Chapter Twenty
Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
POV: Devan — Sekarang
Freya menyampaikannya di mobil, di lampu merah, dengan nada orang yang membicarakan cuaca.
“Minggu ini ibuku ulang tahun.”
“Oh.”
“Kita makan malam di rumah.”
“Oke.”
Jeda tiga detik.
“Kamu ikut,” katanya.
Aku menoleh terlalu cepat.
“Aku?”
“Iya.”
“Freya, aku—”
“Sena udah bilang.” Dia mengangkat bahu, sepenuhnya tenang, dengan cara yang jelas-jelas dilatih. “Dua minggu lalu. Anak itu bertahan tiga hari, terus dia bilang ke ibu.”
“Kamu baru cerita sekarang?”
“Aku baru siap sekarang.”
Lampu berubah hijau.
“Devan.”
“Hm.”
“Kamu boleh nolak.”
Dan itu — kalimat itu, diucapkan dengan sangat ringan, sambil melihat lurus ke depan — adalah satu-satunya alasan aku tidak bisa menolak.
Rumah itu di Bekasi, di gang yang cukup lebar untuk satu mobil, dengan pagar besi yang catnya baru dan pot-pot di kedua sisi teras.
Aku berdiri di depan pagar itu selama sekitar delapan detik sebelum Freya menekan bel.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Dev.”
“Aku belum pernah masuk ke rumah kamu,” kataku.
Dia berhenti dengan jari di bel.
“Delapan bulan,” lanjutku. “Kita pacaran delapan bulan dan aku nggak pernah masuk.”
Freya menatap pagar itu.
“Iya,” katanya.
“Aku baru sadar sekarang.”
“Aku udah sadar dari sepuluh tahun lalu, Dev.”
Dia menekan belnya sebelum aku sempat menjawab.
Bu Ratna membuka pintu.
Perempuan kecil, rambut diikat, kacamata dinaikkan ke atas kepala, dan tangan yang jelas-jelas baru dilap ke celemek. Ada bunyi mesin jahit dari suatu tempat di dalam rumah yang berhenti sekitar dua detik setelah pintu terbuka, yang berarti ada orang lain yang menjahit, yang berarti dua karyawan itu betul-betul ada.
Dia melihat Freya. Lalu melihatku.
Dan aku menyaksikan sesuatu yang belum pernah kulihat: seorang perempuan berumur lima puluhan mengenali seseorang setelah sepuluh tahun tanpa satu pun keraguan.
“Devan,” katanya.
“Selamat malam, Bu.”
“Masuk.”
Itu saja. Tidak ada “loh”, tidak ada “ya ampun”, tidak ada “besar sekarang ya”. Dia berbalik dan masuk dan meninggalkan pintu terbuka.
Freya menyenggol lenganku dengan siku.
“Itu bagus,” bisiknya.
“Itu bagus?”
“Kalau ibuku nggak suka orang, dia bakal manis banget.”
Rumah itu punya tiga ruangan dan aku bisa melihat hampir semuanya dari tempat aku berdiri.
Ada mesin jahit di sudut ruang depan — bukan yang dipakai barusan, yang itu di belakang; yang ini lebih tua, hitam, dengan pedal kaki, dan diletakkan di tempat yang jelas-jelas bukan tempat kerja.
Ada foto di dinding. Empat orang. Yang laki-laki dewasa memakai kemeja batik dan tersenyum ke arah yang salah.
Ada kursi kosong di meja makan yang tidak dipindahkan.
Aku melihat kursi itu dan sesuatu di dadaku bergerak, karena ada kursi kosong yang tidak dipindahkan di rumahku juga, selama empat tahun, dan tidak ada satu orang pun di dunia yang pernah kuceritakan tentang itu.
“Duduk,” kata Bu Ratna.
Aku duduk.
Sena menghancurkan seluruh wibawaku dalam waktu sebelas menit.
“Bu, Mas Devan ini yang bikin Magnus.”
“Sebagian,” kataku.
“Bu, dia yang bikin.”
“Sena—”
“Bu, tau nggak, aplikasi yang Ibu pakai buat nanya resep rendang itu—”
“Sena.”
“—itu Mas Devan.”
Bu Ratna menoleh padaku dengan sendok masih di tangan.
“Yang mana?”
“Yang di HP Ibu,” kata Sena. “Yang Ibu suruh bikinin puisi buat arisan.”
Ada jeda.
“Ibu bikin puisi?” tanya Freya.
“Sekali.”
“Bu.”
“Sekali, Freya. Untuk Bu Marni. Ulang tahun.” Bu Ratna meletakkan sendoknya dengan sangat tenang. “Dan puisinya bagus.”
“Bu—”
“Bagus sekali. Bu Marni sampai nangis.”
Sena menutup wajahnya dengan tangan. Freya menatap langit-langit. Aku duduk di kursi ruang makan sebuah rumah di Bekasi dan menyadari bahwa aku sedang mendengar tentang salah satu dari lima ratus juta orang itu, dari jarak satu meter, dan bahwa dia menyuruhnya menulis puisi untuk temannya.
“Terima kasih, Bu,” kataku.
“Untuk apa?”
“Nggak apa-apa.”
Kami makan selama sekitar satu jam.
Bu Ratna memasak lima hal, yang untuk empat orang adalah pernyataan.
Ada satu di antaranya — ayam dengan kuah kuning yang aku tidak tahu namanya — yang setelah suapan ketiga membuatku berhenti mengunyah, karena rasanya seperti sesuatu yang kukenal dan tidak bisa kuletakkan.
“Enak, Devan?”
“Enak banget, Bu.”
“Itu resep neneknya Freya.” Bu Ratna menambahkan sesendok ke piringku tanpa bertanya. “Susah. Bumbunya harus digiling, nggak boleh diblender.”
“Bu, itu tiga jam,” kata Freya.
“Dua setengah.”
“Bu.”
“Ibu suka masak.”
“Ibu tidur jam sebelas kemarin.”
“Ibu suka masak,” ulang Bu Ratna, dengan nada yang menutup topik secara permanen, dan aku menyadari dari mana Freya mendapatkan seluruh caranya menyelesaikan perdebatan.
Aku memperhatikan bahwa tidak ada satu pun kontak fisik antara aku dan Freya sepanjang jam itu. Nol. Tidak ada tangan di lengan, tidak ada apa pun.
Aku juga memperhatikan bahwa kami berdua duduk dengan punggung tegak seperti dua orang berumur tujuh belas tahun, dan bahwa Freya memanggilku “Devan” alih-alih “Dev”, dan bahwa ketika tangan kami tidak sengaja bertemu di dekat piring kerupuk, kami berdua menarik tangan seperti tersengat.
Sena melihatnya dan mengeluarkan bunyi ke dalam gelasnya.
“Sena,” kata Bu Ratna.
“Nggak ngapa-ngapain, Bu.”
“Kamu ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain.”
“Sena.”
“Bu, mereka nggak salaman dari tadi,” kata Sena. “Padahal tadi di mobil—”
Freya menendang adiknya di bawah meja dengan bunyi yang terdengar sampai ke ruang depan.
Bu Ratna mengambil kerupuk.
“Ibu tahu,” katanya, tanpa mengangkat kepala. “Ibu cuma nunggu berapa lama kalian bisa tahan.”
Kami bertahan lima puluh dua menit.
Bu Ratna bilang itu lebih lama dari yang dia perkirakan, dan bahwa dia sudah menebak empat puluh, dan bahwa Sena berutang padanya dua puluh ribu.
Sekitar pukul sembilan, Freya dan Sena mencuci piring, dan aku dan Bu Ratna tinggal di ruang depan.
Ini kejadian yang diatur. Aku tahu itu. Freya berdiri dengan tumpukan piring terlalu cepat dan Sena mengikutinya terlalu patuh.
Bu Ratna menuang teh.
“Kerja di Jakarta sekarang?”
“Iya, Bu. Kantornya baru buka.”
“Berapa lama?”
“Belum tahu. Tergantung kantornya.”
“Hm.”
Bunyi mesin jahit dari belakang sudah berhenti sejak jam delapan. Rumah itu sunyi kecuali suara air dari dapur dan Sena yang mengeluh tentang sesuatu.
“Devan.”
“Ya, Bu.”
“Ibu mau bilang satu hal,” katanya. “Terus kita ngobrol yang lain.”
“Iya, Bu.”
Dia meletakkan tekonya.
“Kamu tahu, Ibu ingat kamu,” katanya. “Dari dulu.”
“Iya, Bu.”
“Bukan dari cerita Freya. Freya nggak pernah cerita apa-apa ke Ibu, dulu maupun sekarang. Anak itu keras kepala.”
Aku menunggu.
“Ibu ingat kamu,” lanjutnya, “karena selama delapan bulan Freya pulang jam setengah enam terus, dan tiap hari dia bilang habis belajar, dan tiap hari Ibu percaya karena nilainya memang naik.”
Aku merasakan sesuatu di tengkuk.
“Terus suatu hari dia pulang pakai jaket cowok,” kata Bu Ratna. “Dan Ibu nggak nanya.”
“Kenapa nggak nanya, Bu?”
“Karena bapaknya baru meninggal setahun sebelumnya,” katanya, sederhana. “Dan itu satu-satunya bulan anak itu senyum.”
Ruangan itu sunyi.
“Ibu tunggu kamu datang,” kata Bu Ratna.
Aku mengangkat kepala.
“Delapan bulan, Devan. Ibu tunggu kamu datang ke rumah ini, ngetuk pintu, salaman, terus duduk di kursi itu.” Dia menunjuk kursi tempat aku duduk. “Ibu bahkan pernah masak lebih. Dua kali.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Kamu nggak pernah datang.”
“Bu—”
“Sampai malam terakhir.”
Dan di situlah aku mengerti apa yang sedang terjadi, dan kenapa Freya membawa tumpukan piring terlalu cepat.
“Malam sebelum dia berangkat,” kata Bu Ratna, “kamu datang. Ibu di dalam. Ibu dengar semuanya.”
Tanganku dingin.
“Ibu nggak dengar kata-katanya,” lanjutnya cepat. “Ibu nggak nguping. Ibu cuma dengar nada.”
Dia menatapku dari balik cangkirnya.
“Dan Ibu ingat mikir waktu itu: kok tenang sekali anak ini.”
Aku duduk di kursi ruang depan rumah di Bekasi pada pukul sembilan lewat dua puluh malam dan tidak punya satu pun kalimat.
“Devan.”
“Iya, Bu.”
“Ibu bukan mau marah.” Bu Ratna menaruh cangkirnya. “Ibu sudah lama tidak marah tentang itu. Freya berangkat, Freya berhasil, rumah ini masih ada. Semua selesai.”
“Iya, Bu.”
“Ibu cuma mau kamu tahu satu hal.”
Dia menunduk sedikit, dan untuk pertama kalinya sepanjang malam itu dia terlihat seperti perempuan yang menjahit sampai jam sebelas malam selama bertahun-tahun.
“Rumah ini kecil,” katanya. “Tapi pintunya kebuka, Devan. Dari dulu.”
“Iya, Bu.”
“Kamu nggak pernah tahu itu, karena kamu nggak pernah ngetuk.”
Suara air di dapur berhenti.
“Sekali ini kamu sudah masuk,” kata Bu Ratna, dan dia berdiri sambil mengambil cangkir kosong. “Jangan cuma sekali.”
“Bu.”
Dia berhenti.
“Ya?”
Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan sampai kalimatnya sudah setengah keluar.
“Kenapa Ibu masih mau ngomong sama saya?”
Bu Ratna menoleh penuh.
“Maksudnya?”
“Saya nggak pernah datang,” kataku. “Delapan bulan. Terus saya datang sekali, dan malam itu anak Ibu berangkat. Terus sepuluh tahun saya nggak ada.”
Bu Ratna berdiri di tengah ruang depan dengan dua cangkir di tangan.
“Devan,” katanya. “Kamu tahu apa yang Ibu kerjakan seharian selama dua puluh tahun?”
“Menjahit, Bu.”
“Menjahit,” katanya. “Dan tahu nggak, kain yang paling susah itu bukan yang robek.”
Aku menunggu.
“Yang robek gampang. Kelihatan. Tinggal disatukan.” Dia mengangkat cangkirnya sedikit. “Yang susah itu kain yang nggak pernah dijahit. Yang dari dulu cuma dilipat, terus disimpan, terus dilipat lagi. Lama-lama ada garis di lipatannya, dan garis itu nggak bisa hilang.”
“Bu—”
“Kamu bukan anak yang rusak, Devan.” Dia berjalan ke arah dapur. “Kamu cuma anak yang nggak pernah dibuka.”
Dia berhenti di ambang pintu dapur.
“Dan Ibu marah,” katanya, tanpa menoleh. “Dulu. Sebentar. Tapi Ibu marahnya bukan sama kamu.”
“Sama siapa, Bu?”
“Sama orang tua kamu,” katanya. “Siapa pun mereka. Yang bikin anak umur tujuh belas mikir bahwa datang ke rumah orang itu ngerepotin.”
Lalu dia masuk ke dapur, dan air menyala, dan aku duduk sendirian di kursi itu selama sekitar dua puluh detik dengan sesuatu di dadaku yang tidak punya nama.
Freya dan Sena keluar dari dapur empat puluh detik kemudian, dan Sena langsung mulai bercerita tentang dosennya, dan malam itu berlanjut seperti tidak terjadi apa-apa selama satu setengah jam berikutnya.
Aku ikut tertawa di tempat yang benar.
Di mobil, di jalan pulang, Freya tidak bertanya apa-apa selama dua puluh menit.
Lalu, di tol, tanpa menoleh:
“Ibu ngomong apa?”
“Dia bilang rumah kalian pintunya kebuka.”
Freya menoleh.
“Itu doang?”
“Iya.”
“Devan.”
“Itu doang,” kataku.
Dia menatapku beberapa detik, lalu kembali menatap jalan, dan tidak mengejar.
Dan aku menyetir di tol Bekasi–Jakarta pada pukul sebelas malam sambil melakukan hal yang sudah kulakukan sejak umur tiga belas: menyimpan sesuatu yang berat sendirian, dengan sangat rapi, karena membaginya akan membuat orang lain ikut memikirkannya.
Bedanya, malam itu, aku sadar sedang melakukannya.
Itu kemajuan. Menurutku itu kemajuan.
Aku salah, tapi butuh sembilan minggu lagi untuk tahu.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi reading
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur