Chapter Eleven
Nomor Tujuh Belas
POV: Devan — SMA, 2015
Bu Yanti menuliskan soal itu di papan pada hari Jumat, sepuluh menit sebelum bel, dengan nada yang bukan nada mengajar.
“Ini bukan buat ulangan,” katanya. “Ini soal olimpiade tingkat provinsi tahun lalu. Nomor tujuh belas.”
Kelas tidak bereaksi. Kelas sedang membereskan tas.
“Yang bisa ngerjain, saya kasih apa ya.” Dia mengetuk spidol ke telapak tangannya. “Saya kasih nilai tambah. Sepuluh poin.”
Empat orang berhenti membereskan tas.
“Kapan dikumpulnya, Bu?”
“Kapan aja.” Bu Yanti menaruh spidol. “Kalau ada yang bisa.”
Dia mengucapkan tiga kata terakhir itu dengan cara tertentu, dan aku mengangkat kepala, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang membuatku langsung mengerti.
Bu Yanti tidak bisa mengerjakannya.
Bukan karena dia tidak pintar; dia guru terbaik di sekolah itu. Tapi soal olimpiade bukan soal yang lebih sulit — soal olimpiade adalah soal yang bentuknya lain, dan orang yang mengajar hal yang sama selama dua puluh tahun kehilangan kebiasaan melihat bentuk lain.
Dia menuliskannya di papan bukan untuk menantang kami.
Dia menuliskannya karena soal itu mengganggunya, dan dia ingin ada orang lain di ruangan yang juga terganggu.
Aku menyelesaikannya di kepalaku sebelum bel berbunyi.
Bukan seluruhnya. Aku menemukan jalannya — bagian yang membuat soal itu terlihat mustahil ternyata cuma cara penulisan, dan begitu kamu menuliskannya ulang dari sisi lain, sisanya jatuh sendiri.
Butuh sekitar empat menit.
Bel berbunyi. Aku memasukkan buku ke tas dan pergi.
Dan sepanjang tiga kilometer jalan pulang, soal itu duduk di kepalaku seperti kerikil di sepatu.
Aku tidak menuliskannya di rumah. Aku punya aturan tentang itu.
Aturannya begini: menyelesaikan sesuatu di dalam kepala tidak apa-apa. Kepala tidak meninggalkan bukti. Yang berbahaya adalah kertas.
Aku bertahan selama empat hari.
Hari Selasa, jam istirahat kedua, kelas kosong.
Semua orang ke kantin. Aku tinggal karena aku selalu tinggal, karena kantin butuh uang dan aku punya bekal, dan karena dua puluh menit sendirian di ruangan adalah hal yang paling kubutuhkan setiap hari.
Papan tulis belum dihapus. Soal nomor tujuh belas masih di sana, di sudut kanan bawah, di bawah lapisan tulisan lain.
Aku duduk selama enam menit sambil menatapnya.
Lalu aku mengambil kertas bekas dari tas — bagian belakang lembar ulangan yang sudah dibagikan — dan aku menulis.
Aku tidak akan berpura-pura itu tidak menyenangkan.
Itu adalah hal paling menyenangkan yang kulakukan sepanjang tahun itu. Empat belas baris. Tidak ada langkah yang mubazir. Bagian tengahnya punya satu belokan yang begitu rapi sampai aku berhenti sebentar hanya untuk melihatnya, seperti orang yang berhenti di tengah tangga untuk melihat ke belakang.
Aku menyelesaikannya dalam sebelas menit.
Lalu aku duduk memandanginya selama satu menit penuh, dengan perasaan yang tidak kupunya nama untuknya, dan yang bertahun-tahun kemudian baru bisa kusebut dengan benar:
Aku merindukannya.
“Itu apa?”
Aku tidak mendengar pintu.
Aku tidak pernah tidak mendengar pintu. Aku selalu mendengar pintu. Itu satu-satunya alasan strategiku bertahan selama tiga tahun.
Freya berdiri di ujung deretan bangku dengan roti di tangan dan kepala miring, dan aku tidak tahu sudah berapa lama.
Dan tanganku bergerak sebelum kepalaku sempat memberi pendapat.
Aku meremas kertas itu.
Bukan melipat. Meremas, dengan satu tangan, jadi bola, dan memasukkannya ke saku, dalam waktu mungkin satu setengah detik.
Ruangan sunyi.
Freya menatap tanganku, lalu wajahku, dan aku melihat sesuatu di wajahnya berubah dengan sangat cepat: dari penasaran, ke bingung, ke sesuatu yang jauh lebih tajam.
“Devan.”
“Itu nggak penting.”
“Kamu baru aja ngeremes kertas.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Coretan.”
“Devan.”
Aku berdiri dan mengambil tasku, dan itu adalah kesalahan, karena berdiri dan mengambil tas adalah gerakan yang artinya cuma satu hal, dan dia membacanya dalam sepersekian detik.
Dia menyeberangi ruangan dalam empat langkah dan menangkap pergelangan tanganku.
Bukan lengan bajuku. Pergelangan tangan. Kulit ke kulit, jari-jarinya melingkar penuh, dan pegangannya jauh lebih kuat dari yang bisa kubayangkan dari orang seukurannya.
Seluruh sisi kiri tubuhku berhenti berfungsi.
“Nggak,” katanya.
“Freya—”
“Nggak. Kamu nggak kabur.” Dia tidak melepaskan. “Aku udah lihat kamu ngelakuin ini dua kali. Di perpustakaan, waktu aku nanya kamu pinter apa nggak. Terus tadi. Kamu tuh selalu ngambil tas.”
“Aku emang mau ke—”
“Ke mana?”
Aku tidak punya jawaban.
Dia melepaskan pergelangan tanganku — pelan, bukan seperti orang yang menyerah, seperti orang yang menaruh sesuatu yang tidak ingin dia jatuhkan — dan menyodorkan telapak tangannya.
“Kasih,” katanya.
“Nggak.”
“Devan.”
“Nggak.”
Kami berdiri di sana. Dua puluh menit istirahat tinggal enam. Dari luar terdengar suara anak-anak dan bola.
Dan dia melakukan sesuatu yang tidak kuperhitungkan sama sekali.
Dia menurunkan tangannya. Dia mundur satu langkah. Dan dia berkata, dengan suara yang lebih pelan:
“Ya udah.”
“...ya udah?”
“Iya. Kalau kamu nggak mau, ya udah.” Dia menarik kursi dan duduk di bangku depan, menghadapku, dengan roti masih di tangan. “Tapi aku duduk di sini sampai bel.”
“Kenapa?”
“Karena kamu kelihatan kayak orang yang nggak boleh ditinggal sendirian sekarang.”
Dan itu — bukan tarikan di pergelangan tangan, bukan tuntutan, bukan pertanyaan — itu yang membuat tanganku masuk ke saku.
Aku mengeluarkan bola kertas itu. Aku membukanya di atas meja dan mencoba meratakannya dengan telapak tangan, yang tidak berhasil, karena kertas yang sudah diremas tidak pernah kembali.
Aku mendorongnya ke arahnya.
Dia membacanya lama sekali.
Aku tahu dia tidak mengerti isinya. Bab yang dipakai di situ tidak akan diajarkan sampai kelas dua belas, dan sebagian tidak akan diajarkan sama sekali.
Tapi dia membaca setiap baris, dari atas ke bawah, dengan jari mengikuti, dan dia tidak berpura-pura mengerti, dan dia tidak sekali pun berkata “wah”.
Lalu dia mengangkat kepala.
“Ini soal yang di papan.”
“Iya.”
“Yang kata Bu Yanti dari olimpiade.”
“Iya.”
“Kamu bisa.”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Hari Jumat.”
Dia berkedip.
“Jumat yang mana?”
“Jumat waktu ditulis.”
“Devan, itu empat hari yang lalu.”
“Iya.”
“Kamu bisa dari hari itu dan kamu nggak bilang siapa-siapa selama empat hari.”
Aku tidak menjawab.
Freya meletakkan kertas itu dan menyandarkan punggung ke bangku, dan menatap langit-langit selama beberapa detik.
“Nilai kamu tujuh puluh delapan,” katanya.
“Iya.”
“Terus?”
“Terus itu bagus.”
“Devan.”
“Tujuh delapan itu bagus,” kataku, dan aku mendengar suaraku sendiri jadi lebih cepat dari biasanya. “Nggak ada yang nanya. Nggak ada yang ngarep. Nggak ada yang kecewa.”
Dan begitu kalimat terakhir keluar, aku tahu aku sudah kelewatan.
Ruangan sunyi lagi.
“Kecewa,” ulangnya.
Aku menceritakannya dalam empat menit.
Itu pertama kalinya aku menceritakannya pada siapa pun, dan ternyata seluruh peristiwa yang mengatur seluruh hidupku bisa muat dalam empat menit, yang membuatnya terasa jauh lebih kecil dan jauh lebih memalukan daripada di dalam kepala.
Umur tiga belas. Olimpiade tingkat nasional. Ayahku yang mendaftarkan, mengantar, melatih, dan menempelkan jadwal latihan di pintu kulkas.
Gedung ber-AC. Karpet biru. Dua ratus meja.
Panggung untuk babak final, delapan orang, dengan papan dan spidol dan penonton yang duduk di kursi lipat.
Dan aku, berdiri di depan papan selama dua belas menit, dengan spidol di tangan, dan kepala yang benar-benar kosong. Bukan panik. Bukan lupa. Kosong. Seperti ruangan yang lampunya dimatikan dari luar.
Aku turun tanpa menulis satu huruf pun.
“Terus ayah kamu bilang apa?”
“Nggak bilang apa-apa.”
“Nggak marah?”
“Nggak.”
“Nggak ngomong sama sekali?”
“Di mobil dia nyetel radio,” kataku. “Sampai rumah dia bilang ‘ya udah’.”
Freya tidak bergerak.
“Terus empat bulan kemudian dia pindah,” kataku. “Ke luar kota. Kerjaan. Itu emang udah direncanain dari sebelumnya, sebenernya. Ibuku bilang gitu.”
“Kamu percaya?”
“Aku percaya.”
“Devan.”
“Aku percaya,” ulangku. “Aku udah ngitung. Waktunya nggak nyambung. Nggak ada hubungannya.”
Freya menatapku sangat lama.
“Kamu udah ngitung,” katanya.
“Iya.”
“Berapa kali?”
Dan aku tidak menjawab itu, karena jawabannya adalah bahwa aku menghitungnya hampir setiap malam selama empat tahun, dan bahwa hasilnya selalu sama, dan bahwa hasilnya tidak pernah sekali pun membantu.
Bel berbunyi. Anak-anak mulai masuk. Suara kursi dan tas dan tiga puluh dua percakapan sekaligus.
Freya menggeser kertas itu kembali ke arahku sebelum ada yang melihat.
“Devan.”
“Hm.”
“Boleh aku nanya satu hal bodoh?”
“Boleh.”
“Kalau kamu ngerjain soal kayak gitu,” katanya, pelan, sambil melihat ke pintu, “rasanya gimana?”
Aku menatapnya.
Dalam empat tahun, tidak ada satu orang pun yang menanyakan itu. Orang menanyakan bagaimana caranya. Orang menanyakan apakah aku les. Orang menanyakan kenapa aku tidak ikut lomba. Tidak ada yang menanyakan rasanya.
“Kayak ruangan yang lampunya nyala,” kataku.
Dia tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Oh,” katanya akhirnya.
Dan dia mengucapkan “oh” itu dengan cara yang sama sekali berbeda dari caraku mengucapkannya. Caraku “oh” berarti pintu ditutup. Caranya berarti sesuatu baru saja diletakkan di suatu tempat dan tidak akan diambil lagi.
Dan inilah yang tidak dia lakukan, dan inilah kenapa segalanya berubah pada hari Selasa itu:
Dia tidak bilang “kamu harus coba lagi”.
Dia tidak bilang itu sayang banget. Dia tidak bilang bakat kamu terbuang. Dia tidak bilang ayah kamu pasti bangga sekarang. Dia tidak menawarkan untuk membicarakannya dengan Bu Yanti. Dia tidak berkata satu pun dari sembilan kalimat yang sudah kususun bantahannya selama empat tahun.
Yang dia lakukan cuma satu.
Dia melipat kertas itu — rapi, dua kali, jadi seperempat — dan menaruhnya di atas mejaku, dan berkata:
“Simpen.”
“Kenapa?”
“Karena itu bagus.” Dia berdiri dan mengambil rotinya. “Nggak usah ditunjukin ke siapa-siapa. Nggak usah dikumpulin. Cuma jangan diremes lagi.”
Dia berjalan ke bangkunya di kiri belakang.
Aku duduk di pojok kanan depan dengan seperempat lembar kertas bekas di bawah telapak tanganku selama empat puluh lima menit pelajaran berikutnya.
Gilang menendang kursiku pada menit kesepuluh.
“Dev.”
“Hm.”
“Lo tadi berdua doang di kelas sama anak baru.”
“Iya.”
“Dua puluh menit.”
“Empat belas.”
“Lo ngitung.”
“Iya.”
Gilang diam beberapa saat, dan aku bisa mendengar dia menyusun sesuatu.
“Dev, gue mau bilang satu hal, terus gue diem sampai pulang.”
“Oke.”
“Gue nggak tahu lo lagi ngapain,” bisiknya. “Tapi muka lo abis keluar kelas tadi tuh beda.”
“Beda gimana?”
“Beda kayak orang abis ketahuan.”
Aku tidak menoleh.
“Ketahuan apa?”
“Nah itu,” kata Gilang. “Gue juga nggak tahu. Tapi lo ketahuan.”
Dia menepati janjinya dan diam sampai pulang, yang merupakan rekor pribadinya sejak kelas satu, dan aku menghabiskan empat puluh lima menit berikutnya menatap papan tulis yang sudah dihapus.
Aku menyimpannya.
Aku masih menyimpannya sekarang, sepuluh tahun kemudian, di dalam paspor lama, di laci apartemen dua puluh delapan meter di kota yang jaraknya empat belas jam dari sini.
Dan aku tidak pernah menceritakan itu pada siapa pun juga.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas reading
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur