf, dan Magang, yang sekarang sudah bisa berjalan dan suka menggigit tali sepatu orang.
Magang berjalan ke arahku dengan langkah goyah, mengendus sepatu ketsku, lalu menggigit talinya.
”Halo, Magang,” bisikku. “Kamu juga ngantri, ya?”
Motor bebek tua masuk ke parkiran. Mas Aris turun, melepas helm, dan melihatku.
Dia tidak langsung menghampiri. Dia menatapku dulu dari jauh, dari atas sampai bawah, dengan wajah orang yang sedang memeriksa apakah lampu yang kemarin kedip sekarang sudah stabil.
Aku memakai lipstik lagi pagi ini. Tapi bukan Senjata Nomor Satu. Warna lain, warna yang kubeli kemarin sore di Senayan dan belum pernah kupakai. Nude, sedikit merah muda, mendekati warna bibirku sendiri.
Bukan senjata. Cuma supaya tidak terlihat pucat. Supaya dia tidak khawatir lagi.
”Pagi, Mbak,” katanya sambil mendekat. “Sudah nggak pucat.”
”Udah nggak.”
”Alhamdulillah.” Dia tersenyum. Lalu matanya turun ke kantong kertas di tanganku.
Aku menyerahkannya. “Ini. Jaket sama sandal Mas. Maaf lama banget.”
Dia menerima kantong itu. Dia membukanya. Dia mengeluarkan jaket inventaris, dan dia berhenti.
Dia menatap jaket itu. Lipatan lengannya. Kerahnya yang disetrika rata.
”Mbak setrika?”
”Iya.”
”Sendiri?”
”Iya.” Aku menggaruk tengkuk. “Nggak rapi, ya. Lipatannya mencong.”
Dia menatap lipatan lengan yang mencong itu lama. Lalu dia melipat jaket itu dengan hati-hati, mengikuti lipatan mencong yang kubuat, tidak membetulkannya, dan memasukkannya kembali ke kantong.
”Rapi, Mbak,” katanya. “Makasih.”
Lalu dia mengeluarkan sandal jepit. Dia mencium baunya, seperti orang mencium bunga.
”Jeruk nipis,” katanya, terkejut.
”Sabun cuci piring.”
Dia tertawa. Lewat hidung. Matanya hilang jadi garis.
Aku menatapnya tertawa di parkiran basement jam tujuh kurang lima pagi, dan aku hampir mengatakannya. Kalimat itu ada di ujung lidahku. Mas, aku…
”Ris! Pagi!” Pak Darmo keluar dari pos dengan kerah terlipat. “Wah, Mbak Sabrina pagi-pagi udah di sini. Nungguin Aris?”
Aku menelan kalimat itu kembali.
”Balikin jaket, Pak,” kataku.
”Oh, jaket.” Pak Darmo mengangguk dengan wajah sangat serius yang sama sekali tidak meyakinkan. “Iya. Jaket. Penting itu. Jaket.”
Rencana kedua jauh lebih berani.
Aku sudah memikirkannya sejak menutup telepon dengan Ibu di lorong lantai delapan. Dikasih rendang nggak mau, maunya sayur bening. Katanya rendang buat tamu.
Aku tidak bisa masak. Aku sudah bilang ke Ibu. Aku jujur soal itu.
Jadi aku melakukan hal paling jujur yang bisa kulakukan. Aku pergi ke rumah makan Padang paling terkenal di Jakarta, yang antreannya mengular sampai trotoar setiap jam makan siang, dan aku mengantre empat puluh lima menit di bawah matahari jam sebelas.
Aku membeli satu porsi rendang. Bukan rendang biasa, rendang yang paling mahal, yang dimasak delapan jam sampai bumbunya hitam pekat dan dagingnya hancur kalau disentuh sendok.
Lalu aku membawanya ke kantor dalam kotak makan kaca, bukan kotak styrofoam. Aku membeli kotak kaca itu khusus, karena styrofoam terlihat seperti makanan tamu, dan aku ingin ini terlihat seperti makanan rumah.
Jam dua belas lewat sepuluh, aku menemukannya di gudang GA. Dia sedang memilah kardus properti syuting yang mau dikembalikan.
”Mas.”
”Iya, Mbak?”
Aku meletakkan kotak kaca itu di meja gudang. Aku membuka tutupnya. Wangi rendang memenuhi ruangan kecil itu, wangi santan dan cabai dan lengkuas dan delapan jam kesabaran.
”Ini buat Mas,” kataku.
Dia menatap rendang itu. Lalu menatapku.
”Mbak masak?”
”Nggak. Aku beli. Aku nggak bisa masak. Aku udah bilang ke Ibu Mas.” Aku menarik napas. Ini bagian yang sulit. Bagian yang tidak pakai senjata. “Ibu Mas bilang, Mas nggak pernah mau makan rendang. Katanya rendang buat tamu.”
Wajahnya berubah sedikit. Seperti orang yang mendengar namanya dipanggil di tempat yang tidak dia sangka.
”Ibu cerita itu, Mbak?”
”Cerita.” Aku menatap matanya. Mata cokelat tua dengan cincin kayu. Aku tidak memalingkan wajah. Aku tidak menghitung detik. “Mas, kamu bukan tamu. Kamu juga boleh makan rendang.”
Hening.
Gudang GA sunyi. Hanya bunyi AC tua yang berdengung dan suara samar Komisaris mengeong di kejauhan.
Dia menatap rendang di kotak kaca. Lama. Sangat lama. Lebih lama dari lima detik.
Lalu dia duduk di kursi gudang, kursi rusak yang dia selamatkan dari tumpukan kardus Natal, dan dia mengambil sendok yang kuletakkan di sebelah kotak.
Dia menyendok sepotong kecil. Dia memakannya.
Dia diam.
Lalu dia menunduk, dan dia tidak mengangkat kepala untuk beberapa detik. Bahunya tidak bergetar. Dia tidak menangis. Tapi dia menunduk seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang besar di dadanya supaya tidak tumpah.
”Enak, Mbak,” katanya akhirnya. Suaranya sedikit serak. “Enak banget.”
”Habisin,” kataku.
”Iya, Mbak.”
Aku duduk di tumpukan kardus di seberangnya. Aku memperhatikan dia makan. Pelan, hati-hati, menikmati setiap suapan, seolah rendang itu barang pecah belah.
Aku tidak menggoda. Aku tidak memainkan rambut. Aku tidak memiringkan kepala ke sudut terbaik.
Aku cuma duduk di sana dan melihatnya makan rendang untuk pertama kalinya sebagai bukan tamu.
Dan rasanya lebih baik daripada semua kemenangan yang pernah kudapat seumur hidup.
Rasa itu bertahan sampai jam dua belas tiga puluh.
Jam dua belas tiga puluh, Pak Darmo masuk ke gudang mencari lakban.
Dia mencium wangi rendang dan berhenti di ambang pintu. Hidungnya bergerak-gerak seperti Komisaris yang mencium bau ikan.
”Ris,” katanya. “Itu rendang?”
”Iya, Pak. Dari Mbak Sabrina.”
Pak Darmo menatap rendang. Lalu menatap Mas Aris. Lalu menatapku. Wajahnya berubah jadi wajah ayah yang bangga.
”Wah,” katanya. “Wah, wah.”
Mas Aris menatap rendang yang masih tersisa setengah. Lalu dia menatap Pak Darmo, yang sedang menelan ludah dengan sangat tidak halus.
Aku melihat apa yang akan terjadi sebelum itu terjadi. Aku melihatnya seperti melihat gelas yang terlepas dari tangan, jatuh dalam gerakan lambat.
”Bapak mau, Pak?” tanya Mas Aris.
”Nggak, nggak, itu kan buat kamu…”
”Sedikit, Pak. Bapak belum makan siang, kan? Tadi jaga pagi.”
Dia menyendok sepotong rendang ke tutup kotak kaca dan memberikannya ke Pak Darmo.
Pak Darmo menerimanya dengan mata berbinar.
Lima menit kemudian, Mas Ujang lewat. Lalu Ayu, yang mencariku untuk tanda tangan dokumen. Lalu Mbak Gita dari lantai sembilan, yang datang untuk “mengecek apakah makan siang bareng hari ini jadi”. Lalu salah satu OB.
Satu per satu, mereka masuk ke gudang GA. Satu per satu, Mas Aris menawarkan rendang.
Mau, Mas? Sedikit. Enak, ini dari Mbak Sabrina.
Aku berdiri di pojok gudang dan menyaksikan rendang delapan jam, yang kuantre empat puluh lima menit di bawah matahari, yang kubawa dalam kotak kaca supaya terlihat seperti makanan rumah, dibagi rata ke tujuh orang dalam potongan-potongan kecil.
Adil. Seperti antrean.
Rendang terakhir, sepotong kecil di dasar kotak, dia berikan ke Mbak Gita, karena Mbak Gita bilang belum pernah makan rendang yang seenak itu.
Lalu dia menoleh padaku dengan wajah bahagia. Wajah orang yang baru saja berhasil membuat tujuh orang lega sekaligus.
