Chapter Twenty Nine
Jakarta Timur
POV: Devan — Sekarang
Ibuku menelepon pada hari Selasa pukul enam lewat empat puluh pagi.
Ibuku tidak menelepon.
Kami bicara tiga minggu sekali, selalu pada hari Minggu, selalu setelah dia selesai dengan pesanan jahitan, dan dalam sepuluh tahun sistem itu tidak pernah berubah satu kali pun.
Aku mengangkat pada dering pertama.
“Bu?”
“Dev.”
“Ibu kenapa?”
“Ibu nggak apa-apa.” Suaranya biasa saja, yang justru membuatku berdiri dari kasur. “Dev, ini bukan soal Ibu.”
Aku berdiri di kamar kos yang catnya mengelupas di satu sudut, pada pukul enam lewat empat puluh pagi hari Selasa, dan mendengarkan ibuku menyampaikan sesuatu dalam empat kalimat, karena beliau selalu menyampaikan segala sesuatu dalam empat kalimat.
Ayahku ada di Jakarta.
Sudah dua bulan.
Rumah sakit di Jakarta Timur.
Dan seseorang — bukan ayahku, seseorang yang lain — mencari nomor ibuku dan meneleponnya semalam.
“Bu.”
“Iya.”
“Ibu nggak usah ke sana.”
“Ibu nggak ke sana,” katanya, dan nadanya begitu tenang sampai aku tahu beliau sudah memutuskan itu bertahun-tahun lalu. “Ibu cuma nyampein.”
“Bu—”
“Devan.” Jeda pendek. “Ibu nggak akan bilang kamu harus gimana.”
“Bu, Ibu boleh bilang.”
“Nggak,” katanya. “Itu bukan urusan Ibu lagi. Sudah lama bukan.”
Aku duduk di tepi kasur.
“Ibu marah nggak sih?” tanyaku.
Dan ibuku, yang menjahit sampai jam sebelas malam selama empat belas tahun dan yang belum pernah sekali pun menaikkan suaranya padaku, menjawab:
“Ibu capek, Dev. Itu beda.”
Aku pergi ke sana hari Rabu.
Aku sudah menyusun alasan untuk tidak pergi dalam waktu sekitar dua belas menit pada Selasa pagi, dan alasannya bagus semua, dan aku membuangnya semua pada Selasa malam sekitar pukul sebelas ketika aku sadar bahwa aku sedang melakukan hal yang sama persis dengan yang selalu kulakukan: menghitung sampai perasaannya lewat.
Rumah sakitnya di Jakarta Timur, kelas tiga, dengan enam tempat tidur per ruangan dan kipas dinding yang berputar ke arah yang salah.
Aku berdiri di depan pintu ruangan itu selama satu menit empat puluh detik.
Aku tahu waktunya karena aku melihat jam dinding di koridor dua kali.
Dia jauh lebih kecil.
Itu hal pertama.
Laki-laki yang ada di kepalaku sejak umur tiga belas adalah laki-laki yang mengisi ruangan — yang menempelkan jadwal latihan di pintu kulkas, yang bicara dengan volume yang tidak bisa diabaikan, yang menyetir dengan satu tangan.
Yang ada di tempat tidur nomor empat adalah laki-laki berumur enam puluh satu tahun dengan lengan sebesar lenganku waktu SMP.
Ada dua kantong plastik di bawah tempat tidurnya. Itu seluruh barangnya.
Dia melihatku.
Dan aku menyaksikan wajah itu memproses selama sekitar empat detik — dan aku mengenali prosesnya, karena aku punya wajah yang sama, karena wajah itu adalah wajahku dalam empat puluh tahun.
“Devan,” katanya.
“Iya.”
“Kamu tinggi.”
Aku berdiri di kaki tempat tidur nomor empat di sebuah bangsal kelas tiga di Jakarta Timur dan menerima kalimat pertama dari ayahku dalam lima belas tahun, dan kalimat itu adalah “kamu tinggi”.
“Iya,” kataku.
Kami bicara empat puluh menit dan tidak membicarakan apa pun.
Dia bertanya tentang pekerjaanku. Aku bilang aku bekerja di perusahaan teknologi. Dia bertanya di mana. Aku bilang di Amerika, dan sekarang di Jakarta sebentar. Dia bilang “oh, bagus”.
Dia tidak bertanya perusahaan apa. Dia tidak bertanya apa jabatanku. Dia tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu kecuali aku memberitahunya, dan aku tidak memberitahunya.
Aku ingin sangat jujur tentang kenapa aku tidak memberitahunya.
Bukan karena aku ingin menghukumnya. Aku sudah memeriksa itu berkali-kali dalam perjalanan pulang dan aku cukup yakin itu bukan alasannya.
Alasannya adalah bahwa kalau aku memberitahunya, dia akan bangga.
Dan aku tidak tahu harus menaruh itu di mana.
Aku bicara dengan perawat di lorong.
Diagnosisnya tidak perlu ditulis di sini. Yang perlu ditulis adalah tiga hal:
Bahwa dia sudah dua bulan di sana.
Bahwa dia bisa hidup jauh lebih lama dengan perawatan yang benar, dan bahwa perawatan yang benar tidak ada di bangsal kelas tiga dengan kipas dinding yang berputar ke arah yang salah.
Dan bahwa yang membayar sejauh ini adalah seorang laki-laki bernama Pak Sugeng, tetangga sebelah rumah kontrakannya, yang datang setiap dua hari membawa makanan dan yang nomornya diberikan padaku oleh perawat itu dengan nada yang tidak berusaha menyembunyikan apa pun.
Aku menelepon Pak Sugeng malam itu juga.
Dia bicara selama dua puluh menit dan tidak sekali pun menyalahkanku, yang membuat seluruh percakapan itu jauh lebih buruk.
Aku menghitung di dalam mobil di parkiran rumah sakit itu pada pukul delapan malam hari Rabu.
Aku ingin menuliskan hitungannya dengan tepat, karena inilah bagian yang tidak bisa kutinggalkan.
Perawatan yang benar: rumah sakit lain, kamar yang layak, obat yang tidak ada di daftar tanggungan. Angka per bulan, dikali perkiraan waktu yang paling masuk akal menurut perawat itu.
Angkanya besar. Tidak mustahil. Besar.
Gajiku sekarang: cukup. Cukup untuk itu, ditambah kiriman rutin ke ibuku, ditambah hidup di Jakarta.
Kalau aku tinggal di Jakarta setelah kantor ini tutup, aku tidak punya pekerjaan di Jakarta. Aku bisa mencari. Aku akan mendapat sesuatu. Angkanya akan turun sekitar enam puluh persen.
Kalau aku menerima posisi di San Francisco, angkanya naik sekitar dua ratus persen.
Aku duduk di dalam mobil dengan mesin mati selama sekitar dua puluh menit dan menatap angka-angka itu di aplikasi kalkulator, dan aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.
Aku merasa lega.
Aku perlu menjelaskan kelegaan itu, karena kalau tidak, aku sedang berbohong pada satu-satunya catatan yang kupunya.
Selama dua minggu terakhir aku menyimpan sebuah dokumen dengan tiga bagian, dan bagian ketiganya berisi empat baris tentang mengakhiri sesuatu dengan seorang perempuan.
Dan selama dua minggu itu, ada satu hal yang tidak bisa kuselesaikan.
Aku tidak punya alasan yang cukup.
Aku punya dua belas nama. Aku punya karier. Aku punya argumen tentang zona waktu dan tentang karier Freya dan tentang apa yang terjadi lima tahun lagi.
Tapi semuanya bisa dibantah. Semuanya. Aku tahu itu, karena aku sudah membantahnya sendiri, berkali-kali, pada jam ke-20 dan jam ke-52 dan jam ke-97.
Freya bisa saja bilang: aku bisa atur. Kita cari cara. Aku bisa bolak-balik.
Dan aku tidak punya jawaban untuk itu.
Sampai pukul delapan malam hari Rabu, di parkiran rumah sakit di Jakarta Timur, dengan aplikasi kalkulator terbuka.
Karena sekarang aku punya sesuatu yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Sekarang ada orang yang akan mati lebih cepat kalau aku tinggal.
Aku duduk di dalam mobil itu dan menyadari apa yang baru saja terjadi di kepalaku, dan aku merasa sakit secara fisik.
Karena aku baru saja menemukan bahwa aku bersyukur ayahku sakit.
Bukan sakit sebagai kabar. Aku tidak bersyukur atas kabarnya. Aku bersyukur atas kegunaannya.
Aku duduk di parkiran itu selama empat puluh menit lagi.
Dan pada suatu titik, sekitar pukul sembilan, aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sejak umur tiga belas.
Aku menangis di dalam mobil di parkiran rumah sakit umum di Jakarta Timur, sendirian, dengan mesin mati, selama mungkin enam menit.
Dan aku tidak menghitungnya. Aku ingat itu.
Aku betul-betul tidak menghitung berapa lama.
Setelah itu aku menyalakan mesin, dan aku membuka aplikasi pesan, dan aku mengetik.
freya
aku perlu ngomong sesuatu
Aku menatapnya selama sekitar dua puluh detik.
Lalu aku menambahkan:
bukan lewat chat. besok ya. aku ke tempat kamu
Dan aku mengirimnya.
Aku mengirimnya. Pukul sembilan lewat empat menit malam hari Rabu.
Balasannya datang dalam sebelas detik.
Freya: oke
Freya: dev kamu di mana
Aku: jakarta timur
Freya: ngapain di jakarta timur
Aku: besok aku cerita
Freya: oke
Freya: kamu udah makan?
Aku duduk di dalam mobil di parkiran itu dan menatap tiga kata terakhir sampai layarnya mati sendiri.
Aku tidak jadi ke tempatnya keesokan harinya.
Nadia menelepon pukul tujuh pagi hari Kamis dengan sesuatu yang harus dijawab dalam empat puluh delapan jam. Ada rapat. Ada dokumen. Ada bagian tentang dua belas orang yang harus dikunci sebelum daftarnya diserahkan ke bagian lain.
Aku bekerja tujuh belas jam pada hari Kamis.
Aku mengirim pesan pukul sebelas malam: sori. besok.
Hari Jumat aku bekerja empat belas jam.
Hari Sabtu aku menelepon Pak Sugeng, lalu rumah sakit, lalu rumah sakit yang lain, lalu asuransi.
Hari Minggu aku menelepon Vinka.
Aku ingin berhenti di sini dan mencatat sesuatu.
Kalau ada yang membaca ini dan mencoba memahami bagaimana seorang laki-laki bisa mengirim pesan aku perlu ngomong sesuatu pada hari Rabu dan tidak mengatakan apa pun sampai sepuluh hari kemudian, jawabannya tidak dramatis.
Tidak ada satu pun momen di mana aku memutuskan untuk tidak memberitahunya.
Yang ada cuma hari Kamis. Lalu hari Jumat. Lalu hari Sabtu.
Dan pada setiap hari itu ada satu alasan yang benar, dan alasannya berbeda-beda, dan tidak ada satu pun yang bohong.
Itulah cara kerjanya.
Bukan satu keputusan besar.
Sepuluh keputusan kecil, semuanya masuk akal, semuanya menuju satu arah.
Aku menelepon Vinka pada hari Minggu pukul sebelas pagi.
Dan aku bertanya padanya — dengan sangat hati-hati, dengan kalimat yang sudah kususun selama empat puluh menit — apakah dia tahu apakah ibu Freya punya asuransi, dan berapa biaya kuliah Sena per semester, dan apakah ada cara mengatur transfer rutin ke sebuah rekening tanpa penerimanya tahu dari siapa.
Vinka diam di seberang telepon selama waktu yang sangat lama.
“Mas.”
“Iya.”
“Mas mau ke mana?”
Dan aku berdiri di kamar kos yang catnya mengelupas di satu sudut, pada hari Minggu pukul sebelas lewat delapan menit, dan menjawab satu-satunya hal yang bisa kujawab.
“Vinka, aku minta tolong jangan cerita ke Freya dulu. Aku yang mau cerita sendiri.”
“Kapan?”
“Minggu ini.”
“Mas, itu bukan jawaban.”
“Aku janji,” kataku.
Dan Vinka — yang mengenal Freya sejak umur tujuh belas, yang melihat perempuan itu setiap hari selama delapan bulan pada tahun 2016, dan yang melihat sepuluh tahun sesudahnya — menjawab dengan suara yang tidak pernah kudengar dari orang itu sebelumnya:
“Mas, gue nggak bisa bohong sama dia.”
“Aku nggak minta kamu bohong. Aku minta waktu.”
“Berapa lama?”
“Sampai Rabu.”
Hening.
“Rabu,” katanya. “Oke. Rabu.”
Aku menutup telepon.
Dan pada hari Selasa — satu hari sebelum batas yang kuminta sendiri, dari orang yang tidak pernah kuberi hak untuk memikul ini — Vinka duduk di sebuah van di Jalan Rasuna Said dan tidak bisa menahannya lagi.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur reading
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur