Chapter Thirty Seven

Epilog: Property of Aris

— Sabrina —

Rumah Mama di Pondok Indah belum pernah sepenuh ini.

Ruang tamu yang biasanya sunyi, dengan lantai marmer yang dulu memantulkan bunyi roda koper, sekarang dipenuhi tikar pandan, kursi lipat sewaan, dan empat puluh tiga orang yang semuanya bicara di saat yang sama.

Keluarga dari Kuningan datang naik mobil elf sewaan sejak subuh. Ibu dengan kebaya hijau muda dan kacamata yang, untuk pertama kalinya, tidak di atas kepala. Bapak dengan peci hitam dan batik cokelat yang kerahnya disetrika tajam. Mbak Ratih dengan Raka yang sekarang empat tahun dan sudah bisa memanggilku Tante Rendang, karena aku membawakan rendang Bu Darsih setiap kali video call. Kang Dadang, suami Mbak Ratih, yang ternyata lebih pendiam dari Bapak.

Dan sopir mobil elf itu, yang menyetir dari Kuningan ke Jakarta dengan seragam satpam yang kerahnya rapi sempurna, adalah Pak Darmo.

”Saya juru bicara,” katanya waktu turun dari mobil, dengan dada membusung. “Keluarga Aris. Resmi.”

”Pak Darmo bukan keluarga Aris, Pak.”

”Saya kakek Komisaris. Aris juga kakek Komisaris. Berarti kami saudara.”

Aku tidak bisa membantah logika itu.


Ruang tamu penuh.

Di sudut kiri, Bu Darsih menata rantang-rantang di meja panjang. Rendang, tempe orek, telur balado, sayur bening. Dia menolak katering. Ini lamaran Neng Geulis, katanya. Ibu yang masak. Dari jam dua pagi.

Di sudut kanan, alumni Kartu Kaktus. Kevin dengan kemeja batik, menggandeng Ayu yang memakai cincin kecil di jari manis, cincin yang Kevin selipkan di halaman pertama notebook kucing biru tua waktu wisuda. Rendi dengan setelan jas yang terlalu sempit di lengan, karena lengannya terlalu besar, didampingi instruktur yoga bernama Mbak Laksmi yang tersenyum sabar setiap kali Rendi menangis. Yosua, berdiri tegak di pojok seperti dokter yang sedang mengamati, dengan kacamata yang sesekali dia lepas dan pakai lagi. Kebiasaan yang dia tiru dari Pak Hendarto, katanya, karena itu cara yang efisien untuk menyembunyikan mata berair.

Dan Galih, yang duduk di kursi lipat paling depan, memangku pot terakota.

Kaktus kecil dengan tiga kuntum bunga merah muda di puncaknya.

”Saya rawat terus,” katanya waktu aku menyalaminya. “Sekarang bunganya tiga. Satu buat Sabrina, satu buat Mas Aris, satu buat… nanti.”

”Nanti apa, Lih?”

Galih memerah. “Nanti aja.”

Di sebelahnya, Nadia memegang carrier kucing biru, berisi Magang yang sekarang gendut dan oranye dan sangat mirip ibunya. Nadia tidak menangis. Nadia bilang dia tidak akan menangis di lamaran sahabatnya karena itu klise.

Matanya sudah merah sejak jam sembilan pagi.

Mbak Tari di dekat pintu, memotret semuanya untuk grup Lumio Ceria. Pak Leo di sebelahnya, dengan jas ungu dan tisu di setiap saku, sudah menangis sejak di parkiran.

Dan di samping Mama, duduk tegak dengan kemeja putih yang dikancing sampai leher, ada Pak Hendarto.

Dia datang sendiri. Tidak ada yang mengundangnya secara resmi. Dia cuma mengirim pesan ke Mas Aris seminggu lalu. Saya dengar ada lamaran. Saya mau lihat dapurnya.


Mama duduk di kursi rotan di ujung ruang tamu, dengan kebaya merah marun dan rambut di-blow. Di pangkuannya, mangkuk tembikar.

Mangkuk itu miring. Sangat miring. Pinggirnya bergelombang seperti ombak, warnanya cokelat kehijauan yang tidak rata, dan di dasarnya ada tulisan yang digores dengan tusuk gigi sebelum dibakar: L. 1st.

Mangkuk pertama Mama dari kelas tembikar. Yang dia buat sendirian, empat bulan lalu, tanpa om siapa pun.

”Buat tempat cincin,” kata Mama padaku pagi tadi. “Mama nggak mau beli kotak cincin. Mama mau pakai wadah yang Mama bikin sendiri.”

