Chapter Eleven
Listrik Padam Saat Pitching
— Sabrina —
Pak Hendarto punya satu kebiasaan yang membuat seluruh industri periklanan Jakarta membencinya.
Dia tidak pernah datang ke ruang pitching klien. Dia datang ke kantor agensi.
”Saya tidak beli presentasi,” katanya waktu menjelaskan aturan itu di rapat kick-off. “Saya beli orang. Saya mau lihat dapur kalian.”
Jadi hari ini, jam dua siang, dapur kami akan dilihat.
Lantai tujuh Lumio Agency belum pernah serapi ini. Mbak Tari menyewa tanaman hias dari toko di Kemang. Anak-anak kreatif disuruh membereskan bean bag di lantai delapan dan menyembunyikan kardus mi rebus jam dua pagi. Pak Leo memakai setelan jas lengkap untuk pertama kalinya dalam sejarah, dan dia terus menarik-narik kerah seperti orang yang dicekik dasinya sendiri.
Dan Mas Aris sudah mengecek ruang meeting besar empat kali sejak jam tujuh pagi.
Aku tahu karena aku menghitung.
”Proyektor dua,” katanya sambil menunjuk, waktu aku masuk jam satu untuk gladi terakhir. “Satu utama, satu cadangan. Kabel HDMI tiga. Clicker dua, baterai baru. Sound sudah dites. AC dua puluh empat, biar nggak ngantuk tapi nggak keringetan. Jam dinding sudah dicocokkan sama jam HP.”
”Mas,” kataku. “Kamu lebih tegang dari aku.”
Dia berpikir sebentar. “Iya, Mbak.”
Aku tertawa. Lalu aku sadar dia tidak bercanda. Tangannya yang memegang buku cokelat sedikit gemetar.
”Kenapa tegang?”
”Mbak sudah kerja tiga minggu,” katanya pelan. “Lembur tiap malam. Ke warteg jam dua siang. Pakai sandal jepit.” Dia menatap ruang meeting yang sempurna. “Saya cuma bisa ngurus barangnya, Mbak. Jadi barangnya harus beres semua.”
Aku berdiri di ambang pintu dan tidak bisa bicara sebentar.
Lalu aku melangkah ke depannya dan merapikan kerahnya. Kerahnya tidak terlipat. Aku cuma butuh alasan untuk menyentuhnya.
”Barangnya udah beres, Mas,” kataku. “Makasih.”
Jam satu empat puluh, aku berdiri di depan cermin toilet perempuan lantai tujuh dan menyadari tanganku gemetar.
Bukan gemetar besar. Gemetar kecil, di ujung jari, yang hanya terlihat waktu aku membuka tutup lipstik. Senjata Nomor Satu bergoyang sedikit di udara sebelum menyentuh bibirku.
Aku menatap tanganku sendiri. Aku tidak pernah gemetar sebelum pitching. Aku sudah memimpin dua puluh tiga presentasi, dan tanganku selalu diam seperti permukaan danau.
Tapi hari ini lantai delapan dipertaruhkan. Bean bag dan papan ide dan dapur kecil tempat anak-anak kreatif membuat mi jam dua pagi. Dan di suatu tempat di gedung ini, seorang laki-laki sudah mengecek ruang meeting empat kali dengan tangan yang juga gemetar.
Pintu toilet terbuka. Mbak Tari masuk, melihatku, lalu berhenti.
”Kamu gugup,” katanya. Bukan pertanyaan.
”Nggak.”
”Sabrina, saya HR. Saya sudah lihat ratusan orang gugup sebelum wawancara kerja. Kamu gugup.” Dia berdiri di sebelahku, merapikan kerudungnya di cermin. “Tahu nggak, tadi pagi Aris minta saya cetak ulang daftar hadir pitching tiga kali? Katanya takut nama Pak Hendarto salah eja.”
Aku tertawa kecil. Tanganku berhenti gemetar sebentar.
”Kalian berdua tuh sama,” kata Mbak Tari sambil mengedipkan mata ke cermin. “Sama-sama nggak mau kelihatan takut. Sama-sama takut buat satu sama lain.”
Dia keluar sebelum aku sempat membantah.
Aku memoles lipstik dengan tangan yang sekarang diam. Merah. Rapi. Tajam.
Hari ini senjatanya bukan untuk laki-laki. Hari ini untuk klien.
Aku cuma tidak yakin lagi apakah aku masih bisa membedakan keduanya.
14.00
Pak Hendarto datang tepat waktu. Kemeja putih dikancing sampai leher, kacamata berbingkai tipis, dua ajudan setengah langkah di belakang. Dia menyalami Pak Leo, menyalamiku, lalu matanya menyapu ruang meeting.
Dia tidak berkata apa-apa. Tapi aku melihatnya berhenti sebentar di pojok ruangan, tempat Mas Aris berdiri dengan kotak perkakas di kaki, siap seperti pemadam kebakaran.
Mereka saling mengangguk. Kecil sekali.
Presentasi dimulai.
Aku membuka dengan data. Lima puluh dua persen konsumen Rasa Nusa membeli produk di luar jam makan normal. Jam dua siang. Jam sebelas malam. Jam tiga pagi. Pekerja shift, satpam, perawat, kurir, mahasiswa yang begadang, ibu yang menyusui jam dua pagi.
”Selama sepuluh tahun,” kataku, “Rasa Nusa dijual di jam makan malam keluarga. Meja panjang, lampu kuning, anak-anak tertawa. Tapi pembeli kalian tidak makan di jam itu. Mereka makan di jam yang dunia lupa.”
Slide berikutnya. Foto yang diambil Ayu minggu lalu, di warteg Bu Darsih jam dua siang. Meja panjang, Pak Darmo, Mas Ujang, kurir paket, cleaning service lantai sebelas. Semuanya memegang mangkuk mi.
Pak Hendarto melepas kacamata. Mengelapnya. Memakainya lagi.
”Kampanye kami,” kataku, “namanya Jam Berapa Pun.”
Slide berikutnya.
Slide berikutnya tidak muncul.
Layar putih berkedip. Lampu di langit-langit berkedip. AC berbunyi klik panjang seperti orang menghela napas.
Lalu semuanya mati.
14.17
Gelap.
Bukan gelap total. Ada cahaya abu-abu dari jendela, karena di luar mendung. Tapi ruang meeting besar ada di tengah lantai tujuh, dan jendelanya cuma satu, kecil, di pojok. Cahaya yang masuk hanya cukup untuk melihat bentuk-bentuk. Kepala. Bahu. Kilatan kacamata Pak Hendarto.
Aku berdiri di depan layar yang sekarang hitam.
Napasku tertahan.
Ruangan sempit. Gelap. Pintu tertutup. Di suatu tempat di kepalaku, suara dari balik pintu itu mulai berbisik lagi, isak tangis yang ditahan, dan tanganku mulai dingin.
Bukan sekarang. Bukan sekarang.
”Mohon maaf, Pak,” suara Pak Leo bergetar dari kegelapan. “Ini… ini pasti cuma sebentar. Gensetnya otomatis. Lima detik.”
Lima detik berlalu. Sepuluh. Lima belas.
Lampu tidak menyala.
Di luar ruang meeting, aku mendengar suara orang-orang. Kaget, bingung, seseorang menabrak kursi. Lift pasti mati. Komputer pasti mati. Seluruh gedung mati.
Lalu, dari pojok ruangan, ada bunyi kecil.
Klik.
Satu cahaya putih menyala. Senter HP. Diarahkan ke langit-langit, bukan ke wajah orang, sehingga cahayanya memantul dan menyebar lembut ke seluruh ruangan.
”Mohon maaf, Pak, Bu, Mbak,” kata Mas Aris dari pojok. Suaranya tenang. Rendah. Suara yang sama yang menenangkan Pak Leo di lift, yang menyuruh Dimas meniup lilin. “Listrik PLN padam satu blok. Genset gedung harusnya otomatis nyala, tapi sepertinya macet. Saya turun ke ruang genset sekarang.”
Dia berjalan ke arahku. Bukan ke pintu. Ke arahku dulu.
Dia meletakkan HP-nya di meja di depanku, senter masih menyala, diarahkan ke langit-langit.
”Mbak lanjut aja,” katanya pelan, hanya untukku. “Saya nggak lama.”
Lalu dia pergi. Pintu terbuka, cahaya abu-abu dari lorong masuk sebentar, lalu pintu tertutup lagi.
Aku menatap HP di meja. Layar kuncinya foto Komisaris tidur di jok motor. Baterainya tinggal empat puluh tiga persen.
Napasku kembali.
14.20
Aku tidak tahu siapa yang memulainya.
Mungkin Nadia. Mungkin Ayu. Mungkin Reza dari tim strategi. Tapi satu per satu, di ruang meeting itu, senter-senter HP menyala. Diarahkan ke langit-langit, seperti yang dilakukan Mas Aris. Lima. Delapan. Dua belas. Bahkan salah satu ajudan Pak Hendarto, setelah melirik atasannya, menyalakan senter HP-nya.
Cahaya putih memantul dari langit-langit dan jatuh lembut ke seluruh ruangan, seperti cahaya bulan di kamar tidur.
Lalu pintu ruang meeting terbuka lagi.
Pak Darmo. Membawa senter besar dari pos satpam. Di belakangnya, Mas Ujang dengan lampu emergency dari parkiran. Di belakangnya, dua OB dengan lilin aromaterapi dari toilet eksekutif lantai delapan, satu-satunya lilin di seluruh gedung, wangi lavender.
”Kata Aris, ruang meeting harus terang,” kata Pak Darmo. “Ini pitching penting.”
Mereka meletakkan senter dan lampu dan lilin lavender di sudut-sudut ruangan, lalu berdiri di dekat pintu. Tidak pergi. Seperti penonton yang tidak punya tiket tapi tidak mau melewatkan pertunjukan.
Aku menatap mereka. Pak Darmo dengan seragam yang kerahnya terlipat. Mas Ujang dengan rompi oranye parkiran. Dua OB yang masih memegang kain pel.
Orang-orang yang makan di jam yang dunia lupa.
Aku mengerti apa yang harus kulakukan.
14.23
”Pak Hendarto,” kataku. “Boleh saya lanjut tanpa slide?”
Pak Hendarto menatapku dari balik kacamata yang memantulkan cahaya senter. Lama. Lalu dia melipat tangan di dada.
”Silakan.”
Aku melangkah ke depan, menjauh dari layar hitam, ke tengah ruangan, ke tempat cahaya dari langit-langit paling terang.
”Bapak tahu kenapa saya bilang ‘jam yang dunia lupa’?” tanyaku. “Karena di jam-jam itu, nggak ada yang ngelihat. Nggak ada kamera. Nggak ada iklan. Nggak ada meja panjang dan lampu kuning. Yang ada cuma orang-orang yang tetap kerja waktu dunia istirahat. Dan mereka makan dalam keadaan… kayak gini.”
Aku mengangkat tangan, menunjuk ruangan. Senter-senter HP. Lilin lavender. Lampu emergency parkiran.
”Gelap. Seadanya. Tapi nggak sendirian.”
Aku menoleh ke arah pintu. Ke Pak Darmo.
”Pak Darmo, boleh saya tanya? Bapak terakhir makan jam berapa?”
Pak Darmo kaget. Dia menatap Pak Leo, lalu Pak Hendarto, lalu aku.
”J-jam tiga pagi, Mbak. Tadi. Habis jaga malam.”
”Makan apa?”
”Mi, Mbak. Rasa Nusa. Yang soto.”
”Makan sama siapa?”
Pak Darmo berpikir. “Sama si Aris, Mbak. Dia nemenin. Dia belum pulang, benerin genset… eh, benerin pompa air. Terus kita masak mi di pos pakai kompor kecil. Komisaris juga nungguin.”
Seseorang di ruangan tertawa pelan. Bukan tawa mengejek. Tawa hangat.
Aku menoleh kembali ke Pak Hendarto.
”Itu kampanye kami, Pak. Bukan keluarga di meja panjang. Satpam dan staf GA jam tiga pagi, masak mi di pos pakai kompor kecil, ditemani kucing gendut. Perawat jam dua siang di pantry rumah sakit. Kurir yang makan di jok motor. Mahasiswa yang begadang. Kami mau foto mereka, rekam mereka, ceritakan mereka. Dan semuanya diakhiri satu kalimat.”
Aku berhenti. Ruangan hening. Hanya bunyi lilin lavender yang mendesis pelan.
”Jam berapa pun, kamu nggak sendirian.”
Tepat di detik itu, lampu menyala.
Semua lampu. Langit-langit, lorong, layar proyektor yang menyala dan langsung menampilkan slide yang tadi tidak muncul: foto warteg Bu Darsih jam dua siang, dengan tulisan besar di bawahnya: JAM BERAPA PUN.
AC berbunyi klik, lalu berdengung lagi. Di lorong, seseorang bersorak. Di lantai delapan, anak-anak kreatif bertepuk tangan.
Di ruang meeting, tidak ada yang bergerak.
Aku tidak merencanakannya. Tidak ada yang merencanakannya. Tapi semua orang di ruangan itu, termasuk Pak Hendarto, menatap slide yang menyala tepat setelah kalimat terakhirku, seperti melihat sihir.
Pak Hendarto melepas kacamatanya.
Dia tidak mengelapnya. Dia cuma memegangnya, menatapku dengan mata telanjang yang ternyata jauh lebih tua dan lebih lembut dari yang kukira.
”Saya dulu kerja shift malam di pabrik,” katanya pelan. “Waktu umur dua puluh. Pabrik Rasa Nusa yang pertama, di Surabaya. Jam tiga pagi, saya makan mi di samping mesin, sama mandor saya.”
Ruangan hening.
”Saya lupa,” katanya. “Tiga puluh tahun, saya lupa.”
Dia memakai kacamatanya lagi. Wajahnya kembali jadi layar laptop yang sleep mode.
”Lanjutkan presentasinya,” katanya. “Pakai slide. Saya mau lihat angkanya.”
15.40
Presentasi selesai.
Pak Hendarto tidak bilang menarik. Dia tidak bilang apa-apa. Dia menyalami Pak Leo, menyalamiku, menyalami Nadia, lalu berjalan ke pintu.
Di pintu, dia berhenti dan menoleh ke Pak Darmo yang masih berdiri di sana dengan senter besar.
”Mi soto,” kata Pak Hendarto. “Tambah telur?”
”T-tambah telur, Pak.”
Pak Hendarto mengangguk, satu kali. Lalu dia pergi.
Begitu pintu lift menutup, Pak Leo jatuh terduduk di kursi dan memegangi dadanya.
”Saya mau pingsan,” katanya. “Saya beneran mau pingsan. Siapa yang matiin listrik? Siapa yang nyalain lagi tepat pas itu? Siapa yang ngatur ini semua?”
”Nggak ada yang ngatur, Pak,” kataku.
Tapi aku tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Aku menemukannya di ruang genset di basement lantai dua.
Ruangan itu sempit dan panas, bau solar dan oli. Mesin genset sebesar mobil berdengung keras di tengahnya. Mas Aris duduk di lantai beton, bersandar ke dinding, dengan kaos abu-abu yang sekarang hitam belang-belang kena oli. Kemejanya tergantung di paku di dinding, supaya tidak kotor. Tentu saja.
Wajahnya juga belang. Ada noda oli di pipi kiri, di dahi, di ujung hidung.
Dia melihatku dan berdiri cepat-cepat.
”Mbak. Gimana? Lampunya nyala pas, kan? Saya dengar dari HT Pak Darmo, Mbak lagi ngomong, jadi saya tunggu dulu…”
Aku berhenti melangkah.
”Kamu tunggu?”
”Iya, Mbak. Gensetnya sudah bisa nyala dari lima menit sebelumnya. Tapi Pak Darmo bilang di HT, Mbak lagi ngomong yang penting, semua orang lagi dengerin. Kalau lampu nyala tiba-tiba di tengah, nanti kaget, konsentrasinya pecah.” Dia menggaruk kepala, meninggalkan noda oli baru di rambutnya. “Jadi saya tunggu Mbak selesai ngomong. Pak Darmo kasih kode lewat HT. ‘Sekarang, Ris.’ Terus saya nyalain.”
Aku menatapnya.
Lampu yang menyala tepat setelah kalimat terakhirku. Sihir yang membuat seluruh ruangan terpaku. Pak Hendarto yang membuka kacamata.
Itu bukan sihir.
Itu laki-laki bersandal kets dengan kaos belepotan oli, duduk lima menit di ruang genset yang panas, menunggu kode dari satpam di HT, supaya aku tidak kehilangan konsentrasi.
”Mas,” kataku. Suaraku keluar aneh. “Kamu tahu nggak, tadi itu bagian terbaik dari presentasiku?”
”Oh, ya?” Dia tersenyum, matanya hilang jadi garis di antara noda oli. “Bagus, Mbak. Saya nggak ngapa-ngapain, tapi bagus.”
Kamu ngapa-ngapain. Aku sudah berkali-kali memikirkan kalimat itu, dan aku tidak pernah mengatakannya.
Aku mengeluarkan sapu tangan putih dengan bordir huruf S dari saku blazer. Sapu tangan dari malam IGD. Aku melangkah ke depannya, dan aku menghapus noda oli di pipi kirinya.
Dia diam karena aku tidak memintanya bergerak.
Pipi. Dahi. Ujung hidung. Pelan-pelan. Oli genset ternyata susah hilang. Sapu tangan putihku sekarang hitam.
”Mbak, nanti kotor.”
”Ya udah, kotor.”
Aku menatap wajahnya dari jarak sedekat ini, di ruang genset yang panas dan bising, dan aku tidak memikirkan senjata apa pun. Tidak memikirkan senyum miring, tatapan lima detik, atau skor di catatan HP.
Aku cuma memikirkan satu hal. Bahwa aku ingin terus menghapus noda oli dari wajahnya sampai noda itu tidak ada lagi, dan bahkan setelah itu.
”Udah,” kataku akhirnya. Aku menurunkan tangan.
”Makasih, Mbak.”
”Sama-sama.”
Kami berdiri di sana, di samping genset yang berdengung. Lalu HP-ku bergetar. Pesan di grup tim tender, dari Pak Leo, dengan huruf kapital semua.
HENDARTO BARU TELEPON. KITA MENANG. LANTAI 8 TIDAK JADI DIJUAL. SAYA NANGIS. SEMUA KE WARTEG BU DARSIH SEKARANG SAYA TRAKTIR. ARIS JUGA. MANA ARIS.
Lalu satu pesan lagi, lima detik kemudian:
Dan Hendarto bilang dia mau ORANG GA KITA ikut di tim produksi syuting. Katanya: “Dia yang tahu jam berapa satpam makan.” Ini perintah klien. Aris, kamu dipinjam.
Aku membacanya keras-keras.
Mas Aris berkedip. Lalu menatap sapu tangan hitam di tanganku. Lalu menatap genset.
”Syuting iklan?” katanya pelan. “Saya?”
”Kamu.”
”Mbak,” katanya. Untuk pertama kalinya, aku melihat ekspresi di wajahnya yang belum pernah kulihat. Panik yang lucu. Panik orang yang baru tahu dia harus naik panggung. “Saya nggak bisa akting.”
”Kamu nggak disuruh akting. Kamu disuruh ngurus barang.”
”Oh.” Dia menghela napas lega. “Kalau ngurus barang, bisa.”
Aku tertawa. Lewat hidung, berantakan, di ruang genset yang bau solar.
Waktu itu aku belum tahu. Tidak ada yang tahu. Bahwa beberapa minggu kemudian, di sebuah lokasi syuting di Puncak, kalimat kamu nggak disuruh akting akan jadi kebohongan terbesar yang pernah kuucapkan.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching reading
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris