Chapter Six
Sembilan Menit
POV: Devan — Sekarang
Aku mencoba tiga kali untuk tidak hadir.
Percobaan pertama: aku bilang pada Airin bahwa aku lebih berguna di ruang kerja pada hari peluncuran, karena kalau ada yang salah pada jam-jam pertama, orang yang harus memperbaikinya sebaiknya tidak sedang memakai jas.
“Ada empat belas orang yang bisa ngurus itu,” kata Airin.
“Tiga.”
“Empat belas, Dev.”
“Tiga yang ngerti bagian yang bakal patah.”
“Dan tiga-tiganya di San Francisco dan sekarang jam dua pagi di sana, dan mereka tetep bakal bangun kalau dipanggil.” Airin menutup laptopnya. “Percobaan kedua?”
Percobaan kedua: aku bukan orang yang enak dilihat di panggung.
“Kamu nggak akan ke panggung.”
Percobaan ketiga: aku bilang jujur bahwa aku tidak suka acara besar dan tidak pernah suka dan tidak akan pernah suka.
Airin menatapku cukup lama.
“Dev,” katanya. “Ada tujuh ratus orang di perusahaan ini yang kerja dua tahun buat hari Kamis. Kamu boleh nggak suka. Kamu tetep dateng.”
Itu argumen yang tidak punya celah, dan aku menghabiskan seluruh hidupku mencari celah, jadi aku tahu bedanya.
Aku datang.
Balai konvensi di Kuningan, tiga ratus dua puluh tamu, empat puluh media, langit-langit yang dibikin gelap dan lantai yang dibikin biru. Aku duduk di meja delapan, baris kedua dari depan, di kursi paling ujung yang berbatasan dengan gang — kursi yang kupilih sendiri dari denah yang dikirim tim acara tiga hari sebelumnya, karena kursi di ujung gang berarti kamu bisa keluar tanpa membuat sembilan orang berdiri.
Aku memakai jas. Jasku satu-satunya. Aku membelinya untuk pemakaman.
Ada satu hal yang perlu dijelaskan supaya sisa malam itu masuk akal.
Aku tidak menyembunyikan pekerjaanku dari Freya. Itu bukan rencana. Aku tidak pernah berbohong pada siapa pun tentang apa yang kukerjakan; kalau ditanya langsung, aku menjawab langsung.
Yang kulakukan cuma tidak mengoreksi.
Vinka bertanya “Mas di sini bagian apa” dan aku menjawab “bagian produk”, yang benar. Dalam rapat, Airin memanggil namaku tanpa jabatan, karena tidak ada yang memanggil orang dengan jabatannya di ruangan berisi delapan orang. Dan setiap kali ada celah di mana aku bisa menambahkan satu kalimat yang akan membereskan semuanya, aku membiarkan celah itu lewat.
Aku sudah melakukan versi lain dari hal ini selama tiga tahun di SMA dan aku sangat terlatih.
Yang tidak kuperhitungkan adalah bahwa tidak mengoreksi selama sepuluh hari akan terasa persis sama seperti berbohong, kalau koreksinya datang lewat layar selebar dua belas meter di depan tiga ratus dua puluh orang.
Freya masuk pukul tujuh lewat lima, dan seluruh ruangan berubah tekanan udaranya.
Aku tidak melihat ke pintu. Aku tahu dari suara.
Dia naik ke panggung pukul delapan kurang seperempat, bicara enam menit tanpa teleprompter, dan melakukan sesuatu yang tidak kupahami sampai hari ini: dia membuat tiga ratus dua puluh orang di ruangan itu merasa sedang diajak bicara satu per satu. Bukan lewat kalimat. Lewat kecepatan. Dia bicara sedikit lebih lambat dari yang wajar, dan entah bagaimana itu membuat semua orang diam.
Aku menatap taplak meja selama enam menit penuh.
Kalau kamu bertanya apa yang dia katakan, aku bisa mengulangnya kata per kata. Aku selalu bisa. Itu bukan kemampuan yang membanggakan; itu cuma cara kepalaku bekerja saat sedang tidak berani memakai mata.
Segmen teknis dimulai pukul delapan lewat dua puluh.
Aku tahu ada video. Aku ikut merekamnya empat bulan sebelumnya di sebuah ruangan di San Francisco, di antara dua rapat, dengan pencahayaan yang membuat semua orang terlihat seperti sedang diinterogasi. Aku menjawab tiga pertanyaan selama sebelas menit dan kupikir mereka akan memakai empat detik.
Aku tahu ada video.
Aku tidak memperhitungkan ukurannya.
Layar di balai itu lebarnya kira-kira dua belas meter.
Lampu turun. Musik masuk. Dan sebuah wajah muncul selebar dinding rumah — wajahku, empat bulan lebih muda, dengan kerah yang tidak rapi, sedang menjelaskan kenapa sebuah sistem harus dibangun dengan asumsi bahwa dia akan gagal.
Di bawah wajah itu, dalam huruf putih yang tingginya barangkali setengah meter:
DEVAN ALARIC
Lead Development — Core Team
Ada suara di ruangan. Bukan tepuk tangan. Suara yang lebih pelan dari itu dan lebih buruk — suara tiga ratus dua puluh orang yang menoleh ke arah yang sama pada waktu yang hampir sama.
Aku memandang ke depan dan tidak bergerak sama sekali.
Videonya berjalan satu menit empat puluh detik. Aku tahu persis berapa lama karena aku menghitung, dari nol, sampai selesai, dan itu satu-satunya hal yang menahanku di kursi.
Lalu suara pembawa acara, riang, terlatih, mematikan:
“Dan malam ini beliau ada di ruangan ini bersama kita. Pak Devan, boleh berdiri sebentar?”
Aku berdiri.
Lampu ikut ke arahku, karena tentu saja lampu ikut.
Tiga ratus dua puluh orang bertepuk tangan pada seorang laki-laki bernilai tujuh puluh delapan yang menghabiskan tiga tahun SMA memastikan tidak ada satu orang pun yang menyebut namanya keras-keras di dalam ruangan.
Aku duduk setelah empat detik, yang menurut tim acara barangkali terlalu cepat.
Dan pada detik terakhir sebelum aku duduk — satu setengah detik, tidak lebih — aku melihat ke meja tiga.
Freya tidak bertepuk tangan.
Dia duduk sangat tegak, dengan kedua tangan di pangkuan, menatap lurus ke arahku. Dan wajahnya bukan wajah kaget.
Wajahnya wajah orang yang sedang menyusun ulang sepuluh tahun terakhir dalam kepalanya, cepat-cepat, dari belakang ke depan, dan menemukan bahwa banyak sekali bagian yang ternyata tidak berbunyi seperti yang dia kira.
Aku duduk. Aku menatap taplak.
Yang terjadi setelah acara selesai adalah hal paling melelahkan yang pernah kualami, dan aku pernah menghabiskan enam belas jam tanpa tidur untuk memperbaiki sesuatu yang dipakai setengah miliar orang.
Orang-orang datang. Berjabat tangan. Menyodorkan ponsel. Menanyakan hal-hal yang jawabannya tidak mereka inginkan. Empat orang bertanya berapa gajiku, dua di antaranya bercanda.
Aku mundur ke sisi ruangan pukul sepuluh dan menemukan satu-satunya tempat yang tidak diperhatikan siapa pun: koridor di belakang meja prasmanan, di sebelah tumpukan kursi cadangan.
Vinka sudah di sana.
Dia berdiri menghadap dinding dengan ponsel di tangan dan wajah seperti orang yang baru turun dari wahana yang salah.
Dia melihatku.
Aku melihat dia.
“Mas Devan,” katanya.
“Iya.”
“Bagian produk.”
“Iya.”
“Sebagian.”
“Iya.”
Vinka menutup mata.
“Berarti Mas baca semua yang gue tulis, dong,” katanya.
“Nggak.”
“Mas.”
“Vinka, aku nggak baca chat orang. Nggak ada yang baca chat orang. Sistemnya nggak dibangun buat itu.”
“Tapi Mas yang bangun sistemnya.”
Aku membuka mulut. Aku menutupnya lagi.
“Setengah tiga pagi,” kata Vinka, ke dinding. “Selama empat tahun. Ada yang tentang mantan gue. Ada yang tentang bos gue. Ada yang tentang—” Dia berhenti. “Ada yang tentang hal-hal yang gue nggak pernah bilang ke manusia.”
“Itu justru maksudnya.”
“Apa?”
“Orang nulis ke situ hal yang nggak bisa mereka bilang ke manusia,” kataku. “Itu bukan kecelakaan. Itu memang dibangun buat itu. Dan makanya bagian yang paling banyak dipikirin adalah gimana caranya supaya nggak ada yang bisa lihat.”
Vinka membuka satu mata.
“Mas mikirin itu?”
“Itu pekerjaanku.”
“Mikirin gue?”
“Mikirin orang jam setengah tiga pagi.” Aku mengangkat bahu. “Kamu salah satunya.”
Vinka menatapku lama sekali. Lalu dia menghela napas panjang dan menyandarkan kepala ke dinding.
“Oke,” katanya. “Gue tetep bakal hapus semuanya.”
“Silakan.”
“Tapi gue nggak jadi benci Mas.”
“Terima kasih.”
“Gue masih agak takut sama Mas.”
“Itu wajar.”
Ponselnya bergetar. Dia melihat layar dan langsung menjauhkannya dari telinga sebelum menjawab, yang ternyata keputusan yang tepat, karena aku bisa mendengar suara dari jarak satu meter.
Suara laki-laki muda, sangat keras, sangat tidak jelas, dengan tingkat kegembiraan yang mengkhawatirkan.
“Sena, berhenti teriak,” kata Vinka. “Sena. SENA. Berhenti—ya. Iya. Iya, yang tadi di layar itu. Iya, yang itu.”
Suara di seberang naik satu oktaf.
Vinka menutup telepon dan menatapku dengan ekspresi baru.
“Adiknya Kak Freya,” katanya. “Dua puluh dua tahun. Anak teknik. Nonton livestream-nya.”
“Oh.”
“Mas.” Vinka menggeleng pelan. “Anak itu pakai Magnus buat semua hal. Semua. Skripsi, jadwal, resep, argumen sama temennya. Dia baru aja teriak selama empat puluh detik tanpa napas.”
Empat puluh detik.
Ada sesuatu yang bergerak di bagian belakang kepalaku dan aku memutuskan untuk tidak melihatnya.
Ponselku sendiri sudah bergetar delapan belas kali sejak lampu naik.
Enam dari kantor. Dua dari nomor tidak dikenal. Sepuluh dari satu orang.
Gilang:
dev
dev
DEV
grup alumni meledak
sembilan menit dev. sembilan menit dari acara lo mulai sampe grup yg udah mati 3 taun tiba2 idup lagi
ada 47 pesan
sekarang 61
riko nanya apa lo yg di tv
gue bilang bukan
kenapa gue bilang bukan
sekarang 89
Aku mengetik satu kalimat.
Aku: itu aku
Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Berlangsung hampir satu menit penuh.
Gilang: nggak
Aku: iya
Gilang: nggak dev. gue kenal lo dari kelas 1. lo tuh yg nilainya 78
Aku: iya
Gilang: lo yg nggak pernah ikut lomba apapun
Aku: iya
Gilang: lo yg minjem penggaris gue tiap hari karna nggak punya
Aku: iya
Gilang: berarti bukan lo
Aku menatap layar itu selama beberapa detik dan merasakan sesuatu yang sangat aneh, yaitu perasaan lega yang murni dan tanpa campuran, untuk pertama kalinya sepanjang malam.
Aku: oke. bukan aku
Gilang: nah
Gilang: besok ke kedai. gue traktir
Gilang: eh nggak. lo yg traktir. kalo lo beneran orang itu
Gilang: tapi lo bukan
Gilang: jadi gue yg traktir
Gilang: anjir gue bingung
Aku keluar lewat pintu samping pukul sebelas kurang sepuluh, ke area parkir belakang tempat mobil-mobil kru diparkir, karena pintu depan masih ada kamera.
Sebelum itu, di lorong dekat toilet, Airin mencegatku.
“Kamu bertahan,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Empat jam.”
“Empat jam dua puluh menit. Aku ngitung juga.” Dia menyodorkan botol air. “Kamu tahu bagian yang paling aneh malam ini?”
“Apa?”
“Waktu kamu berdiri, kamu nggak senyum, nggak lambai, nggak apa-apa. Cuma berdiri terus duduk.” Airin memiringkan kepala. “Ada delapan wartawan yang nanya ke aku siapa kamu sebenarnya. Bukan jabatannya. Orangnya.”
“Bilang aja aku nggak menarik.”
“Aku bilang kamu orang yang paling nggak ingin ada di ruangan itu.” Dia mengangkat bahu. “Itu yang bikin mereka makin penasaran. Tapi ya sudah.”
Dia berjalan pergi, lalu berhenti.
“Dev.”
“Ya.”
“Kalau ada yang mau kamu ceritain sebelum aku dengar dari orang lain,” katanya, “sekarang waktunya.”
Aku memikirkan sekitar empat jawaban, seperti biasa.
“Nggak ada,” kataku.
Airin menatapku satu detik lebih lama dari yang nyaman — kedua orang dalam hidupku yang pernah melakukan itu, dan dua-duanya perempuan yang tidak percaya pada angka rata-rata — lalu mengangguk dan pergi.
Udara Jakarta malam itu basah dan hangat dan berbau aspal.
Dia berdiri di sana.
Bersandar ke pilar beton, masih dengan gaun yang sama, sepatunya dijinjing di tangan kiri, kaki telanjang di lantai parkiran.
Dia tidak kaget melihatku. Dia sudah berdiri di sana entah berapa lama, di satu-satunya pintu yang akan dipilih orang sepertiku.
Dia selalu tahu hal-hal semacam itu.
“Devan.”
“Freya.”
Kami saling menatap dari jarak sekitar empat meter. Tidak ada yang mendekat.
“Sepuluh tahun,” katanya.
“Iya.”
“Aku kirim kabar dua kali. Tahun pertama.”
Sesuatu di perutku turun.
“Aku tahu,” kataku.
“Kamu tahu.”
“Iya.”
Dia mengangguk pelan, beberapa kali, seolah sedang mencocokkan jawaban dengan sesuatu yang sudah dia duga.
“Oke,” katanya.
Lalu dia berdiri tegak, memindahkan sepatu ke tangan kanan, dan berjalan melewatiku ke arah mobilnya.
Dia berhenti tepat di sampingku. Tidak menyentuh apa pun. Sekitar tiga puluh senti, lagi, dan aku mulai curiga jarak itu dipilih dengan sengaja.
“Besok pagi,” katanya, pelan, tanpa menoleh. “Jam delapan. Kedai kopi temenmu yang sepi itu.”
Aku berhenti bernapas.
“Kamu tahu dari mana—”
“Aku tahu banyak hal, Devan.” Dia berjalan lagi. “Dan mulai besok, aku mau tahu sisanya.”
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit reading
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur