Chapter Thirty Three
Teras
POV: Devan — SMA, 2016
Aku sudah tahu empat hari sebelumnya.
Itu bagian yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, termasuk pada Freya, termasuk sepuluh tahun kemudian ketika dia duduk di sebuah balok beton di basement dan memberitahuku bahwa dia menghabiskan sepuluh tahun mengira dia ditolak.
Aku sudah tahu empat hari sebelumnya, dan aku tidak menanyakannya sekali pun, dan aku menghabiskan empat hari itu menyiapkan dua jawaban.
Beginilah caraku tahu.
Hari Senin, dia tidak ada di gang belakang kompleks guru.
Itu terjadi kira-kira lima kali dalam delapan bulan, dan setiap kali ada alasannya, dan setiap kali dia memberitahuku sebelumnya. Hari Senin itu tidak ada pemberitahuan.
Hari Selasa dia ada, dan dia bicara lebih banyak dari biasanya.
Ini bagian yang tidak akan dimengerti orang yang tidak mengenalnya. Freya Anindita adalah orang yang bicara banyak. Tapi ada dua jenis banyaknya. Yang satu isinya dia; yang satu lagi isinya hal-hal.
Hari Selasa dia bercerita tentang hal-hal selama dua puluh empat menit tanpa berhenti — tentang guru, tentang Vinka, tentang seekor kucing yang menurutnya sudah ganti, dan tidak ada satu pun kalimat yang dimulai dengan “aku”.
Hari Rabu dia menggenggam tanganku lebih erat dari biasanya di gang, dan tidak melepaskannya di meter delapan ratus seperti biasa. Dia melepaskannya di meter sembilan ratus lima puluh, hampir sampai jalan besar, di tempat orang bisa lihat.
Hari Kamis, Vinka melewatiku di lorong dan tidak menyapa.
Vinka selalu menyapa. Vinka menyapa tembok.
Aku menghitung selama empat hari.
Kemungkinan-kemungkinannya tidak banyak. Anak kelas dua belas, bulan Agustus, keluarga yang aku tahu bentuk kesulitannya walaupun aku tidak tahu angkanya, dan seorang sahabat yang tiba-tiba tidak bisa menatapku.
Aku sampai pada dua kemungkinan pada hari Rabu malam.
Yang pertama: dia pindah sekolah.
Yang kedua: dia berhenti sekolah dan bekerja.
Aku salah pada dua-duanya, tapi bentuk umumnya benar, dan yang penting bagi cerita ini adalah bahwa aku sudah tahu bentuknya sebelum dia mengucapkannya.
Dan begitu aku tahu bentuknya, aku mulai menyiapkan jawaban.
Aku menyiapkan dua.
Jawaban pertama kutulis pada hari Rabu malam, di kamar, di balik lembar ulangan bekas, dengan pensil, dalam waktu sekitar satu jam.
Isinya begini.
Aku tidak akan kuliah tahun depan. Aku akan mengambil satu tahun. Aku akan pindah ke Jakarta dan bekerja — aku sudah mencari tahu tiga hal yang bisa dikerjakan orang berumur delapan belas tahun tanpa ijazah kuliah, dan angkanya cukup untuk kamar kos di pinggiran dan makan dua kali sehari. Aku sudah menghitung ongkos transportasi. Aku sudah mencari tahu bahwa ada kelas malam.
Di bawahnya aku menulis satu baris terakhir, dan baris itu adalah alasan kenapa aku menulis semuanya:
Kalau kamu di sana, aku juga di sana.
Kertas itu ada di saku celanaku pada malam Sabtu.
Aku ingin sangat jelas soal ini, karena selama sepuluh tahun aku memutarnya ulang berkali-kali dan aku tidak pernah bisa memaafkan bagian ini:
Kertas itu ada di dalam saku celanaku sepanjang malam itu, dan aku tidak pernah mengeluarkannya.
Jawaban kedua kususun pada hari Jumat, sepanjang tiga kilometer jalan pulang dari sekolah, tanpa kertas, di dalam kepala.
Jawaban kedua panjangnya empat kalimat.
Dan aku menyusunnya karena pada hari Jumat sore, di gang belakang kompleks guru, terjadi sesuatu yang membuatku membuang jawaban pertama.
Sebelum itu, ada hari Kamis, dan hari Kamis penting.
Hari Kamis aku pulang dan mendapati ibuku sedang duduk di ruang depan dengan amplop di pangkuan.
“Dev.”
“Iya, Bu.”
“Ini dari sekolah.”
Amplop itu isinya informasi beasiswa. Bukan yang akhirnya kudapat — yang itu datang setahun kemudian — tapi yang pertama, yang jalurnya lewat sekolah, yang syaratnya adalah nilai rapor tiga semester terakhir dan satu rekomendasi guru.
Nilai rapor tiga semester terakhirku adalah tujuh delapan, tujuh delapan, tujuh sembilan.
“Ibu udah tanya Bu Yanti,” kata ibuku.
Aku berhenti di tengah ruangan.
“Ibu apa?”
“Ibu ke sekolah Selasa kemarin.” Beliau melipat amplop itu di pangkuannya. “Ibu tanya, anak Ibu ini bisa nggak.”
“Bu—”
“Dan Bu Yanti bilang,” lanjut ibuku, tanpa mengangkat kepala, “‘Bu, anak Ibu bisa apa aja. Yang jadi soal, dia nggak mau.’”
Rumah itu sunyi kecuali kipas angin.
“Ibu nggak marah,” kata ibuku. “Ibu cuma mau tanya satu hal, terus nggak Ibu tanya lagi.”
“Iya, Bu.”
“Kamu takut apa, Dev?”
Dan aku berdiri di ruang depan rumah kami pada hari Kamis sore dan tidak menjawab, karena aku tidak punya jawabannya waktu itu, dan karena butuh dua belas tahun lagi untuk menemukannya.
Aku menyebutkan hari Kamis itu karena penting untuk memahami hari Jumat.
Pada hari Kamis malam, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ada bagian dari diriku yang mulai memikirkan kemungkinan bahwa aku boleh menginginkan sesuatu.
Bagian itu hidup selama sekitar dua puluh empat jam.
Yang terjadi hari Jumat sore begini.
Kami berjalan seperti biasa. Kucing yang biasa masih di sana; Freya salah, kucingnya tidak ganti, cuma bulunya rontok.
Dan di meter sekitar enam ratus, dia berkata:
“Dev, kalau kamu punya kesempatan yang bagus banget tapi harus ninggalin sesuatu, kamu ambil nggak?”
Aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang lebih besar, jadi yang ini tidak menakutkanku.
“Tergantung yang ditinggalin.”
“Katakanlah... orang.”
“Orangnya keberatan nggak?”
Dan Freya berhenti berjalan.
Dia berdiri di gang itu, di sore hari, dan berkata — dengan nada ringan, dengan senyum, dengan seluruh perangkat yang sudah dia bangun sejak umur enam belas tahun:
“Ya kan aku nggak akan tanya. Kasihan.”
Aku ingat berdiri di sana dan merasakan sesuatu turun ke perutku.
“Kenapa kasihan?”
“Karena kalau aku tanya terus dia keberatan, dia nggak bisa ngapa-ngapain,” katanya. “Terus dia cuma jadi orang yang keberatan. Itu nggak enak banget, Dev.”
Dia mulai berjalan lagi.
“Mending nggak usah tahu,” katanya.
Aku membuang jawaban pertama pada malam Jumat.
Aku ingin menuliskan hitungannya dengan tepat, karena hitungan itu adalah cetak biru dari seluruh sepuluh tahun berikutnya, dan karena aku baru mengenalinya sebagai cetak biru pada umur dua puluh delapan.
Hitungannya begini.
Dia sudah memutuskan. Kalau belum, dia tidak akan bertanya dengan cara begitu.
Kalau aku menawarkan diri ikut, ada dua kemungkinan. Satu: dia menolak, dan dia harus menolakku, dan itu jadi hal yang harus dia bawa ke Jakarta. Dua: dia menerima, dan dia menghabiskan tiga tahun ke depan sambil tahu bahwa aku tidak kuliah karena dia.
Dua-duanya membebani dia.
Dan aku tahu apa yang terjadi pada orang yang dibebani.
Mereka pergi.
Aku menyimpan kertas itu di saku, karena membuangnya terasa terlalu final, dan aku menyusun jawaban kedua di kepalaku sampai kalimatnya rapi.
Aku melatihnya sekitar empat puluh kali.
Aku sangat siap.
Dia mengirim pesan hari Sabtu pukul empat sore.
Nomor rumah, bukan ponsel — ponselnya sedang mati, seperti biasa.
Dev, malam ini ke rumah aku bisa nggak? Sekitar jam 8.
Itu pesan pertama dalam delapan bulan yang memintaku datang ke rumahnya.
Aku membaca pesan itu sekitar sepuluh kali.
Lalu aku mandi, dan aku memakai kemeja — kemeja yang sama, satu-satunya, yang disetrika ibuku dengan sangat teliti untuk pentas seni tiga minggu sebelumnya, dan yang kusetrika sendiri malam itu dengan hasil yang jauh lebih buruk.
Aku berangkat pukul tujuh kurang seperempat.
Jalan kaki. Empat koma satu kilometer.
Aku sampai di ujung gangnya pukul delapan kurang dua puluh dan berdiri di sana selama sembilan belas menit, karena datang lebih awal terasa seperti menuntut sesuatu.
Sena yang membuka pintu.
Dua belas tahun, kurus, memakai kaus tim bola yang tiga ukuran terlalu besar.
Dia melihatku dan matanya melebar.
“Kakak!” teriaknya ke dalam. “ADA ORANG!”
“Sena, siapa?”
“NGGAK TAU!”
Dia menoleh padaku lagi.
“Mas siapa?”
“Devan.”
“MAS DEVAN!”
“SENA.”
Dan anak itu tersenyum padaku dengan cara yang membuat perutku sakit, karena dia jelas-jelas tahu siapa aku, dan karena satu-satunya cara dia bisa tahu adalah kalau kakaknya pernah menyebutku di dalam rumah itu.
“Masuk, Mas.”
“Aku di sini aja.”
“Loh, kenapa?”
Dan Freya muncul di belakangnya sebelum aku sempat menjawab.
Dia memakai kaus biru.
Aku ingat itu. Aku ingat semuanya dari malam itu dengan kejelasan yang tidak berguna sama sekali.
“Sena, masuk.”
“Aku mau—”
“Sena.”
Anak itu masuk sambil mengeluh.
Dan Freya keluar ke teras dan menutup pintu di belakangnya, tidak sampai rapat, sekitar sepuluh sentimeter.
Dari dalam terdengar bunyi mesin jahit.
Terasnya kecil. Ada dua pot di kedua sisi dan satu kursi plastik yang tidak dipakai siapa pun karena kursi plastik itu isinya air hujan.
Kami berdiri.
Delapan bulan pacaran dan kami berdiri di teras rumahnya seperti dua orang yang baru berkenalan.
“Kamu jalan kaki?”
“Iya.”
“Empat kilo.”
“Empat koma satu.”
Dia tersenyum sedikit. “Tentu aja kamu tahu.”
Aku tidak menjawab.
Dan lalu, karena dia tidak akan pernah memutar-mutar, dia berkata:
“Aku dapet tawaran.”
Dia menceritakannya dalam sekitar tiga menit.
Sebuah agensi. Dia di-scout di mal dua bulan lalu — dua bulan, dan dia tidak pernah menyebutkannya sekali pun. Kontrak tiga tahun. Pindah ke Jakarta bulan depan. Eksklusif.
Dan satu klausul yang dia sebutkan paling akhir, dengan nada paling ringan:
“Dan nggak boleh ada hubungan yang dipublikasi selama masa kontrak.”
Aku berdiri di teras itu dan menunggu bagian berikutnya.
Bagian berikutnya tidak datang.
Dia tidak menyebutkan berapa nilainya. Dia tidak menyebutkan utang apa pun. Dia tidak menyebutkan bahwa ibunya menjahit sampai jam sebelas malam sejak bulan Februari, walaupun mesin jahit itu sedang berbunyi di belakang pintu yang terbuka sepuluh sentimeter, pada pukul delapan lewat dua puluh malam hari Sabtu.
Dia tidak menyebutkan bahwa rumah itu akan dijual dalam empat bulan.
Aku tidak menanyakan apa-apa.
Dan aku ingin sangat jujur di sini, karena ini bagian yang selama sepuluh tahun kutaruh sebagai kesalahannya dan yang ternyata separuhnya milikku:
Aku tidak menanyakan apa-apa karena aku tidak butuh jawabannya.
Jawaban keduaku sudah jadi. Empat kalimat. Sudah kulatih empat puluh kali.
Informasi tambahan tidak akan mengubah apa pun, jadi aku tidak mengumpulkannya.
Itu adalah kesalahan paling besar yang pernah kubuat dalam hidupku, dan aku membuatnya sambil berdiri diam dengan wajah tenang.
“Berapa lama?”
“Tiga tahun.”
“Kapan berangkat?”
“Empat belas hari lagi.”
“Di mana tinggalnya?”
“Mess agensi. Sama enam orang.”
Aku mengangguk.
Dia menunggu.
Aku baru mengerti sepuluh tahun kemudian bahwa dia sedang menunggu, dan bahwa yang dia tunggu bukan pertanyaan.
Yang dia tunggu adalah satu detik di mana aku berhenti mengumpulkan data.
“Aman nggak?” tanyaku.
“Apanya?”
“Mess-nya. Enam orang. Kamu kenal?”
Dan sesuatu di wajahnya berubah sedikit — sesuatu yang sekarang, kalau kuputar ulang, kukenali sebagai harapan yang naik dan kemudian tidak jadi.
“Aman,” katanya.
“Oke.”
Ada satu bagian dari malam itu yang tidak pernah bisa kuletakkan di mana pun, dan aku akan menuliskannya di sini karena ini satu-satunya tempat yang tersisa.
Setelah aku bertanya soal mess dan dia menjawab “aman”, dia bertanya sesuatu padaku.
“Kamu gimana?”
“Aku?”
“Iya. Kuliah kamu.”
Dan aku berdiri di teras itu dengan kertas di saku celana yang isinya rencana untuk tidak kuliah, dan aku menjawab:
“Aku daftar beasiswa.”
Itu benar. Amplop itu ada di meja rumahku sejak hari Kamis dan aku belum mengisinya sama sekali.
Wajah Freya berubah.
“Beneran?”
“Iya.”
“Devan.” Dan untuk pertama kalinya malam itu, suaranya jadi hidup. “Beneran? Kamu daftar?”
“Iya.”
“Yang mana? Yang jalur sekolah?”
“Iya.”
“Kamu udah ngisi?”
“Belum.”
“Kapan batasnya?”
“Dua minggu lagi.”
Dan dia melakukan sesuatu yang tidak kuperkirakan sama sekali: dia menepuk lenganku, satu kali, keras, dengan punggung tangan.
Itu satu-satunya sentuhan malam itu, dan panjangnya kurang dari setengah detik, dan itu terjadi karena dia senang.
“Aku tahu kamu bisa,” katanya. “Aku dari dulu tahu.”
Aku berdiri di sana.
“Dev, kamu isi ya. Janji.”
“Iya.”
“Janji beneran.”
“Iya.”
Dan aku ingin menuliskan dengan sangat jelas apa yang terjadi di dalam kepalaku pada detik itu, karena itulah momen di mana malam itu betul-betul selesai — bukan enam detik yang datang kemudian, melainkan yang ini:
Aku melihat wajahnya, dan aku melihat betapa senangnya dia, dan aku menghitung.
Kalau aku sekarang bilang aku nggak jadi kuliah dan mau ikut ke Jakarta, wajah ini hilang.
Dan aku yang menghilangkannya.
Kertas di sakuku berhenti menjadi pilihan pada detik itu.
Aku sudah menyerahkannya sendiri, kepada senyum seorang perempuan berumur delapan belas tahun yang sedang bangga padaku, dan aku bahkan tidak merasa kehilangan.
Aku merasa lega.
Lagi.
Kami berdiri di teras itu selama mungkin dua menit tanpa bicara.
Ada nyamuk. Dia menepuk lengannya sendiri dua kali.
Aku memasukkan tangan kananku ke saku celana dan menyentuh lipatan kertas itu dengan ujung jari.
Aku memegangnya di sana selama sekitar empat puluh detik.
Dan aku ingin siapa pun yang membaca ini mengerti bahwa aku sadar sepenuhnya kertas itu ada di sana, dan sadar sepenuhnya apa isinya, dan bahwa jarak antara ujung jariku dan tanganku sendiri yang mengeluarkannya adalah jarak paling pendek dan paling mustahil yang pernah ada.
Lalu aku mengeluarkan tanganku dari saku. Kosong.
Dan Freya berkata:
“Kamu mau aku gimana?”
Tidak ada jeda.
Aku ingin menuliskan itu dengan tepat, karena sepuluh tahun kemudian, di lantai dapur apartemennya, dia akan menemukan bahwa tidak ada jeda dan itu akan menjelaskan segalanya padanya.
Tidak ada satu detik pun.
Empat kalimat, sudah dilatih empat puluh kali, keluar persis seperti yang kulatih.
“Kamu harus ambil,” kataku. “Ini kesempatan yang nggak bakal dateng dua kali dan kamu udah ngitung sendiri kayaknya. Jangan pikirin aku. Aku nggak mau jadi alasan kamu ragu.”
Selesai.
Kalimatnya bagus. Semuanya benar.
Aku bahkan sempat merasa lega karena berhasil mengucapkannya tanpa suaraku berubah, karena itu bagian yang paling kukhawatirkan waktu latihan.
Freya tidak menjawab selama sekitar enam detik.
Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya. Aku menghitung segala sesuatu dan aku menghitung enam detik itu dan aku membawa angka enam ke mana-mana selama sepuluh tahun berikutnya.
Dalam enam detik itu, terjadi satu hal.
Dia membuka mulutnya.
Aku melihatnya. Aku berdiri satu setengah meter darinya di teras yang diterangi lampu kuning di atas pintu, dan aku melihat bibirnya terbuka sekitar setengah sentimeter, dan aku melihat dagunya bergerak turun sedikit, dan aku melihat udara masuk.
Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang siap. Sesuatu yang pendek.
Dan aku menunggu.
Aku ingin itu tercatat, karena selama sepuluh tahun aku menyalahkan diriku untuk hal yang salah. Aku menyalahkan diriku karena tidak bicara.
Yang sebenarnya lebih buruk:
Aku diam karena aku sedang menunggu dia yang bicara.
Aku berdiri di teras itu, dengan kertas di saku dan empat kalimat yang sudah dikeluarkan, dan aku menunggu perempuan berumur delapan belas tahun itu menyeberangi jarak untuk yang keseribu kalinya.
Seperti di kantin. Seperti di gang. Seperti di angkot. Seperti setiap kali selama delapan bulan.
Aku menunggu dia meraih, karena aku selalu menunggu dia meraih, karena selama delapan bulan tidak ada satu kali pun dia tidak meraih.
Enam detik.
Dan mulutnya menutup.
“Oke,” katanya.
Dia tersenyum.
Senyum itu adalah senyum yang akan kulihat lagi sepuluh tahun kemudian di basement P2 pukul tiga kurang sepuluh pagi, dan aku akan mengenalinya seketika, dan aku akan tahu bahwa aku sudah menyebabkannya dua kali.
“Ya udah,” katanya. “Makasih ya, Dev.”
“Freya—”
“Aku masuk dulu. Sena belum makan.”
Dan aku ingin mencatat satu hal terakhir tentang enam detik itu, dan tentang dua detik setelahnya, karena selama sepuluh tahun aku memutarnya ulang setiap malam dan bagian inilah yang tidak pernah bisa kulewati:
Ada satu momen, setelah mulutnya menutup dan sebelum dia berkata “oke”, di mana dia menoleh ke arahku sekali lagi.
Setengah detik.
Dan aku sempat berpikir — dengan sangat jelas, dengan kalimat lengkap, seperti orang mencatat sesuatu di dalam kepala:
Kalau dia nanya sekali lagi, aku bakal ngeluarin kertasnya.
Dia tidak bertanya sekali lagi.
Aku pergi ke Amerika tiga tahun kemudian dengan kertas itu di dalam paspor, terlipat empat, di sebelah seperempat lembar kertas bekas berisi empat belas baris tentang soal nomor tujuh belas.
Aku masih menyimpan dua-duanya.
Aku tidak pernah membuka yang mana pun lagi.
Dia masuk ke dalam.
Pintunya ditutup pelan sekali. Tidak dibanting. Tidak ditutup keras. Ditutup dengan cara orang yang sedang tidak ingin membangunkan siapa-siapa.
Bunyi mesin jahit di dalam berhenti sekitar empat detik setelah pintu itu tertutup.
Aku berdiri di teras itu selama mungkin dua puluh detik.
Lalu aku berjalan pulang, empat koma satu kilometer, dan aku sampai di rumah pukul sepuluh lewat lima.
Dan aku tidak menghitung langkah.
Bukan karena kepalaku tenang.
Karena tidak ada yang perlu ditenangkan. Semuanya sudah selesai, semuanya sudah benar, semua orang sudah diurus.
Aku tidur pukul sebelas dan tidur nyenyak, dan itu adalah fakta yang tidak akan pernah bisa kujelaskan pada siapa pun tanpa terdengar seperti monster.
Empat belas hari kemudian aku berdiri di seberang jalan.
Aku tidak diundang. Aku tidak bilang aku akan datang.
Aku bangun pukul lima pagi dan berjalan empat koma satu kilometer dan berdiri di seberang gang rumahnya, di depan warung yang belum buka, pada pukul enam lewat sepuluh pagi hari Minggu.
Mobil agensi datang pukul enam lewat empat puluh.
Aku melihat Sena membawa koper yang terlalu berat untuk anak dua belas tahun. Aku melihat ibunya berdiri di pagar dengan tangan di depan perut.
Dan aku melihat Freya keluar dari rumah itu, dan menoleh, dan melihatku.
Jarak antara kami sekitar lima meter.
Lima meter, satu jalan gang, tanpa mobil lewat, pada pukul enam lewat empat puluh pagi hari Minggu.
Aku mengangkat tangan.
Aku melambai.
Dan aku berdiri di sana dan melambai kepada perempuan yang kucintai dari jarak lima meter, dan aku tidak menyeberang, karena menyeberang akan berarti aku ingin sesuatu, dan aku sudah memutuskan tiga hari sebelumnya bahwa aku tidak akan menginginkan apa pun.
Dia melambai balik.
Lalu dia masuk ke mobil.
Aku berdiri di seberang jalan itu sampai mobilnya hilang di tikungan, sama seperti yang selalu kulakukan pada angkotnya selama delapan bulan.
Dan lalu aku pulang, dan aku hidup sepuluh tahun.
Ada satu hal terakhir.
Aku mengisi formulir beasiswa itu malam harinya.
Aku mengisinya di meja ruang depan, dengan pulpen, sampai pukul dua pagi, dan aku mengisi bagian esainya empat kali sampai kalimatnya rapi.
Aku dapat.
Bukan yang itu — yang itu ditolak. Tapi yang berikutnya, setahun kemudian, yang jauh lebih besar, dan yang membawaku ke sebuah universitas di negara lain dan lalu ke sebuah ruangan di San Francisco di mana lima ratus juta orang menyentuh hasil pikiranku setiap hari.
Semuanya bermula dari amplop yang dibawa ibuku pulang pada hari Kamis dan yang tidak akan pernah kuisi kalau tidak ada seorang perempuan berumur delapan belas tahun yang menepuk lenganku satu kali dengan punggung tangan di teras rumahnya dan berkata “aku dari dulu tahu”.
Setengah detik.
Satu-satunya sentuhan malam itu.
Aku sering memikirkan hal ini, dan aku belum pernah menceritakannya pada siapa pun, dan aku tidak tahu apakah aku akan pernah bisa:
Seluruh hidupku yang sekarang — pekerjaanku, kotaku, gajiku, nama di layar selebar dua belas meter, dua belas nama di sebuah dokumen yang bisa kuselamatkan —
berdiri di atas satu setengah detik pada malam ketika aku menghancurkan satu-satunya hal yang benar-benar kuinginkan.
Dan tidak ada satu orang pun di dunia yang tahu itu.
Termasuk dia.
Terutama dia.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras reading
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur