← Jangan Pergi

Chapter Five

Jaket

POV: FreyaSMA, 2015

Bab lima sampai tujuh selesai dalam tiga minggu.

Aku tahu persis kapan selesainya karena aku ingat sore itu — Devan menutup buku, bilang “udah, kamu udah nyusul”, dan mulai memasukkan pensil ke tempatnya dengan kecepatan orang yang punya urusan lain.

Dan aku, dengan seluruh martabat seorang perempuan tujuh belas tahun, berkata:

“Bab delapan gimana?”

“Bab delapan belum diajarin.”

“Ya makanya. Biar aku duluan.”

Dia menatapku selama satu detik. Selalu satu detik. Aku sudah mulai menghitungnya waktu itu, walaupun aku belum mau mengakui pada diriku sendiri bahwa aku menghitung.

“Oke,” katanya.

Dan itulah bagaimana les yang seharusnya tiga minggu berubah jadi sesuatu yang tidak punya tanggal selesai.


“Lo tuh kenapa sih akhir-akhir ini?” tanya Vinka, di kantin, sambil mengaduk es teh dengan sedotan sampai gelasnya berbunyi.

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Lo pulang jam setengah enam terus.”

“Belajar.”

“Freya.” Vinka meletakkan sedotannya. “Nilai lo naik dua puluh poin. Dua puluh. Itu bukan belajar lagi, itu kesurupan.”

“Berarti bagus dong.”

“Bagus banget. Gue seneng. Gue mau nangis.” Dia menyipitkan mata. “Tapi gue juga mau tahu kenapa lo pulang sambil senyum-senyum kayak abis nemu duit.”

“Aku nggak senyum-senyum.”

“Lo lagi senyum sekarang.”

Aku berhenti senyum.

“Ya ampun,” kata Vinka, pelan, dengan nada seseorang yang baru saja memahami struktur alam semesta. “Ya ampuuuun.”

“Vin—”

“Siapa?”

“Nggak ada.”

“Ada.”

“Nggak ada.”

“Ada, dan gue bakal cari tahu, dan waktu gue nemu gue bakal teriak di depan mukalo.” Vinka mengambil kembali sedotannya dengan puas. “Gue kasih waktu seminggu buat lo ngaku duluan. Setelah itu tarifnya naik.”

Aku tidak mengaku, dan tarifnya memang naik, dan sepuluh tahun kemudian dia masih menagihnya sesekali.


Yang tidak kuceritakan pada Vinka waktu itu — yang tidak kuceritakan pada siapa pun, termasuk pada diriku sendiri sampai bertahun-tahun kemudian — adalah bahwa aku mulai melakukan hal-hal kecil yang tidak ada hubungannya dengan matematika.

Aku mulai datang jam empat kurang sepuluh, supaya bisa duduk duluan dan melihat dia masuk.

Aku mulai memperhatikan bahwa dia selalu membawa dua pensil dan hanya memakai satu, dan bahwa yang satunya ada di sana untukku, dan bahwa dia tidak pernah menyebutkannya.

Aku mulai menyimpan pertanyaan.

Ini bagian yang paling memalukan. Kalau ada hal yang tidak kupahami di kelas jam sembilan pagi, aku tidak bertanya pada guru. Aku menuliskannya di sudut buku, dan aku menunggu sampai jam empat sore, dan aku menanyakannya di perpustakaan tanpa AC pada satu-satunya orang di sekolah itu yang menjawabnya tanpa membuatku merasa bodoh.

Ada delapan pertanyaan yang kusimpan lebih lama dari yang perlu, semata-mata karena aku ingin punya alasan.

Dan aku ingat satu sore, awal Oktober, waktu dia menjelaskan sesuatu sambil menggambar di kertas bekas, dan tanganku sedang menopang dagu, dan aku sadar aku sudah tidak mendengarkan selama entah berapa lama.

Aku sedang melihat tangannya.

Aku menegakkan badan begitu cepat sampai kursinya berdecit.

“Kenapa?” tanyanya.

“Kaki aku kesemutan.”

“Oh.”

Dia kembali menggambar. Aku menatap kertas dengan mata yang tidak melihat apa pun selama satu menit penuh.

Kalau ada satu momen yang bisa kutunjuk sebagai awalnya, mungkin itu. Bukan hujan. Bukan jaket. Sore biasa di awal Oktober, kertas bekas, dan seorang perempuan tujuh belas tahun yang berbohong soal kesemutan.


Hujannya turun Kamis sore, jam lima kurang sepuluh, dan bukan hujan yang sopan.

Kami sedang di soal terakhir waktu suaranya mulai — bunyi seperti seseorang menumpahkan beras ke atap seng perpustakaan, keras sekali, sampai kipas dinding kalah.

“Wah,” kata Devan.

“‘Wah.’”

“Iya.”

“Kamu tuh kalau ada gempa juga bilangnya ‘wah’ ya.”

“Kemungkinannya besar.”

Kami menunggu di teras perpustakaan sepuluh menit, lalu lima belas, lalu berhenti menghitung. Sekolah kosong. Satpam sudah pindah ke pos depan. Air di halaman naik sampai menutupi seluruh garis lapangan basket, dan angin membawa kabut halus yang membuat lengan basah walaupun kami berdiri di bawah atap.

“Angkotmu lewat mana?” tanyanya.

“Depan. Halte.”

“Ayo.”

“Kamu mau nganter?”

“Aku mau mastiin kamu nggak berdiri di sana sendirian.”

Dia mengucapkannya seperti mengumumkan cuaca. Tanpa penekanan, tanpa melihat ke arahku, sambil menaikkan tas ke bahu.

Aku sudah mendengar kalimat yang jauh lebih manis dari itu, dari orang-orang yang jauh lebih tampan, dengan persiapan yang jauh lebih matang.

Tidak ada satu pun yang membuat kakiku berhenti selama setengah detik di teras perpustakaan.


Halte di depan sekolah kami itu bukan halte. Itu atap seng di atas dua bangku beton, dan sisi terbukanya menghadap ke arah angin, yang berarti pada hari hujan halte itu berfungsi persis sebagai tempat orang basah dengan lebih pelan.

Kami lari dua puluh meter dari gerbang dan tetap basah.

Aku menyeka wajahku dengan lengan seragam yang juga basah, yang tidak menyelesaikan apa pun, dan menyadari terlalu terlambat bahwa seragam putih dan hujan adalah kombinasi yang membuat perempuan tujuh belas tahun ingin menghilang.

Aku menyilangkan tangan di depan dada.

Dan tanpa sepatah kata pun, tanpa menoleh, tanpa berkomentar, tanpa melakukan satu pun hal yang akan membuatku merasa diperhatikan dengan cara yang salah — Devan membuka tasnya dan mengeluarkan jaketnya.

Jaket sekolah biasa. Abu-abu, kancing depan, ada bekas jahitan di siku kanan yang jelas-jelas bukan kerjaan tukang.

Dia menyodorkannya sambil melihat ke arah jalan.

Aku menerimanya, dan pada saat serah terima itu, buku jariku menyentuh punggung tangannya.

Setengah detik. Kulit ke kulit, di bawah atap seng, dengan suara hujan yang cukup keras untuk menutupi apa pun.

Kami berdua tidak bereaksi sama sekali. Sama sekali. Tidak ada yang menarik tangan, tidak ada yang bilang “eh”, tidak ada yang menoleh. Dua orang profesional.

Tapi dia berhenti bicara selama satu menit penuh setelah itu, dan aku menghabiskan satu menit itu memakai jaket dengan kancing yang tiba-tiba jadi sangat rumit.

Jaketnya kebesaran. Tentu saja kebesaran. Lengannya menutupi setengah telapak tanganku, dan baunya seperti sabun cuci murah dan sedikit seperti kertas.

“Kamu nggak dingin?” tanyaku akhirnya.

“Nggak.”

“Bohong.”

“Aku jalan kaki tiga kilo. Nggak akan sempet dingin.”

“Kamu jalan kaki?”

Dia mengangkat bahu, dan aku mendadak mengerti banyak hal sekaligus: kenapa dia selalu pergi paling akhir, kenapa dia tidak pernah ikut kalau anak-anak patungan es kelapa, kenapa dia bilang “terserah” untuk semua hal yang harganya lebih dari dua ribu rupiah.

Dan aku tidak berkomentar, karena aku tahu persis bagaimana rasanya kalau ada yang berkomentar.

Ibuku menjahit sampai jam sebelas malam sejak Februari. Adikku, sebelas tahun, sudah tahu cara bilang “nggak usah, Kak” dengan nada yang membuatku ingin membanting sesuatu. Rumah kami wangi kain baru dan kami tidak punya satu pun baju baru.

Jadi kami berdiri di sana. Dua orang yang sama-sama tidak berkomentar.

Air menetes dari ujung atap seng dalam garis yang hampir lurus. Sebuah motor lewat pelan-pelan di tengah genangan, membelah air jadi dua sayap, dan pengendaranya memakai jas hujan warna kuning yang sudah sobek di punggung.

“Enam ratus dua puluh,” kata Devan tiba-tiba.

“Apa?”

“Tetesan. Dari ujung atap situ.” Dia menunjuk dengan dagu. “Per menit.”

Aku menoleh penuh, untuk pertama kalinya sore itu.

“Kamu ngitungin tetesan air?”

“Nggak semuanya. Sepuluh detik, terus dikali enam.”

“Kenapa?”

Dia diam agak lama.

“Kebiasaan,” katanya.

“Kebiasaan yang aneh.”

“Iya.”

“Aku suka.” Aku menarik lengan jaketnya lebih ke bawah. “Lanjutin.”

“Apanya?”

“Ngitung sesuatu. Yang lain.”

Dia menoleh sedikit, seperti sedang memeriksa apakah aku mengejeknya. Aku membiarkan wajahku terbuka sepenuhnya, yang merupakan hal yang paling jarang kulakukan pada siapa pun.

“Dua puluh tiga,” katanya akhirnya.

“Apa itu?”

“Genteng yang pecah di atap ruang guru. Kelihatan dari lapangan.”

“Kamu ngitungin genteng pecah?”

“Nggak sengaja.”

“Devan.”

“Hm.”

“Menurut aku itu bukan kebiasaan,” kataku. “Menurut aku kepala kamu nggak bisa diem, terus kamu kasih dia kerjaan biar nggak berisik.”

Dan untuk kedua kalinya sore itu, dia berhenti bicara lebih lama dari yang wajar.

“Freya.”

“Hm.”

“Kenapa kamu nanya ‘kenapa’ terus?”

Aku menoleh. Dia masih melihat ke jalan.

“Maksudnya?”

“Waktu belajar. Kamu selalu nanya kenapa. Orang lain nggak.”

“Karena kalau aku nggak tahu kenapanya, aku bakal lupa besoknya.” Aku memasukkan tangan lebih dalam ke lengan jaketnya. “Otakku nggak bisa nyimpen barang yang nggak ada gunanya.”

“Itu bukan otak yang jelek.”

“Itu otak yang lambat.”

“Nggak.” Dia menggeleng sekali. “Itu otak yang cuma mau bawa barang yang dia ngerti. Orang yang hafal tanpa ngerti itu jalan lebih cepet, tapi begitu jalannya belok, mereka jatuh.”

Hujan berisik sekali. Aku mendengar setiap kata.

“Devan.”

“Hm.”

“Kamu tuh sebenernya pinter banget ya.”

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Cepat sekali, kurang dari satu detik, seperti pintu yang tertutup sebelum kamu sempat melihat isi ruangannya.

“Nggak,” katanya.

“Nggak?”

“Aku cuma banyak waktu.”

Angkotku datang enam menit kemudian.


Aku duduk di angkot dengan seragam basah dan jaket yang sepenuhnya kering, dan supirnya menyetel dangdut, dan aku menatap keluar jendela ke arah seorang anak laki-laki yang mulai berjalan pulang di bawah hujan tanpa jaket, tiga kilometer, dengan tas dipeluk di depan dada supaya bukunya tidak basah.

Dia tidak menoleh ke arah angkotku.

Sepuluh tahun kemudian aku baru tahu bahwa dia menunggu sampai angkotnya benar-benar tidak kelihatan sebelum mulai berjalan, dan bahwa dia melakukan itu setiap kali, dan bahwa dia tidak pernah bisa menjelaskan kenapa.


Aku sampai rumah jam setengah tujuh. Ibu sedang di mesin jahit. Sena sedang mengerjakan PR di lantai.

Rumah kami waktu itu terdiri dari tiga ruangan dan satu mesin jahit yang bunyinya jadi latar belakang semua kenangan yang kupunya dari tahun itu. Kalau bunyinya berhenti lebih dari sepuluh menit, artinya Ibu sedang menangis di kamar mandi, dan aku dan Sena punya kesepakatan tak tertulis untuk pura-pura tidak tahu.

Malam itu mesinnya jalan terus. Bagus.

“Kak, jaketnya siapa?” tanya Sena, tanpa mengangkat kepala.

“Temen.”

“Temen cowok?”

“PR kamu masih delapan nomor.”

Sena kembali ke PR-nya dengan senyum yang sangat menyebalkan untuk anak sebelas tahun.

Ibu tidak bertanya apa-apa. Ibu tidak pernah bertanya apa-apa. Tapi aku menangkap dia melihat jaket itu dari sudut matanya, sekali, sambil tangannya terus mendorong kain di bawah jarum.

“Ganti baju, Kak,” katanya. “Nanti masuk angin.”

Malam itu aku menggantung jaket itu di balik pintu kamarku supaya kering.

Besoknya aku tidak mengembalikannya.

Aku membawanya ke sekolah — betulan, ada di tas, aku bahkan sudah memasukkannya sejak subuh — dan sepanjang hari aku menunggu momen yang tepat, dan momen yang tepat datang tiga kali, dan tiga kali aku membiarkannya lewat.

Hari kedua aku tidak membawanya.

Hari ketiga aku berhenti berpura-pura pada diriku sendiri.

Dia tidak pernah menanyakannya. Tidak sekali pun, tidak dalam delapan bulan berikutnya, tidak di hari terakhir. Dan aku tidak pernah tahu apakah itu karena dia lupa, atau karena dia sopan, atau karena — dan ini kemungkinan yang tidak berani kupikirkan sampai jauh, jauh kemudian — dia sengaja.

Jaket itu masih ada.

Digantung, di lemari, di apartemen dua kamar di Jakarta Selatan, di antara barang-barang yang harganya seribu kali lipat.

Aku pindah rumah empat kali dalam sepuluh tahun.

Setiap kali, aku membawanya.