Chapter Thirty One
Setiap Poinnya Benar
POV: Devan — Sekarang
Aku tahu sebelum pintu tertutup.
Aku ingin mencatat itu, karena tidak ada gunanya berpura-pura aku masuk ke ruangan itu tanpa curiga. Satu lampu di sudut. Cangkir teh yang sudah dingin, dengan lapisan di permukaannya. Sepatunya sejajar di rak, yang tidak pernah terjadi.
Dan Freya duduk di sofa menghadap pintu.
Orang tidak duduk menghadap pintu kecuali dia sedang menunggu.
“Duduk dulu,” katanya. “Aku mau nanya sesuatu.”
Aku menaruh kantong makanan di meja dapur.
Aku duduk di kursi, bukan di sofa. Aku ingin mencatat itu juga. Ada sofa yang muat dua orang dan aku memilih kursi di seberangnya, dan aku memilihnya dalam waktu kurang dari satu detik, tanpa berpikir.
Aku memikirkan pilihan itu berkali-kali sesudahnya.
Karena dalam sebelas minggu, aku belum pernah sekali pun duduk di kursi itu. Kursi itu tempat menaruh tas. Kami selalu duduk di lantai dapur, atau di sofa, atau di kasur.
Dan malam itu, tanpa satu detik pertimbangan, tubuhku memilih tempat yang berjarak dua meter dari tempatnya.
Tubuhku sudah tahu isi percakapan itu sebelum aku tahu.
“Silakan,” kataku.
Dia menatapku.
“Silakan?”
“Sori. Maksudku—”
“Nggak apa-apa.” Dia menaruh cangkir dinginnya ke samping. “Devan, aku mau kita ngobrol dengan cara tertentu malam ini. Boleh?”
“Boleh.”
“Aku bakal nanya, kamu jawab. Jangan jelasin dulu sebelum aku selesai nanya.” Dia melipat tangannya di pangkuan. “Aku tahu kamu bakal pengin jelasin. Aku minta jangan dulu.”
Aku mengenali nada itu.
Aku pernah mendengarnya di ruang rapat lantai dua puluh dua, waktu dia menegosiasikan sesuatu dengan tim legal, dan waktu itu aku duduk di sudut belakang dan berpikir betapa mengesankan perempuan itu.
“Oke,” kataku.
“Kamu telepon Vinka hari Minggu?”
“Iya.”
“Kamu nanya soal asuransi ibuku?”
“Iya.”
“Kamu nanya biaya kuliah Sena?”
“Iya.”
“Kamu nanya gimana caranya transfer rutin ke rekening tanpa yang nerima tahu dari siapa?”
Ada jeda kecil di dadaku sebelum aku menjawab, dan aku membencinya.
“Iya.”
“Kamu minta Vinka nggak cerita ke aku sampai Rabu?”
“Iya.”
Dia mengangguk sekali. Wajahnya tidak berubah sama sekali.
“Terakhir,” katanya. “Kamu udah nerima tawaran pindah ke San Francisco?”
“Belum.”
Dan untuk pertama kalinya sejak aku masuk ruangan itu, ada sesuatu yang bergerak di wajahnya.
“Belum,” ulangnya.
“Belum.”
“Devan, jangan main kata.”
“Aku nggak main kata.” Aku menaruh kedua tanganku di lutut. “Aku belum tanda tangan apa pun. Aku belum kasih jawaban ke Nadia. Secara formal belum ada apa-apa.”
“Tapi kamu udah bikin daftar dua belas orang.”
Ruangan itu diam.
Aku menatapnya.
“Vinka nggak tahu soal dua belas orang,” kataku.
“Aku tahu.”
“Terus kamu tahu dari mana?”
Dan Freya Anindita — perempuan yang tahu seseorang akan menolak sebelum orang itu tahu, yang bisa menggeser sebuah negosiasi dengan mengubah kecepatan bicaranya — menjawab:
“Aku nggak tahu. Aku nebak.”
Aku menutup mataku.
“Dan kamu barusan mengonfirmasi,” katanya, sangat tenang. “Kamu selalu jujur kalau ditanya langsung, Dev. Itu satu-satunya cara aku bisa dapet informasi dari kamu, dan aku baru sadar itu sekitar jam enam sore tadi.”