”Semua bilang enak, Mbak,” katanya. “Makasih, Mbak. Ini rendang paling enak yang pernah saya makan.”
Aku tersenyum.
Bukan senyum miring. Bukan senyum iklan. Senyum yang aku sendiri tidak tahu namanya. Senyum yang retak sedikit di ujung.
”Sama-sama, Mas.”
”Lo ngasih dia rendang,” kata Nadia sore itu, di pantry. “Rendang yang lo antre empat puluh lima menit. Dan dia bagi ke tujuh orang.”
”Delapan. Sama Komisaris. Dia kasih bumbunya dikit ke Komisaris.”
Nadia memejamkan mata. Dia memijat pelipisnya dengan dua jari, persis seperti Reza waktu tim tender buntu.
”Sab.”
”Hm.”
”Gue mau ngomong satu hal. Dan kali ini gue nggak bercanda.”
Aku menatap gelas teh di tanganku.
”Lo jatuh cinta,” kata Nadia.
Dulu, kalimat itu akan kubantah. Kalau Nadia mengatakannya sebulan lalu, aku akan tertawa dan bilang penasaran itu beda. Kalau dia mengatakannya tiga bulan lalu, aku akan bilang aku nggak pakai perasaan, aku pakai aturan.
Hari ini aku cuma menatap gelas teh.
”Iya,” kataku.
Nadia membuka mata.
Dia menatapku seperti melihat hantu. Dia tidak menyangka aku akan mengakuinya. Sepuluh tahun bersahabat, dan aku tidak pernah sekali pun mengakui perasaan apa pun tentang laki-laki mana pun.
”Iya?” ulangnya pelan.
”Iya, Nad. Aku jatuh cinta.” Kalimat itu keluar dari mulutku seperti batu yang akhirnya jatuh ke sumur. Kali ini, ada bunyinya. Plung. “Aku jatuh cinta sama orang GA yang bagi rendangku ke tujuh orang.”
Nadia diam lama. Lalu dia meletakkan cangkirnya, menarik kursi, dan duduk di sebelahku.
”Terus?”
”Terus apa?”
”Lo mau ngapain? Lo udah tahu perasaan lo. Sekarang lo mau ngapain?”
Aku tertawa. Tawanya kecil dan basah. “Aku nggak tahu, Nad. Aku beneran nggak tahu. Selama ini aku cuma tahu satu cara, dan cara itu nggak mempan. Tanpa senjata, aku nggak tahu harus ngapain.”
”Ngomong,” kata Nadia. “Bilang ke dia.”
”Kalau aku bilang,” kataku, “dia bakal buka buku cokelatnya, nulis namaku, terus bilang antri, ya, Mbak.”
Nadia membuka mulut untuk membantah.
Lalu dia menutupnya. Karena kami berdua tahu, itu sangat mungkin terjadi.
Kami tertawa. Bersama, di pantry, sampai Mbak Tari melongok dari pintu dengan biskuit kelapa dan wajah bingung. Tawaku berantakan dan sedikit basah di ujung, dan Nadia merangkul bahuku dengan satu tangan dan tidak bilang apa-apa soal itu.
Malam itu, jam sembilan lewat lima belas, HP-ku bergetar.
Aris GA Lumio.
Aku membuka pesan itu dengan jari yang sedikit gemetar. Bukan karena aku berharap apa-apa. Aku sudah berhenti berharap. Aku cuma selalu gemetar sedikit setiap kali namanya muncul di layar, seperti refleks.
Mbak, maaf malam-malam. Besok sepulang kantor, Mbak ada waktu sebentar? Ada yang mau saya tanyakan. Penting.
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Penting.
Dia tidak pernah bilang penting. Lampu kedip, galon habis, kucing hamil, semua itu tidak pernah dia sebut penting. Semua itu cuma masuk antrean.
Penting.
Aku mengetik balasan. Menghapusnya. Mengetik lagi.
Ada, Mas. Di mana?
Rooftop gedung, Mbak. Jam enam. Saya yang bawa kunci.
Rooftop gedung. Satu-satunya tempat di gedung ini yang tidak ada orang. Tempat yang biasanya cuma dipakai teknisi untuk mengecek tangki air dan antena.
Tempat di mana tidak ada antrean.
Aku meletakkan HP di dada dan menatap langit-langit kamar yang gelap.
Aku tidak boleh berharap. Aku tahu itu. Aku sudah belajar. Mungkin dia mau tanya soal Komisaris. Mungkin soal kontrak talent dari Clarissa. Mungkin soal Mama, atau soal pekerjaan, atau soal galon.
Aku tidak boleh berharap.
Aku tidak tidur sampai jam tiga pagi.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan reading
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris