Chapter Twenty Seven
Pergi Duluan
— Sabrina —
Penerbanganku jam sepuluh. Taksi online kupesan jam setengah tujuh, dari lobi kantor, karena aku harus mengambil dokumen terakhir di lantai tujuh.
Itu alasannya. Dokumen terakhir.
Aku tidak mengakui, bahkan pada diriku sendiri, bahwa aku sebenarnya bisa meminta Ayu mengirim dokumen itu lewat email.
Jam enam lewat sepuluh, lobi gedung masih sepi. Lampu-lampu baru separuh menyala. Lantai marmer baru selesai dipel, wangi karbol.
Pak Darmo berdiri di depan pos dengan seragam yang kerahnya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, rapi. Tidak terlipat sama sekali.
”Mbak Sabrina.” Dia menyalamiku dengan dua tangan. “Hati-hati di sana, ya, Mbak. Surabaya panas. Banyak minum.”
”Iya, Pak. Kerahnya rapi.”
Dia meraba lehernya, lalu tersenyum malu. “Tadi pagi dibenerin.”
Aku tidak bertanya siapa yang membenerinya.
Komisaris berbaring di atas jok motor Pak Darmo, yang hari ini diparkir di depan lobi, bukan di basement. Tiga anaknya yang tersisa, Direktur, Manajer, dan Staf, bergelung di kardus di bawah motor. Komisaris membuka satu mata ke arahku, menatapku lama, lalu turun dari jok dengan gerakan lambat penuh wibawa.
Dia berjalan ke arahku dan menggosokkan kepalanya yang besar ke betisku.
Aku berjongkok. Aku mengusap kepalanya.
”Jaga dia, ya,” bisikku ke kucing itu. Aku tidak tahu siapa yang kumaksud dengan dia.
Komisaris mengeong pendek. Seperti menjawab.
Lift A berbunyi ting.
Satu per satu, mereka keluar.
Bu Darsih, dengan kantong plastik hitam berisi kotak makan. “Tempe orek, Neng. Sama telur balado. Buat di pesawat.”
”Bu, di pesawat nggak boleh bawa…”
”Makan sebelum masuk pesawat. Bandara mahal.”
Mbak Tari, dengan setoples biskuit kelapa. “Buat camilan. Jangan lupa kirim foto, ya. Saya mau masukin ke grup Lumio Ceria.”
Ayu, dengan notebook kucingnya dan mata merah. Dia memelukku tanpa permisi. “Mbak, nanti saya kabarin terus soal Mas Kevin. Mbak harus balik, ya. Saya masih butuh saran.”
”Kamu nggak butuh saran, Yu. Kamu udah dapat dia.”
”Saya butuh saran buat yang lain, Mbak.” Ayu melepas pelukannya dan menatapku dengan mata besar yang jujur. “Mbak juga harus dapat.”
Aku tidak menjawab.
Nadia keluar terakhir. Dia menggendong Magang di satu tangan, di dalam carrier kucing berwarna biru yang dia beli kemarin. Magang mengeong protes melihatku.
Nadia tidak bilang apa-apa. Dia cuma menatapku. Wajahnya bukan wajah jaksa, bukan wajah sahabat sarkas. Wajah orang yang sudah kehabisan argumen dan cuma bisa menunggu.
”Nad.”
”Gue tahu,” katanya. “Hati-hati.”
Pak Leo tidak datang. Dia mengirim pesan suara empat menit yang separuhnya tangisan dan separuhnya instruksi soal rundown peluncuran.
HP-ku bergetar. Taksi Anda tiba dalam 8 menit.
Aku menatap lift.
Lift A sudah kembali naik. Angka di atasnya bergerak. Delapan. Sembilan. Sepuluh. Lift B diam di lantai lima, dengan pita kuning yang sudah dilepas sejak bulan lalu.
Pintu tangga darurat tetap tertutup.
Aku tidak menunggu. Aku tidak boleh menunggu. Aturan kedua. Aku yang pergi duluan.
Aku mengangkat koper.
Pintu tangga darurat terbuka.
Dia keluar dengan napas sedikit terengah, seperti malam di lift B, seperti pagi di ruang meeting waktu proyektor mati. Kemeja abu-abu GA, disetrika tajam. Buku cokelat di saku. Dan di tangannya, kantong kain warna hijau.
Dia berhenti tiga langkah dariku.
”Maaf, Mbak,” katanya. “Telat. Tadi nunggu nasinya matang.”
Dia mengulurkan kantong kain itu.
Aku membukanya. Di dalamnya ada kotak makan plastik bertingkat dua, warna biru, yang tutupnya sudah sedikit retak di ujung. Kotak makan yang sudah dipakai bertahun-tahun.
”Saya masak, Mbak,” katanya. “Di kos. Kompor satu tungku. Jadi lama.”
Aku membuka tutupnya sedikit. Tingkat atas: nasi putih, masih mengepul. Tingkat bawah: sayur bening bayam, tempe goreng, dan telur balado. Telur balado yang bentuknya tidak sempurna, sambalnya terlalu banyak di satu sisi.
”Kata Mbak, Mbak nggak suka makanan bandara,” katanya. “Kata Mbak, makanan rumah beda.”
Aku tidak pernah bilang aku tidak suka makanan bandara. Aku cuma pernah bilang, di soto kuning Bogor, bahwa aku tidak pernah makan masakan rumah sejak Bi Inah mulai jarang masak.
Dia mendengar itu sebagai nggak suka makanan bandara.
Pelajaran enam.
Aku menutup kotak makan itu. Tanganku gemetar sedikit. Aku memasukkannya ke tas, di sebelah tempe orek Bu Darsih dan biskuit kelapa Mbak Tari.
”Makasih, Mas.”
”Sama-sama, Mbak.”
Kami berdiri di lobi. Di belakangku, Nadia, Ayu, Mbak Tari, Bu Darsih, dan Pak Darmo tiba-tiba sangat tertarik pada dinding, lantai, dan langit-langit. Mereka berjalan pelan menjauh, ke arah pos, satu per satu, dengan langkah orang yang pura-pura tidak sedang menguping.
Tinggal kami berdua. Dan Komisaris.
”Mbak,” katanya.
”Hm.”
”Saya mau bilang sesuatu.”
Jantungku berhenti. Lalu berlari.
Tidak. Tidak, jangan sekarang. Aku sudah memutuskan. Aku sudah berkemas. Aku sudah menaruh jaket di dasar koper dan membuang dua kartu kaktus ke tempat sampah. Aku tidak bisa mendengar apa pun sekarang. Kalau dia bilang dia sudah yakin, kalau dia mau memberitahuku nama perempuan itu, sekarang, di lobi, delapan menit sebelum taksiku datang, aku tidak akan bisa naik ke taksi itu.
Atau aku akan naik ke taksi itu, dan aku tidak akan pernah bisa turun lagi.
”Jangan, Mas,” kataku.
Dia berhenti.
”Jangan sekarang.” Suaraku pelan. “Kamu udah lulus. Kamu udah siap. Bilang ke dia aja. Bukan ke aku.”
”Mbak, saya…”
”Mas.” Aku menatapnya. Mata cokelat tua dengan cincin kayu. Aku tidak menghitung detik. Aku tidak memasang senyum. “Kamu selalu ngelakuin apa yang diminta, kan?”
Dia diam.
”Aku minta satu hal,” kataku. “Biarin aku pergi duluan. Ya?”
Dia menatapku lama. Lima detik. Sepuluh. Lima belas.
Matanya berubah. Aku tidak bisa menjelaskan caranya. Seperti lampu yang tiba-tiba putus.
Lalu dia mengangguk. Pelan. Sekali.
”Iya, Mbak,” katanya.
Dia melakukan apa yang diminta. Dia selalu melakukan apa yang diminta.
Dan untuk pertama kalinya, aku membencinya karena itu.
HP-ku bergetar. Taksi Anda sudah tiba.
Mobil hitam berhenti di depan pintu kaca lobi. Sopirnya keluar dan membuka bagasi.
Mas Aris mengangkat koperku. Dua koper. Dia membawanya ke bagasi dan memasukkannya dengan hati-hati, koper yang besar di bawah, yang kecil di atas, gagangnya diputar supaya tidak tertekan. Dia menutup bagasi pelan.
Dia membukakan pintu belakang untukku.
Aku masuk.
Dia menutup pintu. Lalu dia mengetuk atap mobil dua kali, seperti sopir angkot menepuk pintu.
Aku menurunkan kaca jendela.
”Hati-hati, Mbak,” katanya. “Jangan lupa makan. Jangan lupa…”
Dia berhenti.
”Matiin lampu,” kataku.
”Iya, Mbak. Matiin lampu.”
Taksi mulai bergerak.
Aku tidak menoleh ke belakang. Aku menatap jalan di depan, Jalan Kuningan yang masih sepi, gedung-gedung kaca yang memantulkan matahari pagi.
Di kaca spion samping, aku melihat lobi gedung kami mengecil. Pak Darmo melambai. Nadia menggendong Magang. Ayu menutup mulut dengan notebook kucing.
Dan di depan semua orang itu, di ujung tangga lobi, seorang laki-laki dengan kemeja abu-abu berdiri diam dengan tangan di sisi tubuh. Dia tidak melambai.
Dia cuma berdiri di sana, menatap taksi yang menjauh, sampai taksi itu berbelok di tikungan dan kaca spion tidak bisa melihatnya lagi.
Di tol bandara, jam tujuh lewat dua puluh, aku membuka kotak makan biru.
Aku tidak lapar. Aku cuma butuh sesuatu untuk dikerjakan tanganku. Kalau tangan ada kerjaan, kepala nggak mikir yang aneh-aneh.
Nasi putihnya sudah tidak mengepul, tapi masih hangat. Aku mengambil sendok yang diselipkan di samping kotak. Sendok stainless biasa, dibungkus tisu.
Di bawah tisu itu ada secarik kertas. Sobekan dari buku cokelat, pinggirannya bergerigi.
Tulisan tangannya rapi.
Mbak, makan dulu. Jangan nunggu sampai Surabaya. Surabaya masih lama.
Telur baladonya saya coba bikin kayak punya Bu Darsih. Kalau nggak enak, maaf. Saya baru pertama kali.
Jangan lupa matikan lampu.
Itu saja.
Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada aku suka kamu atau jangan pergi atau hal-hal yang diucapkan di film.
Cuma jangan nunggu sampai Surabaya. Kalimat yang sama yang dia ucapkan ke Pak Darmo di pos satpam palsu, di depan kamera, yang membuat seluruh Indonesia menangis jam tujuh pagi.
Aku menyendok telur balado itu. Sambalnya terlalu banyak. Telurnya sedikit terlalu matang. Rasanya tidak seperti punya Bu Darsih. Rasanya seperti orang yang baru pertama kali mencoba, di dapur kos dengan kompor satu tungku, jam lima pagi, supaya aku punya makanan rumah sebelum pergi.
Aku mengunyahnya.
Lalu sesuatu di dadaku, yang sudah naik pelan-pelan seperti air pasang sejak rooftop, sejak lantai kamar mandi, sejak Bogor, sejak pelajaran sembilan, akhirnya sampai ke atas.
Dan tumpah.
Aku menangis.
Bukan isak yang ditahan seperti Mama di balik pintu. Bukan air mata yang kusebut debu gudang atau sambal kepedasan. Aku menangis seperti anak kecil yang jatuh dari sepeda. Keras, berantakan, dengan sendok di satu tangan dan kotak makan biru di pangkuan, dengan telur balado yang sambalnya terlalu banyak.
Aku menangis karena cowok.
Aturan ketiga patah. Di tol bandara. Jam tujuh lewat dua puluh lima pagi. Di kursi belakang taksi online.
Sopir taksi melirik dari spion. Seorang bapak-bapak dengan peci dan kacamata. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma memelankan laju mobil sedikit, mengecilkan volume radio, lalu meraih kotak tisu dari dashboard dan mengulurkannya ke belakang tanpa menoleh.
”Tisunya, Mbak,” katanya pelan. “Ambil aja semuanya.”
Aku mengambil semuanya.
Aku menelepon Nadia dari terminal tiga, di bangku dekat jendela, dengan mata yang bengkak dan kotak makan biru yang sudah kosong di pangkuan.
Dia mengangkat di dering pertama.
”Gue tahu,” katanya sebelum aku bicara. “Gue dengar dari suara napas lo.”
”Nad.”
”Iya.”
”Aturan ketiga.”
Nadia diam sebentar.
”Patah?”
”Patah.” Suaraku pecah lagi. “Di taksi. Gara-gara telur balado.”
Di ujung telepon, aku mendengar Nadia menghela napas panjang. Lalu suaranya berubah. Pelan. Lembut. Suara jam tiga pagi di kamar kos.
”Sab,” katanya. “Lo tahu nggak, dia masih berdiri di lobi sampai sekarang?”
Aku membeku.
”Udah satu jam,” lanjut Nadia. “Dia nggak naik. Dia nggak kerja. Pak Darmo udah nyuruh dia masuk tiga kali. Dia cuma bilang sebentar, Pak. Terus berdiri lagi di situ. Ngelihatin tikungan.”
Aku menatap jendela terminal tiga. Pesawat-pesawat berjajar di landasan. Matahari jam delapan pagi memantul di sayap-sayapnya.
”Gue nggak tahu dia mau ngomong apa tadi,” kata Nadia. “Tapi gue tahu satu hal. Orang yang mau bilang dia suka sama cewek lain, nggak berdiri satu jam di lobi ngelihatin tikungan.”
Pengumuman di speaker bandara. Penumpang pesawat tujuan Surabaya, dipersilakan naik melalui pintu tujuh.
Aku menatap tiket di tanganku.
Lalu aku berdiri, mengambil tas, dan berjalan ke pintu tujuh. Karena aku Sabrina Maharani, dan aturan kedua masih berlaku, walaupun aturan ketiga sudah patah. Karena kalau aku berbalik sekarang, aku tidak tahu apa yang akan kutemukan di lobi itu, dan aku belum siap untuk tidak tahu.
Karena aku pengecut.
Itu kata yang tepat. Bukan efisien. Bukan aturan. Bukan pergi duluan.
Pengecut.
Aku naik ke pesawat dengan kotak makan biru yang kosong di dalam tas, dan sobekan kertas bergerigi di dalam dompet yang diikat karet gelang.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan reading
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris