← Jangan Pergi

Chapter Thirteen

Empat Puluh

POV: FreyaSekarang

Tiga hari.

Aku bekerja seperti biasa selama tiga hari itu, dan aku melakukannya dengan sangat baik, dan itu bagian yang paling menyebalkan. Aku syuting dua hari penuh. Aku menghadiri satu rapat evaluasi. Aku mengucapkan nama Magnus AI mungkin empat puluh kali lagi dalam empat versi kalimat.

Tidak ada satu orang pun di lokasi yang menyadari ada yang salah.

Kecuali dua.

Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang tiga hari itu, karena kalau tidak, apa yang terjadi setelahnya akan terdengar seperti aku menyerah dengan mudah.

Aku tidak marah pada Devan. Itu masalahnya.

Aku sudah mencoba. Aku pulang dari basement pukul tiga pagi dan aku menyetir sendirian di jalan tol yang kosong dan aku sudah menyiapkan seluruh perlengkapan untuk marah — aku menyetel lagu yang tepat, aku bahkan membuka jendela — dan tidak ada yang datang.

Yang datang justru gambar.

Seorang laki-laki dua puluh lima tahun berdiri di lantai tiga sebuah mal, di sisi selatan, karena dari sana wajah orang yang berdiri tidak terlihat dari bawah.

Turun dua puluh delapan anak tangga.

Naik lagi dua puluh delapan anak tangga.

Kamu tidak bisa marah pada gambar itu. Kamu cuma bisa sakit.

Dan pada hari kedua aku sampai pada kesimpulan yang membuatku diam di ruang rias selama dua puluh menit dengan tangan penata rias berhenti di udara:

Devan tidak akan datang.

Bukan karena dia tidak mau. Karena dia tidak bisa. Karena laki-laki itu sudah menghabiskan lima belas tahun membangun sesuatu di dalam dirinya yang secara khusus dirancang untuk mencegah dia meminta apa pun kepada siapa pun, dan benda itu bekerja dengan sangat baik, dan benda itu tidak akan rusak hanya karena aku menangis di basement.

Jadi aku punya dua pilihan.

Aku bisa menunggu, seperti sepuluh tahun lalu.

Atau aku bisa pergi ke sana sendiri.

Aku sudah memutuskan yang kedua pada hari ketiga pukul empat sore. Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Aku bahkan sudah menyuruh Vinka mengosongkan Jumat pagi.

Aku terlambat empat jam dari dia, dan aku tidak akan pernah berhenti mensyukuri empat jam itu.


Yang pertama Reza.

Hari kedua, sore, di antara dua setup. Dia duduk di kursi lipat di sebelahku dan tidak mengangkat kamera.

“Freya.”

“Hm.”

“Kamu mau aku tanya, atau kamu mau aku pura-pura nggak lihat?”

Aku menoleh.

Ada tujuh bulan dalam hidupku yang tidak pernah kami beri nama, dan salah satu hasil dari tujuh bulan itu adalah bahwa Reza tahu persis kapan harus tidak melakukan apa-apa. Itu keahlian yang sangat langka dan tidak ada yang mengajarkannya.

“Pura-pura nggak lihat,” kataku.

“Oke.” Dia mengangguk, lalu berdiri. “Tapi lensanya aku ganti ya. Yang sekarang terlalu tajam buat muka kamu hari ini.”

Dia berjalan pergi sebelum aku sempat menjawab, dan aku duduk di kursi lipat itu dengan mata panas selama sekitar dua puluh detik.


Yang kedua, tentu saja, Vinka.

Vinka tidak melakukan pendekatan halus. Vinka duduk di lantai mobil van pada hari ketiga, bersandar ke kursiku, sambil menggulir ponselnya dengan ekspresi orang yang sedang membaca dokumen pengadilan.

“Kak.”

“Hm.”

“Gue udah sampe seribu dua ratus.”

“Apa?”

“Chat gue.” Dia mengangkat ponselnya tanpa menoleh. “Gue baca satu-satu sebelum gue hapus. Udah seribu dua ratus dari empat ribu dua ratus sembilan belas.”

“Vin, itu bakal makan waktu berminggu-minggu.”

“Gue tahu.”

“Kenapa nggak hapus semua aja?”

Vinka diam agak lama.

“Karena gue nemu sesuatu,” katanya.

“Apa?”

“Gue nulis hal yang sama terus.” Dia akhirnya menoleh, dan wajahnya bukan wajah lucu. “Empat tahun, Kak. Kalimatnya beda-beda, tapi isinya sama. Tiap kali. Ratusan kali.”

“Isinya apa?”

“‘Apa gue kebanyakan maunya.’”

Van itu sunyi.

“Ratusan kali gue nanya itu ke aplikasi,” kata Vinka pelan. “Jam setengah tiga pagi. Selama empat tahun. Dan tiap kali dijawab dengan sopan dan panjang lebar dan gue nggak pernah puas.”

“Vin—”

“Dan gue baru sadar semalem,” katanya, “gue nggak pernah sekali pun nanya itu ke manusia.”

Aku memandanginya cukup lama.

“Kamu mau aku jawab?”

“Nggak usah.”

“Vin.”

“Nggak usah, Kak. Serius.” Dia mengunci ponselnya dan menyandarkan kepala ke kursiku. “Gue takut jawabannya sama sopannya.”

Aku mengulurkan tangan dan mengacak rambutnya, dan dia membiarkannya, yang tidak pernah dia lakukan.

“Kamu nggak kebanyakan mau,” kataku.

“Sopan banget.”

“Vin, aku belum selesai.” Aku menariknya sampai kepalanya bersandar ke lututku. “Kamu nggak kebanyakan mau. Kamu cuma kebanyakan nanya ke tempat yang nggak bisa keberatan kalau kamu pergi.”

Vinka tidak menjawab selama beberapa saat.

“Kak.”

“Hm.”

“Itu tentang gue apa tentang lo?”

Aku tidak menjawab itu.


Sore hari ketiga, kami ambil gambar terakhir untuk seri billboard.

Konsepnya sederhana: aku berdiri, tangan di saku, menatap kamera, tanpa senyum. Reza bilang dia mau ekspresi yang “netral tapi bukan kosong”, yang merupakan jenis arahan yang cuma masuk akal bagi orang yang pernah bekerja dengannya.

Aku memberikannya dalam tiga frame.

“Bagus,” katanya. “Selesai. Terima kasih semuanya.”

Kru bertepuk tangan seperti biasa. Aku turun dari mark seperti biasa. Vinka datang dengan air seperti biasa.

Dan di ruang rias, sambil melepas anting yang beratnya tidak masuk akal, aku menatap cermin dan melihat sesuatu.

Wajah di cermin itu adalah wajah yang sudah kupakai selama sepuluh tahun. Wajah yang bisa berdiri di depan tiga ratus orang. Wajah yang menegosiasikan kontrak. Wajah yang tidak menunjukkan apa pun yang tidak kuizinkan.

Wajah yang sangat, sangat sopan.

Aku duduk di sana dengan satu anting di tangan selama dua puluh menit, sampai penata riasku bertanya apakah aku baik-baik saja, dan aku bilang iya.

Lalu aku mengirim pesan ke Vinka: kosongin Jumat pagi.


Hari ketiga, pukul sembilan lewat empat puluh malam, interkom apartemenku berbunyi.

Aku baru selesai mandi. Rambutku basah. Aku memakai celana pendek dan kaus yang sudah tujuh tahun umurnya dan sama sekali tidak ada urusan dengan siapa pun.

“Ya?”

“Malam, Ibu Freya. Ada tamu.”

“Siapa?”

Jeda. Suara di belakang. Lalu petugasnya kembali, dengan nada yang jelas-jelas berusaha tidak tertawa.

“Katanya... Devan. Yang temennya Gilang.”

Aku berdiri di ruang tamuku selama sekitar empat detik.

“Suruh naik,” kataku.


Dia berdiri di depan pintuku dengan kaus polos dan wajah orang yang belum tidur benar selama tiga malam.

“Halo,” katanya.

“Halo.”

“Aku nggak telepon dulu.”

“Aku lihat.”

“Aku sempet nulis pesan.” Dia memegang ponselnya seperti barang bukti. “Aku tulis sebelas kali. Semuanya kehapus.”

“Sebelas.”

“Iya.”

Aku membuka pintu lebih lebar.

“Masuk.”


Apartemenku dua kamar, dan yang satu jadi gudang, dan yang membuatnya terlihat mahal cuma jendelanya. Devan berdiri di ruang tengah seperti orang yang tidak yakin lantainya boleh diinjak.

“Duduk.”

“Nggak usah.”

“Devan.”

“Kalau aku duduk aku nggak akan bisa ngomong.”

Oke.

Aku bersandar ke meja dapur — pulau kecil dengan kompor yang cuma pernah dipakai untuk merebus air — dan menyilangkan tangan, dan menunggu.

Dia berdiri sekitar dua meter dari situ.

“Tiga hari ini aku nyoba,” katanya.

“Nyoba apa?”

“Ngomong.”

“Ngomong apa?”

“Yang di basement.” Dia menatap lantai. “Yang harusnya aku omongin waktu aku pegang tangan kamu terus aku lepas.”

Aku merasakan sesuatu di tenggorokanku dan menahannya.

“Terus?”

“Nggak bisa,” katanya.

Satu kata, jujur sepenuhnya, dan aku harus mengalihkan pandangan ke jendela selama dua detik.

“Aku udah coba di mobil. Di kantor. Di kamar mandi, sendirian, di depan cermin, kayak orang gila.” Dia menggosok belakang lehernya. “Aku bisa nyusun kalimatnya. Aku bisa ngomong di kepala. Begitu ada kamu, alat yang harusnya ngeluarin itu ke luar mati.”

“Devan—”

“Sebentar.” Dia mengangkat tangan. “Aku belum selesai, dan kalau aku berhenti sekarang aku nggak akan mulai lagi.”

Aku diam.

“Hari pertama aku kerja delapan belas jam,” katanya. “Bukan karena ada kerjaan. Aku bikin kerjaan. Aku audit tiga hal yang nggak perlu diaudit sampai bulan depan.”

“Devan.”

“Hari kedua aku ke kedai Gilang. Aku duduk di sana empat jam dan Gilang nggak nanya apa-apa, yang aneh, karena Gilang selalu nanya.” Dia menatap lantai. “Terus pas mau tutup dia bilang satu kalimat.”

“Apa?”

“Dia bilang, ‘Dev, gue tutup jam sembilan. Lo mau ke mana abis ini?’”

Aku menunggu.

“Aku bilang pulang,” kata Devan. “Terus dia bilang, ‘oh, ya udah,’ terus dia matiin lampu.”

“Terus?”

“Terus aku duduk di mobil di depan kedainya sampai jam setengah dua belas.” Dia mengangkat bahu, sangat kecil. “Karena aku sadar aku baru aja bohong ke satu-satunya orang yang nggak pernah nuntut apa-apa dari aku, tentang hal yang bahkan nggak penting.”

Kulkas di belakangku berdengung dan berhenti.

“Hari ketiga aku bangun jam empat,” lanjutnya. “Terus aku duduk di kasur, dan aku hitung sesuatu.”

“Hitung apa?”

“Berapa lama lagi aku bisa nahan ini.” Dia akhirnya mengangkat kepala. “Aku bagus ngitung hal kayak gitu, Freya. Itu literally kerjaan aku — nyari titik di mana sesuatu bakal patah.”

“Terus hasilnya?”

“Hari ini,” katanya.

Dia menarik napas.

“Aku mau minta tolong,” katanya.


Aku tidak langsung mengerti apa yang baru saja terjadi.

Butuh sekitar tiga detik, dan tiga detik itu berisi sepuluh tahun.

Karena aku pernah menghabiskan delapan bulan di samping laki-laki ini pada umur tujuh belas, dan aku menghabiskan tiga minggu terakhir di sekitarnya pada umur dua puluh delapan, dan dalam total waktu itu — dalam seluruh waktu itu — aku belum pernah sekali pun mendengar dia meminta apa pun.

Tidak pernah pinjam pensil. Tidak pernah minta ditunggu. Tidak pernah minta tolong ambilkan.

Aku meletakkan kedua tanganku di tepi meja dapur di belakangku karena aku butuh sesuatu untuk dipegang.

“Minta tolong apa?” kataku, dan suaraku keluar salah.

Devan mengangkat kepala.

“Tanya aku lagi,” katanya.

“Apa?”

“Yang kamu tanya di basement. Tanya lagi.” Rahangnya mengeras. “Aku nggak bisa mulai, Freya. Aku udah tiga hari nyoba dan aku nggak bisa mulai. Tapi kalau kamu yang nanya—”

Dia berhenti.

“Kalau aku yang nanya, kamu bisa jawab,” kataku.

“Iya.”

“Karena jawab itu bukan minta.”

Dia menutup mata sebentar.

“Iya,” katanya.


Ada bagian dari diriku yang ingin marah pada saat itu. Bagian yang berdiri di teras rumah pada umur delapan belas dan menunggu satu kalimat yang tidak datang, dan bagian itu berteriak bahwa ini pengecut, bahwa ini setengah, bahwa dia sedang menyuruhku mengerjakan bagian yang sulit lagi.

Bagian itu benar.

Tapi aku sudah dua puluh delapan tahun, dan aku sudah membaca cukup banyak orang untuk hidup, dan aku melihat laki-laki di ruang tamuku yang tangannya gemetar dan yang baru saja mengucapkan empat kata yang mungkin paling mahal dalam hidupnya.

Aku mau minta tolong.

Dia tidak sedang menyuruhku mengerjakan bagian yang sulit.

Dia baru saja menyerahkan padaku satu-satunya kunci yang dia punya.

“Oke,” kataku.

Aku mendorong diriku dari meja dapur dan berjalan ke arahnya. Empat langkah. Aku berhenti di jarak yang sudah jadi kebiasaan kami — tiga puluh senti, persis — dan aku mendongak.

“Devan.”

“Iya.”

“Waktu kamu pegang tangan aku di basement,” kataku, pelan, “kamu mau ngomong apa?”


Dia menjawab.

Tidak langsung. Ada jeda sekitar delapan detik di mana aku bisa mendengar kulkas di belakangku dan lalu lintas di lantai dua puluh dua di bawah kami.

Lalu dia bicara, dan suaranya sangat rendah, dan dia mengucapkannya dengan cara yang sangat khas dia — dengan angka lebih dulu, karena tentu saja dengan angka lebih dulu.

“Tiga ribu enam ratus lima puluh delapan hari,” katanya.

“Apa?”

“Dari hari kamu berangkat sampai hari Selasa waktu aku lihat kamu di lokasi.” Dia menelan. “Tiga ribu enam ratus lima puluh delapan.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Aku kangen kamu tiap hari,” katanya.

Hening.

“Tiap hari?”

“Tiap hari.” Suaranya pecah sedikit di kata kedua. “Ada hari yang cuma lima menit. Ada hari yang seharian. Tapi nggak ada yang nol.”

Aku menutup mataku dan merasakan sesuatu jatuh di pipiku dan tidak repot-repot menghapusnya.

“Sepuluh tahun,” kataku.

“Iya.”

“Dan kamu nggak pernah bilang.”

“Iya.”

“Bahkan waktu kamu terbang dua puluh tiga jam.”

“Iya.”

Aku membuka mata.

Dia berdiri di sana, tiga puluh senti dariku, dengan tangan mengepal di sisi tubuh karena dia tidak tahu harus menaruhnya di mana, dan dengan mata yang basah dan sama sekali tidak dia sadari.

Dan aku mengambil keputusan yang sudah kuambil sepuluh tahun lalu di kantin sekolah dengan sepiring siomay di depanku.

Kalau laki-laki ini tidak bisa mulai, maka aku yang mulai.

Lagi.

Dan aku tidak keberatan sedikit pun.


“Devan.”

“Iya.”

“Aku mau kita pacaran,” kataku.

Dia berhenti bernapas.

“Bukan ‘coba dulu’. Bukan ‘pelan-pelan’. Bukan ‘lihat gimana nanti’.” Aku menahan tatapannya. “Pacaran. Dari sekarang. Kamu pacarku.”

Mulutnya terbuka. Tidak ada suara yang keluar.

Dan aku, karena aku sudah dua puluh delapan tahun dan karena aku sudah menunggu terlalu lama dan karena aku tahu persis apa yang akan terjadi, melakukan hal yang sama seperti sepuluh tahun lalu.

“Satu,” kataku.

“Freya—”

“Dua.”

“Aku—”

“Tiga. Empat. Lima.”

Dia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kuceritakan pada siapa pun tanpa merusaknya.

“Enam. Tujuh. Delapan.”

“Kamu ngitung.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Sembilan. Sepuluh.” Aku memiringkan kepala. “Karena dulu kamu butuh empat puluh detik, Devan. Aku ngitung waktu itu juga. Kamu nggak inget?”

“Aku inget.”

“Sebelas. Dua belas.”

Dan di sini terjadi sesuatu yang tidak kuperhitungkan.

Dia tertawa.

Pendek, satu kali, patah di tengah dan lebih mirip napas daripada tawa — tapi tertawa, dan matanya tetap basah, dan itu adalah suara paling bagus yang pernah kudengar seumur hidupku.

“Tiga belas,” kataku, dan suaraku juga sudah tidak stabil. “Empat belas.”

“Freya.”

“Lima belas.”

“Aku nggak butuh empat puluh detik.”

“Enam belas. Tujuh belas.”

“Freya.”

“Delapan belas. Sembilan bel—”

“Iya,” katanya.

Aku berhenti.

“Iya,” ulangnya, lebih keras, dan kali ini dia tidak menunduk sedikit pun. “Iya. Aku pacarmu. Iya.”

Sembilan belas detik.

“Kamu maju dua puluh satu detik dari rekor kamu,” kataku.

“Aku udah latihan sepuluh tahun.”

Dan aku meraihnya.


Aku yang menariknya. Aku ingin itu tercatat, kalau ada yang mencatat hal-hal semacam ini di suatu tempat.

Aku menarik kausnya dengan dua tangan dan menariknya turun tiga puluh senti terakhir itu, dan aku menciumnya di dapur apartemenku pada pukul sepuluh lewat lima menit malam dengan rambut yang masih basah.

Dan ciuman itu bukan ciuman perpustakaan lantai dua.

Kami bukan tujuh belas tahun. Tidak ada yang menahan napas. Tidak ada yang tertawa. Tangannya sampai di pinggangku dalam waktu kurang dari satu detik dan mencengkeram kausku seperti orang yang baru saja diberi izin setelah sangat, sangat lama, dan aku mendengar suara di tenggorokannya yang bukan kata dan bukan napas.

Sepuluh tahun tidak lewat pelan-pelan. Sepuluh tahun lewat sekaligus.

Aku harus memegang meja dapur di belakangku dengan satu tangan.

Ketika kami berhenti, dahinya di dahiku, dan kami berdua bernapas seperti orang yang baru naik tangga.

“Devan.”

“Hm.”

“Kamu gemeteran.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Nggak tahu.” Dia menutup matanya. “Nggak ada di perhitungan.”

Aku tertawa ke dadanya, dan dia memelukku, dan itu pelukan yang caranya salah — terlalu erat, dengan tangan yang tidak tahu harus di mana, seperti orang yang belum pernah melakukannya selama bertahun-tahun.

Kemungkinan besar memang begitu.


Kami duduk di lantai dapur setelah itu, punggung ke lemari bawah, karena tidak ada satu pun dari kami yang mengusulkan pindah ke sofa dan tidak ada satu pun dari kami yang peduli.

Aku membuat teh. Dia meminumnya walaupun aku yakin dia tidak suka teh.

“Kamu nggak suka teh.”

“Nggak.”

“Terus kenapa diminum?”

“Karena kamu yang bikin.”

“Devan, itu—” Aku menatapnya. “Itu barusan gombal.”

“Bukan.”

“Itu gombal.”

“Itu penjelasan.”

“Itu gombal, dan kamu ngomongnya pakai muka orang lagi baca laporan.” Aku menendang kakinya pelan dengan kaki telanjangku. “Kamu tuh nggak boleh gitu. Nggak adil.”

“Kenapa nggak adil?”

“Karena aku nggak punya pertahanan buat yang model gitu.” Aku menyandarkan kepala ke lemari. “Yang gombalnya niat aku bisa lawan. Aku tiap hari dapet yang niat.”

Dia memikirkan itu selama beberapa detik, dengan wajah orang yang sedang mencatat.

“Oke,” katanya.

“Jangan dicatat.”

“Nggak.”

“Devan.”

“Nggak dicatat.”

Dia sedang mencatat. Aku tahu dari sekarang.

Kami duduk seperti itu cukup lama. Lampu dapur terlalu terang untuk pukul sebelas malam dan tidak ada dari kami yang berdiri untuk mematikannya.

“Freya.”

“Hm.”

“Aku boleh nanya sesuatu yang bodoh?”

“Boleh banget.”

“Kita jadian jam berapa?”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Aku cuma mau tahu.”

“Sekitar jam sepuluh lewat lima.”

“Sepuluh lewat empat,” katanya. “Aku lihat jam dinding kamu di belakang kepala kamu.”

“Kamu lihat jam?”

“Iya.”

“Waktu aku lagi ngitung ke empat puluh?”

“Iya.”

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Devan, kamu tuh nggak waras.”

“Aku tahu.”

“Kamu lihat jam pas momen paling penting sepuluh tahun terakhir.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dia memutar cangkir teh di tangannya setengah lingkaran.

“Karena aku nggak mau ada bagian dari hari ini yang aku nggak tahu persis,” katanya.

Aku menurunkan tanganku dari wajahku.

Dan aku mencium pipinya, cepat, karena kalau tidak aku akan menangis lagi dan aku sudah cukup untuk satu malam.


Dia pulang pukul dua belas.

Aku ingin dia tidak pulang. Aku hampir mengatakannya. Tapi ada sesuatu di dalam diriku yang berkata jangan semuanya malam ini, dan untuk sekali seumur hidup aku mendengarkan bagian itu.

Di pintu, dia berhenti.

“Freya.”

“Hm.”

“Besok gimana?”

“Besok apanya?”

“Di kantor.” Dia terlihat betul-betul bingung. “Aku harus gimana?”

Aku menyandar ke kusen pintu dan menatapnya, dan aku merasa dua puluh delapan tahun dan tujuh belas tahun secara bersamaan.

“Kamu nggak usah gimana-gimana,” kataku.

“Oke.”

“Kamu cuma jangan pura-pura nggak kenal aku.”

“Oke.”

“Devan.”

“Hm.”

“Itu bercanda,” kataku. “Kamu harus pura-pura nggak kenal aku. Ada empat puluh orang dan dua di antaranya jualan gosip.”

Dia berkedip.

“Oh.”

“Iya.”

“Oke.”

“Tapi kamu boleh liatin aku lebih dari satu detik,” kataku, dan menutup pintu sebelum dia sempat menjawab.

Aku berdiri di balik pintu itu selama sekitar satu menit dengan telapak tangan di kayunya.

Ponselku bergetar.

Devan (00:03): aku masih di lorong

Aku: aku tau

Devan (00:03): kamu tau?

Aku: aku denger kamu nggak jalan

Jeda panjang.

Devan (00:05): aku lagi mikirin sesuatu

Aku: apa

Devan (00:06): besok aku harus pura pura nggak kenal kamu selama sekitar 9 jam

Devan (00:06): aku nggak yakin aku bisa

Aku menutup mulutku dengan punggung tangan supaya tidak mengeluarkan suara di lorong apartemen jam dua belas malam.

Aku: kamu udah latihan 10 tahun, dev

Devan (00:07): itu beda

Aku: bedanya apa

Devan (00:08): dulu aku pura pura nggak kenal orang yang nggak boleh aku sentuh

Devan (00:08): besok aku pura pura nggak kenal orang yang boleh

Aku menyandarkan dahi ke pintu.

Aku: devan

Aku: pulang sana

Devan (00:09): oke

Devan (00:09): selamat malam

Devan (00:11): freya

Aku: hm

Devan (00:11): tiga ribu enam ratus lima puluh delapan

Devan (00:11): sekarang nol


Aku berjalan ke kamar, membuka lemari, menyibak barang-barang di sisi kiri, dan berdiri di sana memandangi sebuah jaket sekolah abu-abu dengan jahitan di siku kanan selama waktu yang sangat lama.

Aku tidak mengeluarkannya.

Belum.