← Jangan Pergi

Chapter Thirty Four

Pak Hendra

POV: DevanSekarang

Freya sampai di rumah sakit pukul sembilan lewat dua puluh.

Aku sedang duduk di kursi plastik di lorong depan ICU, di deretan kursi yang isinya lima orang lain yang semuanya juga sedang menunggu sesuatu, dan aku melihat sepatunya lebih dulu sebelum aku melihat wajahnya.

Dia memakai kaus dan celana panjang dan sandal jepit dan tidak ada apa pun di wajahnya.

Dia duduk di kursi kosong di sebelahku dan tidak berkata apa-apa.

Dia tidak bertanya bagaimana keadaannya. Dia tidak bertanya apakah aku sudah makan. Dia tidak bertanya apa pun.

Dia cuma duduk di sana selama satu jam empat puluh menit.

Dan pada suatu titik — aku tidak tahu kapan, aku tidak menghitungnya, dan aku bersyukur setengah mati bahwa aku tidak menghitungnya — bahunya menyentuh bahuku dan tetap di sana.

Sekitar pukul sepuluh, seorang perawat keluar dan menyebut nama ayahku.

Aku berdiri. Freya berdiri juga, setengah, lalu duduk lagi.

Aku bicara dengan perawat itu selama empat menit dan kembali.

“Stabil,” kataku.

“Oke.”

“Kata dia mungkin besok bisa dipindah.”

“Oke.”

Dan aku duduk kembali di kursi plastik itu, dan Freya tidak menanyakan satu pun pertanyaan lanjutan, dan aku menyadari — sekitar dua puluh menit kemudian, terlambat, seperti biasa — bahwa dia sedang melakukan sesuatu dengan sengaja.

Dia tidak bertanya karena kalau dia bertanya, aku harus menjelaskan, dan kalau aku menjelaskan, aku harus mengurus perasaannya tentang jawabannya.

Dia sedang memastikan bahwa selama satu jam empat puluh menit itu, tidak ada satu pun hal di ruangan itu yang harus kuurus.

Aku belum pernah melihat orang melakukan itu untukku.

Aku tidak tahu itu bisa dilakukan.


Dia terlambat dua jam empat puluh menit ke lokasi.

Aku baru tahu angkanya seminggu kemudian, dari Vinka, yang menyampaikannya dengan nada orang yang sedang menyampaikan bukti di pengadilan.

“Mas tau nggak, Kak Freya nggak pernah telat seumur karier dia.”

“Vinka—”

“Sekali. Dua ribu dua puluh satu. Karena banjir.” Vinka melipat tangan. “Gue kerja sama dia sepuluh tahun. Sekali, karena banjir.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Mas,” katanya. “Gue nggak lagi marahin Mas.”

“Aku tahu.”

“Gue cuma pengin Mas tau angkanya.”


Ayahku keluar dari ICU pada hari ketiga.

Kamar barunya kamar untuk dua orang, dengan jendela, dan tempat tidur yang bisa dinaikkan, dan pendingin ruangan yang bekerja. Aku memindahkannya empat hari sebelumnya, sebelum semuanya memburuk, dengan uang yang belum kupunya dan yang akan kupunya kalau aku menandatangani sesuatu.

Dia bangun pada hari keempat.

Aku ada di sana.

“Devan.”

“Iya, Pak.”

Dia melihat ke sekeliling ruangan itu selama beberapa detik. Jendelanya. Pendinginnya. Tempat tidur kedua yang kosong.

“Ini mahal,” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Ini mahal, Devan.”

“Pak.”

Dan dia menoleh ke arahku, dan untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke bangsal kelas tiga itu tiga minggu sebelumnya, wajahnya bukan wajah orang yang sedang sopan.

“Bapak nggak minta,” katanya.

“Saya tau.”

“Bapak nggak minta apa-apa sama kamu.”

“Saya tau, Pak.”

Dan aku duduk di kursi di samping tempat tidur itu dan mendengar suaraku sendiri keluar dari mulut laki-laki berumur enam puluh satu tahun, dan sesuatu di belakang tulang dadaku bergeser sekitar satu sentimeter.


Kami bicara sekitar empat puluh menit hari itu, dan sekitar satu jam pada hari berikutnya, dan sekitar dua jam pada hari ketujuh.

Aku tidak akan menuliskan semuanya. Sebagian besarnya tidak menarik: cuaca, makanan rumah sakit, seseorang bernama Pak Sugeng yang ternyata punya empat cucu.

Yang perlu ditulis ada dua percakapan.


Yang pertama terjadi pada hari kelima.

Aku bertanya, karena aku sudah lima belas tahun ingin bertanya dan karena aku sudah dua puluh delapan tahun dan karena laki-laki itu mungkin tidak punya banyak hari lagi.

“Pak.”

“Hm.”

“Kenapa Bapak pergi?”

Dia tidak kaget. Aku pikir dia sudah menunggu pertanyaan itu sejak hari pertama.

“Kamu mau jawaban yang bagus apa yang bener?”

“Yang bener.”

Dia menatap langit-langit selama sekitar sepuluh detik.

“Bapak dipecat bulan Februari,” katanya.

Aku duduk lebih tegak.

“Tahun berapa?”

“Tahun kamu tiga belas.”

Aku menghitung. Aku tidak bisa menahannya; kepalaku mengerjakannya sendiri.

Februari. Olimpiadenya bulan Mei.

“Bapak nggak bilang sama ibumu,” lanjutnya. “Bapak tiap pagi keluar rumah pakai kemeja. Empat bulan. Bapak duduk di warung, di masjid, di mana aja.”

“Empat bulan?”

“Empat bulan.”

Ruangan itu sunyi kecuali suara pendingin.

“Terus Bapak mikir,” katanya, “kalau Bapak pergi, ibumu bisa cari jalan sendiri. Dia bisa jahit. Dia punya keluarga. Kalau Bapak tinggal, Bapak cuma orang yang harus dikasih makan tiap hari terus nggak bawa apa-apa.”

Dia mengangkat bahu di bawah selimut, sangat kecil.

“Jadi Bapak ngitung,” katanya. “Bapak ngitung dan Bapak pikir itu yang paling bener.”


Aku duduk di kursi itu dan tidak bisa bergerak selama entah berapa lama.

“Pak.”

“Hm.”

“Bapak nanya Ibu dulu nggak?”

Dia menoleh.

“Nanya apa?”

“Nanya Ibu maunya gimana,” kataku. “Sebelum Bapak pergi.”

Dan laki-laki berumur enam puluh satu tahun itu berbaring di tempat tidur rumah sakit dan menatap langit-langit, dan wajahnya berubah dengan cara yang membuatku ingin keluar dari ruangan itu.

“Nggak,” katanya.

“Kenapa nggak, Pak?”

“Karena kalau Bapak nanya, dia bakal bilang tinggal.” Suaranya jadi lebih kecil. “Terus Bapak bakal tinggal. Terus Bapak jadi orang yang duduk di rumah nggak bawa apa-apa, dan dia tiap hari lihat itu.”

“Terus?”

“Terus lama-lama dia nyesel,” katanya. “Dan Bapak nggak sanggup lihat itu.”

Aku duduk di kursi plastik itu dan mendengar kalimatku sendiri — kalimat yang kutulis pada pukul satu lewat dua puluh pagi hari Jumat di baris pertama bagian tiga sebuah dokumen — keluar dari mulut ayahku, tiga puluh tahun lebih tua, di sebuah kamar rumah sakit di Jakarta.

Dia akan memilih aku, dan lima tahun lagi dia akan menyesal.

Kata per kata.

Bentuk per bentuk.

Aku tidak mewarisi kepintarannya, kalau memang dia punya.

Aku mewarisi ini.

“Pak.”

“Hm.”

“Ibu nggak nyesel,” kataku. “Saya tanya.”

Kepalanya menoleh.

“Kapan?”