Mangkuk itu sekarang berisi dua cincin. Emas putih, polos, tanpa batu. Mas Aris memilihnya di toko emas di Pasar Baru, sendirian, setelah bertanya ke Nadia ukuran jariku, dan Nadia memberi tahu dengan syarat dia boleh ikut memilih. Dia tidak boleh ikut. Mas Aris bilang ini tugas pihak pertama.


Pak Darmo berdiri. Dia berdeham. Ruang tamu sunyi.

”Bismillah,” katanya. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

”Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab empat puluh tiga orang.

Pak Darmo menatap kertas di tangannya. Kertas bergaris dari buku tulis, ditulis tangan dengan huruf besar-besar. Dia sudah latihan tiga minggu, kata Mas Aris. Di pos satpam, setiap malam, di depan Komisaris.

”Saya, Darmo, satpam lobi gedung di Kuningan, Jakarta Selatan,” katanya. “Mewakili keluarga Bapak Haji Karta dan Ibu Sumi dari Kuningan, Jawa Barat. Kuningan yang itu.”

Seseorang tertawa. Mungkin Rendi.

”Kami datang ke sini,” lanjut Pak Darmo, “dengan maksud baik. Untuk melamar putri Ibu Lidya, Neng Sabrina Maharani, untuk anak kami, Aris Nugraha.”

Mama mengangguk. Matanya mulai basah.

Pak Darmo menurunkan kertasnya. Dia menatap kertas itu, lalu menatap ruang tamu, lalu dia melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku seragam.

”Sebenarnya saya sudah nulis pidato panjang,” katanya. “Tapi saya mau ngomong yang lain aja.”

Dia menatap Mas Aris, yang duduk di kursi di sebelah Bapak dengan kemeja abu-abu GA, karena dia bilang dia mau melamarku dengan baju yang dia pakai waktu pertama kali aku melihatnya.

”Saya kenal Aris dua tahun,” kata Pak Darmo. “Dia benerin semua yang rusak di gedung itu. Galon, lampu, AC, pompa air, kerah saya. Waktu anak saya sesak napas jam dua belas malam, dia yang gendong ke IGD. Dia nggak pernah minta apa-apa.”

Pak Darmo berhenti. Suaranya mulai pecah.

”Saya selalu bilang ke dia, Ris, kalau kamu cewek, saya lamar. Saya kira bercanda.” Dia menyeka mata dengan punggung tangan. “Ternyata hari ini saya beneran ngelamar. Buat dia.”

Ruang tamu pecah dalam tawa dan tangis sekaligus. Rendi menangis paling keras. Mbak Laksmi menepuk punggungnya dengan sabar.

”Motor yang bagus,” kata Pak Darmo, “itu motor yang dirawat pelan-pelan, nggak ditunggu mogok. Aris itu motor yang paling bagus yang pernah saya lihat. Dan Neng Sabrina…” Dia menatapku. “Neng Sabrina yang pertama kali buka tutupnya.”

Hening.

”Itu saja,” kata Pak Darmo. “Wassalamualaikum.”

Dia duduk. Bapak, di sebelahnya, menepuk bahunya tiga kali. Keras. Seperti Pak Darmo menepuk bahu Mas Aris di IGD.


Lalu Pak Leo berdiri, tanpa diminta, dengan tisu di tangan.

”Sebelum tukar cincin,” katanya, suaranya bergetar, “Lumio Agency punya sesuatu untuk diserahkan.”

Dia mengeluarkan map plastik dari tas kerjanya. Di dalamnya ada selembar kertas resmi dengan kop surat Lumio dan stempel biru.

Dia membacanya keras-keras, dengan suara pejabat.

”Berita Acara Penghapusan Aset Inventaris. Nomor: GA-JKT-047. Jenis aset: jaket parasut, warna abu-abu, ukuran L, sablon ‘PROPERTY OF LUMIO’. Kondisi: baik, lipatan lengan mencong. Aset dihapus dari daftar inventaris perusahaan dan dijual kepada karyawan atas nama Aris Nugraha seharga empat puluh lima ribu rupiah. Lunas.”

Pak Leo menurunkan kertas itu.

”Saya tanda tangan sendiri,” katanya. “Jam dua pagi. Sambil nangis.”

Mas Aris berdiri. Dia mengambil sesuatu dari tas selempangnya. Kantong kertas.

Dia berjalan ke arahku, melewati tikar pandan dan kursi lipat dan empat puluh tiga orang yang menahan napas.

Dia mengeluarkan jaket itu.

Jaket inventaris. Abu-abu tua, bahan parasut. Yang dia pakaikan padaku di bawah kanopi minimarket, di malam hujan jenis kedua. Yang kucuci dan kusetrika sendiri dengan lipatan lengan yang mencong. Yang kubawa diam-diam ke Surabaya di dasar koper, di bawah semua blus untuk rapat klien.

Dia membalik jaket itu, supaya punggungnya menghadapku.

Tulisan sablon putih di punggungnya masih ada. PROPERTY OF LUMIO.

Tapi kata LUMIO dicoret. Satu garis lurus, dengan spidol hitam. Rapi.

Di bawahnya, ditulis tangan dengan spidol putih, huruf kapital, sedikit miring karena ditulis di atas bahan parasut yang licin:

ARIS

PROPERTY OF ARIS.

Aku menatap tulisan itu.

”Sekarang punyaku,” katanya pelan. “Aku beli. Lunas. Jadi aku boleh kasih ke siapa aja.”

Dia memakaikannya padaku. Di atas kebaya putih yang Mama pilihkan. Memasukkan lenganku satu per satu ke lubang lengan, seperti memakaikan baju ke anak kecil. Menarik zipper sampai ke dada.

Jaket itu kebesaran. Lengannya menutupi jari-jariku. Wangi sabun batang dan vanila dan jeruk nipis, bercampur jadi satu.

Di ruang tamu, Nadia akhirnya menangis. Klise atau tidak.

Aku menatap jaket itu, lalu menatapnya.

Lalu aku mengulurkan tangan ke saku kemeja abu-abunya dan mengambil buku cokelat. Aku membukanya di halaman belakang, halaman yang dulu berjudul Mbak Sabrina, sekarang cuma Sabrina. Aku mengambil pulpen dari sampulnya.

Di bagian paling atas halaman, di atas namaku, aku menulis dengan huruf kapital yang miring ke kanan:

PROPERTY OF SABRINA.

Aku mengembalikan buku itu ke sakunya. Di dadanya. Di tempatnya setiap hari.

Dia menatap saku itu. Lalu dia tertawa. Lewat hidung. Matanya hilang jadi garis.


— Aris —

Ada satu hal yang tidak kuceritakan ke siapa pun sebelum hari ini.

Buku tolong yang kesebelas sudah penuh.

Halaman terakhirnya terisi minggu lalu, malam sebelum aku pergi ke Pasar Baru untuk membeli cincin. Aku menulis di sana sambil duduk di pinggir kasur busa di kamar kos tiga kali tiga meter, dengan setrikaan yang masih hangat dan kemeja abu-abu untuk hari ini yang sudah tergantung di paku.

Satu baris. Satu nama. Satu tugas.

Sekarang, di ruang tamu rumah Ibu Lidya, dengan Sabrina berdiri di depanku memakai jaket yang sudah jadi miliknya, aku membuka buku itu di halaman terakhir. Aku membaliknya supaya dia bisa membaca.

Sabrina — lamaran.

Tidak ada tanda centang di ujungnya.

”Belum dikerjain,” kataku.

Dia menatap halaman itu. Lalu dia menatapku. Matanya basah. Bukan karena debu gudang. Bukan karena sambal kepedasan. Aturan ketiga yang baru, di serbet warteg Bu Darsih yang sekarang jadi Lampiran B: boleh nangis, kalau cowoknya kamu.

Ibu Lidya berdiri dari kursi rotan. Dia membawa mangkuk tembikar yang miring, dengan dua cincin emas putih di dalamnya, dan meletakkannya di atas meja kecil di antara kami.

Ruang tamu sunyi. Empat puluh tiga orang. Bahkan Raka berhenti mengunyah nastar.

Aku menatap dua cincin di dalam mangkuk miring itu.

Sepanjang hidup, aku selalu mengerjakan semuanya berurutan. Siapa yang minta duluan, dia yang dikerjakan duluan. Adil. Rata. Tidak ada yang diserobot. Antri, ya.

Tapi ada satu orang yang tidak pernah antre. Dari hari pertama, dari galon sembilan belas liter, dari kayak perasaanku. Aku saja yang butuh empat bulan untuk sadar.

Aku mengambil cincin yang lebih kecil dari mangkuk itu. Lalu aku tidak memakaikannya.

Aku memberikannya padanya. Di telapak tangannya.

Lalu aku mengulurkan tangan kiriku sendiri.

Dia menatapku bingung. Di ruang tamu, Ibu Lidya menutup mulut dengan tangan. Ibu, di kursi sebelah Bapak, menggenggam lengan Bapak.

”Kamu duluan,” kataku.

Dia mengerti.

Dia mengambil cincin yang lebih besar dari mangkuk miring. Dia memegang tanganku. Jari-jarinya gemetar. Jari-jari yang dulu memasang lipstik merah dalam tiga detik tanpa cermin, yang dulu mencatat skor Aris 9 – Sabrina 0 di HP, yang dulu menulis kartu kaktus untuk laki-laki yang tidak dia sayangi.

