Chapter Twenty Two
Lantai Dua
POV: Freya — SMA, 2016
Lima bulan.
Aku menghitungnya, karena tentu saja aku menghitungnya — aku sudah tertular dari orangnya, dan aku tidak akan pernah mengakui itu padanya.
Lima bulan, dua puluh tiga hari.
Dalam waktu itu: sekitar seratus dua puluh kali berjalan lewat gang belakang kompleks guru sambil bergandengan tangan. Sekitar lima puluh kali naik angkot berdempetan. Tujuh belas kali berteduh di bawah kanopi warung tutup dengan kepalaku di bahunya. Dua puluh detik kelingking di bawah meja, tiga kali seminggu, dua bulan.
Nol ciuman.
Aku ingin mencatat bahwa ini bukan karena aku tidak mau.
Aku sangat mau. Aku memikirkannya dengan intensitas yang, kalau ada guru BK yang tahu, akan memicu panggilan orang tua.
Dan aku bisa saja melakukannya. Kapan pun. Ada minimal tiga puluh momen di mana yang perlu kulakukan cuma bergerak lima belas sentimeter.
Aku tidak melakukannya.
Dan alasannya, yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun sampai bertahun-tahun kemudian, adalah ini:
Aku yang menembak duluan. Aku yang menyodorkan tangan di kantin. Aku yang memaksa dia naik angkot. Aku yang memutuskan kami pelan-pelan. Aku yang memilih rute, aku yang membuat kode angka di pojok kertas, aku yang bilang “sini” dan “duduk” dan “nih”.
Dan pada suatu titik di bulan kedua, sambil berjalan di gang itu, aku menyadari sesuatu yang membuat perutku dingin:
Kalau aku berhenti bergerak, semuanya berhenti.
Bukan karena dia tidak sayang. Aku tahu dia sayang. Aku tahu dari cara dia menaruh roti kedua di mejaku setiap pagi selama lima bulan tanpa sekali pun menyebutkannya.
Tapi aku ingin — satu kali, sekali saja, satu hal di dalam hubungan ini — yang dimulai olehnya.
Jadi aku menunggu.
Lima bulan, dua puluh tiga hari.
Itu latihan pertamaku, dan aku tidak tahu waktu itu bahwa aku sedang berlatih untuk sesuatu yang jauh lebih panjang.
Yang paling melelahkan dari lima bulan itu adalah tidak ada satu orang pun yang bisa kuajak bicara.
Vinka mengira kami sudah putus sejak Desember, dan Vinka percaya sepenuhnya, karena Vinka melihat dengan matanya sendiri bahwa aku dan Devan tidak pernah bicara di sekolah.
“Lo udah move on kan?”
“Udah.”
“Beneran?”
“Beneran, Vin.”
“Soalnya kalau lo belom, gue punya sepupu—”
“Vinka.”
“Dia kuliah. Fakultas hukum. Mukanya lumayan.”
“VINKA.”
Dan aku duduk di kantin sambil menolak sepupu Vinka untuk ketiga kalinya, dengan tangan yang tiga jam kemudian akan digenggam di gang belakang kompleks guru, dan aku tidak bisa menceritakan itu pada siapa pun di dunia ini.
Aku bahkan pernah hampir cerita ke ibuku. Satu kali, bulan Januari, jam sepuluh malam, waktu mesin jahit berhenti dan rumah jadi sepi.
Aku berdiri di ambang pintu kamar ibuku selama sekitar dua puluh detik.
Lalu aku bilang “Bu, aku tidur ya” dan masuk ke kamar.
Sepuluh tahun kemudian ibuku akan bilang bahwa dia menunggu seseorang mengetuk pintu selama delapan bulan, dan aku akan mengerti bahwa kami berdua sedang menunggu hal yang sama dari arah yang berlawanan, di rumah yang sama.
Perpustakaan sekolah kami punya lantai dua yang secara teknis bukan lantai dua.
Itu semacam mezanin — setengah lantai, dengan tangga besi delapan anak tangga di sudut belakang, tempat mereka menaruh arsip: buku paket kurikulum lama, majalah dinding tahun sembilan puluhan, kardus berisi entah apa. Tidak ada yang naik ke sana kecuali penjaga perpustakaan dua kali setahun.
Kami menemukannya bulan Februari, waktu Bu Sri menyuruh kami mengambil buku paket lama untuk keperluan apa pun, dan sejak itu kami naik ke sana kalau ada yang datang.
Ada satu jendela kecil menghadap lapangan. Debunya luar biasa. Panasnya juga.
Hari itu Selasa, akhir Mei, dan hujan turun sejak jam tiga.
Bu Sri menutup perpustakaan lebih awal karena atapnya bocor di sisi timur dan dia harus mencari ember. Dia bilang “kalian keluar ya”, lalu pergi mencari ember, lalu — dan ini bagian penting — tidak kembali selama empat puluh menit.
Kami naik ke lantai dua supaya tidak kelihatan dari pintu.
Kami duduk di lantai dengan punggung ke rak arsip.
Hujan di atap seng persis di atas kepala kami. Suaranya begitu keras sampai kami harus bicara lebih dekat dari biasanya, yang mungkin adalah alasan kenapa percakapan itu jadi seperti itu.
“Freya.”
“Hm.”
“Kamu udah mikirin kuliah?”
“Belum.”
“Bohong.”
Aku menoleh. “Kok tahu?”
“Kamu selalu mikirin semuanya,” katanya. “Kamu cuma nggak selalu ngomong.”
Aku menarik lutut ke dada.
“Aku mikirin,” kataku. “Tapi mikirinnya nggak enak.”
“Kenapa?”
Dan aku memberitahunya — sebagian. Bukan angkanya. Bukan utangnya. Bukan bahwa ibuku menjahit sampai jam sebelas.
Cuma bentuk umumnya: bahwa kuliah itu mahal, bahwa ada Sena yang masuk SMP tahun depan, bahwa kalaupun aku dapat beasiswa masih ada hidup sehari-hari, bahwa aku sudah menghitung dan hitungannya tidak selesai.
Devan mendengarkan tanpa memotong sekali pun.
Waktu aku selesai, dia diam sekitar sepuluh detik.
“Kamu mau aku ngomong sesuatu yang berguna,” katanya, “atau kamu mau aku diem aja?”
Aku menoleh cepat.
“Apa?”
“Kadang orang cerita karena mau solusi. Kadang enggak.” Dia mengangkat bahu. “Aku nggak bisa bedain. Jadi aku nanya.”
Dan aku duduk di lantai berdebu mezanin perpustakaan dengan hujan menghantam atap seng dan merasakan sesuatu yang tidak bisa kutangani pada umur delapan belas.
“Diem aja,” kataku.
“Oke.”
Dia diam.
Kami duduk di sana selama mungkin empat menit tanpa satu kata pun, dan itu empat menit terbaik dari lima bulan itu.
Lalu aku merusaknya.
“Dev.”
“Hm.”
“Boleh aku nanya sesuatu yang bikin kamu nggak nyaman?”
“Boleh.”
“Kamu pengin apa?”
Dia menoleh.
“Maksudnya?”
“Dari aku,” kataku. “Dari ini. Dari kita.” Aku memutar tanganku di udara. “Lima bulan, Dev. Aku nggak pernah denger kamu pengin apa-apa. Sekali pun.”
“Aku pengin ini.”
“‘Ini’ apa?”
“Ini.” Dia menunjuk lantai di antara kami. “Yang barusan. Duduk. Nggak ngomong.”
“Itu doang?”
“Iya.”
Dan aku, karena aku delapan belas tahun dan lelah dan hujannya keras dan aku sudah menunggu lima bulan dua puluh tiga hari, mengatakan sesuatu yang tidak kurencanakan.
“Kadang aku takut kamu nggak pengin apa-apa,” kataku. “Dari siapa-siapa. Selamanya.”
Hujan di atap.
“Dan aku takut suatu hari nanti aku bakal berdiri di depan kamu, dan aku bakal nunggu kamu minta sesuatu, dan kamu bakal—”
Dan aku tidak menyelesaikan kalimat itu.
Bukan karena aku memilih berhenti.
Dia menciumku.
Aku tidak melihatnya datang. Aku betul-betul tidak melihatnya datang, dan aku orang yang bisa membaca ruangan, dan aku sudah lima bulan dua puluh tiga hari mengamati laki-laki ini dari jarak satu meter.
Yang kuingat, dalam urutan:
Bahwa dia bergerak sangat cepat, yang tidak sesuai dengan apa pun tentang dirinya.
Bahwa tangannya sampai di rahangku sebelum bibirnya sampai, dan bahwa tangannya dingin.
Bahwa ciumannya sepenuhnya salah — terlalu keras di awal, sudutnya tidak benar, hidung kami bertabrakan sedikit — dan bahwa aku tidak peduli sedikit pun, dan bahwa aku tidak akan menukarnya dengan ciuman mana pun yang kuterima setelah itu dari orang mana pun.
Dan bahwa dia tidak bernapas.
Aku menyadarinya sekitar detik kesepuluh.
Tidak ada napas. Sama sekali. Nol.
Detik kelima belas: masih tidak ada.
Detik kedua puluh: dan pada titik ini aku mulai khawatir secara medis.
Aku mundur.
Devan membuka mata.
Dan dia menarik napas — satu tarikan besar, keras, seperti orang yang baru naik ke permukaan air — dan wajahnya merah dari telinga ke leher.
Aku menatapnya selama satu detik penuh.
Lalu aku meledak.
“Freya—”
Aku tidak bisa berhenti. Aku terlipat ke depan sampai dahiku menyentuh lantai berdebu itu, sambil memegang perutku, mengeluarkan suara yang untungnya tertutup hujan.
“Freya.”
“Kamu—” Aku mencoba. “Kamu nggak—”
“Aku tahu.”
“Dua puluh detik, Dev!”
“Aku tahu.”
“Kamu bisa mati!”
“Aku tahu!”
“Kenapa kamu nggak napas?!”
Dan dia duduk di sana di lantai mezanin perpustakaan dengan wajah merah total, dan menjawab dengan suara yang jelas-jelas mempertahankan sisa-sisa martabatnya:
“Aku lupa.”
Aku tertawa sampai menangis.
Dan yang membuatnya jauh lebih buruk — dan jauh lebih bagus — adalah bahwa dia duduk di sana dan membiarkanku.
Dia tidak tersinggung. Dia tidak berdiri dan mengambil tasnya, yang merupakan gerakan andalannya selama lima bulan. Dia cuma duduk bersandar ke rak arsip dengan wajah merah dan menunggu sampai aku selesai, seperti orang menunggu hujan.
“Udah?” tanyanya, setelah kira-kira dua menit.
“Bentar.”
“Freya.”
“Bentar—” Aku mengibaskan tangan. “Aku inget lagi.”
“Ya ampun.”
“‘AKU LUPA’, Dev—”
“Aku bakal turun.”
“Jangan.” Aku menangkap lengan bajunya, dan kali ini aku betul-betul menangkapnya. “Jangan. Sori. Aku berhenti.”
Aku tidak berhenti. Aku berhenti tiga menit kemudian.
Waktu aku akhirnya bisa bernapas, aku menyeka mataku dan menoleh, dan dia sedang menatapku.
Bukan malu. Bukan kesal.
Dia menatapku dengan cara yang belum pernah kulihat dan tidak akan kulihat lagi sampai sepuluh tahun kemudian, di dapur apartemen, pada detik kesembilan belas.
“Apa?” tanyaku.
“Nggak apa-apa.”
“Devan.”
“Kamu ketawanya keras banget,” katanya.
“Sori—”
“Bukan.” Dia menggeleng. “Bukan itu maksudnya.”
“Terus apa?”
Dia melihat ke jendela kecil berdebu itu, dan menjawab dengan suara yang hampir tertutup hujan:
“Aku belum pernah bikin orang ketawa sekeras itu seumur hidup aku.”
Setelah tawa itu selesai — dan butuh waktu — kami duduk berdampingan lagi dengan punggung ke rak arsip.
Bahuku menempel di bahunya. Hujan mulai mengecil.
“Freya.”
“Hm.”
“Yang kamu bilang tadi.”
“Yang mana?”
“Bahwa kamu takut aku nggak pengin apa-apa.”
Aku menahan napas.
“Iya,” kataku.
Dia menatap jendela kecil berdebu itu.
“Aku pengin,” katanya.
“Pengin apa?”
Jeda panjang.
“Banyak,” katanya. “Aku pengin banyak, Freya. Itu masalahnya.”
Aku menoleh, tapi dia tidak menoleh balik.
“Aku cuma nggak pernah nyoba ngeluarin,” lanjutnya. “Karena kalau udah keluar, terus nggak dikasih, aku nggak tahu harus taruh di mana.”
Dan aku, delapan belas tahun, dengan debu di dahi dan bibir yang masih terasa aneh, mengambil tangannya dan menggenggamnya dan berkata hal yang menurutku waktu itu sangat pintar:
“Kalau sama aku, kamu boleh coba. Aku pasti kasih.”
Dia menoleh.
“Kamu nggak tahu apa yang aku minta.”
“Nggak usah tahu.”
“Freya—”
“Devan.” Aku menggenggam lebih erat. “Kamu boleh minta apa aja ke aku. Seumur hidup. Aku janji.”
Dia menatapku lama sekali.
Lalu dia mengangguk sekali, dan berkata “oke”, dan kami turun delapan anak tangga besi dan pulang lewat gang belakang seperti biasa.
Tiga bulan kemudian dia berdiri di teras rumahku dan tidak meminta apa pun.
Dan janjiku tidak pernah ditagih.
Sepuluh tahun kemudian, di dapur apartemenku, dia akan berdiri dengan tangan gemetar dan mengucapkan empat kata — aku mau minta tolong — dan aku akan berdiri di sana dan mengerti, dengan sangat terlambat, bahwa dia mengingat janji itu.
Bahwa dia menyimpannya selama sepuluh tahun.
Dan bahwa dia butuh sepuluh tahun untuk memakainya sekali.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua reading
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur