Chapter Eighteen

Tanpa Lipstik

— Sabrina —

Pagi itu aku tidak memakai lipstik.

Aku tidak merencanakannya. Aku berdiri di depan cermin kamar mandi jam enam pagi seperti biasa, dengan Senjata Nomor Satu di tangan, tutupnya sudah terbuka. Merah. Tajam. Senjata yang sudah menemaniku sejak umur tujuh belas.

Aku menatap bibirku di cermin. Pucat, sedikit kering, warna aslinya yang jarang kulihat.

Lalu aku menatap lipstik itu.

Aku memikirkan Mbak Dinda di depan lift. Mbak Celine di ujung lorong. Clarissa dengan bibir nude mengilap dan bahu yang turun waktu dia berjalan pergi. Dua puluh tiga perempuan dengan dua puluh tiga senjata, semuanya jatuh ke sumur yang sama tanpa bunyi plung.

Aku menutup lipstik itu. Aku menaruhnya kembali di rak.

Aku tidak memakai eyeliner. Aku tidak mencatok rambut. Aku memakai kemeja putih polos, celana bahan hitam, sepatu kets, dan mengikat rambutku ke belakang dengan karet gelang biasa.

Aku menatap cermin.

Perempuan di cermin itu tidak terlihat seperti Sabrina Maharani. Dia terlihat seperti perempuan biasa yang kurang tidur. Perempuan yang mungkin kerja di bagian keuangan, atau guru les, atau seseorang yang kau lewati di peron KRL tanpa menoleh dua kali.

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa lega.


Di kantor, tidak ada kepala yang menoleh waktu aku masuk.

Itu pertama kalinya dalam dua tahun.

Aku duduk di meja tujuh belas. Kursiku tidak berbunyi. AC-ku tidak terlalu dingin. Lampu mejaku terang. Semuanya sempurna, karena seseorang sudah memastikan semuanya sempurna.

Nadia datang sepuluh menit kemudian. Dia menaruh tas, menyalakan laptop, lalu menoleh untuk menyapaku.

Dia berhenti.

”Sab.”

”Pagi, Nad.”

Dia menatapku lama. Matanya turun ke bibirku. Lalu naik ke mataku.

Dia tidak bercanda. Dia tidak bilang lo diinventarisasi atau lo ditolak sama galon. Dia cuma menggeser kursinya mendekat dan bertanya dengan suara pelan, suara yang dulu dia pakai jam tiga pagi di kamar kos kami waktu kuliah:

”Lo nggak apa-apa?”

”Nggak apa-apa.”

”Lo nggak pakai lipstik.”

”Lupa.”

”Lo nggak pernah lupa.”

Aku tidak menjawab. Aku membuka laptop dan mulai membaca email.

Nadia tidak bertanya lagi. Tapi sepanjang pagi, dia sesekali melirik ke arahku, dan setiap kali dia melakukannya, dia terlihat seperti orang yang sedang menunggu sesuatu pecah.


Jam sembilan, Mas Aris lewat.

Dia membawa galon di bahu, menuju pantry tim media. Dia lewat di depan meja tujuh belas, seperti setiap pagi.

Dulu, setiap kali dia lewat, aku memasang senjata. Senyum miring. Tatapan lima detik. Mas, AC-ku dingin. Mas, kursiku bunyi. Mas, aku kedinginan.

Pagi ini aku cuma mengangkat kepala sebentar dan berkata, “Pagi, Mas.”

Biasa saja. Seperti menyapa Pak Darmo.

”Pagi, Mbak,” jawabnya otomatis.

Dia berjalan dua langkah.

Lalu dia berhenti.

Dia berbalik, galon masih di bahu, dan menatapku.

Di kerah kemejanya, sisi kiri dekat leher, ada noda merah muda yang samar. Bekas yang tidak hilang direndam semalam. Dia tetap memakai kemeja itu. Dia menatapku dengan wajah serius, wajah yang sama yang dia pakai waktu mendengarkan bunyi kursi meja tujuh belas di hari pertama. Wajah orang yang mendengar ada sesuatu yang tidak beres, tapi belum tahu di mana.

”Mbak,” katanya.

”Hm?”

”Mbak sakit?”

Aku menatapnya.

Tiga bulan lebih. Dua belas permintaan tolong palsu dalam dua minggu. Kedinginan, kelilipan, chat jam sebelas malam, kerah kemeja, lift, hujan, dress merah. Semua senjata yang kumiliki, kutembakkan satu per satu, dan dia tidak pernah berhenti berjalan.

Hari ini aku tidak menembakkan apa pun.

Dan dia berhenti.

”Nggak, Mas,” kataku. “Nggak sakit.”

Dia tidak percaya. Aku bisa melihatnya. Matanya menyipit sedikit, dan dia menatapku seperti menatap lampu yang kedipnya tidak teratur.

”Mbak pucat,” katanya.

”Aku nggak pakai makeup.”

”Oh.” Dia berpikir. “Kenapa, Mbak?”

Aku tidak punya jawaban yang bisa kukatakan padanya. Jadi aku cuma mengangkat bahu.

Dia berdiri di sana beberapa detik lagi, galon sembilan belas liter di bahunya, menatapku. Lalu dia mengangguk sekali, kecil, dan berjalan ke pantry tim media.

Aku menunduk ke laptop.

Tanganku gemetar di atas keyboard. Sedikit. Seperti di depan cermin toilet sebelum pitching.


Jam sebelas empat puluh, dia datang lagi.

Kali ini dia tidak membawa galon. Dia membawa kantong plastik putih dari warung bubur ayam di depan gedung, dan gelas kertas yang mengepul.

Dia meletakkan semuanya di mejaku. Bubur ayam dengan kerupuk dan cakwe dipisah, supaya tidak lembek. Teh jahe dari Bu Darsih. Dan sebungkus kecil plastik bening berisi dua butir paracetamol.

”Mbak makan dulu,” katanya. “Kalau habis makan masih pucat, minum ini. Kalau sore masih pucat, ke klinik lantai dua.”

”Mas, aku nggak sakit.”

”Iya, Mbak.” Dia jelas tidak percaya. Dia mengeluarkan buku cokelat dari saku, membukanya, dan aku melihat dia menulis sesuatu di halaman hari ini.

Aku bisa membaca dari tempatku duduk. Tulisannya rapi, seperti biasa.

Mbak Sabrina — pucat, tidak pakai makeup, mungkin sakit. ★

Ada tanda bintang di ujungnya.

Aku menatap bintang kecil itu.

Aku tahu artinya. Pak Darmo menjelaskannya padaku di warteg, minggu lalu, waktu Mas Aris sedang mengangkat galon. Tanda bintang itu darurat, Mbak. Boleh nyerobot antrean. Si Aris cuma pakai bintang buat yang penting banget. Dimas asma. Komisaris mau melahirkan. Lift macet ada orangnya.

Hari ini, aku dapat bintang.

Bukan karena aku spesial. Karena aku terlihat sakit.

Darurat. Bukan istimewa. Dua hal yang berbeda.

Tapi tetap saja, di tengah antrean dua puluh tiga perempuan dari lantai sembilan sampai lima belas, di tengah AC dua puluh enam derajat dan obat tetes mata dan rombongan ke warteg, hari ini dia menaruh namaku di atas semua orang.

Karena aku pucat.

Karena aku berhenti menggodanya.

Aku menggigit bibir. Bibir tanpa lipstik. Rasanya aneh.

”Makasih, Mas,” kataku pelan.

”Sama-sama, Mbak.” Dia menutup buku cokelatnya. Lalu, setelah ragu sebentar, dia menarik kursi kosong dari meja sebelah, kursi milik Reza dari tim strategi yang sedang meeting di luar, dan duduk di sebelah mejaku.

”Mas nggak makan di warteg?”

”Nanti, Mbak. Saya tunggu Mbak makan dulu.”

”Kenapa?”

Dia berpikir. Wajahnya serius.

”Soalnya kalau ditinggal, nanti Mbak nggak makan,” katanya akhirnya. “Ibu saya juga begitu kalau lagi sakit. Kalau ditinggal, buburnya cuma dilihatin.”

Aku menatapnya. Lalu aku membuka tutup bubur ayam itu.

Aku makan. Pelan. Dia duduk di sebelahku dan tidak berkata apa-apa. Dia cuma memperhatikan, sesekali menyodorkan kerupuk atau cakwe, seperti orang yang menyuapi anak kecil tanpa menyentuh sendok.

Di meja sebelah, Nadia berhenti mengetik. Dia tidak menatap kami. Dia menatap layar laptopnya. Tapi aku melihat tangannya diam di atas keyboard, dan bahunya kaku, seperti orang yang menahan napas supaya tidak mengganggu sesuatu yang rapuh.


Setengah mangkuk bubur kemudian, dia bertanya.

”Mama Mbak, sudah nggak apa-apa?”

Sendokku berhenti di udara.

Sejak malam di Puncak, dia tidak pernah menyinggungnya. Dua minggu. Dia tidak bertanya, tidak membahas, tidak menatapku dengan kasihan. Seolah dia mendengar sesuatu di balik pintu kamar villa dan memutuskan menyimpannya di laci darurat, untuk dikeluarkan kalau memang dibutuhkan.

Hari ini, ternyata, dia memutuskan dibutuhkan.

”Udah,” kataku. “Udah baik. Kayak biasa.”

”Mbak sudah telepon balik?”

Aku diam.

Belum. Dua minggu. Mama mengirim pesan setiap hari. Sayaaang, Mama udah nggak apa-apa kok. Sayaaang, kemarin Mama ikut kelas yoga. Sayaaang, kamu sibuk ya? Huruf-huruf panjang lagi. Mama sudah senang lagi. Mama selalu senang lagi, besoknya, atau minggu depannya.

Dan aku belum membalas satu pun.

”Belum,” kataku.

Dia mengangguk. Dia tidak menghakimi. Dia tidak bilang Mbak harus telepon. Dia cuma diam sebentar, lalu berkata pelan:

”Ibu saya bilang, kalau orang tua lagi sedih terus anaknya nggak nelepon, sedihnya nggak hilang. Cuma pindah ke tempat lain.”

”Pindah ke mana?”

Dia mengangkat bahu. “Ke anaknya, Mbak. Biasanya.”

Aku menatap bubur ayam di depanku. Kerupuknya mulai lembek. Aku tidak tahu kapan mataku mulai panas.

Aku tidak menangis. Aturan ketiga. Lagi pula, bubur ayam bukan cowok.

”Nanti malam aku telepon,” kataku.

”Iya, Mbak.”

Dia tidak bilang apa-apa lagi. Dia mengambil cakwe terakhir, mematahkannya jadi dua, dan memberikan setengah yang lebih besar padaku. Persis seperti pisang goreng di warung terpal biru, jam dua pagi, di seberang IGD.

Aku menerimanya.

Dan saat itu, dengan mulut penuh cakwe dan bibir tanpa lipstik dan mata yang panas, aku tahu.


Aku tahu, tapi bukan seperti di film. Tidak ada musik yang tiba-tiba mengalun, tidak ada adegan lambat, tidak ada kilatan cahaya. Aku cuma duduk di meja tujuh belas, mengunyah cakwe, dan sesuatu yang sudah lama berdiri di depan pintu akhirnya mengetuk. Pelan. Sekali.

Aku jatuh cinta.

Tidak penasaran. Tidak ingin menang. Tidak sekadar tertarik pada laki-laki yang kebal senjata. Bukan juga karena gengsi atau taruhan sushi atau proyek yang tidak boleh gagal.

Aku jatuh cinta pada laki-laki yang mematahkan cakwe jadi dua dan memberikan bagian yang lebih besar padaku.

Aku tahu, karena untuk pertama kalinya seumur hidup, aku tidak mau dia jatuh.

Aku tidak mau dia jatuh karena senyum miringku. Tidak mau dia jatuh karena tatapan lima detik, dress merah, atau kedinginan yang dibuat-buat. Aku tidak mau menang. Aku tidak mau skor.

Aku mau dia memilih.

Aku mau, suatu hari, dia membuka buku cokelatnya, menatap semua nama di antrean yang tidak pernah berhenti, dan menaruh namaku di paling atas. Bukan karena aku pucat. Bukan karena darurat. Bukan pakai tanda bintang.

Karena dia mau.

Kalau suatu hari ada orang yang pengin kamu tolong duluan sebelum yang lain.

Dan itulah yang membuatku takut.

Karena itu satu-satunya hal yang tidak bisa kumenangkan dengan senjata. Satu-satunya hal yang sepenuhnya di luar kendaliku. Aku bisa membuat laki-laki jatuh. Aku sudah melakukannya puluhan kali. Tapi aku tidak bisa membuat laki-laki memilih. Itu bukan permainan. Itu bukan strategi. Itu cuma… menunggu.

Dan aku tidak pernah mau jadi orang yang menunggu.


”Mbak?”

Aku mendongak. Dia sedang menatapku dengan wajah khawatir.

”Mbak makin pucat.”

”Nggak apa-apa,” kataku. Suaraku keluar serak. “Cakwenya seret.”

Dia langsung menyodorkan teh jahe. Aku meminumnya. Pedas, manis, terlalu banyak gula. Hangat sampai ke dada.

”Sudah, Mbak?”

”Udah.”

Dia berdiri. Dia mengembalikan kursi Reza ke tempatnya, dengan posisi yang persis sama seperti sebelumnya. Dia mengumpulkan bungkus bubur dan kerupuk dan gelas kertas ke kantong plastik. Dia mengeluarkan buku cokelat, mencoret baris yang ada bintangnya, dan menulis di bawahnya.

Sudah makan. Masih pucat sedikit. Cek sore.

”Saya ke warteg dulu, Mbak,” katanya. “Mbak Gita sama Mbak Nia nungguin. Mereka minta ditemenin makan.”

Aku tersenyum. Senyum yang tidak miring. “Iya, Mas. Sana.”

Dia pergi.

Aku menatap punggungnya sampai hilang di balik pintu tangga darurat. Menuju warteg. Menuju Mbak Gita dan Mbak Nia dan Pak Darmo dan antrean yang tidak pernah berhenti.


Malam itu, aku menelepon Mama.

Kami bicara satu jam. Mama menangis di awal, lalu tertawa di tengah, lalu bercerita soal kelas yoga dan instrukturnya yang ganteng. Aku mendengarkan. Aku tidak memotong. Aku tidak bilang besok aja.

Waktu menutup telepon, Mama bilang, “Sayaaang, kamu kok beda?”

”Beda gimana, Ma?”

”Nggak tahu. Suaramu. Kayak orang yang lagi…” Mama berhenti. “Kayak Mama dulu, waktu pertama kali kenal papamu.”

Aku tidak menjawab.

Setelah telepon ditutup, aku membuka catatan di HP. Proyek M.A. Aku menggulir dari halaman pertama. Hari ke-2, kedinginan. Hari ke-4, tatapan lima detik. Hari ke-6, chat jam sebelas malam. Evaluasi. Skor. Aris 9 – Sabrina 0.

Lalu baris yang kutulis malam setelah girls’ night dengan Nadia. Senjataku nggak mempan.

Aku menatapnya lama.

Dulu kalimat itu berarti kesal. Lalu berarti penasaran. Malam ini, kalimat itu berarti sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat dadaku sesak.

Senjataku nggak mempan. Dan untuk pertama kalinya, aku takut. Karena tanpa senjata, aku tidak tahu harus bagaimana. Tanpa senjata, aku cuma perempuan biasa yang kurang tidur, dengan bibir pucat, yang jatuh cinta pada laki-laki yang baik ke semua orang.

Aku menekan tombol titik tiga di pojok catatan itu.

Hapus catatan?

Aku menatap pertanyaan itu lama sekali.

Hapus.

Layar kembali ke daftar catatan. Proyek M.A. sudah tidak ada. Tiga bulan senjata, skor, dan strategi hilang dalam satu sentuhan.

Aku meletakkan HP di dada dan mematikan lampu.

Di rak kamar mandi, Senjata Nomor Satu berdiri sendirian dengan tutupnya yang rapat.

Besok pagi, aku tidak tahu apakah aku akan memakainya lagi.