Chapter Twenty Five
Di Balik Pintu
— Sabrina —
Umur sembilan.
Koper Papa warnanya biru tua, dengan roda yang berbunyi trrrk di lantai marmer.
Aku ingat bunyinya lebih jelas daripada wajah Papa. Aneh, ya. Wajah orang yang pernah menggendongmu, mengajarimu naik sepeda, membacakan dongeng kancil sebelum tidur, bisa pudar. Tapi bunyi roda koper di lantai marmer jam enam pagi tidak pernah pudar.
Trrrk. Trrrk. Trrrk.
Papa berlutut di depanku di ruang tamu. Dia mencium dahiku. Wangi kopi dan aftershave.
”Papa pergi sebentar, Sayang.”
”Ke mana?”
”Kerja.”
”Kapan pulang?”
Papa tidak menjawab. Dia mengusap kepalaku, berdiri, dan berjalan ke pintu depan.
Trrrk. Trrrk.
Pintu menutup.
Papa tidak pernah pulang.
Rabu malam, jam sembilan lewat empat puluh, aku masih di kantor.
Aku sengaja. Sejak Senin pagi di ruang GA, aku bekerja sampai larut setiap malam. Laporan pasca-kampanye Rasa Nusa sudah selesai sejak Selasa, tapi aku menemukan hal-hal lain untuk dikerjakan. Merapikan arsip. Membaca ulang brief klien lama. Menyusun ulang folder di laptop berdasarkan warna.
Apa pun, asal tidak ada pelajaran sembilan.
Dia tidak memaksa. Dia cuma mengirim pesan setiap malam jam sembilan. Mbak, sudah makan? Jangan lembur kemalaman. Aku membalas dengan satu kata. Udah. Atau Iya.
Setiap malam aku melihat lampu ruang GA di ujung lorong masih menyala. Dia juga belum pulang. Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak bertanya.
HP-ku berdering. Mama.
Aku menatap layar. Ini bukan jam Mama menelepon. Mama menelepon jam tujuh pagi kalau senang, jam sebelas malam kalau sedih. Jam sembilan empat puluh bukan jam siapa-siapa.
Aku mengangkatnya.
”Sab.” Satu suku kata. Pendek. Tapi bukan suara sedih yang biasa. Suara panik. “Sab, pintunya nggak bisa dibuka.”
”Pintu apa, Ma?”
”Pintu kamar Mama. Mama di dalam. Kuncinya macet. Mama udah putar-putar, nggak bisa. Gagangnya copot, Sab. Copot di tangan Mama.”
Aku berdiri.
”Bi Inah mana, Ma?”
”Pulang kampung. Dari Senin.” Suara Mama pecah. “Sab, Mama nggak bisa keluar. Jendelanya teralis. HP Mama tinggal sepuluh persen. Mama takut, Sab.”
Lalu suara itu.
Suara yang kukenal sejak umur sembilan.
Isak tangis yang ditahan. Dari balik pintu.
Umur sembilan, seminggu kemudian.
Mama tidak keluar dari kamar selama tiga hari.
Bi Inah, yang dulu masih muda, mengantarkan makanan ke depan pintu kamar Mama tiga kali sehari. Piringnya kembali utuh tiga kali sehari.
Aku duduk di lantai lorong, di depan pintu kamar Mama, dengan boneka kelinci bernama Bubu di pangkuan.
Dari balik pintu, aku mendengar Mama menangis. Tidak keras. Mama tidak pernah menangis keras. Mama menangis seperti orang yang menahan napas di bawah air, pendek-pendek, tertahan, lalu lepas sebentar, lalu ditahan lagi.
Aku mengetuk pintu.
”Ma?”
Tangisnya berhenti. Hening.
”Sab, Mama nggak apa-apa,” suara Mama dari balik pintu. Serak. “Sab main sama Bi Inah dulu, ya.”
”Mama kapan keluar?”
”Besok, Sayang.”
Besok datang. Mama tidak keluar.
Aku duduk di depan pintu itu lagi. Bubu di pangkuan. Aku mendengarkan Mama menangis, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa membuka pintunya. Aku tidak bisa membuat Papa pulang. Aku cuma bisa duduk dan mendengarkan, dan mendengarkan, dan mendengarkan.
Waktu itu aku memutuskan sesuatu. Anak sembilan tahun, dengan boneka kelinci, di lantai lorong yang dingin. Aku tidak tahu kata-katanya. Tapi aku tahu rasanya.
Aku tidak akan pernah jadi orang di balik pintu.
Aku berlari ke lorong.
Aku tidak berpikir. Aku tidak memikirkan bahwa aku sedang menghindarinya. Aku tidak memikirkan pelajaran sembilan, atau antri, ya, atau nama perempuan yang belum boleh kuketahui. Kakiku membawaku ke ruang GA di ujung lorong seperti malam itu, malam IGD, waktu tanganku meraih kunci mobil sebelum otakku sempat melarang.
Dia sedang duduk di meja gudang, menulis sesuatu di buku cokelat.
Dia mendongak. Wajahnya berubah begitu melihat wajahku.
”Mbak?”
”Mas.” Suaraku keluar berantakan. “Pintu kamar Mama. Macet. Mama terkunci di dalam. Gagangnya copot. Pondok Indah.”
Dia sudah berdiri sebelum aku selesai bicara.
Dia tidak bertanya apa-apa. Dia menyambar kotak perkakas hitam dari bawah meja, membuka laci, mengambil sesuatu yang kecil dan berkilau, dan memasukkannya ke saku. Lalu dia mengambil jaket inventaris dari gantungan, bukan untuk dirinya, tapi menyampirkannya ke bahuku.
”Mbak pucat lagi,” katanya. “Ayo. Pakai mobil Mbak. Saya yang nyetir, kalau boleh.”
Aku memberikan kunci mobilku padanya.
Dia menyetir seperti dia melakukan semua hal. Tenang. Cepat. Tidak ragu. Jalur busway lagi. Dia bilang nanti dia yang bayar tilangnya.
Aku duduk di kursi penumpang dan menelepon Mama terus-menerus. Menyuruhnya duduk. Menyuruhnya minum air dari botol di meja rias. Menyuruhnya menyimpan baterai HP.
”Mama, ini aku udah di jalan. Mama tunggu, ya. Jangan nangis.”
”Mama nggak nangis,” kata Mama, menangis.
Di lampu merah Pondok Indah, Mas Aris mengulurkan tangan kirinya, tanpa menoleh, dan menggenggam tanganku yang sedang mencengkeram lutut.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia tidak menatapku. Dia cuma menggenggam. Tangan besar, kasar, kapalan, hangat. Lalu lampu berubah hijau, dan dia melepasnya untuk memindahkan gigi.
Umur tujuh belas.
Pacar pertamaku namanya Dion. Kakak kelas, kapten tim basket, senyumnya membuat setengah sekolah pingsan.
Kami pacaran empat bulan. Di bulan keempat, dia mulai jarang membalas pesan. Di minggu terakhir bulan keempat, aku melihatnya di kantin dengan adik kelas berambut pendek.
Malam itu aku pulang, masuk ke kamar, dan mengunci pintu.
Aku duduk di lantai, bersandar ke pintu, dan aku mulai menangis.
Lalu aku berhenti.
Aku mendengar suaraku sendiri. Isak tangis yang ditahan, pendek-pendek, seperti orang menahan napas di bawah air.
Aku mengenal suara itu.
Itu suara Mama.
Aku berdiri. Aku menyalakan lampu. Aku mencuci muka di wastafel kamar mandi sampai mataku tidak merah. Lalu aku mengambil pulpen dan buku harian, dan aku menulis tiga baris.
Satu: jangan lebih dari tiga bulan.
Dua: aku yang pergi duluan.
Tiga: jangan pernah menangis karena cowok.
Besoknya, aku memutuskan Dion di depan kantin. Sebelum dia sempat memutuskanku. Aku tersenyum waktu mengatakannya. Senyum miring, untuk pertama kalinya.
Dion menatapku dengan wajah kaget, seolah aku baru saja mencuri sesuatu darinya.
Aku memang mencurinya. Aku mencuri kesempatannya untuk meninggalkanku.
Sejak hari itu, aku tidak pernah jadi orang di balik pintu.
Rumah Mama di Pondok Indah terlalu besar untuk satu orang.
Dua lantai, cat putih, taman depan dengan pohon kamboja yang dirawat tukang kebun seminggu sekali. Lampu teras menyala. Lampu-lampu di dalam mati semua, kecuali satu jendela di lantai dua.
Kamar Mama.
Aku membuka pintu depan dengan kunci cadangan. Rumah itu gelap dan sunyi. Marmer di lantai ruang tamu memantulkan cahaya dari teras.
Marmer yang sama. Ruang tamu yang sama.
Trrrk. Trrrk.
Aku berhenti di ambang pintu. Kakiku tidak mau bergerak.
”Mbak,” suara Mas Aris di belakangku. Pelan. “Lantai dua?”
”Iya.” Suaraku keluar kecil. “Ujung lorong. Pintu kayu cokelat.”
Dia berjalan duluan. Dia menyalakan lampu-lampu di sepanjang jalan. Ruang tamu. Tangga. Lorong lantai dua. Satu per satu, rumah itu menjadi terang.
Aku mengikutinya.
Lorong lantai dua. Karpet krem. Foto-foto keluarga di dinding, foto-foto yang sudah tidak ada Papa-nya, foto-foto Mama dengan pacar-pacar yang berganti-ganti, foto-fotoku dari TK sampai wisuda.
Dan di ujung lorong, pintu kayu cokelat.
Pintu yang sama.
Aku berhenti tiga langkah dari pintu itu. Di tempat yang sama persis di mana aku dulu duduk dengan Bubu di pangkuan.
Dari balik pintu, aku mendengar Mama menangis.
Kakiku tidak bisa bergerak. Tanganku dingin. Dadaku menyempit seperti di lift yang gelap, seperti di ruang meeting waktu listrik padam.
Aku umur sembilan lagi.
”Bu,” kata Mas Aris ke pintu. Suaranya tenang, rendah, sopan. Suara yang dia pakai untuk Pak Leo di interkom lift, untuk Dimas di mobil. “Bu Lidya? Saya Aris, temannya Mbak Sabrina. Saya mau buka pintunya, ya, Bu. Ibu mundur sedikit dari pintu.”
Tangis di balik pintu berhenti.
”Siapa?” suara Mama, serak.
”Aris, Bu. Tukang benerin barang.”
Dia berlutut di depan pintu. Dia membuka kotak perkakas. Dia memeriksa lubang tempat gagang pintu tadinya terpasang. Lalu dia mengeluarkan benda kecil berkilau dari sakunya, yang tadi dia ambil dari laci. Kawat tipis yang dibengkokkan, dan obeng mini.
”Kuncinya slot lama, Bu,” katanya ke pintu. “Pegasnya patah, makanya gagangnya copot. Sebentar, ya.”
Aku berdiri di belakangnya dan memperhatikan tangannya bekerja. Jari-jari yang kapalan, memasukkan kawat ke lubang kunci, memutar pelan, mendengarkan. Kepalanya dimiringkan ke pintu, seperti dokter mendengarkan detak jantung. Seperti di hari pertama, waktu dia memeriksa kursiku yang berbunyi.
Klik.
Pintu terbuka.
Mama berdiri di tengah kamar dengan daster sutra ungu, rambut berantakan, maskara luntur sampai ke pipi. Tangannya masih memegang gagang pintu yang copot.
Dia menatap Mas Aris yang berlutut di depan pintu dengan kawat di tangan.
Lalu dia menatapku, yang berdiri tiga langkah di belakang.
Lalu dia menatap Mas Aris lagi.
Dan Mama, Mamaku, yang lima menit lalu menangis seperti orang tenggelam, menyipitkan mata dan berkata:
”Kamu… kamu yang di iklan mi instan.”
Mas Aris berkedip. “Iya, Bu.”
”Mas Mi Instan.”
”Itu… iya, Bu. Orang-orang manggil begitu.”
Mama menatapnya dari atas sampai bawah. Lalu, dengan maskara luntur dan mata bengkak dan gagang pintu copot di tangan, dia tersenyum. Senyum yang kukenal. Senyum miring.
”Ganteng juga aslinya,” kata Mama. “Lebih ganteng dari di TV.”
Aku memejamkan mata.
Itu Mama. Mamaku. Tiga puluh detik setelah keluar dari balik pintu.
Dan aku, di lorong lantai dua, dengan jaket inventaris di bahu, tertawa. Lewat hidung. Berantakan. Dengan air mata yang, entah sejak kapan, sudah ada di pipiku.
Mama tertidur jam sebelas lewat setengah, setelah minum teh chamomile yang dibuat Mas Aris di dapur, setelah bercerita soal Om Darwin, pengganti Om Ferdi, yang membatalkan makan malam ulang tahunnya lewat pesan WhatsApp satu kalimat.
Mas Aris mendengarkan semuanya. Pelajaran enam. Dia tidak memotong. Dia cuma mengangguk dan sesekali bilang iya, Bu.
Waktu Mama akhirnya tertidur di kasurnya, Mas Aris memeriksa pintu kamar itu sekali lagi. Dia memasang gagang pintu darurat dari kawat, supaya bisa dibuka dari dua sisi. Lalu dia membuka-tutup pintu itu dua kali.
Engselnya berderit. Kriiiet.
”Engselnya juga sudah aus, Mbak,” bisiknya. “Saya perlu beli yang baru. Nanti saya balik lagi, saya ganti yang bagus. Biar nggak bunyi.”
”Nggak usah, Mas.”
”Harus, Mbak.” Dia menatap pintu kayu cokelat itu. “Pintu yang bunyi kalau dibuka, nanti orang di dalamnya malu mau keluar. Takut ketahuan.”
Aku menatapnya.
Dia tidak tahu. Dia tidak tahu soal Bubu, soal lantai lorong yang dingin, soal tiga hari dan piring yang kembali utuh. Dia cuma tukang benerin barang yang memperhatikan bunyi engsel.
Tapi dia benar.
Kami duduk di teras belakang rumah Mama, di kursi rotan yang menghadap kolam renang kecil. Kolam yang sudah lama tidak dipakai, airnya diam dan gelap, memantulkan lampu taman.
Dia membawakan dua gelas teh hangat dari dapur Mama. Tanpa gula, karena dia tidak menemukan gula. Mama tidak pernah menyimpan gula.
Kami minum dalam diam.
Lalu aku bercerita.
Aku tidak merencanakannya. Aku tidak memutuskannya. Kalimat-kalimat itu keluar sendiri, seperti air dari keran yang pegasnya sudah lama patah.
Koper biru tua. Bunyi roda di marmer. Papa pergi sebentar. Tiga hari di depan pintu dengan Bubu. Piring yang kembali utuh. Om Hans, Om Ferdi, Om Darwin, dan semua om sebelumnya. Mama yang menangis di balik pintu setiap kali, dan aku yang duduk di luar pintu setiap kali, dari umur sembilan sampai umur delapan belas, sampai aku pindah ke apartemen sendiri dan berhenti duduk di luar pintu itu.
Dion. Kantin. Buku harian. Tiga aturan.
”Aku nggak mau jadi Mama,” kataku ke kolam renang yang gelap. “Aku nggak mau jadi orang yang nangis di balik pintu. Jadi aku yang pergi duluan. Selalu. Sebelum mereka sempat pergi. Sebelum aku sempat nunggu.”
Hening.
”Semua orang pergi, Mas,” kataku. “Papa. Om-om itu. Pacar-pacarku, kalau aku nggak pergi duluan, mereka juga bakal pergi. Pasti. Itu cuma soal siapa yang duluan.”
Aku menunggu dia menghibur. Aku menunggu dia bilang nggak semua orang begitu, Mbak atau Mbak pasti ketemu orang yang baik. Kalimat-kalimat yang biasa diucapkan orang. Kalimat-kalimat yang tidak pernah membuatku merasa lebih baik.
Dia tidak mengatakan itu.
Dia meletakkan gelas tehnya di meja rotan. Dia mengeluarkan buku cokelat dari saku kemeja. Dia membukanya, dan dia menunjukkan halaman-halamannya padaku. Untuk pertama kalinya. Bukan halaman belakang. Halaman-halaman antrean.
Nama-nama. Ratusan. Dengan tanda centang di ujung setiap baris.
Pak Darmo — Dimas asma. ✓
Bu Darsih — galon warteg. ✓
Mbak Tari — toples biskuit. ✓
Pak Leo — kursi pijat (jangan dibenerin). ✓
Komisaris — kardus melahirkan. ✓
Satu per satu. Halaman demi halaman. Semuanya dicentang.
”Saya nggak pinter ngomong, Mbak,” katanya pelan. “Tapi saya mau Mbak lihat ini.”
Aku menatap halaman-halaman itu.
”Sebelas buku,” katanya. “Sejak SMA. Saya nggak pernah ninggalin satu nama pun. Kalau sudah saya tulis, saya selesaikan. Mau lama, mau susah, mau harus nunggu sparepart dua minggu. Saya selesaikan.”
Dia menutup buku itu. Dia menatapku. Mata cokelat tua dengan cincin kayu, di bawah lampu taman.
”Saya nggak pernah pergi dari antrean, Mbak.”
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku takut pada sesuatu yang bukan ditinggalkan.
Aku takut pada orang yang tidak akan pergi.
Karena orang yang tidak akan pergi, tidak bisa kutinggalkan duluan. Tidak ada aturan untuk itu. Tidak ada kartu kaktus. Tidak ada hari ke-90. Kalau aku jatuh pada orang yang tidak akan pergi, aku tidak punya pintu darurat. Aku cuma bisa menunggu.
Menunggu dia memilihku. Atau menunggu dia memilih orang lain, perempuan yang namanya belum boleh kuketahui, dan menyelesaikan antreannya dengan rapi, dengan tanda centang, sementara aku duduk di depan pintu dengan Bubu di pangkuan.
Aku berdiri.
”Udah malam,” kataku. “Aku antar kamu pulang.”
”Mbak…”
”Makasih, Mas. Udah benerin pintunya.” Suaraku normal. Sepuluh tahun latihan. “Engselnya nanti aja. Nggak usah buru-buru.”
Aku berjalan masuk ke rumah sebelum dia bisa melihat wajahku.
Di belakangku, dia tidak memanggil.
Aku naik ke lantai dua untuk mengecek Mama sekali lagi. Di ujung lorong, pintu kayu cokelat kamar Mama berdiri setengah terbuka, dengan gagang darurat dari kawat dan engsel yang masih berderit setiap kali angin malam menyentuhnya.
Kriiiet.
Seperti seseorang yang ingin keluar, tapi masih malu.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu reading
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris