Chapter Thirty Five
Tiga Kata
POV: Freya — Sekarang
Pesannya masuk pukul lima kurang seperempat pagi.
aku nggak tau
Aku sedang bangun. Aku sudah bangun sejak pukul tiga, karena aku sudah tidak tidur benar selama dua belas hari, dan karena pada pukul tiga pagi otak manusia tidak bisa dibohongi oleh apa pun.
Aku menatap tiga kata itu selama sekitar empat menit.
Dan aku ingin menuliskan dengan sangat jelas kenapa tiga kata itu membuatku berdiri dari kasur dan mengambil kunci mobil, karena kalau tidak, orang akan mengira aku pergi karena kasihan.
Aku tidak pergi karena kasihan.
Aku pergi karena dalam sebelas tahun mengenal Devan Alaric — delapan bulan pada umur tujuh belas dan dua belas minggu pada umur dua puluh delapan — aku belum pernah sekali pun mendengar laki-laki itu mengatakan bahwa dia tidak tahu sesuatu.
Dia selalu tahu. Itu isinya. Itu seluruh bangunannya.
aku nggak tau adalah tiga kata yang, dari orang itu, setara dengan seseorang merobohkan dindingnya sendiri.
Aku sudah di jalan pukul lima lewat dua puluh.
Aku perlu menjelaskan dua belas hari itu sebelum melanjutkan, karena kalau tidak, apa yang kulakukan pagi itu akan terdengar seperti keputusan mendadak.
Bukan.
Aku sudah memutuskan pada hari kesembilan, sekitar empat menit setelah aku tidak mengambil tangan yang terbuka di sofa.
Aku pergi ke kamar mandi malam itu dan menangis dengan air keran menyala, dan setelah aku selesai, aku duduk di lantai kamar mandi dan bertanya pada diriku sendiri satu pertanyaan yang jujur:
Apa yang kamu mau, Freya?
Bukan apa yang benar. Bukan apa yang adil untuk dia. Bukan apa yang dewasa.
Apa yang kamu mau.
Dan butuh sekitar dua puluh menit sebelum aku bisa menjawabnya, karena aku sudah dua belas tahun tidak pernah menanyakan pertanyaan itu pada diriku sendiri dalam bentuk semurni itu.
Jawabannya datang dalam bentuk yang tidak kuduga.
Aku tidak ingin dia tinggal di Jakarta. Aku bahkan tidak menginginkan itu; aku sudah melihat wajahnya waktu dia menceritakan dua belas nama, dan aku tahu apa yang akan terjadi pada laki-laki itu kalau dia menyerahkan kursi itu untukku. Dia tidak akan menyalahkanku. Dia akan menyalahkan dirinya, diam-diam, selama dua puluh tahun, dan aku akan hidup di sebelah orang yang setiap hari membuktikan bahwa aku sepadan.
Aku tidak mau itu.
Yang kuinginkan jauh lebih kecil dan jauh lebih sulit.
Aku ingin, sekali dalam hidupku, mengucapkan hal yang kuinginkan tanpa memeriksa dulu apakah orang di depanku sanggup memberikannya.
Itu saja.
Bukan hasilnya. Bukan jawabannya.
Kalimatnya.
Aku menghabiskan tiga hari berikutnya menyiapkan diri untuk melakukan itu, dan aku belum menemukan waktunya, dan lalu ayahnya masuk ICU dan aku menundanya lagi, dan lalu pukul lima kurang seperempat pagi hari kedua belas ponselku menyala dengan tiga kata.
aku nggak tau
Dan aku tahu waktunya sudah datang, karena satu-satunya saat kamu boleh mengatakan hal yang egois kepada seseorang adalah saat orang itu sedang berdiri di reruntuhan sistemnya sendiri dan tidak punya apa pun untuk membantahmu.
Aku belum pernah ke kosnya.
Dua belas minggu. Dia tahu di mana mangkukku disimpan; aku bahkan tidak tahu nama gangnya sampai aku mencarinya di riwayat lokasi ponselku sendiri.
