Chapter One

Galon Sembilan Belas Liter

— Sabrina —

Hari ke-90 selalu jatuh pada pagi yang cerah. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin semesta juga suka ketepatan waktu.

Kafe Kevin baru buka jam tujuh, tapi aku sudah duduk di kursi dekat jendela sejak enam lima puluh delapan. Hoodie abu-abu miliknya sudah kulipat rapi di dalam paper bag dan kuletakkan di meja. Di sebelahnya ada kartu ucapan kecil bergambar kaktus. Isinya cuma satu kalimat: Makasih udah jadi tiga bulan yang menyenangkan.

Kevin keluar dari balik mesin espresso dengan celemek cokelat dan rambut yang belum sempat ditata. Dia melihat paper bag itu, lalu melihatku, lalu melihat kalender di dinding kafe.

”Hari ini, ya?” katanya.

”Hari ini,” jawabku.

Dia menghela napas panjang, panjang sekali, seperti orang yang sudah menyiapkan diri tapi tetap kaget waktu tagihannya datang. Lalu dia tersenyum. Kevin memang begitu. Baik, lucu, wangi kopi, dan tahu diri. Itulah kenapa aku memilihnya tiga bulan lalu.

”Kopi terakhir?” tanyanya.

”Oat latte, gula setengah.”

”Gratis. Anggap pesangon.”

Aku tertawa. Dia ikut tertawa, walaupun matanya sedikit merah. Aku pura-pura tidak melihat. Itu bagian dari sopan santun.

Ada tiga aturan yang kupegang sejak SMA, dan aku tidak pernah melanggar satu pun.

Satu: jangan lebih dari tiga bulan.

Dua: aku yang pergi duluan.

Tiga: jangan pernah menangis karena cowok.

Orang bilang aku playgirl. Aku lebih suka menyebut diriku efisien. Aku tidak pernah bohong soal perasaan karena aku memang tidak pernah punya perasaan yang perlu dibohongi. Aku datang, kami bersenang-senang, aku pergi sebelum ada yang terluka. Semua pulang dengan kenangan bagus. Rapi.

”Sab,” panggil Kevin waktu aku sudah berdiri di pintu.

”Hm?”

”Suatu hari nanti, kamu bakal ketemu orang yang bikin kamu lupa ngitung hari.”

”Amin,” kataku sambil melambai, “tapi jangan dalam waktu dekat, ya. Kalenderku penuh.”


Lumio Agency menempati lantai tujuh dan delapan sebuah gedung perkantoran di Kuningan. Lantai delapan untuk para kreatif yang suka bekerja sambil rebahan di bean bag. Lantai tujuh untuk kami, tim akun, yang harus terlihat waras di depan klien.

Aku masuk jam delapan lewat sepuluh. Seperti biasa, kepala-kepala menoleh.

Aku tidak sedang sombong. Ini data. Rambut hitam bergelombang sebahu yang kucatok sejak subuh, blus cream yang jatuh pas di bahu, rok pensil, heels lima senti yang masih manusiawi, dan lipstik merah yang kusebut Senjata Nomor Satu. Aku tahu wajahku bagus. Mataku agak sipit kalau senyum, dan ujung bibir kiriku naik sedikit lebih tinggi dari yang kanan. Kata Nadia, senyum miringku itu ilegal di beberapa negara.

”Gimana?” Nadia menyambutku di meja, belum mengangkat kepala dari laptop. Dia copywriter, sahabatku sejak kuliah, dan satu-satunya manusia di gedung ini yang kebal pesonaku.

”Selesai. Dia ngasih kopi gratis.”

”Kevin memang terlalu baik buat lo.”

”Makanya kulepas. Biar dia ketemu orang yang lebih baik.”

Nadia akhirnya menatapku. “Lo tahu kalimat itu kedengarannya kayak pidato pejabat yang korupsi, kan?”

Aku duduk, menyalakan laptop, dan mengabaikannya dengan anggun.

Lalu dari arah pantry, terdengar jeritan kecil.

”Galonnya habis!”

Itu Mbak Tari dari HR. Dia jarang menjerit kecuali soal dua hal: gosip dan air minum. Di belakangnya, tiga orang dari tim media sudah mengantre dengan tumbler kosong seperti pengungsi.

”Panggil Mas Aris,” kata seseorang.

”Udah di-WA,” jawab yang lain.

”Mas Aris siapa?” tanyaku pada Nadia.

Nadia menatapku lama. “Sab. Lo udah kerja di sini dua tahun.”

”Terus?”

”Mas Aris itu GA. General Affairs. Yang benerin AC, ganti galon, ngurus parkir, beliin lem tembak buat anak kreatif, nganterin Pak Leo ke dokter gigi waktu Pak Leo nangis.”

”Oh,” kataku. “Orang GA.”

Aku memang tahu ada orang GA. Seperti aku tahu ada orang yang mengisi tinta printer dan ada orang yang menyalakan lampu lobi. Mereka ada, mereka penting, tapi mereka tidak pernah masuk radar.

Pintu tangga darurat terbuka.

Seorang laki-laki masuk sambil memanggul galon di bahu kanan. Galon penuh. Sembilan belas liter. Dia memanggulnya seperti memanggul anak kecil yang ketiduran, tidak terburu-buru dan tidak goyah.

Dia tinggi. Itu hal pertama yang kucatat. Kulitnya sawo matang, rambutnya cepak rapi, dan kemeja abu-abunya disetrika sampai lipatan lengannya tajam seperti pisau. Di saku kemejanya menyembul sebuah buku catatan kecil bersampul cokelat.

”Permisi, Mbak Tari,” katanya sopan. Suaranya rendah dan tenang. “Maaf telat dua menit. Lift barang dipakai pindahan lantai tiga.”

”Mas Aris, ya ampun, kamu penyelamat,” kata Mbak Tari.

”Galon, Mbak. Galon yang menyelamatkan.”

Dia menurunkan galon, membuka segelnya, membalik, dan memasangnya ke dispenser dalam satu gerakan halus. Glug. Tiga orang tim media bertepuk tangan. Dia mengangguk kecil pada mereka seperti pemain biola yang sudah biasa menerima tepuk tangan tapi tetap malu.

Aku memperhatikan wajahnya. Garis rahangnya tegas, alisnya tebal, matanya agak teduh. Kalau dia mau sedikit saja memakai pomade dan berhenti memakai kemeja seragam, dia bisa jadi model iklan sampo pria.

Ini menarik.

”Nad,” bisikku, “dia ganteng.”

Nadia mengangkat alis. “Dan?”

”Dan dia belum pernah lihat aku.”

”Dia baru masuk dua menit, Sab.”

”Justru itu.”

Aku berdiri. Aku merapikan rok. Aku mengeluarkan Senjata Nomor Satu dari tas, memoles ulang bibirku dalam tiga detik tanpa cermin, lalu berjalan ke pantry dengan langkah yang sudah kulatih sejak SMA. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, dan pinggul tidak berlebihan. Elegan dan tidak murahan.

Mas Aris sedang mengelap tetesan air di sekitar dispenser. Aku berhenti di sampingnya, cukup dekat sampai dia bisa mencium parfumku. Vanila. Manis, hangat, dan tidak terlupakan. Aku menatap galon, lalu menatapnya, lalu tersenyum miring.

”Galonnya berat, ya, Mas?” kataku pelan. “Kayak perasaanku.”

Hening.

Mbak Tari berhenti mengunyah biskuit. Tim media berhenti mengisi tumbler. Bahkan dispenser seolah berhenti berdeguk.

Mas Aris menoleh. Dia menatapku dengan wajah serius, wajah orang yang menerima pertanyaan teknis dan ingin menjawabnya dengan benar.

”Berat, Mbak,” katanya. “Sembilan belas liter.”

Aku menunggu kelanjutannya.

Tidak ada kelanjutannya.

Dia kembali mengelap dispenser.

Di belakangku, Nadia tersedak air putih.

Oke. Itu cuma pemanasan. Mungkin dia tidak dengar bagian kedua. Aku memiringkan kepala sedikit, memberi sudut terbaik wajahku.

”Mas Aris, ya?”

”Iya, Mbak.”

”Aku Sabrina. Account.”

”Iya, Mbak Sabrina. Meja nomor tujuh belas, dekat jendela. Kursinya yang sandarannya miring ke kiri.”

Aku berkedip. “Kok tahu?”

”Bulan lalu ada laporan dari OB, Mbak. Katanya kursi meja tujuh belas bunyi kalau disandari.” Dia mengeluarkan buku cokelat dari saku, membukanya, dan menulis sesuatu dengan pulpen hitam yang terselip di sampulnya. “Maaf belum sempat. Antreannya panjang.”

”Antrean?”

”Iya, Mbak.” Dia menunjukkan buku itu sekilas, tidak cukup lama untuk dibaca, hanya cukup untuk kulihat deretan nomor dengan tulisan rapi. Sebagian dicoret satu garis lurus. “Semua permintaan tolong saya tulis di sini, Mbak. Biar nggak ada yang kelewat dan nggak ada yang diserobot.”

”Oh,” kataku. Lalu otakku yang licik bekerja. “Kalau gitu, Mas, kursiku sekarang bisa? Pinggangku pegel dari kemarin. Kayaknya butuh sentuhan profesional.”

Aku sengaja memberi jeda sebelum sentuhan profesional. Jeda adalah separuh dari seni menggoda.

Mas Aris mengangguk.

”Bisa, Mbak. Antri, ya. Mbak nomor empat.”

Nomor empat.

Aku, Sabrina Maharani, yang pernah membuat seorang manajer bank membatalkan rapat direksi hanya karena aku bilang aku lagi bosen, sekarang nomor empat. Setelah dispenser, lampu toilet lantai delapan, dan printer tim kreatif.

”Nomor empat,” ulangku.

”Iya, Mbak. Setelah makan siang, kira-kira.”

Dia menulis sesuatu lagi, menutup bukunya, mengangguk sopan pada semua orang di pantry, lalu pergi lewat pintu tangga darurat. Pintunya menutup dengan bunyi klik yang terdengar sangat final.

Aku berdiri di sana dengan senyum miring yang belum sempat kuturunkan.

”Sab,” kata Nadia dari belakang. Suaranya bergetar karena menahan tawa. “Lo barusan ditolak sama galon.”

”Aku nggak ditolak. Aku diantrekan.”

”Itu lebih parah.”


Kami membuat taruhan di jam makan siang, di warteg Bu Darsih di basement. Nadia memesan sayur asem dan tempe orek. Aku memesan telur balado dan perasaan dendam.

”Seminggu,” kataku sambil menusuk telur. “Seminggu, dia bakal ngelihatin aku kayak semua cowok lain ngelihatin aku.”

”Gimana emangnya semua cowok lain ngelihatin lo?”

”Kayak orang lihat diskon akhir tahun.”

Nadia menggeleng pelan. “Gue taruhan lo yang bosen duluan. Lo bakal nemu cowok baru di event klien minggu depan, terus lupa Mas Aris pernah ada.”

”Taruhan apa?”

”Sushi. All you can eat. Yang kalah bayar.”

”Deal.”

Kami berjabat tangan di atas piring. Bu Darsih yang sedang mengelap meja sebelah melirik kami.

”Neng Geulis lagi taruhan apa?” tanyanya. Bu Darsih memanggilku Neng Geulis sejak hari pertama aku makan di sini, dan aku tidak pernah keberatan.

”Taruhan soal Mas Aris, Bu,” jawab Nadia sebelum aku sempat mencegah.

Bu Darsih berhenti mengelap. Matanya menyipit. Lalu dia tertawa, tawa ibu-ibu yang punya banyak pengalaman dan sedikit kesabaran.

”Mas Aris?” katanya. “Aduh, Neng. Si Aris mah sudah dua tahun makan di sini. Tiap hari pesan sayur bening, tempe, sama kerupuk. Pernah ada mbak-mbak dari lantai sebelas yang tiap hari duduk depan dia. Tiap hari, Neng, dua bulan. Tahu Aris ngapain?”

”Ngapain, Bu?”

”Dibenerin kursinya. Soalnya mbaknya duduk goyang-goyang terus. Aris kira kursinya oleng.”

Nadia tertawa sampai harus menunduk ke meja. Aku menelan telur balado dengan martabat.

”Dua bulan?” tanyaku.

”Dua bulan. Terus mbaknya pindah kantor. Pas pamitan, Aris bilang, ‘Hati-hati di jalan, Mbak, semoga kursi di kantor barunya bagus.’”

Aku meletakkan sendok. Ini bukan lagi taruhan. Ini tantangan.


Jam dua lewat lima belas, dia datang.

Aku sudah siap. Lipstik dipoles ulang. Rambut kuurai ke satu sisi, memperlihatkan leher dan anting mutiara kecil. Kursi sudah kuputar sedikit menghadap lorong supaya dia bisa melihatku dari jauh.

Dia membawa kotak perkakas hitam. Buku cokelat masih di saku kemeja.

”Permisi, Mbak Sabrina. Kursinya.”

”Akhirnya, Mas,” kataku dengan suara yang kubuat agak lemas. “Aku nungguin dari tadi, lho.”

”Maaf, Mbak. Printer kreatif makan kertas tiga rim.”

Aku berdiri dan sengaja tidak mundur terlalu jauh, jadi waktu dia membungkuk untuk memeriksa sandaran, jarak kami tinggal setengah lengan. Aku bisa mencium wanginya. Bukan parfum, tapi sabun batang. Bersih dan sederhana, wangi yang mengingatkan pada handuk yang dijemur di bawah matahari.

Dia mengetuk sandaran kursi, menekannya, lalu mendengarkan dengan kepala dimiringkan seperti dokter mendengarkan detak jantung.

”Bautnya kendor, Mbak. Sama pernya agak kering.”

”Kayak hatiku,” kataku. “Kendor, kering. Butuh perhatian.”

Dia mengangguk serius. “Saya kasih pelumas, Mbak.”

Aku menahan napas. Di meja sebelah, Nadia pura-pura mengetik, tapi bahunya berguncang.

Lima menit kemudian, kursiku tidak bunyi lagi. Mas Aris duduk di atasnya untuk menguji, bersandar ke belakang, ke kiri, ke kanan. Gerakannya serius sekali.

”Mas,” kataku. Aku membungkuk, kedua tanganku bertumpu di sandaran tangan kursi, mengurungnya di antara lenganku. Wajahku sejengkal dari wajahnya. Rambutku jatuh ke bahunya. “Kursinya enak, ya? Muat nggak kalau aku ikut duduk? Di pangkuan, misalnya.”

Dia menatapku dari bawah. Serius. Lalu dia menunduk dan membaca stiker kecil di bawah dudukan kursi.

”Maksimal seratus kilo, Mbak,” katanya. “Berdua bahaya. Hidroliknya bisa jebol.”

Dia berdiri, menyelinap keluar dari kurungan lenganku dengan gerakan yang sangat sopan, seperti orang menghindari kabel yang menjuntai. “Silakan, Mbak. Sudah nggak bunyi.”

Aku duduk. Memang tidak bunyi. Kursiku sekarang adalah kursi terbaik di lantai tujuh. Aku hampir kesal betapa bagusnya.

”Makasih, Mas,” kataku, lalu menatapnya dengan tatapan yang biasanya membuat laki-laki lupa nama sendiri. “Aku utang budi, nih. Gimana kalau aku traktir kopi?”

”Nggak usah, Mbak. Sudah kerjaan saya.”

”Tapi aku pengin.”

”Kalau Mbak pengin, kopinya kasih ke Pak Darmo aja, Mbak. Satpam lobi. Beliau jaga malam terus, kasihan ngantuk.”

Dia mengeluarkan buku cokelat dan pulpen, lalu mencoret satu baris dengan garis lurus. Satu tarikan, rapi.

Lalu dia pergi.

Aku duduk di kursi terbaik di lantai tujuh dan menatap punggungnya sampai hilang di balik pintu tangga darurat. Ada sesuatu yang aneh di dadaku. Bukan debar. Aku tahu rasanya debar, dan ini bukan itu. Ini lebih mirip rasa penasaran yang belum menemukan namanya.

”Sab,” panggil Nadia.

”Diam.”

”Gue cuma mau bilang, tadi dia nyoret nama lo.”

”Aku tahu.”

”Nyoretnya cepet banget.”

”Aku tahu, Nadia.”

Selama dua tahun di gedung ini, dan dua puluh enam tahun di dunia ini, belum pernah ada laki-laki yang mencoret namaku. Biasanya mereka menyimpan. Menandai. Memberi bintang. Membuat folder khusus berisi fotoku.

Laki-laki ini mencoretku dalam satu garis lurus, lalu menyarankan aku mentraktir satpam.

Aku membuka laptop, membuka dokumen kosong, dan mengetik judul di bagian paling atas: Proyek M.A.

Lalu aku menatap kursi di bawahku. Kursi yang sekarang sempurna. Kursi yang tidak akan pernah rusak lagi.

Masalahnya, kalau tidak ada yang rusak, tidak ada alasan memanggilnya.

Aku mengetuk-ngetuk dagu. Mataku jatuh ke AC di langit-langit, yang selama dua tahun ini selalu terlalu dingin, dan selama dua tahun ini tidak pernah kulaporkan.

Senyum miringku kembali.

Besok, sesuatu di meja tujuh belas akan rusak lagi.