← Jangan Pergi

Chapter Sixteen

Studio 4, Baris H

POV: DevanSekarang

Aku menyiapkan kencan pertama kami selama sebelas hari.

Aku ingin memperjelas bahwa ini bukan hal yang membanggakan. Ini gejala. Tapi aku tidak punya cara lain untuk menunjukkan bahwa sesuatu penting bagiku, jadi yang kulakukan adalah memperlakukannya seperti peluncuran produk.

Aku punya spreadsheet.

Bukan spreadsheet besar. Empat kolom. Bioskop, jam tayang, rata-rata okupansi hari kerja, dan jumlah pintu keluar.

“Kamu bikin spreadsheet,” kata Freya, di telepon, pada malam kesembilan.

“Nggak.”

“Devan.”

“Ada empat kolom. Itu belum spreadsheet.”

“Itu spreadsheet.”

“Itu tabel.”

“Devan Alaric.” Aku bisa mendengar dia tersenyum lewat telepon dan itu membuat sesuatu di dadaku bergerak. “Kamu tuh nggak usah gitu. Aku cuma pengin nonton film jelek sama kamu.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa pakai tabel?”

Aku memikirkan itu selama beberapa detik, dan karena dia bertanya, aku menjawab.

“Karena kalau ada yang motret kamu sama aku minggu depan,” kataku, “yang rugi bukan aku.”

Telepon itu sunyi cukup lama.

“Oke,” katanya akhirnya, dan suaranya berubah. “Oke. Bikin tabelnya.”


Pilihan akhir: bioskop di mal lama di Jakarta Timur, studio empat, jam tayang sepuluh lewat lima belas, hari Rabu.

Rata-rata okupansi pada slot itu: sekitar empat persen.

Filmnya sebuah drama Korea yang sudah tayang tiga minggu dan sudah tidak ada yang membicarakannya.

Aku sampai pukul sembilan lewat empat puluh. Dia sampai pukul sepuluh kurang lima, memakai topi bisbol, kaus kebesaran, celana longgar, dan sandal jepit.

Aku menatapnya cukup lama.

“Apa?”

“Kamu pakai sandal jepit.”

“Iya.”

“Kamu.”

“Ini strategi.” Dia menarik topinya lebih rendah. “Orang nggak akan mikir dua kali kalau ada cewek pakai sandal jepit di mal jam sepuluh pagi. Otak orang tuh nyari yang mereka harapin. Nggak ada yang berharap ketemu aku di sini.”

“Itu... sebenernya masuk akal banget.”

“Aku bukan cuma cantik, Dev.”

“Aku tahu.”

“Kamu harusnya bilang ‘iya kamu cantik’ dulu baru ‘aku tahu’.”

“Oh.”

“Ya udah, telat.” Dia menyodorkan tangannya tanpa melihat. “Beliin tiket sana.”


Studio empat berisi enam orang termasuk kami.

Aku sudah memperkirakan delapan. Enam lebih baik dari delapan.

Kami duduk di baris H, kursi sebelas dan dua belas, yang kupilih karena barisan itu punya jarak paling jauh dari kedua pintu dan tidak terlihat dari lorong masuk.

Lampu turun. Iklan mulai.

Dan selama dua puluh menit pertama film itu, aku duduk dengan punggung tegak seperti orang yang sedang menunggu giliran di kantor imigrasi.

“Dev.”

“Hm.”

“Kamu tegang banget.”

“Nggak.”

“Bahu kamu naik sampai ke kuping.”

“Itu postur.”

Dia menghela napas. Lalu dia mengangkat sandaran tangan di antara kami — yang ternyata bisa diangkat, yang tidak kuketahui, yang seharusnya kuketahui karena aku sudah membaca denah studio itu — dan pindah.

Lalu dia menarik lenganku dan meletakkannya di bahunya sendiri, seperti orang memasang benda ke tempat yang benar.

“Gini,” katanya.

“Oke.”

“Udah. Nggak usah dipikirin.”

“Oke.”

Dia menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Dan aku duduk di baris H studio empat di sebuah mal lama di Jakarta Timur pada pukul sepuluh lewat empat puluh pagi hari Rabu, dengan seorang perempuan bersandar di bahuku, sambil menonton film Korea yang tidak bisa kuikuti sama sekali.

Aku tidak bisa mengingat satu pun adegan dari film itu.

Aku ingat dengan sangat rinci bahwa napasnya melambat sekitar menit ke lima puluh, dan bahwa dia betul-betul tertidur selama dua puluh dua menit, dan bahwa aku tidak bergerak sedikit pun selama dua puluh dua menit itu sampai bahuku mati rasa dari bahu ke siku.

Itu dua puluh dua menit terbaik dalam sepuluh tahun terakhir hidupku.


Film selesai pukul dua belas lewat dua.

Aku sudah merencanakan bagian ini juga: kami keluar terpisah, jeda empat menit, dia lewat pintu barat, aku lewat pintu selatan.

Lampu menyala.

Freya duduk tegak dan mengucek matanya. “Aku ketiduran?”

“Dua puluh dua menit.”

“Filmnya bagus nggak?”

“Nggak tahu.”

“Devan.”

“Aku juga nggak nonton.”

Dan pada saat itulah seseorang di baris C, di seberang studio, berdiri sambil merentangkan tangan dan menguap dengan suara yang tidak semestinya dikeluarkan di ruang publik.

Anak muda. Hoodie. Ransel. Rambut berantakan.

Dia menurunkan tangannya, menoleh ke arah kami dengan pandangan kosong orang yang baru bangun, dan berhenti.

Aku melihat wajah itu memproses.

Aku melihatnya memproses selama sekitar dua detik penuh, dan aku melihat urutannya, dan urutannya adalah bagian yang membuat seluruh peristiwa ini akan diceritakan ulang di keluarga itu selama bertahun-tahun.

Karena dia tidak mengenali kakaknya lebih dulu.

“MAS DEVAN ALARIC?”


“Sena,” kata Freya.

“MAS—”

“Sena.”

“—MAS DEVAN ALARIC DARI MAGNUS—”

“SENA.”

Anak itu berhenti. Berkedip. Menoleh ke perempuan bertopi di sebelahku.

Aku melihat proses kedua terjadi di wajahnya, dan proses kedua ini jauh lebih lambat.

“...Kakak?”

“Iya.”

“Kakak ngapain di sini?”

“Kamu ngapain di sini?” balas Freya. “Kamu ada kelas jam sembilan.”

“Kelasnya kosong.”

“Sena.”

“Dosennya nggak dateng.”

“SENA.”

“Ya ampun, Kak, ini hari Rabu, semua orang bolos hari Rabu—” Dia berhenti lagi, dan aku melihat proses ketiga, dan proses ketiga adalah yang paling menyakitkan untuk ditonton. Matanya bergerak dari wajah Freya, ke wajahku, ke bahuku, ke kursi kami yang sandaran tangannya diangkat.

Studio itu sunyi. Empat penonton lain sudah pergi. Petugas kebersihan berdiri di pintu dengan sapu, menunggu.

“Oh,” kata Sena.

“Sena—”

“OH.”

“Sena, pelan-pelan—”

“KAKAK SAMA MAS DEVAN—”

Freya menutup mulut adiknya dengan telapak tangan dari jarak dua kursi, yang secara fisik seharusnya tidak mungkin, dan berhasil.


Kami bertiga duduk di food court lantai dasar mal itu — bagian yang paling sepi, di sudut, di dekat toko yang sudah tutup — selama empat puluh menit.

Sena tidak menyentuh makanannya.

“Jadi,” katanya, untuk keempat kalinya, “Mas Devan itu Mas Devan.”

“Iya,” kataku.

“Yang di layar.”

“Iya.”

“Yang bikin—” Dia menggerakkan tangannya ke udara, mencoba menggambarkan sesuatu yang tidak punya bentuk. “Yang bikinnya.”

“Sebagian.”

“Sebagian,” ulang Sena, dengan nada orang yang mendengar sesuatu yang menyinggung. “Mas, saya baca dokumentasi arsitekturnya sampai jam empat pagi. Saya tahu bagian mana yang ‘sebagian’.”

Freya menoleh ke arahku dengan alis terangkat.

“Dan Mas pacaran sama kakak saya.”

“Sena,” kata Freya.

“Kak, aku lagi ngomong sama Mas Devan.”

“Kamu adikku.”

“Aku dua puluh dua tahun.”

“Kamu masih pakai kaus yang sama sejak SMA.”

“Ini kaus bagus—”

“Sena.” Freya menaruh tangannya di meja. “Dengerin. Ini nggak boleh ada yang tahu. Nggak ibu, nggak temen kamu, nggak internet. Ngerti?”

“Kenapa?”

“Karena kalau ada yang tahu, dalam dua hari ada foto Devan di internet dan orang bakal ngulik semua tentang dia.”

Sena menatapku.

“Mas takut?”

“Nggak,” kataku.

“Terus?”

Aku memikirkan bagaimana menjelaskannya.

“Kalau namaku keluar, orang bakal cari tahu tentang kakakmu lewat aku,” kataku. “Bukan sebaliknya. Dan yang mereka cari bukan yang bagus-bagus.”

Sena tidak menjawab selama beberapa saat.

“Oh,” katanya, dan kali ini nadanya berbeda. “Oh, iya. Bapak.”

Freya menegang di sebelahku.

“Sen—”

“Nggak apa-apa, Kak.” Sena mengangkat bahu, dan untuk pertama kalinya sore itu dia terlihat seperti orang dewasa. “Aku ngerti kok. Aku nggak bilang siapa-siapa.”

Dia mengambil sedotannya.

“Tapi ada syaratnya.”


Sebelum syaratnya, ada satu hal yang terjadi dan yang tidak kuceritakan pada Freya sampai berminggu-minggu kemudian.

Freya pergi ke toilet.

Dan begitu dia hilang di belokan, Sena berhenti bercanda.

Anak itu menaruh sedotannya, melipat tangan di meja, dan menatapku dengan wajah yang jauh lebih tua dari dua puluh dua tahun.

“Mas.”

“Ya.”

“Boleh saya nanya sesuatu yang nggak sopan?”

“Boleh.”

“Mas yang dulu, kan?”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Kelas dua belas,” kata Sena. “Yang tiap sore ngajarin Kakak di perpustakaan. Yang jaketnya masih digantung di lemari Kakak sampai sekarang, yang dibawa pindah empat kali, yang kalau saya sentuh saya dimarahin.”

Aku merasakan sesuatu naik ke tenggorokanku.

“Iya,” kataku.

Sena mengangguk pelan.

“Saya sebelas tahun waktu itu,” katanya. “Saya inget Kakak nangis di kamar mandi tiga hari berturut-turut abis pindah ke Jakarta. Kran dinyalain, tapi rumah kami kecil, Mas.”

“Sena—”

“Saya nggak lagi marahin Mas.” Dia mengangkat tangan. “Saya cuma mau Mas tahu, karena Kakak nggak akan pernah cerita. Dia nggak pernah cerita apa-apa ke siapa-siapa.”

Sena mengambil sedotannya lagi.

“Dia sama kayak Mas, sebenernya,” katanya, dan dia mengucapkannya tanpa beban sedikit pun, seperti orang menyebutkan cuaca. “Makanya dulu nyambung, kali ya.”

Freya kembali empat puluh detik kemudian.

“Kalian ngomongin apa?”

“Skripsi,” kata Sena.

“Bohong.”

“Sumpah, Kak.”

Dia berbohong dengan sangat buruk, dan Freya menatapku, dan aku mengangkat bahu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku ikut menyembunyikan sesuatu yang bukan milikku.


Syaratnya ada tiga dan Sena menyebutkannya dengan jari.

Satu: aku harus menjawab tiga pertanyaan teknis, sekarang, dan dia sudah menyiapkannya sejak malam peluncuran.

Dua: aku tidak boleh bilang “nggak bisa dibahas” untuk lebih dari satu dari tiga.

Tiga — dan ini yang membuat Freya menutup wajahnya dengan kedua tangan — aku harus mengizinkan dia menyimpan nomorku dengan nama asli di kontak, bukan nama samaran.

“Kenapa harus nama asli?”

“Biar kalau ada yang minjem HP saya, mereka lihat,” kata Sena, dengan wajah tanpa dosa sedikit pun.

“Sena, itu justru yang—”

“Bercanda, Kak. Ya ampun.”

Aku menjawab tiga pertanyaannya. Dua dengan jujur, satu dengan “itu nggak bisa aku bahas”, dan Sena menerima itu dengan anggukan yang penuh hormat.

Pertanyaan kedua sebenarnya bagus. Cukup bagus sampai aku bertanya balik.

“Kamu tingkat berapa?”

“Empat. Lagi skripsi.”

“Kalau udah selesai, kirim CV kamu.”

Sena berhenti bergerak.

Dan Freya, di sebelahku, menendang kakiku di bawah meja dengan sangat keras.


Kami mengantar Sena ke halte, lalu berjalan ke basement.

“Devan.”

“Hm.”

“Kamu nggak boleh gitu.”

“Gitu gimana?”

“Nawarin adikku kerja.”

“Aku nggak nawarin kerja. Aku minta CV.”

“Devan.”

“Freya, dia nanya soal batasan konteks pakai analogi yang aku belum pernah denger dari orang di luar tim aku.” Aku membuka pintu mobil untuknya. “Aku nggak baik hati. Aku serakah.”

Dia berdiri di antara pintu dan mobil dan menatapku.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak apa-apa.”

“Freya.”

“Nggak apa-apa,” ulangnya, dan masuk.

Aku baru mengerti apa yang terjadi sekitar tujuh menit kemudian, di dalam mobil, di lampu merah, ketika dia bicara ke arah jendela.

“Sena nggak pernah dibilangin dia pinter sama laki-laki dewasa,” katanya.

Aku memegang setir.

“Bapak kami meninggal pas dia sebelas,” lanjutnya. “Dan aku kakaknya, dan aku bilang dia pinter mungkin lima ratus kali, tapi itu beda.”

Lampu berubah hijau.

“Aku nggak tahu itu,” kataku.

“Aku tahu kamu nggak tahu.” Dia meraih tanganku dari tuas persneling dan menaruhnya di pangkuannya dan menggenggamnya dengan dua tangan. “Itu yang bikin bagus.”


Kesimpulan resmiku tentang kencan pertama itu, kalau ada yang bertanya:

Gagal total. Ketahuan dalam waktu seratus tujuh menit. Semua perencanaan sebelas hari, empat kolom, dan analisis okupansi runtuh oleh satu mahasiswa tingkat empat yang bolos kuliah hari Rabu.

Kesimpulan tidak resmiku:

Aku menyimpan tiket studio empat baris H kursi sebelas di dompetku, dan tiket itu masih ada di sana ketika semuanya hampir hancur sebelas minggu kemudian.