← Jangan Pergi

Chapter Ten

Dua Jam Empat Menit

POV: FreyaSekarang

Makan malam tim diadakan di restoran Jepang di lantai empat sebuah gedung di Senopati, di ruangan panjang dengan satu meja untuk dua puluh dua orang, yang berarti percakapan terbagi jadi enam kelompok dan tidak ada satu pun yang bisa mendengar ujung yang lain.

Aku duduk di tengah, karena aku selalu duduk di tengah. Itu bukan pilihan; itu penempatan.

Devan duduk di ujung.

Tentu saja di ujung.

Aku menghabiskan empat puluh menit pertama melakukan pekerjaanku — mengingat nama, menanyakan hal yang benar pada orang yang benar, tertawa pada waktu yang tepat — sambil melakukan pekerjaan kedua yang tidak dibayar siapa pun, yaitu memperhatikan ujung meja.

Dan aku melihat sesuatu yang menarik.

Devan hampir tidak bicara. Dalam empat puluh menit dia mungkin mengeluarkan dua puluh kalimat. Tapi setiap kali ada perdebatan kecil di kelompok mana pun di sepanjang meja itu, ada satu momen — selalu ada — di mana seseorang menoleh ke ujung dan bertanya, “Dev, ini gimana?”

Dan meja itu diam. Seluruh meja, bukan cuma kelompoknya.

Dia menjawab dalam dua atau tiga kalimat. Meja lanjut berisik lagi.

Terjadi enam kali dalam dua jam. Aku menghitungnya.

Dua puluh dua orang di ruangan itu memperlakukan seorang laki-laki berkaus polos di ujung meja seperti orang yang tidak boleh diganggu kecuali perlu — bukan karena takut, tapi karena hemat. Seperti orang menyimpan baterai cadangan.

Aku minum air putih dan berpikir tentang seorang anak kelas sebelas yang duduk di pojok dan tidak pernah mengangkat tangan.


“Kak Freya.”

Anak muda di seberangku, mungkin dua puluh empat, engineer, sudah dua kali menjatuhkan sumpitnya.

“Ya?”

“Boleh nanya nggak? Ini bukan soal kerjaan.”

“Boleh.”

“Kak Freya kenal Pak Devan dari mana?”

Aku meletakkan gelas dengan sangat perlahan.

“Kenapa?”

“Soalnya tadi pas Kakak masuk, dia langsung liat jam.” Anak itu menirukan gerakan melihat jam tangan. “Terus dia liat jam lagi tiga menit kemudian. Terus lagi. Padahal dia nggak pernah keliatan buru-buru. Sekalipun. Waktu server kita down dua hari dia santai banget.”

Aku tersenyum, dan kali ini bukan senyum yang mana pun dari koleksiku.

“Kamu perhatian banget ya,” kataku.

“Saya kagum sama beliau, Kak.” Anak itu menurunkan suara. “Saya baca paper dia waktu masih kuliah. Terus tiba-tiba orangnya duduk tiga kursi dari saya dan minta saya jangan panggil ‘Pak’.”

“Terus kamu panggil apa?”

“Ya ‘Pak’.” Dia mengangkat bahu. “Saya nggak bisa.”

Aku tertawa, dan dari ujung meja aku merasakan seseorang menoleh, dan aku tidak menoleh balik.


Hujan turun pukul sembilan lewat.

Bukan hujan Jakarta yang biasa. Hujan yang membuat orang berdiri di lobi dan mengucapkan kata “waduh” secara serempak.

Vinka menelepon pukul setengah sepuluh, di tengah bunyi klakson.

“Kak, mobil produksi kejebak di Casablanca. Nggak gerak sama sekali. Supirnya bilang minimal satu setengah jam.”

“Oke.”

“Gue udah nyari alternatif. Ada dua opsi—”

“Nggak usah.”

Jeda.

“Kak.”

“Vin.”

“Gue belom nyebutin opsinya.”

“Aku tahu.”

Jeda yang lebih panjang.

“Gue tutup teleponnya,” kata Vinka. “Gue nggak mau denger apa-apa. Gue nggak tahu apa-apa. Selamat malam.”


Ruangan mengosong pukul sepuluh. Orang-orang berdiri di lobi, menunggu, mengeluh, memesan ojek yang tidak akan datang.

Devan berdiri di dekat pintu dengan kunci mobil di tangan.

Aku berjalan ke arahnya dan berhenti di jarak yang sekarang sudah jadi kebiasaan kami.

“Kamu bawa mobil,” kataku.

“Iya.”

“Aku nggak.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

Dia memindahkan kunci dari tangan kanan ke tangan kiri.

“Kamu bilang di pesan,” katanya. “Hari Selasa. Kamu bilang kamu dijemput mobil produksi.”

Aku menatapnya.

“Devan.”

“Hm.”

“Itu tiga hari lalu.”

“Iya.”

“Kamu inget?”

Dia menatap pintu kaca dan hujan di baliknya seolah di sana ada sesuatu yang sangat menarik.

“Aku inget banyak hal,” katanya. “Itu bukan kemampuan yang bagus.”


Kami keluar dari basement pukul sepuluh lewat dua puluh dan sampai di depan apartemenku pukul dua belas lewat dua puluh empat.

Dua jam empat menit untuk jarak sebelas koma tiga kilometer.

Aku ingat angkanya karena dia menyebutkannya waktu kami akhirnya sampai, dengan nada orang yang melaporkan kekalahan pribadi.

Dua jam empat menit di dalam kotak besi berukuran dua kali satu setengah meter, dengan hujan di kaca, dan wiper yang bergerak dengan ritme yang lama-lama terasa seperti detak sesuatu.


Empat puluh menit pertama kami tidak bicara sama sekali.

Ini penting untuk kuceritakan, karena aku tidak pernah bisa tidak bicara selama empat puluh menit dengan siapa pun. Itu keahlianku. Aku bisa membuat orang asing bercerita tentang perceraiannya dalam sebelas menit.

Tapi di dalam mobil itu, aku tidak punya satu pun kalimat yang tidak terasa terlalu kecil atau terlalu besar. Tidak ada ukuran menengah. Dan rupanya dia juga tidak punya.

Yang aneh: itu tidak canggung.

Radio mati. Wiper jalan. Lampu rem merah di depan kami selama berpuluh-puluh detik, lalu bergerak lima meter, lalu merah lagi.

Menit ke empat puluh dua, dia bicara.

“Ibumu gimana?”

Aku menoleh cepat.

“Apa?”

“Ibumu.” Dia tetap melihat ke depan. “Sehat?”

“Sehat.” Aku menyesuaikan posisi duduk. “Masih jahit, tapi sekarang punya dua karyawan dan nggak mau berhenti walaupun aku minta. Katanya nanti tangannya kaku.”

“Bagus.”

“Bagus?”

“Iya. Orang yang berhenti kerja karena disuruh biasanya cepet sakit.”

Aku menatap sisi wajahnya di bawah lampu jalan.

“Devan.”

“Hm.”

“Kamu barusan nanya.”

Dia tidak menjawab.

“Kamu nggak pernah nanya apa-apa,” kataku. “Sepuluh tahun lalu juga nggak. Aku sempet mikir kamu emang nggak penasaran sama orang.”

“Aku penasaran.”

“Terus kenapa nggak nanya?”

Dia memindahkan gigi ke satu, maju tiga meter, berhenti lagi.

“Karena kalau aku nanya, kamu harus jawab,” katanya.

“Itu... bukan gitu cara kerjanya.”

“Buat kebanyakan orang, bukan.” Jeda. “Buat aku, iya.”

Aku memikirkan itu sekitar sepuluh detik dan tidak menemukan tempat untuk menaruhnya.


Menit ke tujuh puluh, aku menyerah pada rasa penasaran.

“Kamu tinggal di mana di sana?”

“Apartemen. Dua puluh delapan meter.”

“Dua puluh delapan meter?”

“Cukup.”

“Devan, kamar mandi rumahku aja hampir segitu.”

“Berarti kamar mandimu kegedean.”

Aku tertawa. Suaraku terdengar terlalu keras di dalam mobil, dan aku menutupnya dengan pura-pura batuk, dan aku sangat sadar bahwa aku baru saja melakukan hal yang sama persis dengan yang kulakukan di perpustakaan tahun 2015.

“Kamu punya temen di sana?”

“Punya.”

“Berapa?”

Jeda.

“Tiga,” katanya.

“Tiga.”

“Mereka bilang tiga. Aku sendiri nggak yakin.”

“Kenapa nggak yakin?”

“Karena kalau aku hilang seminggu, mereka bakal nyariin,” katanya. “Tapi kalau mereka hilang seminggu, aku nggak akan sadar.”

Aku menatapnya.

“Devan, itu sedih banget.”

“Itu cuma fakta.”

“Itu fakta yang sedih banget.”

Dia mengangkat bahu, dan memindahkan gigi, dan tidak berkomentar.

“Kamu masak sendiri?”

“Kadang.”

“Kadang berarti nggak.”

“Kadang berarti kadang.”

“Kamu makan apa?”

“Ada tempat di bawah. Buka sampai jam dua.”

“Setiap hari?”

“Nggak setiap hari.”

“Berapa kali seminggu, Devan.”

Jeda panjang.

“Lima,” katanya.

“Lima.”

“Kadang enam.”

Aku menyandarkan kepala ke jendela dan memandanginya, terang-terangan, tanpa disamarkan sedikit pun, sampai dia jelas-jelas merasakannya dan bahunya menegang.

“Apa,” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu ngeliatin.”

“Iya.”

“Kenapa.”

“Karena aku boleh,” kataku.

Dia tidak menjawab itu. Tapi tangannya, yang sedang bertumpu di tuas persneling, bergerak sedikit — hanya bergeser satu senti ke arah dirinya sendiri — dan aku melihatnya, dan aku tahu persis apa artinya.


Yang terjadi tiga kali malam itu, aku hitung.

Yang pertama, menit ke delapan puluh delapan. Aku menaruh tanganku di sandaran tengah untuk mengambil botol air, dan dia sedang memindahkan gigi ke netral, dan jari kami berhenti sekitar dua sentimeter satu sama lain selama mungkin satu detik penuh sebelum kami berdua menarik tangan.

Yang kedua, menit ke sembilan puluh empat. Persis sama. Aku tidak akan mengaku bahwa yang kedua itu tidak murni kebetulan.

Yang ketiga, menit ke seratus satu, dan yang ketiga ini yang membuatku hampir gila.

Aku menjatuhkan ponselku ke lantai. Kami berdua membungkuk untuk mengambilnya. Kepala kami berhenti sekitar sepuluh sentimeter dari satu sama lain, di ruang gelap antara dua kursi, dengan lampu jalan masuk dari samping.

Aku bisa melihat garis rahangnya. Aku bisa mendengar dia menarik napas dan menahannya.

Dan kami berdua duduk tegak lagi tanpa satu pun dari kami mengambil ponsel itu.

Ponselku tetap di lantai sampai kami sampai.


Menit ke seratus tiga belas, di lampu merah yang panjangnya tidak masuk akal, aku bertanya.

“Devan.”

“Hm.”

“Kenapa kamu nggak pernah bales?”

Wiper bergerak dua kali sebelum dia menjawab.

“Yang mana?”

“Jangan gitu.”

“Freya—”

“Aku kirim dua kali. Tahun pertama.” Aku menatap ke depan, karena kalau aku menatapnya aku tidak akan bisa menyelesaikan kalimat. “Yang pertama Februari. Yang kedua bulan Agustus, ulang tahun kamu.”

Hening.

“Yang pertama isinya nanya kabar,” lanjutku. “Yang kedua isinya ‘selamat ulang tahun’ doang. Dua kata. Aku ngetik itu selama empat puluh menit.”

Lampu berubah hijau. Mobil di depan tidak bergerak.

“Aku baca dua-duanya,” katanya.

“Aku tahu.”

“Aku baca yang pertama sekitar tiga puluh kali.”

Ada sesuatu yang menusuk tepat di bawah tulang rusukku.

“Terus kenapa nggak dibales?”

Dan dia memberikan jawaban yang, kalau aku mendengarnya dari orang lain, akan kuanggap sangat masuk akal dan sangat dewasa.

“Karena kalau aku bales, kita bakal ngobrol,” katanya. “Terus kita bakal ngobrol lagi. Terus tiap dua minggu. Terus setahun. Dan kamu lagi bangun sesuatu dari nol di kota yang nggak kamu kenal, dan aku ada di zona waktu yang selisihnya empat belas jam.” Dia memegang setir dengan dua tangan. “Aku nggak bisa ada di sana. Aku cuma bisa jadi hal yang bikin kamu nengok ke belakang.”

Aku menutup mata.

“Devan.”

“Hm.”

“Kamu tahu nggak, itu keputusan siapa?”

Dia tidak menjawab.

“Itu keputusan aku,” kataku. “Itu selalu keputusan aku. Kamu ngambilnya duluan, sendirian, di apartemen dua puluh delapan meter, empat belas jam dari sini.”

Mobil di depan akhirnya bergerak.


Kami sampai pukul dua belas lewat dua puluh empat.

Dia menepi di depan lobi. Mesin masih hidup. Hujan sudah jadi gerimis.

“Dua jam empat menit,” katanya. “Sebelas koma tiga kilometer.”

“Kamu ngitung.”

“Aku selalu ngitung.”

Aku memungut ponselku dari lantai. Aku menyandang tas. Aku tidak membuka pintu.

“Devan.”

“Iya.”

“Aku ketemu Gilang.”

Tangannya berhenti di kunci kontak.

“Aku tahu,” katanya.

“Dia cerita kamu pulang tahun sembilan belas. Empat hari.”

“Iya.”

“Ngapain?”

Dan untuk pertama kalinya sepanjang dua jam empat menit itu, dia menoleh penuh ke arahku.

Wajahnya di dalam mobil gelap itu adalah wajah yang belum pernah kulihat seumur hidupku — bukan versi tenang di ruang rapat, bukan versi panik di ruang fitting, bukan versi datar anak kelas sebelas.

Wajah orang yang sedang berdiri di tepi sesuatu.

“Freya.”

“Iya.”

“Jangan sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku cerita sekarang,” katanya pelan, “kamu bakal turun dari mobil ini dalam keadaan yang beda, dan aku nggak siap sama itu.”

Aku memegang gagang pintu selama beberapa detik.

“Oke,” kataku.

“Oke?”

“Oke. Bukan sekarang.” Aku membuka pintu, dan udara basah masuk, dan aku menoleh sekali lagi. “Tapi Devan.”

“Hm.”

“Aku nggak akan nanya buat ketiga kalinya,” kataku. “Kalau kamu mau cerita, kamu yang harus mulai.”

Aku menutup pintu.

Aku berjalan ke lobi tanpa berbalik, dan aku tahu — aku tahu dengan kepastian yang membuat dadaku sakit — bahwa dia masih di sana, mesin menyala, menunggu sampai pintu kaca menutup di belakangku.

Sama seperti angkot itu, sepuluh tahun lalu.

Sama persis.