Chapter Twenty Four
Operasi Aliansi
— Sabrina —
Grup itu sudah kubisukan selama dua bulan. Aku tidak pernah keluar, tapi aku juga tidak pernah membacanya.
Minggu pagi, jam sembilan, sehari setelah Bogor, notifikasi menembus mode senyap. Bukan pesan biasa. Galih menyebut namaku. @Sabrina. Fitur yang bisa membangunkan orang dari kubur.
Aku membuka grup itu dengan Magang di pangkuan.
[Sabtu, 04.52]
Kevin: Bapak-bapak
Kevin: Saya baru dibangunin jam setengah lima pagi
Kevin: Sama Mas Aris
Kevin: Dia ketok pintu kafe, minta dibuatin oat latte gula setengah
Rendi: JAM SETENGAH LIMA??
Kevin: Katanya buat “latihan”
Kevin: Saya tanya latihan apa
Kevin: Dia bilang: “Latihan pedekate, Mas. Mbak Sabrina yang ngajarin. Ini pelajaran delapan.”
Galih: …
Yosua: Saya perlu membaca ulang kalimat itu tiga kali.
Rendi: SABRINA NGAJARIN DIA PEDEKATE??
Rendi: KE SIAPA??
Kevin: Itu masalahnya
Kevin: Dia nggak mau bilang
Kevin: Katanya “belum boleh, Mas, belum yakin”
[Sabtu, 07.30]
Galih: Bapak-bapak, ini situasi darurat
Galih: Saya usul kita bentuk tim investigasi
Galih: Operasi rahasia
Galih: Kode nama: OPERASI KAKTUS 🌵
Yosua: Saya keberatan dengan nama itu tapi saya setuju dengan operasinya.
Rendi: GUE IKUT
Rendi: gue jadi intel lapangan, gue kenal satpam gedungnya, Pak Darmo, dia member gym gue
Kevin: Rendi, Pak Darmo member gym kamu?
Rendi: member gratis, gue kasih karena dia pernah nolong gue dorong mobil mogok
Rendi: ternyata semua orang di gedung itu pernah ditolong Mas Aris
Rendi: termasuk Pak Darmo, termasuk mobil gue
[Sabtu, 14.15]
Rendi: LAPORAN INTEL
Rendi: Pak Darmo nggak mau buka mulut
Rendi: Katanya dia udah janji
Rendi: Tapi pas gue tanya “Mas Aris naksir siapa”, dia ketawa terus bilang “Ya Allah, Ren” tiga kali
Rendi: Terus dia ganti oli motornya padahal baru ganti minggu lalu
Yosua: Itu respons yang sangat informatif.
Galih: Kenapa informatif?
Yosua: Orang yang tidak tahu jawabannya tidak akan tertawa sampai mengganti oli. Pak Darmo tahu. Dan jawabannya cukup lucu untuk membuatnya tertawa.
[Sabtu, 16.40]
Galih: Saya sudah bikin daftar kandidat
Galih: Berdasarkan data dari Kevin (Ayu), Rendi (Pak Darmo), dan story IG Mbak Tari
Galih: 1. Ayu (anak magang). Sering ke ruang GA. Ketawa berantakan.
Galih: 2. Mbak Gita (lantai 9). Sering minta ditemenin makan.
Galih: 3. Clarissa (lantai 12, selebgram). Ngajak makan malam.
Galih: 4. Mbak Tari (HR). Sering ketemu. Tapi sudah nikah, jadi dicoret.
Galih: 5. Komisaris (kucing). Dicoret, karena kucing.
Rendi: Lih kenapa komisaris masuk daftar
Galih: Saya mau teliti
Kevin: Galih
Kevin: Nomor 1
Kevin: Ayu??
Rendi: 👀
Yosua: Kevin, saya mendeteksi kepanikan dalam penggunaan dua tanda tanya.
Kevin: Saya nggak panik
Kevin: Saya cuma… nanya
Rendi: KEVIN NAKSIR AYU, KEVIN NAKSIR AYU
Kevin: Rendi tolong
Aku berhenti menggulir.
Aku menatap daftar itu. Nomor satu. Ayu.
Aku sudah tahu. Aku sudah menyimpulkannya di rooftop, waktu dia menyebut tiga petunjuk itu. Tapi melihatnya ditulis di grup, dengan nomor urut, membuatnya terasa lebih nyata.
Seperti melihat namamu sendiri di daftar antrean. Bukan di nomor satu.
Aku menggulir lagi.
[Sabtu, 19.20]
Kevin: Bapak-bapak
Kevin: Saya mau lapor
Kevin: Dan saya mau minta maaf duluan karena saya melanggar kode etik operasi
Galih: Kode etik apa? Kita nggak punya kode etik
Kevin: Saya tanya langsung ke Ayu
Rendi: WHAT
Yosua: Itu pelanggaran prosedur investigasi yang sangat berani.
Kevin: Dia ke kafe tadi sore, beli kue pandan kayak biasa
Kevin: Terus saya nggak tahan
Kevin: Saya tanya: “Yu, kamu tahu nggak Mas Aris lagi naksir siapa? Katanya orang Lumio, sering ke ruang GA, ketawanya berantakan”
Galih: Terus??
Kevin: Dia diem
Kevin: Terus mukanya merah
Kevin: Terus kue pandannya jatuh
Rendi: YA ALLAH AYU NAKSIR MAS ARIS JUGA??
Kevin: BUKAN
Kevin: Itu dia
Kevin: Dia panik, terus dia teriak di tengah kafe:
Kevin: “NGGAK MUNGKIN MAS ARIS NAKSIR AKU, AKU KAN NAKSIRNYA MAS KEVIN!!!”
Hening di grup. Tujuh menit tidak ada pesan.
Rendi: GUE JATUH DARI TREADMILL
Galih: [stiker kucing pingsan]
Galih: [stiker kucing pingsan]
Galih: [stiker kucing pingsan]
Yosua: Selamat, Kevin.
Kevin: Seisi kafe tepuk tangan
Kevin: Ada bapak-bapak yang lagi ngerjain laptop siul
Kevin: Ayu lari ke toilet setengah jam
Kevin: Pas keluar saya kasih kue pandan baru
Kevin: Terus saya bilang “Aku juga”
Rendi: KEVIN 😭😭😭
Rendi: INI DIA, INI KEBAHAGIAAN PERTAMA DI GRUP INI
Galih: Saya mau nangis
Yosua: Biar saya catat untuk notulen: anggota grup pertama yang berhasil keluar dari status “korban”. Selamat, Kevin.
Kevin: Makasih bapak-bapak 🙏
Kevin: Tapi
Kevin: Itu artinya
Kevin: Ayu bukan targetnya
[Sabtu, 21.05]
Galih: Oke. Nomor 1 dicoret
Galih: Sisa: Mbak Gita, Clarissa
Rendi: Mbak Gita kayaknya nggak. Pak Darmo bilang Mas Aris nemenin Mbak Gita makan cuma sekali, terus Mbak Gita dikenalin ke kurir paket, sekarang mereka pacaran
Galih: Mas Aris juga makcomblang???
Rendi: Bukan sengaja. Kata Pak Darmo dia cuma bawa rombongan ke warteg. Terus kurir paketnya duduk di sebelah Mbak Gita.
Yosua: Pola yang konsisten. Mas Aris adalah katalis. Dia mempercepat reaksi orang lain tanpa ikut bereaksi sendiri.
Galih: Clarissa?
Kevin: Ayu bilang Clarissa udah nyerah. Dia diajak makan rame-rame sama kucing, terus dia bilang ke temennya “gue kalah sama komisaris”
Galih: Daftar habis
Galih: Semua kandidat dicoret
Yosua: Tidak semua.
Galih: Maksudnya?
Yosua: Ada satu nama yang sejak awal tidak dimasukkan ke daftar.
Yosua: Seseorang yang bekerja di Lumio. Yang paling sering ke ruang GA selama empat bulan terakhir, menurut catatan Mbak Tari. Yang tertawanya, menurut deskripsi Kevin di bulan pertama grup ini, “berantakan kalau lagi bahagia”.
Yosua: Dan yang kemarin diajak “latihan kencan” seharian ke Bogor.
Rendi: …
Galih: …
Kevin: Yos
Yosua: Hipotesis paling sederhana biasanya yang benar.
Yosua: @Sabrina
Itu notifikasi yang membangunkanku.
Aku menatap layar. Magang menggigit ujung jariku. Aku tidak merasakannya.
Hipotesis paling sederhana biasanya yang benar.
Aku mengetik balasan.
Sabrina: Bukan aku.
Tiga titik muncul di bawah nama Yosua. Aku mengetik lagi sebelum dia sempat membalas.
Sabrina: Dia minta diajarin pedekate KE AKU, Yos. Nggak ada orang yang minta diajarin cara deketin seseorang ke orangnya sendiri. Itu nggak masuk akal.
Yosua: Itu tidak masuk akal untuk orang biasa.
Yosua: Mas Aris bukan orang biasa. Dia menjawab godaanmu dengan “sembilan belas liter”.
Sabrina: Yos. Stop.
Rendi: Sab… tapi Bogor…
Sabrina: Itu latihan. Dia bilang sendiri. “Makasih latihannya.” Terus dia nanya, kalau nanti beneran, dia mau ajak “dia” ke tempat yang sama. Menurutku “dia” bakal suka atau nggak.
Hening.
Galih: Aduh
Kevin: Sab…
Sabrina: Jadi bukan aku. Kalau aku, dia nggak akan nanya aku bakal suka atau nggak. Dia bakal langsung… ya. Pokoknya bukan aku.
Yosua: Atau dia sedang bertanya padamu, secara tidak langsung, apakah kamu suka.
Aku menatap pesan itu.
Lalu aku mematikan HP, meletakkannya terbalik di lantai, dan mengangkat Magang ke pangkuan.
Aku tidak boleh berharap. Aku sudah memutuskan. Berkali-kali. Setiap kali aku berharap, ada rendang yang dibagi ke tujuh orang. Setiap kali aku berharap, ada makasih latihannya.
Yosua dokter gigi. Dia ahli email gigi, bukan ahli Mas Aris.
Senin pagi, aku datang ke ruang GA jam delapan.
Aku tidak berencana. Kakiku yang membawaku ke sana, seperti di hari pertama mereka membawaku ke pantry dengan langkah yang sudah kulatih sejak SMA. Tapi hari ini langkahku tidak elegan. Hari ini langkahku cepat dan kacau, seperti orang yang terlambat naik kereta.
Dia sedang di meja gudang, menyortir kardus. Dia melihatku dan tersenyum.
”Pagi, Mbak. Pelajaran sembilan hari ini?”
”Mas,” kataku. “Aku mau nanya.”
Dia berhenti menyortir. “Iya, Mbak?”
”Orangnya.” Aku menelan ludah. “Orang yang kamu suka. Itu bukan Ayu, kan?”
Dia berkedip. Lalu dia tersenyum kecil, seperti mendengar lelucon.
”Bukan, Mbak. Mbak Ayu kan sama Mas Kevin. Kemarin sore Mas Kevin cerita ke saya. Saya senang, Mbak. Mereka cocok.”
”Terus siapa?”
Dia diam.
”Kasih tahu aku, Mas.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kurencanakan. Lebih bergetar. Sepuluh tahun latihan, dan pagi ini latihan itu tidak bekerja. “Aku gurunya. Aku harus tahu. Gimana aku bisa ngajarin pelajaran sembilan kalau aku nggak tahu orangnya siapa?”
Dia menatapku lama. Lebih lama dari lima detik.
Lalu dia membuka buku cokelat. Dia menatap halamannya. Aku tidak bisa melihat halaman apa.
”Belum boleh, Mbak,” katanya pelan. “Saya sudah janji. Kalau sudah yakin, Mbak orang pertama yang tahu.”
”Kapan?”
Dia menutup buku cokelatnya. Dia menatapku dengan wajah serius, wajah yang sama seperti di hari pertama, di depan dispenser, waktu dia menulis namaku di urutan keempat.
”Antri, ya, Mbak,” katanya. “Sebentar lagi.”
Dia mengatakannya dengan lembut. Dengan senyum kecil. Seolah itu janji.
Tapi aku tidak mendengarnya sebagai janji.
Aku mendengarnya sebagai yang dulu. Hari pertama. Nomor empat setelah dispenser. Di belakang Ayu, karena hari pertama. Di belakang gerobak mi, karena sudah janji. Empat bulan aku mendengar kalimat itu, dan setiap kali, aku di belakang sesuatu.
Sekarang aku antre bahkan untuk tahu nama perempuan yang dia cintai.
”Oke,” kataku. Suaraku normal lagi. Latihan sepuluh tahun kembali bekerja tepat pada waktunya. “Oke, Mas. Nggak apa-apa.”
”Mbak, saya…”
”Pelajaran sembilan minggu depan aja,” potongku. “Aku lagi banyak kerjaan. Laporan pasca-kampanye Rasa Nusa.”
”Mbak…”
Aku sudah berjalan keluar dari ruang GA.
Aku tidak menoleh ke belakang.
Aku cuma melihat lorong lantai tujuh yang panjang, dan meja tujuh belas di ujungnya, dan kursiku yang tidak pernah berbunyi lagi karena seseorang sudah memperbaikinya dengan sempurna di hari pertama.
Aku duduk di kursi itu dan membuka laporan pasca-kampanye.
Aku tidak membaca satu kata pun.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi reading
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris