← Jangan Pergi

Chapter Four

Yang Ketiga

POV: FreyaSekarang

Ruang serbaguna lantai dua puluh dua disulap jadi ruang fitting dengan cara yang sudah kuhafal: dua rak baju beroda, satu cermin tinggi yang disandarkan ke dinding, tirai lipat di sudut, dan dua puluh orang yang semuanya menganggap normal bahwa aku akan berganti pakaian di balik kain setipis itu.

Vinka masuk membawa dua gelas kopi dan wajah orang yang punya kabar.

“Kak, Mas yang tadi di pantry baik banget deh. Dia yang benerin gula gue.”

“Hm.”

“Namanya Devan. Orang produk katanya.” Vinka menaruh gelas. “Agak kaku sih. Tapi ya orang IT gitu ya, mereka kan nggak dilatih basa-basi—”

Pintu di belakangnya membuka.

Vinka tidak berbalik. Aku tidak bilang apa-apa.

Devan masuk, melihat sekeliling ruangan sekali, dan memilih posisi berdiri paling jauh dari cermin yang secara geometris memungkinkan. Sudut kanan belakang, di samping tiang, di antara dua kotak peralatan.

Sepuluh tahun, dan dia masih memilih tempat duduk yang sama seperti waktu SMA.

“—maksud gue, orangnya nggak jelek,” lanjut Vinka. “Cuma tipe yang kalau lo ajak ngobrol dia jawabnya dua kata.”

“Tiga,” kataku.

“Apa?”

“Nggak apa-apa.”


Gaunnya keluar dari peti dengan dua orang yang memegangnya seperti benda bersejarah.

Warnanya hitam, potongannya lurus, dan seluruh nilainya ada di satu hal: bahannya menangkap cahaya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan lewat foto. Aku pernah memakai gaun yang lebih mahal. Aku belum pernah memakai gaun yang seperti ini.

Butuh dua puluh menit di balik tirai. Butuh tiga orang. Butuh satu orang yang tugasnya cuma memegang bahu supaya aku tidak jatuh saat memasukkan kaki.

Lalu tirainya dibuka.

Aku tahu persis apa yang terjadi di ruangan pada detik itu, karena aku sudah sepuluh tahun berjalan keluar dari balik tirai. Suara turun. Seseorang mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang bukan bahasanya sendiri. Ada yang mengangkat ponsel lalu menurunkannya lagi karena ingat sedang tidak boleh.

Reza berkata, “Oke. Oke. Ini dia,” dengan nada orang yang menemukan kunci mobilnya.

Dua puluh orang menatapku.

Dan aku, dengan seluruh berat gaun yang harganya melebihi rumah tempat aku dibesarkan, berdiri di depan cermin setinggi dua meter dan hanya melakukan satu hal:

Aku mencari satu wajah di sudut kanan belakang ruangan.

Bukan untuk penilaian. Aku tidak butuh penilaiannya. Aku bekerja dengan orang-orang yang penilaiannya menggerakkan uang dalam jumlah yang tidak masuk akal, dan tidak ada satu pun dari mereka yang membuat perutku berbunyi.

Aku cuma ingin tahu apakah dia melihat.

Dia melihat.

Dia berdiri di antara dua kotak peralatan dengan tangan di saku dan wajah yang tidak berubah sedikit pun — kecuali satu hal.

Dia lupa berkedip.

Aku menghitungnya. Aku betulan menghitungnya, di dalam kepala, sambil berdiri di bawah lampu dengan dua puluh orang menunggu aku berbalik ke kiri: satu, dua, tiga, empat, lima, enam.

Enam detik.

Lalu dia mengalihkan pandangan ke jendela, cepat, seperti orang yang tertangkap menyontek, dan aku harus menahan sesuatu di wajahku yang bukan senyum profesional.

“Kak Freya, muter dikit ke kiri.”

Aku memutar ke kiri.

Dan aku memikirkan seorang anak laki-laki di perpustakaan tanpa AC yang selalu mengangkat kepala tepat satu detik lalu kembali ke bukunya, dan aku memikirkan betapa yakinnya aku, selama tiga minggu di kelas 11, bahwa dia tidak tertarik.

Enam detik, pikirku.

Kamu berbohong, dari dulu.

Reza mengambil sebelas foto uji dan menyuruh semua orang berkumpul di depan laptop.

“Ini,” katanya, menunjuk salah satu. “Yang ini. Kalian lihat bedanya nggak sama yang lain?”

Tidak ada yang lihat. Aku lihat.

Yang ditunjuk Reza adalah frame keempat. Frame keempat diambil pada detik keempat.

“Ada sesuatu di sini,” kata Reza, mengetuk layar. “Nggak tahu apa. Freya, kamu lagi mikirin apa waktu itu?”

Dua puluh orang menoleh padaku, termasuk satu orang di sudut kanan belakang ruangan yang menoleh sedikit lebih lambat dari yang lain.

“Nggak mikirin apa-apa,” kataku.

“Bohong. Ini muka orang lagi mikirin sesuatu.”

“Aku mikirin jadwal.”

“Jadwal.” Reza menatap layar lagi, tidak yakin, lalu menyerah. “Ya udah. Mikirin jadwal terus deh seharian.”

Vinka, di sebelahku, tidak berkata apa-apa.

Vinka tidak berkata apa-apa selama hampir dua menit penuh, yang merupakan rekor pribadinya, dan aku memutuskan untuk tidak memikirkan artinya.


Briefing dimulai jam dua di ruangan sebelah, dengan gaun sudah kembali ke petinya dan aku kembali ke kemeja putih dan sandal.

Airin memimpin. Aku suka dia dalam empat menit pertama: dia menyebut angka tanpa dibulatkan, tidak pernah memuji siapa pun untuk melunakkan kalimat, dan menanyakan pendapatku dengan nada orang yang benar-benar akan memakai jawabannya.

“Kita punya satu masalah,” katanya di menit ketiga puluh. “Tanggal peluncurannya nggak bisa digeser. Tapi ada bagian produk yang belum siap dibuka ke publik.”

Reza mengangkat pena. “Yang mana? Karena tiga dari lima konsep visual gue ngandelin fitur itu.”

“Belum tentu nggak siap. Tergantung satu hal.” Airin menoleh. “Dev?”

Dan itu bagian yang membuatku berhenti mengetuk-ngetukkan kuku ke meja.

Bukan karena dia dipanggil. Karena cara dia dipanggil.

Airin adalah orang paling senior di ruangan itu. Semua orang di ruangan itu tahu. Dan dia melempar pertanyaannya ke sudut belakang dengan nada yang tidak dipakai atasan pada bawahan — nada orang yang menyerahkan keputusan.

Devan menjawab tanpa berdiri.

“Bisa dibuka,” katanya. “Tapi cuma buat sepuluh persen user, dan cuma yang tiga bulan terakhir aktif. Sisanya nunggu.”

“Kenapa yang aktif?”

“Karena kalau ada yang salah, mereka yang paling cepat kasih tahu kita.” Jeda dua detik. “Orang yang jarang pakai bakal diem aja terus berhenti pakai. Itu yang nggak kelihatan di angka sampai udah telat.”

Airin mengangguk sekali. “Oke. Reza, konsepmu aman. Lanjut.”

Dan ruangan lanjut, dan tidak ada satu orang pun yang merasa ada yang aneh, dan aku duduk di sana dengan perasaan seperti seseorang membaca satu paragraf dengan suara keras dari buku yang tidak kubaca.

Orang produk, kataku pada diriku sendiri.

Aku menuliskan sesuatu di catatanku supaya tanganku ada kerjanya, dan yang kutulis ternyata bukan kata, cuma garis.


Rapat bubar jam empat. Ruangan mengosong dengan kecepatan yang biasa: orang-orang yang punya rapat lain, orang-orang yang punya rokok.

Aku sengaja lambat membereskan tasku.

Ini keahlianku dan aku tidak akan pura-pura malu. Aku tahu persis berapa lama sebuah ruangan butuh untuk kosong, dan aku tahu siapa yang selalu keluar terakhir karena harus membereskan kabel.

Dia sedang menggulung kabel HDMI dengan cara yang benar — melingkar, dua arah bergantian, bukan diikat asal seperti yang dilakukan seluruh umat manusia.

“Devan.”

Dia berhenti. Tidak kaget. Dia sudah tahu aku masih di ruangan; dia tahu dari tadi.

“Freya.”

Namaku, diucapkan olehnya, setelah sepuluh tahun.

Aku harus menunggu satu detik penuh sebelum bisa melanjutkan, dan aku benci itu.

“Yang tadi kamu bilang di rapat,” kataku. “Soal orang yang jarang pakai terus berhenti pakai.”

“Kenapa?”

“Itu bukan soal produk.”

“Bukan?”

“Bukan.” Aku berjalan mendekat, karena berbicara dari seberang meja terasa seperti wawancara. “Itu soal orang. Kamu ngomongin orang yang nggak protes terus pergi diem-diem.”

Aku berhenti sekitar tiga puluh senti dari tempatnya berdiri.

Cukup dekat untuk melihat bahwa dia belum bercukur pagi ini. Cukup dekat untuk mencium bahwa dia masih memakai sabun yang sama, atau mungkin aku cuma ingin percaya begitu. Cukup dekat untuk melihat kabel di tangannya berhenti bergerak sepenuhnya.

Tidak ada yang bersentuhan. Tiga puluh senti itu penuh dan tidak ada apa-apa di dalamnya.

“Iya,” katanya pelan.

“Iya apa?”

“Iya, itu soal orang.”

“Kamu tahu itu dari mana?”

Dan dia melakukan kesalahan.

Dia mengangkat kepala untuk menjawab — refleks, karena orang menjawab pertanyaan sambil menatap lawan bicara — dan dia lupa bahwa strateginya seumur hidup adalah tidak pernah melakukan itu dari jarak tiga puluh senti.

Aku melihat detik di mana kalimat yang seharusnya keluar berhenti di tenggorokannya.

Aku melihat detik di mana kalimat lain lewat dan tidak sempat dicegat.

“Kamu cantik banget.”

Ruangan itu sunyi seperti gedung kosong.

Kabel di tangannya jatuh setengah gulungan.

“Itu—” Dia berhenti. Aku menunggu, dan aku tahu persis apa yang akan datang, karena sepuluh tahun lalu ada satu kalimat penyelamatan yang dia pakai dan aku masih hafal setiap katanya. “Itu nggak—”

Dia tidak menyelesaikannya.

Dia berdiri di sana, dengan kabel setengah tergulung di tangan dan telinga yang merah sampai ke belakang, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tidak punya kalimat kedua.

Sesuatu di dadaku patah dengan bunyi yang sangat pelan.

“Oke,” kataku.

“Freya—”

“Nggak apa-apa.” Aku melangkah mundur, karena kalau aku tinggal satu detik lagi aku akan melakukan sesuatu yang akan mengubah tiga bulan ke depan. “Sampai besok, Devan.”

Aku berjalan keluar. Aku tidak berbalik. Aku sangat bangga pada diriku sendiri.

Di lorong, tepat di luar pintu, Vinka berdiri dengan dua gelas kopi dan mulut sedikit terbuka.

Kami saling menatap.

“Kak,” katanya.

“Nggak.”

“Kak.”

Nggak.

“Oke.” Vinka mengangguk berkali-kali sambil menyodorkan satu gelas. “Oke. Nggak. Sama sekali nggak. Nol persen.”

Kami berjalan ke lift dalam diam.

Di depan pintu lift, Vinka menambahkan, tanpa menoleh:

“Tapi Kak, muka lo lagi kayak orang yang baru dikasih tahu ulang tahunnya dimajuin.”


Di dalam mobil, sambil Jakarta bergerak lima meter setiap dua menit, aku melakukan hal yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun seumur hidupku.

Aku menghitung.

Yang pertama: Rabu, bulan November, kelas sebelas, di depan pagar sekolah, jam setengah tujuh pagi. Aku ingat hari, bulan, jam, dan apa yang kupakai.

Yang kedua: bulan Agustus, kelas dua belas, malam hari, dan aku tidak akan memikirkan yang itu sekarang karena aku sedang di mobil dan Vinka duduk delapan puluh sentimeter dariku.

Dan yang ketiga: hari ini, jam empat lewat dua belas menit, di ruang rapat lantai dua puluh dua gedung di Sudirman, sambil memegang kabel HDMI.

Tiga kali. Seumur hidup. Dari satu orang.

Aku bekerja di industri di mana orang mengatakan kalimat itu padaku rata-rata sembilan kali sehari. Fotografer, klien, penata rias, orang asing di bandara, komentar di internet dalam jumlah yang tidak bisa dibaca manusia.

Sembilan kali sehari, sepuluh tahun.

Dan aku menghafal tanggal dari tiga.

“Vin.”

“Hm?”

“Besok jadwalku apa?”

“Nggak ada. Kosong sampai Jumat.”

Aku memandang keluar jendela.

“Cari,” kataku.

“Cari apa?”

“Cari alasan buat aku ke kantor mereka besok.”

Vinka diam tiga detik penuh.

“Nol persen,” katanya pelan, pada dirinya sendiri, sambil membuka tabletnya. “Nol persen, katanya.”

Dia mengetik selama dua menit.

“Ada,” katanya akhirnya. “Approval final buat tiga look. Sebenernya bisa lewat email.”

“Sebenernya bisa lewat email,” ulangku.

“Iya.”

“Tapi lebih aman kalau langsung.”

“Jauh lebih aman.” Vinka mengunci tabletnya. “Bahaya banget kalau lewat email. Bisa kiamat.”

Aku menatap keluar jendela supaya dia tidak melihat wajahku.

“Kak.”

“Hm.”

“Gue nggak nanya apa-apa, ya.”

“Bagus.”

“Gue cuma mau bilang satu hal, terus gue diem.” Vinka menghela napas. “Gue kenal lo sepuluh tahun. Gue pernah lihat lo diputusin, gue pernah lihat lo dibohongin agensi, gue pernah lihat lo nangis di toilet Changi. Gue nggak pernah lihat lo minta gue nyariin alasan.”

Lampu rem di depan kami menyala merah panjang sampai ujung jalan.

“Udah,” kata Vinka. “Itu doang. Gue diem.”

Dia diam selama empat menit, yang untuk ukurannya adalah pengorbanan besar, lalu mulai menceritakan sesuatu tentang mantannya, dan aku bersyukur setengah mati.