← Jangan Pergi

Chapter Nineteen

Rute Panjang

POV: DevanSMA, 2015–2016

Kami pacaran secara terbuka selama enam hari.

Itu enam hari terlama dalam hidupku sampai saat itu.

Hari pertama isinya orang. Sekitar empat puluh orang bertanya, dan sekitar seratus orang tidak bertanya tapi melihat, dan aku menghabiskan seluruh jam istirahat di dalam kelas dengan buku terbuka di halaman yang tidak kubaca.

Hari kedua, seseorang di kelas sebelah bertanya padaku berapa yang kubayar.

Dia bercanda. Aku tahu dia bercanda. Dia tertawa setelahnya dan menepuk bahuku dan pergi, dan aku berdiri di lorong itu selama sekitar lima detik dengan buku di tangan.

Hari keempat, aku mendengar versi yang tentang Freya.


Aku tidak akan menuliskan isinya.

Bukan karena aku lupa — aku tidak pernah lupa apa pun — tapi karena menuliskannya berarti membiarkannya hidup lebih lama dari yang pantas.

Yang perlu diketahui cuma dua hal.

Satu: isinya tentang anak baru yang pindah di tengah semester, dan tentang kenapa anak baru itu tiba-tiba dekat dengan anak paling tidak berguna di angkatan, dan tentang apa yang mungkin dia inginkan.

Dua: yang mengucapkannya adalah dua orang di belakangku di antrean kantin, yang tidak tahu aku di depan mereka, karena tidak ada yang pernah memperhatikan aku di antrean mana pun selama tiga tahun.

Aku berbalik.

Aku tidak berteriak. Aku belum pernah berteriak seumur hidupku. Aku cuma berbalik dan berdiri di sana, dan berkata — dengan suara yang lebih rendah dan lebih pendek dari biasanya, yang menurut Gilang bertahun-tahun kemudian adalah bentuk marahku:

“Ulangin.”

Dua orang itu tidak mengulangi.

Salah satunya minta maaf. Yang satunya tertawa dan pergi.

Dan aku berdiri di antrean kantin dengan nampan kosong dan tangan gemetar, dan aku sadar bahwa aku tidak bisa melakukan apa pun tentang ini, dan bahwa hal yang tidak bisa kulakukan apa pun tentangnya adalah hal yang terjadi karena aku.


Hari keenam, Freya menemuiku di perpustakaan lebih awal.

Dia sudah duduk waktu aku datang, yang belum pernah terjadi.

“Devan.”

“Hm.”

“Aku mau ngomong sesuatu dan kamu jangan bantah.”

Aku duduk.

“Kita pelan-pelan aja,” katanya.

“Pelan-pelan gimana?”

“Di sekolah, kita biasa aja.” Dia memutar pensil di jari. “Nggak pegangan tangan. Nggak duduk bareng di kantin. Nggak apa-apa.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak suka sekolah ini ngomongin kita.”

Itu bukan alasan yang sebenarnya. Aku tahu itu waktu itu juga, dengan sangat jelas, karena aku bagus dalam hal-hal semacam ini — dan karena Freya, yang bagus berbohong pada semua orang di dunia, selalu buruk berbohong padaku.

Alasan yang sebenarnya adalah bahwa dia melihatku di antrean kantin pada hari keempat.

Dia tidak pernah menyebutkannya. Tidak sekali pun, tidak dalam delapan bulan, tidak sampai hari terakhir.

Tapi ini yang harus kucatat, karena inilah bagian yang selama sepuluh tahun kemudian tidak pernah bisa kutinggalkan:

Aku bilang oke.

Aku bilang oke dalam waktu kurang dari dua detik.

Dan aku merasa lega.

Aku merasa lega, dan rasa lega itu begitu besar dan begitu cepat sampai aku tidak sempat menyembunyikannya, dan aku melihat Freya melihatnya.

Setengah detik. Dia melihat wajahku dan sesuatu di matanya bergerak sedikit dan lalu dia tersenyum dan berkata “ya udah, ayo nomor lima”.

Aku memikirkan setengah detik itu ribuan kali sejak saat itu.


Yang tidak kuperkirakan adalah bahwa delapan bulan berikutnya adalah delapan bulan paling bahagia dalam hidupku.

Karena ternyata, kalau kamu tidak boleh melakukan sesuatu di depan orang, kamu jadi sangat kreatif.

Kami mengembangkan seluruh kosakata.

Angka di sudut kertas. Kalau aku menulis angka di pojok kanan atas buku catatanku dan memiringkannya supaya terlihat dari kiri belakang, itu artinya jam pulang. Empat berarti jam empat di perpustakaan. Nol berarti hari ini tidak bisa.

Pensil. Kalau dia menaruh pensil melintang di atas mejanya waktu pelajaran, artinya dia bosan dan aku harus melakukan sesuatu. Yang bisa kulakukan cuma satu: menjatuhkan penghapus. Dia akan menoleh. Aku akan menatap papan tulis dengan wajah datar. Dia akan menahan tawa selama dua menit dan aku akan menang.

Batuk. Satu batuk berarti “lihat ke luar jendela sekarang, ada sesuatu”. Biasanya tidak ada apa-apa. Itu bagian yang lucu.

Jari di bawah meja. Ini yang paling berbahaya dan yang paling sering kami lakukan.

Meja di kelas kami disusun berpasangan, dan sekitar bulan Desember Bu Yanti memindahkan tempat duduk berdasarkan nilai — yang berarti Freya, yang nilainya sudah naik dua puluh poin, pindah ke barisan depan.

Dua bangku dari bangkuku.

Selama dua bulan setelah itu, kami mengembangkan sistem yang membutuhkan koordinasi yang, kalau kupikir sekarang, jauh lebih rumit daripada sebagian besar hal yang kukerjakan di kantor.

Kalau pelajaran terakhir dan gurunya menulis di papan — artinya punggung guru menghadap kami selama minimal dua puluh detik — dia akan menjatuhkan tangan kirinya ke sisi kursi.

Aku akan menggeser kakiku ke depan sedikit.

Dan selama dua puluh detik itu, jari kelingkingnya dan jari kelingkingku bertemu di ruang antara dua kursi, di bawah meja, di ruangan berisi tiga puluh empat orang.

Cuma kelingking. Tidak pernah lebih.

Dua puluh detik, sekitar tiga kali seminggu, selama dua bulan.

Aku tidak akan pernah bisa menjelaskan pada siapa pun kenapa dua puluh detik itu terasa lebih besar daripada hampir semua hal yang terjadi padaku setelah umur delapan belas.

Dan yang terbaik: rute pulang.


Rumahku tiga kilometer ke arah barat. Halte Freya ada di depan sekolah, ke arah timur.

Kalau kami berjalan bersama ke halte, itu tiga menit dan terlihat oleh seratus orang.

Jadi kami menemukan rute lain.

Keluar lewat gerbang belakang, yang dipakai untuk tempat sampah dan tidak pernah dijaga. Lewat gang di belakang kompleks guru. Menyeberang lapangan kosong milik entah siapa. Naik ke jalan besar dari sisi yang salah, dan berjalan mundur ke halte dari arah yang berlawanan.

Dua puluh empat menit.

Delapan kali lebih lama dari rute normal.

Kami melakukannya hampir setiap hari selama delapan bulan.

Dan di dalam dua puluh empat menit itu, di gang belakang kompleks guru yang tidak dilewati siapa pun, tangannya masuk ke tanganku sekitar meter kelima puluh dan tidak keluar sampai meter delapan ratus.


Aku ingat detail-detail yang tidak masuk akal untuk diingat.

Bahwa di gang itu ada rumah dengan tiga ekor kucing dan satu di antaranya selalu berjalan bersama kami sampai tikungan kedua.

Bahwa ada satu titik di lapangan kosong itu di mana kalau kamu berdiri di sana jam setengah enam, bayanganmu panjangnya sembilan meter, dan Freya mengukurnya sekali dengan langkah dan aku menghitung langkahnya dan angkanya salah, dan kami berdebat tentang itu selama empat hari.

Bahwa dia selalu berjalan di sisi kiriku, selalu, dan ketika aku bertanya kenapa dia bilang “biar aku bisa pegang tangan kanan kamu, itu yang buat nulis”, yang tidak masuk akal sebagai alasan dan yang tidak pernah kutanyakan lagi.

Bahwa kalau hujan turun di tengah rute itu, kami berhenti di bawah kanopi warung yang sudah tutup, dan berdiri di sana entah berapa lama, dan pada suatu titik kepalanya akan turun ke bahuku dan dia akan berhenti bicara.

Aku bisa menghitung berapa kali itu terjadi.

Tujuh belas.


Di angkot, kami duduk berdampingan.

Ini butuh penjelasan, karena aku tidak pernah naik angkot; uang jajanku punya urusan lain.

Tapi sekitar bulan Januari, dia mulai memaksa.

“Naik.”

“Freya, aku jalan.”

“Naik angkot sama aku sampai perempatan, terus kamu turun.”

“Itu dua ribu.”

“Aku yang bayar.”

“Freya.”

“Devan Alaric, aku bayar dua ribu buat duduk sebelahan sama kamu dua belas menit, dan itu murah banget, dan kalau kamu bantah aku bakal ngomong keras-keras di angkot.”

Aku naik.

Dua belas menit. Bahu ke bahu, karena angkot selalu penuh dan tidak ada yang menganggap aneh kalau dua orang berdempetan. Dua ribu rupiah.

Kami melakukannya tiga kali seminggu selama enam bulan.

Aku menghitung total biayanya sekali, karena tentu saja aku menghitungnya, dan angkanya adalah seratus empat puluh empat ribu rupiah.

Sepuluh tahun kemudian aku akan duduk di sebuah pesawat kelas bisnis yang tiketnya dibayar perusahaan dan mencoba mengingat kapan terakhir kali dua belas menit terasa seperti itu, dan aku tidak akan menemukan apa-apa.


Gilang curiga selama tujuh bulan dan tidak pernah yakin sekali pun.

“Dev.”

“Hm.”

“Lo sama anak baru masih?”

“Kita udahan.”

“Bohong.”

“Nggak.”

“Lo bohong. Gue tau lo bohong.” Gilang menyipitkan mata. “Tapi gue nggak bisa buktiin, dan itu bikin gue gila.”

“Kalau kita masih, kamu bakal lihat.”

“Nah itu dia!” Dia menepuk meja. “Gue nggak lihat apa-apa! Nol! Lo duduk di pojok, dia duduk di belakang, lo nggak pernah ngobrol!”

“Ya berarti udahan.”

“TAPI LO PULANG LEWAT GERBANG BELAKANG, DEV.”

“Lebih deket.”

“Lebih deket ke mana?! Rumah lo ke barat! Gerbang belakang ke TIMUR!”

Aku minum dan tidak menjawab.

Gilang menatapku selama sekitar sepuluh detik, lalu menghela napas dan menyerah, seperti yang dia lakukan sekitar empat puluh kali dalam tujuh bulan.

“Suatu hari nanti gue bakal tau,” katanya.

Dia baru tahu di hari perpisahan, dan cara dia tahu adalah dengan melihat wajahku, dan dia tidak pernah membicarakannya lagi sampai sepuluh tahun kemudian di kedai kopinya sendiri.


Ada satu sore, bulan Maret, yang tidak bisa kuletakkan di mana pun.

Kami di gang belakang kompleks guru. Sekitar meter empat ratus. Kucing yang biasa sudah pulang.

Dia berhenti berjalan.

“Dev.”

“Hm.”

“Kamu nggak capek?”

“Capek apa?”

“Ini.” Dia mengangkat tangan kami yang bergandengan, lalu menurunkannya lagi. “Muter dua puluh empat menit tiap hari. Kode-kodean. Pura-pura.”

Aku memikirkan itu.

“Nggak,” kataku.

“Beneran?”

“Beneran.”

“Kenapa?”

Dan aku menjawab dengan sangat jujur, karena aku selalu menjawab dengan sangat jujur kalau ditanya, dan karena aku belum cukup tua untuk tahu bahwa beberapa kejujuran adalah pengakuan.

“Karena ini satu-satunya bagian dari hari aku yang nggak ada orang lain di dalamnya,” kataku.

Freya tidak berkata apa-apa selama beberapa langkah.

“Devan.”

“Hm.”

“Suatu hari nanti kita harus keluar dari gang ini.”

“Iya. Ujungnya di sana.”

“Bukan itu maksud aku.”

Aku tahu bukan itu maksudnya.

Aku sangat tahu bukan itu maksudnya, dan aku memilih untuk menjawab bagian yang salah, dan itu adalah keterampilan yang akan kuasah selama sepuluh tahun berikutnya sampai jadi sempurna.

Dia tidak mengulangi. Dia tidak pernah mengulangi.

Dia cuma menggenggam tanganku sedikit lebih erat dan bilang, “ya udah, ayo, angkotnya keburu.”

Dan kami berjalan empat ratus meter sisanya dalam diam yang, waktu itu, terasa seperti diam yang nyaman.

Sepuluh tahun kemudian aku baru mengerti bahwa di dalam diam itu ada seseorang yang sedang belajar untuk tidak meminta.

Dia belajar dari orang yang paling ahli.