Chapter Three

Ada yang Rusak, Mbak?

— Aris —

Ibu selalu menelepon jam lima pagi lewat tiga menit.

Bukan jam lima tepat. Jam lima lewat tiga, karena Ibu perlu tiga menit untuk selesai salat subuh, melipat mukena, dan mencari kacamata yang hampir selalu ada di kepalanya sendiri.

”Ris.”

”Iya, Bu. Assalamualaikum.”

”Waalaikumsalam. Sudah subuh?”

”Sudah, Bu.”

”Sudah makan?”

”Belum, Bu. Masih jam lima.”

”Nanti makan, ya. Jangan cuma kopi. Kopi itu bukan makanan, Ris.”

”Iya, Bu.”

Hening sebentar. Aku tahu apa yang akan datang. Setiap pagi selama tiga tahun terakhir, sejak aku berusia dua puluh empat, pertanyaannya selalu sama.

”Sudah ada calon?”

”Belum, Bu.”

Ibu menghela napas. Napas Ibu di telepon terdengar seperti angin yang lewat di pohon bambu belakang rumah. Panjang dan sabar, tapi sedikit sedih.

”Kakakmu itu umur dua puluh tiga sudah nikah. Bapakmu umur dua puluh lima. Kamu dua puluh tujuh, Ris. Tetangga sudah tanya-tanya. Bu Imas kemarin tanya, si Aris di Jakarta kerja apa, kok nggak pulang bawa siapa-siapa. Ibu jawab, kerja nolong orang. Bu Imas bilang, nolong orang kok nggak ada yang nolong dia.”

Aku tertawa kecil. Bu Imas memang lucu.

”Kamu itu, Ris,” lanjut Ibu, “di sana memang nggak ada perempuan yang kamu suka?”

Aku memikirkan pertanyaan itu sungguh-sungguh, karena Ibu selalu bertanya sungguh-sungguh, dan pertanyaan yang sungguh-sungguh pantas dijawab dengan sungguh-sungguh juga.

Di kantor ada banyak perempuan. Mbak Tari dari HR yang suka biskuit kelapa. Mbak Nadia yang suka lampu meja yang terang. Bu Darsih yang tangannya selalu bau bawang goreng. Mbak Sabrina dari Account yang barang-barangnya sering rusak. Mbak-mbak tim media yang selalu kehabisan air. Mereka semua baik. Aku senang menolong mereka. Tapi aku juga senang menolong Pak Darmo, Mas Ujang, Pak Leo, dan Komisaris.

”Belum ada yang pengin saya tolong duluan, Bu,” jawabku.

Ibu diam lagi. Kali ini lebih lama.

”Ya sudah,” katanya akhirnya. “Nanti juga ada. Makan, ya, Ris. Ibu masak sayur asem, kepikiran kamu.”

”Iya, Bu. Salam buat Bapak sama Mbak Ratih.”

”Bapakmu lagi di kebun. Cabainya kena patek lagi.”

Telepon ditutup. Aku duduk sebentar di pinggir kasur, memandangi dinding kamar kos yang catnya mengelupas di sudut, lalu bangun untuk menyetrika.


Kamar kosku di Tebet ukurannya tiga kali tiga meter. Isinya kasur busa, lemari plastik tiga susun, meja lipat, setrikaan, dan sebuah rak kecil berisi peralatan. Obeng, kunci pas, tang, isolasi listrik, lem tembak, gulungan kabel. Pak Haji pemilik kos sering memanggilku kalau keran di kamar mandi bersama bocor. Sebagai gantinya, listrikku tidak pernah dihitung lebih.

Aku menyetrika kemeja abu-abu untuk hari ini. Lipatan lengannya harus lurus. Bapak mengajariku itu waktu aku masih SMP. Baju itu boleh murah, Ris, tapi harus rapi. Rapi itu tandanya kamu menghargai orang yang ketemu kamu.

Setelah menyetrika, aku membuka buku cokelat.

Ini buku tolong. Mbak Ratih yang memberi nama waktu aku masih SMA. Dulu buku itu isinya pesanan tetangga. Bu Imas: antena TV. Mang Udin: rantai sepeda. Neng Rina: les matematika hari Kamis. Sekarang buku yang ke-sebelas. Isinya orang-orang kantor.

Halaman hari ini masih kosong. Aku menulis tanggal di pojok kanan atas, lalu membalik ke halaman kemarin untuk melihat apa yang belum selesai.

1. Printer kreatif — rol karet aus, pesan sparepart. (belum)
2. Pak Leo — kursi pijat ruangannya bunyi “krek”. (belum, beliau minta jangan dibenerin dulu, katanya bunyinya menenangkan)
3. Lampu tangga darurat lt. 7–8 kedip-kedip. ✓
4. Mbak Sabrina — AC meja 17 terlalu dingin. ✓
5. Mbak Sabrina — lampu meja 17 redup. ✓
6. Mbak Sabrina — HP tidak bisa konek wifi kantor. ✓

Aku berhenti di nomor enam.

Lalu aku membalik ke halaman-halaman sebelumnya. Dua minggu terakhir.

Mbak Sabrina — kursi bunyi. ✓
Mbak Sabrina — AC r. meeting kecil. ✓
Mbak Sabrina — mata (kelilipan?), kasih obat tetes. ✓
Mbak Sabrina — chat malam, mungkin ada yang rusak. (tidak jelas, tidak ada yang rusak)
Mbak Sabrina — makan sendiri, kasihan. ✓
Mbak Sabrina — laci meja macet. ✓
Mbak Sabrina — stapler. ✓
Mbak Sabrina — kerah saya (?). ✓

Aku menghitung. Dua belas permintaan dalam dua minggu. Dari satu orang.

Mbak Tari biasanya dua permintaan seminggu. Pak Leo tiga, tapi Pak Leo bosnya, jadi wajar. Mbak Sabrina dua belas.

Aku mengambil pulpen dan menulis di bagian bawah halaman, kecil-kecil:

Mbak Sabrina sering sekali rusak barangnya. Perlu dicek. Mungkin listrik di area meja 17 tidak stabil. Atau mungkin Mbak Sabrina sedang kurang beruntung.

Aku membaca ulang kalimat itu. Lalu aku menambahkan satu baris lagi:

Doakan.


Jam tujuh kurang sepuluh, aku sudah di parkiran basement.

Komisaris menunggu di atas jok motor Pak Darmo. Dia selalu tidur di jok motor Pak Darmo, padahal Pak Darmo tidak pernah memberinya makan. Pak Darmo bilang Komisaris itu kucing yang tahu diri. Dia tidur di motor satpam karena merasa ikut menjaga gedung.

Aku memberinya nama Komisaris karena dia gendut, jarang bergerak, dan semua orang menghormatinya tanpa tahu kerjanya apa.

”Pagi, Komisaris,” kataku sambil membuka bungkus makanan kucing. Komisaris membuka satu mata, menilai kualitas sarapannya, lalu turun dengan gerakan lambat yang penuh wibawa.

”Ris!” Pak Darmo datang dari pos dengan seragam yang kerahnya terlipat ke dalam. “Kamu kemarin bawa si gendut naik ke atas? Mbak Tari lapor ke saya, katanya ada kucing di pantry, terus Mbak Sabrina ngelihatin kucing kayak mau ngajak berantem.”

”Komisaris kehujanan, Pak. Kasihan.”

”Kasihan, kasihan. Kamu itu kasihan sama semua makhluk.” Pak Darmo menggeleng, lalu duduk di bangku dekat pos. “Anak saya kemarin batuk lagi, Ris. Sesak.”

Aku berhenti mengusap kepala Komisaris. “Dimas, Pak?”

”Iya. Asmanya kambuh. Sudah dikasih obat semprot, mendingan. Tapi saya jaga malam terus minggu ini, ibunya sendirian di rumah. Kalau kambuh tengah malam, ibunya bingung, nggak bisa naik motor.”

”Nanti kalau kambuh, telepon saya aja, Pak. Saya antar ke IGD. Kos saya dekat.”

Pak Darmo menatapku lama. Lalu dia tertawa, menepuk bahuku keras-keras.

”Kamu tuh, Ris. Kalau kamu cewek, sudah saya lamar dari dulu.”

”Saya bukan cewek, Pak.”

”Makanya saya cari cewek buat kamu. Cewek yang ngerti kamu.”

Aku mencatat di buku tolong: Pak Darmo — Dimas asma, kalau kambuh malam, antar IGD. Aku memberi tanda bintang. Tanda bintang artinya mendahului antrean karena darurat. Itu satu-satunya pengecualian.

”Pak, kerahnya,” kataku sambil menunjuk.

Pak Darmo meraba lehernya. “Kenapa?”

”Kelipat.”

”Biarin. Kerah kelipat itu gaya.”

”Kemarin ada yang bilang ke saya, kerah kelipat itu kelihatan nggak rapi.”

”Siapa?”

”Mbak Sabrina.”

Pak Darmo diam. Lalu dia menatapku dengan mata yang menyipit seperti Bu Darsih kalau sedang melihat bawang yang harganya naik.

”Ris,” katanya pelan. “Mbak Sabrina yang cantik itu? Yang rambutnya kayak iklan sampo?”

”Iya, Pak.”

”Dia benerin kerah kamu?”

”Iya, Pak. Kemarin pagi. Baik, ya, Pak, Mbak Sabrina itu.”

Pak Darmo membuka mulut. Menutup mulut. Membuka lagi. Lalu dia mengangkat tangan ke langit-langit basement, seperti sedang mengadu pada Tuhan.

”Ya Allah,” katanya. “Ya Allah, Ris.”

”Kenapa, Pak?”

”Nggak. Nggak apa-apa. Saya cuma lagi mikir, motor saya kapan ganti oli.”


Hari kerja di Lumio Agency itu seperti sungai. Kalau aku berhenti sebentar, airnya langsung meluap.

Jam delapan: printer kreatif makan kertas lagi. Aku membuka tutupnya dan menemukan selembar storyboard yang tersangkut, gambar seekor ayam memakai kacamata hitam. Aku tidak bertanya.

Jam sembilan: Pak Leo memanggilku ke ruangannya. Bukan karena ada yang rusak. Beliau cuma ingin tahu apakah menurutku warna kemeja ungunya terlalu berani untuk rapat dengan klien siang ini.

”Menurut saya bagus, Pak,” jawabku.

”Kamu bilang begitu karena saya bos.”

”Saya bilang begitu karena warnanya sama dengan kursi pijat Bapak. Jadi kelihatan serasi.”

Pak Leo menatapku, lalu menatap kursi pijatnya, lalu memutuskan mengganti kemeja.

Jam sepuluh: tim media kehabisan air lagi. Galon kedua hari ini.

Jam sebelas: Mbak Tari meminta tolong membuka toples biskuit kelapa yang tutupnya terlalu kencang. Aku membukanya dengan satu putaran. Mbak Tari menatapku seperti melihat pahlawan perang.

Jam sebelas tiga puluh: aku lewat di depan meja tujuh belas.

Mbak Sabrina sedang menelepon klien. Aku tidak berhenti, karena tidak ada yang memanggilku. Tapi aku memperhatikan sebentar, karena dua minggu terakhir aku jadi terbiasa memeriksa meja tujuh belas. Seperti memeriksa keran yang sering bocor.

Mbak Sabrina berbicara dengan suara yang berbeda dari suara yang dia pakai ke aku. Lebih cepat. Lebih tegas. Dia menjelaskan sesuatu soal angka dan timeline, dan orang di seberang telepon sepertinya setuju dengan semua yang dia bilang. Tangannya yang bebas mencoret-coret kertas, membuat diagram dengan panah-panah. Pulpennya berhenti, mengetuk dagu, lalu jalan lagi.

Dia pintar. Aku tidak tahu kenapa itu membuatku kagum. Mungkin karena aku selalu mengira orang secantik itu tidak perlu pintar.

Lalu dia menutup telepon, menghela napas, dan menyandarkan punggung ke kursi. Kursi yang sudah kubetulkan. Tidak berbunyi.

Dia melihatku.

Senyumnya muncul. Senyum yang miring itu, yang ujung kirinya lebih tinggi. Mbak Sabrina selalu tersenyum seperti itu padaku. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin wajahnya memang begitu. Mungkin dulu dia pernah kecelakaan kecil dan saraf bibirnya sedikit tertarik. Kasihan.

”Mas Aris,” panggilnya. “Sini sebentar.”

Aku mendekat dan mengeluarkan buku tolong. “Ada yang rusak, Mbak?”

Dia menatap buku cokelat di tanganku. Lalu menatapku. Lalu tersenyum lagi, lebih kecil, lebih aneh, seperti orang yang sedang menahan sesuatu.

”Nggak ada, Mas.”

”Oh.”

”Aku cuma mau nanya.” Dia memutar kursinya menghadapku. Wangi kue keluar dari arahnya. Wangi bolu yang dibuat Ibu tiap Lebaran, yang vanilanya Ibu beli di pasar Kuningan dalam botol kecil. “Mas Aris tiap hari ngapain aja, sih?”

Aku memikirkannya. “Nolong orang, Mbak.”

”Seharian?”

”Iya, Mbak.”

”Nggak capek?”

”Capek, Mbak. Tapi enak.”

”Enak gimana?”

Aku belum pernah ditanya seperti ini. Orang biasanya bertanya bisa tolong ini? atau kapan beres?. Belum pernah ada yang bertanya enak gimana.

”Kalau nolong orang, Mbak,” kataku pelan, “habis itu kan orangnya lega. Saya suka lihat orang lega. Kayak lihat orang habis minum air dingin pas siang-siang.”

Mbak Sabrina diam.

Dia menatapku lama. Bukan tatapan lima detik yang membuatku khawatir matanya kelilipan. Ini tatapan yang lain. Lebih lembut, lebih bingung, seperti orang yang sedang membaca tulisan dalam bahasa yang hampir dia mengerti.

”Mas Aris,” katanya. “Kamu tuh aneh.”

”Maaf, Mbak.”

”Bukan. Bukan aneh yang jelek.” Dia tertawa kecil lewat hidung, pelan, seperti ditahan. Aku belum pernah mendengar dia tertawa seperti itu. Biasanya tawanya bagus dan rapi, seperti tawa di iklan. Ini berantakan sedikit. Aku suka yang ini, entah kenapa. “Udah, sana. Antreanmu panjang, kan?”

”Iya, Mbak.”

Aku berjalan pergi. Di belokan lorong, aku berhenti dan membuka buku tolong.

Aku menulis: Mbak Sabrina — tidak ada yang rusak.

Lalu aku menatap kalimat itu lama. Aneh rasanya menulis sesuatu yang tidak perlu dicoret.


Jam dua belas, warteg Bu Darsih.

Aku pesan yang biasa: sayur bening, tempe, kerupuk. Bu Darsih menyendokkannya tanpa bertanya, lalu menambahkan satu potong telur balado di pinggir piring.

”Bu, saya nggak pesan telur.”

”Gratis,” kata Bu Darsih. “Ibu lagi senang.”

”Senang kenapa, Bu?”

Bu Darsih menyandarkan siku di etalase kaca dan menatapku dengan mata yang berbinar. Mata itu sama dengan mata Pak Darmo tadi pagi, dan mata Mbak Tari kemarin sore. Akhir-akhir ini banyak orang menatapku seperti itu. Aku belum tahu artinya.

”Neng Geulis kemarin makan di sini,” katanya. “Pesan telur balado. Terus tanya-tanya soal kamu.”

”Tanya apa, Bu?”

”Kamu suka makan apa. Kamu dari mana. Kamu sudah punya pacar apa belum.”

Aku berpikir. “Mungkin Mbak Sabrina mau pesan katering buat kantor, Bu. Biar tahu selera orang-orang.”

Bu Darsih menatapku lama. Lama sekali. Lalu dia mengambil telur balado dari piringku dan menaruhnya kembali ke nampan.

”Nggak jadi gratis,” katanya.

”Kenapa, Bu?”

”Ibu nggak jadi senang.”

Aku makan sayur bening dan tempe dengan bingung. Di meja sebelah, dua OB tertawa sampai kerupuknya jatuh. Aku tidak tahu apa yang lucu. Aku mencatat di buku tolong untuk berjaga-jaga: Bu Darsih — suasana hati naik turun. Mungkin capek. Bantu angkat galon warteg sore ini.


Jam tujuh malam, aku masih di kantor. Pak Leo meminta tolong mengecek kenapa lift B bunyi.

Bunyinya memang aneh. Seperti batuk kecil di antara lantai lima dan enam. Hanya terdengar kalau lift sedang turun dan kalau suasananya sepi. Teknisi gedung bilang mereka sudah mengecek bulan lalu dan semuanya normal.

Aku naik-turun lift B tiga kali untuk mendengarkan. Batuknya ada. Kecil, tapi ada.

Aku menulis di buku tolong untuk besok:

Lift B bunyi di lt. 5–6. Lapor teknisi gedung lagi. Jangan dipakai sendirian kalau malam.

Aku menggarisbawahi kalimat terakhir. Dua kali.

Lalu aku memasukkan buku ke saku kemeja, mematikan lampu ruang GA, dan berjalan ke parkiran. Komisaris sudah tidur di jok motor Pak Darmo. Pak Darmo sudah tidur di kursi pos. Kerahnya masih terlipat.

Aku merapikan kerahnya pelan-pelan supaya beliau tidak bangun.

Lalu aku ingat tangan Mbak Sabrina di kerahku kemarin pagi. Jarinya dingin. Mungkin karena AC di mejanya masih terlalu dingin. Besok aku harus mengecek lagi.

Aku menyalakan motor dan pulang.

Di lampu merah Pancoran, aku tidak tahu kenapa, aku teringat tawa Mbak Sabrina yang lewat hidung itu.

Lalu lampu berubah hijau, dan aku lupa lagi.