Chapter Thirty Four
Kuningan yang Itu
— Aris —
Di rest area kilometer seratus tiga puluh, seorang bapak penjual kopi bertanya kami mau ke mana.
”Kuningan, Pak,” jawab Sabrina.
Bapak itu menatap mobil putih Sabrina dengan pelat B, lalu menatap kami. “Kuningan Jakarta? Kok lewat sini, Neng? Salah tol.”
”Bukan, Pak. Kuningan yang itu.”
”Yang mana?”
”Yang ada gunungnya, Pak,” kataku. “Yang cabainya pedas.”
Bapak penjual kopi tertawa dan memberi kami dua gelas kopi tanpa gula, gratis, karena katanya dia orang Kuningan juga, Kuningan yang itu, dan dia sudah lima tahun tidak pulang Lebaran.
Sabrina menatapku sambil memegang gelas kopi.
”Berapa kali orang nanya Kuningan yang mana?”
”Seumur hidup? Ribuan, mungkin.”
”Kamu kerja di Kuningan. Kamu dari Kuningan.”
”Iya.”
”Itu lucu,” katanya. Lalu dia tertawa, lewat hidung, di rest area jam enam pagi, dengan rambut diikat karet gelang dan jaket inventaris di bahu.
Aku memperhatikan dia tertawa.
Aku sudah tujuh bulan memperhatikan dia tertawa. Aku masih belum bosan.
Rumah Ibu di ujung jalan desa, setelah masjid dan sebelum kebun.
Cat hijau muda, yang dulu Bapak cat sendiri waktu aku SD. Pohon pisang di samping. Kalender dari toko bangunan di dinding teras. Dari jalan, kebun cabai Bapak terlihat di belakang rumah, merah dan hijau berderet seperti barisan tentara kecil.
Mobil Sabrina belum berhenti sempurna waktu pintu rumah terbuka.
Ibu keluar. Kerudung cokelat muda, kacamata di atas kepala. Di belakangnya Mbak Ratih, dengan Raka di gendongan, yang sekarang sudah tiga tahun dan sudah terlalu besar untuk digendong tapi tetap minta digendong.
Ibu tidak menatapku.
Ibu menatap pintu penumpang. Pintu yang terbuka pelan-pelan. Sabrina yang turun dengan dress batik sederhana yang dia beli khusus di Thamrin City minggu lalu, setelah bertanya ke Nadia batik apa yang sopan untuk ketemu ibu pacar di kampung.
Ibu berjalan ke arahnya. Cepat. Lebih cepat dari Ibu biasanya berjalan, lebih cepat dari langkah Ibu waktu menyambutku pulang setiap Lebaran selama sembilan tahun.
Ibu memeluk Sabrina.
Sabrina berdiri kaku sebentar. Satu detik. Dua detik. Lalu tangannya bergerak, pelan, dan dia memeluk Ibu balik.
”Neng,” kata Ibu ke bahu Sabrina. “Neng geulis. Akhirnya.”
”Assalamualaikum, Bu.”
”Waalaikumsalam. Waalaikumsalam.”
Mbak Ratih berdiri di belakang Ibu, menatapku. Dia mengangkat alis. Alis tebal yang sama dengan alisku.
”Ris,” katanya. “Sembilan tahun kamu pulang sendirian. Sekarang kamu bawa orang.”
”Iya, Mbak.”
”Orangnya geulis.”
”Iya, Mbak.”
Mbak Ratih menatapku lama. Lalu dia tersenyum. Mbak Ratih jarang tersenyum. Dia lebih sering berteriak.
”Bagus,” katanya. “Sekarang bantu angkat koper. Raka, turun, berat.”
”Nggak mau,” kata Raka, dan menyembunyikan wajah di leher Mbak Ratih.
Lalu dia mengintip ke arah Sabrina.
”Itu siapa?”
”Itu Tante Sabrina, pacarnya Om Aris,” kata Mbak Ratih.
Raka menatap Sabrina lama, dengan mata bulat seorang anak tiga tahun yang sedang menilai. Lalu dia menunjuk.
”Tante yang di HP Om Aris.”
Sabrina menoleh padaku.
Aku memalingkan wajah ke pohon pisang.
Wallpaper HP-ku foto Sabrina dan Magang, diambil di apartemennya waktu dia tertidur di sofa dan Magang tertidur di atas perutnya. Aku belum pernah memberitahunya. Raka melihatnya waktu kami video call minggu lalu, waktu dia merebut HP dari tangan Mbak Ratih.
”Kamu pasang fotoku jadi wallpaper?” bisik Sabrina.
”Foto Magang,” kataku ke pohon pisang.
”Aku ada di foto itu.”
”Kebetulan.”
Sabrina tertawa, dan Ibu menatap kami berdua dengan wajah yang membuatku ingin menggali lubang di halaman depan dan masuk ke dalamnya.
Bapak tidak keluar ke teras.
Bapak di kebun, kata Ibu. Bapak selalu di kebun.
Sabrina menatapku. “Aku ke sana?”
”Nggak usah. Nanti Bapak masuk sendiri.”
Tapi Sabrina sudah melepas sandalnya dan memakai sandal jepit milik Ibu yang tergeletak di teras. Sandal jepit hijau, ukuran perempuan, pas di kakinya. Dia berjalan ke belakang rumah, melewati pohon pisang, menuju kebun cabai.
Aku mengikutinya. Ibu mengikutiku. Mbak Ratih mengikuti Ibu. Raka mengikuti Mbak Ratih.
Kami berhenti di pinggir kebun, di bawah pohon nangka.
Bapak sedang berjongkok di antara barisan cabai, dengan topi caping dan kaos oblong yang sudah pudar. Dia memetik cabai merah satu per satu, dengan gerakan lambat dan teliti, dan memasukkannya ke keranjang anyaman bambu.
Sabrina berjalan menyusuri pematang. Sandal jepit hijau Ibu berbunyi plek, plek di tanah yang lembap.
Bapak mendongak. Dia menatap Sabrina.
Bapak tidak pernah banyak bicara. Waktu aku pamit ke Jakarta sembilan tahun lalu, Bapak cuma bilang satu kalimat: Baju boleh murah, Ris, tapi harus rapi. Waktu Mbak Ratih menikah, Bapak cuma bilang: Jaga dia, Dang. Bapak memakai kata seperti orang memakai cabai. Sedikit, tapi pedas.
”Assalamualaikum, Pak,” kata Sabrina.
”Waalaikumsalam.”
Hening. Sabrina berdiri di pematang dengan dress batik dan sandal jepit Ibu. Bapak berjongkok di antara cabai dengan caping dan kaos pudar.
Lalu Sabrina berjongkok juga. Di sebelah Bapak. Di tanah yang lembap, dengan dress batik yang dia beli di Thamrin City.
”Saya boleh bantu, Pak?” tanyanya. “Saya belum pernah metik cabai.”
Bapak menatapnya lama. Lalu dia mengulurkan tangan, mengambil satu cabai merah dari tangkai, dan menunjukkannya.
”Yang merah semua,” kata Bapak. “Yang masih ada hijaunya, tunggu dua hari.”
”Iya, Pak.”
”Petiknya dari tangkai. Jangan ditarik. Diputar.”
”Iya, Pak.”
Sabrina memetik cabai pertamanya. Diputar, bukan ditarik. Dia menatap cabai merah itu di telapak tangannya, seperti menatap sesuatu yang berharga.
Lalu dia memetik lagi. Dan lagi.
Mereka memetik cabai bersama selama setengah jam. Tidak banyak bicara. Bapak menunjuk, Sabrina memetik. Sesekali Bapak mengoreksi, itu masih hijau, Neng, dan Sabrina tertawa kecil dan meletakkan cabai yang salah kembali ke tanah.
Di bawah pohon nangka, Ibu menggenggam tanganku.
”Ris,” bisik Ibu. “Bapakmu nggak pernah ngajarin orang metik cabai. Kamu aja nggak pernah diajarin. Kamu belajar sendiri.”
Aku menatap Bapak dan Sabrina di antara barisan cabai.
Aku tidak bisa bicara.
Bu Imas datang waktu sore, dengan rantang berisi ketupat dan kerudung merah jambu.
Bu Imas tetangga sebelah. Yang dulu bertanya ke Ibu si Aris di Jakarta kerja apa, kok nggak pulang bawa siapa-siapa. Yang bilang nolong orang kok nggak ada yang nolong dia.
Dia masuk ke ruang tengah, meletakkan rantang, dan langsung menatap Sabrina yang sedang duduk di tikar di samping Ibu, membantu melipat ketupat.
”Ini?” kata Bu Imas.
”Ini,” kata Ibu dengan wajah paling bangga yang pernah kulihat.
Bu Imas berjalan mengitari Sabrina, seperti orang yang memeriksa sapi di pasar hewan. Sabrina duduk diam dengan ketupat setengah jadi di tangan dan wajah sopan.
”Geulis,” kata Bu Imas.
”Geulis,” kata Ibu.
”Orang Jakarta?”
”Jakarta. Pondok Indah.”
Bu Imas menatap Sabrina lagi. Lalu dia menatapku, yang sedang duduk di kursi rotan di pojok ruangan dengan Raka di pangkuan.
”Ris,” kata Bu Imas. “Ini yang nolong kamu?”
Ruang tengah sunyi.
Ibu menatap Bu Imas. Mbak Ratih berhenti menyapu. Bahkan Raka berhenti mengunyah kue nastar.
Sabrina menatapku.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Seumur hidup aku yang menolong. Galon, AC, lampu, tetangga, antena TV Bu Imas waktu aku SMA. Aku tidak pernah memikirkan siapa yang menolongku. Aku tidak pernah membutuhkan pertolongan. Atau aku pikir aku tidak pernah membutuhkannya.
Lalu aku memikirkan rendang di gudang GA. Kamu bukan tamu. Kamu juga boleh makan rendang. Pelajaran nol. Boleh menerima.
Aku memikirkan teh jahe di Puncak, yang kubawa untuk dia, dan dia yang menerima, dan malam itu untuk pertama kalinya dia tidak lari.
Aku memikirkan kopi tubruk di warung terpal biru, jam dua pagi. Aku nggak tahu kenapa aku nggak mikir.
”Iya, Bu Imas,” kataku. “Ini yang nolong saya.”
Bu Imas menatapku lama. Lalu dia tertawa. Tawa ibu-ibu kampung yang punya terlalu banyak pengalaman dan terlalu sedikit kesabaran.
”Alhamdulillah,” katanya ke langit-langit. “Akhirnya ada yang nolong si Aris.”
Malam takbiran, langit di atas desa penuh bintang.
Tidak seperti Jakarta. Di Jakarta, langit malam berwarna oranye kusam karena lampu kota. Di sini, langit hitam pekat, dan bintang-bintangnya terlalu banyak untuk dihitung.
Sabrina duduk di bangku kayu di teras, memeluk lutut, menatap ke atas dengan mulut sedikit terbuka. Dia memakai jaket inventaris. Yang kukirim lewat pos ke Surabaya. Dia bilang yang lama, yang lipatan lengannya mencong, tidak boleh dipakai ke luar rumah karena terlalu berharga.
Aku duduk di sebelahnya dengan dua gelas teh manis dari dapur Ibu.
”Aku nggak pernah lihat bintang sebanyak ini,” katanya.
”Di sini tiap malam begini.”
”Kamu tiap malam lihat ini, waktu kecil?”
”Iya. Dari sini. Dari bangku ini.”
Dia menoleh padaku. Matanya memantulkan sedikit cahaya dari lampu teras.
”Terus kamu pindah ke Jakarta. Ke kos tiga kali tiga meter. Nggak ada bintang.”
”Ada Kebun Raya, tiap Minggu.”
”Itu bukan bintang.”
”Pohonnya tinggi. Hampir sama.”
Dia tertawa kecil. Lalu dia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Bukan karena ketiduran. Bukan karena kereta berguncang. Karena dia mau.
Aku tidak kaku seperti tiang. Aku sudah belajar. SOP, Bab IV, poin 4.1. Boleh.
Dari dalam rumah, aku mendengar Ibu dan Mbak Ratih bercakap di dapur. Lalu suara Ibu, lebih pelan, lebih dekat ke jendela.
”Tih, Neng Sabrina tadi siang goreng rengginang.”
”Terus?”
”Gosong semua.”
”Ya Allah.”
”Ibu bilang kerak. Dia ketawa.”
Sabrina menyembunyikan wajahnya di bahuku. Bahunya bergetar.
Bapak keluar ke teras jam sebelas malam.
Dia membawa sesuatu di tangannya. Kantong plastik hitam. Penuh.
Dia memberikannya pada Sabrina.
Sabrina membukanya. Cabai merah. Sekeresek penuh. Semua merah, tidak ada yang masih hijau. Semua dipetik dari tangkai, diputar, bukan ditarik.
”Buat ibumu, Neng,” kata Bapak. “Di Jakarta.”
Sabrina menatap kantong plastik itu. Lalu dia menatap Bapak.
Aku tahu dia tahu ceritanya. Aku menceritakannya di gudang mi instan, di Surabaya. Bapak naik sepeda dari Kuningan ke Cirebon, lima jam, bawa cabai sekeresek.
”Makasih, Pak,” kata Sabrina. Suaranya bergetar sedikit.
Bapak mengangguk. Lalu dia menoleh padaku.
Bapak menatapku lama, dengan mata yang sama dengan mataku. Cokelat tua, dengan cincin yang lebih terang di sekitar pupil. Ibu bilang aku mewarisi mata Bapak dan mulut Ibu.
”Ris,” kata Bapak.
”Iya, Pak.”
”Kata Ibumu, dulu kamu bilang kamu kayak kompas rusak. Jarumnya muter terus.”
Aku berkedip. Aku tidak tahu Ibu menceritakan itu ke Bapak.
”Iya, Pak.”
”Sekarang?”
Aku menatap Sabrina di sebelahku, dengan jaket inventaris dan kantong cabai di pangkuan dan bintang-bintang di matanya.
”Sudah nunjuk ke utara, Pak,” kataku.
Bapak mengangguk sekali. Pelan.
Lalu dia mengucapkan kalimat yang dia ucapkan ke Kang Dadang, suami Mbak Ratih, empat tahun lalu, di hari pernikahan mereka. Kalimat yang sama, yang sedikit, yang pedas.
”Jaga dia, Ris.”
Bapak masuk ke dalam rumah.
Aku duduk di bangku kayu dan tidak bisa bergerak.
Sabrina meraih tanganku. Dia menggenggamnya di atas kantong plastik berisi cabai merah sekeresek.
Dari masjid di ujung jalan, takbir mulai terdengar. Allahu akbar, Allahu akbar. Pelan, lalu makin keras, bersahutan dengan masjid di desa sebelah, dan desa sebelahnya lagi, sampai seluruh lembah di bawah gunung Ciremai dipenuhi suara.
Aku mengeluarkan buku tolong dari saku. Dalam gelap, di bawah lampu teras, aku membuka halaman belakang. Halaman Mbak Sabrina, yang sekarang cuma kusebut Sabrina.
Aku menulis satu baris baru di bawah daftar utang.
Bapak bilang: jaga dia.
Aku tidak mencentangnya.
Itu bukan tugas yang selesai. Itu tugas seumur hidup.
- 1 Galon Sembilan Belas Liter
- 2 Aris 5 – Sabrina 0
- 3 Ada yang Rusak, Mbak?
- 4 Empat Puluh Menit di Lift
- 5 Tender Rasa Nusa
- 6 Property of Lumio
- 7 Malam di IGD
- 8 Sabrina Belum Pernah Kalah
- 9 Asisten GA Sehari
- 10 Korban Senyum Sabrina
- 11 Listrik Padam Saat Pitching
- 12 Komisaris Masuk Klinik
- 13 Kencan Paling Membosankan
- 14 Telepon dari Kuningan
- 15 Motor Kevin
- 16 Syuting di Puncak
- 17 Mas Mi Instan
- 18 Tanpa Lipstik
- 19 Senjata Diletakkan
- 20 Ajari Aku
- 21 Kurikulum Sepuluh Pelajaran
- 22 Dia
- 23 Simulasi Kencan
- 24 Operasi Aliansi
- 25 Di Balik Pintu
- 26 Aturan Kedua
- 27 Pergi Duluan
- 28 Antrean Tanpa Sabrina
- 29 Kereta Malam ke Surabaya
- 30 Kamu Duluan
- 31 SOP Pacaran
- 32 Grup Dibubarkan
- 33 Engsel Pintu Mama
- 34 Kuningan yang Itu reading
- 35 Ciuman Pertama
- 36 Antrean yang Nggak Pernah Habis
- 37 Epilog: Property of Aris