“Umur delapan belas. Sebelum saya berangkat.” Aku menatap lantai. “Saya tanya Ibu, kalau Bapak dulu tinggal walaupun nggak kerja, Ibu keberatan nggak.”

Ruangan itu sunyi selama waktu yang sangat lama.

“Dia jawab apa?” tanya ayahku, dan suaranya hampir tidak terdengar.

“Dia bilang,” kataku, “‘Ibu tinggal jahit lebih banyak, Dev. Emang kenapa.’”

Aku tidak menoleh selama beberapa menit setelah itu, dan aku tidak akan menuliskan apa yang terjadi di tempat tidur itu, karena itu miliknya.


“Pak.”

“Hm.”

“Bapak inget olimpiade itu nggak?”

Dan dia mengerutkan kening.

Sungguh mengerutkan kening. Seperti orang yang sedang mencari sesuatu di dalam laci yang sudah lama tidak dibuka.

“Yang di Jakarta itu?”

“Iya.”

“Kamu juara berapa?”

Aku menatapnya.

“Saya nggak juara, Pak,” kataku. “Saya naik panggung terus saya nggak nulis apa-apa. Dua belas menit. Saya turun.”

“Oh.” Dia mengangguk pelan. “Iya, ya.”

“Bapak inget?”

“Bapak inget kamu ikut,” katanya. “Bapak nggak inget hasilnya.”

Ruangan itu sunyi lagi.

“Kenapa?” tanyanya. “Kenapa nanya itu?”

Dan aku duduk di kursi plastik di samping tempat tidur ayahku pada hari kelima, dan aku menyadari sesuatu yang, kalau ada keadilan di dunia, seharusnya membuatku marah.

Peristiwa yang mengatur seluruh hidupku sejak umur tiga belas — cara aku belajar, cara aku bekerja, cara aku mencintai orang, cara aku memilih nilai tujuh puluh delapan selama tiga tahun, cara aku berdiri di teras rumah seseorang dan tidak mengeluarkan kertas dari sakuku —

seluruhnya berdiri di atas dua belas menit yang tidak diingat oleh satu-satunya orang lain yang ada di ruangan itu.

Aku tidak marah.

Aku merasakan sesuatu yang jauh lebih aneh: aku merasa ringan, dengan cara yang membuatku hampir kehilangan keseimbangan, seperti orang yang bertahun-tahun membawa tas dan baru sadar tasnya kosong sejak lama.

“Nggak apa-apa, Pak,” kataku.


Percakapan kedua terjadi pada hari ketujuh, dan ini yang mengubah segalanya, dan panjangnya kurang dari satu menit.

Aku sedang mengambil tas, siap pulang, pukul delapan malam.

“Devan.”

“Iya, Pak.”

Dan laki-laki itu berkata:

“Besok kamu ke sini lagi nggak?”

Aku berhenti dengan tangan di tali tas.

“Bapak butuh sesuatu?”

“Nggak.”

“Pak, kalau butuh sesuatu bilang aja. Saya beliin.”

“Bapak nggak butuh apa-apa,” katanya, dan dia terlihat terganggu, dan dia mengalihkan pandangan ke jendela. “Bapak cuma nanya.”

Aku berdiri di ujung tempat tidur itu.

“Pak.”

“Hm.”

“Bapak mau saya dateng?”

Ruangan itu sunyi selama sekitar delapan detik.

Delapan detik, di sebuah kamar rumah sakit untuk dua orang di Jakarta, pada pukul delapan lewat empat menit malam.

“Iya,” katanya, ke arah jendela.


Aku pulang malam itu dan tidak bisa tidur, dan alasannya bukan sedih.

Alasannya adalah bahwa selama lima belas tahun aku menjalankan sebuah sistem berdasarkan satu aturan, dan aturan itu berbunyi:

Kalau kamu meminta seseorang tinggal, kamu membebani mereka. Dan orang yang dibebani akan pergi.

Dan pada pukul delapan lewat empat menit malam hari itu, seorang laki-laki berumur enam puluh satu tahun yang belum pernah meminta apa pun dari siapa pun selama seluruh hidupnya, meminta satu hal dari anaknya.

Dan aku ingin sangat jelas tentang apa yang kurasakan pada detik itu, karena inilah seluruh isi bab ini:

Aku tidak merasa terbebani.

Aku merasa dibutuhkan.

Aku merasa — untuk pertama kalinya dalam ingatanku — bahwa aku punya tempat di dalam hidup seseorang yang tidak perlu kubayar dengan berguna.

Dia tidak minta uang. Dia tidak minta perawatan. Dia tidak minta maaf dan dia tidak akan pernah minta maaf, dan aku sudah berhenti menunggunya.

Dia cuma minta aku datang.

Dan itu adalah hal paling murah dan paling mahal yang pernah diminta siapa pun dariku.


Aku duduk di kasur di kos yang catnya mengelupas di satu sudut, pada pukul dua pagi, dan aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sejak umur tiga belas.

Aku membalik aturannya.

Kalau kamu meminta seseorang tinggal, kamu membebani mereka.

Aku sudah percaya kalimat itu selama lima belas tahun, dan aku belum pernah sekali pun mengujinya.

Aku mengujinya malam itu, dengan satu-satunya data yang kupunya:

Ayahku memintaku datang, dan aku merasa dibutuhkan.

Gilang memintaku minta tolong selama lima belas tahun, dan aku tidak pernah melakukannya, dan dia tetap di sana.

Bu Ratna menunggu seseorang mengetuk pintu selama delapan bulan, dan tidak ada yang datang, dan yang rugi bukan dia.

Freya menyodorkan tangannya di kantin di depan seratus orang pada umur tujuh belas tahun, dan dia tidak pernah sekali pun terlihat seperti orang yang dibebani.

Satu. Dua. Tiga. Empat.

Empat titik data, semuanya menunjuk ke arah yang sama, semuanya ada di depan mataku selama bertahun-tahun.

Dan aku belum pernah sekali pun mengumpulkannya, karena mengumpulkannya berarti mengakui bahwa aturan yang mengatur seluruh hidupku salah sejak awal.


Aku bangun pukul empat pagi dan duduk di tepi kasur dalam gelap.

Aku membuka dokumen di ponselku.

Bagian tiga. Empat baris.

Aku membacanya dari atas ke bawah, sekali, pelan.

Lalu aku memilih semuanya, dan aku menghapusnya, dan aku menutup dokumen itu.

Dan lalu aku duduk di sana dan menyadari bahwa aku tidak punya rencana apa pun untuk pertama kalinya sejak umur tiga belas tahun, dan bahwa aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang, dan bahwa aku takut setengah mati.

Aku mengambil ponselku pukul empat lewat dua puluh dan mengetik pesan.

Aku menghapusnya.

Aku mengetiknya lagi.

Aku menghapusnya lagi.

Dan pukul lima kurang seperempat, akhirnya, aku mengirim tiga kata kepada satu-satunya orang yang tersisa di dunia yang mungkin masih mau menerimanya:

aku nggak tau

Aku menatap layar itu sampai matahari naik.

Dan pukul enam lewat dua belas pagi, tanpa balasan apa pun, ada suara di pintu kosku.

Bukan ketukan.

Kunci.

Aku belum pernah memberikan kunci kamarku pada siapa pun dalam hidupku, dan tidak ada satu orang pun di kota ini yang punya salinannya, dan aku duduk di tepi kasur di kamar berukuran tiga kali empat meter dan menatap pintu dengan jantung yang tiba-tiba terlalu keras.

Lalu aku ingat.

Pemilik kos tinggal di lantai bawah, dan pemilik kos punya kunci cadangan, dan pemilik kos adalah perempuan berumur enam puluhan yang akan membuka pintu untuk siapa pun yang cukup sopan dan cukup meyakinkan dan cukup bersedia berdiri di depan rumahnya pada pukul enam pagi.

Pintunya terbuka.