Chapter Six

Property of Lumio

— Sabrina —

Ada dua jenis hujan di Jakarta.

Yang pertama adalah hujan sore yang sopan. Datang jam empat, pergi jam lima, menyisakan aspal yang wangi dan langit oranye yang bagus untuk story Instagram.

Yang kedua adalah hujan jam sembilan malam di minggu tender. Hujan yang tidak punya sopan santun. Datang tanpa permisi, tidak tahu kapan pulang, dan membuat seluruh Kuningan berubah jadi kolam renang umum.

Malam itu, hujan jenis kedua.

”Mbak,” kata Ayu dari kursinya. Matanya merah, rambut kuncir kudanya sudah setengah lepas. “Kita kehabisan kopi.”

Seluruh tim tender menoleh ke arah pantry seperti anggota ekspedisi yang baru sadar perbekalan habis. Enam orang. Dua copywriter, satu art director, satu strategist, Ayu, dan aku. Di papan tulis ada tulisan besar dengan spidol merah: MAKAN SENDIRIAN ≠ SENDIRIAN. Di bawahnya, tiga puluh kertas tempel kuning berisi ide yang separuhnya sudah dicoret.

Ide-ide itu tidak jelek. Itu masalahnya. Mereka semua cukup bagus. Seorang pekerja kantoran makan mi di meja sambil melihat foto keluarganya. Seorang mahasiswa makan mi di kos sambil video call dengan ibunya. Seorang ojek online makan mi di warung tenda sambil hujan. Semuanya menyentuh, semuanya rapi, dan semuanya sudah pernah dibuat oleh agensi lain dengan anggaran tiga kali lipat.

”Ini kayak iklan asuransi,” kata strategist kami, Reza, sambil memijat pelipis. “Sedih, tapi gampang dilupain.”

”Terus maunya gimana?”

”Nggak tahu, Sab. Yang jelas bukan ini.”

Aku berdiri di depan papan tulis dengan spidol merah di tangan, menatap tiga puluh kertas kuning. Dalam dua tahun memimpin akun, aku belajar satu hal: ide yang bagus jarang datang di ruang meeting. Ide yang bagus datang waktu kau sedang tidak mencarinya, biasanya di tempat paling tidak masuk akal.

Masalahnya, aku tidak tahu tempat paling tidak masuk akal itu di mana.

Aku menempelkan kertas ke-31: Kurang dekat. Kita belum tahu mereka. Lalu aku menggarisbawahinya dua kali, persis seperti seseorang menggarisbawahi peringatan lift di buku cokelatnya.

”Kafe di bawah tutup jam sembilan,” kata Nadia tanpa mengangkat kepala.

”Kafe seberang gedung buka sampai sebelas,” kata art director kami.

Aku tahu kafe seberang gedung itu. Lantai kayu, lampu kuning, mesin espresso warna hijau tosca. Pemiliknya punya celemek cokelat dan rambut yang selalu terlambat ditata.

Kafe Kevin.

Nadia akhirnya mengangkat kepala dan menatapku dengan mata yang penuh arti.

”Gue aja yang beli,” katanya. “Lo pasti nggak mau ketemu…”

”Aku yang beli,” potongku sambil berdiri.

”Sab.”

”Aku nggak pernah menghindari mantan, Nad. Menghindari mantan itu tanda ada yang belum selesai. Semua urusanku selalu selesai.” Aku mengambil dompet. “Ayu, ikut aku. Bantu bawa.”

Ayu melompat dari kursinya seperti kelinci yang diajak keluar kandang.


Kami turun lewat lift A. Lift B masih ditutup pita kuning bertuliskan DALAM PERBAIKAN. Di bawah pita itu ada kertas yang ditulis tangan dengan huruf rapi: Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. — GA Lumio. Aku mengenali tulisan itu. Aku berpura-pura tidak mengenalinya.

Di lobi, aku menyadari kesalahan pertamaku malam itu.

Blazer-ku tertinggal di kursi lantai tujuh. Aku sekarang hanya memakai blus satin tanpa lengan berwarna hitam, karena aku melepas blazer waktu AC ruang meeting mulai terasa pengap.

Tidak. Itu bohong.

Aku melepas blazer karena jam delapan tadi aku melihat Mas Aris lewat di depan ruang meeting membawa tangga lipat, dan blus satin tanpa lengan adalah salah satu senjata yang belum pernah kucoba.

Dia tidak melihat ke dalam ruang meeting. Dia sedang menghitung lampu.

Sekarang senjata itu membuatku menggigil di lobi.

”Mbak nggak kedinginan?” tanya Ayu.

”Nggak,” kataku. Lenganku merinding.

Kami berlari menyeberang di bawah payung kecil milik Ayu yang bergambar kucing. Payungnya cuma muat satu setengah orang. Bahu kananku basah.


Kafe Kevin hangat dan wangi.

Kevin sedang membersihkan meja waktu lonceng pintu berbunyi. Dia mendongak, melihatku, dan senyumnya berhenti setengah jalan, lalu dilanjutkan dengan profesional.

”Sab.”

”Kev. Enam kopi. Dua americano, dua latte, satu teh tarik, satu oat latte gula setengah. Dibungkus.”

”Dicatat.” Dia menatap blus tanpa lenganku yang basah sebelah. “Mau handuk?”

”Nggak usah.”

Dia mengambilkan handuk kecil dari balik meja dan meletakkannya di depanku. Kevin memang begitu. Ditinggal pun tetap menawarkan handuk.

Lalu matanya bergeser ke sebelahku.

”Dan ini?”

Aku menoleh. Ayu berdiri setengah langkah di belakangku, memeluk payung kucingnya yang meneteskan air ke lantai kayu. Matanya yang besar menatap Kevin. Mulutnya sedikit terbuka.

Dia tidak berkedip.

Aku mengenal tatapan itu. Aku sudah melihatnya ratusan kali, di wajah laki-laki yang menatapku. Tapi aku belum pernah melihatnya dari samping.

”Ini Ayu,” kataku. “Anak magang di timku.”

”Halo, Ayu,” kata Kevin, tersenyum. Senyum barista. Ramah, hangat, standar.

”H-halo,” kata Ayu. Lalu dia melangkah maju untuk menyalami Kevin, tersandung kakinya sendiri, dan payung kucingnya yang masih basah terbuka di dalam kafe dengan bunyi phwup yang keras.

Tetesan air menyiram meja kasir, mesin kasir, dan wajah Kevin.

Hening.

Kevin mengusap wajahnya dengan celemek. Ayu menutup payungnya dengan panik, memasukkannya ke balik punggung seperti menyembunyikan barang bukti, wajahnya merah sampai ke telinga.

”Maaf! Maaf, Mas! Payungnya… dia buka sendiri…”

Kevin menatap Ayu. Lalu dia tertawa. Bukan tawa barista. Tawa sungguhan, yang membuat matanya hilang dan bahunya bergetar.

”Nggak apa-apa,” katanya. “Mesin kasirnya memang perlu dicuci.”

Dia memberi Ayu satu kue cokelat gratis, dibungkus kertas, “buat ganti rugi mental”. Ayu menerimanya dengan dua tangan, seperti menerima piala.

Aku berdiri di samping mereka dengan handuk di bahu dan merasa seperti penonton di bioskop yang salah studio.

Waktu Kevin membungkus kopi, dia berbisik padaku tanpa menoleh.

”Jadi? Udah ketemu yang bikin lupa ngitung hari?”

”Belum,” jawabku cepat.

Terlalu cepat.

Kevin melirikku, tersenyum kecil, dan tidak bertanya lagi. Itu yang paling menyebalkan.


Kesalahan keduaku malam itu adalah menyuruh Ayu jalan duluan.

”Kamu bawa kopinya duluan. Tim udah nunggu. Aku nyusul.”

”Payungnya, Mbak?”

”Kamu pakai. Kopinya jangan sampai basah.”

Ayu berlari menyeberang dengan payung kucing dan dua kantong kopi, kue cokelat terselip di saku kemejanya. Aku berdiri di bawah kanopi minimarket sebelah kafe, menunggu hujan sedikit reda.

Hujan tidak reda. Hujan malah bertambah semangat.

Angin datang dari samping, membawa butiran air yang menempel di lengan telanjangku seperti jarum kecil. Aku memeluk diri sendiri. Gigiku mulai bergemeletuk. Blus satin itu sekarang terasa seperti selembar es tipis.

Aku menatap gedung di seberang jalan. Lantai tujuh masih menyala. Mungkin Nadia sedang mengomel soal kopiku. Mungkin Ayu sedang bercerita soal payung yang terbuka. Mungkin Mas Aris sudah pulang.

Pintu minimarket terbuka di sampingku dengan bunyi ding-dong.

”Mbak Sabrina?”

Tentu saja.

Tentu saja dia ada di sini. Tentu saja dia keluar dari minimarket ini, pada menit ini, dengan kantong plastik berisi dua bungkus roti, sebotol minyak kayu putih, dan selusin baterai AA. Semesta sepertinya sedang mengurus naskah hidupku dan tidak bilang-bilang.

Mas Aris memakai jaket. Jaket abu-abu tua, bahan parasut, dengan zipper di depan dan tulisan di punggung yang sebagian tertutup kerah.

Dia menatapku. Menatap lenganku yang telanjang dan basah. Menatap gigiku yang bergemeletuk.

Senjata yang tidak sengaja ini ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang sengaja. Aku merasakannya, dan aku memutuskan memakainya.

”Mas,” kataku, dengan suara yang tidak perlu dibuat bergetar karena memang sudah bergetar. “Aku kedinginan. Peluk aku dong, biar hangat.”

Mas Aris tidak menjawab.

Dia meletakkan kantong plastiknya di lantai. Dia membuka zipper jaketnya. Dia melepas jaketnya.

Jantungku berhenti.

Lalu dia menyampirkan jaket itu ke bahuku. Menarik kedua sisinya ke depan. Memasukkan lenganku satu per satu ke lubang lengan, seperti memakaikan baju ke anak kecil. Menarik zipper sampai ke dagu.

”Pakai ini, Mbak,” katanya. “Jaket kantor. Masih bersih, baru dicuci kemarin.”

Jaket itu kebesaran. Lengannya menutupi jari-jariku. Ujungnya jatuh sampai ke pertengahan paha. Hangat dari tubuhnya masih tertinggal di bagian dalamnya. Dan baunya, Tuhan, baunya sabun batang dan sedikit oli dan sesuatu yang hangat seperti matahari.

Aku menunduk. Di bagian dada kiri ada sablon kecil berwarna putih: logo Lumio. Di punggung, aku tahu tanpa melihat, ada tulisan besar yang tadi tertutup kerah.

”Ini jaket apa, Mas?”

”Jaket inventaris GA, Mbak. Dibagi tiap tahun ke tim GA, satpam, sama OB.” Dia tersenyum. “Belakangnya ada tulisannya.”

Aku memutar badan ke kaca minimarket untuk melihat pantulanku.

Di punggung jaket, huruf kapital putih:

PROPERTY OF LUMIO

Aku menatap tulisan itu di kaca. Seorang perempuan cantik dengan rambut setengah basah, heels hitam, blus satin, dan jaket parasut kebesaran yang bertuliskan dirinya adalah inventaris kantor.

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Tawaku keluar lewat hidung, berantakan, sampai aku harus membungkuk.

”Kenapa, Mbak?” tanyanya bingung.

”Nggak,” kataku sambil menyeka mata. “Aku cuma… aku resmi jadi barang kantor.”

”Oh.” Dia berpikir. “Nanti saya catat, Mbak. Biar nggak hilang.”

Aku tertawa lebih keras.


Dia tidak mau aku menyeberang dengan heels di jalan yang airnya sudah sampai mata kaki. Jadi kami menunggu di bawah kanopi minimarket. Hanya ada satu bangku plastik. Dia mempersilakanku duduk, dan dia berdiri di sampingku.

Lalu angin berubah arah, dan percikan hujan mulai mengenai bangku. Dia bergeser satu langkah, berdiri di sisi yang berangin, memunggungi hujan. Punggungnya yang sekarang hanya berkaos abu-abu tipis menjadi tembok untukku.

Aku menatap punggung itu. Kaosnya mulai basah di bagian bahu.

”Mas. Mas yang kedinginan sekarang.”

”Nggak apa-apa, Mbak. Saya orang kampung. Kebal.”

”Itu nggak ilmiah.”

”Bapak saya bilang begitu, Mbak. Bapak saya belum pernah salah.”

Aku berdiri. Aku tidak tahu kenapa aku berdiri. Bangkunya kering, aku harusnya tetap duduk. Tapi aku berdiri di sebelahnya, bahu kiriku menempel ke lengan kanannya, sehingga separuh angin mengenaiku dan separuh lagi mengenainya.

Dia menoleh. “Mbak, nanti basah.”

”Bagi dua,” kataku. “Adil. Kayak antrean.”

Dia diam sebentar. Lalu dia mengangguk, seolah logika itu masuk akal baginya.

Angin bertiup lagi. Aku meraih tangannya, tangan besar yang kapalan, dan menempelkannya ke pipiku.

”Rasain,” kataku. “Mukaku dingin.”

Dia tidak menarik tangannya. Dia malah mengangkat tangan yang satu lagi, menangkup kedua pipiku, dan menggosoknya cepat-cepat. Persis seperti ibu-ibu menggosok pipi anak yang baru pulang main hujan.

”Iya, Mbak. Kayak es,” katanya serius. “Saya angetin.”

Telapak tangannya kasar dan sangat hangat. Wajahku terjepit di antara kedua tangannya, bibirku sedikit mengerucut, dan aku tidak bisa bicara.

Dia berhenti menggosok. Dia menatap kedua tangannya sendiri yang masih menangkup wajahku, seperti baru sadar apa yang sedang dia pegang.

Pelan, dia menarik tangannya.

”Sudah anget, Mbak?”

”Sudah,” kataku.

Panas, sebenarnya.

Kami berdiri seperti itu selama dua puluh menit. Bahu menempel bahu. Hujan turun di depan kami seperti tirai. Lampu jalan memantul di genangan air. Mobil-mobil lewat pelan dengan lampu sein berkedip.

Kami tidak bicara banyak. Dia bercerita soal baterai AA di kantong plastik: untuk jam dinding di ruang meeting yang mati sejak minggu lalu, karena tim tender sering lupa waktu. Aku bercerita soal Ayu dan payung kucing. Dia tertawa pelan, bahunya bergetar, dan getaran itu terasa di bahuku.

Aku sadar aku sedang tersenyum.

Bukan senyum miring. Senyum yang biasa saja. Senyum yang tidak dipakai untuk apa-apa.


Jam sepuluh lebih lima belas, hujan akhirnya jadi gerimis. Dia membuka payung lipat hitam yang ternyata dari tadi ada di kantong plastiknya.

”Mas punya payung dari tadi?”

”Punya, Mbak.”

”Terus kenapa kita nunggu dua puluh menit?”

”Payungnya kecil, Mbak. Tadi anginnya dari samping. Nanti Mbak tetap basah.”

Kami menyeberang di bawah payung lipat kecil itu. Dia memegang payungnya miring, terlalu miring, sehingga seluruh payung berada di atas kepalaku dan bahu kirinya sendiri basah kuyup.

Aku memperhatikan. Aku tidak bilang apa-apa. Kalau aku bilang, dia akan menjawab dengan sesuatu soal Bapak dan orang kampung yang kebal.

Di lobi, dia menutup payung dan mengibaskannya. Bahu kirinya meneteskan air ke lantai.

Aku mulai menurunkan zipper jaket. “Ini, Mas. Makasih…”

”Bawa aja, Mbak. Lantai tujuh dingin. Besok-besok aja dibalikin.”

”Mas pulang naik motor, kan? Mas yang butuh.”

”Saya ada jas hujan di jok, Mbak.”

Dia mengangguk, mengambil kantong plastiknya, dan berjalan ke arah tangga darurat. Dia mau mengganti baterai jam dinding ruang meeting dulu sebelum pulang. Tentu saja.


Waktu aku masuk ke ruang meeting, enam kepala menoleh padaku.

Lalu enam pasang mata turun ke jaket abu-abu kebesaran yang kupakai.

Lalu aku berbalik untuk menggantung tas di kursi, dan enam pasang mata membaca punggungku.

PROPERTY OF LUMIO

Nadia menyemburkan latte ke laptopnya.

”Sab,” katanya sambil batuk. “Sab. Lo udah diinventarisasi.”

”Diam.”

”Ada nomor serinya nggak? Kalau rusak bisa diklaim garansi?”

”Nadia.”

Di pojok, Ayu sedang memegang kue cokelat dari Kevin. Dia belum memakannya. Dia cuma memandanginya, memutar-mutarnya di tangan, dengan senyum kecil yang tidak dia sadari.

Aku duduk di kursiku. Di dinding ruang meeting, jam yang seminggu ini mati tiba-tiba berdetak lagi. Tik. Tik. Tik. Seseorang baru saja mengganti baterainya, dan aku tidak melihat dia masuk.

Aku tidak melepas jaket itu sampai jam satu pagi.

Waktu akhirnya aku pulang dan berbaring di kasur, jaket itu tergantung di sandaran kursi kamarku. Aku menatapnya dalam gelap. PROPERTY OF LUMIO, huruf putih yang samar-samar menyala kena lampu jalan dari jendela.

Aku harusnya mencucinya sebelum mengembalikan. Itu sopan santun.

Aku memutuskan mencucinya besok.

Atau lusa.

Atau minggu depan, kalau wangi sabun batangnya sudah hilang sendiri.