Chapter Thirty Two

Grup Dibubarkan

— Sabrina —

Korban Senyum Sabrina 😔 (Tim Mas Aris)


[Minggu ke-1 di Surabaya, Senin, 05.04]

Rendi: Bapak-bapak
Rendi: Gue baru bangun dan gue masih nggak percaya
Rendi: Ini beneran kejadian kan? Bukan mimpi?

Galih: Beneran, Ren
Galih: Videonya udah 4 juta views
Galih: “MAS MI INSTAN PUNYA PACAR” sama ibu-ibu pengemasan yang teriak

Yosua: Saya menontonnya sebelas kali. Untuk keperluan analisis.

Kevin: Yos, kamu nangis

Yosua: Saya tidak menangis. Saya alergi debu karton.

Rendi: debu karton dari HP yos??


[Minggu ke-1, Selasa, 21.15]

Sabrina: Kalian masih di sini?

Galih: SABRINA
Galih: [stiker kucing berlari]

Rendi: SAB!!!
Rendi: SELAMAT SAB
Rendi: GUE NANGIS DI GYM LAGI

Kevin: Selamat, Sab 🙏

Yosua: Selamat. Saya akan mencatat ini dalam notulen sebagai “anggota kedua yang keluar dari status korban”. Walaupun secara teknis, Sabrina tidak pernah berstatus korban.

Sabrina: Aku pelakunya, ya

Yosua: Pelaku yang akhirnya ditangkap.

Sabrina: 😂

Galih: Sab, aku mau nanya satu hal, boleh?

Sabrina: Boleh

Galih: Mas Aris bilang apa? Pas di gudang?
Galih: Kevin udah cerita versi ibu-ibu pengemasan, tapi versi ibu-ibu pengemasan ada adegan Mas Aris berlutut sambil nyanyi dangdut

Sabrina: Nggak ada yang nyanyi dangdut

Galih: Terus?

Aku menatap pertanyaan itu lama, di kasur hotel dekat Juanda, dengan bungkus mi Rasa Nusa Level 5 di meja samping tempat tidur. Belum kumasak. Tidak akan kumasak.

Sabrina: Dia bilang “kamu duluan”
Sabrina: Itu aja

Tidak ada yang membalas selama tiga menit.

Rendi: gue nggak ngerti tapi gue nangis lagi

Yosua: Saya mengerti. Itu kalimat yang sangat sesuai untuk orang yang tidak pernah menyerobot antrean.

Kevin: Itu kalimat paling Mas Aris yang pernah ada


[Minggu ke-2, Kamis, 05.08]

Sabrina: Laporan. Dia telepon jam 05.03 tiap pagi. Tepat. Kayak alarm
Sabrina: Kalimat pertama selalu “sudah bangun?”
Sabrina: Kalimat kedua selalu “sudah makan?”
Sabrina: Aku bilang ini jam lima pagi, Mas, belum ada yang makan jam segini
Sabrina: Dia bilang “Ibu saya juga selalu nanya itu, padahal saya belum makan juga”

Galih: Dia nyontek SOP ibunya

Sabrina: Literally ada di SOP. Bab I poin 1.1

Rendi: SOP??

Sabrina: Dia bikin SOP pacaran

Yosua: Saya ingin membaca dokumen itu untuk keperluan akademis.

Sabrina: Nggak boleh. Rahasia perusahaan


[Minggu ke-3, Sabtu, 14.20]

Kevin: Bapak-bapak dan Sab
Kevin: Saya mau minta saran
Kevin: Ayu wisuda bulan depan

Galih: Selamat!!

Kevin: Saya mau kasih sesuatu
Kevin: Bukan bunga. Kata Mas Aris bunga layu di kereta
Kevin: Walaupun Ayu nggak naik kereta

Rendi: Mas Aris ngasih saran soal hadiah??

Kevin: Saya tanya dia kemarin pas ngantar galon ke kafe
Kevin: Iya, dia sekarang ngantar galon ke kafe saya juga. Gratis. Katanya karena saya pernah bikinin oat latte jam setengah lima pagi
Kevin: Dia bilang: kasih sesuatu yang nunjukin kamu ingat hal kecil soal dia
Kevin: Terus dia bilang: pelajaran dua

Sabrina: Dia ngajarin kamu kurikulumku??

Kevin: Katanya dia udah lulus, jadi boleh ngajarin
Kevin: Dia bilang ada sepuluh pelajaran. Pelajaran sepuluh dia susun sendiri

Sabrina: …

Yosua: Ilmu yang baik adalah ilmu yang diturunkan.

Galih: Terus kamu mau kasih Ayu apa, Kev?

Kevin: Notebook kucing baru
Kevin: Yang lama udah penuh. Isinya catatan dari Sab semua
Kevin: Halaman pertama mau saya tulisin sesuatu

Rendi: APA

Kevin: Rahasia perusahaan 😌


[Minggu ke-5, Rabu, 23.40]

Sabrina: Kalian bangun?

Galih: Bangun

Rendi: bangun, abis leg day nggak bisa tidur

Sabrina: Aku kangen

Hening dua menit.

Yosua: Itu kalimat yang belum pernah saya dengar dari kamu dalam konteks apa pun.

Sabrina: Aku tahu, Yos

Kevin: Tinggal dua minggu, Sab

Sabrina: Dua minggu itu lama
Sabrina: Aku tiap malam ngeliatin jaket inventaris yang aku bawa diam-diam
Sabrina: Aku kira wanginya bakal hilang
Sabrina: Ternyata dia kirim jaket baru lewat pos. Udah disemprot sabun batang. Ada catatannya: “Biar wanginya nggak hilang”

Rendi: GUE NGGAK KUAT

Galih: [stiker kucing memeluk kucing]

Yosua: Sabrina. Boleh saya catat satu observasi terakhir?

Sabrina: Boleh

Yosua: Dulu kamu menghitung hari supaya bisa pergi.
Yosua: Sekarang kamu menghitung hari supaya bisa pulang.
Yosua: Itu perbedaan yang sangat signifikan secara klinis.

Aku menatap pesan itu di kamar hotel yang gelap. Di kursi, dua jaket inventaris tergantung bersebelahan. Yang satu kubawa dari Jakarta, dengan lipatan lengan mencong. Yang satu datang lewat pos tiga hari lalu, dilipat rapi dengan lipatan setajam pisau.

Sabrina: Jaga gigimu, Yos

Yosua: Selalu.


[Minggu ke-7, Jumat, 19.00]

Galih: Bapak-bapak dan Sab
Galih: Saya mau usul sesuatu
Galih: Dan saya mau semua dengar baik-baik karena saya sudah latihan ngetiknya dari tadi sore

Rendi: Lih kalau ini soal stiker baru, gue udah punya

Galih: Bukan
Galih: Saya usul grup ini dibubarkan

Hening.

Galih: Grup ini dibuat dua tahun lalu, eh, enam bulan lalu, buat orang-orang yang dapat kartu kaktus
Galih: Buat orang-orang yang ditinggal di hari ke-90
Galih: Tapi sekarang Kevin sama Ayu
Galih: Sabrina sama Mas Aris
Galih: Rendi kemarin cerita dia kenalan sama instruktur yoga di gym
Galih: Yosua…

Yosua: Saya baik-baik saja.

Galih: Yosua baik-baik saja
Galih: Kita udah bukan korban lagi
Galih: Grup korban nggak perlu ada kalau korbannya udah sembuh

Tiga menit. Tidak ada yang membalas.

Lalu Kevin mengetik. Lama. Tiga titik muncul, hilang, muncul, hilang. Lima menit.

Kevin: Boleh saya ngomong sedikit sebelum bubar?

Galih: Silakan, Kev

Kevin: Waktu Sab ngasih saya kartu kaktus, hari ke-90, di kafe, saya bilang ke dia: suatu hari nanti kamu bakal ketemu orang yang bikin kamu lupa ngitung hari
Kevin: Saya nggak tahu kenapa saya bilang itu. Mungkin cuma biar saya nggak kelihatan sedih
Kevin: Tapi saya mau bilang ke semua di sini: saya senang saya salah soal satu hal
Kevin: Saya kira orang itu bakal bikin Sab lupa ngitung hari
Kevin: Ternyata orang itu bikin Sab mulai ngitung lagi. Ngitung hari pulang
Kevin: Itu lebih bagus
Kevin: Makasih udah jadi tiga bulan yang menyenangkan, Sab. Beneran. Saya nggak nyesel
Kevin: Dan makasih bapak-bapak. Grup ini bikin saya ketemu Ayu. Kalau nggak ada grup ini, saya nggak bakal nanya-nanya ke anak magang yang ninggalin notebook kucing

Rendi: KEV 😭😭😭

Yosua: Itu pidato yang sangat baik, Kevin.

Aku menatap pesan-pesan Kevin di layar. Mataku panas. Aku sudah tidak memegang aturan ketiga lagi. Aku membiarkannya turun.

Sabrina: Makasih, Kev
Sabrina: Makasih semua
Sabrina: Maaf soal kartu kaktusnya

Galih: Jangan minta maaf, Sab
Galih: Kaktus saya masih hidup
Galih: Dan saya punya kabar

Rendi: Apa?

Galih: Kaktusnya berbunga
Galih: Kemarin pagi
Galih: Pertama kali dalam dua tahun
Galih: [foto]

Foto kaktus kecil dalam pot terakota, di jendela kamar kos yang sempit. Di puncaknya, satu kuntum bunga merah muda, kecil, mekar.

Galih: Kaktus itu cuma berbunga kalau dirawat lama dan sabar
Galih: Saya mau kasih kaktus ini ke Sabrina sama Mas Aris
Galih: Kalau suatu hari nanti kalian bikin acara
Galih: Acara apa pun

Yosua: Itu metafora yang sangat bagus, Galih. Saya terkesan.

Galih: Itu bukan metafora Yos itu kaktus beneran


[Minggu ke-7, Jumat, 21.30]

Yosua: Notulen terakhir grup Korban Senyum Sabrina.
Yosua: Anggota: 5.
Yosua: Anggota yang keluar dari status korban: 5.
Yosua: Status grup: selesai.
Yosua: Catatan penutup: Ternyata satu-satunya cara predator puncak bisa kalah adalah kalau dia jatuh duluan. Hipotesis awal saya terkonfirmasi. Tapi saya keliru soal satu hal.
Yosua: Dia tidak kalah. Dua-duanya menang.
Yosua: Sekian.

Galih mengubah nama grup menjadi “Alumni Kartu Kaktus 🌵 (Bubar dengan Bahagia)”

Galih: [stiker kucing melambai sambil menangis]

Galih keluar dari grup.

Rendi keluar dari grup.

Kevin keluar dari grup.

Yosua keluar dari grup.


Aku sendirian di grup itu.

Alumni Kartu Kaktus 🌵 (Bubar dengan Bahagia). Satu anggota. Riwayat chat enam bulan. Stiker kucing, notulen Yosua, tangisan Rendi di gym, foto kaktus berbunga.

Aku tidak keluar.

Aku menggulir ke atas, ke pesan pertama. Selamat malam bapak-bapak sekalian. Maaf mengganggu. Perkenalkan saya Galih.

Lalu aku menekan tombol ekspor chat, dan aku menyimpannya di Google Drive dalam folder yang kuberi nama Bukti.

Lalu aku keluar dari grup.


Sabtu, jam empat sore, pesawatku mendarat di Soekarno-Hatta.

Tujuh minggu. Empat puluh sembilan telepon jam lima lewat tiga. Empat puluh sembilan pesan jangan lupa matiin lampu. Satu jaket yang dikirim lewat pos.

Aku keluar dari pintu kedatangan terminal tiga dengan dua koper dan wajah yang tidak memakai lipstik sama sekali, karena aku menangis di pesawat waktu pramugari memutar lagu dangdut di speaker. Aku tidak tahu kenapa lagu dangdut membuatku menangis. Mungkin karena ibu-ibu pengemasan.

Di antara kerumunan penjemput, di antara sopir-sopir yang memegang papan nama hotel dan keluarga yang membawa balon, aku melihatnya.

Kemeja abu-abu. Disetrika tajam. Buku cokelat di saku. Di satu tangan, gelas kertas dari kafe Kevin.

Di tangan lain, selembar karton bekas kardus mi instan, ditulisi spidol hitam dengan huruf besar-besar:

MBAK SABRINA
(ACCOUNT — MEJA 17)

Kata MBAK dicoret. Satu garis lurus. Rapi.

Aku berhenti berjalan.

Dia melihatku. Dia menurunkan karton itu sedikit, dan dia tersenyum. Matanya hilang jadi garis.

Aku meninggalkan dua koper di tengah lantai terminal kedatangan, di tengah orang-orang yang lalu-lalang, dan aku berlari.

Bukan pergi duluan.

Pulang duluan.