Chapter Thirty

Kamu Duluan

— Sabrina —

09.40

Pabrik Rasa Nusa di Rungkut panasnya seperti dapur raksasa.

Sudah enam hari aku di sini. Enam hari bangun jam lima pagi di hotel dekat bandara Juanda, menyetir mobil sewaan ke Rungkut, berdiri di gudang beratap seng yang suhunya tiga puluh empat derajat jam sembilan pagi. Enam hari mengurus panggung, sound system, spanduk, dan lima ratus pekerja shift yang akan jadi bintang di peluncuran Rendang Pedas Level 5.

Enam hari, dan aku belum menangis lagi.

Tidak sejak tol bandara. Tidak sejak telur balado. Aturan ketiga sudah patah, tapi aku memasang lakban di patahannya dan pura-pura masih utuh.

Gudang utama sudah disulap jadi aula. Panggung kecil di depan, spanduk merah besar bertuliskan JAM BERAPA PUN — RASA NUSA RENDANG PEDAS LEVEL 5. Kipas angin industri di setiap sudut. Kursi plastik berjajar untuk lima ratus orang, dan di belakang kursi-kursi itu, tumpukan karton mi instan setinggi dua meter, berjajar seperti tembok kota.

Aku berdiri di sisi panggung dengan clipboard, headset, dan kemeja putih yang sudah basah di punggung.

Pak Hendarto datang jam sembilan empat puluh. Kemeja putih dikancing sampai leher. Dia berhenti di sebelahku, menatap aula yang mulai penuh.

”Bu Sabrina,” katanya. Dia selalu memanggilku Bu, walaupun umurku separuh umurnya. “Saya mau minta izin.”

”Izin apa, Pak?”

”Saya undang satu tamu tambahan. Tidak ada di daftar awal.”

”Siapa, Pak? Saya siapkan kursi VIP.”

Pak Hendarto melepas kacamatanya. Dia tidak mengelapnya. Dia cuma memegangnya, menatap aula, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

”Tidak perlu kursi VIP,” katanya. “Dia lebih suka berdiri di belakang.”

Lalu dia memakai kacamatanya lagi dan berjalan ke panggung.


10.05

Pak Hendarto berpidato.

Pak Hendarto tidak pernah berpidato. Di rapat-rapat, dia bicara tiga kalimat per jam. Di peluncuran-peluncuran sebelumnya, kata stafnya, dia cuma memotong pita dan pulang.

Hari ini dia berdiri di panggung dengan mikrofon, menatap lima ratus pekerja shift dengan seragam biru, dan bercerita.

”Tiga puluh tahun lalu,” katanya, “saya berdiri di sana.”

Dia menunjuk ke ujung gudang. Ke tempat mesin-mesin besar berderet di balik dinding kaca.

”Mesin nomor tujuh. Shift malam. Umur dua puluh. Jam tiga pagi, mandor saya, Pak Karjo, masak mi di samping mesin pakai kompor kecil. Satu bungkus dibagi dua.” Pak Hendarto berhenti. “Dia bilang ke saya: makan dulu, Har, jangan nunggu pagi.”

Aula sunyi. Lima ratus orang. Bahkan kipas angin industri seolah memelankan putarannya.

”Saya lupa kalimat itu tiga puluh tahun,” kata Pak Hendarto. “Sampai beberapa bulan lalu, di sebuah kantor agensi kecil di Jakarta, ada orang yang mengingatkan saya.”

Aku membeku di sisi panggung.

”Hari ini,” kata Pak Hendarto, “orang itu datang.”

Dia menatap ke belakang aula. Ke tembok karton mi instan setinggi dua meter.

Lima ratus kepala berbalik.


10.08

Dia berdiri di ujung lorong di antara tumpukan karton, dengan kemeja kotak-kotak biru.

Kemeja yang dia pakai ke Bogor. Lengannya digulung sampai siku dengan lipatan yang rapi. Wajahnya sedikit lelah, rambutnya sedikit berantakan, seperti orang yang semalam tidak tidur di kereta ekonomi.

Di tangan kanannya, sebungkus mi instan. Bungkus merah menyala. Gambar cabai yang tampak marah. Sudutnya penyok.

Seseorang di barisan tengah berdiri.

”Itu… itu Mas Mi Instan!”

Lalu semuanya meledak.

Lima ratus pekerja shift berdiri dari kursi plastik. Teriakan, tepuk tangan, HP-HP terangkat. Ibu-ibu dari bagian pengemasan menjerit. Bapak-bapak dari bagian mesin bersiul. Anak-anak muda dari bagian gudang berlari ke arahnya dengan HP terbuka, minta selfie.

Dia berdiri di tengah kerumunan itu dengan wajah panik yang lucu. Panik orang yang baru tahu dia harus naik panggung. Dia mengangguk sopan ke semua orang, menyalami tangan-tangan yang terulur, membungkuk sedikit untuk selfie.

Lalu matanya mencari. Melewati kepala-kepala, HP-HP, tangan-tangan yang melambai.

Matanya berhenti di aku.

Aku tidak berpikir.

Aku berbalik dan berlari.


10.11

Gudang penyimpanan di belakang aula lebih gelap dan lebih sejuk.

Karton-karton mi instan ditumpuk di atas palet kayu, setinggi tiga meter, berjajar seperti lorong-lorong perpustakaan. Lampu neon di langit-langit cuma menyala separuh. Bau kertas karton dan bumbu kering.

Aku bersandar ke tumpukan karton, napasku tersengal.

Aturan kedua. Aku yang pergi duluan.

Aku sudah pergi duluan. Enam hari lalu, dari lobi, dari tikungan. Aku sudah pergi ratusan kilometer. Kenapa dia di sini? Kenapa dia berdiri di belakang aula dengan kemeja kotak-kotak biru dan bungkus mi yang penyok?

Pintu gudang penyimpanan berderit.

Langkah kaki. Pelan. Ragu.

”Mbak.”

Aku memejamkan mata.

”Mbak Sabrina.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bergerak. Kalau aku diam cukup lama, mungkin dia akan berpikir aku tidak di sini. Mungkin dia akan berbalik, kembali ke aula, ke lima ratus orang yang ingin selfie dengannya.

Langkah kakinya mendekat. Lorong demi lorong. Dia tidak terburu-buru. Dia tidak memanggil lagi.

Lalu dia berhenti di ujung lorongku.

Aku membuka mata.

Dia berdiri tiga langkah dariku, di bawah lampu neon yang berkedip. Kedipnya tidak teratur. Fitting-nya longgar, mungkin. Atau kabelnya memuai kena panas.

”Kenapa kamu di sini?” tanyaku. Suaraku keluar berantakan.

”Mbak bilang, biarin Mbak pergi duluan,” katanya pelan. “Saya biarin, Mbak. Mbak sudah pergi duluan. Enam hari.”

Dia melangkah satu langkah.

”Sekarang saya nyusul.”


10.13

”Mas…”

”Kata Ibu saya,” katanya, “itu dua hal yang beda. Mbak pergi duluan. Saya nyusul. Mbak tetap duluan. Saya tetap nurut.”

Aku tertawa. Tawa yang pecah di tengah, basah.

”Itu logika siapa?”

”Logika keluarga, Mbak.” Dia tersenyum kecil. “Kata Mbak, di keluarga, yang ada uang yang bayar duluan. Kata Ibu, di keluarga, yang pergi duluan nanti disusul.”

Aku tidak bisa menjawab.

Dia menatapku. Lalu dia mengeluarkan buku cokelat dari saku kemejanya. Dia membukanya. Tangannya sedikit gemetar.

”Mbak,” katanya. “Pelajaran satu.”

Aku berkedip. “Apa?”

”Tatapan lima detik.”

Dia menatapku.

Mata cokelat tua. Cincin kayu di sekitar pupil. Di bawah lampu neon yang berkedip, di gudang mi instan di Rungkut, Surabaya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Aku berkedip.

”Mbak kedip,” katanya pelan. “Lagi.”

”Aku…”

”Pelajaran dua,” katanya. “Hal kecil.”

Dia tidak membaca dari buku. Dia menatapku.

”Oat latte, gula setengah. Ngetuk dagu pakai pulpen kalau mikir. Ketawa lewat hidung kalau beneran. Takut gelap, tapi jalan ke tengah ruangan yang paling terang. Nggak bisa masak, tapi setrika jaket sendiri, lipatannya mencong. Makan babat duluan, kikil disimpan buat terakhir. Kalau capek, nggak flirting. Kalau senyum buat saya, sipitnya beda.” Dia menarik napas. “Wangi kue bolu Lebaran.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

”Ini bukan latihan, Mbak,” katanya. “Nggak pernah latihan.”


10.15

”Pelajaran tiga,” katanya. “Pujian yang spesifik.”

”Mas, stop…”

”Mbak waktu di IGD, nggak mikir. Langsung ambil kunci mobil. Mbak waktu di klinik, bilang logika keluarga. Mbak waktu di Bogor, tidur di bahu saya empat stasiun, terus pura-pura baru bangun.” Dia berhenti. “Saya tahu Mbak pura-pura. Saya diam karena saya nggak mau Mbak bangun.”

Dia menatap bibirku. Sebentar. Lalu kembali ke mataku.

”Di bianglala, Mbak bilang itu kecelakaan. Nggak dihitung.” Suaranya turun. “Saya hitung, Mbak. Dari hari itu, saya hitung terus.”

Aku tidak bisa bernapas.

”Pelajaran empat,” katanya.

Dia membuka buku cokelat di halaman paling depan. Halaman antrean. Dia membaliknya supaya aku bisa membaca.

Tanggal di pojok kanan atas. Kamis, minggu lalu. Malam sebelum dia naik kereta.

Di baris pertama:

1. Mbak Sabrina.

Tidak ada masalah yang ditulis di sebelahnya. Tidak ada AC, kursi, lampu.

Baris kedua kosong. Baris ketiga kosong. Seluruh halaman kosong, kecuali satu nama itu.

”Bukan karena Mbak minta duluan,” katanya. “Bukan karena darurat. Saya nggak pakai bintang.”

Dia menatapku.

”Karena Mbak orangnya.”


10.17

Dari pintu gudang yang tidak tertutup rapat, aku mendengar suara-suara. Bisikan. Langkah kaki yang berhenti mendadak. Seseorang bilang ssst.

Aku tidak peduli.

”Kamu…” Suaraku keluar retak. “Kamu bilang ada yang kamu suka. Di rooftop. Kamu minta diajarin. Kamu bilang belum boleh bilang namanya.”

”Iya, Mbak.”

”Kamu bilang ke aku, pas di Bogor, nanti kamu mau ajak dia ke tempat yang sama.”

”Iya, Mbak. Saya ajak. Saya sudah ajak.” Dia menatapku. “Kebun Raya itu bukan latihan, Mbak. Saya ajak orangnya.”

”Terus kenapa kamu minta diajarin? Kenapa kamu minta aku yang ngajarin, buat deketin aku?”

Dia diam sebentar. Lalu dia membuka buku cokelat di halaman belakang.

Halaman yang tidak pernah dia tunjukkan ke siapa pun.

”Pelajaran enam,” katanya. “Mendengarkan. Mbak dengar, ya?”

Dia membaca. Pelan. Hati-hati. Seperti membaca daftar belanja yang sangat penting.

”Mbak Sabrina.”

Itu judulnya. Di bagian atas halaman, dengan pulpen hitam. Di bawahnya, tanggal. Aku mengenali tanggal itu. Malam IGD.

”Utang: malam IGD, dia nyetir, nggak mikir. Utang: klinik Komisaris, dia bayar. Logika keluarga. Utang: rendang, dia antre empat puluh lima menit. Saya bagi ke tujuh orang. Maaf.”

Dia membalik halaman.

”Dulu lipstik merah. Sekarang nggak. Saya kangen merahnya, tapi yang sekarang juga bagus. Jangan bilang.”

Aku mulai menangis. Diam-diam. Air mata yang turun tanpa suara.

”Hari ini dia tanya. Saya bilang antri. Mukanya kayak waktu di lobi. Kenapa saya selalu salah ngomong?”

Dia membalik halaman lagi.

”Dia pergi. Saya biarin. Karena dia minta.”

Dia berhenti membaca. Dia menatapku.

”Mbak,” katanya. “Saya minta diajarin karena Mbak bilang di lift, Mbak nggak pakai perasaan. Mbak pakai aturan. Tiga bulan. Saya takut, Mbak. Saya takut kalau saya bilang dengan cara saya, Mbak kira saya bercanda. Saya takut saya cuma satu lagi. Saya takut dapat kartu kaktus.”

Aku tertawa, menangis, keduanya sekaligus.

”Jadi saya belajar,” lanjutnya. “Cara Mbak. Bahasa Mbak. Biar waktu saya bilang, Mbak ngerti saya serius.”

Dia menunjuk baris paling bawah di halaman itu. Ditulis dengan tinta yang sedikit berbeda, lebih baru.

”Belum selesai,” dia membaca. “Nggak mau selesai.”

Dia menatap halaman itu, lalu menatapku.

”Sebelas buku, Mbak. Ini satu-satunya halaman yang nggak pernah saya centang. Dan saya nggak mau nyentangnya. Selamanya.”


10.21

”Pelajaran tujuh,” katanya. Suaranya sedikit bergetar sekarang. “Kejutan kecil.”

Dia mengulurkan tangan kanannya. Bungkus mi instan. Merah menyala. Cabai yang marah. Sudutnya penyok.

”Hari kelima,” katanya. “Mbak kasih ini ke saya. Sampel klien. Saya bilang, saya simpan buat kalau ada yang lembur.”

Aku menatap bungkus itu.

”Empat bulan, Mbak. Saya kasih roti ke yang lembur. Kopi. Mi biasa. Ini nggak pernah saya kasih ke siapa-siapa.” Dia menatap bungkus mi di tangannya. “Ini satu-satunya barang di laci darurat yang nggak saya antrekan.”

Dia menyodorkannya padaku.

”Bapak saya dulu nyusul Ibu bawa cabai sekeresek,” katanya. “Saya nggak punya cabai. Saya cuma punya mi yang gambarnya cabai.”

Aku menerima bungkus mi itu. Tanganku gemetar. Aku memeluknya ke dada, persis seperti aku memeluk buku cokelatnya di lift yang gelap.

”Pelajaran delapan,” katanya, “sudah. Bogor.”

”Pelajaran sembilan,” kataku. Suaraku keluar kecil. “Tahu kapan harus mundur.”

Dia menggeleng.

”Saya nggak lulus pelajaran sembilan, Mbak,” katanya. “Saya nggak mau mundur.”


10.23

Lampu neon di atas kami berhenti berkedip. Menyala stabil. Mungkin kabelnya sudah dingin. Mungkin semesta juga suka ketepatan waktu.

”Pelajaran sepuluh,” katanya.

”Nggak ada pelajaran sepuluh,” bisikku.

”Ada, Mbak.” Dia menutup buku cokelat. Dia memasukkannya ke saku kemeja, di dadanya, di tempat yang sama setiap hari. “Mbak nggak pernah ngajarin. Jadi saya belajar sendiri. Di kereta. Ada nenek yang ngajarin.”

Dia melangkah satu langkah lagi. Sekarang jarak kami satu jengkal. Jarak pelajaran satu.

”Pelajaran sepuluh,” katanya. “Bilang.”

Dia menarik napas.

Lalu dia berhenti memakai saya.

”Aku suka kamu.”

Gudang sunyi.

”Aku nggak tahu sejak kapan. Mungkin sejak galon. Mungkin sejak lift. Aku butuh empat bulan buat dengar kamu. Maaf lama.” Suaranya tenang, rendah, sedikit bergetar di ujung. Suara yang dia pakai untuk Pak Leo di interkom, untuk Dimas di mobil. Tapi kali ini dia tidak sedang menenangkan siapa pun. Kali ini dia sedang jatuh, dan dia tahu dia sedang jatuh. “Ibuku bilang, kalau suatu hari ada orang yang pengin aku tolong duluan sebelum yang lain, itu dia.”

Dia menatapku. Mata cokelat tua. Cincin kayu.

”Sebelas buku. Semua orang antre.”

Dia tersenyum. Matanya hilang jadi garis.

”Kamu duluan.”


10.24

Aku tidak lari.

Itu yang pertama kali kusadari. Bukan kata-katanya. Bukan jantungku yang berlari di jalan tol. Bukan air mata yang sekarang turun deras tanpa bisa kutahan, tanpa lakban, tanpa latihan sepuluh tahun.

Aku tidak lari.

Aturan kedua. Aku yang pergi duluan. Seumur hidup, setiap kali seseorang mendekat terlalu dekat, setiap kali ada yang mau bilang sesuatu yang sungguh-sungguh, kakiku sudah bergerak duluan. Kartu kaktus. Hari ke-90. Taksi ke bandara.

Hari ini kakiku diam.

Kakiku berdiri di lantai gudang mi instan di Rungkut, satu jengkal dari laki-laki yang naik kereta ekonomi semalaman dengan sebungkus mi penyok, dan kakiku tidak mau pergi ke mana-mana.

”Aku mau bilang duluan, sebenarnya,” kataku. Suaraku pecah di mana-mana. “Dari lama. Dari rooftop. Dari rendang. Dari sebelum itu. Aku nggak berani. Aku kira kamu suka Ayu. Aku kira aku cuma salah satu. Satu dari dua puluh tiga. Aku kira…”

”Kamu nggak pernah salah satu,” katanya.

Aku membuka dompetku. Dompet yang diikat karet gelang karena terlalu penuh. Aku tidak tahu kenapa aku membukanya. Tanganku bergerak sendiri.

Karet gelang itu lepas. Isinya tumpah ke lantai gudang.

Surat dari Ibu. Titip Aris. Dia suka lupa makan. Tiga sobekan kertas bergerigi dari buku cokelat. Untuk kalau kelilipan, Mbak. Satu sobekan lagi, yang keempat. Jangan nunggu sampai Surabaya. Post-it kuning. Bau kue bolu Lebaran. Tiket bianglala merah muda. Cetakan kartu pasien Komisaris. Pemilik: Aris & Sabrina.

Dan satu kartu kaktus. Yang terakhir.

Dia berjongkok. Dia menatap semua itu di lantai, satu per satu. Sobekan kertas dari bukunya sendiri. Surat dari ibunya. Tanda & di kartu pasien.

Dia mengangkat wajah dan menatapku. Wajahnya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, merah. Bukan merah karena bedak atau lampu kuning. Merah dari dalam.

Aku berjongkok di depannya. Aku memungut kartu kaktus terakhir itu.

Aku merobeknya jadi dua.

”Ini yang terakhir,” kataku. “Nggak bakal kepake lagi.”


10.26

Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan.

Mungkin aku. Mungkin dia. Mungkin kami bergerak di detik yang sama, seperti dua orang yang sama-sama sudah terlalu lama menunggu.

Yang kutahu, satu detik kemudian, aku sudah di pelukannya.

Bukan pelukan karena lift berguncang. Bukan pelukan karena tikus di gudang. Pelukan yang disengaja. Lengannya melingkar di punggungku, erat, dan aku menyembunyikan wajahku di kemeja kotak-kotak biru yang wangi sabun batang dan kereta ekonomi dan sedikit keringat Surabaya.

Detak jantungnya di bawah pipiku.

Tidak seperti jam dinding. Tidak tenang. Tidak teratur.

Berlari. Lebih cepat dari jantungku sendiri.

”Jantungmu,” bisikku ke kemejanya.

”Iya,” katanya. Suaranya bergema di dadanya, bergetar di pipiku. “Dari kemarin begitu. Dari Senen. Aku kira mau ke dokter.”

Aku tertawa. Lewat hidung. Paling berantakan seumur hidupku. Dengan air mata dan ingus dan bungkus mi Rendang Pedas Level 5 terjepit di antara dada kami.

Dia memelukku lebih erat.

”Senjataku nggak mempan,” bisikku. “Dari awal.”

”Senjata apa?”

Aku menengadah. Aku menatapnya. Dari jarak sedekat ini, di bawah lampu neon yang sekarang menyala stabil.

”Nanti aku ceritain,” kataku. “Panjang. Ada skornya.”


10.28

Pintu gudang terbuka lebar.

Kami melepas pelukan dan menoleh.

Di ambang pintu, berdiri Pak Hendarto, dengan kacamata di tangan. Di belakangnya, dua ajudannya. Di belakang mereka, kira-kira tiga puluh pekerja shift dengan seragam biru, ibu-ibu bagian pengemasan, bapak-bapak bagian mesin, anak-anak muda bagian gudang, semuanya dengan HP terangkat dan wajah yang sudah basah.

Hening satu detik.

Lalu seorang ibu dari bagian pengemasan berteriak, “MAS MI INSTAN PUNYA PACAR!”

Dan gudang penyimpanan meledak.

Tepuk tangan. Siulan. Jeritan. Seorang bapak bagian mesin memukul-mukul tumpukan karton seperti drum. Anak-anak muda bagian gudang melompat-lompat. Seseorang mulai menyanyikan lagu dangdut yang tidak kukenal, dan setengah gudang ikut bernyanyi.

Mas Aris berdiri di tengah semua itu dengan wajah yang semerah bungkus Rasa Nusa Level 5.

Aku berdiri di sebelahnya, dengan mata bengkak dan eyeliner yang sudah hilang entah ke mana dan isi dompet yang berserakan di lantai, dan aku tidak pernah sebahagia ini seumur hidupku.

Pak Hendarto melangkah masuk. Dia berhenti di depan kami. Dia menatap Mas Aris, lalu aku, lalu bungkus mi di tanganku.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Pak Hendarto tersenyum. Senyum lebar. Senyum yang membuat kedua ajudannya mundur selangkah, kaget.

”Mi-nya mau dimasak sekarang?” tanyanya. “Di samping mesin nomor tujuh ada kompor kecil.”

Mas Aris menatapku.

Aku menatapnya.

”Makan dulu,” kataku pelan. “Jangan nunggu pagi.”

”Pagi masih lama,” jawabnya.

Dan dia menggenggam tanganku. Di depan Pak Hendarto, di depan tiga puluh pekerja shift dengan HP terangkat, di depan tumpukan karton mi instan setinggi tiga meter.

Bukan karena jalan ramai. Bukan karena lupa melepasnya.

Karena dia mau.