← Jangan Pergi

Chapter Fifteen

Siomay

POV: FreyaSMA, 2015

Setelah hari Selasa itu, ada tiga minggu di mana tidak terjadi apa-apa.

Aku ingin sekali bilang bahwa itu tiga minggu yang manis. Tidak. Itu tiga minggu paling menjengkelkan dalam hidupku sampai saat itu.

Karena semuanya berubah, dan tidak ada satu pun yang berubah.

Yang berubah: dia mulai bicara lebih dari dua kata. Dia mulai menceritakan hal-hal — bukan hal besar, hal kecil, seperti bahwa ada anjing di jalan pulangnya yang selalu mengikutinya sampai tikungan ketiga dan tidak pernah lebih. Dia mulai membawa dua roti dari rumah dan menaruh yang satu di mejaku tanpa berkata apa-apa, dan ketika aku bilang aku tidak lapar dia bilang “ya udah, taruh aja”, dan besoknya tetap ada dua.

Yang tidak berubah: semua hal lainnya.

Dia tidak pernah menyentuhku. Tidak sekali pun, tidak sengaja, tidak tidak sengaja. Dia mengatur jarak dengan presisi yang menurutku pasti dihitung. Dia tidak pernah menanyakan apa pun tentang perasaanku, hidupku, atau siapa aku.

Dan setiap kali ada momen — dan ada momen, banyak, aku menghitungnya — dia melakukan hal yang sama.

Dia melihat ke jendela.

Aku punya daftarnya. Aku betulan punya daftarnya, di halaman belakang buku tulis Bahasa Indonesia, ditulis dengan sandi yang sangat buruk supaya kalau Vinka membuka dia tidak mengerti.

Momen keempat: aku menjatuhkan penghapus, kami berdua membungkuk, kepala kami hampir bertabrakan, dia mundur dan melihat ke jendela.

Momen ketujuh: hujan lagi, dan dia tidak punya jaket kedua karena jaket pertamanya ada di lemari kamarku, dan dia berdiri di teras perpustakaan dan bilang “aku tunggu redanya”, dan aku bilang “aku temenin”, dan dia melihat ke jendela.

Momen kesebelas — dan ini yang paling parah — Bu Yanti menyuruh kami mengumpulkan tugas berpasangan, dan namanya dan namaku dibacakan berdampingan, dan seluruh kelas mengeluarkan suara, dan Devan menunduk ke mejanya dengan telinga merah.

Tidak ada jendela di sisi itu. Aku sudah mengecek.

Dia menatap kaki meja.


“Lo harus nembak dia,” kata Vinka, minggu ketiga, di kantin.

“Vin.”

“Gue serius.”

“Aku nggak—”

“Freya.” Vinka meletakkan sendoknya. “Gue udah tiga minggu ngeliatin lo ngeliatin dia. Gue mau makan siang gue balik.”

“Dia nggak suka aku.”

Vinka menatapku dengan ekspresi yang, sepuluh tahun kemudian, masih dia pakai untuk hal-hal yang menurutnya bodoh.

“Sori,” katanya. “Lo ngomong apa barusan?”

“Dia nggak suka aku.”

“Freya, lo tuh—” Vinka melambaikan tangan ke arah wajahku. “Lo tuh ini.

“Itu bukan alasan.”

“Itu alasan buat dua puluh satu cowok di sekolah ini.”

“Ya makanya,” kataku. “Makanya dia beda. Makanya aku suka.”

Dan begitu kalimat itu keluar dari mulutku, aku sadar aku baru saja mengakuinya untuk pertama kalinya, keras-keras, di kantin, dengan mulut penuh.

Vinka tidak berteriak. Aku bersyukur seumur hidup untuk itu.

Dia cuma mengambil sendoknya kembali dan berkata, pelan:

“Ya udah. Berarti lo harus.”


Alasan sebenarnya bukan Vinka.

Alasan sebenarnya adalah hari Kamis, tiga hari kemudian, di perpustakaan.

Kami sedang mengerjakan sesuatu dan dia menjelaskan sesuatu dan aku tidak mendengarkan sama sekali, dan aku bertanya — tiba-tiba, tanpa persiapan, dari tempat yang tidak kuketahui:

“Devan, kamu pernah suka sama orang nggak?”

Dia berhenti menulis.

Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya yang berlangsung mungkin setengah detik: dia menoleh ke arahku, penuh, dan mulutnya terbuka.

Setengah detik.

Lalu dia menutup mulutnya, kembali ke kertas, dan berkata:

“Nomor tujuh salah tandanya.”

Itu saja.

Dan aku duduk di sana dengan sesuatu yang panas naik ke belakang mataku, dan aku sadar dengan sangat jelas — sejelas apa pun yang pernah kusadari pada umur tujuh belas — bahwa laki-laki ini tidak akan pernah, dalam keadaan apa pun, sampai kapan pun, mengatakan apa-apa duluan.

Kalau aku menunggu, aku akan menunggu selamanya.

Dan aku akan menjadi orang yang sopan, dan aku akan lulus, dan aku akan pindah, dan aku akan menghabiskan sisa hidupku bertanya-tanya.

Aku pulang hari itu dan memutuskan.


Aku memilih hari Senin karena kantin paling ramai hari Senin.

Ini bukan kebetulan. Aku sudah memikirkannya selama akhir pekan dan aku sampai pada kesimpulan yang menurutku sangat cerdas untuk anak tujuh belas tahun: kalau aku melakukannya di tempat sepi, dia bisa kabur. Dia selalu kabur. Dia mengambil tasnya dan berdiri dan pergi.

Di kantin yang penuh, dengan piring di depannya, dia harus tetap duduk.

Aku juga memilih siomay, karena siomay adalah satu-satunya makanan di kantin itu yang butuh waktu lama untuk dihabiskan.

Aku duduk di depannya pukul dua belas lewat sepuluh dengan dua piring siomay dan meletakkan yang satu di depannya.

“Aku nggak pesen,” katanya.

“Aku yang pesen.”

“Freya—”

“Aku yang bayar. Diem. Makan.”

Dia makan.


Aku menunggu sampai dia menghabiskan sekitar setengah, karena aku tidak mau dia tersedak, karena aku sudah memikirkan bahkan bagian itu.

Kantin berisik. Ada sekitar seratus orang. Meja kami di tengah, yang juga sengaja.

“Devan.”

“Hm.”

“Aku suka sama kamu.”


Aku ingin mencatat, untuk keperluan sejarah, bahwa dia tidak tersedak.

Yang terjadi jauh lebih buruk.

Dia berhenti. Sepenuhnya. Tangannya dengan sendok setengah jalan ke mulut berhenti di udara dan tetap di sana, dan matanya menatapku, dan tidak ada satu pun bagian dari tubuhnya yang bergerak.

Satu detik. Dua. Tiga.

Aku menghitung karena aku panik, dan karena kalau aku tidak menghitung aku akan mulai bicara lagi dan merusak semuanya.

Empat. Lima. Enam.

Sendoknya masih di udara.

“Devan.”

Tidak ada jawaban.

Sepuluh. Sebelas. Dua belas.

Ada bagian dari diriku — bagian yang sekarang sudah tidak ada, bagian yang mati sekitar umur dua puluh — yang mulai berpikir oh, ini penolakan, ini penolakan yang sangat sopan, dia sedang mencari cara.

Dua puluh. Dua puluh satu.

Dan pada detik kedua puluh empat aku memutuskan bahwa kalau aku diam terus aku akan menangis di kantin di depan seratus orang, jadi aku melakukan hal yang sama seperti yang selalu kulakukan kalau aku takut.

Aku mulai menghitung keras-keras.

“Dua puluh lima,” kataku.

Matanya berkedip.

“Dua puluh enam. Dua puluh tujuh.”

“Freya—”

“Dua puluh delapan.”

“Aku—”

“Dua puluh sembilan. Tiga puluh.”

Sendoknya turun ke piring dengan bunyi keras.

“Tiga puluh satu. Tiga puluh dua. Tiga puluh tiga.”

“Kamu ngitung apa?”

“Ngitung berapa lama kamu diem,” kataku, dan suaraku sudah tidak stabil sama sekali. “Tiga puluh empat. Tiga puluh lima.”

“Kenapa?”

“Karena aku takut banget, Devan, dan kalau aku berhenti ngitung aku bakal nangis.” Aku menahan napas. “Tiga puluh enam. Tiga puluh tujuh.”

Dia menatapku.

“Tiga puluh delapan.”

“Aku juga,” katanya.

Aku berhenti.

“Apa?”

“Aku juga.” Telinganya merah sampai ke belakang. “Suka. Sama kamu.”

“Sejak kapan?”

“Sejak hari pertama.”

“Devan, itu tiga bulan lalu.”

“Iya.”

“TIGA BULAN?”

“Freya, kantin—”

“TIGA BULAN, DEVAN?”

Sekitar dua puluh kepala menoleh ke arah kami. Aku tidak peduli sedikit pun.

“Kenapa nggak bilang?” tanyaku, dan suaraku pecah di tengah.

Dan dia memberikan jawaban yang, sepuluh tahun kemudian, akan berdiri di depanku lagi di sebuah basement pada pukul dua pagi, dalam bentuk yang berbeda dan dengan taruhan yang jauh lebih besar:

“Karena kamu nggak butuh satu orang lagi yang suka sama kamu,” katanya.


Aku menaruh sendokku.

“Devan.”

“Hm.”

“Itu keputusan siapa?”

Dia tidak menjawab.

“Kamu mutusin sendiri apa yang aku butuhin,” kataku. “Selama tiga bulan. Tanpa nanya.”

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya — sesuatu yang baru, yang belum pernah kulihat sebelumnya, dan yang tidak akan kupahami sampai bertahun-tahun kemudian.

Dia terlihat takut.

Bukan takut ditolak. Sudah lewat itu. Takut jenis lain, jenis yang lebih tua, jenis yang sudah ada di sana sebelum aku pindah ke sekolah ini.

“Aku nggak tahu caranya,” katanya, sangat pelan.

“Caranya apa?”

“Minta sesuatu.”

Kantin itu berisik sekali dan aku mendengar setiap kata.


Aku mengulurkan tanganku ke tengah meja.

Telapak menghadap ke atas, di antara dua piring siomay, di tengah kantin, pada hari Senin, di depan seratus orang.

“Nih,” kataku.

“Apa?”

“Kamu nggak usah minta.” Aku menahan tanganku di sana. “Aku yang kasih. Kamu tinggal ambil.”

Dia menatap tanganku selama waktu yang terasa sangat lama.

Lalu dia mengambilnya.

Kulit ke kulit, di tengah kantin, dan pegangannya terlalu erat karena dia jelas-jelas tidak tahu berapa yang benar, dan tangannya panas dan sedikit basah dan gemetar, dan aku tidak melepaskannya selama sekitar satu menit penuh.

Ada suara dari suatu tempat di kantin. Seseorang berkata “eh” dengan volume yang tidak sopan. Aku dengar Vinka, dari dua meja jauhnya, mengeluarkan bunyi seperti ketel.

Devan menunduk dan menatap piringnya dan telinganya merah dan dia tidak melepaskan tanganku.

“Freya.”

“Hm.”

“Siomaynya dingin.”

“Aku tahu.”

“Kamu beli dua piring.”

“Aku tahu, Devan.”

“Itu delapan ribu.”

Dan aku tertawa sampai kepalaku jatuh ke meja, di kantin, pada hari Senin, sambil memegang tangan seorang anak laki-laki yang baru saja menghitung harga siomay pada detik-detik pertama hubungan pertamanya.


Yang terjadi setelahnya, dalam urutan:

Vinka sampai di meja kami dalam waktu sebelas detik dan duduk tanpa diundang dan tidak berkata apa-apa selama tiga menit penuh, cuma menatap kami bergantian dengan tangan menutup mulut, yang jauh lebih menakutkan daripada kalau dia berteriak.

Devan melepaskan tanganku setelah kira-kira satu menit, bukan karena dia mau, tapi karena Pak Rahmat lewat.

Gilang, dari meja seberang, berdiri sambil menjatuhkan kursinya.

Dan Devan — yang baru saja duduk diam selama tiga puluh delapan detik, yang telinganya masih merah, yang belum menghabiskan siomaynya — menoleh ke arahku dan berkata satu kalimat yang membuatku memutuskan, pada detik itu juga, bahwa aku akan sangat kesulitan melupakan orang ini.

“Freya.”

“Hm?”

“Aku boleh nganterin kamu ke halte nggak?”

“Kamu udah nganterin aku ke halte tiap hari selama tiga bulan.”

“Iya,” katanya. “Tapi hari ini aku mau nanya dulu.”


Sore itu di halte, tanpa hujan, dengan matahari jam setengah enam yang oranye dan terlalu bagus untuk dipercaya, aku memberitahunya bahwa jaketnya tidak akan pernah kukembalikan.

“Aku tahu,” katanya.

“Kamu tahu?”

“Dari hari ketiga.”

“Kenapa nggak minta?”

Dia mengangkat bahu, dan melihat ke arah jalan, dan berkata — dengan nada seseorang yang menyebutkan cuaca:

“Karena aku pengin kamu punya.”

Angkotku datang. Aku tidak naik.

Aku menunggu yang berikutnya, dua belas menit kemudian, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebutkan kenapa.


Sepuluh tahun kemudian aku akan berdiri di dapur apartemenku dan menghitung keras-keras lagi, untuk orang yang sama, karena orang yang sama masih membutuhkannya.

Dan dia akan berhenti di detik kesembilan belas.

Tapi aku belum tahu itu waktu itu.

Waktu itu aku cuma tujuh belas tahun, dan siomayku dingin, dan tanganku dipegang, dan aku pikir hidup akan selalu semudah ini.