Dia memasangkan cincin itu ke jari manisku.

Pas.

Lalu aku memasangkan cincinnya ke jari manisnya. Pelan. Hati-hati. Seperti memasang galon. Seperti memasang engsel pintu kamar ibunya.

Pas.

Aku tidak melepas tangannya. Aku menunduk dan mencium punggung tangannya, tepat di atas cincin itu. Sebentar. Rapi. Di depan empat puluh tiga orang.

Ruang tamu meledak.

Tepuk tangan, tangisan, siulan. Pak Leo pingsan sebentar di kursi lipat dan dibangunkan oleh Mbak Tari dengan biskuit kelapa. Rendi memeluk Yosua, yang membiarkannya dengan wajah orang yang sudah pasrah. Galih mengangkat kaktus berbunga tiga ke udara seperti piala. Kevin mencium kening Ayu. Bu Darsih berteriak dari dekat rantang, Makan! Makan dulu semua! Jangan nunggu!

Dan Pak Hendarto, di samping kursi rotan Ibu Lidya, melepas kacamatanya.

Dia tidak mengelapnya. Dia tidak memakainya lagi.

Dia cuma memegangnya, dan dia tersenyum.


Di tengah semua keributan itu, Sabrina menarik ujung kemeja abu-abuku. Dia menunjuk ke buku cokelat di sakuku.

”Centang,” bisiknya.

Aku mengeluarkan buku itu. Aku membuka halaman terakhir. Sabrina — lamaran.

Aku mengambil pulpen. Aku memberikan tanda centang di ujung baris itu.

Satu tarikan. Rapi.

Lalu aku menutup buku kesebelas itu untuk terakhir kalinya, dan aku mengeluarkan buku lain dari tas selempang. Buku kedua belas. Sampulnya cokelat, sama seperti sebelas yang lain. Masih baru, plastik pembungkusnya sudah kubuka tadi pagi, halaman-halamannya masih kaku dan wangi kertas.

Aku membuka halaman pertama.

Aku sudah menulis di sana. Tadi pagi, jam lima, sebelum Ibu menelepon.

1. Sabrina.

Tidak ada masalah yang ditulis di sebelahnya. Tidak ada AC, kursi, lampu, galon.

Baris kedua kosong. Baris ketiga kosong. Seluruh halaman kosong, kecuali satu nama itu.

Sabrina menatap halaman itu lama.

”Isinya apa?” tanyanya.

”Belum tahu,” kataku. “Nanti kita isi.”

”Kapan selesainya?”

Aku menatapnya. Perempuan dengan kebaya putih dan jaket parasut kebesaran bertuliskan namaku di punggungnya, dengan lipstik merah yang sedikit luntur karena menangis, dengan cincin emas putih di jari manis.

Dulu, di hari pertama, dia bilang galon itu berat, kayak perasaannya. Aku bilang sembilan belas liter.

Sekarang aku tahu jawaban yang benar.

”Nggak selesai,” kataku. “Nggak mau selesai.”


Tadi pagi, jam lima lewat tiga, Ibu menelepon.

Seperti setiap pagi, sejak aku pertama kali merantau ke Jakarta.

”Ris.”

”Iya, Bu. Assalamualaikum.”

”Waalaikumsalam. Sudah subuh?”

”Sudah, Bu.”

”Sudah makan?”

”Belum, Bu. Masih jam lima.”

”Nanti makan, ya. Jangan cuma kopi.”

”Iya, Bu.”

Hening sebentar. Aku menunggu. Pertanyaan yang sama, setiap pagi, sejak aku berumur dua puluh empat.

Tapi pagi ini, Ibu tidak bertanya.

Ibu cuma tertawa, pelan, lewat hidung. Aku tahu dari mana aku belajar tertawa seperti itu.

”Sudah ada calon, ya, Ris,” kata Ibu. Bukan pertanyaan.

Aku menatap buku kedua belas di pangkuanku. Halaman pertama. Satu nama.

”Sudah, Bu,” kataku.

”Yang pengin kamu tolong duluan?”

”Iya, Bu.”

”Alhamdulillah.” Suara Ibu terdengar seperti angin di pohon bambu belakang rumah. Panjang dan sabar, dan kali ini tidak sedih sama sekali. “Makan, ya, Ris. Ibu masak rendang. Bukan buat tamu.”

”Iya, Bu.”

”Sama satu lagi, Ris.”

”Iya, Bu?”

”Jangan lupa matiin lampu.”

Aku tertawa.

Lalu aku mematikan lampu kamar kos tiga kali tiga meter, untuk terakhir kalinya sebagai laki-laki yang belum pernah naksir siapa-siapa, dan aku berangkat.


— Tamat —