← Jangan Pergi

Chapter Twenty Eight

Panggung Kecil

POV: FreyaSMA, 2016

Pentas seni sekolah kami diadakan setiap bulan Agustus, di lapangan basket, dengan panggung yang dibangun dari sesuatu yang tidak pernah kutanyakan asal-usulnya.

Kelas dua belas mengurusnya. Itu tradisi. Kami punya waktu enam minggu, anggaran yang lucu, dan sebuah komite yang isinya sembilan orang yang semuanya ingin mengurus musik dan tidak ada yang ingin mengurus kursi.

Aku masuk komite karena Vinka mendaftarkanku tanpa izin.

Devan tidak masuk komite karena tentu saja tidak.


Tiga hari sebelum acara, panitia kehilangan pengisi acara.

Bukan yang penting. Slot pukul tujuh lewat lima belas, dua belas menit, di antara band kelas sepuluh dan tarian. Slot yang orang pakai untuk ke kamar mandi.

Yang seharusnya mengisi adalah tiga anak IPS yang menyiapkan sesuatu yang tidak pernah kami pahami sepenuhnya, dan yang salah satunya patah tangan main futsal pada hari Selasa.

“Kita kosongin aja,” kata seseorang.

“Nggak bisa kosong. Sound-nya udah diatur,” kata yang lain.

“Ya diisi apa?”

Dan di sinilah Vinka — yang seharusnya tidak boleh diberi kekuasaan apa pun — mengangkat tangannya.

“Kuis,” katanya.

“Apa?”

“Kuis. Matematika.” Dia berdiri. “Kayak cerdas cermat. Dua belas menit. Tantangin penonton.”

Ruangan itu diam.

“Vin, itu jelek banget.”

“Itu bagus banget,” kata Vinka. “Bapak-ibu guru bakal seneng. Kepala sekolah bakal seneng. Dan kita bisa nutup dua belas menit tanpa bayar siapa-siapa.”

Dia menang dalam empat menit, karena Vinka selalu menang dalam empat menit.

Lalu dia menoleh ke arahku dengan wajah tanpa dosa sedikit pun dan berkata:

“Kita butuh satu orang yang bisa matematika.”


Aku ingin mencatat bahwa aku tidak terlibat sama sekali.

Aku tidak menyuruh Vinka. Aku tidak menyebut nama siapa pun. Aku duduk di kursi itu dengan wajah datar dan tidak berkata satu kata pun.

Vinka menyebut namanya sendiri.

“Devan,” katanya. “Anak IPA dua. Yang pojok.”

“Yang mana?”

“Yang pojok.”

“Devan yang mana?”

“YANG POJOK, RIS.”

Dan seorang anak bernama Riska membuka buku catatannya dan menulis nama Devan Alaric di kolom pengisi acara pukul tujuh lewat lima belas, dan begitulah caranya sebuah hal terjadi.


Aku menemuinya sore itu di gang belakang kompleks guru.

“Aku nggak mau,” katanya, sebelum aku bicara.

“Kamu udah tahu?”

“Riska nyamperin aku jam dua.”

“Terus?”

“Aku bilang nggak.”

Kami berjalan sekitar dua puluh langkah tanpa bicara.

“Dev.”

“Freya, aku nggak bisa.”

“Aku tahu.”

Dia menoleh, karena dia jelas sudah menyiapkan bantahan dan aku merusaknya.

“Aku tahu kamu nggak bisa,” ulangku. “Aku nggak bakal maksa. Aku nggak bakal bilang ‘ayolah’. Aku nggak bakal bilang ini kesempatan bagus buat kamu.”

“Oke.”

“Aku cuma mau bilang satu hal, terus kita nggak usah bahas lagi.”

Dia berhenti berjalan.

“Apa?”

“Panggungnya jelek banget,” kataku.

Dia berkedip.

“Apa?”

“Panggungnya,” kataku. “Dari triplek. Ada bagian yang bunyi kalau diinjak. Speaker-nya sebelah kanan mati sejak tahun lalu.” Aku mengangkat bahu. “Dan yang nonton jam tujuh lewat lima belas itu paling banyak dua puluh orang, karena sisanya lagi antre bakso.”

Devan menatapku.

“Itu bukan panggung, Dev,” kataku. “Itu triplek di lapangan basket.”

Dia tidak berkata apa-apa.

Kami berjalan empat ratus meter sisanya dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi tentang itu, dan aku naik angkot, dan itu hari Rabu.


Hari Kamis dia tidak menyinggungnya.

Hari Jumat — hari acara — dia datang ke sekolah dengan wajah orang yang tidak tidur.

Dan pukul empat sore, waktu aku sedang membantu memasang kursi lipat baris ketiga, Riska datang menghampiriku sambil membaca buku catatannya.

“Frey.”

“Hm.”

“Yang jam tujuh lewat seperempat jadi ada.”

Aku menjatuhkan kursi.


Aku duduk di barisan depan.

Bukan karena romantis. Karena panitia duduk di barisan depan, dan aku panitia, dan aku sudah duduk di sana sejak jam enam.

Acara berjalan seperti acara sekolah: molor dua puluh menit, sound bermasalah dua kali, dan band kelas sepuluh memainkan lagu yang tidak dikenali siapa pun dengan keyakinan penuh.

Pukul tujuh lewat tiga puluh lima — dua puluh menit dari jadwal — MC menyebut namanya.

“Selanjutnya, kuis matematika bersama... Devan Alaric, dari dua belas IPA dua!”

Ada tepuk tangan sopan dari sekitar tiga puluh orang.

Vinka, di sebelahku, mencengkeram lenganku.

Dan Devan naik ke triplek itu.


Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang dua belas menit berikutnya, karena kalau aku menceritakannya begitu saja, kedengarannya tidak istimewa.

Yang terjadi: seorang anak laki-laki berdiri di panggung sekolah dan membacakan enam soal, dan penonton menjawab, dan yang benar dapat cokelat.

Itu saja.

Yang tidak terlihat oleh tiga puluh orang di lapangan basket itu:

Bahwa tangannya gemetar selama empat puluh detik pertama, dan aku bisa melihatnya dari barisan depan, dan tidak ada orang lain yang cukup dekat.

Bahwa soal pertama dia bacakan dua kali karena suaranya hilang di tengah.

Bahwa pada soal kedua dia berhenti selama sekitar tiga detik dan menatap ke satu titik di lapangan, dan tiga detik itu adalah tiga detik terpanjang dalam hidupku.

Dan bahwa di detik ketiga itu, dia menemukan aku.

Dia melihat ke barisan depan. Ke kursi keempat dari kiri.

Dan aku melihat sesuatu di bahunya turun sekitar satu sentimeter.

Setelah itu tangannya berhenti gemetar.


Soal keempat, seorang guru menjawab salah dan Devan berkata “hampir, Pak” dengan nada yang membuat lapangan itu tertawa untuk pertama kalinya, dan aku mendengar Vinka mengeluarkan suara di sebelahku.

Soal kelima, ada anak kelas sepuluh yang menjawab benar dalam empat detik dan Devan berhenti dan bertanya “kamu ngitungnya gimana?” dan anak itu menjelaskan dan Devan berkata “itu lebih cepet dari cara saya” ke mikrofon, di depan tiga puluh orang, dan anak kelas sepuluh itu duduk kembali dengan wajah yang akan dia ingat sampai tua.

Soal keenam tidak ada yang bisa.

Dia menjelaskannya sendiri di papan tulis kecil yang dibawa panitia, dalam waktu sekitar sembilan puluh detik, dan pada akhir sembilan puluh detik itu lapangan basket sekolah kami — tiga puluh orang, jam delapan malam, di antara band kelas sepuluh dan tarian — bertepuk tangan dengan sungguh-sungguh.

Dua belas menit.

Dia turun dari triplek itu pukul tujuh lewat empat puluh tujuh.


Aku menemukannya di belakang panggung, di antara tumpukan kursi cadangan dan kabel, sekitar sepuluh menit kemudian.

Dia berdiri membelakangi lapangan dengan kedua tangan di lutut, seperti orang yang baru lari.

“Dev.”

Dia menegakkan badan terlalu cepat.

“Hai.”

“Kamu—”

“Aku nggak apa-apa.”

“Kamu gemeteran.”

“Iya.”

“Sekarang?”

“Sekarang lebih parah dari tadi,” katanya. “Tadi ada yang harus dikerjain.”

Dan aku, yang seharusnya berkata banyak hal, cuma berdiri di sana.

Karena dia memakai kemeja.

Bukan seragam. Kemeja putih, lengan digulung, jelas-jelas satu-satunya kemeja bagus yang dia punya, dan disetrika oleh seseorang dengan sangat teliti.

“Ibumu yang setrika?”

Dia menoleh.

“Kok tahu?”

“Lipetannya rapi banget,” kataku, dan suaraku keluar salah.

Devan menatapku.

Dan aku memakai gaun.

Aku ingin mencatat bagian ini dengan jujur juga: aku memakai gaun karena semua panitia perempuan memakai gaun, dan gaunku pinjaman dari sepupu Vinka, dan warnanya hijau tua, dan itu satu-satunya kali dalam tiga tahun SMA aku memakai sesuatu yang bukan seragam di sekolah itu.

Aku sudah memakainya sejak jam lima sore.

Dia sudah melihatku dari jam lima sore.

Dan dia tidak berkata apa-apa selama tiga jam.

Sekarang, di belakang panggung, di antara tumpukan kursi cadangan, dengan lampu lapangan menyala di belakang punggungku dan tanpa siapa pun dalam radius sepuluh meter, dia berdiri di sana dan menatapku dan tidak berkedip.

“Kamu cantik banget,” katanya.


Kali ini tidak ada penyelamatan.

Tidak ada “secara objektif”. Tidak ada survei. Tidak ada sampel yang cukup besar.

Dia mengucapkannya, lalu diam, lalu tetap menatapku.

Dan aku berdiri di belakang panggung triplek sekolah menengah pada pukul delapan lewat sepuluh malam bulan Agustus dan menyadari bahwa aku tidak bisa bernapas dengan benar.

“Devan.”

“Iya.”

“Sini.”


Aku memeluknya dan dia memelukku balik.

Dan itu pelukan pertama kami yang panjang — bukan setengah detik di gang, bukan bahu ke bahu di angkot. Pelukan penuh, dengan tangannya di punggungku dan wajahku di lehernya, di belakang panggung, dengan suara tarian mulai terdengar dari lapangan.

Dia bergetar sepanjang pelukan itu dan tidak berhenti.

“Kamu naik panggung,” kataku ke lehernya.

“Iya.”

“Lima belas tahun kamu nggak naik panggung.”

“Iya.”

“Kenapa sekarang?”

Dan dia diam cukup lama sampai aku pikir dia tidak akan menjawab.

“Karena kamu bilang itu triplek,” katanya.

“Itu doang?”

“Bukan.”

“Terus?”

Dia menarik napas.

“Karena kamu duduk di barisan depan,” katanya. “Dan aku tahu kamu bakal duduk di sana. Dan aku ngitung — aku ngitung semuanya, Freya, aku ngitung berapa orang yang nonton, aku ngitung berapa lama kalau aku gagal, aku ngitung apa yang bakal terjadi kalau aku kosong di panggung kayak dulu.”

“Terus?”

“Terus aku sampai di satu hal yang nggak bisa aku itung,” katanya.

Aku menarik diri sedikit supaya bisa melihat wajahnya.

“Apa?”

“Kalau aku gagal di depan kamu,” katanya, “kamu nggak akan pergi.”

Dan aku memandangi laki-laki itu di belakang panggung sekolah dengan lampu lapangan di belakangnya dan sesuatu di dalam dadaku pecah dengan cara yang sangat bagus.

“Itu satu-satunya hal yang aku yakin banget,” lanjutnya. “Dari semua yang aku itung seumur hidup aku. Itu satu-satunya yang aku nggak perlu ngitung.”


Dia mencium keningku.

Dia yang duluan. Aku tidak menariknya. Aku tidak menyodorkan apa pun.

Dia menunduk dan mencium keningku dan menahannya di sana selama mungkin empat detik, dengan kedua tangan di bahuku, di belakang panggung triplek, pada malam bulan Agustus tahun 2016.

Dan aku memejamkan mata dan berpikir — dengan sangat jelas, dengan kalimat lengkap, seperti orang menulis catatan untuk dirinya sendiri:

Nah. Ini dia. Ini yang aku tungguin.

Dia udah bisa.


Tiga minggu kemudian aku berdiri di teras rumahku pada malam hari dan bertanya padanya apa yang dia mau, dan dia menjawab dengan sangat tenang bahwa aku harus berangkat dan tidak usah memikirkan dia.

Tiga minggu.

Aku sudah memikirkan malam pentas seni itu ribuan kali sejak saat itu, dan aku masih belum memutuskan bagaimana harus menempatkannya.

Karena selama bertahun-tahun aku mengiranya bukti bahwa aku salah membaca dia sepenuhnya.

Dan baru sekitar tahun kedelapan aku sampai pada kemungkinan lain, yang jauh lebih menyakitkan dan yang menurutku sekarang benar:

Bahwa malam itu memang bukti.

Bahwa dia memang sudah bisa.

Bahwa yang dia yakini — bahwa aku tidak akan pergi kalau dia gagal — adalah keyakinan yang dia bangun selama delapan bulan dan yang berdiri di atas satu asumsi.

Asumsinya: bahwa aku ada di barisan depan.

Dan tiga minggu kemudian aku memberitahunya bahwa aku akan pindah ke kota lain selama tiga tahun.