Chapter Seven
Berhenti Sopan
POV: Freya — Sekarang
Aku tidak tidur.
Bukan tidak bisa. Tidak. Aku berbaring dari jam satu sampai jam lima dengan mata terbuka di kamar yang gelap, dan sepanjang empat jam itu aku mencoba memberi nama pada satu perasaan, dan gagal.
Aku tahu bentuk marah. Aku marah pada agensi pertamaku selama dua tahun dan aku tahu persis rasanya: panas, terpusat, dan enak. Marah itu enak kalau kamu tahu ke mana arahnya.
Yang ini tidak punya arah.
Aku mencoba beberapa kalimat, satu per satu, sambil menatap langit-langit.
Aku marah karena dia bohong. Salah. Dia tidak bohong. Aku memutar ulang setiap percakapan dan tidak menemukan satu pun kalimat yang tidak benar.
Aku marah karena dia orang penting. Konyol. Aku senang. Ada bagian di dadaku yang meledak-ledak bangga sampai memalukan, dan bagian itu ada di sana sejak layar dua belas meter itu menyala.
Aku marah karena dia nggak bilang.
Lebih dekat. Tapi masih meleset, dan aku tahu meleset karena rasanya masih sama.
Pukul lima pagi aku menyerah dan duduk di tepi kasur, dan kalimat yang akhirnya datang adalah kalimat yang tidak kuizinkan sendiri untuk selesai.
Aku marah karena kemarin aku kasihan sama kamu, dan kamu biarin.
Aku bangun. Aku mandi. Aku memakai jins dan kaus dan sepatu kets, tanpa riasan, rambut diikat asal — pakaian yang tidak pernah kupakai keluar rumah dalam sepuluh tahun terakhir kecuali di bandara jam empat pagi.
Aku sampai di kedai kopi itu pukul tujuh lewat empat puluh.
Kedainya kecil dan bersih dan sangat, sangat sepi.
Empat meja. Satu rak berisi buku yang jelas-jelas tidak pernah dibaca. Papan tulis dengan tulisan tangan yang bagus. Musik yang volumenya pas. Kopinya, kuduga, tidak bermasalah sama sekali.
Yang bermasalah adalah lokasinya, yang berada di gang tempat manusia tidak lewat.
Seorang laki-laki di belakang mesin mengangkat kepala saat pintu berbunyi.
“Selamat pa—” Dia berhenti. Mengerjap. Miring sedikit. “Eh.”
“Pagi.”
“Eh.” Dia meletakkan lap. “Bentar. Bentar bentar bentar.”
“Boleh pesan kopi?”
“Boleh. Bentar.” Dia menunjuk wajahku dengan lap. “Anak baru.”
Aku berkedip.
“Apa?”
“Anak baru!” Dia menepuk meja bar sekali, keras, dengan wajah orang yang baru saja memenangkan taruhan lama. “Kelas sebelas! Yang pindah di tengah semester! Yang duduk di kiri belakang!”
“...Gilang?”
“NAH.”
Dan begitulah aku bertemu lagi dengan satu-satunya orang di Indonesia yang, sepuluh tahun setelah lulus SMA, melihat wajah yang ada di dinding gedung dua puluh lantai dan mengenalinya sebagai anak baru kelas sebelas.
“Jadi lo model.”
“Iya.”
“Yang di iklan-iklan itu.”
“Iya.”
“Yang gede-gede.”
“Iya.”
Gilang mengangguk sambil menuang susu, dengan ekspresi yang tidak berubah sedikit pun. “Bagus. Bagus itu. Halal?”
“Ya... halal.”
“Nah. Bagus.” Dia menyodorkan cangkir. “Enak nggak?”
Aku mencoba. Kopinya luar biasa.
“Ini enak banget.”
“Iya kan.” Gilang bersandar ke belakang, puas dan sekaligus getir. “Enak, mahal bikinnya, sepi. Tiga-tiganya bener.”
“Kenapa sepi?”
“Karena gue milih tempat pakai perasaan.” Dia mengangkat bahu. “Kata Devan dulu jangan. Dia bikin itungan segala, ditulis di kertas, berapa orang lewat per jam, berapa yang mampir. Gue bilang lo nggak ngerti seni.”
“Terus?”
“Terus dia bener.” Gilang mengelap meja yang sudah bersih. “Dia selalu bener. Nyebelin banget orangnya.”
“Kamu masih temenan sama dia?”
“Ya temenan lah.” Gilang menatapku seperti aku bertanya apakah matahari masih terbit. “Emang bisa berhenti?”
“Banyak yang berhenti.”
“Ya berarti mereka bukan temenan.” Dia menaruh gelas ke rak. “Gue sama Devan tuh nggak pernah ngobrol serius seumur hidup, tapi kalau gue mati, dia yang bakal ngurusin surat-suratnya. Gue tahu itu. Nggak usah dibahas.”
Aku memegang cangkirku dengan dua tangan.
Ada sesuatu yang menusuk di kalimat itu, dan butuh beberapa detik sebelum aku tahu apa: bahwa seorang laki-laki yang berjualan kopi di gang sepi punya kepastian tentang Devan Alaric yang tidak pernah kupunya, tidak sekali pun, bahkan pada bulan-bulan terbaik kami.
“Gilang.”
“Hm.”
“Kamu tahu dia ngapain aja sepuluh tahun ini?”
Dan di sinilah aku melakukan hal yang tidak pernah kulakukan pada siapa pun, dan aku tahu persis apa yang kulakukan, dan aku tetap melakukannya.
Aku memelankan suaraku. Aku memiringkan kepala. Aku memakai kemampuan yang biasanya kupakai untuk menaikkan nilai kontrak, pada seorang laki-laki yang sedang mengelap meja bersih di gang yang sepi.
“Nggak banyak,” kata Gilang. “Dia nggak pernah cerita apa-apa. Sekolah, terus kerja, terus kerja lagi. Bosen orangnya.”
“Dia nggak pernah pulang?”
“Pernah dong. Lebaran, kalau bisa. Nengokin ibunya.”
“Selain itu?”
Gilang berhenti mengelap.
Sepersekian detik. Sangat singkat. Tapi aku dibayar mahal antara lain karena aku menangkap hal-hal sepersekian detik.
“Selain itu ya nggak,” katanya.
“Gilang.”
“Hm.”
“Barusan kamu berhenti.”
“Nggak.”
“Berhenti.”
Gilang menatapku dengan wajah orang yang baru sadar dia sedang bermain catur melawan seseorang yang tidak dia kira bisa main catur.
“Aduh,” katanya.
“Sekali aja.”
“Nggak enak sama Devan.”
“Sekali.”
Dia menghela napas panjang, meletakkan lap, dan berkata dengan suara jauh lebih pelan:
“Dua ribu sembilan belas. Dia pulang. Empat hari. Nggak ada acara apa-apa, nggak lebaran, nggak apa. Terbang dari sana, empat hari, terus balik lagi.” Gilang menggeleng. “Gue tanya ngapain. Dia bilang ‘nggak ngapa-ngapain’. Ya udah.”
Ada sesuatu yang sangat dingin turun ke perutku.
“Empat hari.”
“Empat hari.”
“Kamu tahu dia ke mana?”
“Nggak.” Gilang menatap pintu. “Gue baru tahu setahun kemudian, dan itu pun nggak sengaja, dan gue nggak bakal cerita bagian itu karena gue masih pengin punya temen.”
Bel pintu berbunyi.
Devan datang pukul delapan lewat nol menit.
Bukan lewat satu. Bukan kurang dua. Nol.
Dia berhenti tiga langkah di dalam pintu begitu melihat kami berdua duduk di bar, dan aku melihat seluruh perhitungan berjalan di wajahnya dalam waktu kurang dari sedetik.
“Gilang,” katanya.
“Gue nggak ngomong apa-apa,” kata Gilang, sambil berjalan mundur ke arah dapur dengan kecepatan mengesankan. “Gue mau ambil susu. Susunya jauh. Di Bekasi.”
Pintu dapur menutup.
Kami berdua.
Devan berdiri di sana, dengan kaus polos dan wajah orang yang tidak tidur juga, dan aku mendadak sadar bahwa ini pertama kalinya dalam sepuluh tahun kami berada di satu ruangan tanpa ada orang ketiga.
“Duduk,” kataku.
Dia duduk. Satu bangku kosong di antara kami, karena tentu saja dia akan memilih itu.
“Freya, soal kemarin—”
“Aku mau minta maaf dulu.”
Itu menghentikannya. Dia menoleh penuh untuk pertama kalinya.
“Kenapa?”
“Karena hari Selasa, waktu kamu benerin monitor di lokasi,” kataku, “aku kasihan sama kamu.”
Hening.
“Aku lihat kamu jongkok di antara kabel, terus pergi sebelum ada yang bilang makasih, dan aku duduk di kursi lipat pakai gaun seharga mobil, dan selama beberapa detik aku merasa kasihan.” Aku menaruh cangkirku. “Aku minta maaf. Itu jelek banget dan aku malu.”
Devan tidak menjawab.
“Dan sekarang aku mau kamu ngerti sesuatu.” Aku menoleh sepenuhnya ke arahnya. “Aku nggak marah kamu jadi orang penting. Aku bangga sampai rasanya mau meledak. Sumpah. Aku hampir nangis di meja tiga dan aku nggak nangis di depan tiga ratus orang sejak umur dua puluh satu.”
“Terus kenapa—”
“Karena kamu biarin aku ngerasa kasihan,” kataku. “Dan itu bukan kesalahan kecil, Devan. Itu kesalahan yang sama.”
Wajahnya berubah.
Bukan banyak. Dua milimeter di sekitar mata. Tapi aku melihatnya, dan aku tahu dia mengerti persis apa yang kumaksud, dan aku tahu dia tidak akan mengakuinya.
“Aku nggak bohong ke kamu,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Aku nggak—”
“Aku tahu, Devan. Kamu nggak pernah bohong. Kamu cuma nggak pernah ngasih tahu.” Aku tertawa satu kali, tanpa isi. “Itu keahlian kamu. Itu selalu jadi keahlian kamu.”
Dia menatap meja bar.
“Kenapa kamu di sini?” tanyanya akhirnya.
“Karena aku nyuruh kamu dateng.”
“Bukan itu maksudku.”
“Aku tahu.” Aku memutar cangkir setengah lingkaran. “Tapi aku belum mau jawab yang itu.”
“Freya—”
“Boleh aku nanya satu hal dulu?”
Dia mengangguk.
“Kemarin, waktu kamu berdiri di panggung—”
“Aku nggak berdiri di panggung.”
“Waktu kamu berdiri, di meja delapan, dan tiga ratus orang tepuk tangan.” Aku memiringkan kepala. “Kamu duduk lagi setelah empat detik.”
“Iya.”
“Kenapa buru-buru?”
Dia diam agak lama.
“Karena kalau lebih lama, kelihatan kayak aku nikmatin,” katanya.
“Emang salah kalau nikmatin?”
“Iya.”
Satu kata. Datar, tanpa keraguan sedikit pun, seperti orang menyebutkan aturan yang sudah lama disepakati semesta.
Dan sesuatu di dalam diriku, sesuatu yang sudah berdiri di tepi selama empat jam sejak pukul satu pagi, akhirnya melompat.
Karena aku mengerti, tiba-tiba, dan aku belum bisa merumuskannya jadi kalimat, tapi aku mengerti: laki-laki ini tidak sedang menyembunyikan dirinya dariku.
Dia menyembunyikan dirinya dari dirinya sendiri, dan aku kebetulan berdiri di jalur tembaknya.
Dan aku duduk di sana, di kedai kopi sepi di gang yang tidak dilewati manusia, dan aku merasakan empat jam terakhir akhirnya mengendap jadi satu keputusan yang sangat jernih.
Sepuluh tahun lalu aku sopan.
Aku bertanya satu pertanyaan dengan sangat sopan, aku mendengar jawaban yang sangat masuk akal, aku bilang “oke”, dan aku masuk ke rumah, dan aku menutup pintu, dan aku menghabiskan sepuluh tahun berikutnya menjadi perempuan yang sangat sopan pada semua orang.
Cukup.
Aku turun dari bangku dan berdiri di depannya.
Dia mendongak. Aku melangkah lebih dekat, satu langkah, sampai lututku hampir menyentuh lututnya, dan aku melihat tangannya mencengkeram tepi bangku.
Kerah kausnya terlipat ke dalam di sisi kanan.
Aku mengangkat tangan dan membetulkannya.
Dua jari, di leher kausnya, selama mungkin dua detik. Aku merasakan dia berhenti bernapas sepenuhnya, dan aku merasakan panas kulitnya lewat kain, dan aku sangat sadar bahwa aku sedang melakukan sesuatu yang tidak bisa dibela oleh siapa pun.
“Kerahmu,” kataku.
“...oke.”
Aku menepuk dadanya sekali, ringan, dengan telapak tangan. Lalu kubiarkan tanganku turun.
“Devan.”
“Iya.”
“Sepuluh tahun lalu aku sopan sama kamu,” kataku. “Aku nggak akan ngulang kesalahan yang sama.”
Aku mengambil tasku dan berjalan ke pintu.
“Freya.”
Aku berhenti, tangan di gagang pintu, tidak berbalik.
“Iya?”
Lama sekali sebelum dia menjawab. Aku menghitung — dan ya, aku sadar apa yang kulakukan, dan aku benci diriku sendiri karena tetap menghitung.
Dua puluh enam detik.
“Nggak jadi,” katanya.
Aku membuka pintu.
“Kamu masih butuh sepuluh detik lagi,” kataku. “Aku tungguin, kok.”
Bel pintu berbunyi di belakangku, dan matahari pagi di gang itu terlalu terang, dan aku berjalan ke mobilku dengan tangan gemetar dan senyum yang tidak bisa kuhapus sampai lampu merah ketiga.
Vinka menelepon pukul sembilan.
“Kak. Approval-nya jadi nggak?”
Aku sudah lupa sepenuhnya bahwa approval itu ada.
“Besok aja,” kataku.
“Oh, oke.” Jeda. “Kak.”
“Hm.”
“Suara lo kenapa.”
“Kenapa emang?”
“Enak banget.” Vinka terdengar curiga dan sedikit takut. “Suara lo enak banget. Lo terakhir kali punya suara kayak gini tuh tahun berapa ya.”
“Vin.”
“Gue diem.”
“Bagus.”
“Tapi Kak—”
“Kamu bilang mau diem.”
“Iya, tapi satu doang.” Aku mendengar dia menarik napas. “Lo tahu nggak sih, sepuluh tahun gue jadi manajer lo, gue selalu tahu lo lagi mau apa sebelum lo bilang. Selalu. Itu kerjaan gue.”
“Terus?”
“Terus sekarang gue nggak tahu,” katanya. “Dan gue nggak bisa mutusin itu bagus atau serem.”
Aku menatap jalanan lewat.
“Dua-duanya,” kataku.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan reading
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur