Chapter Twenty One
Kurikulum Sepuluh Pelajaran
— Sabrina —
KURIKULUM PEDEKATE
Pengajar: Sabrina Maharani
Murid: Aris Nugraha
Tujuan: Murid berhasil mendekati target (nama dirahasiakan) secara efektif, sopan, dan tanpa menyebut galon.
PELAJARAN 1: TATAPAN LIMA DETIK
Teori: Dua detik itu sopan. Tiga detik itu penasaran. Lima detik itu pernyataan.
Lokasi: Ruang meeting kecil, lantai tujuh. Senin, jam enam sore, setelah semua orang pulang.
Aku menjelaskan teorinya di papan tulis. Aku menggambar garis waktu dengan spidol merah: angka satu sampai lima, dengan keterangan di bawah tiap angka. Mas Aris duduk di kursi paling depan, buku cokelat terbuka, menyalin semuanya dengan tulisan rapi.
”Sekarang praktik,” kataku.
”Ke siapa, Mbak?”
”Ke aku.”
Dia berhenti menulis. “Ke Mbak?”
”Aku gurunya. Aku harus tahu kamu bisa atau nggak.”
Dia mengangguk. Logis. Dia selalu menerima hal yang logis.
Aku duduk di kursi di depannya. Jarak kami satu meter. Lalu aku menariknya jadi setengah meter, karena itu jarak yang realistis. Lalu dia bilang Mbak, kalau di warteg biasanya lebih dekat, dan aku menariknya jadi satu jengkal.
Satu jengkal. Lututku hampir menyentuh lututnya.
”Mulai,” kataku. “Tatap aku. Jangan kedip. Hitung dalam hati.”
Dia menatapku.
Satu.
Mata cokelat tua. Cincin kayu di sekitar pupil.
Dua.
Dia tidak berkedip. Dia tidak salah tingkah. Dia menatapku dengan wajah serius seorang murid yang sedang ujian.
Tiga.
Sesuatu di matanya berubah. Aku tidak tahu apa. Seperti lampu yang diredupkan pelan-pelan.
Empat.
Aku berkedip.
Aku. Bukan dia.
”Mbak kedip,” katanya.
”Mataku perih. AC.”
”AC-nya dua puluh enam, Mbak.”
”Ulang,” kataku. “Dari awal.”
Kami mengulangnya tiga kali. Tiga kali aku yang kalah duluan. Di percobaan keempat, aku menyerah dan bilang dia lulus, karena kalau kami mencobanya lima kali lagi, aku tidak yakin jantungku akan selamat.
Hasil: Murid lulus. Pengajar tidak.
Bayaran: Sate kambing di Jalan Sabang. Dia bilang sate kambing itu makanan tamu, karena di kampungnya cuma dipotong waktu Idul Adha. Dia makan sepuluh tusuk. Dia tidak membaginya ke siapa pun. Aku menghitung.
Catatan pengajar, ditulis jam 23.40:
Dia lulus pelajaran satu dalam satu sesi. Butuh tiga bulan bagiku untuk sadar tatapan lima detik tidak pernah mempan padanya. Butuh tiga menit baginya untuk sadar tatapan lima detik sangat mempan padaku.
Aku tidak mau memikirkan itu.
PELAJARAN 2: INGAT HAL KECIL
Teori: Perempuan jatuh bukan karena hadiah mahal. Perempuan jatuh karena ada yang ingat dia minum kopi pakai gula berapa.
Lokasi: Pantry lantai tujuh, Rabu sore.
”Coba,” kataku. “Sebutkan lima hal kecil soal… soal target kamu. Hal yang orang lain mungkin nggak perhatiin.”
Dia berpikir. Lalu dia menggeleng.
”Saya nggak bisa sebut, Mbak. Nanti Mbak tahu siapa.”
”Ya udah. Latihan pakai orang lain dulu. Pakai aku.”
Dia menatapku. “Hal kecil soal Mbak?”
”Iya.”
Aku menunggu dia bingung. Aku menunggu dia bilang Mbak suka AC dingin, atau Mbak sering minta tolong benerin kursi. Hal-hal dari buku cokelat. Hal-hal yang semua orang tahu.
Dia tidak bingung. Dia menjawab dalam dua detik.
”Oat latte, gula setengah. Kalau lagi mikir, ngetuk dagu pakai pulpen. Kalau ketawa beneran, lewat hidung. Kalau ketawa bohongan, rapi. Sepatunya sekarang kets, dulu hak tinggi tujuh senti. Parfumnya bau kue bolu Lebaran.” Dia berhenti. “Itu lima, Mbak. Mau lagi?”
Aku tidak bisa bicara.
Dia menatapku, menunggu penilaian.
”Itu…” Suaraku keluar aneh. “Itu bagus, Mas. Detail.”
”Saya kerja di GA, Mbak,” katanya polos. “Kerjaannya merhatiin barang yang berubah.”
Barang yang berubah. Aku barang. Tentu saja.
Hasil: Murid lulus dengan nilai sempurna. Pengajar harus keluar dari pantry selama sepuluh menit dengan alasan ke toilet.
Bayaran: Es krim Ragusa di Veteran. Dia bilang es krim itu buat anak tetangga kalau ada yang sunatan. Dia makan dua scoop rasa spaghetti. Ada es krim di ujung bibirnya, dan aku tidak memberitahunya selama lima menit penuh, karena itu adalah hal paling lucu dan paling menyakitkan yang pernah kulihat.
Catatan pengajar:
Bau kue bolu Lebaran.
Dia tahu parfumku vanila. Dia menyebutnya bau kue bolu Lebaran, yang di kampungnya artinya bau paling enak sedunia, bau yang cuma muncul setahun sekali.
Dia cuma latihan. Dia cuma latihan pakai aku karena aku satu-satunya yang ada di pantry.
Aku tidak boleh menyimpan kalimat ini di dompet.
Aku menyimpannya di dompet. Kutulis di sobekan kertas post-it, warna kuning.
Interupsi, Kamis pagi.
”Lo,” kata Nadia, “ngajarin dia ingat hal kecil, terus dia nyebutin lima hal kecil soal lo, sempurna, dalam dua detik.”
”Itu latihan.”
”Sab.”
”Itu latihan, Nadia. Dia pakai aku karena aku gurunya. Kalau gurunya kamu, dia bakal nyebutin lima hal kecil soal kamu.”
Nadia menatapku dengan wajah yang sama seperti waktu dia melihat foto story Mbak Tari.
”Oke,” katanya. “Tes. Panggil dia. Suruh dia sebutin lima hal kecil soal gue.”
Aku tidak memanggilnya.
PELAJARAN 3: PUJIAN YANG SPESIFIK
Teori: “Kamu cantik” itu murah. Semua orang bisa bilang. Pujian yang bagus itu yang cuma bisa diucapkan orang yang benar-benar memperhatikan.
Lokasi: Warteg Bu Darsih, Senin jam tiga sore. Jam yang dunia lupa. Sepi.
Aku sengaja tidak bilang latihan pakai siapa. Aku cuma menjelaskan teorinya dan menyuruhnya membuat tiga contoh pujian. Untuk siapa saja. Pak Darmo, Bu Darsih, Komisaris.
Dia menulis di buku cokelat selama dua menit. Lalu dia membaca keras-keras.
”Pak Darmo: kumis Bapak kalau kena kuah soto, kelihatan kayak orang bijak di film silat.”
Bu Darsih, yang sedang mengelap etalase, tertawa sampai lapnya jatuh.
”Bu Darsih: tempe orek Ibu lebih enak dari tempe orek ibu saya. Tapi jangan bilang ibu saya.”
Bu Darsih memukul bahunya dengan lap. “Gombal kamu, Ris!”
”Itu jujur, Bu.”
Bu Darsih menatapnya lama, lalu menambahkan satu potong tempe gratis ke piringnya tanpa bilang apa-apa.
”Komisaris,” lanjut Mas Aris, “kamu ibu yang hebat. Empat anak, satu nggak pernah ketinggalan susu lagi.”
Aku tertawa. Lewat hidung. Pujian untuk kucing itu terlalu tulus untuk dibuat-buat.
”Bagus,” kataku. “Tiga-tiganya lulus.”
”Mbak belum,” katanya.
”Apa?”
”Kata Mbak, latihan pakai siapa saja. Saya sudah tulis empat.” Dia membalik halaman. “Satu lagi buat Mbak.”
Aku berhenti tertawa.
Dia membaca dari buku cokelat. Pelan. Hati-hati. Seperti membaca daftar belanja yang sangat penting.
”Mbak Sabrina: waktu presentasi di depan Pak Hendarto, waktu listriknya mati, Mbak nggak lari. Mbak jalan ke tengah ruangan yang paling terang. Saya dengar dari HT Pak Darmo. Saya kira Mbak bakal takut, karena di lift waktu itu Mbak takut gelap. Tapi Mbak jalan ke tengah. Itu berani, Mbak.”
Warteg sunyi.
Bu Darsih berhenti mengelap etalase. Pak Darmo, yang dari tadi pura-pura membaca koran di meja pojok, menurunkan korannya sedikit.
Aku menatap piring nasiku. Telur balado di atasnya kabur.
Mbak takut gelap. Dia ingat. Malam di lift, waktu lampu darurat mati sepuluh detik, waktu aku menggenggam lututku sendiri dan dia memberiku buku cokelat untuk dipegang. Dia ingat, dan dia tidak pernah menyinggungnya.
Sampai sekarang. Sebagai pujian.
”Itu…” Aku harus berdeham dua kali. “Itu bukan pujian yang biasa, Mas.”
”Salah, Mbak?”
”Nggak.” Aku mengangkat wajah. Aku tersenyum. Senyum yang retak. “Nggak salah. Itu pujian terbaik yang pernah aku dengar.”
Dia tersenyum lega dan mencentang sesuatu di buku cokelatnya.
Hasil: Murid lulus. Pengajar harus pura-pura sambalnya kepedasan.
Bayaran: Martabak telor spesial, tiga telur bebek. Katanya martabak telor itu buat tamu yang datang malam-malam. Dia makan setengah, lalu menatapku, lalu menyodorkan setengah sisanya ke arahku. Bukan ke Pak Darmo. Ke aku.
”Mbak juga belum makan, kan?”
Aku makan setengah martabak itu dan tidak merasakan apa-apa, karena seluruh tubuhku sedang sibuk menahan sesuatu.
PELAJARAN 4: JANGAN BIKIN DIA MERASA JADI SALAH SATU
Teori: Ini pelajaran yang paling penting. Aku menulisnya di papan tulis dengan huruf besar dan menggarisbawahinya dua kali.
Lokasi: Ruang meeting kecil. Kamis malam. Hujan.
”Mas,” kataku. “Ini yang paling susah buat kamu.”
”Kenapa, Mbak?”
”Karena kamu baik ke semua orang.”
Dia menatapku bingung. “Itu salah, Mbak?”
”Nggak salah. Itu bagus. Itu yang bikin semua orang di gedung ini sayang sama kamu.” Aku menarik napas. Aku harus mengatakannya dengan hati-hati, seperti mengangkat galon penuh. “Tapi buat orang yang suka sama kamu, itu… susah.”
”Susah gimana?”
”Bayangin,” kataku. “Kamu suka sama orang. Kamu kasih dia sesuatu yang penting. Rendang, misalnya. Terus dia bagi rendang itu ke tujuh orang. Adil. Rata. Semuanya kebagian.” Aku berhenti. Suaraku tidak bergetar. Sepuluh tahun latihan. “Kamu senang dia baik. Tapi kamu juga bertanya-tanya: aku ini apa buat dia? Aku cuma salah satu dari tujuh?”
Mas Aris diam.
Dia menatapku lama. Lebih lama dari lima detik. Lalu dia menunduk ke buku cokelatnya, dan dia tidak menulis apa-apa.
”Mbak,” katanya pelan. “Rendang waktu itu…”
”Itu contoh,” potongku cepat. “Cuma contoh, Mas.”
Dia mengangkat wajah. Dia menatapku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Seperti orang yang baru saja menemukan baut yang hilang di dalam mesin yang dia kira sudah dia kenal semua bagiannya.
”Maaf, Mbak,” katanya.
”Buat apa?”
”Rendangnya.”
”Itu contoh.”
”Iya, Mbak.” Dia tidak terdengar percaya. “Tapi tetap maaf.”
Aku berdiri dan menghapus papan tulis, supaya aku punya alasan untuk membelakanginya.
”Intinya,” kataku ke papan tulis, “kalau kamu suka sama seseorang, sesekali kamu harus taruh dia di atas. Di atas antrean. Bukan karena darurat. Bukan pakai tanda bintang. Tapi karena dia orangnya.”
Di belakangku, aku mendengar dia menulis. Pelan. Lama.
Waktu aku berbalik, dia sedang menatap halaman itu. Aku tidak bisa membaca apa yang dia tulis. Tapi aku melihat dia menggarisbawahinya. Dua kali.
Hasil: Belum bisa dinilai. Murid bilang dia perlu waktu.
Bayaran: Dia lupa. Pertama kalinya dia lupa. Kami pulang tanpa makan apa-apa.
PELAJARAN 5: SENTUHAN KECIL YANG PUNYA ALASAN
Teori: Merapikan kerah. Menyelipkan rambut ke belakang telinga. Menghapus remah di sudut bibir. Sentuhan yang bisa disangkal, tapi tidak bisa dilupakan.
Lokasi: Rooftop. Jumat sore. Angin kencang.
Aku sengaja memilih rooftop karena angin. Angin membuat rambut berantakan. Rambut berantakan memberi alasan.
Aku menjelaskan teorinya di kursi plastik merah, dengan rambut yang sudah berantakan ditiup angin. Aku tidak mengikatnya hari ini. Aku sengaja.
”Praktik, Mbak?” tanyanya.
”Praktik.”
Dia berdiri dari kursi biru. Dia melangkah ke depanku. Dia menatap rambutku yang menutupi separuh wajah.
Lalu dia mengulurkan tangan.
Pelan. Sangat pelan, seperti orang yang memegang anak kucing yang baru lahir. Jari-jarinya, yang kapalan bekas obeng dan galon, menyentuh helai rambut di pipiku. Dia menyelipkannya ke belakang telingaku. Satu helai. Lalu satu lagi.
Ujung jarinya menyentuh telingaku. Hangat.
Aku tidak bernapas.
Dia menurunkan tangannya. Dia menatapku dari jarak yang sangat dekat, dan untuk sekali ini, wajahnya tidak serius. Wajahnya bingung. Pipinya, di bawah cahaya matahari sore yang oranye, terlihat sedikit lebih merah dari biasanya.
”Gitu, Mbak?” bisiknya.
”Gitu,” bisikku.
Kami berdiri seperti itu tiga detik. Empat. Lima.
Lalu angin bertiup lagi, kencang, dan rambutku berantakan lagi, menutupi wajahku sepenuhnya. Dia tertawa. Aku tertawa. Tawa yang berantakan, dua-duanya, seperti dua orang yang baru saja selamat dari sesuatu yang tidak mereka mengerti.
Hasil: Murid lulus. Pengajar tidak yakin apakah dia masih bisa disebut pengajar.
Bayaran: Rendang. Rumah makan Padang yang sama. Aku mengantre empat puluh menit lagi, sendirian, dan membawanya ke rooftop dalam kotak kaca yang sama.
Dia membuka tutupnya. Dia menatap rendang itu.
Lalu dia menatapku.
”Kali ini nggak saya bagi, Mbak,” katanya pelan. “Kata Mbak, pelajaran nol. Boleh menerima.”
Dia memakan semuanya. Sendirian. Pelan, sampai potongan terakhir, sampai bumbunya dia seka dengan nasi.
Aku duduk di kursi plastik merah dan menatapnya makan, dan aku harus menatap matahari terbenam supaya punya alasan kenapa mataku berair.
Catatan pengajar, ditulis jam 01.15 pagi:
Lima pelajaran. Lima lulus.
Dia murid yang sangat baik. Dia belajar cepat. Dia mencatat semuanya. Dia mempraktikkannya dengan sempurna.
Di aku.
Setiap kali, di aku.
Dan setiap kali, aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa ini cuma latihan. Bahwa tatapan lima detik itu untuk orang lain. Bahwa lima hal kecil itu nanti akan dia cari pada orang lain. Bahwa jari yang menyelipkan rambut ke belakang telingaku sedang berlatih untuk telinga orang lain.
Lima pelajaran lagi.
Aku tidak tahu apakah aku sanggup.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran reading
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris