← Jangan Pergi

Chapter Seventeen

Kaus Abu-abu

POV: DevanSekarang

Malam itu tidak direncanakan sama sekali, yang kalau dipikir-pikir adalah satu-satunya alasan kenapa malam itu terjadi.

Hari Kamis. Aku selesai kerja pukul sepuluh, dia selesai rekaman pukul setengah sepuluh, dan kami sudah punya kebiasaan yang belum kami akui sebagai kebiasaan: kalau dua-duanya selesai sebelum jam sebelas, aku ke apartemennya, dan kami makan sesuatu, dan aku pulang.

Selalu pulang.

Aku pulang enam kali dalam sebelas hari, dan setiap kali di jam yang hampir sama, sekitar pukul dua belas kurang seperempat, dan setiap kali dengan cara yang sama: aku berdiri, aku bilang aku pulang, dia mengantar ke pintu, selesai.

Malam Kamis itu hujan.

Bukan hujan yang berbahaya. Hujan biasa Jakarta yang berlangsung empat puluh menit lalu berhenti.

Kami duduk di lantai dapur, punggung ke lemari bawah, karena entah bagaimana itu sudah jadi tempat kami dan tidak ada satu pun dari kami yang pernah mengusulkan sofa.

Dia sedang menceritakan sesuatu tentang penata rias yang baru, dan aku mendengarkan, dan pada suatu titik cerita itu berhenti dan berat di bahuku bertambah.

Aku menoleh.

Dia tertidur di tengah kalimat, dengan cangkir masih di tangan, dan kepalanya jatuh ke bahuku.

Aku duduk seperti itu selama tujuh belas menit.

Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak memindahkan cangkirnya. Aku tidak menyalakan atau mematikan apa pun. Aku duduk di lantai dapur apartemen di lantai dua puluh dua dengan seseorang tidur di bahuku dan mendengarkan hujan berhenti pelan-pelan, dan aku memikirkan — dengan sangat jelas, dengan urutan yang rapi, seperti yang selalu kulakukan —

bahwa aku sudah dua puluh delapan tahun,

dan bahwa aku sudah tinggal di empat kota,

dan bahwa aku belum pernah sekali pun merasa seperti ini di satu pun dari mereka.


Dia bangun pukul dua belas kurang sepuluh.

“Aku ketiduran.”

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Tujuh belas menit.”

“Kamu ngitung?”

“Aku selalu ngitung.”

Dia mengerjap, mengambil cangkirnya dari tangannya sendiri seperti orang yang lupa cangkir itu ada, dan menaruhnya di lantai.

“Kamu nggak bangunin.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Aku tidak menjawab itu.

Dia menoleh, dan menatapku selama beberapa detik, dan tidak menuntut jawaban.

“Ya udah, aku antar ke pintu,” katanya, dan mulai bangkit.

Dan aku berdiri.

Dan aku tidak bergerak.


“Dev.”

“Hm.”

“Kamu berdiri di tengah dapur.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memikirkan sekitar empat jawaban.

“Hujannya udah berhenti,” kataku, akhirnya, yang bukan satu pun dari empat jawaban itu.

Freya berdiri di depanku dengan tangan menggantung di sisi tubuh.

“Iya,” katanya. “Udah berhenti dari empat puluh menit yang lalu.”

“Oh.”

“Devan.”

“Hm.”

“Kamu mau pulang nggak?”

Dan di sinilah aku ingin sangat jujur, karena kalau tidak, seluruh bagian selanjutnya jadi tidak berarti.

Aku ingin bilang tidak.

Kalimatnya ada di sana. Satu kata. Kata paling pendek yang tersedia dalam bahasa apa pun.

Dan aku berdiri di dapur apartemen itu selama sekitar delapan detik dengan satu kata di belakang gigiku dan tidak bisa mengeluarkannya, karena mengatakan “nggak” berarti mengatakan “aku mau tinggal”, dan mengatakan “aku mau tinggal” berarti meminta.

Delapan detik.

Dan Freya — yang sudah menghabiskan sepuluh tahun menunggu orang lain, dan yang sudah memutuskan tidak akan pernah lagi — memiringkan kepala dan berkata:

“Sofa aku pendek banget, ya.”

“Apa?”

“Sofa aku.” Dia menunjuk dengan dagu. “Satu meter enam puluh. Kamu satu tujuh delapan.”

“Iya.”

“Kamu bakal sakit leher.”

“Iya.”

“Ya udah,” katanya, dan berjalan melewatiku ke arah kamar sambil mematikan lampu dapur, “jangan di sofa.”


Aku ingin mencatat, untuk keperluan akurasi, bahwa tidak terjadi apa-apa.

Aku memakai kaus dan celana pendek pinjaman yang jelas-jelas bukan miliknya dan yang tidak kutanyakan asal-usulnya. Dia memakai kaus dan celana pendek yang jelas-jelas miliknya sendiri. Kami berbaring di sisi kasur masing-masing dengan jarak yang, kalau diukur, mungkin empat puluh sentimeter.

Kami bicara dalam gelap selama satu jam empat puluh menit.

Tentang hal-hal yang tidak penting. Tentang bahwa dia tidak bisa tidur kalau ada satu titik cahaya di ruangan, termasuk lampu indikator charger, yang menurutku berlebihan sampai dia menempelkan selotip hitam ke charger-ku dan aku terbangun keesokan paginya dengan perasaan tidur terbaik sejak pindah ke Jakarta.

Tentang bahwa aku tidak bisa tidur kalau ada pintu yang terbuka sebagian. Harus tertutup penuh atau terbuka penuh.

“Itu kenapa?”

“Nggak tahu.”

“Kamu nggak tahu?”

“Aku nggak pernah mikirin.”

“Devan, kamu mikirin semua hal.”

“Bukan yang tentang aku.”

Ada jeda dalam gelap.

“Oh,” katanya.

“Apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Freya.”

“Aku cuma nyadar sesuatu.” Kasurnya berbunyi pelan saat dia berbalik menghadapku, walaupun tidak ada yang bisa dilihat. “Kamu tuh punya jawaban buat semua hal di dunia. Semua. Tadi kamu bisa jelasin kenapa lampu indikator warnanya biru. Tapi begitu pertanyaannya tentang kamu, kamu bilang ‘nggak tahu’.”

“Iya.”

“Kamu ngaku?”

“Aku selalu ngaku kalau ditanya.”

“Kamu tuh nyebelin banget, tau nggak,” katanya, dan aku bisa mendengar dia tersenyum. “Kamu jujur banget sampai nggak ada gunanya.”

Dia diam beberapa saat.

“Dev.”

“Hm.”

“Boleh aku nanya satu hal yang tentang kamu?”

“Boleh.”

“Kapan terakhir kali ada orang yang ngurusin kamu?”

Aku berbaring di gelap dan mencari jawabannya dengan serius, karena dia bertanya dengan serius.

Butuh waktu lebih lama dari yang nyaman.

“Ibuku,” kataku akhirnya. “Waktu aku tipes. Kelas satu SMA.”

Kasur itu sunyi.

“Devan, itu tiga belas tahun lalu.”

“Iya.”

“Nggak ada lagi?”

“Aku nggak pernah sakit lagi.”

“Bukan cuma sakit.” Suaranya berubah. “Maksudku... nggak ada yang pernah nyiapin makan buat kamu? Nggak ada yang pernah nunggu kamu pulang?”

Aku memikirkannya.

“Nggak,” kataku.

Dia tidak berkata apa-apa selama waktu yang lama sekali.

Lalu, sekitar pukul dua, tangannya menemukan tanganku di tengah kasur, dan kami tidur seperti itu, dan itu satu-satunya hal yang terjadi.

Aku tidak berbohong soal itu, kalaupun ada yang bertanya, yang kemungkinan besar Gilang akan bertanya, dan yang jelas-jelas tidak akan dia percaya.


Aku bangun pukul enam lewat empat puluh, yang untukku setara dengan tidur sampai siang.

Kasurnya kosong.

Aku menemukannya di dapur, membelakangiku, sedang berdiri di depan mesin kopi yang jelas-jelas belum pernah dia pakai sebelumnya, mengetuk-ngetuk layarnya dengan jari telunjuk seperti orang memeriksa apakah benda itu hidup.

Rambutnya berantakan total. Setengah masih terikat, setengah tidak, dengan bagian di sisi kanan yang berdiri ke arah yang salah.

Wajahnya tanpa apa pun. Bukan tanpa riasan dalam pengertian majalah, di mana orang tetap memakai tiga produk. Tanpa apa pun. Ada bekas bantal di pipi kirinya.

Dan dia memakai kausku.

Kaus abu-abu polos yang kupakai kemarin, yang jelas-jelas dia ambil dari kursi, dan yang di badannya panjangnya sampai setengah paha, dengan bahu yang jatuh ke satu sisi.

Dia menoleh.

“Mesin kamu ini rusak apa aku yang bego?”

“Kamu cantik banget.”


Dia tidak bergerak.

Aku mendengar kalimat itu keluar dari mulutku persis seperti aku mendengarnya keluar di depan pagar sekolah pada suatu pagi Rabu bulan November sepuluh tahun lalu — datar, biasa, dan sepenuhnya di luar kendaliku.

Dan mesin di kepalaku menyala kembali dan langsung mulai menyusun kalimat penyelamatan, karena mesin itu tidak pernah belajar apa-apa dalam sepuluh tahun.

“Itu—”

Aku berhenti.

Karena Freya sedang berdiri di dapurnya sendiri dengan tangan masih di mesin kopi, dan bahunya turun, dan dia menunduk.

Dan dia menangis.

Bukan sedikit. Bukan yang bisa disembunyikan. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan bahunya berguncang dan dia mengeluarkan suara yang tidak pernah kudengar dari siapa pun dalam hidupku.

Aku menyeberangi dapur itu dalam tiga langkah.

“Freya—”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu—”

“Nggak apa-apa, Dev, aku nggak—” Dia menggeleng ke telapak tangannya sendiri. “Aku nggak sedih. Aku nggak sedih, sumpah.”

Aku berdiri di sana selama sekitar dua detik dengan tangan menggantung.

Lalu aku memeluknya.

Tidak. Aku perlu jujur, karena jujur adalah satu-satunya hal yang bisa kutawarkan pada bagian ini.

Aku tidak memeluknya duluan.

Aku mengangkat tangan setengah jalan dan berhenti — refleks yang sama, refleks yang sudah lima belas tahun umurnya — dan Freya, tanpa membuka wajahnya, tanpa melihat, menabrak dadaku dan mengambil tanganku dan melingkarkannya sendiri ke punggungnya.

Dia melakukan itu sambil menangis, tanpa melihat, dalam waktu kurang dari dua detik.

Dia sudah menghafal cara mengambil sesuatu yang tidak akan pernah diberikan padanya.

Itu, sejauh yang bisa kuingat, adalah momen pertama dalam hidupku ketika aku betul-betul membenci diriku sendiri dengan cara yang jernih.


Dia menjelaskannya sepuluh menit kemudian, di lantai dapur, dengan kopi yang akhirnya berhasil dibuat olehku.

“Kamu tahu berapa kali orang bilang itu ke aku?”

“Nggak.”

“Aku juga nggak,” katanya, dengan suara serak. “Aku berhenti ngitung waktu umur dua puluh dua. Sebelum itu aku sempet ngitung, sebentar, terus aku nyerah karena angkanya bikin aku ngerasa aneh.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Semua orang bilang itu, Dev.” Dia memutar cangkirnya. “Klien. Fotografer. Orang di bandara. Anak SMP di mal. Om-om di acara. Semua.”

“Aku tahu.”

“Nggak, kamu nggak tahu.” Dia menoleh. “Karena mereka semua bilangnya di saat yang sama.”

“Saat apa?”

“Pas aku udah jadi.” Dia mengangkat tangan dan menggerakkannya di depan wajahnya sendiri, ke atas dan ke bawah. “Pas rambut aku udah dua jam dikerjain. Pas aku udah dipakein. Pas aku udah jadi barang yang bagus.”

Cangkir di tanganku terasa terlalu panas dan aku tidak memindahkannya.

“Sepuluh tahun,” katanya. “Sepuluh tahun, ribuan kali, dan nggak ada satu pun yang bilang itu ke aku.”

Dia menatap kakinya sendiri.

“Yang barusan itu yang pertama,” katanya. “Dua puluh delapan tahun. Yang pertama.”

Aku meletakkan cangkirku di lantai.

“Bukan,” kataku.

“Apa?”

“Bukan yang pertama.”

Dia menoleh.

“Yang pertama di depan pagar sekolah,” kataku. “Hari Rabu, bulan November, jam setengah tujuh pagi. Ikat rambut kamu putus dan kamu belum tidur karena Sena sakit.”

Freya menatapku dengan mulut sedikit terbuka.

“Kamu inget Sena sakit?”

“Kamu cerita di perpustakaan sorenya.”

“Devan, itu sepuluh tahun lalu.”

“Iya.”

“Kamu inget hari, bulan, jam—”

“Aku inget banyak hal,” kataku. “Itu bukan kemampuan yang bagus.”

Dan dia menaruh cangkirnya di lantai, dan naik ke pangkuanku di lantai dapur pukul tujuh lewat sepuluh pagi hari Jumat, dan menciumku dengan wajah yang masih basah.

“Itu kemampuan yang bagus banget,” katanya. “Itu kemampuan paling bagus yang pernah aku denger.”


Aku terlambat ke kantor pukul sembilan lewat dua puluh, yang adalah pertama kalinya aku terlambat sejak pindah ke Jakarta.

Airin tidak berkomentar.

Anak dari tim data berkomentar.

“Mas ganti kaus?”

“Apa?”

“Kemarin abu-abu.”

Aku menatapnya.

“Iya,” kataku. “Kemarin abu-abu.”

Dia mengangguk dan pergi, sepenuhnya puas, tanpa curiga apa pun, dan aku duduk di mejaku sambil menyadari bahwa kaus abu-abu itu sekarang ada di lantai dua puluh dua sebuah gedung apartemen di Jakarta Selatan, dan bahwa aku tidak berniat memintanya kembali.

Dua benda sekarang.

Jaket, sepuluh tahun lalu.

Kaus, hari ini.

Ada bagian dari kepalaku — bagian yang selalu bekerja di latar belakang tanpa izin — yang menyimpulkan sesuatu dari pola itu pada pukul sembilan lewat empat puluh pagi Jumat.

Kamu selalu ninggalin barang di tempat yang kamu takut nggak bisa kamu datengin lagi.

Aku mematikan bagian itu juga.

Aku mulai punya kebiasaan mematikan bagian itu, dan aku tidak menghitung berapa kali.

Itu satu-satunya hal yang tidak pernah kuhitung, dan tentu saja itu yang paling penting.