Itu bukan kesalahannya sepenuhnya. Aku juga tidak pernah minta.
Kosnya di daerah Tebet, di gang yang muat satu mobil, di rumah dua lantai yang bagian bawahnya ditinggali pemiliknya. Ada delapan pintu di lantai atas.
Aku mengetuk pintu depan pukul enam lewat lima pagi.
Perempuan berumur enam puluhan membuka pintu dengan daster dan wajah yang siap memarahi siapa pun.
Aku butuh waktu empat menit untuk meyakinkannya.
Aku tidak akan menceritakan bagaimana caranya, kecuali bahwa aku tidak menyebutkan namaku, dan bahwa pada menit ketiga beliau menyipitkan mata dan berkata “Ibu kayak pernah lihat kamu”, dan bahwa aku bilang “kayaknya nggak, Bu”, dan bahwa itu bohong pertamaku hari itu dan satu-satunya.
Beliau memberiku kunci cadangan kamar tujuh.
“Anaknya baik,” katanya, sambil menyerahkannya. “Nggak pernah bikin ribut. Tapi Ibu nggak pernah lihat ada yang dateng.”
“Sekali pun?”
“Sekali pun.”
Kamarnya tiga kali empat meter.
Ada kasur, satu lemari, satu meja, dan satu kursi. Catnya mengelupas di sudut kanan atas dalam bentuk yang mirip pulau. Ada gantungan di balik pintu dengan tiga kaus dan satu jaket.
Tidak ada apa pun di dinding.
Tidak ada foto, tidak ada kalender, tidak ada satu benda pun yang menunjukkan bahwa ada manusia tertentu yang tinggal di sana dan bukan manusia lain.
Dan Devan duduk di tepi kasur dengan ponsel di tangan, memakai kaus yang jelas-jelas dipakai sejak kemarin, dengan mata yang tidak tidur.
Dia menatapku seperti orang menatap sesuatu yang tidak masuk akal secara fisik.
“Freya.”
“Hai.”
“Kamu—”
“Ibu kosmu baik banget,” kataku. “Aku bakal bawain oleh-oleh nanti.”
Dia tidak bergerak.
Aku menutup pintu di belakangku, dan aku berdiri di kamar tiga kali empat meter itu, dan aku menaruh kunci cadangan di meja.
“Aku mau ngomong,” kataku. “Dan aku mau kamu duduk diem dan nggak motong sampai aku selesai. Bisa?”
“Bisa.”
“Kamu nggak boleh ngitung apa-apa.”
“Freya—”
“Devan.” Aku menahan tatapannya. “Aku tahu kamu bakal ngitung. Aku nggak bisa nyuruh kepala kamu berhenti. Aku cuma minta kamu nggak ngomong sampai aku selesai.”
Dia mengangguk.
Dan aku menarik napas dan mengeluarkan sesuatu yang sudah kususun selama dua belas hari dan yang, sekarang setelah saatnya tiba, tidak terdengar seperti apa pun yang kususun.
“Aku mau kamu ambil kerjaan itu,” kataku.
Aku melihat dia membuka mulut dan menutupnya lagi.
“Aku serius. Aku nggak lagi ngalah. Aku nggak lagi baik. Aku bakal jelasin kenapa dan alasannya bukan alasan yang mulia.” Aku bersandar ke pintu. “Dua belas orang, Dev. Bu Rina. Anak tim data yang nanya kamu mau nggak jadi referensi dia. Dan bapak kamu yang sekarang lagi di kamar yang ada jendelanya karena kamu.”
Dia menatap lantai.
“Dan karena kamu bakal jadi orang yang paling bagus di posisi itu,” lanjutku. “Aku udah lihat kamu di ruang rapat. Kamu satu-satunya orang yang nyari di mana sesuatu bakal rusak. Dunia butuh kamu di kursi itu, dan aku nggak akan jadi alasan kamu nggak di sana.”
“Freya—”
“Aku belum selesai.”
Dia diam.
“Itu bagian pertama,” kataku. “Bagian kedua yang susah.”
Aku berdiri di kamar itu dan tanganku mulai gemetar dan aku membiarkannya.
“Sepuluh tahun lalu,” kataku, “aku berdiri di teras rumah aku dan aku nanya kamu mau aku gimana. Dan kamu jawab. Dan aku bilang oke.”
“Aku tahu.”
“Kamu nggak tahu bagian ini.” Aku menelan. “Ada satu detik sebelum aku bilang oke, di mana aku udah buka mulut.”
Dia mengangkat kepala.
“Ada satu kalimat di situ, Dev,” kataku. “Tiga kata. Udah ada di mulut aku. Udah siap.”
“Freya—”
“Dan aku telen,” kataku. “Aku telen karena aku pikir itu egois. Karena aku pikir kalau aku ngomong, aku lagi minta kamu ngasih sesuatu yang kamu nggak sanggup, dan aku nggak mau jadi beban buat kamu.”
Aku tertawa satu kali, dan bunyinya buruk sekali di kamar sekecil itu.
“Kita berdua ngelakuin hal yang sama, malam itu,” kataku. “Di teras yang sama. Dalam enam detik yang sama.”
Devan menutup matanya.
“Dan aku bawa tiga kata itu selama sepuluh tahun,” kataku. “Sepuluh tahun, Dev. Aku bawa ke Jakarta, aku bawa ke tiga puluh dua negara, aku bawa ke ruang rias jam empat pagi, aku bawa ke toilet Changi waktu aku nangis umur dua puluh satu.”
Aku mendorong diriku dari pintu.
“Dan aku nggak mau bawa itu satu hari lagi,” kataku.
Aku menyeberangi kamar itu.
Tiga langkah. Kamarnya kecil.
Aku berdiri di depannya — dia duduk di tepi kasur, aku berdiri, jadi untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun aku menatapnya dari atas — dan aku bicara dengan suara yang sudah tidak stabil sama sekali.
“Aku bakal ngomong sekarang,” kataku. “Dan aku mau kamu ngerti sesuatu sebelum aku ngomong.”
“Oke.”
“Ini egois,” kataku. “Ini nggak adil, dan aku tahu, dan aku bakal tetep ngomong.”
“Freya—”
“Kamu nggak usah nurutin,” kataku. “Kamu denger doang. Itu aja. Kamu nggak perlu ngasih aku apa-apa dan kamu nggak perlu jawab dan kamu nggak perlu ngerubah satu pun keputusan kamu.”
Air mataku sudah jatuh dan aku tidak repot menghapusnya.
“Aku cuma mau ngomongnya,” kataku. “Sekali. Setelah sepuluh tahun. Karena benda ini punya aku dan aku capek nyimpen.”
Dan aku menatap laki-laki itu di kamar tiga kali empat meter di sebuah gang di Tebet pada pukul enam lewat dua puluh delapan pagi, dan aku mengucapkan tiga kata yang seharusnya kuucapkan di teras rumahku pada malam bulan Agustus tahun 2016.
“Devan,” kataku.
“Iya.”
“Jangan pergi.”
Kamar itu sunyi total.
Aku berdiri di sana dengan seluruh tubuh gemetar dan dadaku terbuka lebar dan sesuatu yang sudah kubawa selama sepuluh tahun akhirnya keluar dari tubuhku dan berdiri di udara di antara kami, dan aku belum pernah merasa setelanjang itu di depan siapa pun.
Devan tidak bergerak.
Dan aku — karena aku sudah memutuskan sejak jam tiga pagi bahwa aku tidak akan menaruh harga pada benda itu — melanjutkan.
“Udah,” kataku. “Itu aja. Itu yang aku simpen.”
“Freya—”
“Sekarang pergi ambil kerjaan itu,” kataku.
Aku mundur satu langkah untuk mengambil tasku.
Aku tidak sampai.
Karena Devan Alaric berdiri dari tepi kasur itu dan menyeberangi setengah meter yang tersisa dan memelukku.
Dia yang duluan.
Aku tidak menariknya. Aku tidak mengambil tangannya dan melingkarkannya ke punggungku. Aku tidak melakukan satu pun hal yang sudah kulakukan seribu kali selama sebelas tahun.
Dia menyeberang sendiri.
Dan dia memelukku dengan cara yang salah lagi — terlalu erat, dengan satu tangan di belakang kepalaku dan satu di punggungku — dan seluruh tubuhnya bergetar, dan dia menekan wajahnya ke bahuku, dan aku merasakan sesuatu yang basah di kausku.
“Sori,” katanya. “Sori. Sori.”
“Dev—”
“Sepuluh tahun,” katanya. “Freya, sepuluh tahun kamu—”
“Nggak apa-apa.”
“Nggak, itu apa-apa banget.”
Dan kami berdiri di kamar tiga kali empat meter itu selama entah berapa lama, dan matahari naik lewat satu-satunya jendela kecil di kamar itu, dan tidak ada satu pun dari kami yang bergerak.
Dia melepaskanku akhirnya, tapi tidak jauh. Tangannya tetap di lenganku.
Dan dia berkata:
“Aku mau minta sesuatu.”
Aku menahan napas.
“Aku nggak tahu caranya,” katanya, cepat, dengan suara serak. “Aku beneran nggak tahu caranya, Freya. Aku udah nyoba nyusun ini semaleman dan tiap kali aku nyusun, jadinya rencana. Aku nggak bisa bikin yang bukan rencana.”
“Nggak usah disusun.”
“Aku nggak bisa—”
“Devan.” Aku memegang wajahnya dengan dua tangan. “Jelek nggak apa-apa. Ngomong aja yang jelek.”
Dan dia berdiri di sana dengan mataku di matanya, dan dia membuka mulutnya, dan yang keluar bukan kalimat.
Yang keluar dua kata.
“Ikut aku.”
Aku menutup mataku.
“Ikut aku,” ulangnya, dan suaranya pecah di kata kedua. “Aku tahu ini nggak masuk akal. Aku tahu kontrak kamu tiga tahun dan aku tahu itu kontrak terbaik yang pernah kamu dapet dan aku tahu kamu nggak bisa dan aku tetep—”
“Dev.”
“Aku tetep pengin,” katanya. “Itu doang. Aku pengin kamu ikut. Aku udah pengin dari umur delapan belas dan aku nulis di kertas dan aku bawa kertasnya ke teras rumah kamu dan aku nggak keluarin.”
Aku membuka mataku.
“Apa?”
Dan Devan Alaric — Lead Development, Core Team, laki-laki yang namanya pernah muncul di layar selebar dua belas meter di depan tiga ratus dua puluh orang — berjalan ke lemari kecil di kamar tiga kali empat meter itu, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan sebuah paspor.
Dari dalam paspor itu dia mengeluarkan dua lembar kertas.
Yang satu seperempat lembar, terlipat rapi dua kali, dengan empat belas baris tentang soal nomor tujuh belas.
Yang satu lagi setengah lembar ulangan bekas, terlipat empat, dengan tulisan pensil yang sudah pudar di lipatannya.
Dia menyerahkan yang kedua padaku.
“Aku nulis ini hari Rabu malem,” katanya. “Tiga hari sebelum aku ke rumah kamu.”
Aku membukanya.
Tulisannya rapat, kecil, dengan angka-angka di bagian tengah — ongkos kos di pinggiran Jakarta, tiga pekerjaan yang bisa dikerjakan orang berumur delapan belas tahun tanpa ijazah, ongkos transportasi harian, jam kelas malam di dua tempat.
Seorang anak laki-laki berumur delapan belas tahun menghitung seluruh kemungkinan hidupnya di balik lembar ulangan bekas pada suatu malam Rabu bulan Agustus tahun 2016.
Dan di baris paling bawah, dengan pensil yang sama, sebaris kalimat:
Kalau kamu di sana, aku juga di sana.
Aku duduk di lantai.
Aku tidak memutuskan untuk duduk. Kakiku berhenti bekerja dan aku duduk di lantai kamar kos di Tebet dengan selembar kertas berumur sepuluh tahun di tangan.
“Freya—”
“Kamu bawa ini,” kataku.
“Iya.”
“Ke teras rumah aku.”
“Iya.”
“Di saku kamu.”
“Di saku celana kanan,” katanya. “Aku pegang selama empat puluh detik waktu kita berdiri di sana.”
Aku menekan kertas itu ke dadaku dan menangis dengan cara yang tidak pernah kulakukan di depan siapa pun seumur hidupku — bukan yang cantik, bukan yang diam, tapi yang bunyinya keras dan jelek dan tidak bisa dihentikan.
Devan duduk di lantai di depanku dan tidak mengatakan apa-apa dan tidak mencoba menghentikannya.
Dia cuma memegang pergelangan tanganku.
Dan tidak melepaskannya.
Aku berhenti sekitar sepuluh menit kemudian.
Kami duduk di lantai kamar tiga kali empat meter itu, bersandar ke kasur, dengan bahu bersentuhan dan dua lembar kertas di antara kami.
Aku mengambil yang satunya. Yang seperempat lembar.
“Ini yang di kelas?”
“Iya.”
Aku membukanya. Empat belas baris, pensil, tulisan rapat, dengan satu belokan di bagian tengah yang tidak kumengerti sedikit pun.
“Dev.”
“Hm.”
“Aku masih nggak ngerti isinya.”
“Aku tahu.”
“Sepuluh tahun dan aku masih nggak ngerti satu baris pun.”
“Kamu nggak perlu ngerti,” katanya.
Aku melipatnya kembali, rapi, dua kali, jadi seperempat — persis seperti yang kulakukan di ruang kelas pada suatu hari Selasa bulan November tahun 2015.
“Aku bilang apa waktu itu?” tanyaku.
“Kamu bilang ‘simpen’.”
“Terus?”
“Terus kamu bilang jangan diremes lagi.”
Aku menaruh kertas itu di lututnya.
“Kamu nurut,” kataku.
“Iya.”
“Sepuluh tahun.”
“Iya.”
Dan Devan menatap dua lembar kertas di lututnya — satu tentang soal yang tidak pernah dikumpulkan, satu tentang hidup yang tidak pernah dijalani — dan berkata:
“Ini dua-duanya hal yang aku pengin dan aku nggak berani ambil.”
“Iya.”
“Aku bawa ke empat kota.”
“Iya.”
“Selama sepuluh tahun aku bawa dua kertas ini ke mana-mana dan aku nggak pernah kepikiran kenapa aku nyimpen.”
Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya.
“Aku tahu kenapa,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena kamu nggak percaya sama diri kamu sendiri,” kataku, “tapi kamu percaya sama orang yang nyuruh kamu nyimpen.”
Devan tidak menjawab selama waktu yang lama.
“Freya.”
“Hm.”
“Aku nggak bisa ikut.”
“Aku tahu—” Aku berhenti. “Tunggu. Apa?”
“Aku nggak bisa ikut,” ulangnya. “Aku nggak bisa ikut ke kertas ini.”
Dia mengangkat lembar ulangan bekas itu.
“Anak yang nulis ini delapan belas tahun dan dia nggak punya apa-apa,” katanya. “Dia bisa pindah ke Jakarta besok dan nggak ada yang rugi. Aku dua puluh delapan dan ada dua belas orang dan ada bapakku.”
“Dev, aku nggak minta kamu—”
“Aku tahu.” Dia meletakkan kertas itu. “Aku cuma mau kamu ngerti kenapa aku nggak bisa jadi anak itu lagi. Bukan karena aku nggak mau. Karena harganya sekarang dibayar orang lain.”
Dan aku duduk di lantai itu dan menyadari sesuatu yang membuat dadaku sesak dengan cara yang bagus:
Laki-laki di sebelahku baru saja menjelaskan alasannya, kepadaku, sebelum dia memutuskan.
Bukan sesudah.
“Oke,” kataku.
“Oke?”
“Oke, Dev.” Aku meraih tangannya. “Itu yang aku minta dari dulu. Bukan hasilnya. Prosesnya.”
Aku berhenti sekitar sepuluh menit kemudian.
Kami duduk di lantai kamar tiga kali empat meter itu dengan bahu bersentuhan.
“Dev.”
“Hm.”
“Aku juga nggak bisa ikut ke sana.”
“Aku tahu.”
“Aku beneran nggak bisa. Bukan karena aku nggak mau.” Aku menyeka wajahku dengan lengan. “Kontraknya tiga tahun dan aku negosiasiin sendiri dan aku dapet pasal yang belum pernah aku dapet seumur hidup, dan kalau aku lepas, aku bakal—”
“Freya, aku tahu.”
“Terus kenapa kamu minta?”
Dan dia menoleh, dan dia menjawab dengan kalimat yang akan kubawa sampai aku tua:
“Karena kamu berhak tahu bahwa aku mau,” katanya. “Sepuluh tahun lalu kamu nggak tahu. Dan itu yang bikin kamu berdiri di teras itu ngerasa nggak ada yang keberatan.”
Aku menoleh.
“Aku nggak minta buat dapet iya,” katanya. “Aku minta biar kamu punya jawabannya. Biar mulai hari ini kamu tahu.”
Matahari sudah penuh lewat jendela kecil itu.
“Dan kalau kamu bilang nggak,” lanjutnya, “aku nggak akan hilang. Itu bagian yang paling aku pengin kamu percaya dan aku tahu aku belum punya hak buat minta dipercaya.”
“Devan.”
“Hm.”
“Kamu barusan minta dua kali dalam sepuluh menit.”
Dia berkedip.
Dan aku menyaksikan laki-laki itu menghitung — aku bisa melihatnya, aku selalu bisa melihatnya — dan lalu menghitung ulang, dan lalu menyadari.
“Oh,” katanya.
“Iya.”
“Aku nggak sadar.”
“Aku tahu,” kataku, dan aku menyandarkan kepala ke bahunya. “Itu bagian terbaiknya.”
Kami duduk di lantai itu sampai pukul delapan pagi.
Aku menelepon Vinka pukul setengah delapan dan bilang aku akan terlambat.
“Berapa lama, Kak?”
“Nggak tahu.”
Dan Vinka — yang sudah sepuluh tahun mengatur setiap menit hidupku, yang mengeluh kalau aku telat empat menit — diam sebentar lalu berkata:
“Ya udah, Kak. Gue geser semuanya.”
“Vin—”
“Kak.”
“Hm?”
“Suara lo enak lagi,” katanya, dan menutup teleponnya sebelum aku sempat menjawab.
Pukul delapan lewat sepuluh, Devan berdiri dan mengambil kunci mobilnya.
“Mau ke mana?”
“Rumah sakit.” Dia berhenti di pintu. “Aku janji dateng.”
“Sama bapak kamu?”
“Iya.”
“Dia minta?”
Dan Devan Alaric berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri dan menjawab, dengan wajah yang belum pernah kulihat seumur hidupku:
“Iya,” katanya. “Dia minta.”
Lalu dia berhenti.
“Freya.”
“Hm.”
“Nanti malem kamu ke tempat kamu jam berapa?”
“Delapan.”
“Aku ke sana,” katanya. “Kita duduk di meja dapur, dan kita bawa kalender, dan kita beresin ini berdua.”
Aku menatapnya.
“Sekarang?”
“Sekarang,” katanya. “Aku nggak mau nyusun apa-apa sendirian lagi.”
Dan dia keluar dari kamar itu, dan aku duduk sendirian di lantai kamar kos di Tebet dengan dua lembar kertas di pangkuanku dan matahari jam delapan pagi di wajahku.
Dan untuk pertama kalinya sejak umur delapan belas tahun, dadaku kosong.
Bukan kosong yang buruk.
Kosong yang benar. Kosong seperti tas yang akhirnya diturunkan.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata reading
- 36 Meja Dapur