Aku bicara selama dua puluh menit setelah itu.
Aku menceritakan semuanya, dari awal, karena dia bilang sekarang giliranku dan karena aku sudah menyimpannya selama enam belas hari.
Panggilan Nadia. Posisinya. Dua belas headcount. Bu Rina di nomor satu, anak dari tim data di nomor tiga. Kantor yang tutup dalam tiga bulan. Lima puluh delapan orang.
Lalu ayahku.
Bangsal kelas tiga di Jakarta Timur. Kipas dinding yang berputar ke arah yang salah. Dua kantong plastik di bawah tempat tidur. Pak Sugeng, tetangga sebelah kontrakan, yang membayar selama dua bulan dan tidak sekali pun menyalahkanku.
Angkanya. Enam puluh persen turun kalau aku tinggal. Dua ratus persen naik kalau aku pergi.
Freya mendengarkan sampai selesai tanpa memotong sekali pun.
Kecuali satu kali.
Waktu aku sampai di bagian “kamu tinggi” — kalimat pertama dari ayahku dalam lima belas tahun — dia mengeluarkan suara kecil.
Aku berhenti.
“Lanjut,” katanya.
“Kamu—”
“Devan, lanjut.”
Aku melanjutkan. Tapi aku melihat tangannya, dan tangannya mencengkeram lengan sofa dengan buku jari yang memutih, dan aku tahu bahwa perempuan itu — pada malam ketika dia mengetahui aku merencanakan kepergianku selama enam belas hari — sedang menahan diri untuk tidak menyeberangi ruangan dan memelukku karena ayahku sakit.
Dia berhasil menahannya.
Aku tidak tahu apakah itu hal paling menyakitkan atau paling adil yang pernah dia lakukan padaku.
Waktu aku selesai, dia diam sekitar sepuluh detik.
“Dev.”
“Iya.”
“Aku mau kamu tahu sesuatu sebelum kita lanjut,” katanya. “Semua yang kamu bilang barusan bener.”
Aku mengangkat kepala.
“Semuanya,” lanjutnya. “Dua belas orang itu bener. Bapak kamu bener. Angkanya bener. Aku nggak punya satu pun bantahan buat satu pun dari itu.”
“Freya—”
“Dan itu bukan yang lagi kita omongin,” katanya.
“Kapan kamu tahu?”
“Senin. Enam belas hari lalu.”
“Jam berapa?”
“Jam tujuh pagi. Teleponnya selesai jam delapan lewat satu.”
“Aturannya berapa jam, Dev?”
Aku memegang lututku.
“Dua puluh empat,” kataku.
“Kamu inget aturannya?”
“Aku inget aturannya.”
“Kapan?”
“Jam delapan lewat satu pagi hari Senin,” kataku. “Aku mulai ngitung jamnya di meja aku. Aku bilang di kepala aku: batasnya besok jam delapan pagi.”
Freya menatapku.
“Kamu mulai ngitung,” katanya.
“Iya.”
“Devan, kamu inget aturannya sampai ke menitnya.”
“Iya.”
“Terus kenapa nggak—”
Dan dia berhenti, dan aku melihat sesuatu di wajahnya patah untuk pertama kalinya malam itu, dan dia menekan pangkal hidungnya dengan dua jari.
“Kamu tahu apa yang paling nggak bisa aku terima?” katanya. “Kalau kamu lupa, aku bisa terima. Orang lupa. Kamu sibuk, ada lima puluh delapan orang kehilangan kerjaan, bapak kamu sakit — aku bisa terima kalau kamu lupa.”
Dia menurunkan tangannya.
“Kamu nggak lupa,” katanya. “Kamu inget tiap jam. Kamu ngitung sampai jam ke berapa?”
Aku tidak menjawab.
“Devan.”
“Seratus enam puluh delapan,” kataku. “Setelah itu aku berhenti ngitung.”
“Kenapa berhenti?”
Dan di sinilah aku bisa berbohong, dan aku tidak berbohong, karena aku tidak pernah berbohong, dan karena kejujuran adalah satu-satunya hal yang tersisa yang bisa kutawarkan dan ternyata itu tidak cukup.
“Karena aku berhenti nganggep itu janji yang lagi aku langgar,” kataku, “dan mulai nganggep itu keputusan yang lagi aku pikirin.”
Freya menutup matanya.
“Oke,” katanya. “Sekarang aku mau kamu jelasin. Beneran jelasin. Kenapa kamu nggak cerita.”
Dan aku menjelaskannya.
Aku menjelaskannya dengan baik. Itu bagian yang paling tidak bisa kumaafkan dari malam itu — bukan bahwa aku salah, tapi bahwa aku fasih.
Aku bilang: kalau aku cerita pada jam ke-20, aku belum tahu syaratnya, belum tahu tanggalnya, belum tahu apakah dua belas orang itu bisa. Dia akan panik atas sesuatu yang belum berbentuk dan tidak bisa dia lakukan apa-apa.
Aku bilang: pada hari Rabu aku sudah mengirim pesan bahwa aku perlu bicara, dan hari Kamis aku bekerja tujuh belas jam, dan hari Jumat empat belas, dan itu bukan alasan tapi itu yang terjadi.
Aku bilang: aku menelepon Vinka karena aku tidak tahu berapa biaya kuliah Sena dan aku tidak bisa menanyakannya pada Freya tanpa membuka seluruh percakapan sebelum aku siap membukanya.
Aku bilang: setiap kali aku menghitung kapan waktu terbaik untuk cerita, jawabannya selalu “setelah semuanya jelas”, karena informasi setengah jadi cuma memindahkan beban tanpa memindahkan kemampuan bertindak.
Aku bicara sekitar sembilan menit.
Freya mendengarkan sampai selesai.
Lalu dia berkata:
“Semuanya bener lagi.”
“Freya—”
“Aku serius. Nggak ada satu pun yang bisa aku bantah.” Dia menyandarkan punggung ke sofa. “Kamu tuh selalu bener, Dev. Dari dulu. Itu bukan sarkasme, aku beneran maksud gitu.”
“Terus kenapa kamu—”
“Karena kamu bener tentang semua orang,” katanya, “kecuali satu.”
Ruangan itu sunyi.
“Dev, boleh aku nanya sesuatu, dan kamu jawab pertama kali yang muncul di kepala kamu?”
“Boleh.”
“Dua belas nama itu,” katanya. “Berapa lama kamu nyusunnya?”
“Empat puluh menit.”
“Kamu coret berapa kali?”
“Sebelas.”
“Kenapa lama?”
“Karena tiap aku taruh satu nama, aku lagi nggak naruh nama lain,” kataku. “Dan aku tahu muka dua-duanya.”
Freya mengangguk pelan.
“Nah,” katanya. “Sekarang pertanyaannya.”
Dia menatapku.
“Kamu butuh berapa lama buat mutusin aku nggak ikut?”
Aku membuka mulutku.
Dan tidak ada apa pun di dalamnya.
Aku duduk di kursi di ruang tengah apartemen di lantai dua puluh dua dan mencari jawabannya di kepalaku dengan sungguh-sungguh, dengan seluruh kemampuan yang membuatku berguna bagi tujuh ratus orang, dan aku tidak menemukan apa-apa.
Karena tidak ada durasinya.
Karena tidak pernah ada momen di mana aku duduk dan mempertimbangkan opsi “Freya ikut” dan menolaknya.
Opsi itu tidak pernah masuk ke dokumen.
Aku menulis bagian tiga pada pukul satu lewat dua puluh pagi hari Jumat dan aku menulis empat baris dan baris pertamanya berbunyi Dia tidak bisa ikut, dan aku menulis itu sebagai premis, bukan sebagai kesimpulan.
“Aku nggak tahu,” kataku.
“Devan.”
“Aku nggak tahu, Freya. Aku nggak bisa nemu waktunya.”
“Karena nggak ada,” katanya.
“Iya.”
“Karena kamu nggak pernah mikirinnya.”
“Iya.”
Dan Freya menutup matanya lagi, dan kali ini dia menutupnya lebih lama, dan waktu dia membukanya matanya basah dan suaranya sepenuhnya rata.
“Kamu ngitung dua belas orang selama empat puluh menit,” katanya. “Kamu coret sebelas kali. Kamu tahu muka mereka.”
“Freya—”
“Dan aku nggak pernah masuk daftar apa pun, Dev.” Dia mengangkat bahu, sangat kecil. “Aku bukan nomor tiga belas yang nggak kebagian. Aku bahkan nggak pernah ditulis.”
“Itu bukan karena kamu nggak penting.”
“Aku tahu.”
“Freya, itu justru karena—”
“Aku tahu kenapa,” katanya, dan suaranya naik untuk pertama kalinya malam itu, dan langsung turun lagi. “Aku tahu persis kenapa. Karena kalau kamu naruh aku di daftar, kamu harus nanya aku. Dan kalau kamu nanya aku, kamu lagi minta sesuatu.”
Aku tidak menjawab.
“Dan kamu nggak bisa minta,” katanya. “Kamu nggak bisa minta apa-apa, ke siapa pun, seumur hidup kamu.”
“Freya.”
“Jadi kamu hapus pertanyaannya,” katanya. “Bukan kamu jawab ‘nggak’. Kamu hapus pertanyaannya, biar nggak ada yang harus dijawab.”
Aku duduk di kursi itu dan tidak punya satu pun bantahan, karena setiap kata yang dia ucapkan adalah deskripsi yang akurat tentang apa yang terjadi di dalam kepalaku selama enam belas hari, dan aku tidak pernah melihatnya sekali pun sampai dia mengucapkannya keras-keras.
“Freya,” kataku akhirnya. “Kalau aku nanya kamu, kamu bakal jawab apa?”
Dan itu adalah pertanyaan paling pengecut yang pernah kuucapkan dalam hidupku, dan aku menyadarinya sebelum kalimatnya selesai keluar.
Freya menoleh perlahan.
“Nggak,” katanya.
“Nggak?”
“Nggak, aku nggak akan jawab itu.” Dia menegakkan punggung. “Dev, kamu barusan nanya aku apa jawabanku kalau kamu nanya, supaya kamu bisa ngitung dulu sebelum kamu nanya beneran.”
Aku menutup mataku.
“Kamu lagi minta hasil tanpa ngambil risikonya,” katanya. “Dan aku nggak akan kasih. Bukan karena aku jahat. Karena kalau aku kasih, kamu nggak akan pernah harus belajar.”
Ruangan itu sunyi selama waktu yang lama.
“Sori,” kataku.
“Aku tahu.”
“Freya, aku beneran—”
“Aku tahu, Dev.” Dan suaranya lembut waktu mengucapkan itu, yang membuatnya seribu kali lebih buruk. “Aku tahu kamu nggak lagi main-main sama aku. Aku tahu kamu lagi berusaha. Aku bisa lihat kamu berusaha dan itu yang bikin aku pengin nangis.”
“Devan.”
“Iya.”
“Aku mau kamu ngomong satu kalimat.”
Aku mengangkat kepala.
“Satu kalimat,” katanya. “Aku nggak minta kamu janji apa-apa. Aku nggak minta kamu tinggal. Aku nggak minta kamu nolak posisinya — kamu harus ambil, Dev, ada dua belas orang dan ada bapak kamu, dan aku serius, kamu harus ambil.”
Dia bergeser ke depan di sofa.
“Aku cuma minta kamu ngomong satu kalimat.”
“Kalimat apa?”
“Kalimat yang isinya kamu mau aku ikut.”
Ruangan itu sunyi.
Aku duduk di kursi itu dan merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan dalam bentuk sejelas itu.
Kalimatnya ada.
Bentuknya lengkap. Panjangnya kurang dari sepuluh kata. Aku bisa merasakannya di belakang gigiku, persis di tempat yang sama seperti di basement P2 pada pukul dua lewat empat puluh pagi tiga bulan lalu.
Dan mesin di kepalaku menyala.
Aku bisa merasakannya menyala. Aku bisa merasakan momen persisnya. Mesin yang sama yang membuatku menemukan retakan di dinding sebelum dinding itu roboh, mesin yang membuat tujuh ratus orang di perusahaan itu memercayaiku, mesin yang menemukan satu kasus gagal dari sejuta kemungkinan.
Dan dia melakukan pekerjaannya, dengan sangat cepat, dengan sangat baik:
Kalau kamu bilang itu, dia akan bilang iya.
Dan kalau dia bilang iya, dia melepas kontrak tiga tahun yang dia negosiasikan sendiri pagi ini.
Dan dia akan pindah ke kota di mana wajahnya tidak berarti apa-apa, dan dia akan mulai dari nol pada umur dua puluh delapan, dan dia akan bilang tidak apa-apa selama sekitar dua tahun.
Dan lima tahun lagi, di sebuah dapur di kota yang bukan kotanya, dia akan melihat sesuatu di internet tentang kampanye yang seharusnya jadi miliknya.
Dan kamu akan ada di ruangan yang sama waktu itu terjadi.
Setiap butirnya benar.
Aku memeriksanya. Aku memeriksanya dalam waktu sekitar empat detik dan aku tidak menemukan satu pun celah, karena tidak ada, karena aku sangat bagus dalam pekerjaanku.
Aku membuka mulutku.
“Freya, aku nggak bisa minta kamu—”
Dan aku melihat wajahnya.
Aku sudah melihat wajah itu sebelumnya.
Sekali, di basement P2, pada pukul tiga kurang sepuluh pagi, waktu aku melepaskan pergelangan tangannya.
Dan sekali lagi, sebelum itu, di sebuah teras rumah di Bekasi pada suatu malam bulan Agustus tahun 2016, waktu aku mengatakan bahwa dia harus berangkat dan tidak usah memikirkanku.
Ekspresi seseorang yang melihat pintu terbuka lima sentimeter lalu ditutup lagi dari dalam.
“Oke,” katanya.
“Freya—”
“Nggak, itu jawaban.” Dia mengangguk beberapa kali. “Itu jawaban yang jelas dan aku nggak akan pura-pura nggak denger.”
“Aku belum selesai ngomong.”
“Dev.” Dia menatapku. “Kamu udah selesai. Kamu selesai enam belas hari lalu. Yang dari tadi kamu lakuin cuma jelasin hasilnya ke aku.”
Aku berdiri.
Aku tidak memutuskan untuk berdiri. Aku sudah berdiri sebelum aku sadar, dan aku menyeberangi ruangan dua langkah, dan aku mengulurkan tangan ke arahnya —
dan Freya menggeser badannya.
Bukan menepis. Bukan mundur dengan dramatis.
Dia cuma memindahkan bahunya sekitar sepuluh sentimeter ke kiri, sambil berdiri, sambil mengambil cangkir dinginnya dari meja, dengan gerakan yang bisa dibela sebagai kebetulan oleh siapa pun yang menontonnya.
Tanganku berhenti di udara.
Aku ingin sangat jelas tentang apa yang baru saja terjadi, karena aku sendiri butuh berhari-hari untuk memahaminya.
Selama sebelas minggu, aku adalah orang yang tidak pernah meraih duluan.
Dan setiap kali tanganku berhenti di udara, ada seseorang di ruangan itu yang mengambilnya dan menaruhnya di tempat yang benar. Setiap kali. Tanpa gagal. Tanpa mengeluh. Kadang sambil menangis.
Malam itu, untuk pertama kalinya, dia tidak melakukannya.
Dan aku berdiri di tengah ruang tengah apartemen di lantai dua puluh dua dengan tangan menggantung di udara, dan aku akhirnya mengerti — dengan sangat, sangat terlambat — apa yang sudah dia kerjakan diam-diam selama sebelas minggu, dan berapa harganya, dan bahwa aku tidak pernah sekali pun mengucapkan terima kasih.
Sebelas minggu.
Dan sebelum itu, delapan bulan pada tahun 2015 dan 2016.
Setiap pegangan tangan di gang belakang kompleks guru: dia yang meraih. Setiap dua puluh detik kelingking di bawah meja: dia yang menjatuhkan tangan lebih dulu. Angkot. Kantin. Dapur. Tangga darurat. Lantai dapur pukul tujuh pagi waktu dia menangis dan mengambil tanganku sendiri dan melingkarkannya ke punggungnya karena dia tahu aku tidak akan pernah melakukannya.
Ada satu orang di dunia ini yang menyeberangi jarak itu, setiap kali, selama sebelas tahun.
Dan aku tidak pernah menghitung yang itu.
Dari semua hal yang kuhitung — tetesan air di atap halte, genteng pecah di atap ruang guru, dua ribu rupiah dikali tiga kali seminggu dikali enam bulan, tiga ribu enam ratus lima puluh delapan hari — aku tidak pernah sekali pun menghitung berapa kali perempuan itu bergerak lebih dulu supaya aku tidak perlu.
“Freya.”
“Aku capek, Dev.”
Dia berjalan ke dapur dan menaruh cangkir itu di wastafel.
“Aku nggak marah,” katanya, membelakangiku. “Aku pengin marah. Aku udah nyiapin marah sepuluh tahun dan sekarang giliran keduanya dan aku tetep nggak bisa.”
“Freya, dengerin—”
“Kamu boleh pulang,” katanya.
Aku berdiri di sana.
“Aku nggak mutusin apa-apa malam ini,” lanjutnya. “Aku nggak bilang selesai. Aku nggak bilang apa-apa.” Dia berbalik, dan menyandar ke meja dapur, dan menyilangkan tangan. “Aku cuma butuh kamu keluar dari ruangan ini, karena aku nggak percaya sama diri aku sendiri kalau kamu di sini.”
“Kenapa?”
Dan Freya Anindita, dengan mata basah dan suara yang sepenuhnya rata, berkata:
“Karena kalau kamu di sini lima menit lagi, aku bakal bilang nggak apa-apa.”
Aku pulang pukul dua belas kurang sepuluh.
Di pintu, aku berhenti.
Aku mengeluarkan kunci itu dari sakuku dan menatapnya.
“Jangan,” katanya, dari dapur, tanpa menoleh.
“Freya—”
“Jangan ditaruh di meja,” katanya. “Aku nggak akan sanggup lihat itu di meja besok pagi.”
Aku memasukkan kunci itu kembali ke sakuku.
Aku menutup pintunya.
Dan aku berdiri di lorong lantai dua puluh dua selama sekitar empat menit, dan aku tidak mengetuk, dan aku turun.
Di dalam mobil, di basement, dengan mesin mati, aku membuka aplikasi kalkulator karena tanganku perlu melakukan sesuatu.
Lalu aku menutupnya.
Dan aku duduk di sana sampai pukul dua pagi tanpa menghitung apa pun sama sekali, yang seharusnya jadi kemajuan, dan yang malam itu cuma terasa seperti kehilangan satu-satunya alat yang kupunya.
Ada satu hal lagi, dan aku akan menuliskannya karena tidak ada gunanya menulis apa pun kalau bagian ini dihilangkan.
Sekitar pukul satu pagi, di basement itu, aku membuka dokumen di ponselku.
Bagian tiga. Empat baris.
Dan aku menambahkan baris kelima.
Aku mengetiknya dengan dua ibu jari, di dalam mobil, di basement gedung apartemennya, sekitar tiga jam setelah dia memintaku mengucapkan satu kalimat dan aku tidak mengucapkannya.
Baris kelima berbunyi:
5. Tanya dia.
Aku menatapnya selama beberapa detik.
Lalu aku menghapusnya.
Bukan karena aku berubah pikiran. Karena aku sadar apa yang baru saja kulakukan: aku menaruh satu-satunya hal yang harus kuucapkan dengan mulutku ke dalam sebuah dokumen, sebagai baris kelima, di bawah rencana transfer rutin ke rekening ibunya.
Aku sudah mengubahnya jadi tugas.
Dan sesuatu di dalam diriku — bagian yang biasanya kumatikan, yang sudah kumatikan setiap hari selama enam belas hari — akhirnya bicara cukup keras untuk kudengar:
Dev, dia nggak minta kamu ngerjain sesuatu.
Dia minta kamu pengin sesuatu.
Dan kamu nggak tau caranya.
Aku menutup ponselku dan menyalakan mesin dan pulang.
Aku tidak tidur.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar reading
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur