Chapter Twenty Seven
Tiga Puluh Satu
POV: Freya — Sekarang
Aku dibayar mahal, antara lain, karena aku tahu ketika ada yang salah di sebuah ruangan sebelum orang-orang di ruangan itu tahu.
Itu bukan sihir. Itu akumulasi. Sepuluh tahun duduk di ruang rapat tempat tidak ada yang mengatakan apa yang mereka maksud, dan kamu belajar membaca hal-hal yang lain: kecepatan bicara, arah bahu, berapa lama seseorang menunggu sebelum mengangkat gelas.
Aku sangat, sangat bagus dalam hal itu.
Dan selama dua minggu, aku memakai seluruh kemampuan itu pada satu orang, dan aku tidak menemukan apa-apa.
Itu bagian yang membuatku gila.
Karena semuanya baik.
Aku perlu menuliskan itu dengan jelas, karena kalau tidak, seluruh dua minggu itu akan terdengar seperti dua minggu yang buruk, dan bukan.
Dua minggu itu adalah dua minggu terbaik.
Devan datang hampir setiap malam. Dia memakai kuncinya tanpa mengetuk, akhirnya, setelah tiga kali pertama yang canggung. Dia memasak dua kali dan hasilnya lebih baik dari sebelumnya. Dia mengganti keran kamar mandiku yang bocor sejak dua tahun lalu, dengan alat yang dia beli sendiri, pada hari Minggu, selama dua jam.
Dia membelikanku bantal.
Bantal. Dia menyadari — entah bagaimana, aku tidak pernah menyebutkannya — bahwa aku selalu bangun sambil memijat leher, dan dia membaca tentang itu, dan dia datang pada hari Kamis dengan bantal yang harganya membuatku berteriak.
“Devan, ini harganya—”
“Aku tahu.”
“Kamu—”
“Freya, kamu bangun tiap pagi sambil megang leher kamu. Tiap pagi. Empat belas hari berturut-turut.”
Dan aku tidur delapan jam penuh untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan dan bangun tanpa sakit apa pun dan hampir menangis di kamar mandi tentang sebuah bantal.
Jadi tidak. Dua minggu itu tidak buruk.
Dua minggu itu adalah dua minggu di mana seorang laki-laki merawatku lebih baik daripada siapa pun seumur hidupku, dan aku menghabiskan seluruh dua minggu itu dengan perut yang dingin.
Yang salah bukan apa yang dia lakukan.
Yang salah adalah jumlahnya.
Ini sulit dijelaskan pada orang yang tidak pernah mengalaminya, dan aku sudah mencoba menjelaskannya pada Vinka dan gagal.
“Kak, dia beliin lo bantal.”
“Aku tahu.”
“Bantal, Kak. Cowok gue dulu ngasih gue playlist.”
“Vin—”
“Dan playlist-nya ada lagu buat mantannya.”
“Vinka.”
“Sori.” Dia mengangkat tangan. “Gue serius dengerin. Apa masalahnya?”
Dan aku duduk di van pada pukul dua siang dan mencoba merumuskannya dan yang keluar adalah:
“Dia terlalu baik.”
Vinka menatapku.
“Kak.”
“Aku tahu gimana kedengarannya.”
“Lo denger sendiri nggak sih barusan?”
“Vin, dengerin.” Aku memutar badan ke arahnya. “Dua minggu lalu dia ngasih aku kunci dan dia nggak ngasih aku apa-apa lagi selama seminggu. Karena emang gitu orangnya. Dia ngasih sesuatu terus dia berhenti karena dia mikir kebanyakan.”
“Terus?”
“Terus dua minggu terakhir dia ngasih terus.” Aku menghitung dengan jari. “Keran. Bantal. Masak dua kali. Dia benerin engsel pintu lemari yang aku bahkan nggak tahu rusak.”
Vinka membuka mulutnya lalu menutupnya lagi.
“Orang nggak berubah kayak gitu tanpa alasan, Vin.”
Kami duduk di van yang berjalan pelan di Jalan Rasuna Said selama sekitar setengah menit.
“Kak,” kata Vinka akhirnya, dengan suara yang berbeda. “Lo mikir dia lagi ngerasa bersalah?”
Dan aku tidak menjawab, karena jawabannya iya, dan karena mengucapkannya akan membuatnya jadi nyata.
Vinka tidak mengejar. Dia melakukan sesuatu yang lebih baik: dia mengganti topik.
“Gue Rabu kemarin dibikinin makan malem.”
“Sama Gilang?”
“Sama siapa lagi, Kak.”
“Vin, kamu ke sana tiap Rabu selama sebulan.”
“Lima minggu.”
“Lima minggu.” Aku menoleh. “Dan kalian belum ngomongin apa-apa?”
“Ngomongin banyak.”
“Vinka.”
“Kak, kita ngomongin banyak hal!” Dia melambaikan tangan. “Dia cerita soal bapaknya. Gue cerita soal semua mantan gue, semuanya, sampe yang SMP. Dia dengerin empat jam.”
“Dan?”
“Dan dia belum pernah nyentuh gue sekali pun.”
Aku menatapnya.
“Sekali pun?”
“Nol.” Vinka menatap ponselnya. “Kak, gue tuh biasanya yang ngendaliin. Semua hubungan gue, gue yang ngatur temponya. Ini gue nggak bisa ngapa-ngapain.”
“Kamu bisa mulai duluan.”
“Gue tahu.” Dia mengangkat bahu. “Tapi gue udah lupa sepuluh tahun. Gue mau dia yang inget.”
Dan aku duduk di van di Jalan Rasuna Said dan tidak berkata apa-apa, karena aku sedang mendengar versi diriku sendiri berumur delapan belas tahun berbicara dari kursi sebelah, dan karena aku tahu persis bagaimana akhirnya kalau kamu menunggu.
“Vin.”
“Hm.”
“Jangan nunggu terlalu lama.”
Vinka menoleh.
“Kak.”
“Aku serius.”
“Kak, lo lagi ngomong ke gue apa ke diri lo sendiri?”
Yang kedua adalah tangannya.
Aku hampir tidak mau menuliskan ini, karena kedengarannya seperti orang gila.
Tapi ada cara tertentu tangan seseorang melepaskan tanganmu.
Ada lepas yang isinya “aku mau ambil gelas”. Ada lepas yang isinya “posisi ini pegel”. Ada lepas yang isinya “aku ketiduran”.
Dan ada lepas yang datang sekitar sepersekian detik sebelum ada alasannya.
Aku mulai memperhatikannya sekitar hari kelima.
Setelah itu aku tidak bisa berhenti memperhatikannya, yang membuat semuanya jauh lebih buruk, karena sekarang aku tidak tahu apakah aku sedang membaca sesuatu atau sedang membuatnya.
Dua kali aku hampir bertanya.
Yang pertama di mobil, dan aku sudah membuka mulut, dan lampu berubah hijau dan dia harus jalan dan momennya lewat.
Yang kedua di kasur, jam dua pagi, dan aku bilang “kamu lagi mikirin sesuatu” dan dia bilang “nanti”.
Dan aku bilang oke.
Aku bilang oke.
Aku akan menghabiskan berminggu-minggu setelahnya bertanya-tanya kenapa aku bilang oke, dan jawabannya — jawaban yang jujur, yang tidak enak, yang butuh waktu lama untuk kuakui — adalah bahwa sebagian kecil dari diriku tidak ingin tahu.
Karena selama aku tidak tahu, dua minggu itu masih dua minggu terbaik.
Hari Jumat, minggu kedua, aku ke kantor mereka untuk sesi terakhir kampanye.
Kantor itu sudah terasa berbeda. Aku bisa merasakannya dari lift. Meja-meja masih penuh, orang-orang masih bekerja, tapi ada sesuatu di suara ruangan yang lebih rendah dari sebelumnya, seperti musik yang volumenya diturunkan satu takik.
Airin menyambutku di lantai dua puluh dua.
“Ini yang terakhir?”
“Yang terakhir.” Aku menyalaminya. “Terima kasih ya, Rin. Buat semuanya.”
“Aku yang terima kasih.” Dia menahan tanganku sedikit lebih lama dari yang wajar. “Freya.”
“Ya?”
Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajah perempuan itu. Sesuatu yang berlangsung mungkin satu detik: sebuah kalimat yang naik ke atas, dipertimbangkan, dan dikembalikan.
“Nggak,” katanya. “Nanti aja.”
“Rin.”
“Sesi kamu jam berapa?”
“Rin.”
“Freya,” katanya, dan dia tersenyum, dan senyumnya adalah senyum yang kupakai untuk klien. “Bukan tempat aku.”
Dia berjalan pergi.
Dan aku berdiri di koridor lantai dua puluh dua dengan tangan dingin dan mengerti, dengan sangat jelas, bahwa ada sesuatu yang diketahui oleh orang-orang di gedung ini dan tidak diketahui olehku.
Devan keluar dari ruang rapat pukul empat lewat dua puluh.
Dia tidak melihatku. Aku berdiri di ujung koridor yang lain, di dekat pantry, di balik tiang.
Dia menutup pintu ruang rapat, memindahkan laptop dari tangan kanan ke tangan kiri, dan berjalan.
Dan aku melihatnya.
Aku melihatnya dari jarak sekitar tiga puluh meter dan aku mengenalinya seperti orang mengenali suara ibunya di keramaian.
Panjang langkahnya berubah.
Menjadi rata. Terlalu rata. Seperti orang yang sedang mengukur lantai.
Kepalanya sedikit menunduk. Tangan kirinya memegang laptop terlalu erat.
Dia menghitung.
Aku berdiri di balik tiang itu dan menghitung bersamanya, karena aku tahu ritmenya, karena aku pernah berjalan di sebelah orang ini selama delapan bulan di gang belakang kompleks guru dan aku hafal kapan langkahnya berubah.
Satu. Dua. Tiga.
Koridor itu empat puluh meter.
Sepuluh. Sebelas. Dua belas.
Dia lewat depan pantry. Dia tidak menoleh.
Dua puluh. Dua puluh satu.
Dan aku ingat, dengan sangat jelas, berdiri di ujung koridor yang sama sekitar sebelas minggu lalu dan melihat orang yang sama berjalan seperti ini, dan berhenti, dan mendongak, dan menemukan aku sedang menatap kakinya.
Waktu itu dia berhenti di angka tiga puluh satu.
Waktu itu dia melihatku.
Tiga puluh. Tiga puluh satu.
Dia tidak berhenti.
Tiga puluh dua. Tiga puluh tiga. Tiga puluh empat.
Dia berjalan terus sampai ujung koridor, membuka pintu tangga darurat — tangga darurat kami, yang tidak ada kameranya, tempat kami duduk berdua di anak tangga keempat dari atas pada hari pertama kami pacaran —
dan masuk sendirian, dan menutup pintunya.
Aku berdiri di balik tiang itu selama sekitar satu menit.
Lalu aku berjalan ke sesi terakhirku, dan aku bekerja selama tiga jam, dan aku melakukannya dengan sangat baik, karena aku selalu melakukannya dengan sangat baik.
Reza tidak menurunkan kameranya sekali pun untuk bertanya apakah aku baik-baik saja.
Aku bagus. Aku sangat bagus hari itu.
Malamnya Devan datang jam sepuluh dan memakai kuncinya dan membawa makanan dan bertanya apakah leherku masih sakit.
Aku bilang tidak.
Aku mencium pipinya dan bilang terima kasih untuk bantal.
Dan aku tidak bertanya apa-apa, untuk ketiga kalinya, dan aku tidur di sebelahnya dengan mata terbuka di dalam gelap sampai lewat pukul dua.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu reading
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur