Chapter Sixteen
Syuting di Puncak
— Sabrina —
Selama seminggu setelah malam di lobi, aku menghindari Mas Aris dengan sangat profesional.
Aku tidak pura-pura sakit. Aku tidak pura-pura sibuk. Aku memang sibuk. Syuting iklan Rasa Nusa tinggal tujuh hari, dan ada seribu hal yang harus diurus. Aku cuma memastikan seribu hal itu tidak ada yang membutuhkan orang GA.
AC mejaku? Aku minta tolong teknisi gedung.
Galon habis? Aku minum air kemasan.
Printer macet? Aku kirim file ke tukang fotokopi di basement.
Mas Aris datang ke mejaku jam sembilan pagi setelah malam itu, sesudah mengembalikan gerobak mi ke Benhil, dengan tangga lipat dan buku cokelat. Dia mengecek AC. Dia bilang AC-nya tidak rusak. Dia bertanya apakah aku baik-baik saja.
”Baik, Mas,” kataku sambil tersenyum. Senyum yang rapi. Senyum iklan.
Dia menatapku lama. Lalu dia mengangguk dan pergi. Tapi sejak hari itu, setiap pagi, ada sesuatu di mejaku sebelum aku datang.
Hari Selasa, teh jahe dalam gelas kertas dari warteg Bu Darsih. Masih hangat.
Hari Rabu, sebungkus rengginang yang sudah digoreng. Rengginang dari Ibu, yang kubawa ke pantry dan tidak pernah sempat kugoreng sendiri.
Hari Kamis, sebotol obat tetes mata baru. Segelnya belum dibuka. Di bawahnya, secarik kertas kecil dari buku cokelat, sobekan halaman dengan pinggiran bergerigi: Untuk kalau kelilipan, Mbak. Yang lama mungkin sudah kedaluwarsa.
Aku tidak tahu harus memasukkan semua itu ke kategori apa.
Kategori dia baik ke semua orang? Atau kategori yang lain, kategori yang belum punya nama, yang tidak boleh kuberi nama karena aku sudah pernah salah?
Jumat malam, aku pulang dan menatap tiga sobekan kertas kecil yang kukumpulkan di meja rias. Lalu aku memasukkannya ke dompet, di sebelah surat dari Ibu dan cetakan kartu pasien Komisaris.
Dompetku mulai terasa berat.
Lokasi syutingnya sebuah villa tua di Cisarua, Puncak, yang dibangun di lereng bukit dengan pemandangan kebun teh. Tim produksi menyewa seluruh villa selama tiga hari. Halaman depan disulap jadi pos satpam pabrik. Garasi jadi warung tenda. Dapur jadi pantry rumah sakit. Kamar belakang jadi kamar kos mahasiswa yang begadang.
Jam Berapa Pun. Empat cerita, empat jam yang dunia lupa.
Mas Aris datang sehari lebih dulu dengan truk properti. Waktu aku tiba Sabtu pagi, semua sudah siap. Gerobak mi di garasi. Kompor portabel di pos satpam. Kardus mangkuk keramik berjejer rapi, dilabeli tulisan tangan yang kukenal. ADEGAN 1 — POS. ADEGAN 2 — WARUNG.
Dia berdiri di tengah halaman dengan rompi produksi oranye dan walkie-talkie di pinggang, mengarahkan dua kru yang menggotong lampu besar.
Dia melihatku turun dari mobil. Dia mengangkat tangan sedikit, melambai, lalu berhenti di tengah jalan seperti tidak yakin boleh melambai.
Aku melambai balik.
Dia tersenyum. Matanya hilang jadi garis.
Semua usahaku menghindarinya selama seminggu runtuh dalam satu lambaian tangan.
Jam sepuluh pagi, bencana datang.
Reno Aditama, aktor yang dibayar mahal untuk memerankan satpam pabrik di adegan utama, tidak keluar dari kamarnya. Asisten pribadinya keluar dengan wajah pucat dan mengumumkan bahwa Reno keracunan makanan dari sate yang dia beli di pinggir jalan Puncak semalam.
”Dia muntah dari jam tiga pagi,” kata asisten itu. “Nggak bisa berdiri.”
Mas Yudi, sutradara kami, seorang laki-laki gondrong yang biasanya tenang seperti biksu, menjatuhkan clipboard-nya ke tanah.
”Adegan pos satpam itu adegan pembuka,” katanya. “Hero shot. Lima belas detik pertama iklan. Kalau nggak ada itu, nggak ada iklan.”
”Ganti aktor?” usul seseorang.
”Agensi talent baru buka hari Senin. Klien mau tayang dua minggu lagi. Kita cuma punya villa ini sampai besok sore.”
Pak Leo, yang ikut ke lokasi karena tidak mau ketinggalan, mulai bernapas pendek-pendek. Aku menyuruhnya duduk dan menghitung galon.
Di tengah kepanikan itu, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan villa.
Pak Hendarto turun. Kemeja putih dikancing sampai leher. Dia datang tanpa pemberitahuan, seperti biasa, untuk melihat dapur kami.
Dia mendengarkan penjelasan Mas Yudi tanpa ekspresi. Lalu dia menoleh, memandang ke seluruh halaman villa, dan matanya berhenti di satu titik.
Di pojok halaman, di samping pos satpam palsu, Mas Aris sedang berjongkok. Dia membetulkan kaki kompor portabel yang goyang dengan lakban, sambil mengobrol dengan Pak Darmo. Ya, Pak Darmo ikut. Dia dipinjam jadi figuran satpam, karena Pak Hendarto bilang dia mau “satpam yang benar-benar pernah makan mi jam tiga pagi”.
”Dia,” kata Pak Hendarto.
Semua orang menoleh.
”Orang GA Anda,” kata Pak Hendarto ke Pak Leo. “Dia yang masak mi buat satpam jam tiga pagi. Dia yang tahu. Pakai dia.”
”Nggak bisa, Mbak.”
Mas Aris berdiri di dapur villa, rompi oranye masih di badan, wajahnya pucat seperti waktu Komisaris tidak mau makan.
”Saya nggak bisa akting, Mbak. Saya nggak pernah. Waktu SD saya disuruh jadi pohon di drama tujuh belasan, saya jatuh.”
”Pohon jatuh?”
”Iya, Mbak. Saya grogi, kaki saya gemetar, terus pohonnya roboh. Nimpa Kancil.”
Aku menahan tawa sekuat tenaga. Ini bukan saatnya tertawa. Tapi bayangan Mas Aris kecil berkostum pohon roboh menimpa temannya yang berkostum kancil terlalu indah untuk diabaikan.
”Mas,” kataku, menenangkan diri. “Dengerin aku.”
Dia diam karena aku memintanya diam.
”Mas inget waktu di ruang genset? Waktu Mas bilang Mas nggak bisa akting, terus aku bilang Mas nggak disuruh akting?”
”Inget, Mbak.”
”Itu bohong,” kataku. “Maaf. Sekarang Mas disuruh akting.”
Wajahnya berubah lebih pucat.
”Tapi,” lanjutku cepat, “aktingnya gampang. Mas cuma disuruh jadi Mas sendiri. Jam tiga pagi. Di pos. Masak mi buat Pak Darmo. Persis kayak yang Mas lakuin minggu lalu. Bedanya cuma ada kamera.”
”Kameranya besar, Mbak.”
”Anggap aja itu Komisaris. Gendut, diam, ngelihatin.”
Dia menatapku lama. Lalu dia menatap kamera besar di halaman, yang sedang dipasang di atas dolly oleh dua kru.
”Mbak,” katanya pelan. “Kalau saya roboh lagi?”
Aku melangkah ke depannya. Aku merapikan kerahnya, yang kali ini benar-benar terlipat karena rompi oranye.
”Kalau Mas roboh,” kataku, “aku yang nangkep.”
Dia menatapku dari jarak satu jengkal. Mata cokelat tua dengan cincin kayu.
”Janji, Mbak?”
”Janji.”
Dia menghela napas panjang. Lalu dia melepas rompi oranyenya, melipatnya dengan rapi, dan memberikannya padaku.
”Titip, Mbak.”
Mereka memakaikan seragam satpam pabrik padanya. Abu-abu tua, dengan topi dan emblem. Penata rias, seorang perempuan muda bernama Mbak Cici dengan rambut dicat ungu, menyapukan bedak tipis ke wajahnya dan mengoleskan sesuatu di bawah matanya supaya terlihat lelah, seperti orang jaga malam.
Mbak Cici berlama-lama di wajahnya.
”Kulitnya bagus banget, Mas,” katanya sambil mengusap pipi Mas Aris dengan spons. “Pakai skincare apa?”
”Sabun batang, Mbak.”
”Sabun batang? Ya ampun. Rahangnya juga bagus. Mas pernah jadi model?”
”Pernah jadi pohon, Mbak.”
Mbak Cici tertawa. Tangannya masih di pipi Mas Aris, lebih lama dari yang diperlukan untuk bedak tipis.
Aku berdiri di belakang monitor bersama Mas Yudi dan Pak Hendarto, memeluk rompi oranye, dan merasakan sesuatu yang panas dan asam naik dari perut ke tenggorokan.
Aku kenal rasa itu. Aku pernah membuat puluhan laki-laki merasakannya. Aku tidak pernah merasakannya sendiri.
”Mbak Sabrina kenapa?” bisik Ayu di sebelahku. “Mukanya kayak habis makan Rasa Nusa Level 5.”
”Nggak apa-apa.”
”Mbak meremas rompinya.”
Aku melepaskan rompi itu. Rompinya kusut.
Jam empat sore, mereka menutup jendela villa dengan kain hitam supaya halaman terlihat seperti jam tiga pagi. Lampu pos satpam dinyalakan. Kuning redup, satu bohlam, seperti lampu darurat di lift B.
”Adegan satu, take satu,” kata asisten sutradara. “Action.”
Di layar monitor, Mas Aris duduk di bangku kayu pos satpam. Di sebelahnya, Pak Darmo memakai seragam satpam aslinya. Kerahnya terlipat, karena Mbak Cici bilang itu “detail yang otentik”.
Mas Aris menyalakan kompor portabel. Dia memasukkan mi ke panci. Dia mengaduknya. Gerakannya tidak kaku. Tangannya tidak gemetar. Dia melakukannya persis seperti yang dia lakukan setiap malam di pos, untuk orang yang berjaga sendirian.
Dia menuang mi ke mangkuk keramik. Dia memecahkan telur di atasnya. Dia mengulurkan mangkuk itu ke Pak Darmo.
Lalu dia berkata sesuatu yang tidak ada di naskah.
”Makan dulu, Pak. Jangan nunggu pagi. Pagi masih lama.”
Pak Darmo menerima mangkuk itu. Tangannya bergetar sedikit. Lalu dia menatap Mas Aris, dan matanya, mata satpam lima puluh tahun dengan kumis tebal, berubah merah di bawah lampu kuning.
Dia tidak sedang akting. Tidak ada yang sedang akting.
Kamera bergerak pelan, mendekati wajah Mas Aris. Close-up. Bedak tipis, bayangan lelah di bawah mata, dan senyum kecil yang membuat matanya hilang jadi garis.
Di layar monitor, wajah itu memenuhi seluruh frame.
Aku berhenti bernapas.
Aku sudah melihat wajah itu ratusan kali. Di pantry, di lift, di ruang genset, di IGD. Tapi aku belum pernah melihatnya seperti ini. Dibingkai, diterangi, diperbesar. Seolah kamera baru saja memberitahu seluruh dunia sesuatu yang selama ini cuma aku yang tahu.
Bahwa laki-laki ini tampan. Sangat tampan. Dan dia sama sekali tidak tahu.
”Cut,” bisik Mas Yudi. Lalu, lebih keras: “Cut. Itu dia. Satu take. Itu dia.”
Seluruh kru diam.
Lalu seseorang mulai bertepuk tangan. Lalu semua orang.
Di samping monitor, Pak Hendarto melepas kacamatanya. Dia tidak mengelapnya. Dia cuma memegangnya lama.
Di pos satpam palsu, Mas Aris berdiri dari bangku dengan wajah bingung, tidak mengerti kenapa semua orang bertepuk tangan. Dia mencari-cari dengan matanya, melewati kru dan lampu dan kamera.
Matanya berhenti di aku.
Saya roboh nggak, Mbak? tanyanya tanpa suara, cuma gerakan bibir.
Aku menggeleng. Nggak.
Dia tersenyum lega. Lalu Mbak Cici menghampirinya dengan spons bedak dan senyum yang terlalu lebar, dan aku harus memalingkan wajah.
Malamnya ada makan malam penutupan hari pertama di teras villa. Sate maranggi, nasi liwet, lampu-lampu kecil yang digantung di pohon.
Aku memakai dress merah.
Aku membawanya dari Jakarta dengan alasan mungkin ada makan malam dengan klien. Itu alasan yang masuk akal. Itu juga bohong. Dress merah selutut dengan potongan leher persegi dan punggung terbuka sedikit. Senjata pamungkas. Senjata yang belum pernah gagal.
Dan aku tidak memanggil Mbak Cici untuk resletingnya.
Aku menunggu sampai lorong villa sepi, sampai cuma ada satu orang yang lewat dengan rompi oranye dan senter. Aku membuka pintu kamar setengah, memunggunginya. Dress merah itu terbuka sampai pinggang, resletingnya tersangkut di tengah punggung.
”Mas. Macet. Tolong turunin dulu, biar bisa dinaikin lagi.” Aku menoleh sedikit dari balik bahu. “Pelan-pelan aja.”
Hening.
Aku menunggu napasnya berubah. Laki-laki mana pun di dunia ini akan berubah napasnya.
”Permisi, Mbak.”
Jarinya menyentuh punggungku. Dingin, kapalan, dan sangat, sangat sopan. Dia tidak menurunkan apa-apa. Dia menahan kain di dua sisi, menggoyang kepala resleting ke kiri dan ke kanan, dan bergumam soal benang yang terselip.
Aku menoleh lebih jauh.
Matanya terpejam rapat. Rapat sekali, sampai dahinya berkerut.
”Mas ngapain merem?”
”Biar nggak lihat, Mbak.”
”Kenapa nggak boleh lihat?”
Dia diam. Resleting itu tiba-tiba lepas dari sangkutannya dan naik dengan mulus sampai ke tengkukku, satu tarikan, rapi.
”Itu bukan barang kantor, Mbak,” katanya. Matanya masih terpejam. “Sudah. Hati-hati, jangan ketarik lagi.”
Dia berbalik dan berjalan pergi menyusuri lorong, masih dengan mata setengah terpejam, sampai menabrak pot bunga di ujung lorong.
Aku menutup pintu dan bersandar di baliknya, tertawa tanpa suara.
Lima belas menit kemudian, aku turun dari tangga villa dengan rambut terurai dan lipstik merah, dan kepala-kepala menoleh. Kru kamera, kru lampu, Mas Yudi, bahkan Pak Hendarto melirik sekilas dari balik kacamatanya.
Mas Aris sedang menuang teh ke gelas-gelas di meja panjang. Dia mendongak.
Dia menatapku dari atas sampai bawah.
Aku berhenti di anak tangga terakhir. Aku menunggu. Satu minggu menghindarinya. Satu hari melihat Mbak Cici mengusap pipinya. Satu close-up yang membuatku berhenti bernapas. Sekarang giliranku.
”Mbak,” katanya.
”Ya?”
”Mbak habis ini mau kondangan?”
Meja panjang meledak dalam tawa.
Ayu tersedak teh. Pak Darmo memukul-mukul meja. Mas Yudi menutup wajah dengan kedua tangan. Bahkan Pak Hendarto, untuk pertama kalinya dalam sejarah, mengeluarkan suara yang terdengar seperti tawa pendek lewat hidung.
Aku berdiri di anak tangga terakhir dengan dress merah dan lipstik merah dan senyum yang membeku setengah jalan.
”Nggak,” kataku. “Nggak kondangan.”
”Oh.” Dia berpikir. “Bajunya bagus, Mbak. Merah. Kayak bungkus Rasa Nusa.”
Tawa kedua lebih keras dari yang pertama.
Aku duduk di ujung meja paling jauh darinya dan makan sate maranggi dengan martabat.
Sepanjang makan malam, dia minum empat gelas air es. Mbak Cici yang menghitung. Telinganya merah sampai ke leher, dan setiap kali mata kami bertemu di atas piring sate, dia yang memalingkan wajah duluan. Aku tidak tahu harus marah atau tertawa. Akhirnya aku tertawa, karena itu lebih mudah daripada mengakui bahwa kayak bungkus Rasa Nusa adalah pujian paling tulus yang pernah kudapat untuk dress ini.
Jam sebelas malam, HP-ku berdering di kamar villa.
Mama.
Aku sudah tahu sebelum mengangkat. Mama tidak pernah menelepon jam sebelas malam kecuali untuk satu alasan.
”Sab.”
Satu suku kata. Pendek. Mama memendekkan semua kata kalau sedang sedih.
”Ma.”
”Om Ferdi pergi.”
Aku duduk di pinggir kasur. Om Ferdi. Pengganti Om Hans. Kenalannya di kelas salsa dua bulan lalu. Mama memperkenalkannya padaku lewat panggilan video, dengan mata berbinar, Sayaaang, ini Om Ferdi, dia lucu banget.
”Dia bilang dia butuh ruang,” kata Mama. Suaranya pecah. “Ruang apa, Sab? Mama kasih dia ruang. Mama kasih dia kunci rumah. Mama…”
Lalu suara itu. Suara yang kukenal sejak umur sembilan. Isak tangis yang ditahan, dari balik telepon, persis seperti dari balik pintu kamar.
Aku memejamkan mata.
”Ma,” kataku. Suaraku keluar datar. Dingin. Seperti suara orang yang sudah terlalu sering mendengar cerita yang sama. “Aku lagi di Puncak. Syuting. Aku capek. Besok aja, ya.”
”Sab…”
”Mama tidur. Minum air anget. Besok Mama bakal baik-baik aja. Mama selalu baik-baik aja besoknya.”
Aku menutup telepon.
Aku duduk di pinggir kasur dengan HP di tangan. Kamar villa sunyi. Di luar jendela, kebun teh gelap, dan suara jangkrik.
Aku tidak menangis. Aturan ketiga. Lagi pula, ini bukan karena cowok. Ini karena Mama.
Ini selalu karena Mama.
Aku membuka pintu kamar untuk ke teras, mencari udara.
Mas Aris berdiri di lorong, tiga langkah dari pintuku. Dia memegang dua gelas teh jahe yang mengepul. Rompi oranye lagi di badannya. Sepertinya dia sedang berkeliling memeriksa kamar-kamar kru, memastikan semua orang sudah dapat selimut tambahan.
Dia menatapku. Aku menatapnya.
Pintu kamar villa itu tipis. Kayu tua. Dan aku tadi tidak bicara pelan.
Dia mendengar. Aku tahu dari wajahnya.
Tapi dia tidak bertanya apa-apa. Dia tidak bilang Mbak kenapa atau itu siapa atau Mbak nggak apa-apa. Dia cuma mengulurkan satu gelas teh jahe.
”Dingin, Mbak,” katanya. “Puncak.”
Aku menerima gelas itu. Hangat. Jahenya pedas, gulanya kebanyakan. Teh jahe ala warteg Bu Darsih.
Kami berdiri di lorong villa dan minum teh jahe tanpa bicara. Lama. Sampai gelasku hampir kosong.
”Mama Mbak,” katanya akhirnya, pelan sekali, “nggak apa-apa?”
”Mama selalu nggak apa-apa,” jawabku. “Besoknya.”
Dia mengangguk. Dia tidak bertanya lagi.
Lalu dia mengambil gelas kosong dari tanganku, menaruhnya di atas gelasnya sendiri, dan berkata, “Selamat tidur, Mbak. Jangan lupa matikan lampu.”
Dia berjalan pergi menyusuri lorong.
Aku masuk ke kamar. Aku mematikan lampu.
Aku berbaring dalam gelap, dan untuk pertama kalinya sejak umur sembilan, aku memikirkan pintu kamar Mama tanpa merasa ingin lari.
Karena malam ini, di balik pintuku, ada seseorang yang mendengar. Dan dia tidak pergi. Dia cuma membawakan teh jahe.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak reading
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris