Chapter Eight

Sabrina Belum Pernah Kalah

— Sabrina —

”Lo nyetir jam dua belas malam, nembus hujan, masuk jalur busway, ke IGD, buat anak satpam.”

”Iya.”

”Terus lo ngobatin luka cakaran dia pakai plester beruang.”

”Itu satu-satunya plester yang ada.”

”Terus lo minum kopi tubruk sama dia di warung terpal sampai jam dua pagi.”

”Jam dua lewat sepuluh.”

Nadia meletakkan potongan martabak manisnya ke piring. Pelan sekali, seperti meletakkan barang bukti di meja sidang.

”Sabrina Maharani,” katanya. “Kapan terakhir kali lo minum kopi tubruk?”

Aku berpikir. “Nggak pernah.”

”Kapan terakhir kali lo duduk di bangku tanpa sandaran?”

”Nggak pernah.”

”Kapan terakhir kali lo ngobatin luka orang?”

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.

Nadia mengangguk puas, mengambil kembali martabaknya, dan menggigitnya dengan wajah jaksa yang baru saja memenangkan perkara.


Sabtu malam di apartemen Nadia adalah tradisi kami sejak kuliah. Martabak manis setengah keju setengah cokelat, satu botol teh jasmine dingin, dan drama Korea yang selalu kami jeda setiap dua puluh menit karena salah satu dari kami punya sesuatu untuk diceritakan.

Malam ini, drama Koreanya sudah dijeda sejak menit ketiga.

Di layar televisi, aktor utamanya membeku dengan mulut setengah terbuka, tangan terulur ke arah perempuan yang sedang menangis di halte bus. Dia sudah membeku seperti itu empat puluh menit. Kasihan.

”Gue mau tanya satu hal,” kata Nadia. “Jawab jujur.”

”Aku selalu jujur.”

”Lo selalu jujur ke cowok. Lo jarang jujur ke diri sendiri. Itu beda.”

Aku diam. Itu terlalu tepat untuk dibantah.

”Lo masih mau menang?”

”Menang apa?”

”Taruhan kita. Proyek M.A. Bikin dia ngelihatin lo kayak orang lihat diskon akhir tahun.” Nadia menyilangkan kaki di atas sofa. “Lo masih mau dia jatuh, terus lo pergi di hari ke-90 kayak biasa?”

”Tentu saja.”

”Oke. Kalau gitu, kenapa lo belum balikin jaketnya?”

Aku menatapnya.

”Mbak Tari bilang jaket itu udah lima hari di kursi lo,” lanjut Nadia. “Lo pakai tiap lembur. Lo bilang ke anak-anak itu ‘jaket hangat’. Belum dicuci. Mbak Tari sampai cium dari jauh, katanya wangi sabun batang.”

”Mbak Tari harus berhenti mencium jaket orang.”

”Sab.”

”Aku lupa balikin.”

”Lo nggak pernah lupa apa pun. Lo inget ulang tahun mantan lo yang ketujuh belas, dan lo cuma pacaran sama dia lima minggu.”

Aku menarik bantal sofa dan memeluknya. Lalu aku sadar aku sedang memeluk bantal, persis seperti malam waktu aku mengirim belum tidur? ke Mas Aris. Aku melepas bantal itu dengan cepat.

Nadia melihat semuanya. Tentu saja.


HP-ku bergetar di meja. Nadia melirik layarnya lebih cepat dari aku.

”Kevin,” bacanya.

Aku mengambil HP. Pesan dari Kevin jarang datang sejak hari ke-90. Kevin tahu aturannya. Kevin selalu sopan dengan aturan.

Sab, maaf ganggu malam minggu. Mau nanya satu hal aja, nggak penting kok.

Tanya aja.

Anak magang yang kemarin bareng kamu. Yang payungnya kebuka di kafe. Namanya Ayu, ya?

Aku menatap pesan itu. Lalu aku memutar HP ke arah Nadia.

Nadia membaca. Matanya membesar. Lalu dia mengambil HP dariku, mengetik balasan sebelum aku sempat mencegah, dan mengirimkannya.

Iya, Ayu Lestari. Kenapa? Naksir?

”NADIA!”

”Biar cepet.”

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Kevin sedang mengetik, menghapus, mengetik lagi. Aku tahu kebiasaan itu. Itu kebiasaanku waktu mengirim belum tidur?

Akhirnya:

Bukan gitu. Dia ninggalin notebook kucingnya di meja kasir. Mau balikin aja.

Nadia dan aku saling pandang.

”Notebook kucing,” kata Nadia pelan. “Itu notebook yang dia peluk kayak nyawa. Nggak mungkin ketinggalan.”

”Kecuali dia sengaja.”

”Atau kecuali dia segitu gugupnya sampai lupa dia punya tangan.”

Aku mengetik balasan, sendiri kali ini: Aku kasih tahu dia. Nanti dia ambil sendiri ke kafe.

Lalu aku menambahkan: Baik-baik ya sama dia. Dia polos.

Balasan Kevin datang cepat: Aku selalu baik, Sab. Kamu tahu itu.

Lalu satu pesan lagi:

Btw, cowok tinggi yang di foto story Mbak Tari kemarin siapa? Yang pakai jaket abu-abu, lagi benerin jam dinding? Ada kamu di belakangnya, lagi ngelihatin dia sambil senyum.

Aku membeku.

Nadia sudah membuka Instagram sebelum aku sempat bernapas. Dia mencari akun Mbak Tari, menggulir story, dan berhenti.

Itu foto ruang meeting. Diambil dari pintu. Fokusnya ke papan tulis penuh kertas tempel kuning, dengan caption: Tim tender lembur lagi, semangat Lumio!! 💪

Di pojok kanan, Mas Aris berdiri di atas kursi, mengganti baterai jam dinding.

Di pojok kiri, aku duduk dengan jaket inventaris kebesaran. Mataku tidak menatap laptop. Mataku menatap pojok kanan.

Dan aku tersenyum.

Bukan senyum miring. Senyum yang biasa saja. Senyum yang tidak dipakai untuk apa-apa.

Nadia memperbesar foto itu dengan dua jari, sampai wajahku memenuhi layar. Lalu dia memutar HP ke arahku tanpa berkata apa-apa.

Aku menatap wajahku sendiri.

Aku tidak mengenali perempuan itu.


”Oke,” kata Nadia, dan suaranya berubah. Tidak lagi suara jaksa. Suara sahabat sejak semester dua, yang dulu menemaniku begadang waktu Mama menelepon jam tiga pagi sambil menangis karena pacarnya yang ketiga pergi. “Gue nggak mau ngeledek lagi. Gue serius sekarang.”

”Nad…”

”Dengerin dulu.” Dia menarik kakinya ke atas sofa dan memeluk lutut. “Selama gue kenal lo, lo selalu menang. Lo pilih cowok, cowok jatuh, lo pergi. Polanya sama. Cowoknya beda-beda, tapi polanya sama. Lo bahkan bisa nebak di hari keberapa mereka bakal ngirim good morning pertama.”

”Hari ketiga,” kataku otomatis. “Paling lambat hari kelima.”

”Nah. Dan Mas Aris?”

Aku diam.

”Udah berapa hari?”

”Dua puluh tiga.”

”Dia pernah ngirim good morning?”

”Dia ngirim foto AC yang udah dibenerin. Jam setengah delapan pagi. Itu dihitung?”

”Nggak.”

”Ya udah. Belum pernah.”

Nadia mengangguk pelan.

”Sab. Gue tanya sekali lagi, dan kali ini gue mau lo mikir dulu sebelum jawab.” Dia menatapku lurus. “Lo masih ngejar dia karena pengin menang? Atau karena lo penasaran?”

”Itu sama aja.”

”Beda.” Nadia menggeleng. “Pengin menang itu lo mau dia jatuh. Penasaran itu lo mau tahu dia. Lo mau tahu kenapa dia nyetrika kemeja jam sebelas malam. Lo mau tahu kenapa dia jahit tali jam tangan sendiri. Lo mau tahu dia nulis apa di buku cokelatnya.”

Aku memandangi aktor Korea yang masih membeku di layar dengan tangan terulur.

”Orang yang pengin menang,” lanjut Nadia, “nggak bakal ngobatin luka cakaran pakai plester beruang jam satu pagi. Orang yang pengin menang bakal pakai momen itu buat flirt. Aduh Mas, kasihan, sini aku tiupin.”

Aku tidak menjawab, karena itu benar. Malam itu, di IGD, aku tidak flirt sama sekali. Aku lupa lagi. Kedua kalinya aku lupa.

”Lo penasaran, Sab,” kata Nadia pelan. “Bukan pengin menang. Gue rasa lo sendiri belum sadar.”

Aku mengambil sepotong martabak hanya supaya mulutku punya kerjaan. Keju dan cokelatnya sudah dingin.

”Terus kalau aku penasaran, kenapa?” tanyaku. “Penasaran kan nggak dosa.”

”Nggak dosa,” jawab Nadia. “Cuma bahaya. Buat lo.”

”Kenapa bahaya?”

Nadia tidak langsung menjawab. Dia menatap layar televisi yang masih membeku, lalu menatapku lagi, dan suaranya jadi lebih hati-hati. Suara orang yang tahu dia sedang mendekati pintu yang selalu dikunci.

”Nyokap lo masih sama Om yang punya kapal itu?”

Aku berhenti mengunyah.

”Om Hans? Udah nggak. Dua bulan lalu.”

”Siapa yang pergi?”

Aku tidak menjawab.

Nadia mengangguk pelan, seolah diamku sudah cukup. Dia tidak bertanya lagi. Itu kelebihan Nadia: dia tahu persis di mana pintu itu berada, dan dia tidak pernah memaksa membukanya.

”Gue cuma mau bilang,” katanya, “orang yang penasaran itu biasanya nggak bisa pergi duluan, Sab. Orang yang penasaran itu nungguin. Dan lo nggak pernah mau jadi orang yang nungguin.”

Aku memandangi martabak di tanganku.

”Itu sebabnya ada aturan,” kataku akhirnya.

”Gue tahu,” kata Nadia. “Makanya gue bilang bahaya.”

Dia mengambil remote dan menekan play. Aktor Korea di layar akhirnya bergerak, setelah empat puluh menit membeku. Tangannya meraih bahu perempuan di halte bus, dan perempuan itu menoleh dengan mata basah.

Kami menonton dalam diam. Aku tidak tahu apa yang terjadi di adegan itu. Aku tidak mendengar satu kalimat pun.


Aku pulang jam sebelas malam.

Apartemen studioku di lantai dua belas sebuah gedung di Setiabudi. Lima puluh meter persegi. Dinding putih, sofa abu-abu, rak buku yang separuhnya berisi majalah fesyen dan separuhnya buku pemasaran. Semuanya rapi. Semuanya cantik. Semuanya sunyi.

Aku menyalakan lampu. Lampunya menyala.

Tidak ada yang rusak. Tidak pernah ada yang rusak di apartemenku. Setiap kali ada yang rusak, aku menelepon teknisi gedung, membayar, dan teknisinya pergi. Tidak ada buku cokelat. Tidak ada antrean. Tidak ada yang bertanya enak gimana.

Jaket inventaris tergantung di sandaran kursi meja kerja, tempat aku meninggalkannya semalam.

Aku berdiri di depannya. Aku mengambilnya. Aku membawanya ke mesin cuci di pojok dapur, membuka tutupnya, dan bersiap memasukkannya.

Tanganku berhenti di atas lubang mesin cuci.

Wangi sabun batang itu masih ada. Samar sekali sekarang, tertimpa parfum vanilaku sendiri setelah lima hari kupakai. Dua wangi yang tidak seharusnya bertemu, bercampur di satu jaket parasut murahan dengan tulisan PROPERTY OF LUMIO di punggungnya.

Kalau kucuci, dua-duanya hilang.

Aku menutup tutup mesin cuci. Aku membawa jaket itu kembali ke kursi. Aku menggantungnya lagi, merapikan bahunya supaya tidak kusut, seperti merapikan kerah kemeja seseorang.

Besok. Aku akan mencucinya besok.

Aku duduk di kasur dan membuka catatan di HP. Proyek M.A. Aku menggulir ke halaman terakhir. Aris 5 – Sabrina 0.

Aku menambahkan baris baru.

Hari ke-23. Evaluasi ulang.

Lift: lupa flirt selama 20 menit.
Hujan: berdiri bagi dua angin. Bukan strategi.
IGD: lupa flirt total. Ngobatin luka. Pakai plester beruang.

Skor tidak berubah. Aris 5 – Sabrina 0.

Tapi kenapa aku nggak keberatan?

Aku menatap pertanyaan itu lama sekali.

Lalu aku mengetik kalimat yang dua minggu lalu kutulis dengan nada kesal. Malam ini, aku menulisnya dengan nada yang lain. Nada yang tidak bisa kuberi nama.

Senjataku nggak mempan.

Lalu, di bawahnya:

Mungkin bukan senjatanya yang salah. Mungkin medannya.


Tapi sebelum mengakui itu, aku memberi medan lama satu kesempatan terakhir.

Jam sebelas lewat dua puluh, aku menelepon. Bukan chat. Panggilan video.

Aku memakai camisole satin warna sampanye. Tali tipis. Rambut terurai di satu bahu. Lampu kamar kuredupkan, tinggal lampu tidur kuning. Aku menaruh HP di atas bantal, sedikit lebih rendah dari wajahku. Sudut yang sudah kuuji di cermin. Sudut yang membuat laki-laki lupa nama sendiri.

Dia mengangkat di dering ketiga. Wajahnya muncul setengah gelap, dengan latar dinding kamar kos yang catnya mengelupas. Kaos oblong. Setrikaan di tangan.

”Mbak? Ada yang rusak?”

”Nggak ada.” Aku menurunkan satu tali camisole dari bahu. Pelan. Seolah tidak sengaja. “Aku cuma mau nanya soal jaketmu. Kapan harus kubalikin?”

Dia menatap layar. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke kamera, sampai yang terlihat hanya alis tebal dan mata yang menyipit serius.

”Mbak, tali bajunya melorot,” katanya. “Dibenerin dulu, nanti masuk angin. Lantai dua belas anginnya kencang.”

Aku membenarkan tali itu.

”Terus HP-nya goyang terus dari tadi, Mbak. Gambarnya miring. Mbak perlu tripod? Di gudang ada satu, bekas syuting. Besok saya bawakan.”

”…Nggak usah.”

”Jaketnya kapan-kapan aja, Mbak. Nggak buru-buru.” Dia mengangkat setrikaan sedikit ke kamera, seperti menunjukkan bukti. “Saya lanjut nyetrika, ya. Selamat malam, Mbak. Jangan lupa matikan lampu.”

Layar menghitam.

Aku menatap pantulan wajahku di layar HP yang mati. Camisole satin. Lampu tidur kuning. Sudut kamera yang sempurna.

Dan sebuah tripod bekas syuting yang besok pagi pasti sudah berdiri di samping meja tujuh belas.


Aku memikirkan semua kekalahanku. Kedinginan di ruang meeting. Tatapan lima detik di lorong. Chat jam sebelas malam. Makan siang di warteg. Kerah kemeja. Lift. Hujan.

Semua senjata itu senjata duniaku. Dunia yang kutinggali sejak SMA. Dunia tempat laki-laki menunggu sinyal, membaca kode, dan merespons godaan. Dunia tempat permainan punya aturan, dan aku tahu semua aturannya.

Mas Aris tidak tinggal di dunia itu.

Dia tinggal di dunia lain. Dunia galon dan pipa bocor, kucing gendut dan anak asma, warteg dan kopi tubruk. Dunia tempat orang tidak saling menggoda. Mereka saling menolong. Dunia yang aturannya cuma satu: antri, ya.

Aku sudah dua puluh tiga hari berdiri di pinggir dunia itu dan melempar batu ke dalamnya. Pantas tidak ada bunyi plung.

Kalau aku tidak bisa menariknya ke duniaku…

Aku duduk tegak di kasur.

Aku membuka email kantor. Aku mengetik pesan ke Pak Leo, dengan tembusan ke Mbak Tari di HR. Subjeknya: Usulan observasi lapangan untuk tender Rasa Nusa.

Pak Leo,

Insight utama pitching kita adalah “makan sendirian”. Data riset Rasa Nusa menunjukkan pembeli terbesar mereka adalah pekerja lapangan, pekerja shift, dan orang-orang yang makan di luar jam normal.

Saya merasa tim kita, termasuk saya, terlalu jauh dari target itu. Kita bekerja di meja, makan di jam istirahat, pulang naik mobil.

Saya usul satu hari observasi lapangan. Saya mengikuti ritme kerja tim operasional gedung (GA, satpam, OB) selama satu hari penuh untuk memahami kapan, di mana, dan bagaimana mereka makan. Hasilnya akan saya masukkan ke strategi kreatif.

Saya rasa Senin bisa.

Salam,
Sabrina

Aku membaca ulang email itu tiga kali. Setiap kalimatnya benar. Setiap kalimatnya profesional. Setiap kalimatnya masuk akal untuk tender.

Dan setiap kalimatnya hanya punya satu alasan sebenarnya.

Aku menekan send.

Lima menit kemudian, balasan Pak Leo masuk. Pak Leo memang tidak pernah tidur sebelum jam satu, karena dia percaya ide-ide besar datang di jam-jam setelah tengah malam.

SABRINA. INI JENIUS. APPROVED. Senin kamu jadi asisten Aris seharian. Saya kabari dia. Jangan pakai lift B.

Aku meletakkan HP di dada dan menatap langit-langit.

Lalu aku tertawa. Sendirian, di apartemen yang rapi dan sunyi, dengan jaket inventaris yang tergantung di kursi.

Aku, Sabrina Maharani, belum pernah kalah.

Jadi kalau aku tidak bisa membawanya ke duniaku, aku yang masuk ke dunianya.