Chapter Nine
Temenku, Kerja IT
POV: Devan — Sekarang
Aku kembali ke kedai itu pukul delapan malam, karena aku tahu Gilang tutup jam sembilan dan aku ingin ada saksi sesedikit mungkin.
Ada satu pelanggan. Anak kuliahan, sendirian, laptop terbuka, earphone di telinga. Satu-satunya makhluk hidup di ruangan itu selain kami berdua.
“Lo dateng juga,” kata Gilang, tanpa menoleh dari mesin.
“Hm.”
“Mau kopi?”
“Nggak.”
“Ya lo harus pesen. Ini bukan halte.”
Aku memesan. Dia membuatnya. Kami tidak bicara selama sekitar dua menit, yang untuk Gilang setara dengan puasa.
Anak kuliahan itu melepas satu earphone.
“Mas,” katanya, ke arahku. “Maaf. Mas yang di berita kemarin, bukan?”
Aku membuka mulut.
“Bukan,” kata Gilang.
Anak itu berkedip. “Loh, mirip banget—”
“Bukan,” ulang Gilang, sambil menaruh cangkir di depanku dengan bunyi yang tidak perlu keras. “Temen saya. Kerja IT.”
“Oh.” Anak itu memandangiku sekali lagi, ragu. “Mirip banget lho, Mas.”
“Iya, banyak yang bilang gitu,” kataku.
Gilang mengangguk puas, seperti seorang pengacara yang baru saja memenangkan sesuatu.
Anak itu memasang earphone-nya lagi.
“Kerja IT,” kataku pelan.
“Emang.”
“Aku nggak kerja IT, Lang.”
“Lo benerin monitor orang. Lo yang bilang sendiri.” Gilang melipat lap. “Itu IT.”
Aku menunggu sampai anak kuliahan itu pergi.
Sepuluh menit. Aku minum kopi yang memang enak dan tidak pantas dibuat di gang yang sepi, dan aku menyusun kalimat pembuka sekitar enam kali.
Begitu bel pintu berbunyi dan kunci diputar, aku bicara.
“Kenapa kamu cerita.”
Gilang berhenti di depan pintu, punggung menghadapku.
“Gue tahu lo bakal balik malem ini,” katanya.
“Kenapa kamu cerita, Lang.”
“Karena dia nanya.”
“Semua orang nanya.”
“Nggak.” Gilang berbalik. “Nggak semua orang nanya, Dev. Dalam sepuluh tahun, dia orang pertama yang nanya lo ngapain aja.”
Aku meletakkan cangkir.
“Itu bukan hakmu.”
“Gue tahu.”
“Itu bukan hakmu, dan kamu tahu itu bukan hakmu, dan kamu tetep cerita.”
“Iya.” Gilang menarik kursi dan duduk di seberangku, dan untuk pertama kalinya sejak kelas satu SMA dia tidak terlihat seperti orang yang sedang bercanda. “Dan gue bakal ngulang.”
Ada sesuatu yang naik di dadaku. Aku tidak marah dengan cara yang bisa dilihat orang; aku belum pernah bisa. Yang terjadi kalau aku marah adalah suaraku turun dan kalimatku jadi lebih pendek, dan orang biasanya tidak sadar sampai jauh kemudian.
“Kenapa,” kataku.
“Karena lo nggak akan pernah cerita sendiri.”
“Itu pilihanku.”
“Bukan pilihan. Penyakit.” Gilang mengetuk meja dengan telunjuk. “Dev, gue temen lo lima belas tahun. Lima belas. Lo tahu berapa banyak hal tentang lo yang gue tahu dari lo langsung? Dikit banget. Gue tahu bokap lo pergi karena nyokap lo yang cerita ke nyokap gue. Gue tahu lo dapet beasiswa dari pengumuman di mading. Gue tahu lo pindah ke Amerika dari status WhatsApp lo yang isinya foto pesawat, tanpa caption.”
“Terus?”
“Terus lima belas tahun, Dev.” Suaranya naik sedikit, lalu turun lagi. “Lima belas tahun gue nungguin lo minta tolong sekali aja. Sekali. Pinjem duit, pinjem motor, apa kek. Nggak pernah.”
Aku tidak menjawab.
“Dan yang paling nyebelin,” lanjut Gilang, “lo justru yang selalu bantuin. Lo yang bikin itungan buat kedai ini. Lo yang bayar lisensi kasir gue selama dua tahun terus bilang itu ‘gratisan dari kantor’.” Dia menatapku. “Gue nggak bego, Dev.”
“Itu emang gratisan dari kantor.”
“Bohong.”
Aku memutar cangkir setengah lingkaran di atas meja.
“Itu bukan hal yang besar,” kataku.
“Ya itu dia masalahnya!” Gilang menepuk meja. “Buat lo nggak ada yang besar! Lo bisa ngasih apa aja ke siapa aja, dan lo nggak bisa minta segelas air ke siapa pun!”
Kedai itu sepi sekali. Musiknya sudah dimatikan.
“Sori,” kata Gilang, lebih pelan. “Gue kelewatan.”
“Nggak.”
“Nggak apa?”
“Nggak kelewatan.”
Aku menceritakannya malam itu.
Bukan karena Gilang menang berdebat. Karena aku sudah menyimpannya selama tujuh tahun dan malam itu, entah kenapa, benda itu terasa lebih berat dari biasanya.
Bulan Maret 2019. Aku dua puluh lima tahun, tinggal di apartemen sempit di daerah yang harganya tidak masuk akal, dan sedang berada di posisi paling tidak penting yang pernah kupegang dalam karierku — orang nomor sembilan di tim yang isinya sembilan orang.
Aku sedang makan malam sendirian sambil membuka ponsel, yang merupakan kebiasaan buruk yang tidak pernah bisa kuhentikan, dan algoritma sesuatu memutuskan untuk menunjukkan padaku sebuah klip wawancara berdurasi lima puluh detik.
Freya, dua puluh satu tahun, di sebuah acara. Rambut diikat. Duduk di kursi tinggi. Menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan dengan senyum yang sudah kuhafal versi aslinya, jadi aku tahu yang itu bukan.
Pertanyaan terakhir: “Kamu paling takut sama apa?”
Dan dia diam sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya — sepersekian detik yang tidak akan ditangkap oleh siapa pun di dunia ini kecuali oleh satu orang yang pernah duduk di seberangnya di perpustakaan tanpa AC selama delapan bulan.
Lalu dia menjawab, sambil tertawa kecil, dengan nada yang membuatnya terdengar seperti lelucon:
“Jadi orang yang gampang direlain.”
Klipnya selesai. Otomatis mengulang.
Aku menontonnya lagi. Lalu lagi.
Aku memesan tiket pukul dua pagi.
“Empat hari,” kata Gilang.
“Empat hari.”
“Terus lo ngapain?”
“Hari pertama tidur. Jet lag.” Aku menatap cangkir. “Hari kedua aku cari tahu jadwalnya. Ada acara di mal, hari ketiga, sore. Terbuka untuk umum.”
“Lo dateng.”
“Aku datang.”
“Terus?”
“Terus aku berdiri di lantai tiga, di pinggir pagar, di belakang sekitar dua ratus orang.”
Gilang tidak berkata apa-apa.
Aku ingat detailnya lebih banyak dari yang wajar untuk sesuatu yang tidak terjadi.
Atrium mal itu berbentuk persegi dengan lubang di tengah, dan panggungnya ada di lantai dasar, jadi orang menonton dari tiga lantai sekaligus. Aku sampai satu jam lebih awal karena aku selalu sampai lebih awal. Aku membeli kopi yang tidak kuminum supaya punya alasan berdiri.
Aku memilih lantai tiga, sisi selatan, karena dari sana wajah orang yang berdiri tidak terlihat dari bawah.
Aku sudah memperhitungkan itu.
Aku berdiri di sana selama satu jam sepuluh menit sebelum acaranya mulai, dan selama satu jam sepuluh menit itu aku menyusun kalimat pembuka. Aku punya empat versi. Aku ingat semuanya sampai sekarang.
Versi pertama terlalu panjang. Versi kedua terdengar seperti orang yang menyalahkan. Versi ketiga bagus tapi mengandaikan dia senang melihatku, yang tidak bisa kuasumsikan. Versi keempat cuma dua kata dan aku membuangnya karena terlalu berani.
Lalu dia naik ke panggung.
Dan bagian yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, termasuk pada Gilang malam itu, adalah bahwa aku sempat berjalan.
Aku turun eskalator dari lantai tiga ke lantai dua. Dua puluh delapan anak tangga. Aku menghitungnya, karena tentu saja aku menghitungnya.
Aku sampai di lantai dua, dan aku melihat ke bawah, dan aku melihat dua ratus orang mengangkat ponsel sekaligus ke arah satu perempuan yang berdiri sendirian di bawah lampu.
Dan aku berpikir: dia sudah sampai.
Bukan dengan pahit. Aku tidak pahit sedikit pun. Aku merasakan sesuatu yang jauh lebih memalukan dari pahit, yaitu bangga — bangga yang tidak punya hak untuk ada, bangga yang tidak kubayar apa pun untuk mendapatkannya, bangga seperti orang yang mengaku ikut membangun rumah yang cuma pernah dia lewati.
Lalu aku naik eskalator lagi.
Dua puluh delapan anak tangga, ke arah sebaliknya.
“Dia bicara sekitar dua belas menit,” kataku. “Terus foto-foto sekitar empat puluh menit. Terus dia keluar lewat pintu belakang.”
“Dan lo?”
“Aku pulang ke rumah ibuku. Besoknya aku terbang balik.”
“Dev.”
“Hm.”
“Lo terbang dua puluh tiga jam buat berdiri di lantai tiga mal.”
“Iya.”
“Kenapa lo nggak turun?”
Dan di sinilah bagian yang tidak bisa kujelaskan dengan baik, bahkan sampai sekarang, bahkan pada diriku sendiri.
Karena aku punya alasan. Aku punya banyak sekali alasan, dan semuanya masuk akal, dan aku sudah menyusunnya di pesawat selama dua puluh tiga jam supaya rapi.
Dia sedang bekerja; menghampirinya di tempat kerja itu tidak sopan. Ada dua ratus orang; kalau ada yang memotret, itu jadi masalahnya, bukan masalahku. Aku tidak punya apa pun untuk ditawarkan; aku orang nomor sembilan dari sembilan. Sudah tiga tahun; mungkin dia sudah punya orang lain. Dan yang paling rapi, yang paling kubanggakan, yang kutaruh di urutan terakhir karena terdengar paling dewasa:
Kalau aku muncul sekarang, aku cuma akan bikin hidupnya lebih rumit. Dia lagi baik-baik aja. Jangan diganggu.
Aku menyebutkan empat dari lima alasan itu pada Gilang.
Gilang mendengarkan sampai selesai, lalu menghela napas, lalu berkata satu kalimat yang membuatku tidak bisa tidur malam itu.
“Dev,” katanya. “Lo tahu nggak sih, semua alasan lo itu bunyinya kayak orang yang lagi ngelindungin dia.”
“Emang.”
“Nggak.” Gilang menggeleng pelan. “Gue denger dari tadi. Semuanya bunyinya kayak orang yang lagi ngelindungin diri sendiri terus dikasih baju bagus.”
Aku tidak membantah, karena aku tidak punya bahan.
“Lang.”
“Hm.”
“Kamu tahu dari mana. Yang mal.”
Gilang menggaruk belakang kepalanya.
“Setahun kemudian,” katanya. “Gue lagi scroll. Ada akun yang ngepost foto lama acara itu, yang diambil dari lantai dua, ngadep ke atas.” Dia mengangkat bahu. “Ada punggung orang di pojok kanan. Buram. Nggak keliatan mukanya.”
“Terus?”
“Terus gue kenal punggung lo, Dev.” Gilang tertawa satu kali, tanpa senang. “Lima belas tahun gue jalan di belakang lo tiap pulang sekolah. Gue kenal cara lo berdiri.”
Aku menatap meja.
Ada dua orang di dunia ini yang mengenali punggungku dari kerumunan, dan dalam satu minggu terakhir kedua-duanya melakukannya.
“Kenapa kamu nggak nanya waktu itu?” tanyaku.
“Gue nanya.”
“Nggak.”
“Gue nanya, Dev. Gue bilang ‘lo pernah ketemu Freya nggak sih?’” Gilang menirukan suaranya sendiri. “Lo bilang ‘nggak’. Terus lo ganti topik ke harga biji kopi.”
Aku mengingatnya. Aku betul-betul mengingatnya, sekarang setelah dia menyebutkannya, sampai ke bagian harga biji kopi.
“Oh,” kataku.
“‘Oh.’”
“Iya.”
“Lima belas tahun, Dev.” Gilang berdiri dan mulai menaruh kursi ke atas meja. “Lima belas tahun ‘oh’.”
Aku pulang jalan kaki karena kosku dekat, dan karena aku selalu jalan kaki kalau kepalaku ribut, dan karena ternyata dua hal itu tidak pernah berubah dalam lima belas tahun.
Aku sampai di angka delapan ratus tiga puluh ketika ponselku bergetar.
Nomor tidak dikenal. Satu pesan.
Vinka kasih nomor kamu. Dia bilang itu keperluan kerja. Dia bohong.
Aku berhenti di tengah trotoar.
Titik-titik muncul lagi.
Besok makan malam tim jam 7. Aku dijemput mobil produksi. Vinka nggak ikut, dia ada urusan.
Kamu bawa mobil sendiri kan.
Aku menatap layar itu cukup lama sampai lampunya mati sendiri, lalu menyalakannya lagi.
Ada empat cara untuk menjawab pesan itu dan tiga di antaranya aman.
Iya.
Balasannya datang dalam empat detik.
Bagus.
Lalu, sepuluh detik kemudian:
Devan.
Hm.
Kamu jangan pura-pura nggak ngerti. Aku tahu kamu ngerti.
Aku berdiri di trotoar Jakarta pukul sepuluh malam, di bawah lampu jalan yang berkedip, sambil memegang ponsel dengan dua tangan seperti anak SMA.
Aku ngerti.
Nah.
Sampai besok.
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Aku berjalan lagi, dan aku sadar aku sudah lupa sampai angka berapa, dan untuk pertama kalinya sejak umur tiga belas, aku tidak mengulangnya dari awal.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT reading
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur