← Jangan Pergi

Chapter Twenty Six

Jam ke-24

POV: DevanSekarang

Nadia Rehman menelepon pada hari Senin berikutnya pukul tujuh pagi waktu Jakarta.

Dia VP Engineering. Dia atasan dari atasanku. Dalam dua tahun terakhir aku bicara langsung dengannya mungkin sembilan kali, dan delapan di antaranya berlangsung kurang dari empat menit.

Panggilan itu berlangsung lima puluh satu menit.


Isinya, kalau dipadatkan:

Head of Core Team. San Francisco. Permanen.

Bukan promosi biasa. Posisi itu kosong karena orang sebelumnya pindah ke perusahaan lain enam minggu lalu, dan mereka sudah mewawancarai empat orang dari luar dan tidak ada yang cocok.

“You’ve been the shadow answer to this for a while,” kata Nadia. “We stopped pretending otherwise last Thursday.”

Aku tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

“Kenapa sekarang?”

“Because the reorg frees you up.” Jeda. “And because you’re the only person who argued against it with a technical case instead of an emotional one. Three people forwarded me your notes.”

Ada bagian dari diriku yang ingin tertawa pada bagian itu.

Aku kalah berdebat, dan hadiah dari kalah berdebat adalah kursi orang yang membuat aturannya.


Lalu dia mengatakan bagian yang mengubah segalanya.

“There’s flexibility on terms,” kata Nadia. “You’d have headcount discretion for the first year.”

“Berapa?”

“Twelve.”

Aku memegang tepi meja.

“Dua belas orang,” kataku. “Buat tim apa pun?”

“Your team. Your call. Hire where you want.”

“Termasuk kalau saya mau ambil dari Jakarta?”

Jeda di seberang. Lebih lama dari yang nyaman.

“They’d have to relocate,” katanya. “But yes. If you want twelve of them, that’s within discretion.”


Aku menutup telepon pukul delapan lewat satu menit pagi hari Senin.

Aku duduk di mejaku di lantai dua puluh tiga sebuah gedung di Sudirman, di kantor yang akan tutup dalam tiga bulan dua minggu, dan aku memulai jam.

Aku ingin sangat jelas soal ini: aku memulainya dengan sadar.

Aku melihat jam di layar. 08:01.

Dan aku berkata di dalam kepalaku, dengan kalimat lengkap, seperti orang menyusun catatan rapat:

Batasnya besok jam delapan pagi.


Jam ke-2.

Aku menulis daftar. Dua belas nama.

Butuh empat puluh menit dan aku mencoret serta menambah sebelas kali, karena setiap kali aku menaruh satu nama, aku sedang tidak menaruh nama lain, dan aku tahu wajah keduanya.

Anak dari tim data ada di nomor tiga.

Bu Rina ada di nomor satu, dan aku menaruhnya di nomor satu bukan karena dia yang terbaik secara teknis — dia nomor empat atau lima — tapi karena dia satu-satunya orang di gedung itu yang tidak bisa tidur kalau ada sesuatu yang tidak dia mengerti kenapa.

Aku butuh orang seperti itu di ruangan yang membuat keputusan.

Aku ingin mencatat bahwa pada jam ke-2, aku belum sekali pun memikirkan diriku sendiri.

Itu bukan kebajikan.

Itu mekanisme.

Kalau kepalaku dipenuhi dua belas orang lain, tidak ada tempat tersisa untuk satu pertanyaan yang seharusnya kutanyakan pada diriku sendiri pagi itu, yaitu: apakah aku mau pindah?

Jam ke-5.

Aku mulai menghitung hal-hal yang lain.

Berapa lama proses relokasi. Berapa yang punya anak sekolah. Berapa yang punya orang tua sakit. Berapa dari dua belas itu yang akan menolak, dan siapa yang harus kutaruh sebagai cadangan.

Aku belum mengatakan satu kata pun kepada siapa pun.

Jam ke-9.

Aku makan siang sendirian dan menyadari bahwa aku belum memikirkan satu hal.

Aku belum memikirkan pindah.

Bukan pekerjaannya — pindahnya. Kota. Empat belas jam. Dua puluh tiga jam penerbangan.

Aku memikirkannya selama sekitar empat menit dan lalu berhenti, dengan sengaja, dan kembali ke daftar dua belas nama.

Aku sangat bagus dalam hal itu. Aku bisa menutup sebuah ruangan di kepalaku dan tidak membukanya selama berhari-hari.

Jam ke-13.

Freya menelepon jam sembilan malam.

“Kamu di mana?”

“Kantor.”

“Dev, ini jam sembilan.”

“Ada yang harus aku beresin.”

“Kamu makan?”

“Belum.”

“Astaga.” Suara di seberang. “Aku pesenin. Jangan bantah.”

Empat puluh menit kemudian ada orang dari lobi menelepon ke lantai dua puluh tiga membawa nasi padang.

Aku memakannya di mejaku, sendirian, di kantor kosong, di sebelah dokumen berisi dua belas nama.

Aku sempat memikirkan untuk meneleponnya balik dan menceritakan semuanya.

Aku sampai pada kesimpulan bahwa aku belum punya cukup informasi, dan bahwa menceritakan sesuatu yang belum jelas cuma akan membuatnya khawatir tanpa ada yang bisa dia lakukan.

Itu adalah kalimat yang sangat rapi.

Aku memakainya untuk pertama kalinya pada jam ke-13, dan aku akan memakainya sekitar empat puluh kali lagi dalam sembilan hari ke depan.

Jam ke-20.

Aku bangun pukul empat pagi dan tidak bisa tidur lagi.

Aku duduk di tepi kasur di kos yang catnya mengelupas di satu sudut dan aku membuka dokumen di ponselku dan menatap dua belas nama itu dalam gelap.

Lalu aku membuka aplikasi pesan dan mengetik.

freya
aku dapet tawaran

Aku menatapnya selama empat puluh detik.

Aku menghapusnya.

Bukan karena aku takut. Aku ingin jujur soal ini: pada jam ke-20, aku tidak merasa takut sedikit pun.

Aku menghapusnya karena aku menghitung, dan hitungannya begini:

Kalau aku kirim ini sekarang, dia bangun jam enam dan lihat ini dan panik. Terus dia nanya, dan aku belum bisa jawab, karena aku belum tahu syaratnya, belum tahu tanggalnya, belum tahu apakah dua belas orang itu bisa. Terus dia bawa panik itu ke kerjaan dia hari ini.

Kalau aku tunggu sampai semuanya jelas, aku bisa cerita sekali, lengkap, dengan jawaban buat semua pertanyaannya.

Selisihnya beberapa hari. Dan beberapa hari itu semuanya jatuh ke aku, bukan ke dia.

Aku ingin siapa pun yang membaca ini mengerti sesuatu.

Aku tidak sedang berbohong pada diriku sendiri.

Setiap kalimat dalam hitungan itu benar.

Setiap satu.

Jam ke-24.

Pukul delapan pagi hari Selasa aku sedang di lift menuju lantai dua puluh tiga.

Aku melihat jam di ponselku. 08:00.

Aku berdiri di dalam lift itu bersama empat orang lain dan tidak melakukan apa-apa.

Pintu terbuka. Aku keluar.


Jam ke-31.

Nadia mengirim dokumen. Aku membacanya tiga kali.

Jam ke-40.

Aku menemui Airin dan bertanya — secara hipotetis, dengan hati-hati — berapa lama proses relokasi visa kerja untuk dua belas orang.

Airin menatapku terlalu lama.

“Dev.”

“Hipotetis.”

“Dev.”

“Belum ada apa-apa.”

Airin bersandar ke kursinya.

“Kamu tahu nggak,” katanya, “kamu itu orang paling jujur yang aku kenal, dan kamu barusan ngomong kalimat yang secara teknis benar dan secara isi bohong total.”

Aku tidak menjawab.

“Delapan sampai empat belas minggu,” katanya akhirnya. “Kalau lancar.”

Jam ke-52.

Freya menginap. Kami makan. Kami bicara tentang hal-hal lain. Dia bercerita tentang Vinka dan Gilang, yang sekarang bertemu setiap Rabu di kedai yang tutup, dan yang menurut Freya belum menyadari apa yang sedang mereka lakukan.

Aku tertawa di tempat yang benar.

Dia menempelkan kakinya yang dingin ke kakiku di bawah selimut, seperti biasa, dan aku bilang “astaga” seperti biasa, dan dia bilang “ini haknya pacar” seperti biasa.

Dan pada suatu titik di tengah malam, dia berkata ke dalam gelap:

“Dev.”

“Hm.”

“Kamu lagi mikirin sesuatu.”

“Aku selalu mikirin sesuatu.”

“Iya,” katanya. “Tapi biasanya kamu cerita kalau aku nanya.”

Aku berbaring di sana.

“Nanti,” kataku.

Dan Freya — yang sudah menghabiskan sepuluh tahun belajar untuk tidak menagih apa pun dari siapa pun, dan yang belajar itu dari orang yang paling ahli — berkata:

“Oke.”

Jam ke-89.

Aku menyusun rencana lengkapnya di sebuah dokumen dan memberinya nama file yang tidak berarti apa-apa.

Isinya tiga bagian.

Bagian satu: dua belas nama, dengan cadangan.

Bagian dua: jadwal. Aku berangkat lebih dulu, akhir bulan depan. Sisanya menyusul dalam gelombang.

Bagian tiga tidak punya judul.

Bagian tiga isinya empat baris tentang apa yang harus terjadi pada hubunganku dengan seorang perempuan yang basis kerjanya di Jakarta, yang kariernya sedang di puncak, dan yang tidak bisa pindah tanpa kehilangan semuanya.

Aku menulis bagian tiga pada pukul satu lewat dua puluh pagi hari Jumat, sendirian, di kos, dengan kunci apartemennya di saku jaket yang tergantung di pintu.

Empat baris itu berbunyi begini, dan aku menuliskannya di sini persis seperti aku menuliskannya waktu itu, karena memperhalusnya sekarang akan jadi kebohongan kedua.

1. Dia tidak bisa ikut. Karier dia di sini. Meminta dia mempertimbangkan sama dengan meminta dia memilih, dan dia akan memilih aku, dan lima tahun lagi dia akan menyesal.

2. Hubungan jarak jauh empat belas jam: sudah pernah, tidak berhasil, dan waktu itu kami delapan belas tahun tanpa karier.

3. Yang paling bertanggung jawab: selesaikan dengan baik sebelum aku berangkat. Beri dia waktu. Jangan biarkan menggantung.

4. Biaya perawatan ibunya kalau ada apa-apa, dan biaya kuliah Sena kalau perlu, bisa aku tanggung dari sana tanpa dia tahu. Lewat Vinka.

Aku membacanya sekali.

Lalu aku menutup laptopnya dan pergi tidur.

Aku tidur selama enam jam empat puluh menit dan tidak bermimpi apa-apa.

Baris keempat itu, kalau ada yang bertanya, adalah baris yang paling lama kutulis. Dua puluh menit. Aku mengulangnya empat kali sampai kalimatnya cukup rapi.

Sepuluh tahun sebelumnya, di teras sebuah rumah di Bekasi, aku juga menyusun sesuatu yang isinya persis sama: cara memberi tanpa berada di sana, cara menanggung tanpa hadir, cara membuat diriku berguna dari jarak yang aman.

Aku tidak menyadari kemiripannya sedikit pun waktu itu.

Aku menuliskannya, aku merapikannya, aku membacanya sekali, dan aku tidur.

Jam ke-97.

Jam ke-120.

Jam ke-168.


Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, dan aku akan menuliskannya di sini karena kalau tidak, tidak ada gunanya menulis apa pun.

Pada hari kesembilan, aku sadar aku sudah berhenti menghitung jam.

Bukan karena aku lupa.

Karena pada suatu titik antara jam ke-168 dan jam ke-200, aku berhenti menganggapnya sebagai janji yang sedang kulanggar, dan mulai menganggapnya sebagai keputusan yang sedang kupikirkan.

Itu perpindahan yang sangat kecil.

Butuh mungkin dua detik.

Dan itu satu-satunya hal dalam sepuluh tahun terakhir yang tidak bisa kuhitung, tidak bisa kujelaskan, dan tidak akan pernah bisa kumaafkan dari diriku sendiri.