Chapter Twenty Eight
Antrean Tanpa Sabrina
— Aris —
Aku berdiri di lobi satu jam dua belas menit.
Aku tahu angkanya karena Pak Darmo menghitung. Dia keluar dari pos tiga kali. Pertama, dia bilang Ris, masuk, kerja. Kedua, dia bilang Ris, taksinya udah nggak kelihatan. Ketiga, dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma berdiri di sebelahku, menyalakan rokok kretek, dan ikut menatap tikungan.
”Satu jam dua belas menit,” katanya akhirnya. “Pesawatnya udah terbang, kayaknya.”
”Iya, Pak.”
”Kamu mau berdiri sampai dia mendarat?”
Aku tidak menjawab.
Pak Darmo membuang abu rokoknya. “Dia minta kamu biarin dia pergi?”
”Iya, Pak.”
”Terus kamu biarin.”
”Iya, Pak. Dia minta.”
Pak Darmo menatapku lama. Lalu dia menepuk bahuku, pelan, seperti di bawah kanopi malam itu.
”Masuk, Ris,” katanya. “Galon lantai tujuh habis. Itu yang bisa kamu benerin hari ini.”
Aku mengganti galon lantai tujuh.
Aku memanggulnya dari loading dock, naik lift barang, berjalan ke pantry. Aku membuka segelnya, membalik, memasangnya ke dispenser. Glug.
Tidak ada yang bilang galonnya berat ya, Mas, kayak perasaanku.
Aku berdiri di pantry dan menatap dispenser lebih lama dari yang diperlukan.
Lalu aku berjalan kembali ke ruang GA lewat lorong. Lewat meja tujuh belas.
Kursinya kosong. Kursi terbaik di lantai tujuh, yang kuperbaiki di hari pertama, diputar menghadap jendela. Di mejanya cuma ada lampu meja, mouse pad bergambar peta Jakarta, dan gelas oat latte kosong dari kemarin yang belum dibuang OB.
Aku membuang gelas itu. Aku tidak tahu kenapa. Itu bukan tugasku.
Lalu aku membuka buku tolong dan menulis: Meja 17 — cek AC.
Aku menatap tulisan itu.
Tidak ada orang di meja tujuh belas. AC-nya tidak perlu dicek. Tidak ada yang akan kedinginan.
Aku mencoretnya. Tidak dengan garis lurus yang rapi. Dengan coretan yang berantakan, seperti tulisan anak kecil yang salah.
Selasa, aku salah mengantar galon ke lantai delapan, padahal yang habis lantai tujuh. Tim media mengantre di pantry dengan tumbler kosong selama setengah jam.
Rabu, aku lupa toples biskuit Mbak Tari. Dia menungguku di depan ruang HR dengan toples yang masih tertutup rapat dan wajah sedih seperti anak kucing yang ketinggalan rebutan susu.
Rabu siang, Pak Leo memanggilku ke ruangannya. Dia tidak bertanya soal kursi pijat. Dia menatapku dari balik meja dengan wajah serius, wajah yang dia pakai waktu bilang kalau kalah, lantai delapan dijual.
”Aris. Kamu kenapa?”
”Nggak apa-apa, Pak.”
”Kamu salah antar galon. Kamu lupa toples Tari. Tadi pagi kamu ganti lampu di toilet laki-laki padahal yang rusak toilet perempuan. Dua tahun saya kenal kamu, kamu nggak pernah salah sekali pun.” Dia mencondongkan badan. “Kamu sakit?”
”Nggak, Pak.”
Pak Leo menatapku lebih lama. Lalu dia bersandar ke kursi pijatnya. Kursi itu berbunyi krek, bunyi yang mengingatkannya pada kursi goyang almarhum ayahnya.
”Saya juga pernah begitu,” katanya pelan. “Dulu. Waktu umur dua puluh tujuh. Lupa semua, salah semua.” Dia menatap jendela. “Gara-gara seseorang yang pergi ke Bandung tiga bulan.”
”Terus Bapak gimana?”
”Saya nyusul.” Pak Leo tersenyum. “Naik bus malam. Bawa bunga yang layu di jalan. Sekarang dia istri saya. Dua puluh tahun.”
Aku diam.
”Itu bukan perintah, Aris,” katanya. “Itu cuma cerita.”
Malam itu, di kamar kos, aku membuka halaman belakang buku tolong.
Daftar utang. Daftar hal kecil. Dan satu baris yang kutulis Senin minggu lalu, setelah dia datang ke ruang GA dan bertanya orangnya bukan Ayu, kan.
Hari ini dia tanya. Saya bilang antri. Mukanya kayak waktu di lobi. Kenapa saya selalu salah ngomong?
Aku membaca baris itu berkali-kali.
Di bawahnya, aku menambahkan satu baris lagi.
Dia pergi. Saya biarin. Karena dia minta.
Lalu aku menatap dua baris itu, dan aku tidak tahu harus mencentang yang mana. Tidak ada yang selesai. Tidak ada yang beres. Untuk pertama kalinya dalam sebelas buku, ada halaman yang tidak bisa kuurus.
Kamis pagi, aku bertanya ke Pak Darmo.
Bukan di pos. Di parkiran basement, waktu dia sedang mengelap jok motornya dan Komisaris mengawasi dari atas tumpukan kardus.
”Pak,” kataku. “Dia minta saya biarin dia pergi. Saya biarin. Itu salah?”
Pak Darmo berhenti mengelap.
”Ris,” katanya. “Kamu tahu kenapa motor saya nggak pernah mogok di jalan, dua puluh tahun?”
Aku menunggu. Aku sudah tahu nasihatnya akan soal motor. Nasihat Pak Darmo selalu soal motor.
”Karena saya nggak nunggu dia mogok,” katanya. “Kalau ada bunyi aneh, sedikit aja, saya buka tutupnya. Hari itu juga. Saya nggak nunggu besok. Saya nggak nunggu dia minta.”
Dia melempar lap ke jok.
”Kamu dengar bunyi aneh dari dia berapa kali, Ris? Di lobi, waktu Kevin pakai jaket. Di Puncak, waktu dia ditelepon mamanya. Di rooftop, waktu kamu bilang ada yang kamu suka. Di ruang GA, waktu kamu bilang antri.” Pak Darmo menghitung dengan jari. “Itu empat. Empat kali bunyi aneh. Kamu buka tutupnya?”
Aku diam.
”Kamu nunggu dia mogok, Ris. Sekarang dia mogok. Di Surabaya.”
”Tapi dia minta, Pak.”
”Pak Leo juga minta kursi pijatnya jangan dibenerin,” kata Pak Darmo. “Kamu nurut. Itu benar. Soalnya bunyi krek itu memang dia butuh. Tapi Mbak Sabrina?” Dia menggeleng. “Kadang orang minta yang bukan dia butuhin, Ris. Kamu yang tukang benerin barang. Kamu yang harusnya tahu bedanya.”
Kamis siang, Bu Darsih menyendokkan sayur bening dan tempe ke piringku tanpa bertanya, seperti biasa. Lalu dia menambahkan satu potong telur balado di pinggir piring.
”Bu, saya nggak pesan…”
”Gratis.”
”Ibu lagi senang?”
”Nggak.” Bu Darsih menyandarkan siku di etalase kaca. “Ibu lagi kasihan.”
Dia menatapku lama.
”Ris,” katanya. “Kamu tahu nggak, tiap hari, dua bulan terakhir, Neng Geulis tanya ke Ibu. Tiap hari. Kamu makan apa hari ini. Kamu makan habis atau nggak. Kamu makan sama siapa.”
Aku menatap telur balado di piringku.
”Orang yang cuma main-main,” kata Bu Darsih, “nggak nanya orang lain makan apa. Ibu udah jualan dua puluh tahun, Ris. Ibu tahu bedanya.”
Kamis malam, Mas Kevin mengirim pesan.
Mas Aris, bisa ke kafe jam 9? Ada yang mau ketemu. Penting.
Aku datang jam sembilan kurang lima.
Kafe sudah tutup untuk umum. Lampu kuning dinyalakan separuh. Di meja panjang dekat jendela, empat laki-laki duduk dan menatapku begitu aku masuk.
Mas Kevin dengan celemek cokelat. Seorang laki-laki berotot dengan kaos gym yang matanya sudah merah sebelum ada yang bicara. Seorang laki-laki berkacamata dengan kemeja rapi yang duduk tegak seperti dokter. Dan seorang laki-laki kurus dengan wajah ramah yang memegang HP dan, aku bersumpah, sedang membuka aplikasi stiker.
”Mas Aris,” kata Mas Kevin. “Duduk, Mas. Ini teman-teman saya. Rendi, Yosua, Galih.”
Aku duduk.
Mereka menatapku. Aku menatap mereka.
Lalu Galih meletakkan sesuatu di atas meja. Kartu kecil, kertas tebal, bergambar kaktus dalam pot terakota dengan bunga merah muda di puncaknya.
Rendi meletakkan kartu yang sama. Lalu Yosua. Lalu Mas Kevin.
Empat kartu kaktus. Berjajar di atas meja kayu, di bawah lampu kuning.
”Kami korban senyum Sabrina, Mas,” kata Galih pelan.
Aku menatap kartu-kartu itu.
Makasih udah jadi tiga bulan yang menyenangkan. Tulisan tangan yang sama di keempatnya. Tulisan tangan yang miring ke kanan, yang pernah kulihat di catatan rundown syuting, di sobekan kertas ucapan terima kasih yang dia tempel di proyektor.
”Kami semua dapat ini,” kata Yosua. “Hari ke-90. Selalu hari ke-90. Tidak pernah lebih.”
”Mas Aris udah berapa hari?” tanya Rendi. Suaranya sudah bergetar.
Aku menghitung. Aku tidak perlu kalender. “Seratus tiga puluh satu, Mas.”
Rendi menutup mulutnya dengan tangan.
”Mas Aris nggak dapat kartu kaktus,” kata Mas Kevin pelan. “Mas Aris dapat dia nangis di taksi.”
Aku berhenti bernapas.
”Ayu dengar dari Nadia,” jelas Mas Kevin. “Senin pagi. Di tol bandara. Dia nangis kayak anak kecil, kata Nadia. Gara-gara telur balado.”
Telur balado. Yang sambalnya terlalu banyak di satu sisi. Yang kubuat jam lima pagi di kompor satu tungku.
”Sabrina nggak pernah nangis,” kata Galih. “Dua tahun saya kenal dia. Nggak pernah sekali pun.”
”Aturan ketiga,” kataku pelan.
Keempat laki-laki itu menatapku.
”Mas tahu aturannya?” tanya Yosua.
”Dia cerita, Mas. Di lift.”
Hening.
Lalu Yosua melipat tangannya di atas meja, dengan gaya dokter yang mau menjelaskan diagnosis.
”Mas Aris,” katanya. “Saya mau sampaikan hipotesis. Sabrina tidak pergi ke Surabaya karena pekerjaan. Sabrina juga tidak pergi karena Mas memilih orang lain.”
Dia berhenti.
”Sabrina pergi karena dia yakin Mas memilih orang lain.”
Aku menatapnya.
”Dia kira targetnya Ayu,” kata Mas Kevin. “Dari awal. Petunjuk Mas, orang Lumio, sering ke ruang GA, ketawa berantakan. Dia kira itu Ayu. Terus waktu Ayu jadian sama saya, dia kira orang lain lagi. Clarissa. Mbak Gita. Siapa saja.”
”Siapa saja,” ulang Galih, “kecuali dirinya sendiri.”
Aku diam lama.
Lalu sesuatu di dadaku, yang sejak Senin pagi berdiri diam di lobi menatap tikungan, akhirnya bergerak.
”Mbak Sabrina kira itu Mbak Ayu?”
”Semua kira, Mas,” kata Rendi. “Kecuali Yosua.”
”Dan Pak Darmo,” tambah Galih.
”Dan Bu Darsih,” kata Mas Kevin.
Aku menatap empat kartu kaktus di atas meja.
”Saya nggak milih orang lain,” kataku.
Suaraku keluar lebih keras dari yang kurencanakan. Kafe yang sunyi memantulkannya.
”Saya nggak pernah milih orang lain. Saya milih dia.”
Itu pertama kalinya aku mengatakannya keras-keras. Ke siapa pun. Bukan ke Ibu. Bukan ke Pak Darmo, yang cuma kuberi tahu lewat diam. Ke empat laki-laki asing yang semuanya pernah dia tinggalkan dengan kartu kaktus.
Hening sebentar.
Lalu Rendi menangis. Keras. Dia menutup wajah dengan kaos gymnya dan bahunya berguncang.
Galih mengangkat HP-nya, menatap layar, lalu menyadari stiker tidak bisa dikirim ke orang yang duduk di depannya. Dia meletakkan HP, dan dia menepuk bahu Rendi dengan wajah yang juga mulai berair.
Mas Kevin tersenyum. Lebar. Seperti waktu Ayu berteriak di tengah kafe.
Yosua melepas kacamatanya dan mengelapnya dengan ujung kemeja. Lalu memakainya lagi.
”Hipotesis terkonfirmasi,” katanya. Suaranya sedikit serak.
Jam sebelas malam, di kamar kos, Ibu menelepon.
Bukan jam lima lewat tiga. Jam sebelas malam. Ibu tidak pernah menelepon jam segini.
”Ris.”
”Iya, Bu. Assalamualaikum. Ibu kok belum tidur?”
”Waalaikumsalam. Ratih bilang kamu nggak bales WA-nya dari Senin. Ibu khawatir.” Jeda. “Kamu kenapa, Ris?”
Aku duduk di pinggir kasur busa. Di depanku, buku tolong terbuka di halaman belakang. Daftar utang. Daftar hal kecil. Dua baris yang tidak bisa dicentang.
Aku menceritakan semuanya ke Ibu.
Lift. Kurikulum. Ada yang saya suka. Rooftop. Bogor. Pelajaran sembilan. Lobi. Taksi. Biarin aku pergi duluan. Kartu kaktus di atas meja kafe.
Ibu mendengarkan semuanya tanpa memotong. Pelajaran enam. Ibu yang mengajarkannya padaku, jauh sebelum Mbak Sabrina.
Waktu aku selesai, Ibu diam lama. Aku mendengar angin di pohon bambu belakang rumah, lewat telepon.
”Ris,” kata Ibu akhirnya. “Dulu Ibu bilang apa? Gimana caranya tahu kamu suka orang?”
”Kalau ada orang yang pengin saya tolong duluan sebelum yang lain.”
”Terus? Ada?”
Aku menatap halaman belakang buku tolong. Di atasnya, nama yang kutulis empat bulan lalu dengan pulpen hitam, setelah malam di IGD. Nama yang tidak pernah kucoret.
”Ada, Bu.”
”Kamu sudah naruh dia paling depan, Ris,” kata Ibu pelan. “Dari lama. Kamu aja yang belum sadar.”
”Tapi dia minta saya biarin dia pergi duluan, Bu.”
Ibu diam sebentar. Lalu dia tertawa. Tawa pelan, lewat hidung. Aku tahu dari mana aku belajar tertawa seperti itu.
”Ris, Ris,” katanya. “Ya sudah. Biarin dia pergi duluan.”
”Bu…”
”Biarin dia pergi duluan,” ulang Ibu. “Terus kamu nyusul.”
Aku berhenti bernapas.
”Dia tetap duluan, kan?” kata Ibu. “Kamu nurut. Dia yang pergi duluan. Tapi kamu nggak harus diam di lobi. Itu dua hal yang beda, Ris.”
Aku menatap buku tolong di pangkuanku.
”Bapakmu dulu juga begitu,” kata Ibu. “Ibu marah, Ibu pulang ke rumah Nenek di Cirebon. Ibu bilang jangan nyusul. Bapakmu nurut. Dia nggak nyusul hari itu.” Jeda. “Dia nyusul besoknya. Naik sepeda. Dari Kuningan ke Cirebon. Lima jam. Bawa cabai sekeresek.”
Aku tertawa. Lewat hidung. Air mataku keluar sedikit, entah karena tawa, entah karena hal lain.
”Cabai, Bu?”
”Cabai. Bapakmu nggak punya bunga. Dia punya cabai.” Ibu tertawa juga. “Ibu terima. Ibu masih di sini, kan?”
Setelah telepon ditutup, aku membuka buku tolong di halaman paling depan. Halaman antrean besok.
Halaman itu masih kosong. Tanggal di pojok kanan atas.
Aku memegang pulpen di atasnya lama.
Sebelas buku. Ratusan nama. Semuanya ditulis berurutan, adil, sesuai siapa yang minta duluan. Antri, ya. Itu aturanku. Itu yang membuatku bisa tidur nyenyak setiap malam selama sembilan tahun. Tidak ada yang diserobot. Tidak ada yang dilupakan.
Aku menulis di baris pertama:
1. Mbak Sabrina.
Lalu aku menatap baris itu.
Tidak ada masalah yang ditulis di sebelahnya. Tidak ada AC, tidak ada kursi, tidak ada lampu. Cuma nama.
Dan di baris kedua, ketiga, keempat, aku tidak menulis apa-apa.
Untuk pertama kalinya dalam sebelas buku, aku menaruh seseorang di nomor satu bukan karena dia minta duluan. Bukan karena darurat. Bukan pakai tanda bintang.
Karena dia orangnya.
Pelajaran empat.
Aku menutup buku tolong. Aku mengambil HP. Aku membuka kontak yang tidak pernah kuhubungi sendiri, kontak yang disimpan oleh Pak Leo di grup tim produksi syuting, dengan nama Pak Hendarto (Rasa Nusa).
Jam sebelas empat puluh malam.
Aku mengetik pelan, satu kata demi satu kata.
Selamat malam, Pak Hendarto. Mohon maaf mengganggu malam-malam. Saya Aris, GA Lumio. Saya mau tanya, peluncuran di pabrik Rungkut jam berapa, Pak?
Aku menekan kirim.
Lalu aku mematikan lampu, dan aku tidak tidur sama sekali.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina reading
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris